KRIMINALITAS

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Polisi mengatakan asisten rumah tangga (ART) yang kerap dianiaya oleh majikannya sudah lima hari tidak diberi makan sebelum akhirnya tewas.

“Korban sering mengalami kekerasan fisik dan terakhir koban sudah lima hari tidak diberi makan dan dimasukkan ke dalam kamar mandi, sehingga pada pukul 03.00 WIB korban ditemukan sudah tidak bernyawa,” kata Kapolres Metro Jakarta Utara Kombes Pol Budhi Herdi Susianto, Selasa, 21 Mei 2019.

ART malang itu yang diketahui bernama Linawati alias Ati (20) dan berasal dari Garut, Jawa Barat.

Ngabuburit Bareng Paguyuban Saund System dan Banser NU, Danramil Batangan Bagikan Takjil

Ati kerap mendapat kekerasan fisik dari majikannya yang berinisial TVL, seperti dipukul dengan ulekan dan setrika jika pekerjaannya dianggap kurang rapi.

Bukti kekerasan oleh TVL terlihat jelas dengan banyaknya bekas luka di jenazah Ati.

“Pada jenazah tersebut banyak terdapat bekas luka baru maupun lama, lebam dan sebagainya yang dimungkinkan akibat kekerasan fisik,” kata Budhi di Mapolsek Metro Penjaringan.

Sempat Berhenti, Massa Kembali Lempari Batu Stasiun Tanah Abang, Penumpang Menumpuk

15 Tahun Penjara

Tersangka TVL kini telah ditahan oleh Polsek Metro Penjaringan dan masih menjalani pemeriksaan intensif.

Pelaku penganiayaan terancam jerat pidana dengan hukuman maksimal 15 tahun penjara. “Kami kenakan Undang-Undang Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) Pasal 44 Ayat 3 UU No.23/2004 dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara,” kata Kapolres Metro Jakarta Utara Kombes Pol Budhi Herdi Susianto

Dalam konferensi pers di Mapolsek Metro Penjaringan, Kombes Budhi mengatakan polisi mengenakan UU KDRT karena peristiwa tersebut terjadi di dalam lingkup rumah tangga.

Duaarr.. Petasan Jumbo Itu Meledak, Dua Bocah Berlari dan Terluka

“Karena ini masih dalam lingkup rumah tangga, dalam hal ini korban adalah ART dari pelaku,” tutur Budhi. (***)

sumber: harianterbit.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Malang – Kasus mutilasi ini terkuak kala ditemukannya mayat wanita misterius di gedung eks Matahari Departement Store, Pasar Besar, Kota Malang pada Selasa, 14 mei 2019.

Setelah mayat wanita ini ditemukan, lalu Polresta Malang segera menangani kasus mutilasi ini.

Kondisi mayat wanita yang diperkirakan berusia 34 tahun itu saat ditemukan tidak utuh.

Dari hasil olah Tempat Kejadian Perkara (TKP), polisi mengumpulkan enam potongan tubuh korban yang tercecer di Pasar Besar Malang.

Potongan tubuh itu terdiri dari dua kaki, dua tangan, bagian badan dan bagian kepala korban.

Selain itu, polisi juga temukan tiga surat misterius yang tertulis seperti mantra di dinding dekat TKP.

Dengan petunjuk yang sangat minim, polisi lalu menerjunkan unit K-9 atau anjing pelacak untuk membantu mencari pelaku.

“Anjing ini melacak sampai di Gotong Royong tempat untuk pembakaran mayat di Jalan Laksamana Martadinata. Di sana sempat berhenti, namun karena tidak ada orang kemudian anjing ini kami pulangkan,” ungkap Kapolres Malang Kota AKBP Asfuri, dikutip Grid.ID dari Kompas.com.

Sugeng si pelaku mutilasi ini mengaku bahwa ia memutilasi tubuh korban dengan menggunakan gunting.

Saat ditanya, gaya bicaranya saat menjawab terlihat seperti orang yang memiliki kelainan jiwa.

Sugeng juga ternyata memiliki riwayat kriminal atau kejahatan lainnya.

Diketahui Sugeng dulunya adalah warga Jodipan Wetan Gang III RT 04/RW 06 Kota Malang.

Ia diusir dari kampungnya karena kerap membuat onar.

Narko (51) yang dulunya tetangga Sugeng menuturkan kalau Sugeng pernah membakar rumahnya saat tinggal di Jodipan.

