KURS

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Nilai tukar dokar Amerika Serikat (AS) terus mengalami penguatan tajam sejak pagi ini. Dikutip dari data perdagangan Reuters, Selasa, 2 Oktober 2018 dolar AS terpantau sudah berada menyentuh level Rp 14.995 pada pukul 10.30 WIB.

Posisi ini sangat tipis untuk masuk ke level Rp 15.000, hanya kurang 5 poin lagi. Dolar AS terpantau bergerak dari level Rp 14.915 hingga 14.985, dan kembali naik ke level Rp 14.995.

Dolar AS sendiri masih berada di level Rp 14.910 pada Senin, 1 Oktober 2018 kemarin. Sebelumnya nilai tukar dolar AS mencapai level tertingginya pada bulan lalu yang mencapai 14.999.

Sebelumnya Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan nilai tukar dolar AS yang hampir menyentuh Rp 15.000 sendiri banyak dipengaruhi kondisi global. Mulai dari kenaikan suku bunga acuan AS, kebijakan moneter The Fed, hingga pengaruh perang dagang AS.

Akibat berbagai kebijakan dari AS tersebut membuat peredaran mata uang dolar AS jadi terbatas. Hal ini yang terjadi di Indonesia dan menyebabkan pasokan dolar AS di dalam negeri menjadi berkurang.

Terlebih, tingkat ekspor Indonesia saat ini masih lebih rendah dibandingkan impor, atau defisit. Karenanya, permintaan terhadap barang dan jasa impor justru semakin meningkat dan membuat dolar AS menjadi lebih mahal.

“Demand lebih banyak impor barang dan jasa, maka harga dolar AS menjadi mahal. Hukum supply-demand,” ujarnya beberapa waktu lalu. (***)

sumber: detik.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah pagi ini berada di angka Rp 14.485. Angka tersebut naik tipis dari posisi hari kemarin yang berada di Rp 14.480.

Demikian dikutip detikFinance dari data perdagangan Reuters, Selasa, 7 Agustus 2018.

Adapun nilai tukar mata uang Paman Sam cenderung menunjukkan pelemahan sejak pekan kemarin, setelah sempat berada di level Rp 14.505. Bank Sentral AS The Federal Reserve pekan kemarin menahan bunga acuannya dan kemungkinan baru mengalami kenaikan pada September mendatang.

Sebelumnya Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan meskipun ada ekspektasi kenaikan bunga the Fed, kepercayaan pasar terhadap Indonesia terus menguat. Hal ini tercermin dari sejumlah indikator seperti aliran modal asing yang masuk ke pasar keuangan di Indonesia melalui surat berharga negara (SBN) terus naik.

Perry bilang ada aliran modal asing yang masuk pada 30-31 Juli lalu, dan BI menghitung ada sekitar Rp 3,9 triliun yang masuk ke Indonesia. Menurutnya jumlah tersebut tak bisa dibilang kecil. (***)

sumber: detik.com

MEDIAKEPRI.CO.ID – Mata uang rupiah dibuka menguat pagi ini,Rabu 25 Juli 2018, pada spot perdagangan. Penguatannya sebesar 28 poin atau 0,19 persen di Rp 14.517 per dolar AS.

Rupiah sempat menguat lagi ke posisi Rp 14.515 per dolar AS. Hanya saja pada pukul 10.00 WIB rupiah kembali menyentuh level Rp 14.525 per dolar AS.

Sementara itu, berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Sport Dollar Rate (Jisdor), kurs rupiah berada di Rp 14.515 per dolar AS. Posisi itu menguat dibandingkan kemarin, di Rp 14.541 per dolar AS.

Analis Senior CSA Research Institue Reza Priyambada memperkirakan, rupiah hari ini akan bergerak di kisaran Rp 14.532 sampai Rp 14.494 per dolar AS. Dengan begitu, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kemungkinan masih melemah.

“Langkah Bank Indonesia (BI) meredam pelemahan rupiah melalui kebijakan moneter lewat penerbitan instrumen di pasar uang dengan adanya SBI (Sertifikat Bank Indonesia). Tampaknya belum banyak berimbas pada rupiah,” ujarnya di Jakarta, Rabu, 25 Juli 2018.

