MEDIS

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Obesitas meningkat lebih cepat di kawasan pedesaan dibandingkan perkotaan. Studi anyar ini melawan asumsi sebelumnya yang menyebutkan bahwa epidemi global obesitas merupakan masalah utama masyarakat perkotaan.

“Ini berarti bahwa kita perlu memikirkan kembali bagaimana kita mengatasi masalah kesehatan global ini,” ujar salah satu penulis studi, Majid Ezzati dari Imperial College London’s School of Public Health, melansir AFP.

Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Nature ini menggunakan data dari 200 negara dan wilayah. Data menunjukkan kenaikan rata-rata sekitar 5-6 kilogram terjadi pada wanita dan pria yang tinggal di kawasan pedesaan sejak tahun 1985 hingga 2017. Sementara wanita dan pria yang tinggal di perkotaan mengalami kenaikan 38 dan 24 persen lebih sedikit.

Mau Tau Diet Sehat tapi Menyenangkan dan Mudah Turunkan Berat Badan? Diet Ketogenik Saja

Pengecualian terjadi pada wilayah sub-Sahara Afrika, di mana pertambahan berat badan lebih banyak dialami wanita perkotaan.

“Pasokan makanan di zaman sekarang tersedia dalam ragam kombinasi. Makanan olahan menjadi bagian dari diet orang-orang kurang mampu,” ujar Ezzati.

Peneliti menggunakan ukuran standar indeks massa tubuh (BMI). Seseorang dengan BMI 25 atau lebih dianggap mengalami kelebihan berat badan. Sementara mereka dengan BMI 30 atau lebih masuk ke dalam kategori obesitas. Angka BMI ideal berkisar antara 18,5-24,9.

ASTAGFIRULLAH.. Awalnya Berat Badannya 110 kg Dalam Setahun Naik Jadi 310 kg, Pasien Obesitas ini Meninggal Dunia  

Peningkatan BMI terbesar dalam kurun waktu tersebut terjadi pada pria di China, Amerika Serikat, Bahrain, Peru, dan Republik Dominika. Rata-rata dari mereka mengalami kenaikan berat badan 8-9 kilogram per orang.

Obesitas telah menjadi masalah kesehatan global. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat, sekitar dua miliar orang dewasa di dunia mengalami kelebihan berat badan. Hampir sepertiga dari mereka menderita obesitas.

Pikirkan Lagi, Ini Resiko Turunkan Berat Badan Melalui Operasi

Obesitas juga menjadi pintu masuk beragam penyakit kronis lain seperti jantung, stroke, diabetes, dan sejumlah kanker. Padahal, obesitas dapat ditangani.

“Kolaborasi faktor risiko menantang kami untuk membuat program dan kebijakan yang fokus untuk mencegah kenaikan berat badan,” kata Ezzati. (***)

sumber: galamedianews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Tak semua pasien kanker boleh menjalani puasa Ramadan. Salah satunya mereka yang masih menjalani kemoterapi. Begitu menurut spesialis penyakit dalam dan konsultan hematologi onkologi medik dari RSCM-FKUI, dr. Wulyo Rajabto Sp.PD K-HOM.

“Kalau kanker diobati kemoterapi, efek sampingnya mual, muntah, dia pasti enggak bisa puasa,” ujarnya.

Selain mual dan muntah, pasien yang masih menjalani kemoterapi kemungkinan besar akan terganggu sumsum tulangnya sehingga kadar hemoglobin cenderung rendah. Akibatnya dia bisa lemas.

Anda PNS? Yuk Siap-siap Libur Panjang Lebaran

Tak hanya itu, pasien juga berisiko memiliki jumlah leukosit yang lebih rendah dari normal (normal 5.000-10.000) sehingga tubuhnya tak mampu melawan infeksi kuman yang masuk.

“Kan untuk melawan kuman dia enggak kuat. Akhirnya pasiennya demam, infeksi bahkan bisa masuk ICU. Bagaimana dia mau puasa? Efek sampingnya berat,” papar Wulyo, yang juga berpraktik di RS Mayapada di Jakarta Selatan itu.

Oleh karena itu, dia menegaskan puasa hanya untuk pasien yang sudah melewati pengobatan kemoterapi.

“Kalau pengobatannya sudah stabil, misalnya kanker payudara sudah dioperasi, dikemoterapi tinggal minum obat-obatan hormonal, dia minum hanya sekali sehari itu tidak mengganggu fungsi tubuh secara dominan,” katanya.

Pada tahap ini, pasien relatif tak akan merasakan efek samping pengobatan seperti mual dan muntah sehingga bisa berpuasa. (***)

sumber: cantika.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jeneponto – Puluhan warga di Desa Garonggong, Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan (Sulsel), jatuh sakit dan 3 orang lainnya meninggal diserang penyakit misterius. Pemerintah setempat termasuk tim medis bingung dengan munculnya penyakit yang belum teridentifikasi ini.

“Rata-rata pasiennya membaik hanya diagnosanya ini belum jelas,” kata Kabid P2 Dinas Kesehatan Jeneponto, Susanti Andi Mansyur saat dihubungi detikcom, Senin, 6 Mei 2019

Susanti menyebut munculnya kasus ini terjadi pertengahan Maret saat 25 orang warga berobat ke puskesmas. Setelah berobat, kondisi penyakit warga bertambah parah.

“Beberapa hari kemudian kita dari Dinkes melakukan pemeriksaan. Ditengarai malaria tapi hasil pemeriksaan negatif. Juga dari mikroskopik itu juga negatif. DBD juga bukan, ini misterius sekali,” ujar Susanti.

Karena itu, tim Dinkes akan kembali turun ke lapangan untuk melakukan pemeriksaan lanjutan untuk memastikan penyakit yang diderita warga Jeneponto.

“Insyaallah besok kita akan turun kembali. Melakukan kroscek kembali, karena rata-rata pasiennya membaik, hanya diagnosanya ini belum jelas,” katanya.

Sekretaris Daerah (Sekda) Jeneponto, Syafruddin Nurdin saat dihubungi terpisah mengatakan dari pemeriksaan di Puskesmas sejumlah warga mengalami demam, sakit perut dan nyeri sendi. Pemkab kemudian mengerahkan tim medis.

Hasilnya, beberapa dugaan penyakit yang diasumsikan seperti Chikungunya dan Zika menunjukkan hasil negatif pada sampel.

“Chikungunya, Zika hasil lab juga negatif, begitu juga juga Leptospirosis hasil lab juga negatif. Jadi disarankan untuk melakukan pemeriksaan PCR,” kata Nurdin.(***)

sumber: detik.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Menurunkan berat badan bisa dilakukan dengan berbagai cara termasuk melalui operasi. Cara ini dianggap lebih cepat walau lebih mahal dan terdapat sejumlah masalah lain yang mungkin muncul.

Sebuah penelitian terbaru mengungkap bahwa seorang wanita yang pernah mengalami operasi penurunan berat badan dapat mengalami masalah ketika dia hamil kelak. Dilansir dari Medical Daily, diketahui bahwa wanita tersebut bakal mengalami komplikasi serta bayi yang dilahirkan cenderung prematur serta mengalami kelainan pada janin.

Hasil temuan ini muncul berdasar analisis kesehatan dari ibu dan bayi mereka. Data dari 14.800 ibu yang sebelumnya mengalami operasi penurunan berat badan dibandingkan dengan data 4 juta ibu yang tidak melakukan prosedur serupa.

Suami Bunuh Istri, Lalu Lukai Anak dan Mertuanya, Ini Kata Tetangga

“Temuan kami mengindikasikan bahwa wanita dengan riwayat bedah bariatrik serta pada bedah gastric bypass memiliki risiko lebih besar mengalami masalah sebelum kelahiran,” ungkap Zainab Akhter dari Newcastel University.

“Para wanita ini membutuhkan prekonsepsi spesifik serta dukungan nutrisi kehamilan,”sambungnya.

Tim peneliti tersebut mengungkap bahwa para ibu yang memiliki risiko tersebut harus mencapat dukungan tambahan selama kehamilan. Ibu yang mengandung berisiko mengalami diabtes dan hipertensi. Pada bayi, terdapat 57 persen risiko kelahiran prematur, 41 persen abayi tersebut mendapat perawatan usai dilahirkan, serta 29 persen mengalami kelainan. Risiko kematian bayi tersebut juga meingkat sebanyak 38 persen.

Jelang Ramadhan, Harga Bawang Putih Tembus Rp 80.000/Kilogram

“Masih belum jelas bagaimana operasi penurunan berat badan dapat mempengaruhi perkembangan janin, namun kami mengetahui bahwa orang yang pernah mengalami bedah bariatrik cenderung kekurangan mikronutrisi,” jelas Zainab.

“Penelitian lebih lanjut masih butuh dilakukan untuk lebih memahami penyebab dari perbedaan ini,” tandasnya. (***)

sumber: merdeka.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Diabetes merupakan salah satu penyakit terbesar yang dialami masyarakat di Indonesia. Penyakit ini pun bisa berdampak pada kematian. Maka penting sekali mengetahui apakah Anda sudah terkena diabetes atau tidak. Dengan begitu, penanganan penyakit ini dengan mengontrol asupan makanan dan mengganti pola hidup pun dapat dengan cepat dilakukan.

Dokter spesialis penyakit dalam, Bhanu meminta Anda tidak langsung panik bila hasil tes menggunakan mesin ternyata kadar gula Anda mencapai 200 mg/dL. Bhanu mengatakan kondisi seseorang terkena diabetes tidak dapat diukur hanya melalui mesin.

“Biasanya kalau gula darah menginjak 200, pasien saya langsung bilang kalau mereka menderita diabetes. Padahal mesin itu tidak akurat. Yang akurat hanya dengan cek laboratorium menggunakan darah dari vena,” katanya dalam acara Coffee Time with Tropicana Slim pada 24 April 2019.

Meski demikian, deteksi dini secara pasti dapat dilakukan dengan menggunakan metode 3P yang terdiri dari poliuria, polidipsia dan polifagia. Dari segi poliuria, dokter Bhanu menjelaskan bahwa ini berhubungan dengan rasa haus yang meningkat. Sedangkan untuk polidipsia dan polifagia, akan dikaitkan dengan peningkatan buang air kecil dan rasa lapar.

Dokter Bhanu menjelaskan bahwa saat kadar glukosa darah naik di atas 160 hingga 180 mg/dL, glukosa akan bocor hingga ke urine karena ginjal tidak sanggup menyaringnya lagi. “Jadi, hal ini membuat penderita diabetes sering buang air kecil dalam jumlah besar atau poliuria,” katanya.

Akibat lain pun berkelanjutan. Ia menyebutkan bahwa terlalu banyak buang air kecil akan menciptakan rasa haus yang abnormal atau polidipsia. Kemudian, karena kalori yang berlebihan hilang dalam urine, berat badan pun akan menurun.