Sugeng juga pernah memotong llidah pacarnya sendiri dan memukul kepala sang ayah menggunakan palu.

“Sugeng ini dari dulu selalu bikin gempar warga. Bahkan, Sugeng juga pernah diusir dari sini (Jodipan) sekitar 7-8 tahun lalu,” ujarnya. (***)

sumber: grid.id

MEDIAKEPRI.CO.ID, Bangka – Seorang pria bernama Andrew meregang nyawa setelah terlibat duel maut selama menit.

Pria berusia 40 tahun ini bersimbah darah karena mengalami sejumlah luka tikam senjata tajam di tubuhnya.

Andrew berduel dengan Anto Iwan (35).

Sebelum ajal menjemput, Andrew sempat menghubungi temannya melalui video call.

Detik-detik terakhir itu disaksikan Haji Ipi (45), seorang warga di lokasi kejadian

Dalam video call itu Andrew menyebutkan bahwa dia akan mati jika tak ditolong.

Duel maut itu terjadi diduga Anto Iwan tak senang Andrew menjalin kasih dengan mantan pacarnya, ZR, janda beranak tiga.

Malam minggu lalu, menjadi kenangan kelam bagi ZR yang harus kehilangan calon suami dengan cara tragis.

Berikut sejumlah fakta duel maut gara-gara cinta segitiga:

Korban sempat video call

“Tolong aku, mati aku kalau tidak ditolong.”

Kalimat itu didengar Haji Ipi (45), warga Desa Sempan, Kecamatan Pemali, Kabupaten Bangka, dari mulut Andrew.

Saat itu, menurut Haji Ipi, Andre yang bersimbah darah melakukan video call.

Tidak beberapa lama, Andrew ambruk dan meregang nyawa.

“Korban roboh, tapi masih sempat mengucap, La Ilaha Illallah (tiada Tuhan selain Allah SWT). Di saat itu pula HP di tangan korban terlepas dari tangan, dan korban tak berdaya (meninggal dunia),” kata Haji Ipi saat mengenang peristiwa yang terjadi pada Sabtu, 11 Mei 2019 malam tersebut.

Haji Ipi merupakan warga yang menyaksikan duel maut antara Anto Iwan (35) dan Andrew (40) pada Sabtu, 11 Mei 2019 malam lalu.

Haji Ipi mengaku awalnya mendengar suara minta tolong pada malam tersebut.

“Saya buka pintu ternyata ada orang berkelahi, bergulat dekat rumah saya, depan Masjid Albina,” kata Haji Ipi Senin, 13 Mei 2019.

“Lalu saya tutup kembali pintu rumah dan ambil HP, saya telepon warga. Sementara dua orang itu (Anto Iwan Vs Andrew) masih tetap bertarung sambil salah satunya berteriak minta tolong,” lanjutnya.

Tak berapa lama, warga pun datang. Dan Haji Ipi kembali keluar rumah.

Dia melihat Andrew bersimbah darah dan berjalan terhuyung menuju arah Jalan Sungailiat-Mentok Desa Sempan.

“Saya lihat korban (Andrew) dalam kondisi terluka, terhuyung berjalan ke arah aspal. Korban sempat videocall (ke temannya), korban video call saat sedang sekarat. Saya lihat korban video call sambil minta tolong ke temannnya di videocall sambil bilang ..tolong…tolong ..tolong aku, mati aku kalau tidak ditolong,” kata Haji Ipi.

Duel lima menit

Anto Iwan mengaku sempat duel dengan Andrew selama lima menit.

Perkelahian itu terjadi setelah Anto Iwan bertemu Andrew di rumah ZR, janda tiga anak yang sempat menjadi pacar Anto Iwan.

Andrew berada di rumah ZR di Desa Sempan, karena keduanya berstatus pacaran.

Andrew roboh setelah ditusuk Anto Iwan sebanyak enam kali.

Ditangkap saat kabur

Polisi menangkap Anto Iwan saat berusaha kabur ke wilayah Kabupaten Bangka Barat.

Kapolres Bangka AKBP Budi Arianto diwakaili Kapolsek Pemali, Ipda Meidy didampingi Kanit Reskrim Aipda KGG Fitrian D pada Senin, 13 Mei 2019 mengatakan sudah memanggil beberapa saksi.

Saksi yang dimaksud, antara lain, warga Desa Sempan dan pihak keluarga korban serta Saksi ZR, janda beranak tiga yang jadi rebutan.