Di sisi lain, kata dia, laju rupiah masih lebih banyak merespons pergerakan mata uang global. Terutama setelah berbalik melemahnya mata uang euro dengan tekanan pada sentimen internalnya dan kurs yuan Cina seiring rencana devaluasi nilainya.

“Tetap mencermati dan mewaspadai berbagai sentimen. Khususnya dapat membuat Rupiah kembali melemah,” tegas Reza.

Sebelumnya, Ekonom senior dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Tony Prasetiantono menilai melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tidak hanya disebabkan oleh rencana kenaikan suku bunga oleh Bank Sentral AS The Fed. Rupiah cenderung lebih besar tekanannya dibandingkan emerging market lain karena tekanannya tidak hanya satu.

“Suku bunga AS, tapi juga harga minyak dan juga trade war,” ujar Tony di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa, 24 Juli 2018.

Menurut Tony, kenaikan harga minyak yang mencapai 77 dolar AS per barel mengganggu kredibilitas fiskal Indonesia. Sebagai negara pengimpor minyak, lanjutnya, kenaikan harga minyak yang signifikan dapat mengganggu kondisi fiskal APBN. “Kenaikan harga minyak bikin repot pemerintah. Tahun ini minyak juga buat tekanan yang besar terhadap rupiah,” kata Tony.

Sementara itu, perang dagang antara AS dan Cina serta sejumlah negara lain, disebut akan menekan neraca perdagangan Indonesia. Dampaknya negatif dan akan memberikan tekanan terhadap rupiah.

Tony menuturkan, struktur ekspor Indonesia masih belum terlalu terdiversifikasi dan masih cenderung pada ekspor sumber daya alam mentah. “Pak Jokowi masih punya PR bagaimana supaya rupiah lebih rendah volatilitasnya. Bagaimana inflow short-term jadi long-term,” kata Tony.

Terkait dengan pernyataan Trump yang tidak senang dengan kenaikan suku bunga AS sendiri, Tony pun menyatakan hal tersebut logis. Menurutnya, apabila dolar AS menguat, posisi perdagangan AS terhadap seluruh dunia termasuk Cina, akan semakin sulit. “Kita dukung Trump, kenaikan suku bunga AS yang terlalu cepat akan merepotkan Rupiah,” kata Tony. (***)

sumber: republika.co.id

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah pagi ini masih terus menguat. Mengutip Reuters, Kamis, 12 jULI 2018, pada pukul 10.12 WIB, dolar AS menembus level Rp 14.435.

Angka ini lebih tinggi dibandingkan posisi kemarin di level Rp 14.390. Dolar AS pagi ini mengalami penguatan.

Mata uang Paman Sam bergerak dari level Rp 14.380 kemudian naik ke Rp 14.430. Tak lama berselang, dolar AS naik lagi ke level Rp 14.435.

Ekonomi Senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Faisal Basri mengatakan, ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mendongkrak nilai tukar rupiah, salah satunya dengan menggenjot kunjungan wisatawan mancanegara.

“Tourism dengan buka direct flight, misalnya sekarang Manado, Sam Ratulangi itu destinasi top 12. Kalau nggak salah, itu dari China masuk,” kata dia kemarin.

Perusahaan di dalam negeri juga diminta tidak bertransaksi menggunakan dolar AS. Permintaan dolar AS yang besar bisa membuat rupiah keok di negeri sendiri.

Selain itu, para pejabat juga diminta tidak menyimpan kekayaannya dalam bentuk valuta asing (valas).

“Buat apa sih? Ini kan nggak percaya komitmen pemerintahnya sendiri, jangan yang disuruh berjuang BI terus,” jelasnya. (***)

sumber: detik.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Mampukah rupiah rebound ke zona hijau setelah terpuruk di zona merah dalam perdagangan kemarin, Kamis, 5 Juli 2018.

Adapun pergerakan nilai tukar rupiah melemah pada akhir perdagangan kemarin, Kamis, 5 Juli 2018, sejalan dengan pelemahan mayoritas mata uang di Asia.

