Minggu | 17 November 2019 |
×

Pencarian

ANEKA

TMII sarana Berlibur dan Edukasi

Sabtu | 21 September 2019 | 19:33

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Sempatkan berkunjung ke Taman Mini Indonesia Indah (TMII) saat libur akhir pekan, libur sekolah, atau libur panjang. Anda akan menyaksikan satu keluarga kecil; suami-istri dengan dua anak, atau keluarga besar, menggelar tikar di bawah pohon, duduk bersama berbentuk lingkaran, dan menyantap makanan yang dibawa dari rumah.

Nyaris tidak ada ruang di bawah pohon dan taman yang tidak diinvasi pengunjung. Mereka yang tidak kebagian tempat menggelar tikar di taman, dan enggan mencari ke tempat yang lebih jauh, memilih ngedeprok samping gedung pengelola, teras anjungan, atau di mana pun yang menurut mereka nyaman.

Sri Titi, warga Rawa Bokor yang kebetulan berkunjung ke TMII karena mengantar salah satu anggota keluarganya menonton Festival Dalang Bocah, mengatakan; “Situasi yang nyaris tidak berubah sejak kali pertama TMII dibuka sampai saat ini.”

Mbak Sri, demikian perempuan paruh baya itu dipanggil keluarganya, empat kali berkunjung ke TMII. Kali pertama sebulan setelah miniatur Indonesia gagasan Ibu Tien Soeharto itu diresmikan pada April 1975. Berikutnya, kata Mbak Sri, tiga kali dalam 20 tahun terakhir.

“Saat kali pertama ke sini, saya masih bocah. Saya bersama dua adik dan ayah-ibu makan di taman sebelah sana,” kata Mbak Sri seraya menunjuk ke satu tempat yang masih diingat. “Kini, saya dan suami kali kedua membawa dua anak saya ke sini.”

Menurutnya, tidak ada yang berubah dengan pengunjung TMII, yaitu piknik. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), piknik adalah bepergian ke suatu tempat di luar kota untuk bersenang-senang dengan membawa bekal makanan dan sebagainya. Kata lain piknik adalah tamasya atau rekreasi.

Berbeda dengan tamasya dan rekreasi, kata piknik tidak banyak digunakan dalam percakapan masyarakat kota. Di sisi lain, rekreasi atau tamasya dengan membawa bekal dari rumah tidak lagi populer di masyarakat kota. Alasannya beragam; mengotori tempat wisata, banyak resto dengan harga terjangkau, dan tak ingin capek.

Almer, salah satu pegawai TMII, mengatakan; “Yang khas dari TMII adalah karakteristik pengunjung yang mempertahankan budaya piknik.” Ia juga tidak sepakat jika budaya piknik, bertamasya membawa bekal dari rumah dan disantap di taman, milik kelas menengah ke bawah.

“Di TMII, tidak sedikit orang bermobil yang membawa bekal dari rumah, menggelar tikar yang juga dibawa dari rumah, dan makan bersama anak-anak mereka,” katanya. “Sesuatu yang mungkin tidak lagi dilakukan kebanyakan orang kota.”

Menurut Almer, saat libur hari raya; sebut saja Idul Fitri, sekujur TMII tidak ubahnya taman makan keluarga. Setiap keluarga seakan membawa bekal dari rumah, sedangkan resto di sekujur TMII dikunjungi mereka yang tidak bersama keluarga, atau keluarga kelas menengah atas yang berekreasi seraya mengedukasi anak-anak mereka tentang keindonesiaan dan menikmati berbagai wahana.

Rista Hamidah, ibu rumah tangga warga kawasan Grogol, Jakarta Barat, berusia 60 tahun, mewariskan cerita sekitar polemik pembangunan TMII yang digagas Ibu Tien Soeharto. Kalangan mahasiswa dan intelektual kampus memprotes proyek itu, tapi pembangunan jalan terus. Setelah proyek selesai dan diresmikan, TMII menjadi destinasi wisata unggulan, tidak hanya untuk masyarakat sekitar Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi, sekujur Jawa Barat, dan Banten, tapi juga seluruh Indonesia.

Setiap pekan bus-bus berbagai ukuran dari kota-kota di Pulau Jawa berjajar di halaman parkir TMII. Ratusan kendaraan lain berjubel di areal parkir yang seakan terus mengecil. Pada hari-hari biasa rombongan anak-anak sekolah, komunitas, serta mereka yang berniat datang untuk mengedukasi diri atau anak-anak mereka, lalu-lalang dari satu ke lain anjungan propinsi, atau keluar masuk berbagai museum.

“TMII tidak sekadar taman rekreasi keluarga, tapi juga sarana edukasi tentang keindonesiaan,” kata Hamidah.

Hamidah menolak asumsi, seperti ditulis salah satu media online, TMII semakin kurang relevan dengan hiburan keluarga-keluarga Indonesia pascareformasi. Menurut Hamidah, sebagai sarana rekreasi yang mengedukasi generasi bangsa akan keindonesiaan, TMII masih akan relevan sampai sekian generasi selanjutnya.

Sri Titi mengatakan; “Ayah dan ibu saya mengedukasi saya tentang keindonesiaan lewat TMII. Setelah saya menjadi orang tua, saya melakukan hal sama kepada anak-anak saya.” Jadi, masih menurut Sri Titi, TMII akan menjadi ‘kebutuhan’ anak bangsa dari satu ke lain generasi masa depan.

Keduanya juga menolak anggapan TMII sebagai monumen Orde Baru. Menurut keduanya, TMII adalah monumen kecintaan seorang ibu negara terhadap Indonesia. TMII, masih menurut keduanya, memang dibangun Keluarga Cendana di era Orde Baru tapi untuk Indonesia dan generasi saat ini dan masa depan.

Namun, fakta menarik untuk membantah asumsi TMII tidak atau mungkin kurang relevan sebagai sarana hiburan bagi keluarga pascareformasi adalah angka-angka pengunjung saat libur panjang. Saat puncak libur Lebaran 2019, seperti dilansir salah satu situs berita, TMII kebanjiran 40 ribu pengunjung. Lahan parkirnya disesaki 3.206 kendaraan roda empat, dan 5000 lebih kendaraan roda dua.

Saat libur Natal 2018 dan Tahun Baru 2019 TMII mencatatkan jumlah pengunjung di atas 500 ribu orang, atau di atas target 450 ribu pengunjung. Pergerlaran seni di tiga zona; depan, tengah, dan belakang, menjadi daya tarik tersendiri.

Mungkin tidak keliru jika menyebut TMII sebagai monumen kecintaan seorang ibu negara, sebab dari taman rekreasi inilah anak-anak bangsa mengedukasi diri untuk mencintai Indonesia. Namun, TMII memang perlu pembenahan karena Indonesia saat ini tidak lagi sama dengan dua dekade lalu. TMII akan abadi, tapi dengan terus memperbaiki diri sesuai tuntutan generasi. (***)

sumber : inilah.com

Editor :