Senin | 14 Oktober 2019 |
×

Pencarian

NEWS

Video Detik-Detik Jembatan Gantung di Yogyakarta Bergetar dan Tiba-Tiba Runtuh

Rabu | 29 November 2017 | 10:46

MEDIAKEPRI.CO.ID, Yogyakarta – Hujan yang mengguyur DI Yogyakarta dan sekitarnya selama tiga hari terakhir, mengakbatkan banjir dan tanah longsor di sejumlah wilayah,Pohon-pohon tumbang.

Kondisi tersebut terpantau Selasa 28 november 2017 siang.

Terbaru, seorang warganet merekam detik-detik jembatan Nambangan yang luluh lantak.

Jembatan Nambangan menghubungkan Dusun Nangsri, Srihardono dengan Dusun Nambangan Seloharjo Pundong kabupaten Bantul.

Adalah warganet pemilik akun Ahmad Dwi Susanto yang mengunggah video detik-detik runtuhnya jembatan itu di grup Info Cegatan Jogja.

“Ini adalah kejadian runtuhnya jembatan yang menghubungkan nangsri srihardono-nambangan seloharjo,” tulisnya memberikan keterangan.

Awalnya, dalam video itu terlihat Sungai Opak yang mengalir di bawah jembatan tampak meluap.

Sementara jembatan yang sudah rapuh terlihat bergetar kerena derasnya arus sungai.

Beberapa saat kemudian, muncul benda yang kemungkinan adalah pepohonan yang ikut hanyut terbawa arus sungai.

Pepohonan ini kemudian menyangkut ke jembatan. Brakkkk… Jembatan tak kuasa menahan lalu runtuh.

Cuaca Ekstrem

Jembatan gantung di Nambangan, Pundong, Bantul, masih terus dipakai warga untuk melintas.

Padahal kondisinya sudah rusak dan nyaris ambruk karena pondasi jembatan tergerus luapan Sungai Opak.

Kondisi Jembatan Nambangan yang menghubungkan Desa Seloharjo dengan Desa Srihardono, Kecamatan Pundong, Bantul, kini sudah sangat memprihatinkan.

Pondasinya bergeser akibat luapan Sungai Opak.

Meskipun sangat membahayakan dan sewaktu-waktu bisa mengancam keselamatan, namun warga masih tetap nekat melintasi jembatan tersebut.

Bahkan setiap hari tidak hanya warga Seloharjo maupun Srihardono saja yang menggunakan jembatan tersebut.

Warga luar daerah seperti dari Gunungkidul juga masih menggunakan jembatan itu untuk melintasi Sungai Op

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) DIY mencatat saat ini rata rata hujan di DIY sudah masuk kategori lebat.

Kepala Kelompok Data dan Informasi BMKG Stasiun Klimatologi Yogyakarta, Djoko Budiyono menginformasikan rata rata hujan sudah diatas 100 mm per hari.

Djoko mengatakan dengan angka tersebut, saat ini apa yang terjadi di DIY sudah termasuk ekstrem.

“(100 mm)Itu harian. Saat ini untuk harian memang tergolong ekstrem,” katanya kepada Tribunjogja.com, Selasa 28 november 2017.

Lantas apakah saat ini sudah memasuki puncak musim hujan?

Djoko mengatakan apa yang terjadi saat ini adalah dampak cuaca harian akibat adanya badai Cempaka di perairan selatan Yogyakarta.
Sementara untuk puncak musim hujan orientasinya bukan harian namun bulanan.

“Secara normalnya CH (curah hujan) bulanan tertinggi terjadi pada bulan Januari. CH hujan dipuncaknya bisa mencapai 400 hingga 600 mm per bulan,” katanya.

BMKG Yogyakarta telah mengeluarkan peringatan dini cuaca yang berlaku mulai 28 November 2017 hingga 30 November 2017.

Badai Cempaka yang ada di perairan Selatan Jawa, bergerak ke arah timur dan mengakibatkan belokan angin dan meningkatkan pertumbuhan awan hujan di atas DIY.

Sementara aliran masa udara basah dari barat menyebabkan kondisi udara di sekitar Jawa dan DIY menjadi sangat tidak stabil.

Akibat dari interaksi kedua fenomena tersebut berdampak terhadap kondisi cuaca di wilayah DIY, berupa potensi hujan sedang hingga sangat lebat di sebagian besar Kabupaten Sleman, Kota Yogyakarta, sebagian besar Kabupaten Kulon Progo, Kabupaten Bantul bagian selatan dan sebagian besar Kabupaten Gunung Kidul.

Sementara potensi peningkatan kecepatan angin di sebagian besar Kabupaten Sleman, sebagian besar Kabupaten Kulon Progo dan sebagian besar Kabupaten Gunung Kidul.

Untuk gelombang tinggi di perairan selatan antara 2,5 hingha 6 meter.

Masyarakat diimbau untuk mewaspadai potensi terjadinya bencana.(***)

sumber: tribunnews.com

Editor :