Rupiah ditutup melemah 31 poin atau 0,22% di level Rp14.394 per dolar AS, setelah dibuka dengan depresiasi 10 poin atau 0,07% di posisi 14.373.

Pada perdagangan Rabu, 4 Juli 2018, rupiah rebound dan berakhir menguat 0,24% atau 34 poin di level 14.363. Sepanjang perdagangan hari ini, rupiah bergerak pada level Rp14.373 – Rp14.425 per dolar AS.

Bersama rupiah, mayoritas mata uang di Asia juga melemah petang ini, dipimpin won Korea Selatan sebesar 0,34% dan rupee India yang melemah 0,32%.

Di sisi lain, ringgit Malaysia dan dolar Singapura masing-masing menguat tipis 0,09% dan 0,01%.

Dilansir dari Bloomberg, mata uang won Korsel memimpin pelemahan pada mata uang Asia di tengah kehati-hatian pasar menjelang tenggat waktu pengenaan tarif oleh Amerika Serikat (AS) terhadap barang-barang China senilai US$34 miliar pada Jumat, 6 Juli 2018. (***)

sumber: bisnis.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup menguat 64 poin atau 0,44% ke level Rp14.330 per dolar AS pada perdagangan Jumat, 29 Juni 2018.

Penguatan rupiah pada akhir pekan terjadi saat Bank Indonesia menaikkan suku bunga 50 basis poin menjadi 5,25% pada pertemuan Jumat, 29 Juni 2018, kenaikan untuk ketiga kali dalam enam pekan.

Penguatan rupiah pada Jumat, sejalan dengan kenaikan indeks harga saham gabungan (IHSG).

Indeks harga saham gabungan ditutup menguat 2,33% atau 131,92 poin ke level 5.799,24 pada Jumat, 29 Juni 2018.

Sementara itu, pada hari ini, Senin, 2 Juli 2018, Badan Pusat Statitik akan merilis angka inflasi Juni.

Bagaimana pergerakan rupiah pada perdagangan hari ini? (***)

sumber: bisnis.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Nilai dolar Amerika Serikat (AS) hari ini mengalami penguatan terhadap rupiah dan terus menuju level Rp 14.300. Mengutip data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) dolar AS tercatat Rp 14.271, kemudian dari Reuters tercatat Rp 14.277.

Ekonom PermataBank Josua Pardede menjelaskan penguatan dolar AS terjadi karena sentimen global. Sentimen tersebut mulai dari ekspektasi kenaikan bunga acuan Bank Sentral AS The Federal Reserve hingga sentimen perang dagang antara AS dan China.

Menurut dia, penguatan mata uang Paman Sam terus terjadi meskipun sentimen sempat mereda akibat pernyataan yang dikeluarkan Gedung Putih.

“Sentimen memang mereda tapi dolar AS juga masih kuat. Tak hanya di Indonesia ini juga terjadi di kawasan Asia, Yuan China jadi mata uang yang memimpin pelemahan ini,” kata Josua saat dihubungi detikFinance, Kamis, 28 Juni 2018.

Dia menjelaskan, selain itu dalam satu pekan terakhir juga terjadi peningkatan imbal hasil pada surat utang negara (SUN) ini juga menyebabkan pelemahan terhadap rupiah.

Josua menambahkan, jika dilihat memang dolar AS masih kuat jika dibandingkan dengan mata uang negara berkembang. Hingga pekan ini dolar diprediksi masih akan bertengger di sekitar Rp 14.200.

Menurut dia, penguatan dolar AS hari ini Kamis, 28 Juni 2018 menyebabkan pelemahan yang paling dalam terhadap rupiah. Josua menyebut ini harus menjadi perhatian Bank Indonesia (BI) untuk menstabilkan nilai tukar rupiah.

“Jika dilihat BI sudah mengeluarkan statement akan melakukan langkah pre emptive, untuk menjaga kestabilan rupiah dengan memanfaatkan kenaikan bunga,” ujar dia.

