Minggu | 08 Desember 2019 |
×

Pencarian

RAGAM

Menko Darmin Akui Tak Mudah Wujudkan Swasembada Gula di Tanah Air

Selasa | 03 September 2019 | 20:45

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution mengakui tidak mudah untuk mewujudkan swasembada gula di Tanah Air. Sebab, butuh kebijakan komprehensif untuk jangka panjang demi mewujudkan cita-cita tersebut.

Darmin mengatakan, persoalan berat adalah bagaimana menghentikan impor gula itu sendiri. Sedangkan kebutuhan gula dalam negeri sendiri belum bisa dipenuhi karena selama berpuluh-puluh tahun pabrik gula rafinasi hanya mengolah gula kristal mentah menjadi gula industri.

“Sehingga kalau anda lihat hampir pabrik gula rafinasi adanya di dekat pelabuhan, karena otaknya mau mengimpor karena waktu itu pikirannya begitu,” kata dia di Kantornya, Jakarta, Selasa (3 September 2019).

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2014 tentang Perkebunan, para pemilik pabrik rafinasi harus memiliki kebun sendiri. Namun peran pemerintah di sini adalah bagaimana membantu agar para pabrikan gula mendapatkan lahan kebunnya.

“Oh nanti itu ke depan, cuma kan begini, itu yang punya pabrik rafinasi kita sih mau ada kebunnya. Tapi bantuin kita dong nyari tanahnya nah gitu lah. Kita juga mau tapi jangan kemudian menganggap pasti akan dapat, memangnya kita agen tanah apa,” ujar Darmin.

Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, Kasdi Subagyono mengatakan, Indonesia baru bisa memenuhi kebutuhan gula dalam negeri secara mandiri pada 10 tahun mendatang. Dengan catatan pemerintah perlu memperluas lahan untuk perkebunan tebu.

Hingga tahun ini, luas perkebunan tebu baru mencapai sekitar 201.178 hektar di luar Pulau Jawa, dan 251.020 hektar untuk di Pulau Jawa. Jumlah ini diperkirakan bakal meningkat di 2024 menjadi 271.361 hektar di luar Jawa dan dalam 263.571 hektar di Jawa.

“Sampai 2024 itu target kita 535 ribu hektar. Itu baru memenuhi 3,2 juta ton, kebutuhan kita 5,8 juta ton. Analisis kami, kira-kira butuh 735 ribu hektar untuk mencapai swasembada. Itu tonasenya 5,9 juta ton. Kita prediksi 2029,” jelas dia.

Pemerintah, kata dia, memang mengarahkan perluasan perkebunan tebu di luar Pulau Jawa. Alasannya adalah keterbatasan lahan di Pulau Jawa, sementara wilayah lainnya masih memiliki potensi untuk memperluas lahan untuk produksi gula nasional.

“Karena kalau mau perluas Jawa agak sulit. Kita konsentrasi di luar Jawa. Di dalam Jawa masih boleh, semangatnya perluas kebun. Di Sumatera ada potensi, Kalimantan juga, tidak bisa spesifik,” ungkapnya. (***)

sumber : merdeka.com

Editor :