“Lapar berlebih atau polifagia pun kemudian dirasakan akibat kebutuhan asupan gizi yang kurang,” katanya. “Karena ketiganya ini berkesinambungan, jadi apabila Anda merasakan 3P, ada kemungkinan Anda menderita diabetes melitus. Tapi, untuk memastikannya, segera ke dokter dan lakukan tes laboratorium,” katanya. (***)

sumber: tempo.co

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Tubuh dengan berat berlebih memang tak nyaman dan lebih berisiko mengalami obesitas. Namun ternyata ada kondisi berat badan berlebih yang tidak meningkatkan risiko mengalami diabetes, tekanan darah tinggi, gangguan jantung dan pembuluh darah.

Menurut dokter ahli endokrinologi dr Dyah Purnamasari S, SpPD-KEMD dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia-Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (FKUI-RSCM), risiko lebih besar pada yang gendut dengan tumpukan lemak di pinggang. Tumpukan lemak visceral ini paling jahat dan mengakibatkan masalah serius misal perlemakan hati.

Ini Perintah Jokowi ke Kapolri Terkait Kasus Perundungan yang Menimpa Audrey

“Yang paling bahaya adalah lemak visceral yang mengakibatkan lingkar pinggang membesar.

Untuk lemak subkutan yang berada di bawah kulit cenderung lebih mudah dikendalikan,” kata dr Dyah dalam seminar tentang obesitas dan diabetes Info Sehat FKUI untuk Anda, Rabu, 10 April 2019.

Lemak subkutan banyak terdapat di bagian belakang lengan, paha, dan bokong yang mempengaruhi produksi estrogen pada laki-laki dan perempuan. Jenis lainnya adalah adalah lemak subkutan putih yang berfungsi menyimpan kalori dan memproduksi adipnektin, yautu hormon yang membantu kerja hati dan otot mengatur insulin.

Kendati tak semua tumpukan lemak berisiko menurunkan kesehatan, namun lebih baik jika berat badan tidak berlebih. Berat badan sesuai Indeks Massa Tubuh bisa diperoleh dengan penerapan pola hidup sehat yaitu tidak merokok, rajin olahraga, cukup makan buah dan sayur dengan nutrisi seimbang. (***)

sumber: detik.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Nurhidayati Khusnul, penderita obesitas berbobot 200 kg asal Lamongan diberitakan telah meninggal dunia dua pekan lalu. Sebelumnya pasien obesitas asal Karawang juga telah meninggal dunia.

Penderita obesitas ekstrem lainnya yang menghebohkan pemberitaan, hingga kini masih berjuang untuk menurukan berat badan agar mampu memperbaiki kualitas hidupnya. Bagaimana tidak, dengan bobot yang sangat berat, mereka tidak dapat melakukan aktivitas apapun. Bahkan berdiri pun tak sanggup karena kaki tak mampu menyangga berat tubuhnya.

Kajian Global Burden of Diseases yang dipublikasikan dalam jurnal Lancet menempatkan Indonesia di posisi 10 pada daftar negara dengan tingkat obesitas tertinggi di dunia. Para ilmuwan mengatakan masalah obesitas dipicu oleh perubahan dalam sistem pangan global yang memproduksi lebih banyak bahan makanan olahan dan lebih terjangkau harganya.

Caleg Perempuan Hadapi Tantangan Lebih Berat di Pemilu 2019, Ini Himbauan Ketua Konstitusi dan Demokrasi Veri Junaidi

Dan oleh ekonomi pasar memicu konsumerisme atau konsumsi berlebihan. Kenaikan konsumsi makanan juga seringkali disertai dengan meningkatnya gaya hidup lebih banyak duduk dan kurang berolahraga.

Memerangi obesitas diawali dengan pembenahan mindset untuk butuh pola hidup sehat. Karena selain nikmat iman, hal lain yang harus disyukuri adalah nikmat sehat.

Fakta-fakta Perempuan Tewas Kecelakaan dengan Kepala Putus dan Hancur, Ini Kata Polisi

Dengan tubuh yang sehat maka ibadah dan aktivitas lainnya akan optimal. Salah satu yang mempengaruhi pola hidup sehat adalah pola makan. Harus dipahami bahwa makan adalah kebutuhan, bukan keinginan. Butuh makan itu secukupnya. Sepertiga untuk makan, sepertiga untuk air, sepertiga untuk udara. Yang tidak ada habisnya itu keinginan. Bahkan bisa jadi korban iklan atau nafsu ingin makan semua yang lalu lalang.

Perkara makan juga bukan sekedar halal, tapi harus baik (tidak membahayakan tubuh). Trend peningkatan konsumsi makanan cepat saji/berpengawet dikarenakan dirasa lebih praktis dan murah.

Benar saja, disaat harga komoditas bumbu dasar seperti bawang putih misalnya, yang sedang meroket, bagaimana menjaga citarasa makanan agar tetap lezat tanpa pengeluaran lebih banyak dan tetap memikat, pakai saja penyedap lebih banyak.

Tak Disangka Pasutri Ini Habiskan Biaya Puluhan Juta Setelah Anjingnya Telan Sekantung Heroin, Kok Bisa?

Pola hidup sehat juga dipengaruhi oleh aktivitas fisik. Kecanduan game, malas beraktivitas, disinyalir kuat menjadikan lemak-lemak mudah menumpuk. Miris ketika negara malah menjadikan nge-game sebagai e-sport yang dilombakan.

Memerangi obesitas hingga tuntas kiranya butuh peran individu rakyat hingga negara untuk mewujudkan sebuah sistem yang menjamin kesehatan mulai dari ranah preventif dengan optimal. Agar kesehatan tak dijadikan komoditas karena ada bisnis menggiurkan di ranah kuratif.

Berkacalah dari kebijakan Khalifah Umar bin Khattab yang dalam sebuah riwayat dikisahkan beliau memberikan bantuan kepada para ibu hamil untuk memenuhi kebutuhan gizi mereka hingga melahirkan dan menyapih anaknya. Mengapa? Karena masyarakat yang sehat jiwa dan akalnya adalah aset untuk membangun peradaban terbaik.

Pemimpin yang memandang bahwa politik adalah aktivitas melayani semua urusan masyarakat, bukan untuk berebut kekuasaan, tentu akan mewujudkan sistem yang mendukung terwujudnya masyarakat sehat lahir dan batin. (***)

sumber: republika.co.id

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Gangguan pembekuan darah atau hemofilia menyebabkan penderitanya mengalami pendarahan yang sulit dihentikan saat terluka. Karenanya, penderita harus berhati-hati agar tidak mudah terluka atau terbentur.

Kelainan genetika ini tergolong langka. Tapi sebenarnya bisa dideteksi sejak dini, seperti pendarahan yang tak berhenti saat pemotongan tali pusar, mudah lebam saat mulai belajar merangkak, atau pendarahan di bagian bokong saat anak mulai belajar duduk.

Meski mudah dideteksi, tak banyak orang yang langsung menyadarinya. Di Indonesia, kelainan ini baru diketahui pada 1965. Sementara pendataan pasien hemofilia kali pertama dilakukan di Tanah Air pada 1998.

Misteri Sosok Menteri, Benarkah Vanessa Angel Lebih Memilih Ini Daripada “Mimican” Dalam Melayani Kliennya?

Sejak itu, penelitian dan penanganan hemofilia dikembangkan. Kesadaran tentang hemofilia pun terus ditingkatkan. Salah satunya dengan peringatan Hari Hemofilia Sedunia yang diperingati setiap 17 April.

Tapi, kini pendataan pasien akan semakin mudah. Menyambut Hari Hemofilia Sedunia, Himpunan Masyarakat Hemofilia Indonesia (HMHI) merilis aplikasi Android Hemofilia Indonesia yang bertujuan memudahkan pencatatan pasien hemofilia atau gangguan penggumpalan darah lain dalam sistem registrasi nasional.

Aplikasi ini dilengkapi fitur data diri pasien, data keluarga, data medis, catatan perdarahan, forum, dan pengumuman. Hanya dengan mengisi aplikasi dan mengirim data, pasien otomatis terdaftar dalam sistem registrasi nasional.

Ketua HMHI, Prof dr. Djajadiman Gatot, Sp.A, menjelaskan, hingga saat ini, penderita hemofilia hanya tercatat sebanyak 2.092 orang. Padahal menurut statistik, setidaknya ada 20 hingga 25 ribu penderita hemofilia di Indonesia. “Artinya hanya 10 persen yang terdeteksi. Saya membayangkan ini seperti fenomena gunung es, yang tampak lebih sedikit dari fakta sebenarnya,” kata dia saat peluncuran aplikasi Hemofilia Indonesia di Hotel Borobudur Jakarta, pekan ini.

Wakil Ketua HMHI, Dr. dr. Novie Amelia Chozie, Sp.A, menduga rendahnya tingkat identifikasi pasien hemofilia dipicu banyak faktor. Salah satunya, mitos yang beredar di masyarakat yang membuat penderita menyembunyikan kondisi mereka. Mitos itu antara lain kelainan ini merupakan kutukan atau santet.

Padahal, penanganan hemofilia bisa dilakukan dengan pemberian faktor penggumpal darah, yakni faktor VIII untuk hemofilia A dan faktor IX untuk hemofilia B. Pesatnya perkembangan dunia medis memungkinkan pemberian faktor secara langsung lewat penyuntikan pembuluh balik tanpa transfusi darah dalam jumlah banyak,” imbuhnya. (***)

sumber: tempo.co

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Menghirup teh manis panas di pagi hari memang merupakan salah satu hal yang menyenangkan. Namun penelitian terbaru menyebut bahwa kebiasaan meminum teh terutama dalam kondisi panas juga dapat membahayakan.

Sebuah penelitian terbaru mengungkap bahwa risiko tumbuhnya kanker kerongkongan diketahui lebih tinggi pada orang yang senang mengonsumsi teh panas. Seseorang yang suka minum teh panas dengan suhu di atas 60 derajat celcius memiliki peningkatan risiko kanker hingga 90 persen dibanding mereka yang lebih sedikit minum teh dan lebih suka minuman dalam kondisi lebih dingin.

Disebut Banyak Jin dan Genderuwo di Hotel Borobudur, Ini Kata Manajemen

Hasil temuan ini didapat dari data 50.000 orang dengan usia antara 40 hingga 75 tahun pada provinsi Golestan, Iran. Peneliti mengikuti dan memonitor kesehatan partisipan penelitian selama 10 tahun.

Antara tahun 2004 hingga 2017 diketahui bahwa lebih dari 300 orang memiliki kanker kerongkongan. Tim peneliti mengungkap bahwa hal ini dapat muncul karena dipengaruhi temperatur teh.

“Banyak orang yang menikmati minum teh, kopi, atau minuman panas lainnya. Namun, berdasar temuan kami, meminum teh yang sangat panas dapat meningkatkan risiko kanker kerongkongan, sehingga lebih baik menunggu suhunya menurun dulu sebelum diminum,” ungkap Farhad Islami, peneliti dari temuan tersebut.

