Jumat | 18 Oktober 2019 |
×

Pencarian

OLAHRAGA

Lidah Para Pemain Top Dunia Ini Tertelan, tapi Selamat Berkat Pertolongan Cepat

Selasa | 17 Oktober 2017 | 17:25

MEDIAKEPRI.CO.ID, – Insiden meninggalnya Kiper Persela Lamongan, Choirul Huda, adalah duka kita semua, duka sepakbola Indonesia.

Benturan dalam sepakbola hal biasa. Namun menjadi luar biasa jika benturan itu mengakibatkan cidera serius atau bahkan mengakibatkan kematian seperti kasus Choirul Huda.

Jika seksama melihat video detik-detik Huda berbenturan dengan pemain lainnya, nampak lidah Huda tertelan.

dr Dyah Wijayanti selaku koordinator kesehatan KONI Jatim mengungkapkan, memang lidah juga paling sering menyebabkan sumbatan jalan nafas pada kasus korban dewasa.

Saat korban hilang kesadaran, otot-otot akan melemas, termasuk otot dasar lidah yang jatuh ke belakang sehingga jalan napas tertutup.

“Contoh sederhana seperti saat orang ngorok, itu ada sumbatan. Itu salah satu tanda ada pembuntuan jalan napas,” katanya

Dyah menuturkan, benturan yang terjadi sangat mungkin berujung pada tersumbatnya jalan napas.

Dalam kasus Choirul, penyelamatan menjadi tantangan tersendiri.

Pengecekan kemungkinan atlet mengalami gagal napas dan hypoxia harus dilakukan sesegera mungkin. Namun, pengecekan kadang bisa terhambat.

“Saat (korban) blek (jatuh), kita enggak bisa langsung ke lapangan, harus tunggu perintah dari wasit,” tukasnya.

Dia menyebut, trauma saluran napas adalah salah cedera yang membuat atlet rentan memgalami kematian.

Dilansir Pandit Footbal, menelan lidah” bukan merupakan kiasan. Tidak seperti “menelan ludah”, istilah ini dikenal dengan “tongue swallowing” dalam Bahasa Inggris, yang berarti tergelincirnya bagian belakang lidah terhadap faring (hulu kerongkongan) yang menyebabkan tersedak atau seperti tercekik.
Sebenarnya, lidah tidak pernah benar-benar tertelan.

Jadi, istilah “lidah tertelan” itu adalah istilah yang keliru. Meskipun begitu, istilah ini sudah dikenal luas di dunia medis sehingga masih terus digunakan hingga sekarang.
Kondisi ini disebabkan flasiditas (kelemahan untuk menahan, pasif) berlebihan pada lidah yang terjadi terutama saat tidak sadar diri misalnya pingsan.

Ketika seseorang tidak sadarkan diri, otot-otot mereka akan meregang. Itu juga terjadi di lidah, di mana lidah menjadi lemas dan mungkin memblok jalur pernapasan (hulu kerongkongan dan/atau trakea dan/atau batang tenggorokan) orang tersebut.

Tertelannya lidah adalah salah satu kejadian sederhana yang bisa mengakibatkan kematian, karena hulu kerongkongan yang tertutup menyebabkan seseorang yang mengalami tertelannya lidah menjadi tidak bisa bernapas.

Hal ini disebabkan jalur napas menjadi tertutup, karena jalur napas, baik saat bernapas dari mulut maupun dari hidung, melewati hulu kerongkongan ini.

Dalam olahraga dengan benturan fisik yang tinggi seperti tinju, rugbi, dan sepakbola, sebuah benturan ke daerah kepala, terutama dagu, bisa menyebabkan tergigitnya lidah dan/atau tertelannya lidah.

Misalnya ketika lidah tergigit, pemain bisa saja menjadi tidak sadarkan diri.

Atau tanpa tergigitnya lidahpun, pemain bisa saja tidak sadarkan diri sehingga menyebabkan lidah tertelan.

Dalam beberapa kasus, tertelannya lidah juga bisa terjadi jika seseorang masih tersadar.

Namun biasanya, meskipun hanya dalam hitungan milidetik, seseorang akan tak sadarkan diri yang menyebabkan melemasnya otot lidah ini yang membuat bagian belakang lidah menutup jalur pernapasan.

Tertalannya lidah akan membuat sulit bernapas sehingga penderitanya membutuhkan pertolongan secepatnya, paling lambat adalah tiga menit.

Tujuan pertolongan pada penderita tertelannya lidah adalah untuk membuka kembali jalur pernapasan korban, yaitu dengan memaksa mengangkat dagu dan kepala.

Hal lainnya dapat dilakukan dengan memasukkan benda khusus untuk mendorong atau menarik lidah agar saluran pernapasan terbuka kembali.

PERHATIAN! Orang yang berusaha menyelamatkan sebaiknya jangan menggunakan tangan mereka (penyelamat) sendiri untuk masuk ke dalam mulut korban dalam usaha menggerakkan lidah korban, karena ini bisa berakibat gerakan refleks korban untuk menggigit tangan penolong atau bahkan semakin membuat korban kesulitan dalam membuka jalur pernapasannya lagi melalui lidahnya.

Hal di atas pernah terjadi saat insiden Oleg Gusev, kapten Dinamo Kiev, yang diselamatkan oleh Jaba Kankava, pemain Dnipro Dnipropetrovsk.

Kankava berhasil menyelamatkan Gusev tetapi tangannya cidera tergigit dengan keras oleh Gusev.

Insiden tertelannya lidah juga pernah terjadi di final Piala Liga Inggris (saat itu bernama Carling Cup) 2007 antara Arsenal dan Chelsea saat sepakan pojok terjadi untuk The Blues.

John Terry yang berusaha menyundul bola dengan menjatuhkan badan (diving header), kepalanya tidak sengaja tertendang oleh Abou Diaby.

Setelah mendapatkan penanganan medis, Terry kemudian langsung dibawa ke rumah sakit.

Tidak hanya karena benturan, insiden tertelannya lidah juga pernah terjadi akibat ulah dari pemain itu sendiri.

Jazawi, seorang pemain al-Ahli Saudi FC dari Liga Arab Saudi, pernah menjadi korban tertelannya lidah setelah ia meludah.

Tidak jelas apa penyebabnya, mungkin juga sebelumnya terjadi sedikit benturan, tapi ia merasa tersedak setelah ia meludah.

Baru-baru ini, Pandit Football juga menulis soal Francis Kone yang menyelamatkan Martin Bekovec di Liga Ceko.

Kejadian di Republik Ceko tersebut mirip dengan yang terjadi pada umumnya, yaitu diawali dengan benturan.

Bahkan kejadian serupa terjadi di La Liga Spanyol.

Pertandingan antara Deportivo de la Coruna dan Atletico Madrid diwarnai dengan insiden Alex Bergantinos yang secara tidak sengaja menabrak bagian belakang kepala Fernando Torres.

Torres yang tidak sadarkan diri sejak benturan di udara tersebut, kemudian jatuh dengan kepala menghantam tanah terlebih dahulu.

Dilaporkan bahwa ia sempat menelan lidahnya sendiri. Beruntung, beberapa pemain Atletico dan tim medis Atletico bergerak cepat sehingga nyawa Torres berhasil diselamatkan.

Terbukti, pengetahuan umum mengenai pertolongan pertama pada kecelakaan yang hanya sebentar itu ternyata mampu menyelamatkan nyawa manusia yang berpotensi berumur lebih panjang jika kita tidak (bisa atau mengerti bagaimana) menolongnya. (***)

Editor :