Rabu | 20 November 2019 |
×

Pencarian

KURS

Cukup Sulit, Rupiah Bisa Balik ke Bawah Rp 14.000

Jumat | 02 Agustus 2019 | 7:43

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Peluang kurs rupiah untuk berada di bawah level Rp 14.000 per dollar AS di sisa 2019, dinilai cukup sulit. Kalaupun terjadi, ekonom menilai kondisi tersebut hanya bersifat temporer saja.

Berdasarkan data Bloomberg, pergerakan kurs rupiah Kamis, 1 Agustus terpaksa ditutup melemah di level Rp 14.116 per dollar AS atau koreksi 0,67 persen.

Sedangkan kurs tengah Bank Indonesia (BI) atau yang dikenal dengan JISDOR ikut terdepresiasi sebanyak 72 poin dan membawa rupiah ke level Rp 14.098 per dolar AS

.Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual mengatakan, peluang rupiah untuk bergerak di bawah Rp 14.000 per dollar AS hanya temporer.

Mengingat, berbagai sentimen yang bakal terjadi di sisa 2019 diprediksi masih akan menekan kurs rupiah.

David memperkirakan rupiah bakal bergerak di rentang Rp 14.000 per dollar AS hingga Rp 14.500 per dollar AS.

Dengan perkiraan, Bank Sentral Amerika Serikat ( The Fed) dan BI bakal memangkas suku bunga acuannya sebanyak dua kali di Oktober dan Desember 2019 Sebagaimana diketahui, The Fed memangkas suku bunga acuannya (FFR) sebanyak 25 basis poin (bps) ke level 2 persen hingga 2,25 persen.

Namun, pernyataan Gubernur The Fed Jerome Powell yang mengindikasikan sinyal pemangkasan FFR secara terbatas atau tidak seagresif sebelumnya, justru berhasil membuat dollar AS menguat signifikan.

Akibatnya rupiah justru tertekan pada perdagangan Kamis 1 Agustus 2019.

“Tadi malam diputuskan ada mini easing cycle oleh The Fed, mirip yang terjadi di 1990an, di mana ada pelonggaran moneter temporer.

Tapi kali ini berbeda dari ekspektasi pasar,” jelas David kepada Kontan, Kamis 1 Agustus 2019.

Sebelumnya pasar memperkirakan pelonggaran moneter yang akan dilakukan The Fed bersifat jangka panjang.

Namun, faktanya Powell menunjukkan sinyal bahwa pelonggaran bersifat jangka pendek. Apalagi, pemangkasan FFR hanya 25 bps dari perkiraan sebelumnya yakni 50 bps.

Untuk itu, David menilai penguatan dollar AS yang terjadi sebatas masalah ekspektasi pasar.
Sehingga, pelemahan rupiah masih akan mengikuti perkembangan global. Pun secara tren masih memungkinkan untuk menguat terbatas, lewat dukungan arus modal asing masuk di pasar obligasi Tanah Air.

Adapun sentimen lain yang perlu diwaspadai bagi pergerakan rupiah ke depan, yakni perkembangan negosiasi perang dagang antara AS dengan China.

Apabila ketegangan negosiasi perang dagang AS dan China meningkat, dan The Fed tidak lagi memangkas FFR, maka rupiah berpotensi menuju Rp 14.500 per dollar AS di akhir tahun. (***)

sumber: kompas.com

Editor :