Rabu | 18 September 2019 |
×

Pencarian

REGULASI

Miris! Siswa Pintar Itu Tak Diluluskan Karena Status Protes di Facebook, Setelah Ketemu Kadis Dikbud Justru Menyedihkan

Rabu | 22 Mei 2019 | 13:42

MEDIAKEPRI.CO.ID, Lombok – Upaya keluarga dan tim pendamping Aldi Irpan, siswa kelas XII jurusan IPS, SMAN 1 Sembalun, Lombok Timur, NTB, untuk menganulir keputusan Kepsek yang tidak meluluskan Aldi kandas di tengah jalan.

Pasalnya, Kepala Dinas Pendidikan dan kebudayaan (Dikbud) NTB Rusman mengaku baru menjabat selama dua minggu dan tidak bisa membuat keputusan dengan cepat terkait kasus Aldi.

Dia juga mengaku sistem pendidikan di NTB belum sepenuhnya baik dan sebagai kepala Dikbud yang baru dirinya harus menghormati keputusan kepala sekolah SMAN 1 Sembalun Sadikin Ali yang tidak meluluskan Aldi.

Sopir Itu Tidak Tahu Kalau Truk yang Dikendarainya Menggilas Bayi 18 Bulan hingga Tewas, Ini Kronologinya

Hal itu disampaikannya saat Aldi, keluarganya serta tim pendamping mendatangi Dikbud NTB mengadukan masalah yang dihadapinya, Selasa, 21 Mei 2019.

Tim pendamping terdiri atas Pusat Kajian dan Bantuan Hukum Universitas Mataram (PKBH Unram), Aliansi Gerakan Reforma Agraria (AGRA), Serikat Perempuan Indonesia (Seruni), serta Alumni SMAN 1 Sembalun.

“Saya baru menjabat dua minggu, jadi belum bisa memberikan keputusan. Untuk sementara ini saya harus menghormati keputusan kepala sekolah yang tidak meluluskan Aldi,” kata Rusman, Selasa, 21 Mei 2019.

Malang Benar Nasip Ati, Sebelum Ditemukan Tewas, Ini yang Dialami Asisten Rumah Tangga Ini

Rusman juga menyarankan agar Aldi dan tim yang membantunya untuk melaporkan kasusnya atau menyerahkan kasusnya ke Ombudsman NTB.

“Kami hanya bisa menyarankan agar menyampaikan kasus ini ke Ombudsman, apapun rekomendasi Ombudsman akan kami ikuti dan laksanakan,” ujarnya.

Jawaban Rusman sempat memicu emosi pendamping Aldi.

Tim pendamping memintanya agar bertangungjawab sebagai pemegang kebijakan dalam menyelesaikan masalah yang terkait langsung dengan mental dan kualitas pendidik di NTB.

Sempat Berhenti, Massa Kembali Lempari Batu Stasiun Tanah Abang, Penumpang Menumpuk

Pembicaraan yang alot itu pun harus berakhir dengan kekecewaan pihak Aldi.

Dia dan keluarganya kemudian memilih meninggalkan kantor Dikbud NTB.

“Saya tetap akan berusaha dan berdoa. Saya tetap menghormati pak guru, kepala sekolah, semoga hatinya terbuka memberikan hak-hak saya sebagai siswa mendapatkan kelulusan,” kata Aldi, anak petani bawang di Desa Sembalun, Lombok Timur ini.

Tim pendamping Aldi mengaku kecewa dengan sikap Kepala Dikbud NTB Rusman.

Sebab tim sudah membeberkan sejumlah fakta lapangan yang menunjukkan adanya kekeliruan keputusan Kepsek SMAN 1 Sembalun Sadikin Ali.

Ngabuburit Bareng Paguyuban Saund System dan Banser NU, Danramil Batangan Bagikan Takjil

Berdasarkan temuan tim, Kepsek tidak meluluskan Aldi karena sentimen pribadi dan tiga guru lainnya yakni guru BP dan Kesiswaan.

Di sisi lain, belasan guru di SMA itu keberatan dengan keputusan Kepsek.

“Kami sebagai warga Sembalun dan juga alumni SMAN 1 Sembalun menilai keputusan kepala sekolah dan tiga guru lainnya hanya keputusan sepihak yang tidak berdasar.

Bagaimana mungkin anak yang selama ini menjadi ketua kelas, pengurus OSIS, pelatih Pramuka, dinilai berperilaku dan berkarakter buruk di sekolahnya. Ini sangat tidak masuk akal,” kata Royal Sembahulun, salah satu alumni SMAN 1 Sembalun yang jadi tim pendamping Aldi.

Kekecewaan yang sama dirasakan oleh Rizal Sembapala, salah satu guru Aldi.

Dia mengaku mewakili para guru yang selama ini merasa tertekan atas kebijakan kepala sekolah.

Menurut dia, banyak kejanggalan atas tidak diluluskannya Aldi.

“Kalau Dikbud mau mengetahui yang sebenarnya bisa meminta keterangan para guru satu per satu, jangan beramai-ramai

apalagi ada kepala sekolahnya. Mereka akan terbuka tanpa tekanan menjelaskan semua yang mereka tahu dan rasakan atas

keputusan itu. Kebijakan kepala sekolah yang arogan membuat para guru memilih diam,” kata Rizal.

Permintaan maaf orangtua Aldi ditolak

Nuin, ayah Aldi, menginginkan agar Aldi diluluskan lantaran syarat kelulusan terpenuhi dan nilai Aldi selalu masuk 10 besar.

Sementara nilai Ujian Nasionalnya juga peringkat kedua di jurusannya.

Menurut Nuin, pihak keluarga sudah meminta maaf ke Kepsek agar ancamannya tidak meluluskan Aldi tidak dilaksanakan.

Pihak keluarga Aldi datang pada hari Minggu, dan menurut Kepsek, hari Minggu bukanlah jam kerjanya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Aldi Irfan tidak diluluskan atas keputusan kepala sekolah karena dinilai terlalu kritis memprotes kebijakan sekolah.

Ada tiga hal yang memberatkannya yakni protes karena dilarang memakai jaket di sekolah, beberapa kali terlambat dan parkir sembarangan.

Tiga hal itu membuat Aldi dicap berperilaku buruk. (***)

sumber: tribunnews.com

Editor :