Penelitian ini dipublikasikan di International Journal of Cancer dan mendukung penelitian yang dilakukan sebelumnya mengenai hubungan antara teh yang sangat panas dengan kanker kerongkongan. Namun penelitian ini secara lebih khusus menyebut temperatur suhu yang membahayakan.

Kanker kerongkongan sendiri disebut dapat muncul karena cedera berulang pada bagian kerongkongan yang disebabkan karena merokok, mengonsumsi alkohol, serta refluks asam. Hasil penelitian terbaru ini menunjukkan bahwa minuman panas juga bisa jadi penyebab munculnya kanker. (***)

sumber: galamedianews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Banyak anak-anak balita yang merengek saat makan karena memilih untuk minum susu.

DR. dr. Damayanti Rusli Sjarif, Dokter Konsultan Nutrisi dan Penyakit Metabolik Anak RSCM menyebutkan jika ditemui anak seperti itu harus segera dicari tahu penyebab kenapa tidak mau makan.

Damayanti pun mengingatkan kepada orangtua kalau susu menjadi makanan utama bagi anak hanya sampai si kecil berusia dua tahun.

Warga dan TNI Saling Memijit Menjadi Tradisi di Lokasi TMMD

Setelah berusia dua tahun, Damayanti menekankan kalau susu hanya merupakan makanan pendamping.

“Kalau lapar itu makan bukan susu. Susu mah bayi aja sampai umur dua tahun setelah itu susu hanya melengkapi makanan,” ungkap Damayanti saat ditemui di RSCM, Jakarta Pusat beberapa hari lalu.

Dokter spesialis anak itu juga mengingatkan orangtua agar tidak memberikan susu kental manis kepada anak.

“Emosi” Merugikan Siapapun, Ini Tips Mengendalikannya

Walapun harganya lebih murah dibandingkan susu bubuk, namun kandungannya tidak baik bagi tubuh karena 60 persen mengandung gula.

“Susu kental manis bukan untuk makanan bayi tapi makanan es teler, jadi bukan untuk makanan bayi karena gulanya tinggi sekali 60 persen,” papar Damayanti.

Kemudian munculnya produk-produk yang menyerupai susu seperti creamer juga dihimbau tidak diberikan pada anak.

“Sekarang ada jual creamer yang buat campuran teh kopi itu, waj lebih gawat lagi ibunya gak tahu kalau itu beda sama susu,” pungkas Damayanti.(***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Spanyol – Seorang siswi asal Inggris meninggal dunia usai memakan es krim saat berlibur bersama keluarga di Costa del Sol, Spanyol. Bocah berusia 9 tahun tersebut dipercayai mengalami syok anafilaktik setelah terserang alergi parah sebagai reaksi dari es krim.

Bocah yang belum diketahui identitasnya tersebut langsung dibawa ke rumah sakit terdekat saat kondisinya kritis. Melihat kondisinya, dilaporkan ada kemungkinan bocah tersebut alergi susu dan kacang-kacangan sehingga menimbulkan reaksi alergi tersebut.

“Emosi” Merugikan Siapapun, Ini Tips Mengendalikannya

“Dia masuk ke rumah sakit di Sabtu malam karena syok anafilaktik. Dia sudah disadarkan lalu dipindahkan ke Materno Infantil Hospital di Malaga,” kata seorang petugas di rumah sakit tersebut, dikutip dari Metro.co.uk.

Karena kondisinya memburuk, ia dipindahkan ke rumah sakit di kota Malaga di hari yang sama sekitar tengah malam. Namun sayang, ia menghembuskan napas terakhirnya.

Syok anafilaktik merupakan suatu reaksi alergi yang dapat menyebabkan kehilangan kesadaran atau bahkan kematian, maka harus segera dibawa ke rumah sakit atau bagian gawat darurat. Kondisi ini terjadi apabila pasien alergi terhadap makanan, obat-obatan, ataupun serangga.

Autopsi telah dilakukan namun hasilnya belum ditampilkan ke publik. Tes-tes lebih jauh akan dilakukan oleh Institute of Toxicology di kota Seville untuk mengkonfirmasi apakah kematian bocah tersebut terkait dengan reaksi alergi pada makanan tersebut. (***)

sumber: detik.com

MEDIS

Rabu | 20 Februari 2019

Atasi Nyeri Leher dengan Tindakan Medis Ini

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Nyeri leher adalah salah satu dari jenis nyeri tulang punggung yang paling mengganggu dan bisa membatasi mobilitas pengidapnya. Banyak penyebab nyeri leher, salah satunya karena servikal Herniated Nucleus Pulposus (HNP) atau saraf terjepit di area leher (servikal).

Pendiri Lamina Pain and Spine Center Mahdian Nur Nasution menjelaskan HNP bisa terjadi di seluruh bagian tulang belakang, mulai dari lumbar (punggung bawah), thorakal hingga di servikal (tulang leher). Di tujuh ruas tulang leher inilah seringkali penanganan HNP jadi lebih menantang karena lebih rapatnya posisi antar-ruas tulang belakang.

Senang Bisa Akrab dengan TNI di Lokasi TMMD

HNP adalah kondisi dimana isi diskus atau bantalan antar-ruas tulang belakang bocor sehingga menekan saraf. Diskus di tulang belakang terdiri dari dua bagian, yaitu annulus fibrosus yang merupakan bagian luar yang keras dan nucleus pulposus bagian dalam bantalan sendi seperti jeli dikenal juga sebagai mucoprotein gel dengan komposisi utama berupa air, kolagen, dan proteoglikan.

Diskus berperan sebagai penyerap kejutan atau shock absorber. Bersama dengan dua sendi kecil di belakang leher, diskus akan membantu manusia menggerakan lehernya. Bagian dalam inilah yang oleh satu atau berbagai sebab lain mengalami kebocoran.

Demi Kelancaran Pekerjaan, Fisik Plat Beton TMMD Terus Dikebut

Mengatasi HNP

Diagnosis HNP servikal ditegakkan dengan pemeriksaan fisik, neurologis, radiologis seperti CT-scan dan Magnetic Resonance Imaging (MRI). Sebelum tindakan biasanya pasien akan diarahkan dulu untuk pengobatan dengan obat-obatan seperti nonsteroidal anti-inflammatory drugs (NSAID), steroid dan tirah baring (bed rest).

Karena sulitnya menjangkau dan menangani herniasi disk servikal ini, selama bertahun-tahun para ahli medis mencoba menemukan berbagai teknologi untuk penanganan kasus ini. Secara historis berbagai pembedahan untuk menangani tulang leher dianggap berisiko tinggi dan biasanya membuat pasien harus dirawat berhari-hari.

TNI dan Warga Bersatu Selalu Kerja, Kerja dan Kerja

Dalam dua dekade terakhir, teknologi penanganan HNP sevikal terus berkembang. Setelah teknik bedah terbuka tak lagi populer karena berbagai risikonya, muncul teknologi lain, yakni Anterior Cervical Discectomy and Fusion (ACDF) yang sampai saat ini masih dilakukan dokter di banyak belahan dunia termasuk Indonesia. Sayangnya teknik ini memiliki beberapa komplikasi yang dapat terjadi, seperti disfagia, hematoma, unilateral recurrent laryngeal nerve (RLN) palsy, kebocoran cairan serebrospinal (CSF), kebocoran esophagus, perburukan gejala radiculopathy, kegagalan pemasangan implant dan lain sebagainya.

ACDF dilakukan dengan membuat sayatan di tenggorokan untuk mencapai dan mengeluarkan diskus. Cangkok dimasukkan untuk menyatukan tulang-tulang di atas dan di bawah diskus.

“Teknik ini dapat menjadi pilihan jika terapi fisik atau obat-obatan gagal untuk meredakan nyeri pada lengan yang disebabkan oleh terjepitnya saraf tulang leher,” katanya di sela Edukasi Media yang diselenggarakan Lamina Pain and Spine Center di Jakarta, Selasa, 19 Februari 2019. (***)

sumber: republika.co.id

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Berapa usiamu? 20 tahun? 30 tahun? atau 40 tahun? Semakin bertambah usia pasti semakin besar tanggung jawab dan tekanan yang dirasakan di dalam hidup. Dengan begitu, semakin rentan juga kita untuk merasa stres dan depresi.

Hati-hati lho, depresi bisa mempercepat penuaan otak kita. Berdasarkan penelitian yang dilakukan para ilmuwan di Universitas Yale telah memindai otak orang-orang yang depresi pada usia 40-50 tahun. Pemindaian itu menunjukkan adanya kerapatan sinaptik atau jumlah koneksi di otak.

Serempetan Motor Itu Berakhir dengan Penusukan yang Menewaskan Pebalap Nasional M Zaky, Ini Kronologinya

Dikutip dari Daily Mail, sinaptik adalah koneksi antar neuron yang memungkinkan informasi untuk melintas di wilayah otak. Ada sekitar 100 miliar neuron di otak yang masing-masing terhubung hingga sebanyak 10.000 koneksi.

Penulis utama Dr Irina Esterlis mengatakan bahwa pemindaian dengan PET menunjukkan bahwa kerapatan sinaptik 2-3 persen lebih rendah pada orang depresi kronis. Dan ini membuat usia otak menjadi lebih tua 10 tahun dari usia sebenarnya.

Innalillahi Longsor Itu Menewaskan Satu Keluarga Berikut Rumahnya

Parahnya lagi, depresi juga bisa memicu kehilangan memori lebih awal, kabut otak, bicara yang melambat, dan bahkan lebih awal berisiko terkena penyakit yang berkaitan dengan usia seperti Alzheimer.

“Orang depresi bisa berpotensi buruk, dan kita bisa melihat individu itu memiliki kerapatan di hippocampus yang mungkin akan menderita Alzheimer,” ujar Esterlis. (***)

sumber: detik.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Salah satu bumbu wajib di dapur orang Indonesia adalah bawang putih.

Ternyata, bawang putih bukan sekadar rempah biasa.

Para ilmuwan mengatakan, bawang putih memiliki kandungan senyawa sulfur aktif di dalamnya yang ampuh melawan bakteri pada pasien dengan infeksi kronis.

Penelitian yang dilakukan Universitas Kopenhagen ini mengungkapkan senyawa bawang putih mampu menghancurkan kompenen penting dalam bakteri.

Tips Mengenali Jenis Lemak Tubuh Anda, Nomor 1 yang Sering Terjadi

Dengan demikian, sangat mungkin menggunakan bawang putih sebagai obat bagi pasien dengan kondisi buruk, misalnya seperti yang terjadi pada penderita fibrosis kistik.

Fibrosis kistik adalah penyakit genetika yang menyebabkan lendir-lendir di dalam tubuh menjadi kental dan lengket sehingga menyumbat berbagai saluran.

Hal itu terutama saluran pernapasan dan pencernaan.

Ani Yudhoyono Sakit Kanker Darah, Presiden Jokowi Perintahkan Tim Dokter Lakukan Ini

“Kami percaya metode itu dalam penanganan pasien. Dan sekarang kami tengah mengembangkan obat dari bawang putih dan mengujinya pada pasien,” kata Tim Holm Jakobsen, peneliti yang terlibat dalam studi ini.