“Kita minta keterangan pada keluarga korban sekitar enam orang, pihak saksi ZR dan juga kawan korban (video call),” kata Kapolsek Pemali Ipda Meidy didampingi Kanit Reskrim Aipda Fitrian, seraya menyatakan, penyidikan kasus ini sedang berjalan.

Pengakuan ZR

ZR tak banyak bicara saat ditemui di rumah ibunya di Desa Sempan, Pemali, Kabupaten Bangka, Senin, 13 Mei 2019.

Di rumah itu pula cekcok mulut terjadi antara Anto Iwan dan Andrew hingga berujung duel maut.

Janda tiga anak itu menyinggung hubungannya dengan Anto Iwan.

ZR mengaku sudah putus hubungan dengan Anto Iwan selama satu bulan.

“Saya punya anak tiga, suami saya (BB) sudah meninggal tahun lalu. Rencananya saya memang mau menikah dengan Andrew setelah lebaran ini,” kata ZR membuka kisah.

“Dengan Anto Iwan memang sempat berhubungan (pacaran) selama delapan bulan, tapi sudah putus. Kemudian satu bulan lebih setelah putus, saya berhubungan (pacaran) dengan Andrew dan berencana menikah setelah lebaran,” lanjutnya.

Serupa disampaikan ibu ZR di tempat yang sama. Dia menyebut Andrew sebagai calon menantu yang lebih baik bagi ZR.

Malang, Tuhan berkehendak lain.

“Padahal saya sudah setuju jika anak saya, ZR menikah dengan Andew. Andrew itu anaknya baik sopan ramah. Baru tiga kali ke rumah kami, sudah menyenangkan,” katanya.

“Baru satu tahun lebih anak saya (ZR) menjanda, sejak ditinggal ruah (almarhum suami ZR).

Anak saya (ZR) kemudian dekat dengan Anto Iwan, tapi kemudian putus hubungan (pacaran). Kemudian baru-baru ini ZR dekat dengan Andrew dan mereka berencana menikah setelah lebaran nanti, tapi ternyata Tuhan tak berkehendak,” imbuhnya menyesalkan kematian Andrew, calon menantu keduanya itu. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Sulastri alias Tari (21), wanita korban pembunuhan di apartemen Habitat, Karawaci, Kabupaten Tangerang, pada Sabtu, 11 Mei 2019, lalu. Korban diketahui telah tiga bulan menjalani profesi sebagai wanita pesanan BO (Booking Order).

Dia kemudian terbunuh oleh lelaki yang melakukan kencan dengannya, Agus Susanto (37).

Telah Ditemukan Mayat Perempuan di Penginapan dengan Tangan Putus dan Disembunyikan di dalam Springbed, Siapakah Dia?

Masih Ingat Mayat di Penginapan dengan Tangan Putus, Nih Identitas dan Kata-kata Terakhir Sebelum Ditemukan Tewas Mengenaskan

Dari penyelidikan sementara diketahui motif pelaku menghabisi nyawa korban untuk menguasai sejumlah harta benda yang tersimpan di kamar Apartemen Habitat nomor 311 tower C, Karawaci, Kabupaten Tangerang.

Hal itu diketahui dari keterangan kekasih korban, Andra Anjaya (30), asal Serpong, Tangerang Selatan. Sulastri itu baru menjalani pekerjaan sebagai wanita panggilan selama 3 bulan terakhir.

“Kalau keterangan kekasihnya dia mengetahui profesi korban. Itu sudah 3 bulan,” kata Kapolsek Kelapa Dua, Kompol Efendi, Senin, 13 Mei.

Siswi SMP yang Ditemukan Jadi Mayat, Ternyata Korban Pemerkosaan dan Pembunuhan Ayah Tiri

Telah Ditemukan Mayat Anak Laki-laki Mengambang, Siapakah Dia?

Dia mengatakan, sebelum pembunuhan terjadi sang kekasih bahkan sempat berkomunikasi dengan korban. Dia (kekasih korban) sendiri juga yang pertama kali mengetahui bahwa kekasihnya itu terbunuh.

“Jadi sebelum ketahuan kekasinya itu terbunuh, dia sempat berkirim pesan singkat. Terakhir dikabarkan kalau korban sedang menerima tamu, namun beberapa saat tak lagi ada jawaban dari sang kekasih. Hingga akhirnya kekasih korban mendatangi kamar apartemen dan menemukan jasad kekasihnya sudah dalam kondisi tidak bernyawa,” tukasnya.

