Senin | 23 September 2019 |
×

Pencarian

RAGAM

Sambut Tahun Baru Islam 1441 Hijriah, Ribuan Syiah di Inggris Siapkan Hari Berkabung Asyura

Minggu | 01 September 2019 | 16:05

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Hari Minggu ini umat muslim di berbagai belahan dunia merayakan tahun baru kalender Islam, 1441 Hijriah yang jatuh pada 1 September 2019. Di Tanah Air pergantian tahun baru Islam diperingati dengan pawai obor. Selain menandai tahun hijrah, Muharam juga menjadi bulan damai dan refleksi karena semua bentuk peperangan dan pertikaian terlarang di bulan ini.

Dan jika di Tanah Air pergantian tahun baru Islam ini diperingati dengan meriah, berbeda dengan di negara-negara nonmuslim seperti Inggris atau Amerika Serikat. Warga Texas dan Birmingham misalnya melalui pergantian tahun dengan khotbah di masjid-masjid setempat dengan tema reflektif.

Meski tak semeriah dua hari besar Idulfitri dan Iduladha, di negara mayoritas Muslim termasuk Uni Emirat Arab, Turki, Indonesia dan Malaysia tanggal 1 Muharam juga menjadi hari libur. Tak hanya itu Muharam juga menjadi bulan berkabung karena menjadi pengingat kepergian cucu Nabi Muhammad saw, Husein yang tewas di perang Karbala yang biasa diperingati Syiah.

Dikutip dari di Birmingham.Live di Inggris ada sekitar tiga ribu penganut Syiah yang bersiap menyambut Hari Asyura. Mereka biasanya berkumpul di Marble Arch London untuk memulai prosesi berkabung yang berlangsung selama 40 hari dan diawali dari tanggal sepuluh Muharam.

Di luar itu tahun baru diperingati umat muslim Texas, AS dengan mendengarkan khutbah bertema relfektif. Khususnya mengingat perjuangan Nabi Muhammad saw yang pada tahun 622 bermigrasi dari Mekah ke Madinah atau yang kala itu dikenal dengan Yasrib. Perjalanan yang kemudian menjadi hijrah umat muslim ini akhirnya dijadikan penanda kalender Islam.

Untuk muslim Syiah, Karbala di bulan Muharam menjadi hari besar yang diperingati bersama keluarga dan sejawat. Di Irak juga Iran dan Bangladesh sebelumnya puncak peringatan hari berkabung Karbala dilakukan jalan-jalan dengan prosesi “menyakiti tubuh” menggunakan rantai dan lainnya. Meski kini banyak yang melarangnya tetapi di beberapa tempat di Iran dan Lebanon juga India dan Bangladesh praktik serupa tetap dilakukan.

Ada juga Tazieh, kelompok yang mereka ulang pertempuran Karbala. Mereka menggunakan replika miniatur makam Karbala yang terbuat dari bambu dan kertas. Ada juga pembacaan puisi yang disebut noha pembacaan buku Rawdat al-Shuhada (Taman Para Martir) yang menceritakan kisah tragedi di Karbala. (***)

sumber: galamedianews.com

Editor :