Penelitian ini merupakan penelitian lanjutan yang sudah dimulai sejak tahun 2005 yang dipimpin Profesor Michael Givskov.

Saat itu Givskov sudah fokus meneliti efek bawang putih terhadap bakteri.

Tim peneliti 2005 mengetahui bahwa ekstrak bawang putih mampu menghambat bakteri.

Lantas pada 2012, mereka menunjukkan jika senyawa sulfur bernama ajoene yang ditemukan pada bawang putih merupakan senyawa yang memiliki peran dalam menghambat bakteri.

Sementara studi terbaru yang sudah diterbitkan dalam jurnal ilmiah Scientific Reports mencoba melihat lebih dekat serta mendokumentasikan kemampuan ajoene untuk menghambat molekul RNA pada dua jenis bakteri.

“Dua jenis bakteri yang kita pelajari sangat penting. Mereka disebut Staphylococcus aureus dan Pseudomonas aeruginosa. Ini adalah dua kelompok bakteri yang berbeda dan biasanya ditangani dengan metode yang berbeda pula. Namun, senyawa bawang putih ternyata mampu melawan keduanya sekaligus dan ini merupakan bukti bawang putih bisa digunakan sebagai obat yang efektif jika digunakan bersamaan dengan antibiotik,” ujar Jakobsen.

Penelitian sebelumnya sudah menunjukkan bahwa bawang putih memiliki resistensi alami yang paling kuat terhadap bakteri.

Selain menghambat molekul RNA bakteri, senyawa bawang putih aktif juga dapat merusak pelindung berlendir yang menyelubungi bakteri, yang disebut biofilm.

Jika biofilm dihancurkan atau dilemahkan, antibiotik dan sistem kekebalan tubuh otomatis dapat menyerang bakteri secara langsung untuk menghilangkan infeksi.

Kini perusahaan Neem Biotech telah membeli lisensi penggunaan ajoene sebagai penangkal infeksi bakteri.

Produknya bernama NX-AS-401 yang bertujuan mengobati pasien fibrosis kistik.

Obat ini juga akan segera di uji klinis pada pasien.

Jika nanti uji klinins menunjukkan hasil positif, berarti obat tersebut dapat dipasarkan sebagai obat antimikroba pertama dengan mode penanganan baru yang dikembangkan oleh tim peneliti Givskov. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Kusta merupakan penyakit yang dapat menyerang kulit, saraf, anggota tubuh lain, dan mata. Namun jika penyakit ini dapat dideteksi secara dini, maka pasien bisa sembuh total dalam waktu tiga bulan tanpa mengalami kelumpuhan dan kerusakan saraf.

Dalam pemaparan soal kusta, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kementerian Kesehatan RI, Wiendra Waworuntu memperlihatkan foto anak yang sudah sembuh dari kusta.

“Ini contohnya ada anak yang menderita kusta. Lihat kan foto dia sebelum dan sesudah. Dia akhirnya sembuh total setelah minum obat selama tiga bulan. Kuncinya, gejala kustanya terdeteksi dini,” jelas Wiendra dalam konferensi pers ‘Stop Diskriminasi: Ayo Sukseskan Eliminasi Kusta’ di Kementerian Kesehatan, Jakarta.

Istri Bakar Sisa Uang dan Ibu Pingsan Melihat Anaknya Dikawal Polisi, Ini Kronologi Pengungkapan Uang palsu

Gejala kusta berupa bercak putih dan merah pada kulit. Gejala yang khas adalah pada bagian kulit yang ada bercak itu mati rasa. Terkadang bercak berbentuk berupa benjolan-benjolan pada lengan dan wajah.

Pada foto anak yang sudah sembuh dari kusta, seperti yang dijelaskan Wiendra, wajah anak itu penuh dengan benjolan dengan bercak merah dan putih. Kemudian benjolan itu hilang sepenuhnya setelah ia minum obat secara rutin.

Siswa Kurang Ajar, Mau Jadi Apa Kamu?, Polisi Pun Turun Tangan

Bila mendapati gejala kusta, segera ke puskesmas. Pengobatan dilakukan multi-drugs therapy (MDT), yakni lebih dari satu jenis obat yang diberikan gratis di puskesmas.

Gedebug! Tak Disangka Itu Suara Orang Terjatuh dari Lantai 6

Lama waktu pengobatan kusta tergantung dari jenis kusta. Kusta tipe kering bisa diobati menggunakan obat selama 6 bulan, sedangkan kusta tipe basah diobati selama 12 bulan. Kusta kering berupa kulit kering bersisik, sedangkan kusta basah berupa kulit yang basah sehingga tampak mengkilap. (***)

sumber: merdeka.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Terdapat sebuah cara untuk mengetahui apakah bayi mengalami demam berdarah dengue (DBD) atau tidak. Mengenali hal ini sebenarnya bisa cukup pelik terutama karena bayi belum bisa berbicara dan mengeluh sakit.

Gejala DBD selain demam yang tidak turun dan buah hati terlihat dehidrasi, orang tua juga perlu tahu gejala lain yang bisa dialami bayi. Gejala yang muncul pada tubuh bayi bisa jadi alarm buat orangtua kemungkinan bayi kena DBD.

Duh Artis Ini Lepas Hijab Tepat Dihari Ulang Tahunnya

“Bayi itu (gejala khas DBD) paling muntah dan tidur terus. Kemudian ada bintik-bintik merah yang muncul pada tangan dan kakinya,” kata dokter spesialis anak konsultan Mulya Rahma Karyanti saat ditemui di Kementerian Kesehatan RI, Jakarta.

Muncul bintik-bintik merah atau ruam merah pada kulit. Bintik merah ini diikuti dengan gejala lain, seperti kejadian syok (fase kritis) yang dipercepat oleh kondisi kekurangan cairan.

Lehernya Ditebas Pakai Parang, Aswani Tewas Mengenaskan Gara-gara Hutang

Pada tahap gejala DBD ini dapat terjadi karena trombosit turun, yang mengakibatkan kelainan pada pembuluh darah (pendarahan).

Pada anak dewasa (di atas 5 tahun), gejala khas DBD bisa diketahui dari apa yang dikeluhkan. Keluhan demam, yang juga diiringi dengan sakit perut bisa terjadi.

“Biasanya anak dewasa, (gejala khas DBD) itu sakit perut. Nyeri pada tubuh dirasakan juga,” Karyanti menambahkan.

Selain itu, bintik-bintik merah pada kulit anak dewasa perlu dicari. Bahkan bila ada satu-dua bintik merah pada kulit, anak harus diperiksa lebih lanjut.

“Dicek tekanan darah dan tes darah, apakah benar DBD atau tidak,” ujar Karyanti. (***)

sumber: merdeka.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Kanker payudara masih menjadi hantu menakutkan bagi perempuan. Banyak perempuan yang tidak menyadarinya karena kerap tidak menimbulkan gejala khusus.

Karena itu, perlu upaya deteksi dini penyakit kanker. Tujuannya, memudahkan penyembuhan sekaligus meringankan biaya pengobatan.

Berdasar penelitian jurnal kedokteran, kanker payudara kebanyakan menyerang perempuan usia di atas 25 tahun.

Vonis Mati untuk Letto Cs yang Dinilai Mafia dan Merusak Generasi Bangsa Mendapat Apresiasi dari Polda Sumsel

Namun, penyakit tersebut tidak tertutup kemungkinan menyerang perempuan di bawah usia tersebut.

”Kasus termuda yang pernah kami tangani di tempat kami, usia 13 tahun sudah terdiagnosis mengalaminya,” ujar dr. Dwi Rahayuningtyas dalam acara sosialisasi deteksi dini kanker payudara yang diadakan Rotary Club Surabaya Timur di SMAN 2.

Dari Rayuan Maut, Pelaku Dapatkan Foto Bugil Korbannya untuk Dijadikan Alat Pemerasan

Karena itu, sasaran sosialisasi yang biasanya ditujukan untuk para ibu muda kini diarahkan pada pelajar. Dokter di Rumah Sakit Onkologi Surabaya tersebut menambahkan, semakin awal terdeteksi, penanganan yang diberikan bisa maksimal. Bahkan, persentase kesembuhan juga semakin tinggi.

”Kalau bisa dideteksi saat masih stadium 0-1, potensi kesembuhan bisa mencapai 100 persen,” tambahnya.

Pilih Menu Bergizi dan Sehat saat Dompet Menipis di Akhir Bulan

Cara paling sederhana melakukan gerakan sadari (periksa payudara sendiri). Aktivitas tersebut bisa dilakukan sejak perempuan menstruasi. Paling tidak sebulan sekali.

Untuk perempuan di atas usia 25 tahun, ada aktivitas tambahan. Selain sadari, ada atau tidak ada keluhan, mereka harus menjalani pemeriksaan USG payudara minimal setahun sekali.

”Beda lagi kalau sudah di atas 35 tahun, wajib mammografi. Yakni, rontgen dada untuk mendeteksi risiko kanker payudara,” papar dokter lulusan FK Universitas Airlangga (Unair) tersebut.

Apalagi, potensi kanker payudara juga bisa muncul lewat genetik. Terutama keturunan segaris. Karena itu, seorang perempuan yang keluarganya mempunyai riwayat kanker payudara harus lebih waspada.

Pemeriksaan harus semakin rutin dilaksanakan. Dengan begitu, saat terdeteksi, penyakit itu bisa cepat ditangani. (***)

sumber: jpnn.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Nenek berusia 73 tahun meninggal setelah dua ginjalnya diangkat karena salah diagnosis. Disangka kena kanker, rupanya ginjalnya baik-baik saja.

Linda Wooley asal Colorado mengalami serangan jantung yang fatal saat menunggu antrean cangkok organ. Kedua ginjalnya diangkat karena didiagnosis kena kanker 8 bulan sebelumnya, yakni pada Maret 2018.

Namun hasil biopsi atau pemeriksaan jaringan beberapa waktu kemudian menunjukkan tidak ada tanda-tanda keganasan. Dokter menyadari ada kesalahan setelah melakukan biopsi pasca operasi dan mendapati tidak ada kanker di sana.

Keren, Ini Penampakan Modifikasi Unik dengan Model Mobil Terbalik

Sayangnya ginjal yang sudah diangkat tidak bisa dikembalikan begitu saja. Linda harus menjalani cuci darah atau dialisis 4 jam sehari, 3 kali sepekan. Ginjal adalah organ vital untuk menyaring kotoran dalam darah.

Teriakan “Om Fredik Ditikam” Pedagang Keripik Itu Ambruk Setelah Pisau Menancap di Dadanya, Ini Kronologinya

“Saya merasa mereka utang ginjal kepada saya pastinya,” katanya dalam sebuah wawancara tahun lalu.

Seseorang bisa hidup normal dengan hanya satu ginjal. Tetapi bila tidak ada ginjal sama sekali, maka ia harus menjalani dialisis atau cuci darah secara rutin hingga mendapat cangkok ginjal.