Dari kamar tersebut, pelaku berhasil mencuri sejumlah harta benda korban berupa perhiasan, uang tunai Rp 5 juta dan dua handphone milik korban. (***)

sumber: merdeka.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Kupang – Seorang pria bernama Gilman (40) babak belur setelah dihajar warga gara-gara mengancam anggota Polres Timor Tengah Utara (TTU) menggunakan senjata tajam sangkur.

“Anggota polisi yang diancam pelaku menggunakan sangkur, yakni Brigpol Rustam. Kejadiannya tadi sekitar pukul 11.00 Wita,” kata Kabid Humas Polda NTT, Kombes Jules Abraham Abast, Sabtu, 11 Mei 2019.

Kejadian itu bermula saat Rustam mengendarai sepeda motor sepulang menjemput anaknya dari sekolah.

Ketika melewati Jalan El Tari kilometer 1, motor Rustam hampir ditabrak Gilman yang juga mengendarai sepeda motor dari arah berlawanan. Rustam lalu menghampiri Gilman dan menegurnya.

“Brigpol Rustam lalu memberi teguran, agar pada saat berkendaraan lebih hati-hati. Namun Gilman, tidak terima dengan teguran itu dan langsung mencabut dua buah sangkur dari pinggang,” kata Jules.

Tindakan Gilman tersebut, membuat Rustam yang membawa anak-anaknya panik.

Pada saat yang bersamaan, datanglah Brigpol Agus Saku, Anggota Satuan Reskrim Polres TTU. Agus berusaha menenangkan Gilman, tetapi tidak dihiraukan.

Sadar kondisi semakin berbahaya, Agus memutuskan menelepon Kepala SPK Aiptu Abilio Fallo untuk datang ke lokasi kejadian dan membawa sejumlah personel.

Saat sejumlah personel tiba di lokasi, massa sudah mengelilingi Gilman.

Situasi kian tak terkendali sehingga Brigpol Melki Ola melepaskan tembakan peringatan dengan senjata SS1.

Tembakan tersebut membuat Gilman membuang pisaunya.

Massa lalu menganiaya Gilman menggunakan tangan kosong dan batu hingga mengakibatkan Gilman mengalami luka robek di bagian wajah.

Polisi membubarkan massa. Gilman pun dilarikan ke rumah sakit untuk diberi perawatan medis.

“Yang bersangkutan sementara ini sudah ditangani oleh anggota Polres TTU dan diamankan di Mapolres TTU,” ujarnya. (***)

sumber: kompas.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Palembang – Terungkap kata-kata terakhir Vera Oktaria kasir cantik Indomaret yang tewas dimutilasi di sungai Lilin, Kota Palembang

Kata-kata terakhir Vera Oktaria itu diungkapkan oleh Arina yang merupakan kepala toko indomaret tempat kasir cantik itu bekerja

Arina mengungkapkan saat terakhir kali ketemu Vera Oktaria cuma bilang ‘pulang bu’

BERITA TERKAIT

Telah Ditemukan Mayat Perempuan di Penginapan dengan Tangan Putus dan Disembunyikan di dalam Springbed, Siapakah Dia?

Manurut Arina, Vera Oktaria baru satu minggu bekerja di indomaret yang dipimpinnya.

“Kebetulan saat terakhir ketemu saya shift sore sedangkan vera shift pagi jadi kami sempat ketemu, dia juga biasanya kalo pulang kerja naik motor sendiri,” ujar Arina

Arina juga menjelaskan bahwa ibu korban juga sempat datang malam hari menanyakan keberadaan Vera, sampai esok harinya pun ia tidak masuk lagi.

Napi Buat Kerusuhan dengan Membakar Rutan, Diduga Ini Pemicunya

“Kami tidak menyangka bahwa korban mutilasi itu Vera, kami sendiri dapat info dari media sosial dan pesan whatsApp berantai,” ujar Arina

Vera Oktaria (20) perempuan cantik kasir minimarket di Palembang ditemukan tidak bernyawa di sebuah hotel di Sungai Lilin Musi Banyuasin, sekitar 132 kilometer dari Kota Palembang.

Berikut kronologi kejadiannya berdasarkan waktu sejak dikabarkan hilang sampai ditemukan.

  1. Selasa 7 Mei 2019, Tampak Gelisah

Malam itu saat sedang bekerja di Indomaret Jl Jenderal Sudirman, Vera Oktaria terlihat gelisah.

