Selasa | 22 Oktober 2019 |
×

Pencarian

WAKIL RAKYAT

DPR Siap Bela Sawit Indonesia di Kancah Uni Eropa

Selasa | 24 April 2018 | 17:23

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Ketua Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP) DPR, Nurhayati Ali Assegaf bilang, resolusi sawit Uni Ropa tidak boleh merugikan industri sawit di Indonesia.

“Tidak seharusnya Parlemen Uni Eropa menyusun resolusi yang justru dapat membuat kerugian yang besar bagi Indonesia,” kata Ketua Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP) DPR Nurhayati di Jakarta, Selasa, 24 april 2018.

Indonesia, kata Nurhayati, sebagai negara demokrasi ketiga terbesar di dunia, dan kontributor terbesar bagi perekonomian ASEAN, tidak seharusnya diganggu Uni Eropa.

Seharusnya, Uni Eropa lebih membuka kerja sama ekonomi dengan Indonesia, ketimbang negara-negara lain yang tidak demokratis.

Nurhayati menuturkan, sedikitnya 50 juta warga Indonesia menggantungkan kehidupannya kepada industri sawit. Saat ini, parlemen Uni Eropa tengah membahas resolusi yang menganjurkan kelapa sawit dicoret dari daftar komoditas pertanian yang bisa dimanfaatkan menjadi sumber energi terbarukan.

“Alasan utama dari resolusi tersebut adalah berkembangnya opini di Eropa bahwa kelapa sawit merupakan salah satu penyebab utama terjadinya deforestasi di negara-negara yang memiliki hutan tropis seperti Indonesia,” jelas kader Demokrat itu.

Hal itu, ujar dia, merupakan tindakan diskriminatif terhadap Indonesia akibat adanya kampanye negatif terhadap minyak kelapa sawit Indonesia.

Di tempat terpisah, Menko Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan melakukan kunjungan kerja ke Uni Eropa, guna membahas diskriminasi produk turunan sawit.

Luhut menegaskan, Indonesia ingin membangun dialog kemitraan dalam menghadapi masalah kelapa sawit.

“Kami tidak datang untuk mengemis, untuk didikte, tetapi untuk berdialog dengan mitra. Kami dalam posisi yang setara, kami ingin membangun ‘partnership’. Kami bukan negara miskin. Kami negara kaya dengan banyak pengalaman,” ujar Luhut.

Dalam rangkaian kunjungan kerja tersebut, Luhut menggelar pertemuan dengan Komisioner Perdagangan Uji Eropa Cecilia Malmstrm di Brussels, Belgia, Senin (23/4), guna membahas sejumlah isu, termasuk kelapa sawit, masalah lingkungan, serta perdagangan.

Perundingan dengan Uni Eropa terkait dengan masalah produk turunan kelapa sawit dilakukan dalam perannya sebagai Ketua Tim Negosiasi RI untuk perundingan pembatasan penggunaan produk turunan kelapa sawit di Uni Eropa.

Luhut menjelaskan, kelapa sawit mampu mengurangi kemiskinan hingga 10 juta orang, berdasarkan riset Universitas Stamford. Di Indonesia, sebanyak 51% lahan kelapa sawit dikuasai petani. Di mana, lebih dari 16 juta orang bergantung pada sektor tersebut.

“Hampir semua sawit yang dikirim dari Indonesia telah mendapat sertifikasi internasional. Dari segi kesehatan kami sudah melakukan penelitian dan juga meminta konsultan independen tentang dampak sawit pada kesehatan, tidak ada yang salah dengan sawit,” kata Luhut. (***)

sumber: inilah.com

Editor :