Minggu | 17 November 2019 |
×

Pencarian

MEDIS

Penyakit Autoimun Sama Kejamnya dengan Kanker? Ini Dia Penjelasannya

Senin | 22 Juli 2019 | 9:34

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – AUTOIMUN adalah penyakit yang terjadi akibat sistem kekebalan tubuh salah menilai sel-sel sehat yang ada dalam tubuh sebagai sel asing dan berbahaya. Akibatnya, tubuh pun memproduksi antibodi yang kemudian menyerang dan merusak sel-sel sehat tersebut.

Kondisi ini kemudian menyebabkan munculnya berbagai gangguan kesehatan.

Bahkan penyakit ini pun dapat mempengaruhi hampir semua bagian tubuh, termasuk otot, saraf,otak, kulit, sendi, mata, jantung, paru-paru, ginjal, saluran pencernaan, hingga pembuluh darah.

Hal tersebut diungkapkan Marisza Cardoba selaku Direktur Marisza Cardoba Foundation (MCF), dalam kegiatan sosialisasi autoimun bersama dengan Clerry Cleffy Institute dan Firda Athira Foundation, di salah satu rumah makan di Bandung, Ahad, 21 Juli 2019.

“Belum banyak orang tahu apa itu penyakit autoimun, baik dari kalangan dokter atau masyarakat umum.
Penyakit ini sudah menjadi epidemik di Indonesia dan berbagai belahan dunia, kasusnya juga meningkat penyakitnya,” ujar Marisza Cardoba.

Ia mengatakan, penyakit ini pun sama kejamnya dengan kanker. Studi epidemiologi di dunia telah mengidentifikasi lebih dari 100 jenis penyakit autoimun.

Selain bersifat kronis dan dapat menyebabkan kematian, tentunya membutuhkan biaya kesehatan yang tinggi. Dan penyakit ini, banyak menyerang kaum perempuan dan anak-anak ini, tidak dapat diketahui secara kasat mata gejala yang ditimbulkan dari penyakit autoimun.

“Gejalanya hampir sama dengan penyakit umum biasa pada umumnya. Itu perlu proses dan biaya pastinya untuk pengecekannya,” ucap dia.

“Salah satu gejala yang paling terlihat pada orang yang alami autoimun, yakni waktu aktifitasnya. Biasanya aktifitas normal seperti kita bisa 15 sampai 16 jam. Mereka yang mengidap autoimun hanya dapat beraktifitas 4 sampai 6 jam dan cepat kelelahan,” katanya.

Sementara itu, Direktur Firda Athira Foundation, Firda Athira Azis mengatakan meski kasusnya banyak terjadi dan dialami warga Indonesia, pengidap autoimun belum banyak disosialisasikan dan diperhatikan oleh pemerintah.

Hal itu membuat pengidap autoimun tidak dapat di-cover oleh BPJS. Padahal untuk pengobatan penyakit ini, membutuhkan biaya yang cukup besar.

“Kita apalagi kaum muda, kaum langgas atau kaum millenial harus peduli dan andil dalam memerangi autoimun ini. Kita juga ini mendorong untuk pemerintah turut andil menangani autoimun. Autoimun sampai sekarang belum dapat di cover sama BPJS pada untuk tesnya saja mencapai 1,9 juta belum lagi nanti penanganan,” kata Firda.

Sementara itu, penginisiasi kegiatan, Dwi Prihandini yang merupakan pendiri dan Direktur Clerry Cleffy Institute mengatakan, kegiatan ini merupakan bentuk kepeduliannya terhadap para pengidap autoimun.

“Mereka kaum milenial pada 2020 sampai dengan 2030 mendatang akan terkena dampak dari demografi, yang berimbas pada bertambahnya jumlah pengidap autoimun. Untuk itu sosialisasi ini perlu dilakukan sebagai langkah dari pencegahan,” katanya.

Bandung merupakan tempat kedua diadakan sosialisasi ini, setelah Bali. Ke depannya sosialisasi dilakukan di seluruh provinsi kota dan kabupaten yang ada di Indonesia.

Sebagai bentuk kepeduliannya, selain memberikan sosialisasi kegiatan ini juga memberikan pelatihan dan pemberian modal terhadap orang-orang autoimun.

“Kita berikan pelatihan dan modal, supaya mereka bisa bangkit dan berdaya. Dan pastinya juga agar mereka tidak merasa sendiri untuk melawan autoimun ini,” ucap Dwi yang juga merupakan pendiri Firda Athira Foundation. (***)

sumber: galamedianews.com

Editor :