Rekan tempatnya bekerja melihat paling tidak ada puluhan kali telepon masuk ke ponselnya.

“Malam itu saya mendengar telepon korban berdering kurang lebih 10 kali, terdengar korban mengangkat telepon dan berkata ‘tidak bisa, tidak bisa’ namun masih saja terdengar bunyi handphone nya hingga dia pulang bekerja,” ujar Dwi teman sekerja Vera Oktaria.

Pukul 23.30, Vera Oktaria pamit pulang.

Sekitar satu jam kemudian, keluarga Vera Oktaria datang ke toko dan bertanya tentang keberadaan Vera yang belum juga pulang ke rumah.

  1. Selasa 8 Mei 2019, Check In Hotel

Seorang pria berinisial D check in kamar Penginapan Sahabat Mulya, Jalan PT Hindoli, Kelurahan Sungai Lilin Kecamatan Sungai Lilin, Kabupaten Muba.

“Pemesan kamar tanpa menyertakan KTP saat menginap, menurut saksi ada dua orang laki-laki dan satu perempuan, diduga korban,” kata Supriadi.

Supriadi menjelaskan, pria tersebut memesan kamar pada Rabu, 8 Mei 2019.

  1. Jumat 10 Mei 2019, Mayat Ditemukan

Petugas penginapan mencurigai kamar nomor 06 karena bau busuk.

Sehari sebelumnya petugas penginapan juga sudah curiga namun tak berbuat apa-apa. Baru keesokan harinya mereka menghubungi polisi.

Nurdin yang merasa curiga langsung mengetuk pintu kamar dan mencoba untuk membuka pintu tersebut tapi tidak ada respon dari penghuni kamar.

Karena dikira tidak terjadi apa-apa Nurdin langsung menghubungi orang tuanya untuk menanyakan keberadaan tamu tersebut yang tidak kembali setelah membawa kunci tersebut.

“Saya curiga waktu saya bersihkan lantai mencium bau busuk, nah baru besoknya (hari ini) bau busuk itu semakin kuat langsung saya hubungi Polsek Sungai Lilin.”

“Setelah pihak polsek Sungai lilin datang, kamar tersebut baru di buka. Ditemukan sesosok wanita di atas ranjang dalam keadaan tanpa busana dengan kondisi tangan terpotong jenazah membengkak ditutupi dengan selimut,” ujar Nurdin. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Surabaya – Oknum pilot Lion Air AG (29) yang melakukan penganiayaan kepada pegawai La Lisa Hotel Surabaya AR (28) resmi ditahan di Mapolrestabes Surabaya.

Hal itu disampaikan Kepala Bidang Humas Kepolisian Daerah Jawa Timur Kombes Pol Frans Barung Mangera Kamis, 9 Mei 2019.

“Tadi malam sudah kita tahan, terhitung hari ini sudah kita tahan di Mapolrestabes. Nanti kita akan live,” kata Barung.

Barung memastikan, AG sudah ditetapkan sebagai tersangka.

Penetapan AG sebagai tersangka, kata Barung, setelah polisi memeriksa video pemukulan pilot Lion Air terhadap pegawai La Lisa Hotel Surabaya, AR.

“Kalau dilihat dari video itu penganiayaan,” ucapnya.

Jalin Silahturahmi Melalui Safari Ramadan

Sebelumnya, Barung menyebut, Polda Jatim memiliki sejumlah alasan mengapa kasus penganiayaan oknum pilot kepada pegawai hotel di Surabaya itu diambil alih.

Salah satu alasannya adalah kepolisian tidak ingin ada intervensi dalam menangani perkara tersebut.

Selain itu, kasus tersebut juga menjadi perhatian publik luas.

menyatakan, Polda Jatim berkomitmen untuk menangani kasus tersebut secara serius.

Buka Stand Bazar Ramadhan di Lahan Pribadinya, Ini Harapan Via Vallen

Status AG yang kini masih berstatus saksi, kemungkinan bisa naik statusnya menjadi tersangka.

“Polda Jatim akan melakukan penanganan kasus ini secara serius. Artinya kita akan panggil saksi (AG) dan kemungkinan akan kita jadikan tersangka,” ujar dia.

Kronologi pemukulan, pada Jumat, 3 mei 2019 lalu, pegawai La Lisa Hotel, Surabaya, AR (28) yang diduga menjadi korban pemukulan pilot Lion Air AG (29), mendatangi Polrestabes Surabaya untuk melaporkan tindak kekerasan tersebut.

