Kamis | 19 September 2019 |
×

Pencarian

PANORAMA

Inilah Putra Papua yang Antar Traveler ke Puncak Carstensz, Puncak Tertinggi Indonesia

Senin | 05 Maret 2018 | 15:26

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Carstensz adalah puncak tertinggi Indonesia di Papua, satu dari Seven Summit dunia. Inilah Maximus Tipagau, putra asli Papua yang akan membawa kamu ke sana.

Carstensz Pyramid atau yang biasa disebut Puncak Carstensz berada pada ketinggian 4.884 mdpl. Lokasinya berada di rangkaian Pegunungan Tengah, Papua. Carstensz pun masuk dalam daftar 7 puncak tertinggi di 7 benua alias Seven Summit.

Puncak Carstensz Pyramid (Istimewa)

Namun menuju ke Puncak Carstensz bukanlah barang mudah. Puncak yang sering dihujani salju ini adanya di lokasi yang sulit terjamah, butuh 7 hari jalan kaki dari Desa Ugimba di Kabupaten Intan Jaya menembus hutan rimba yang tidak dihuni manusia.

Untuk menuju ke Puncak Carstensz, hanya ada beberapa operator pendakian saja. Salah satu operator pendakiannya ternyata ada yang dibuat oleh putra Papua asli yaitu Adventure Carstensz, oleh Maximus Tipagau.

Perjalanan pendakian ke Puncak Carstensz (Istimewa)

“Saya mendirikan Adventure Carstensz di tahun 2004. Awalnya, saya suka foto-foto di sekitar Puncak Carstensz dan banyak teman saya yang suka dan memotivasi untuk membuat operator pendakian ke sana. Ah, benar juga,” kata Maximus memulai perbincangan kepada detikTravel di salah satu restoran di Jakarta Pusat, Kamis 10 November 2016

Di tahun yang sama, Maximus masih bekerja di PT Freeport. Kemudian dia mengumpulkan modal untuk membuat operator pendakian yang akhirnya diberi nama Adventure Carstensz.

Maximus membuka memorinya, mengingat masa kecilnya. Siapa sangka, umur 6 tahun dia sudah mendaki sampai ke kaki Puncak Carstensz bersama bapaknya.

“Saya dulu cuma pakai koteka sampai ke kaki Puncak Carstensz bersama bapak saya untuk berburu. Sekarang mana berani kalau cuma pakai koteka,” ucapnya sembari tertawa.

Motivasi untuk mendirikan Adventure Carstensz rupanya juga berasal dari dirinya sendiri. Karena dia pikir, pariwisata adalah salah satu cara untuk menyejahterakan masyarakat di Desa Ugimba dan sekitarnya.

“Pariwisata itu mendatangkan uang. Saya bisa memperkerjakan orang-orang Ugimba menjadi porter. Mereka juga bisa berjualan suvenir, menjadi pemandu dan lain-lain. Pendaki yang datang membawa uang dan uangnya itu akan langsung dirasakan oleh kami sendiri,” paparnya.

Porter sebagai pengangkut barang pendaki (Istimewa)

Selain modal untuk mendirikan Adventure Carstensz, Maximus turut mengajak orang-orang Ugimba untuk sadar wisata. Status dirinya sebagai anak panglima perang Suku Moni yang mendiami Desa Ugimba memudahkan jalannya. Orang-orang setempat diberi pelatihan untuk melayani pendaki dan wisatawan.

Hingga kini, Adventure Carstensz sudah membawa sekitar 200 pendaki per tahun ke Puncak Carstensz. Hampir 80 persen pendaki berasal dari luar negeri seperti dari AS, Australia, Inggris, Belanda, Prancis hingga China.

“Biayanya USD 10.000 untuk pendaki mancanegara dan Rp 50 juta untuk pendaki dalam negeri. Khusus dalam negeri saya kasih harga murah, walau harga segitu tetap saja dinilai mahal. Tapi mau bagaimana lagi, masa orang Indonesia sendiri tidak bisa menikmati Carstensz,” urainya.

Harga pendakian tersebut belum termasuk tiket pesawat ke Timika. Harganya sudah termasuk biaya porter Rp 7 juta per hari, makanan selama pendakian, pemandu dan lain-lain. Bagi yang berminat, silakan kunjungi langsung website Adventure Carstensz.

Apa yang Maximus lakukan, patut diacungi jempol. Dengan keringat dan isi dompet pribadi, dia membangun pariwisata di Desa Ugimba. Dia juga yang memudahkan jalan pendaki untuk menuju Puncak Carstensz. Baginya, lebih baik dia sendiri yang turun tangan daripada harus terus menunggu bantuan pemerintah.

Kalau bukan orang Papua sendiri, maka siapa lagi yang memajukan pariwisata Papua. Tidak terasa, dari pedalaman rimba Papua, Maximus kini bekerja di Istana Kepresidenan untuk membantu Lenis Kogoya, Staf Khusus Presiden untuk masalah Papua. Meski begitu, promosi pariwisata Papua tidak dia tinggalkan.

“Belum ada perhatian dari pemerintah, khususnya Kementerian Pariwisata. Puncak Carstensz itu salah satu Seven Summit dunia, ada salju tropis di sana. Ini keajaiban dunia, maka jangan sampai disia-siakan. Aneh kan, kalau Kementerian Pariwisata tidak melirik Puncak Carstensz,” tutup Maximus yang juga baru menerbitkan buku ‘Maximus & Gladiator Papua’. (***)

sumber: detik.com

Editor :