Senin | 23 September 2019 |
×

Pencarian

PERFILMAN

Latar Belakang Cerita Horor ‘KKN Desa Penari’

Jumat | 30 Agustus 2019 | 21:51

MEDIAKEPRI.CO.ID, Surabaya – Cerita horor soal ‘KKN Desa Penari’ tengah viral di media sosial. Jika itu merupakan kisah nyata, lalu di mana kisah mistis berujung tragedi itu terjadi?

Apakah Kota B yang dimaksud itu Banyuwangi? Atau Bondowoso?

Seperti yang diceritakan Akun Twitter @SimpleM81378523, enam mahasiswa-mahasiswi menggelar KKN di Kota B, Jawa Timur pada 2009 akhir. Mereka merupakan mahasiswa-mahasiswi angkatan 2005/2006 dari sebuah perguruan tinggi di Kota S.

Enam calon sarjana yang menggelar KKN tersebut yakni Ayu, Nur, Widya, Wahyu, Anton, dan Bima. Untuk menjalankan program Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang telah disusun. Ayu berpasangan dengan Bima. Kemudian Wahyu dengan Widya dan Nur dengan Anton.

Mereka menempuh 4 sampai 5 jam perjalanan dari Kota S. Sebelum berangkat, Widya bercerita kepada sang ibu mengenai sebuah desa yang akan menjadi tempat mereka KKN selama enam minggu. Seketika raut wajah sang ibu langsung menunjukkan kekhawatiran yang amat sangat.

“Gak onok nggon liyo, lapo kudu gok Kota B. Nggok kunu nggone alas tok, ra umum di nggoni gawe menungso (Apa gak ada tempat lain, kenapa harus Kota B, di sana tempatnya bukanya hutan semua, tidak bagus ditinggali oleh manusia),” tulis SimpleMan seperti dikutip detikcom, Jumat (30 Agustus 2019).

Dari jalan besar, mereka melewati hutan belantara untuk sampai ke desa tujuan yakni Desa W. Mereka dijemput warga desa dengan menggunakan motor.

“Kenalno, niki Pak Prabu. Kepala Desanya. Koncone Mas ku. Pak Prabu, niki rencang kulo yang dari Kota S, mau melaksanakan kegiatan KKN di kampung panjenengan” (Kenalkan, ini Pak Prabu, Kepala Desa teman kakakku. Pak Prabu, ini teman saya yang dari kota yang rencananya mau KKN,” kata Ayu.

Singkat cerita, seabrek hal mistis yang ada di desa tersebut justru berujung tragedi setelah dua di antara mereka melakukan pelanggaran. Ayu, Bima dan Widya terlibat dalam sebuah cinta segitiga. Bima dan Ayu melakukan perzinaan meski dalam hati Bima ingin memiliki Widya.

Tidak sampai di situ, Bima juga berusaha memelet Widya dengan sebuah gelang yang didapatnya dari sosok perempuan (makhluk gaib yang berwujud seorang penari cantik jelita) yang berada di sebuah lereng petilasan. Sedangkan Ayu menyimpan kain selendang sang penari berwarna hijau agar bisa mengambil hati Bima.

Tabir kegelapan di kampung tersebut perlahan terbongkar setelah Bima dan Widya tiba-tiba hilang. Sedangkan Ayu tak sadarkan diri.

Pak Prabu menyesal telah memberikan izin setelah Nur menceritakan apa yang dilakukan Bima dan Ayu selama di desa tersebut. Terlebih menurut Prabu, Ayu dan Bima juga telah lancang memilih tempat untuk menjalankan program kerjanya. Yakni di sebuah lereng yang dikeramatkan warga desa.

Tepat di samping lereng ada tapak tilas. Tempat penduduk Desa W mengadakan pertunjukan tari. Bukan untuk manusia namun untuk jin hutan.

Dengan bantuan tetua desa, Mbah buyut, Widya dan Bima ditemukan. Namun sayang nyawa Bima sudah tidak bisa kembali menyatu dengan tubuhnya. Ayu juga kemudian meregang nyawa dalam upaya penyembuhan yang mengharuskannya dibawa ke luar Pulau Jawa.

KKN mereka kemudian resmi dicoret. Jadi apakah peristiwa ‘KKN Desa Penari’ merupakan kisah nyata? Atau cerita itu hanya fiktif belaka? (***)

sumber : detik.com

Editor :