Cuaca Buruk, Benarkah Petir Dapat Menjatuhkan Pesawat?

AR bersama pihak hotel dan kuasa hukumnya, melaporkan kasus pemukulan itu di SPKT Polrestabes Surabaya.

Oleh polisi, AR juga sempat dimintai keterangan sekitar lima menit.

Pihak kepolisian kemudian menerbitkan laporan polisi nomor STTLP/B/440/V/Res.1.6/2019/SPKT/JATIM/RESTABESSBY.

Kejadian itu terjadi pada Jumat, 30 April 2019 lalu sekitar pukul 05.28 WIB di La Lisa Hotel, Jl Raya Nginden Nomor 82, Surabaya.

Kasus penganiayaan oknum pilot Lion Air kepada pegawai hotel itu ramai beredar di dunia maya.

Video CCTV yang viral itu, menampilkan seorang berbaju putih menganiaya dan melayangkan pukulan kepada seorang pegawai hotel di Surabaya.

Pemukulan tersebut, berdasarkan identifikasi kepolisian, diduga kuat dilakukan oleh oknum pilot Lion Air, di Hotel La Lisa, Nginden, Surabaya, Selasa, 30 April 2019 lalu.

Keterangan yang didapat kepolisian, aksi oknum pilot tersebut, diduga dipicu dari rasa kecewa dengan pelayanan Hotel La Lisa, yang dilakukan oleh pegawai hotel berinisial AR tersebut.

Perlakuan yang dilakukan oleh AG kepada AR tersebut kini ditangani Polda Jatim menggunakan Pasal 351 ayat 3 KUHP tentang dugaan penganiayaan dan perbuatan tidak menyenangkan. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Selain karena kecewa lantaran hamil di luar nikah, sopir laundry berinisial MS (23) nekat menghabisi bayi kandungnya, KQS, 3 bulan karena dalam pengaruh sabu. Sadisnya, sebelum dibunuh bayi tersebut mengalami penyiksaan kakinya dipelintir hingga patah.

“Ini bukan yang pertama. Sebelumnya saat korbannya berumur 1,5 bulan. Bayi itu sudah dipelintir kakinya, hingga membuatnya patah tulang,” kata Kapolsek Kebon Jeruk, AKP Erick Sitepu, Senin, 6 Mei 2019.

Sebelumnya Bayi berumur tiga bulan, KQS, harus meregang nyawa di tangan ayah kandungnya, MS. Ia tewas usai disiksa di rumahnya Kelurahan Sukabumi Utara, Kecamatan Kebon Jeruk Jakarta Barat, Kamis 2 Mei 2019 kemarin.

Suami Bunuh Istri, Lalu Lukai Anak dan Mertuanya, Ini Kata Tetangga

Kepada polisi, MS mengakui saat menyiksa anaknya itu dirinya tengah dipengaruhi narkoba jenis sabu. Hal itu terbukti dengan tes urine yang menemukan pelaku positif metaphetamine.

Dari narkoba itu, pelaku yang emosi langsung memelintir bagian tubuh si anak.

Kejadian itu dilakukan saat istrinya atau ibu kandung KQS, SK (22) pergi. SK kemudian tak menyadari bila luka yang dilakukan si anak terjadi karena kelakuan si suami. Ia malah menyangka patahan tulang itu karena pola pengasuhan yang salah.

Tetangga Dengar Suara Bayi Menangis dari Pagi, Setelah Dicek Sang Ibu Tewas Tergantung Disampingnya

“Tulang patah sendiri kami ketahui setelah melakukan rontgen. Setelah di intograsi pelaku baru kami mengetahui kejadian setengah bulan lalu,” ucapnya.

Sementara terhadap kejadian yang terjadi saat ini. Erick mengatakan pelaku juga memanfaatkan kelengahan istrinya. Kala itu si Istri pergi ke pasar dan menitipkan KQS ke MS. Meskipun didalam rumah terdapat dua orang tua SK. Namun karena keterbatasan penglihatan, membuat keduanya tak bisa mengawasi. “Disitulah MS menyiksa anaknya membabi buta hingga menyiksa korbannya,” ucapnya.

Dari hasil penyidikan sementara diketahui pembunuhan yang dilakukan MS dilakukan pada Sabtu, 27 April 2019 lalu. Karena itulah polisi bakal memeriksa Dokter Puskesmas Kebon Jeruk. Ia diduga membiarkan kasus ini, meskipun mengetahui kejadian ini.

