Senin | 14 Oktober 2019 |
×

Pencarian

NEWS

WAH!!! Ternyata Ini Sosok Dibalik Lahirnya Info Cegatan Tulungagung, Berawal dari ‘Iseng’

Minggu | 26 November 2017 | 16:01

MEDIAKEPRI.CO.ID, Tulungagung – Ingin tahu apa yang terjadi di Tulungagung? Cermati apa yang diunggah di Grup Info Cegatan Tulungagung (ICT).
Wajar saja, sebab saat ini ICT telah menjadi komunitas online terbesar di Kabupaten Tulungagung.
Didit Wahyudi Aulia (40) adalah sosok di balik lahirnya ICT.

Warga Desa Aryojeding, Kecamatan Rejotangan ini merintis ICT pada 9 November 2015.

Didit mengatakan, dirinya hanya meniru grup serupa yang terbentuk di Yogyakarta.

“Waktu itu ada Info Cegatan Jogya, terus di daerah lain juga ada grup serupa. Iseng-iseng saya membuat di Tulungagung,” terang Didit.

Ternyata saat itu sudah ada grup dengan nama Info Cegatan Tulungagung.
Namun grup itu tidak diurusi dan tidak ada kegiatan. Kondisi itu yang membulatkan niat Didit membuat grup ICT baru.

Awal pendirian grup, Didit mengajak 50 orang teman-temannya. Namun pelan-pelan dari saling kenal grup ini semakin bertambah anggota.
Mulanya masih seputar warga Kecamatan Rejohangan dan Kecamatan Ngunut.

Grup ini kemudian melakukan sebuah gerakan di dunia nyata.

Kebetulan ketika itu banyak jalan yang berlubang di wilayah dua kecamatan itu.
Para anggota ICT menandai setiap jalan yang berlubang dengan cat semprot warna putih.

“Tujuan awalnya menandai agar pengedara yang lewat bisa melihat tanda jalan yang berlubang. Gerakan ini ternyata mendapat respon secara luas,” tambah Didit.

Foto-foto kegiatan banyak diunggah di grup. Wilayah-wilayah lain banyak yang bergabung dan melakukan hal serupa.

Pelan-pelan ICT semakin berkembang dan dikenal secara luas.

Dari kegiatan menandai jalan bolong itulah lahir salam kebesaran ICT, Salam Aspal Bolong atau disingkat Sapalong.

Sejak saat itu keanggotaan ICT naik secara drastis. Tahun pertama anggotanya tembus 100.000.

“Waktu itu saya sudah mulai kewalahan menyeleksi postingan, kemudian mengangkat salah satu teman menjadi Admin. Jadi Adminnya ada dua, saya dan teman saya itu,” tutur Didit.

Ayah dari David Sebastian Aulia (13) dan Chiko Jonathan Aulia (4) ini mulai membatasi posting.

Postingan yang berisi guyonan mulai dikurangi. Lambat laun ICT lebih mengedepankan informasi publik.

Seiring perkembangan anggota yang luar biasa, ICT membentuk koordinator wilayah di setiap kecamatan.
Selain itu ada 6 humas. Setiap humas membawahi beberapa kecamatan.
Tugas humas adalah menyampaikan segala permasalahan yang muncul kepada Admin.

Selain itu ada 8 moderator yang bertugas menyensor postingan anggota.

Dengan sistem yang dibentuk ini, apa yang diunggap di grup hanyalah informasi yang dianggap bermanfaat.

“Misalnya ada kecelakaan fotonya tidak diblur, pasti tidak diloloskan. Itu tugasnya moderator yang mengatur postingan anggota,” tegas Didit.

Suami dari Tina ini mengakui, pemilihan nama Cegatan sempat menjadi kontroversi.
Sebab kata cegatan ini dikonotasikan sebagai razia polisi.

ICT pun diidentikkan dengan grup yang membocorkan razia kendaraan.
Namun pelan-pelan penilaian negatif itu semakin terkikis. Bahkan ICT kini telah menjadi mitra kepolisian.

Grup ini selalu dilibatkan dalam setiap kegiatan sosialisasi yang dilakukan polisi.

Dua tahun berjalan ICT kini telah berubah menjadi barometer grup di Tulungagung.
Saat ini ada dua korwil di luar negeri, yaitu Hongkong dan Taiwan.

Sementara Brunei tengah dalam penjajakan untuk mendirikan korwil baru.

“Kalau di Malaysia belum berani karena rawan konflik. Takutnya nanti malah menyulut sentimen warga lokal, dan terjadi permusuhan,” ucap Didit. (***)

sumber: tribunnews.com

Editor :