Dia menjelaskan, pergerakan nilai tukar ini harus terus dipantau karena jika nilai tukar sudah tidak sesuai dengan fundamentalnya maka akan mengganggu stabilitas perekonomian dalam negeri. (***)

sumber: detik.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Nilai tukar rupiah hari ini, Jum’at, 22 Juni 2018 diprediksi akan tetap bergerak di atas Rp14. 000 dengan pergerakan di Rp14.050 hingga 14.150.

Analis Binaartha Sekuritas Muhammad Nafan Aji Gusta mengatakan secara teknikal, pada USDIDR Chart terlihat bahwa pergerakan dolar AS masih berpotensi melanjutkan penguatannya, meskipun agak terbatas.

Sebab, katanya, walaupun sudah berada di area overbought, indikator Stochastic dan RSI masih bergerak menguat ke atas, sementara indikator TSI masih menunjukkan sinyal positif.

Adapun sentimen eksternal yang begitu kuat memengaruhi seperti rencana The Fed yang akan menaikkan suku bunga acuan sebanyak 2 kali lagi pada tahun ini. Selain itu, meningkatnya tensi antara AS dengan beberapa negara lainnya dalam menerapkan kenaikan bea impor sehingga berujung pada sentimen perang dagang, secara tidak langsung menyebabkan posisi rupiah tertekan.

Dalam perdagangan kemarin, Kamis, 21 Juni 2018, nilai tukar rupiah menembus level Rp14.100, di tengah pelemahan mayoritas mata uang Asia terhadap dolar AS.

Rupiah ditutup melemah 170 poin atau 1,22% di Rp14.102 per dolar AS, setelah dibuka dengan pelemahan 158 poin atau 1,13% di Rp14.090.

Pada perdagangan terakhir sebelum libur Idulfitri, Jumat (8/6), performa mata uang Garuda juga berakhir melemah sebesar 57 poin atau 0,41% di posisi Rp13.932. Sepanjang perdagangan kemarin, rupiah bergerak pada level Rp13.912 – Rp14.108 per dolar AS. (***)

sumber: bisnis.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Direktur Center for Budget Analysis (CBA) Uchok Sky Khadafi mengatakan, Sri Mulyani Indarwati (SMI) sebagai Menteri Keuangan terbaik di dunia adalah pihak yang paling bertanggung jawab dengan semakin terpuruknya nilai rupiah terhadap dolar.

Seperti diketahui, Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, Jumat 18 Mei 2018 bergerak melemah sebesar 99 poin menjadi Rp14.124 dibandingkan posisi sebelumnya Rp14.045 per dolar AS. Kenaikan nilai tukar rupiah terhadap dolar tentu akan berpengaruh dengan jumlah hutang yang semakin membengkak.

“Dengan melemahnya rupiah maka harusnya Sri Mulyani sebagai Menteri Keuangan paling terbaik se-dunia mengantisipasi hal ini. Bukan malah menyatakan bahwa pondasi ekonomi Indonesia makin kuat,” ujar Uchok Saptu, 19 Mei 2018.

Uchok menegaskan, melemahnya rupiah harga-harga kebutuhan pokok akan terkerek naik. Apalagi saat ini kebutuhan pokok melonjak mengingat memasuki bulan puasa. Akibatnya harga kebutuhan pokok bisa semakin tinggi sehingga akan mencekik pendapatan rakyat. Sedangkan jangka panjang dengan anjloknya nilai rupiah akan membuat banyak bank yang akan colaps.

“Pelemahan rupiah ini tanggung jawab BI dan Sri Mulyani juga harus ikut bertanggung jawab,” paparnya.

Uchok menyarankan, jika nilai rupiah terus melemah maka lebih baik Sri Mulyani mengundurkan diri saja karena tidak cocok untuk menjadi Menteri Keuangan Indonesia.

Sri Mulyani yang terkesan diam saja atas merosotnya nilai rupiah maka cocoknya bekerja di bank dunia atau di IMF. Apalagi Sri Mulyani juga tidak punya solusi untuk membuat nilai tukar rupiah kembali stabil. Sehingga bisa membuat harga – harga kebutuhan pokok tidak naik.