Linda mengalami serangan jantung baru-baru ini dan akhirnya meninggal dunia. (***)

sumber: detik.com

MEDAKEPRI.CO.ID, Karawang – Sunarti (39), wanita penderita obesitas asal Karawang kerap mengkonsumsi obat pereda nyeri golongan steroid untuk menghilangkan nyeri sendi di sekitar lututnya.

Kepala Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Hasan Sadikin ( RSHS) Bandung Dody Tavinto menyebut, berdasarkan hasil analisa yang dilakukan RSHS Bandung, obat tersebut telah dikonsumsinya sejak enam bulan terakhir.

“Dari hasil analisa kami, dia sudah mengonsumsi obat nyeri tulang itu sekitar enam bulan lalu,” kata Dodi, Ahad, 3 Februari 2019.

Kain Penutup Wajah Dibuka, Disitulah Sang Ayah Tau, Kalau Aldama Tewas Bukan Karna Terjatuh

Bedasarkan keterangan dokter penyakit dalam yang merawat Sunarti, wanita yang memiliki bobot 148 kilogram tersebut mengonsumsi obat methylprednisolone golongan steroid yang dibelinya di warung di pinggir jalan.

Obat pereda nyeri sendi itu dikonsumsi Sunarti tanpa resep dokter untuk menghilangkan nyeri di bagian lutut yang kemungkinan karena menahan beban tubuhnya.

Pencipta Lagu “Goyang Nasi Padang” Diciduk Polisi, Kasus Apa Ya?

“Itu sebenarnya bukan ibu ini saja, tapi gejala di masyarakat kita itu, kalo badan pegal-pegal enggak enak, itu biasanya beli (obat) itu tanpa melihat efek samping dan lainnya. itu buat pegal-pegal dia,” ujarnya.

“Padahal pegal pasien bisa jadi karena dia menanggung berat badannya, pasti tulang kaki pegal-pegal. Tapi dia beli di pinggir jalan. Padahal obat itu enggak boleh dijual secara bebas seharusnya,” katanya.

Sebelumnnya Direktur SDM dan Pendidikan Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung, Dr.Yana Akhmad Supriatna menyebut, Sunarti ini kerap mengkonsumsi obat steroid yang menyebabkan kegemukan.

Rupiahku Sayang, Rupiahku yang Malang

Obat tersebut secara tidak langsung menambah nafsu makan Sunarti.

“Obat itu sering digunakan masyarakat untuk mengurangi rasa nyeri, dengan obat itu terasa kembali enak dan kadang nafsu makan bertambah. Biasanya bisa bikin orang jadi gemuk,” ujarnya.

Oleh karena itu, pihak RSHS akan berupaya menghentikan kebiasaan Sunarti mengonsumsi obat nyeri sendi.

“Mungkin nanti obat itu akan distop secara medis, secara perlahan,” katanya. (***)

sumber: tribunnews.co.id

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Kelelahan dalam bekerja tak bisa dianggap remeh. Tubuh yang lelah akan menurunkan daya pikir dan konsentrasi. Kondisi ini berisiko menimbulkan kecelakaan kerja.

Dalam sebuah laporan berjudul Fatigue in Safety-Critical Industries: Impact, Risks and Recommendations, yang dirilis the National Safety Council (NSC) menyebutkan sebanyak 69 persen karyawan mengalami kelelahan bekerja. Hasil laporan tersebut berdasarkan survei yang dilakukan di beberapa perusahaan dan karyawan.

Musim Hujan Telah Tiba, Ini Tips Memilih Jas Hujan yang Tepat Bagi Pengendara Sepeda Motor

Masih dalam laporan tersebut disebutkan bahwa 90 persen karyawan merasakan kelelahan akibat pola kerja pada organisasi mereka, dengan mengamati insiden keselamatan yang terjadi pada karyawan yang lelah dan penurunan produktivitas. Sebanyak 72 persen pekerja lainnya menganggap kelelahan berpotensi membahayakan keselamatan mereka dalam bekerja.

“Kami telah melihat dampak kelelahan di tempat kerja kami untuk waktu yang lama. Hal itu sangat menjadi masalah, betapa terpengaruhnya industri yang sensitif terhadap keselamatan kami,” kata Emily Whitcomb, Senior Program Manager of Fatigue Initiatives di NSC, dikutip Cos-Mag.

Tips Santap Makanan Pedas Agar Tak Bermasalah saat Buang Hajat

“Ketika Anda lelah, Anda berisiko meninggal karena keselamatan bekerja terancam. Kami mendesak pengusaha untuk mengatasi risiko kelelahan di tempat kerja mereka sehingga semua karyawan bisa sehat dan aman,” kata Emily.

Kelelahan menjadi ancaman di semua tempat bekerja. Jika tidak disikapi dengan serius, kelelahan bisa menjadi bencana. Hal ini bisa bermula dari kesalahan-kesalan kecil yang tidak terduga.

Dian Hermawan Ditemukan Tewas Mengenaskan di Kolong Ranjang, Pemilik Rumah Minggat, Ini Kronologinya

“Misalnya, kesalahan di lokasi konstruksi, di sekitar area penggalian saluran gas, atau di belakang kemudi truk-truk besar. Satu kesalahan kecil saja bisa menyebabkan cedera atau bahkan kematian,” katanya.

Laporan tersebut juga memaparkan bahwa 97 persen pekerja di industri transportasi merasakan dampak kelelahan, 100 persen pekerja konstruksi melaporkan memiliki satu faktor risiko akibat kelelahan, dan 46 persen pekerja konstruksi mengatakan mereka bekerja berjam-jam dalam risiko tinggi.

Melihat risiko yang mengancam kesehatan, kelelahan tak bisa diabaikan. Bila Anda termasuk orang yang sering merasa lelah, sebaiknya segera bertindak untuk mengatasinya. Misalnya, dengan berkonsultasi ke dokter dan mulai menganut gaya hidup sehat.

Dari Balik Jeruji Besi, Ini Pengakuan Tahanan ” Betapa Berharga Keluarga”

Gaya hidup sehat di antaranya dengan cukup tidur, rutin berolahraga, kurangi stres, dan cukupi kebutuhan tubuh akan nutrisi. Dalam memenuhi nutrisi harian, Anda mesti mengonsumsi berbagai jenis makanan yang kaya akan serat, protein, kalsium, dan vitamin, sehingga produktivitas pun dapat meningkat.

Dalam memenuhi nutrisi harian, Anda bisa minum Entrasol yang mengandung Omega 3 dan 6 dalam jumlah seimbang sehingga baik untuk menjaga kesehatan jantung dan sendi.

Selain itu, Entrasol juga mengandung P-Bone (High Calcium, High Vit D dan Magnesium) kombinasi sinergis vitamin dan mineral untuk menjaga kepadatan tulang, kandungan 10 vitamin dan 7 mineral, serta Hytolive (ekstrak buah zaitun) untuk memperlambat proses penuaan dini dengan melindungi sel-sel dari oksidasi berlebih dan membantu menjaga kesehatan kulit.

Zaitun pun bermanfaat sebagai antioksidan alami untuk menangkal radikal bebas dan mencegah penyakit jantung koroner, serta anti-inflmasi yang dapat membantu mengatasi nyeri pada radang sendi atau artritis. (***)

sumber: metrotvnews.com

MEDIS

Jumat | 25 Januari 2019

Benarkah Diet Bisa Membuat Stres?

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Dosen nutrisi dan diet di University of the Sunshine Coast, Tara Leong mengatakan diet bebas gula bersifat restriktif. Terdapat daftar makanan yang ‘diizinkan’ (seperti biji-bijian, blueberry, dan jeruk bali) dan makanan yang ‘tidak diizinkan (seperti roti putih, pisang, dan kismis).

“Ini secara tidak sengaja mempromosikan mentalitas diet dan menyebabkan orang yang diet khawatir tidak sengaja mengonsumsi makanan dalam daftar yang ‘tidak diizinkan’,” ujarnya seperti dilansir di CNN, Jumat, 25 Januari 2019.

“Cinta Itu Masih Ada” Yeslin Gugat Cerai Delon Karna Judi Online

Orang yang khawatir tentang makanan cenderung melakukan diet. Ini mungkin karena mereka khawatir secara khusus tentang berat badan mereka atau tentang dampak nutrisi tertentu terhadap kesehatan mereka.

Penelitian menunjukkan diet tidak efektif dalam jangka panjang dan dapat menyebabkan kenaikan berat badan yang lebih besar dari waktu ke waktu. Otak mengartikan diet dan pembatasan sebagai kelaparan, yang menyebabkan penyimpanan lemak untuk kekurangan di masa depan.

Perhatikan Penggunaan Gula dan Garam, Ini Resep Masak Daging Sukiyaki yang Sehat

“Diet itu membuat stres. Menanggapi hal ini, tubuh kita melepaskan hormon stres seperti kortisol, yang dapat menyebabkan tubuh menyimpan lemak, terutama di daerah perut,” katanya.

Khawatir tentang makanan dapat menyebabkan stres, kegelisahan, dan depresi. Ini menjadi salah satu faktor yang menentukan dari kondisi yang dikenal sebagai orthorexia.

Seorang Wanita Koma 10 Tahun Kok Bisa Melahirkan, Ini yang Dilakukan Perawatnya2019/01/24

Orthorexia adalah kesibukan luar biasa dengan makan sehat. Penderita orthorexia menghabiskan banyak waktu untuk berpikir dan mengkhawatirkan makanan. Mereka juga menghilangkan makanan yang dianggap tidak murni atau tidak sehat. Beberapa ahli berpendapat perilaku ini merupakan awal atau bentuk kelainan makan

Perkiraan menunjukkan di mana saja antara tujuh dan 58 persen dari populasi mungkin memiliki kondisi tersebut. Tidak ada kriteria diagnostik yang jelas, yang membuatnya sulit untuk mengukur prevalensinya.

Tapi kita tahu 15 persen wanita akan mengalami gangguan makan pada tahap tertentu dalam hidup mereka. Jadi kita perlu memastikan saran nutrisi, betapa pun beritikad baik, tidak mempromosikan atau mendorong gangguan makan. (***)

sumber: republika.co.id

MEDIS

Selasa | 22 Januari 2019

Ini resiko Terburuk Jika Terlalu Lama Duduk

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Bagi Anda para pekerja yang dalam kesehariannya duduk, berhati-hatilah. Terlalu lama duduk bisa menyebabkan skoliosis (kelainan tulang belakang) dan yang paling sering terjadi ialah bantalan sendi di area punggung mengalami degenerasi.

Nomor Diblok, Keluarga Korban Lion Air Mengadu ke DPR

“Jadi yang tadinya berfungsi sebagai shockbreaker yang mampu menahan benturan yang ada, kalau dia mengalami degenerasi sifat elastisnya itu hilang menjadi kebas (kaku dan berpotensi mati rasa),” ujar dr. Phedy, Sp.OT-K, di Rumah Sakit Siloam Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Senin, 21 Januari 2019.

