Senin | 16 Desember 2019 |
×

Pencarian

MEDIS

Benarkah Diet Bisa Membuat Stres?

Jumat | 25 Januari 2019 | 13:17

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Dosen nutrisi dan diet di University of the Sunshine Coast, Tara Leong mengatakan diet bebas gula bersifat restriktif. Terdapat daftar makanan yang ‘diizinkan’ (seperti biji-bijian, blueberry, dan jeruk bali) dan makanan yang ‘tidak diizinkan (seperti roti putih, pisang, dan kismis).

“Ini secara tidak sengaja mempromosikan mentalitas diet dan menyebabkan orang yang diet khawatir tidak sengaja mengonsumsi makanan dalam daftar yang ‘tidak diizinkan’,” ujarnya seperti dilansir di CNN, Jumat, 25 Januari 2019.

“Cinta Itu Masih Ada” Yeslin Gugat Cerai Delon Karna Judi Online

Orang yang khawatir tentang makanan cenderung melakukan diet. Ini mungkin karena mereka khawatir secara khusus tentang berat badan mereka atau tentang dampak nutrisi tertentu terhadap kesehatan mereka.

Penelitian menunjukkan diet tidak efektif dalam jangka panjang dan dapat menyebabkan kenaikan berat badan yang lebih besar dari waktu ke waktu. Otak mengartikan diet dan pembatasan sebagai kelaparan, yang menyebabkan penyimpanan lemak untuk kekurangan di masa depan.

Perhatikan Penggunaan Gula dan Garam, Ini Resep Masak Daging Sukiyaki yang Sehat

“Diet itu membuat stres. Menanggapi hal ini, tubuh kita melepaskan hormon stres seperti kortisol, yang dapat menyebabkan tubuh menyimpan lemak, terutama di daerah perut,” katanya.

Khawatir tentang makanan dapat menyebabkan stres, kegelisahan, dan depresi. Ini menjadi salah satu faktor yang menentukan dari kondisi yang dikenal sebagai orthorexia.

Seorang Wanita Koma 10 Tahun Kok Bisa Melahirkan, Ini yang Dilakukan Perawatnya2019/01/24

Orthorexia adalah kesibukan luar biasa dengan makan sehat. Penderita orthorexia menghabiskan banyak waktu untuk berpikir dan mengkhawatirkan makanan. Mereka juga menghilangkan makanan yang dianggap tidak murni atau tidak sehat. Beberapa ahli berpendapat perilaku ini merupakan awal atau bentuk kelainan makan

Perkiraan menunjukkan di mana saja antara tujuh dan 58 persen dari populasi mungkin memiliki kondisi tersebut. Tidak ada kriteria diagnostik yang jelas, yang membuatnya sulit untuk mengukur prevalensinya.

Tapi kita tahu 15 persen wanita akan mengalami gangguan makan pada tahap tertentu dalam hidup mereka. Jadi kita perlu memastikan saran nutrisi, betapa pun beritikad baik, tidak mempromosikan atau mendorong gangguan makan. (***)

sumber: republika.co.id

Editor :