“Kalau dia (Sri Mulyani) punya solusi maka bukan hanya menyakinkan publik saja, tapi juga harus punya resep atau obat untuk menyembuhkan penyangkit pelemahan rupiah,” jelasnya.

Uchok menilai, selama Menteri Keuangan dijabat Sri Mulyani maka akan membuat nilai tukar rupiah semakin terpuruk. Sehingga akan membuat perekonomian Indonesia semakin kacau. Apalagi saat ini Sri Mulyani hanya menjadi kebanggan pihak asing.

Seperti diketahui usai kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (7 Days Reverse Repo Rate/7DRRR) menjadi 4,5 persen kemarin, nilai tukar atau kurs rupiah justru kian terjerembab hingga menyentuh Rp14.124 per dolar AS pada 09.39 WIB. Padahal, pada pembukaan perdagangan pagi hari ini, rupiah masih berhasil menguat tipis sebanyak 0,04 persen atau 5 poin dari Rp14.058 per dolar AS pada penutupan kemarin.

Analis Binaartha Sekuritas Reza Priyambada melihat bahwa pergerakan rupiah hari ini masih akan berada di kisaran Rp14 ribu per dolar AS, meski ada sentimen positif dari kenaikan suku bunga acuan BI sebanyak 25 basis poin menjadi 4,5 persen.

Menurutnya, hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI hanya akan mengangkat rupiah secara sesaat karena terpenuhinya ekspektasi pasar. Namun, dengan sentimen lain yang datang dari meningkatnya utang pemerintah mencapai Rp4.180 triliun per April 2018, maka pergerakan rupiah diproyeksi hanya menguat tipis pada akhir perdagangan hari ini. (***)

sumber: harianterbit.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Penguatan mata uang dolar Amerika Serikat (AS) semakin menjadi-jadi. Bahkan, kemarin dolar AS sudah tembus Rp 14.000.

Kondisi ini cukup menghebohkan. Berita tentang tembusnya dolar AS hingga Rp 14.000 menarik banyak perhatian masyarakat.

Bagaimana tidak, mata uang garuda, rupiah, terbilang cukup lama terombang-ambing yang disebabkan amukan dolar AS. Apa yang menjadi kekhawatiran pun terjadi, dolar AS tembus Rp 14.000, meskipun masih jauh dari batas stress test Rp 20.000 seperti yang dibocorkan OJK.

Meski begitu, pemerintah masih menanggapi santai pelemahan lanjutan Rupiah. Kondisi sebaliknya juga terjadi di pasar modal, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru menguat setelah sebelumnya dalam tren pelemahan cukup panjang. (***)

MEDIAKEPRI.CO.ID – Presiden Joko Widodo menegaskan Jokowi menilai melemahnya nilai tukar rupiah sampai nyaris mendekati Rp 14.000 per dollar Amerika Serikat belum mengkhawatirkan.

Meski kurs tengah bergejolak, indikator makroekonomi Indonesia dinilai masih baik.

Sebagai contoh, ia masih melihat inflasi, pertumbuhan ekonomi, dan nilai ekspor yang berada pada level wajar.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, neraca perdagangan dan inflasi tahun kalender sepanjang kuartal I 2018 masing-masing tercatat surplus 280 juta dollar AS dan 0,99 persen.

Sementara itu, Indonesia mencatat pertumbuhan ekonomi 5,07 persen tahun lalu.

“Saya yakin fundamental ekonomi kita ini baik,” kata Jokowi, Senin, 30 April 2018.

Dia menyebut, pemerintah tidak akan mengintervensi kebijakan moneter untuk mengatasi terus melemahnya Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat.

Terkait hal ini, pemerintah menyerahkan sepenuhnya kepada Bank Indonesia (BI).

“Pemerintah tidak akan intervensi urusan moneter karena ini kebijakannya ada di BI,” kata Jokowi di Hotel Grand Sahid, Jakarta, Senin, 30 April 2018.

Mantan Gubernur DKI Jakarta ini pun meminta masyarakat tidak perlu khawatir atas pelemahan rupiah yang terus terjadi.