Menurut dr. Phedy, risiko terburuk dari duduk terlalu lama adalah skoliosis postural. Artinya, kalau posisi itu diperbaiki dengan membuat tubuh menjadi rileks, kondisi tulang belakang bisa kembali lurus.

Sadis!! Dua Pria Ini Ditemukan Tewas Terbakar dengan Terikat Kedua Kaki dan Tangannya

Kesedihan Oki Setiana Dewi Ketika Melihat Ustadz Maulana Tidur Disamping Jenazah Istri

“Usahakan bangun, semenit saja untuk stretching setiap duduk 30 menit atau gonta-ganti posisi ketika duduk. Itu sangat membantu,” tuturnya.

Ketika duduk, tubuh tidak boleh dibiarkan dalam satu posisi untuk waktu yang lama. Pasalnya, akan sangat membebani ototnya dan sendi-sendinya. Ia menekankan, otot manusia diciptakan bukan untuk diam melainkan untuk bergerak.

Apabila Anda memaksakan diri untuk tetap duduk dalam waktu yang lama, sendi di sekitar tulang belakang Anda akan mudah sobek. Terutama, ketika Anda tiba-tiba membungkuk atau jongkok untuk mengambil sesuatu di bawah, mengangkat sesuatu yang berat, atau sedang nge-gym.

“Ketika ada beban, (sendi) tidak lagi mantul dan menyebarkan beban itu. Tapi dia langsung ke satu arah ke tempat yang paling lemah dan sobek. Isinya keluar, terutama ke belakang dan di situ ada saraf,” paparnya.

Kondisi tersebut dinyatakan sebagai risiko terparah ketika Anda jarang atau bahkan tidak permah melakukan stretching selama duduk dalam sembilan jam kerja. Biasanya, risiko degenerasi hingga skoliosis rentan untuk dewasa mulai usia 20 tahunan hingga lansia karena bantalan sendi mudah kebas. (***)

sumber: metrotvnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID – Kejadian mengerikan kembali terjadi pada seorang bocah yang kerap bermain ponsel.

Ia mengidap mata juling setelah memiliki kebiasaan bermain ponsel.

Hal ini dibuktikan dengan sebuah video yang diunggah oleh akun instagram @makassar_iinfo.

Dalam video tersebut, bocah laki-laki yang mengenakan kaos bergaris-garis putih hijau itu terlihat sangat kesulitan menggerakkan bola matanya.

Dengan keadaan yang sayu, ia berusaha menggerakkan bola matanya namun sangat sulit.

Jika ia tak menggerakkan matanya, pupil hitamnya itu tidak berada di tengah seperti mata pada umumnya.

Mata bocah tersebut sepintas hanya memperlihatkan warna putih.

Sang perawat yang sedang memeriksa bocah itu sesekali membimbingnya untuk menggerakkan bola matanya.

Namun lagi-lagi, bocah tersebut terlihat kesusahan untuk menggerakkan matanya.

Usut punya usut ternyata bocah yang berasal dari Makassar itu mengidap mata juling sebelah.

Dalam tulisan caption video tersebut, penyebab mata juling sebelah pada bocah ini karena terlalu sering bermain ponsel.

Selain itu, mata bocah polos ini terus basah dan berair.

Sehingga sang bapak memutuskan untuk membawa dan memeriksakannya ke rumah sakit.

Dari situlah sang bapak baru mengetahui kalau anaknya mengalami juling sebelah.

Kasus penyakit mata pada bocah yang disebabkan oleh kebiasaan bermain ponsel rupanya tak hanya sekali ini.

Seorang balita di Thailand harus menjalani operasi mata karena telah kecanduan bermain ponsel.

Karena melihat ponsel secara terus menerus, penglihatan gadis kecil tersebut semakin lama semakin memburuk.

Setelah melakukan pemeriksaan, ia diharuskan menggunakan kacamata.

Namun masalahnya tak berhenti disitu karena penglihatannya terus menurun.

Dokter mengatakan dia harus menjalani operasi mata untuk memulihkan penglihatannya, jika tidak matanya bisa buta.

Menurut hasil diagnosis dokter, gadis kecil tersebut menderita mata malas dengan satu mata miring atau juling, salah satu komplikasi paling serius dari miopi dan astigmatisme.

Jika kondisi ini terus berlangsung, mata anak itu tidak akan bisa pulih.

Penelitian di Korea Selatan mengatakan bahwa anak-anak yang kerap menggunakan ponsel pintar memiliki risiko yang sangat besar dalam mengalami mata juling.

Selain durasi pemakaian yang terlalu sering, jarak yang terlalu dekat dengan mata kemungkinan menjadi penyebab gangguan juling atau mata yang tidak searah. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Masalah yang besar di Indonesia saat ini ada pada diabetes melitus. Pravelensi jumlah pengidapnya terus meningkat terutama di Jakarta. Namun persoalannya bukan hanya ada di dalam diabetes saja, melainkan terkait dengan komplikasi yang ditimbulkan dari penyakit satu ini.

Dengan Satu Tarikan Nafas, Daus Mini Sukses Ucapkan Ijab Kabul.. SAH!!!

Wanita Cantik Ini Rela Dimadu, Alasannya Mak Jlebb!!

Turis Milenial Lebih Luas Eksplorasi Destinasi Unggulan Bersama Wings Air

Menurut dokter spesialis penyakit dalam RSCM, dr Dicky Levenus Tahapary, SpPD, PhD, perlu diwaspadai karena penderita diabetes sangat rentan terinfeksi tuberculosis (TB atau TBC). Hal ini terjadi akibat respons kekebalan tubuh penderita diabetes yang menurun.

Baca Sebelum Membeli, 5 Kandungan Skincare Ini BIsa Bikin Wajah Jadi Rusak!

Baru Diluncurkan Mobil SUV Lamborghini di Indonesia, Langsung Ada yang Beli Loh

Memilukan, Berjam-jam Jalan Kaki Sambil Gendong Bayinya, Sampai Rumah Sakit Bayinya Sudah Tak Bernyawa, Ini yang Terjadi

“Ternyata penyakit tuberculosis ini juga memicu peradangan kronis yang membut gula darah menjadi naik, sehingga saling berkaitan antara diabetes dan tuberculosis,” jelas dr Dicky saat ditemui detikHealth di Kawasan Monas, Jakarta Pusat, Ahad, 9 Desember 2018

Kesehatan Itu Mahal Harganya, Wasir Bisa Jadi Gejala Kanker Usus Besar, Kenali Tandanya

Rutin Mengkonsumsi 7 Buah Ini untuk Mendapatkan Perut Ramping dan Sehat

Dunia Sastra Berduka, Usai Terapi Nh Dini Alami Kecelakaan dan Meninggal Dunia

Bahkan dr Dicky pun mengatakan bahwa terkait masalah komplikasi diabetes itu ada dua yaitu dalam pembuluh darah besar dan pembuluh darah kecil.

“Dalam pembuluh darah kecil, penderita diabetes punta dapat menyebabkan kebutaan tertinggi di Indonesia. Sedangkan di pembuluh darah kecil rentan terhadap gangguan saraf, baik pada saraf kaki maupun mata. Bahkan pada bagian pembuluh darah besar, rentan terhadap kerusakan ginjal, bahkan ada yang sampai harus cuci darah,serangan jantung, stroke, serta gangguan pembuluh darah di bagian kaki,” jelas dr Dicky.

Dalam upaya mengurangi angka pravelensi diabetes yang terus meningkat, dr Dicky mengatakan bahwa terapkanlah gaya hidup yang sehat serta lakukan pemeriksaan dan skrining rutin sedini mungkin. (***)

sumber: detik.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Kanker usus besar merupakan penyakit kanker nomor tiga yang paling sering ditemui. Penderita kanker ini rata-rata tidak menyadari gejalanya, bahkan banyak yang mengira jika hal tersebut adalah penyakit wasir (buang air besar berdarah) biasa.

BACA: Rutin Mengkonsumsi 7 Buah Ini untuk Mendapatkan Perut Ramping dan Sehat

Dokter Spesialis bedah dari Bethsaida Hospital Eko Priatno mengungkapkan bahwa ciri-ciri kanker usus besar adalah buang air besar (bab) berdarah yang sering dianggap sebagai wasir, perubahan pola BAB (diare atau bab dengan feses kecil-kecil), BAB tidak puas, serta nyeri pada anus.

BACA: Jaringan Internet Telkomsel Putus, Ini Sebabnya

Menurut Eko, rata-rata penderita kanker usus besar baru datang pada dokter ketika stadium kanker sudah lanjut. Hal tersebut ditandai dengan perut buncit, kembung, tidak bisa BAB/kentut, muntah, berat badan menurun serta nyeri perut. “Kanker usus besar ini berawal dari polip atau kutil. Kalau tidak ditangani bisa berubah sifat dari jinak jadi ganas. Seringnya memang dianggap wasir padahal belum tentu,” kata Eko dalam media gathering Bethsaida Hospital, Tangerang, Kamis 6 Desember 2018.

BACA: Dunia Sastra Berduka, Usai Terapi Nh Dini Alami Kecelakaan dan Meninggal Dunia

Eko mengatakan bahwa tingkat kepedulian masyarakat terhadap kesehatan masih rendah. Penyakit yang seharusnya bisa diobati sejak awal, malah dianggap sebagai sesuatu yang wajar. “Kalau di masyarakat, semua sakit perut dibilang maag. Kalau sakit perut bisa jadi tanda kanker usus besar terutama yang menyumbat usus. Kalau stadium awal memang tidak ada keluhannya,” kata Eko.

BACA: Kodim 0720 Rembang Meraih Prestasi Dalam Pemberitaan TMMD

Ia kemudian memberitahu cara paling simpel untuk mendeteksi kanker usus besar. Namun, langkah ini hanya berlaku jika tumor atau kanker berada di dekat anus. “Gejala kanker dan wasir memang mirip. Dia datang berobat ke mana pasti dibilang wasir. Untuk membedakannya adalah dengan cara colok dubur. Kalau kanker, pasti akan terasa keras dan ada tonjolannya. Kalau wasir, dia akan lembek. Tapi itu hanya bisa untuk kanker yang bagian bawah aja, 8 sentimeter dari anus. Ini pemeriksaan yang sangat penting dan simpel,” kata Eko.

BACA: Gempa 5,7 SR Guncang Lombok, Tak Berpotensi Tsunami

“Tidak perlu khawatir, kanker usus besar asal datang pada stadium awal,” lanjutnya.

BACA: Prabowo Marahi Jurnalis dan Media, Pengamat: “Hati-hati Ini Bisa Menjadi Senjata Makan Tuan. Kenapa?

Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Ari Fahrial Syam menambahkan jenis kanker usus jika ditemukan pada stadium awal maka kemungkinan kanker untuk disembuhkan besar. “Kalau ketemunya stadium 1, stadium 1 itu tumor (bentuknya) belum terlalu besar, tidak menyebar di kelenjar getah bening, angka harapan hidup 5 tahunnya angkanya 92 persen,” kata Ari usai mengisi acara seminar “Kanker Usus Besar Bisa Dicegah dan Diatasi dan Peluncuran Aplikasi Berbasis Android ‘Apa Kata Dokter'” di Ruang Senat FKUI, Universitas Indonesia, Salemba, Jakarta Pusat, Kamis 6 Desember 2018.

