Rabu | 20 November 2019 |
×

Pencarian

REGULASI

Sudah Seabad TK ‘Aisyiyah Bustanul Athfal Berkhidmat untuk Negeri

Selasa | 20 Agustus 2019 | 18:41

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Tak dapat dipungkiri, bahwa ‘Aisyiyah merupakan pioner pendidikan anak usia dini. ‘Aisyiyah berdiri 1917 dan Frobel Kindergarten atau yang kini disebut dengan TK ‘Aisyiyah Bustanul Athfal (disingkat TK ABA) berdiri pada tahun 1919. Pada masa itu perempuan masih sulit mengakses ruang publik. Mereka banyak yang dikawinkan di usia belia dan tidak banyak mendapatkan hak-haknya.

Menilik kondisi itu, ‘Aisyiyah berpikir tentang adanya kesetaraan hak. ‘Aisyiyah mendorong anak-anak perempuan untuk dapat menikmati pendidikan selayaknya anak laki-laki. ‘Aisyiyah telah berpikir maju melindungi hak anak yang kondisinya lebih subordinat dari perempuan.

Melampui Zaman

‘Aisyiyah telah melampaui zamannya, karena ia berpikir futuristik tentang nasib anak, terkhusus anak perempuan. ‘Aisyiyah mereformasi kesadaran agar anak tidak menjadi subordinat dalam sistem sosial. Anak perempuan perlu mendapatkan pendidikan yang layak. Dengan pendidikan yang layak perempuan akan memiliki potensi yang sama dengan laki-laki.

Dalam proses pendidikan anak sejak dini, ‘Aisyiyah menyiapkan sumber daya manusia Indonesia yang unggul. Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) adalah jaminan masa emas (golden age). Masa itu tidak akan pernah terulang karena hanya berjalan sekali seumur hidup. Oleh karenanya mendidik anak di masa golden age menjadi investasi sumber daya manusia paling fundamental.

PAUD menjadi tempat pengasuhan sekaligus pendidikan anak. Jika ada masalah di rumah, koreksi pengasuhan dapat dilakukan di PAUD. Karena jika anak tidak selesai fase golden agenya, maka potensi masalah sosial dan rehabilitasi di masa yang akan datang akan lebih berat.

Menyelamatkan fase golden age berarti ‘Aisyiyah sudah menyiapkan sumber daya manusia yang unggul. Dan ‘Aisyiyah sudah memikirkannya satu abad yang lalu.

‘Aisyiyah telah berpikir bahwa pendidikan anak menjadi hal utama bagi bangsa. Saat anak mendapatkan pendidikan yang layak dan memadai, hal itu akan menjamin masa depan sebuah peradaban. ‘Aisyiyah telah berkontribusi dalam proses penyiapan keagungan keadaban itu.

Tiga Pilar

Kontribusi bagi keadaban itu terbangun dari tiga hal utama. ‘Aisyiyah mendasarkan aktivitasnya pada tiga pilar branding: iman, ilmu, amal. ‘Aisyiyah menguatkan pendidikan karakter melalui iman, ilmu, amal. Iman, ilmu, dan amal adalah upaya pembangunan manusia yang berkarakter.

Iman, ilmu, dan amal menjadi fondasi keteguhan sikap dan karakter utama. Iman menjadi fondasi awal kelekatan manusia dengan Sang Pencipta. Berbekal iman, seseorang akan selalu ingat dan sadar akan kehadiran Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Iman merupakan manifestasi tauhid yang dalam bahasa Ismail Raji al-Faruqi merupakan esensi peradaban Islam. Esensi itulah yang akan menyinari pilar lain sebagai bagian organis mewujudkan peradaban utama.

Ilmu menjadi penunjukan jalan kebenaran. Ilmu menjadi suluh bagi terciptanya sebuah peradaban. Tanpa ilmu pengetahuan peradaban sulit terwujud. Ilmu menjadikan manusia dapat berkreasi menciptakan kebajikan. Kebajikan yang menuntun dan mengokohkan manusia sebagai ahsani taqwim (penciptaan terbaik).

Sedangkan amal merupakan puncak dari aktivitas hidup. Iman dan ilmu akan menjadi sempurna dengan amal (kerja produktif). Amal merupakan investasi manusia dalam menanam kebajikan. Dari amal itulah akan lahir sebuah keunggulan (inovasi) yang memungkinkan manusia menjadi khalifah fi al-ardh (pemimpin di muka bumi).

Peneguhan Nasionalisme

Ketiga pilar itulah yang menjadikan ‘Aisyiyah semakin eksis di Indonesia. Eksistensi ‘Aisyiyah itu juga menjadi penanda nasionalisme yang mewujud. Keberadaan TK ABA adalah bagian peneguhan nasionalisme anak bangsa. TK ABA jumlahnya hampir 20 persen dari PAUD di Indonesia dan tersebar di seluruh wilayah Nusantara.

TK ABA melayani hingga pulau terluar, seperti Natuna. TK ABA tidak mengenal agama. Misalnya di Bali, Nusa Tenggara Timur (NTT), dan Papua, TK ABA tetap menjadi pelayan dan penyedia pendidikan bagi masyarakat. TK ABA melayani semua agama, dan dari berbagai kelas ekonomi.

Dengan demikian TK ABA telah mempratikan pendidikan untuk semua(education for all). TK ABA telah melampaui sekat agama dan budaya dengan kreativitasnya. Dan yang tak kalah penting adalah TK ABA melayani tanpa harus membenani ekonomi masyarakat. TK ABA tetap melayani masyarakat tanpa harus disibukkan dengan urusan pembiayaan. Kemandirian ekonomi dalam pengelolaan fasilitas pendidikan ini telah menjadi ciri utama TK ABA sejak seabad lalu.

‘Aisyiyah mengajarkan nasionalisme anak dengan caranya. Mengajarkan keragaman, mengajari anak sesuai hak anak, menyanyi dan lain-lain. Keragaman yang tersemai tanpa membedakan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) dan kelompok sosial inilah yang membentengi anak dari radikalisme dan mengajarkan toleransi. ‘Aisyiyah telah menyiapkan anak bangsa menjadi generasi yang mempunyai sifat dan watak kebangsaan yang luas. Mereka sudah biasa hidup berbeda dengan ragam keyakinan dan kebudayaan. Saat mereka dewasa, ia tidak akan mudah terprovokasi oleh gerakan yang membajak nilai-nilai agama untuk kepentingan jangka pendek.

‘Aisyiyah melalui TK ABA telah melakukan kerja peradaban untuk keagungan dan kemuliaan Indonesia. TK ABA telah berkhidmat untuk negeri sejak seabad lalu. Ia telah mendidik anak bangsa tumbuh kembang dalam pola pengasuhan di lembaga pendidikan yang memadai.

TK ABA pun telah melahirkan generasi emas dalam rentang panjang sejarah panjang bangsa. TK ABA telah menerapkan praktik baik keluhuran budi dalam proses pendidikan anak Indonesia. Selamat milad seabad TK ABA, tetaplah menjadi sinar terang bagi hidup baik anak Indonesia. (***)

sumber : republika.co.id

Editor :