Siswi SMP yang Ditemukan Jadi Mayat, Ternyata Korban Pemerkosaan dan Pembunuhan Ayah Tiri

“Saat ini kami masih fokus penanganan penyidikan terhadap pelaku. Kemudian untuk dari pihak Puskesmas sendiri, beberapa sudah kami mintai keterangan ya. Memang perlu diketahui dari dokter sendiri telah membuat rekam medis,” ucapnya.
Karena itu, MS mengatakan pihaknya berencana akan memeriksa dokter itu esok hari. Sebab untuk saat ini, si dokter sedang berpergian keluar kota. (***)

sumber: sindonews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Purworejo – Seorang pria di Purworejo, Jawa Tengah diduga tega menghabisi nyawa istrinya sendiri. Tak hanya itu, pelaku juga melukai kedua mertua dan anaknya.

Pelaku adalah Gunardi (36) warga Desa Panggel Dlangu, Kecamatan Butuh, Purworejo.

Gurnadi diduga tega mengabisi nyawa istrinya Siti Sarah Apriyani (32) bahkan melukai kedua mertua yakni Muh Wahyono (65) dan Endang Susilowati (50) serta anaknya sendiri Kamila Azka Nisa (10), Ahad, 5 Mei 2019.

Jelang Ramadhan, Harga Bawang Putih Tembus Rp 80.000/Kilogram

“Iya, diduga pelakunya adalah suaminya sendiri. Korban meninggal yakni istrinya dan yang luka-luka mertua serta anak dari pelaku,” ungkap Kasat Reskrim Polres Purworejo, AKP Haryo Seto Liestiyawan.

Sebelum peristiwa itu terjadi, beberapa tetangga korban mendengar kegaduhan dan teriakan minta tolong dari lokasi kejadian. Lokasi kejadian merupakan rumah mertua pelaku, Muh Wahyono.

Saat Akan Mendarat, Pesawat Boeing 737 Meluncur Keluar Landasan Pacu dan Berakhir di Sungai, Ini yang Terjadi

Selang beberapa saat, para tetangga berdatangan dan melihat korban sudah tergeletak di lantai. Melihat kejadian tersebut, tetangga korban langsung menghubungi polisi. Pelaku yang saat itu masih bersembunyi di dalam rumah langsung dibekuk oleh petugas.

“Pelaku sudah kami amankan beserta barang bukti sebilah parang,” lanjutnya.

Sang istri meninggal di lokasi kejadian lantaran mengalami luka parah bekas sabetan senjata tajam di kepalanya, sedangkan korban lain mengalami luka pada bagian tangan, kaki dan bahu.

Tetangga Dengar Suara Bayi Menangis dari Pagi, Setelah Dicek Sang Ibu Tewas Tergantung Disampingnya

Semua korban kemudian dilarikan ke RS dr Tjitro Wardojo Purworejo.

Hingga kini, polisi masih mendalami motif apa yang menyebabkan pelaku tega melakukan tindakan itu. Untuk penyelidikan lebih lanjut, pelaku diamakan di Mapolres Purworejo.

“Motifnya apa masih kami dalami, yang jelas mereka (korban dan pelaku) masih dalam proses perceraian,” pungkasnya. (***)

sumber: detik.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Sanggau – Tersangka dugaan pembunuhan siswi SMP Tayan Hulu, inisial AT (16) ternyata ayah tiri korban inisial RW.

Hal itu disampaikan Kapolres Sanggau, AKBP Imam Riyadi didampingi Kasat Reskrim Polres Sanggau, AKP Haryanto, Tim Dokter Forensik Polda Kalbar, dr Monang Siahaan saat menggelar prease release terkait pengungkapan kasus pembunuhan.

Kegiatan berlangsung di Polres Sanggau, Rabu, 1 Mei 2019.

Kapolres Sanggau, AKBP Imam Riyadi menjelaskan kronologis kejadian yakni, pada Selasa, 30 April 2019 satu diantara warga Kecamatan Tayan Hulu, inisial JR yang pergi keladang mencium bau yang tidak enak.

“Setelah dicari ternyata disitu melihat kaki manusia yang sudah tertimbun dengan tanah. Kemudian saksi menginformasikan kejadian itu ke Polsek Tayan Hulu, ”katanya.

Kemudian, tim dari Polres Sanggau dan Polsek mendatangi TKP dan melakukan olah TKP serta mengindentifikasi dan mengumpulkan barang bukti dan informasi yang ada di TKP.