Ari menjelaskan ada enam gejala kanker usus besar sudah tumbuh yang perlu Anda ketahui;

Pertama: saat buang air besar keluar darah atau berdarah.

Kedua: pola buang air besar yang berubah-ubah, bisa terjadi diare atau sembelit secara bergantian.

Ketiga: sakit perut yang berulang kali menyerang.

Keempat: berat badan turun.

Kelima: wajah menjadi pucat tanpa sebab.

Keenam: adanya benjolan di bagian perut.

“Kalau ketemu menemukan gejala ini, merupakan hal yang harus segera ditangani dan pergi ke dokter,” kata Ari. (***)

sumber: tempo.co

MEDIAKEPRI.CO.ID, Pekanbaru – Dinas Kesehatan Provinsi Riau merilis data jumlah kasus AIDS menurut pekerjaan sepanjang Januari-Oktober tahun ini. Salah satu yang menarik, kasus AIDS di tingkat pelajar dan mahasiswa lebih tinggi dibandingkan temuan di kelompok pekerja seks komersial.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Riau Mimi Yuliani Nazir mengatakan kelompok pekerja dengan temuan kasus AIDS paling banyak, yaitu dari kalangan pegawai atau karyawan swasta.

Ini Alasan Hari AIDS Sedunia Diperingati dan Ini Saran Menteri Kesehatan

Layanan Kesehatan Gratis untuk Warga dari Satgas TMMD

Pelayanan KB dan Kesehatan Gratis Kembali di Gelar

“Paling banyak dari karyawan sebanyak 88 kasus, disusul pengusaha atau wiraswasta sebanyak 52 kasus,” katanya Senin, 3 Desember 2018.

Mimi menjelaskan selain dua kelompok pekerja itu, penderita AIDS juga datang dari kalangan pengangguran alias tidak bekerja sebanyak 42 kasus, lalu ibu rumah tangga sebanyak 41 kasus.

Liverpool Vs Everton, Jordan Pickford Kualat

Awal Desember, Yuk Tonton Keseruan Tiga Film Fantasi Ini

Mulan Jameela Hadir di Reuni 212, Tiara: “Bunda Kaya Lagi Umrah”

Setelah itu petani peternak dan nelayan sebanyak 14 kasus, PNS atau aparatur sipil negara sebanyak 10 kasus. Supir, ojek, tukang parkir sebanyak 5 kasus.

Menariknya data penderita AIDS dari kelompok pelajar dan mahasiswa sebanyak 5 kasus, lebih besar dari kelompok TNI Polri dan satpam yang sebanyak 4 kasus, tenaga profesional non medis 3 kasus, buruh kasar 2 kasus, narapidana 1 kasus, dan pekerja seks komersial 1 kasus.

Adapun secara kumulatif selama periode 1997-2018, jumlah kasus AIDS di Provinsi Riau paling banyak dari kelompok pekerja dan karyawan swasta sebanyak 1.597 kasus. Sedangkan terendah dari kelompok tenaga profesional medis sebanyak 14 kasus. Untuk pengelompokan dari jenis kelamin, penderita AIDS paling besar adalah pria 72% dan sisanya perempuan 28%. (***)

sumber: kabar24bisnis.com

MEDIAKEPRI.CO.ID – Trend kekinian yang mengedepankan badan kurus kering agar dibilang cantik mendapat perhatian dari pemerintah. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mengatakan tren badan kurus pada remaja putri membuat angka kejadian anemia naik.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Litbangkes) Kemenkes RI, Siswanto, menyebut salah paham soal tren badan kurus ini harus dientaskan agar angka pengidap anemia turun.

“Remaja putri di Indonesia masih ada yang memiliki pandangan bahwa mengenai body image yang kurus dan kecil seperti pensil itu dianggap cantik,” ujar Siswanto dalam rilis resmi yang diterima Suara.com.

Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menemukan adanya kenaikan pada kasus anemia di remaja putri. Pada tahun 2013, sekitar 37,1 persen remaja putri mengalami anemia.

Angka ini naik menjadi 48,9 persen pada tahun 2018. Proporsi anemia terjadi paling besar di kelompok umur 15-24 tahun, dan 25 sampai 34 tahun.

Hal-hal tersebut jelas menguatkan bahwa kesehatan remaja sangat menentukan keberhasilan pembangunan kesehatan, terutama dalam upaya mencetak kualitas generasi penerus bangsa di masa depan.

Menurutnya, pandangan tersebut sangat penting untuk diluruskan, mengingat remaja putri merupakan calon ibu di masa depan.

Anemia bisa membuat perempuan mengalami kurang energi kronis, yang meningkatkan risiko anak lahir dengan berat badan rendah.

“Ibu hamil yang kurang energi kronis, merupakan calon produsen anak stunting. Karena kalau ibunya kurang energi, anaknya lahir BBLR atau pendek,” tutup Siswanto. (***)

sumber: suara.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Komedian Pretty Asmara meninggal dunia, Sempat disinggung soal riwayat gangguan pencernaan, ternyata Pretty mengalami sesak napas dan penimbunan cairan antara paru-paru dengan lapisan pembungkusnya.

“Ada penimbunan cairan antara paru-paru dengan pembungkus paru-paru,” jelas dr Daniel, Kepala RS Pengayoman, Jakarta Timur.

Dikutip dari WebMD, cairan dalam jumlah tak wajar di sekitar paru-paru dikenal sebagai pleural effusion atau efusi pleura. Cairan tersebut biasanya menumpuk di antara paru-paru dan lapisan pembungkusnya, yakni pleura, yang menempel di bagian dalam rongga dada.

Normalnya, area di sekitar pleura memang berair untuk memungkinkan paru-paru mengembang dengan baik saat bernapas. Namun dalam jumlah berlebih, cairan akan menyebabkan paru sulit mengembang sehingga menyebabkan sesak napas seperti dialami Pretty saat datang ke rumah sakit. Orang awam menyebutnya sebagai ‘paru-paru basah’, namun sebenarnya istilah tersebut tidak dikenal dalam dunia medis.

Penumpukan cairan dalam jumlah berlebih di area pleura bisa disebabkan oleh banyak hal. “Penyebabnya itu karena infeksi karena proses keganasan juga bisa, akhirnya kita periksa,” sebut dr Daniel. (***)

sumber: detik.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Penelitian terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Lancet Public Health menunjukkan diet rendah karbohidrat bisa memperpendek usia.

Penelitian ini melibatkan 15.400 responden yang diminta mengisi kuesioner perihal makanan dan minuman yang dikonsumsi beserta porsinya.

Selanjutnya, peneliti mengikuti responden selama 25 tahun. Hasilnya ditemukan, mereka yang konsumi 50-55% karbohidrat sehari-hari memiliki risiko kematian lebih rendah dibandingkan mereka yang mengonsumsi karbohidrat terlalu rendah atau terlalu tinggi.

Sementara, mereka yang mengonsumi kurang dari 40% atau lebih dari 70% karbohidrat dari konsumsi sehari-hari memiliki risiko kematian lebih tinggi.

Dari hasil temuan ini peneliti menyimpulkan bahwa idealnya karbohidrat dikonsumsi sebanyak 50%. Dengan konsumsi karbohidrat 50%, mereka yang berusia 50 tahun diprediksi hidup 33 tahun lebih lama. Jumlah ini, empat tahun lebih lama dibandingkan mereka yang menjalani diet rendah karbohidrat serta satu tahun lebih lama dibandingkan mereka yang menjalani diet tinggi karbohidrat.

“Diet rendah karbohidrat yang menggantikan karbohidrat dengan protein atau lemak sering dipilih masyarakat sebagai strategi penurunan berat badan dan kesehatan. Namun, data kami menunjukkan sebaliknya. Diet rendah karbohidrat mungkin terkait dengan rentang hidup yang lebih pendek secara keseluruhan,” kata peneliti Dr Sara Seidelmann.

Namun, jika tetap ingin menjalani diet rendah karbohidrat, Dr Sara menyarankan untuk mengganti karbohidrat dengan lebih banyak lemak dan protein nabati. “Mungkin dapat membuat tubuhnya sehat dalam jangka panjang termasuk di masa tuanya,” sarannya seperti dilansir Evening Standard. (***)

sumber: lifestyle.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Banyak orang mengonsumsi beberapa pil sekaligus setiap hari untuk menjaga kondisi kesehatan mereka. Namun, mereka tidak tahu berbagai obat ini mungkin bereaksi satu sama lain dan menyebabkan efek buruk yang lebih mengkhawatirkan.

Secara medis hal ini disebut sebagai polifarmasi. Itu artinya seseorang meminum lima obat atau lebih dalam sehari.

“Menyatukan obat dapat menyebabkan lebih banyak kerugian daripada kebaikan,” kata Sushila Kataria, dokter penyakit dalam di Medanta, dikutip dari Indian Express, Kamis, 16 Agustus 2018.

Kataria menambahkan, pasien tunggal sering menemui dokter dan spesialis. Semua dokter itu meresepkan obat yang berbeda. Hal ini terutama menonjol pada populasi lansia.

Beberapa lansia mengonsumsi obat-obatan untuk kondisi jangka panjang seperti diabetes, arthritis, dan tekanan darah bersama dengan obat untuk menyembuhkan sakit demam. Menurut konsultan senior di RS Idraprastha Apollo, Tarun Sahni, fakta pasien harus mengambil beberapa obat tidak dapat diabaikan.

Kadang-kadang pasien menggunakan obat tanpa henti untuk masalah ringan seperti pilek. “Mereka tidak tahu obat tersebut dapat mengganggu obat yang sedang berlangsung. Ini mengarah ke reaksi yang merugikan,” ujar Sahni.

Selain itu, ada beberapa cara meminimalkan risiko polifarmasi. Pertama, penting bahwa setiap orang sadar akan kondisi kesehatan mereka. Kedua, konsultasikan pada dokter.

Dokter dapat mengawasi semua obat, menawarkan saran yang komperhensif dan jika perlu berkoordinasi dengan dokter dan spesialis tertentu. Ketiga, simpan catatan semua obat. Pasien tidak perlu melacak obat mereka pada setiap kunjungan ke dokter.

Mereka harus memeriksa apakah penggunaan obat perlu dilanjutkan. Setiap kali kondisi baru berkembang, dokter harus diberitahu tentang semua obat yang diminum, termasuk suplemen. (***)

sumber: republika.co.id

MEDIAKEPRI.CO.ID – Tidak semua orang mengetahui secara rinci apa itu penyakit herpes.

Mungkin hanya sekadar mendengar dari teman atau sekilas membaca di internet.

Sayangnya, penyakit yang satu ini kerap dianggap sebagai penyakit ‘kotor’.

Sebagian orang hanya mengetahui herpes berkaitan dengan aktivitas seksual yang tidak sehat.