Sebab, fenomena ini tidak hanya menimpa Indonesia, akan tetapi juga negara lain di dunia.

“Ini fenomena pasar global yang semua negara juga mengalami. Semua negara juga sedang bergejolak, kursnya kena dampak dari kebijakan-kebijakan, terutama di kenaikan suku bunga di Amerika Serikat,” kata dia.(***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Nilai dolar Amerika Serikat (AS) hampir menembus angka Rp 14.000. Angka ini tanpa disadari sudah mulai memberikan dampak terhadap beberapa jenis usaha di Indonesia.

Beberapa sektor usaha sudah menyadari dampak depresiasi rupiah belakangan ini. Dampak yang dirasakan sektor usaha tersebut karena produk yang dijualnya atau bahan dasarnya berasal dari impor.

Sebab, jika nilai dolar tinggi maka rupiah yang dikeluarkan semakin banyak atau mahal, meskipun harga dalam satuan dolarnya tetap sama.

Pelaku usaha yang terkena dampaknya pun memilih untuk menahan laju produksi alias efisiensi, hingga tidak ingin membeli stok dalam jumlah banyak terlebih dahulu.

sumber: detik.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Nilai tukar dolar AS terhadap rupiah masih perkasa sejak awal Maret ini. Dari data Reuters pagi ini Dolar AS masih berada di kisaran Rp 13.757.

Lalu siapa yang diuntungkan dari penguatan mata uang negara Paman Sam ini?

Kepala Riset Samuel Aset Manajemen (SAM) Lana Soelistianingsih menjelaskan sektor yang diuntungkan dari menguatnya dolar AS ini adalah industri yang berbasis komoditas.

“Ada yang diuntungkan seperti crude palm oil (CPO) dan ekspor berbasis komoditas seperti batu bara. Ini turut membantu penerimaaan,” kata Lana saat dihubungi detikFinance, Selasa 20 Maret 2018.

Dia menjelaskan, keuntungan akan dialami oleh industri ekspor tersebut meskipun harga jual tidak mengalami kenaikan. Keuntungan terjadi akibat selisih kurs.

Selain itu, penguatan dolar AS ini diharapkan bisa membantu mendorong perekonomian daerah yang menghasilkan komoditas ekspor.

“Daerah-daerah penghasil komoditas ekspor akan terbantu, tapi untuk daerah yang sumbernya manufaktur tidak akan terbantu karena bahan bakunya memang masih impor juga,” ujar Lana.

Ekspor Indonesia sepanjang Februari 2018 tercatat US$ 14,10 miliar atau turun 3,14% dibanding Januari 2017. Namun jika dibandingkan Februari 2017 ekspor naik 11,7%. (***)

sumber: detik

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Anggota Komisi XI DPR RI Ecky Awal Mucharam, mengatakan, sosok Gubernur Bank Indonesia baru, haruslah mampu menjaga stabilitas bahkan menguatkan nilai tukar rupiah.

Di Jakarta, Minggu 18 Maret 2018, Ecky mengaku sangat menyoroti kinerja BI dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

“Kalau rupiah masih melemah terus artinya kinerja BI tidak memenuhi harapan Undang-undang,” ucap politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu.

Menurut Ecky, bila mata uang rupiah nilainya terus terdepriasi akan menimbulkan sejumlah kerugian seperti cicilan utang luar negeri semakin mahal.

Ia mengingatkan potensi inflasi dari sisi impor pun semakin tinggi jika nilai tukar terdepresiasi. Selanjutnya, impor BBM akan mahal dan menyebabkan defisit neraca transaksi berjalan yang semakin lebar.

Secara keseluruhan, Ecky menegaskan depresiasi rupiah pun akan menyebabkan harga barangbarang impor pun semakin mahal. Padahal sebagian besar bahan baku industri masih dari impor.

Sekedar mengingatkan, Presiden Joko Widodo telah mengajukan Perry Warjiyo sebagai calon tunggal Gubernur BI pada 23 Februari lalu. Perry bakal menggantikan Agus Martowardojo yang pensiun Mei ini.

