Senin | 23 September 2019 |
×

Pencarian

RAGAM

21 Siswa SDN di Desa Kamasan Diduga Keracunan Permen

Kamis | 29 Agustus 2019 | 21:50

MEDIAKEPRI.CO.ID, Bandung – SEBANYAK 21 siswa SDN Kamasan 3 di Desa Kamasan, Kecamatan Banjaran Kabupaten Bandung diduga keracunan makanan dari jenis permen yang mengandung bahan kimia, Kamis (29 Agustus 2019). Ke-21 korban keracunan itu, terdri atas 12 orang perempuan dan 9 laki-laki yang semuanya siswa kelas 4 SDN Kamasan 3.

Mereka keracunan makanan saat mengikuti kegiatan belajar mengajar di ruang kelas, setelah sebelumnya para siswa tersebut mengonsumsi permen yang dijual seorang siswa di sekolah tersebut dengan harga Rp 1.500/bungkus.

Para siswa tersebut sempat dilarikan ke Puskesmas Kiangroke untuk menjalani perawatan medis, setelah sebelumnya mereka mengalami gejala mual, muntah dan pusing. Setelah menjalani perawatan medis di puskesmas, semua siswa langsung pulang ke rumahnya masing-masing dan tidak ada yang dirawat inap karena kondisinya tidak lama kemudian perlahan-lahan langsung membaik.

Camat Banjaran, Faizal Sulaeman ketika dikonfirmasi wartawan membenarkan sejumlah siswa kelas 4 SDN Kamasan 3 diduga keracunan makanan jenis permen yang tertulis dikemasannya cool jam.

“Sudah dilakukan penanganan, bekerjasama dengan Puskesmas Kiangroke. Sampel permen cool jam-nya sudah dikirim ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Soreang, untuk dilakukan pemeriksaan di laboratorium,” kata Faizal.

Dikatakannya, para siswa SD yang mengalami keracunan makanan jenis permen itu, tak ada indikasi makanan itu mengandung narkoba atau bakteri. “Mungkin, makanan itu mengandung bahan kimia ketika dikonsumsi para siswa di sekolah sejak Kamis pagi,” katanya.

Ia mengatakan, permen yang dikonsumsi para siswa itu, dijual oleh siswa itu sendiri dengan maksud untuk membantu orang tuanya. “Sebelum dijual oleh siswa, diinformasikan permen itu juga dibelinya di Pasar Banjaran,” katanya.

Meski para siswa korban keracunan permen itu sudah ditangani dan pulang ke rumahnya masing-masing, lanjut Faizal, sejumlah pihak melakukan observasi selama 24 jam pasca dari kejadian tersebut. “Jika anak-anak itu besok (Jumat,30 Agustus 2019) kembali sekolah, berarti kadar kimia yang terkandung di dalam permen tersebut rendah atau kecil,” jelasnya.

Soalnya, kata dia, begitu para korban keracunan ditangani di Puskesmas Kiangroke dan diberi asupan minuman air kelapa, secara perlahan-lahan langsung membaik dan terlihat bertenaga setelah racunnya keluar. “Sebelumnya, anak-anak lemas setelah mengalami muntah,” katanya.

Ia pun menjelaskan, semula permen yang dibawa salah seorang siswa itu sebanyak 30 bungkus, dan 27 bungkus lainnya sudah terjual. “Sebanyak 21 bungkus sudah dimakan oleh siswa, dan sisanya 6 bungkus belum dimakan karena keburu bel masuk kelas bunyi,” katanya.

Saat kegiatan belajar mengajar berlangsung, sambung Faizal, para siswa yang sudah mengkonsumsi permen itu ada di antaranya muntah dan sering bulak balik ke kamar mandi.

“Kejadiannya saat jam sekolah. Kami menduga, siswa setelah mengkonsumsi permen itu, setelah 1 sampai 1,5 jam bereaksi karena mengandung kimia. Para siswa mengalami mual sama pusing. Sample sisa permen sudah dikirim ke RSUD Soreang. Termasuk sample muntahan siswa,” katanya.

Ia pun mengimbau kepada para siswa untuk jajan makanan di kantin sekolah supaya higienis dan steril. Selain itu jangan jajan makanan sembarangan.

Saat galamedianews.com ke Puskesmas Kiangroke pada Kamis sore, semua pasien korban keracunan sudah pulang dan tidak ada yang dirawat. Saat ditanya petugas kepolisian dari Polres Bandung, salah seorang Staf Puskesmas Kiangroke mengatakan, belum bisa menjelaskan para pasien itu keracunan dari makanan apa.

“Keracunan apa, belum bisa mengatakan. Yang berhak menjelaskan Kepala Puskesmas Kiangroke. Saya hanya staf. Saya belum bisa menjelaskan penyebab pastinya. Kalau penyebabnya sudah diketahui pun, yang berhak ngomong bukan saya. Soalnya, takut ada fitnah,” katanya.

Staf puskesmas pun menjelaskan, sample muntahan dari siswa yang keracunan itu sudah diserahkan ke Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung. Termasuk sample permen sisa makanan yang sebelumnya sempat dikonsumsi para siswa. (***)

sumber : galamedianews.com

Editor :