Padahal, penyakit herpes tidak melulu ditimbulkan oleh hal tersebut.

Herpes terdiri dari beberapa jenis dengan penyebab yang berbeda-beda.

Melansir dari hellosehat, penyakit ini ditimbulkan oleh virus dan hanya dua jenis saja yang paling banyak diteliti, yaitu herpes zoster dan herpes simplex atau genitalis.

Herpes zoster disebabkan oleh Jenis ini sering juga disebut dengan cacar ular, lanjutan dari penyakit cacar air.

Pada herpes zoster, gelembung cairan cenderung lebih besar dan berkumpul di bagian tertentu.

“Bisa muncul di pantat, di pipi, di tangan, bahkan di dahi. Biasanya munculnya di tempat itu-itu saja, tidak akan berpindah atau menyebar ke tempat lain,” kata dr Midi Haryani, Sp.KK, spesialis kulit dan kelamin RS Hermina Jatinegara.

Kembali melansir dari hellosehat, gejala awal herpes zoster bisa dikenali saat si penderita mengalami perasaan tak enak badan. Rasanya seperti migrain selama 1 hingga 5 hari.

Selanjutnya ada rasa nyeri yang semakin lama semakin terasa.

Penyakit ini bisa dicegah dengan beberapa tindakan, yaitu pemakaian asiklovir jangka panjang dan vaksin dari dokter.

Sementara itu, dr. Theresia Yoshiana dari alodokter memberikan tips bagi pengidap penyakit ini.

Anda bisa menggunakan pakaian longgar dan menutup ruam agar tidak terkena infeksi.

Anda sebaiknya tidak menggunakan plester karena akan menambah iritasi.

Aturlah pola hidup anda, contohnya pola tidur yang baik, asupan makanan bernutrisi, hingga rajin berolahraga.

Jenis herpes yang selanjutnya adalah herpes genitalis atau simplex disebabkan oleh Jenis ini pula yang dianggap orang-orang sebagai penyakit ‘kotor’.

“Herpes inilah yang lekat dengan anggapan masyarakat, yaitu ditularkan melalui aktivitas seksual yang tidak sehat,” kata Midi, mengutip dari Kompas.com.

Penyakit ini ditandai dengan bentol berair di bagian alat kelamin, anus dan mulut.

Herpes genitalis bisa menular lewat sentuhan, namun lebih sering menyebar lewat hubungan seksual yang tidak sehat.

Menurut penelitian Pusat Pengendalian dan Pencegahan penyakit di Amerika Serikat, satu dari enam orang berusia 14 hingga 49 tahun mengidap herpes genital.

Kabar buruknya, herpes genital lebih mudah menyerang wanita daripada lak-laki.

Melansi dari hellosehat, obat herpes yang sering digunakan biasanya adalah acyclovir, famciclovir, dan valacyclovir. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Kerja seharian di depan komputer pastinya membuat jari jemari kamu lelah. Untuk memberi rasa rileks, terkadang kita tidak sadar membunyikan jari kita hingga mengeluarkan bunyi ‘kretek’.

Kegiatan peregangan tangan tersebut bahasa kedokterannya adalah Knuckel Cracking. Bunyi ‘kretek’ yang dihasilkan berasal dari gas yang berada pada rongga jari kamu.

Namun, sebenarnya berbahaya enggak sih? Menurut dokter ortopedi dr Oryza Satria, Sp. OT, kebiasaan ini aman-aman saja dilakukan asal tidak berlebihan.

“Menurut penelitian, itu tidak berpengaruh pada nyeri sendi, jadi ya aman-aman aja,” saat ditemui di kawasan Kebayoran, Jakarta Selatan, baru-baru ini.

Dalam jari jemari kita terdapat ligamen yang berfungsi untuk menyambung tulang yang satu dengan yang lainnya. Faktor psikologis pula yang menimbulkan anggapan, bahwa meregangkan jari dapat mengurangi rasa pegal-pegal saat beraktivitas.

“Tapi jangan terlalu bersemangat juga, karena dapat mengakibatkan ligamen nya luka.

Bisa luka kecil ataupun besar,” tambah dr Oryza.

Jika terasa nyeri hebat disertai perubahan bentuk pada tangan, segeralah periksakan diri. Bisa jadi, ligamenmu luka lho. (***)

sumber: detik.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Pernahkah anak Anda mendengkur hingga berhenti nafas sejenak ketika sedang tidur?

Kejadian tersebut adalah apnea obstruktif (henti nafas) yang diakibatkan oleh pembengkakan amandel.

Episode ini terjadi karena tersumbatnya saluran napas atas selama tidur dan menyebabkan berkurangnya asupan oksigen secara periodik.

Episode henti nafas ini termasuk kondisi medik yang serius jika tidak ditangani.

Oleh karena itu sebagai orang tua, Anda harus lebih mengerti dan paham akan keadaan ini ketika anak menderita pembengkakan amandel.

Dokter THT di Rumah Sakit Santosa, Dr Imam Megantara SPTHT-KL. Mkes mengatakan keadaan amandel ini terjadi karena amandel yang sudah kronis.

“Jika pada keadaan kronis terjadi serangan akut biasanya penderita akan merasakan sakit tenggorok, disertai rasa mengganjal, seperti ada sesuatu di tenggorok dan bau mulut,” ujar dokter Imam saat ditemui di Jalan Kebon Jati No 38, Rabu, 18 Juli 2018

Keadaan seperti ini tentu akan menyiksa aktivitas bermain anak. Anak akan sulit makan dan keceriaan jadi hilang.

Dokter Imam mengatakan jika amandel kronis merupakan radang kronik (menetap) dari amandel yang biasanya merupakan kelanjutan dari infeksi akut berulang atau infeksi subklinis (tidak bergejala) dari amandel.

Bahaya dari pembengkakan amandel yang terus menerus di abaikan adalah hidung tersumbat, sulit menelan, dan suara sengau.

“Di samping pertumbuhan fisik yang kurang baik, tidak jarang timbul keluhan telinga seperti rasa penuh, nyeri, atau keluar cairan dari telinga,” ucapnya.

Jika anak Anda mengalami episode ini, sebaiknya segera periksa ke dokter untuk ditangani lebih lanjut. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Penggunaan telepon genggam dapat mengakibatkan turunnya kinerja ingatan di bagian tertentu otak, terutama akibat terpajan ladang elektromagnetik frekuensi radio (RF-EMF).

Di dalam satu studi baru yang dilakukan oleh ilmuwan di Swiss Tropical and Public Health Institute (Swiss TPH), para peneliti mendapati bahwa apa yang disebut penampilan ingatan figural, atau kemampuan untuk mengingat bentuk-bentuk abstrak, dapat memburuk jika otak sering terpajan pada RF-EMF).

Para peneliti memiliki data dari lebih 700 remaja dari Switzerland, yang berbahasa Jerman selama 12 bulan. Studi itu mengikuti perkembangan temuan dari studi 2015, dengan dua kali ukuran sampel dan keterangan lebih akhir mengenai penyerapan RF-EMF pada otak remaja selama jenis penggunaan piranti komunika nirkabel yang berbeda.

“Itu adalah studi epidemiologi pertama di dunia yang memperkirakan dosis gabungan RF-EMF pada remaja,” kata Xinhua, yang dipantau di Jakarta, Sabtu siang, 21 Juli 2018

Buktinya jelas bahwa radiasi memiliki dampak penting pada separuh otak kanan, tempat ingatan figural berada, di kalangan remaja yang memegang telepon genggam di telinga kanan ketika melakukan percakapan. Pengiriman pesan teks atau “berselancar” di internet tak memiliki dampak mencolok, kata studi tersebut.

Studi itu juga menambahkan, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memastikan pentingnya penelitian dan untuk mengeluarkan faktor lain. Penyelidikan tersebut direncanakan disiarkan pada 23 Juli di jurnal kajian Environmental Health Perspectives.

Meskipun Swiss telah mengubah alokasi frekuensi pada 2017 untuk membersihkan jalan buat 5G, atau generasi kelima telepon genggam nirkabel, pengeritik telah memperingatkan bahwa itu bisa buruk buat kesehatan manusia, sebab frekuensi 5G dirancang bahkan menggunakan frekuensi radio yang lebih tinggi daripada 4G.

Para peneliti dari kelompok Doctors for Environmental Protection, yang berpusat di Basel, telah memperingatkan bahwa gelombang sangat pendek 5G akan diserap oleh kulit yang sudah terpajan dampak berbahaya radiasi ultra-violet, dan 5G dapat menimbulkan resiko tambahan kanker. (***)

sumber: wartaekonomi.co.id

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Seorang perempuan Vermont, Amerika Serikat, menderita luka bakar kimia tingkat dua dan mengunggah peristiwa ini ke Facebook minggu lalu untuk memperingatkan orang lain tentang efek berbahaya ubi liar pada kulit seseorang.

Dilansir dari Sputniknews, 20 Juli 2018, Charlotte Murphy menjelaskan dalam unggahan di Facebook bahwa beberapa hari setelah dia tersandung ke tanaman ubi liar, benjolan merah kecil yang muncul di salah satu kakinya berubah menjadi lecet yang menyakitkan, kuning, dan bernanah.

“Seminggu kemudian kemerahan meningkat dan mulai gatal,” tulis Murphy. “Sayangnya aku sering menggaruknya saat tidur dan terbangun dengan lecet di kakiku. Sepanjang hari luka tumbuh ke titik di mana kakiku bengkak dan aku tidak bisa berjalan.”

Dia kemudian dibawa ke klinik perawatan darurat lokal dan sejak itu melakukan kunjungan harian untuk inspeksi dan perban baru, karena lecetnya telah menyebar ke lengan, jari-jari dan kaki kanannya.

Tanaman ubi liar (Istimewa)

Meskipun Murphy tahu tentang tanaman itu dan potensi bahayanya, ia tidak menyadari bahwa getah ubi liar telah mengenai kakinya. Sementara dia terus berjalan di bawah sinar matahari, yang membantu memperparah dampak getah ubi liar.

Menurut ahli biologi di Pennsylvania State University, ubi liar, juga dikenal sebagai ubi racun, dapat tumbuh hingga satu setengah meter, dengan beberapa bunga kuning kecil yang berukuran sekitar 5 sentimeter. Getah dari ubi liar mengandung bahan kimia yang dapat menyebabkan luka bakar parah setelah terpapar sinar matahari.

“Getah itu beracun dan pada dasarnya melucuti kemampuan tubuh untuk mengendalikan radiasi sinar UV dari sinar matahari,” ujar Joellen Lampman, seorang pendidik dengan program Manajemen Hama Terpadu Negara Bagian New York di Cornell University.

Murphy bukan satu-satunya orang yang menjadi mangsa anggota keluarga tanaman ini. Sebelumnya seorang remaja asal Virginia akhirnya dirawat di rumah sakit setelah ia menderita luka bakar tingkat dua dan tiga dari menyentuh tanaman ubi liar beracun. (***)

sumber: tempo.co