Selasa | 22 Oktober 2019 |
×

Pencarian

KESEHATAN

Ganasnya Difteri Tahun Ini Luar Biasa, Mewabah di 20 Provinsi, 32 Orang Meninggal Dunia

Jumat | 08 Desember 2017 | 10:14

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Belakangan ini, penyakit difteri menjadi ramai diberbincangkan publik.
Hingga November 2017, terdapat 20 provinsi yang telah melaporkan adanya difteri dengan 593 kasus dan 32 kematian.

Kementerian Kesehatan berencana akan melakukan imunisasi ulang atau ORI (Outbreak Response Immunization) pada 11 Desember 2017 di tiga provinsi, yakni DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten.

Ketiga provinsi ini dipilih karena tingginya prevalensi dan kepadatan masyarakat.

Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan, Mohamad Subuh, mengatakan, difteri yang terjadi pada tahun ini berbeda dengan tahun sebelumnya.

Hal ini, misalnya, dapat dilihat dari umur pengidap difteri yang tak berhenti pada usia anak.

“Ini sesuatu yang luar biasa karena pada kasus difteri 2017 tidak ada batasan umur. Umur yang termuda itu 3,5 tahun dan yang tertua adalah 45 tahun,” kata Subuh di komplek gedung Ditjen P2P Kemenkes, Jakarta, Rabu 6 Desember 2017.

Selain itu, kemunculan difteri juga tak terbatas pada musim tertentu. 593 kasus difteri telah dilaporkan sepanjang Januari hingga November 2017.

Subuh menyebutkan, 66 persen dari jumlah prevalensi tidak melakukan imunisiasi. Kemudian, 31 persen melakukan imunisasi, tetapi tak sampai tahap final. Padahal, untuk terbebas dari difteri, setidaknya individu harus mendapatkan tiga kali imunisasi.

Sementara itu, sisanya yang sebesar 3 persen telah mendapatkan imunisasi lengkap.

“Kuman yang terpapar terus oleh yang bersangkutan karena disekelilingnya cukup banyak. Saya kira ini menjadikan daya tahan tubuh menjadi lemah.

Insyaallah bagi yang sudah disuntik itu dijamin 95 persen dapat kekebalan,” kata Subuh.

Subuh berharap, ORI dapat mencakup 95 persen sasaran imunisasi. Sebab, cakupan imunisasi sebesar 90-95 persen akan menguatakan kekebalan kelompok sehingga menurunkan risiko kemunculan atau penularan difteri.

Selain imunisasi, Subuh mengimbau kepada penderita insfeksi saluran pernafasan akut (ISPA) untuk selalu memakai masker. Kemudian, kebersihan diri juga dapat dijaga dengan rajin mencuci tangan.

Menurut Subuh, pedoman ini berguna untuk menurunkan risiko penyebaran.

“Jangan-jangan kita memegang sesuatu dan orang habis bersin di situ, ada mikrobakteriumnya yang kepegang,” kata Subuh.

Difteri Tak Hanya Menyerang Anak-anak

Di banyak negara penyakit difteri sudah tidak pernah menjangkiti manusia.

Karena hal tersebut obat untuk penyakit ini terbatas di seluruh dunia.

Sepanjang tahun 2017 di Rumah Sakit Dr Soetomo sudah menangani 61 kasus.

Hingga saat ini ada tiga pasien yang diisolasi yang berasal dari Pasuruan dan Surabaya, ketiganya berusia dibawah 10 tahun.

Dua berasal dari Kabupaten Pasuruan dan satu dari Surabaya.

“Kita urutan dua dunia, urutan satu dunia itu India, jadi yang punya obat itu India,” ujar dr Dominicus Husada Sp A (K) spesialis anak RSU Dr Soetomo, saat ditemui didepan ruangan khusus isolasi Rumah Sakit Dr Soetomo, Kamis 7 Desember 2017.

Tidak adanya panas tinggi menyebabkan terkadang penderita tidak merasakan bahwa dirinya sakit, kecuali kita melihat pada bagian rongga mulut apakah ada bercak putih atau tidak.

“Maka dari itu pesan kepada orang tua adalah lihat mulut jika ada bercak putih segera berobat ini untuk kasus difteri ya, nomor dua yang paling penting bagi saya imunisasinya harus baik, sebab resiko sakit 5 persen, minimal 6 kali dalam hidup,” ujar Dominicus.

Dominicus kembali menegasakan bahwa bukan tiga kali saja kita perlu imunisasi.

“Bukan tiga kali jangan keliru, tiga kali adalah sebelum umur satu tahun banyak orang mengatakan anak saya sudah lengkap imunisasinya itu sebelum umur setahun, setelah itu nggak cukup harus ada ulangan jadi sampai tua minimal 6, mau lebih boleh, kurang jangan,” tambahnya

Tak hanya menyerang usia dibawah 18 tahun atau anak-anak, penyakit ini juga bisa menyerang orang dewasa.

“Tidak ada batasan usia yang mengatakan diusia tertentu kamu tidak bisa kena, dulu memang tidak ada di atas 15 tahun, jadi artinya dikelompok usia berapapun dan di dunia sekarang pasien banyak di usia dewasa,” ujarnya
Bahkan di Jawa Timur usia tertua pasien difteri yang meninggal usia 70 tahun. (***)

sumber: tribunnews.com

Editor :