Sementara Perry yang kelahiran Sukoharjo, Jawa Tengah, pada 25 Februari 1959 ini, masih menjabat Deputi Gubernur BI sampai April 2018.

Pria tegap ini, merupakan alumni Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada (UGM), serta peraih gelar Master dan PhD bidang Moneter dan Keuangan Internasional dari Iowa State University, Amerika Serikat pada 1989 dan 1991.

Di kalangan BI, Perry bukanlah orang baru. Kariernya di bank sentral Merah Putih ini sudah 34 tahun. Pernah menjabat Asisten Gubernur BI, Direktur Eksekutif Departemen Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter BI hingga Direktur Eksekutif di International Monetary Fund (IMF).

Kalau tak ada aral melintang, Komisi XI DPR akan melakukan uji kelayakan dan kepatutan (fit and propert test) pada akhir April ini. Jadi masih sebulan lagi, sabar ya pak. (***)

sumber: inilah.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Terpuruknya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, menurut Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso pertanda menggeliatnya perekonomian. Diharapkan pergerakannya membaik.

Hal itu dikatakan Wimboh di Hotel Dharmawangsa, Jakarta, Senin 5 maret 2018. “Bukan hanya menggeliat sudah jalan cepat (ekonomi),” kata Wimboh.

Wimboh bilang, laju pertumbuhan ekonomi nasional di atas 5%, merupakan modal baik bagi perekonomian Indonesia dalam mengarungi dinamika global sepanjang 2018. “Pada 2017, perekonomian nasional bergerak 5,07%, inflasi 3,18%,” katanya.

Tak hanya itu, industri perbankan kata Wimboh juga cukup menggeliat, dimana laporan hampir seluruh perbankan sepanjang 2017 juga menunjukan perbaikan yang positif. “Juga di perbankan, ini kita punya modal cukup baik 23,6%, non performing loan (NPL) sudah semakin rendah di bawah 3%, uang perbankan cukup besar,” kata Wimboh.

Asal tahu saja dalam beberapa hari belakangan ini, nilai tukar mata uang garuda terhadap mata uang negeri Paman Sam mengalami kontraksi yang cukup hebat, bahkan nilau tukar rupiah sempat menyentuh level Rp13.800/dolar AS.

Melansir Bloomberg, mata uang garuda pada perdagangan hari ini berada di level Rp13.747 per dolar AS. Pada penutupan perdagangan pekan lalu, rupiah berada di posisi Rp13.757 per dolar AS. (***)

sumber: inilah.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Dolar Amerika Serikat (AS) beberapa hari terakhir mengalami penguatan terhadap sejumlah mata uang di negara lain. Hal ini disebabkan oleh data-data Amerika Serikat yang membaik dan spekulasi kenaikan suku bunga bank sentral AS The Federal Reserve.

Dari pantauan detikFinance di tempat penukaran uang PT Ayu Masagung Jakarta, sejumlah mata uang mengalami kenaikan.

Seperti Euro dijual seharga Rp 16.900 kemudian harga beli Rp 16.850. Kemudian Poundsterling harga jual tercatat Rp 19.095 dan harga beli Rp 19.045.

Lalu dolar Singapura harga jualnya tercatat Rp 10.450 dengan harga beli Rp 10.400.

“Memang semuanya dominan naik, karena rupiahnya lagi melemah,” kata salah satu petugas, Windy saat ditemui di Money Changer Ayu Masagung, Jakarta, Sabtu 3 Maret 2018

Menurut Windy kenaikan terjadi sejak Rabu 28 Februari 2018 namun penukar masih tampak sama seperti hari biasa sebelum ada kenaikkan.

“Kenaikan mulai kelihatan pada Rabu, tapi masyarakat yang tukar antreannya biasa saja. Sama seperti hari-hari biasa sebelum ada kenaikkan harga,” imbuh dia.

Windy menjelaskan, orang-orang tetap membeli dolar AS meskipun harganya tinggi. Menurut dia hal ini akibat kebutuhan masyarakat.

“Karena pasti butuh, jadinya harga tinggi ya mereka tetap beli,” ujar dia. (***)

sumber: detik.com