“Sehingga di TKP juga kita amankan beberapa barang bukti, berupa kayu, batu dan juga seragam korban. Setelah diidentifikasi dan mencari keterangan, mayat yang sudah tertimbun inisial AT yang sudah tiga hari tidak kembali, ”ujarnya.

Setelah itu, jenasah dibawa ke Puskesmas Tayan Hulu. Dan setelah melakukan upaya mengevakuasi korban, langsung melakukan komunikasi kepada Bidang Dokes Polda Kalbar.

“Untuk penangganan jenasah untuk dilakukan autopsi. Dan hari ini sudah ada tim dokter forensik Polda Kalbar yang telah melaksanakan autopsi terhadap AT, ”tegasnya.

Kapolres menegaskan, pihaknya secara maraton melakukan pemeriksaan terhadap saksi-saksi, termasuk juga dilakukan pengumpulan keterangan dari pihak sekolah, lantaran saat itu korban masih menggunakan seragam pramuka.

“Kita periksa saksi-saksi termasuk juga teman dekat, kerabat, ibu kandung korban, wali kelas korban dan dugaan tersangka RW (Ayah tiri korban).

Diperoleh juga keterangan para saksi yang mengarah kepada RW. Dan yang bersangkutan mengakui bahwa pelaku pembunuhan adalah RW, ”jelasnya.

Sebelum menghabisi korban, RW sempat menyetubuhi korban di TKP. Dan sebelumnya juga sudah dilakukan sebanyak tiga kali, dua kali dilakukan dirumah pada tahun 2018 dan sekali dilakukan TKP.

“Kita juga mendapatkan informasi dari wali kelas korban, dari keteranganya memang melihat bahwa korban ini seperti tekanan batin sehingga disekolah itu cenderung untuk diam, ”jelasnya.

Pelaku juga yang kerap mengantar jemput korban saat sekolah. Dan saat itu juga, pelaku membawa korban kesalah satu TKP galian tanah.

“Disitulah pelaku menyetubuhi korban, karena juga sudah cek cok mulut. Korban merasa masa depanya tidak ada lagi sehingga menuntut bagaimana pertanggungjawaban pelaku terhadap korban. Kemudian korban didorong dan jatuh ke parit dan langsung melakukan penyekikan, disitu ada juga batu dan kayu dan sepeda motor sebagi alat angkutnya, ”jelasnya.

Barang bukti yang diamankan berupa sepeda motor, batu yang digunakan untuk melakukan pemukulan maupun kayu yang digunakan untuk menimbun termasuk juga baju korban yang sudah kita amankan.

“Ancaman hukumam bisa seumur hidup, karena juga ini kita lapis dengan UU perlindungan anak. Tentunya ini menjadi efek jera dan pelajaran bagi kita. Dan pihak korban juga rela untuk di autopsi untuk mengungkap. Dan ini menjadi pemahaman bagi masyarakat kita, dalam penyidikan perlu sekali untuk dibuktikan secara ilmiah, sehingga dokter dari forensik memberikan bantuan dalam penyidikan, ”tegasnya.

Kapolres menambahkan, pelaku berhasil diamankan kurang dari 24 jam. Untuk itulah, Kapolres mengucapkan terima kasih kepada seluruh masyarakat yang turut serta dalam membantu pengungkapan ini.

“Dan kerjasamanya yang baik antar masyarakat khususnya di wilayah Kecamatan Tayan Hulu yang sudah memberikan informasi, masukan demi kecepatan terungkapnya kasus pembunuhan ini. Mudah-mudahan kedepan tidak terulang kembali kejadian seperti ini, ”tegasnya.

Sementara itu, Tim Dokter Forensik Polda Kalbar, dr Monang Siahaan menyampaikan, pihaknya mendapatkan informasi lisan melalui telekomunikasi yang ditujukan ke Bid Dokes Polda Kalbar, untuk meminta bantuan mengungkap misteri kematian seorang wanita di wilayah Kabupaten Sanggau.

“Sore kemarin langsung kita bentuk tim untuk meluncur langsung ke Sanggau. Surat yang memang saya baca dengan benar, memohon untuk melakukan pemeriksaan dalam dan luar untuk melakukan autopsi namanya, ”ujarnya.

Selain itu, ada surat persetujuan tindakan autopsi yang ditandatangani bermatrai enam ribu dari pihak penyidik, keluarga ataupun saksi yang ada.

“Setelah dilakukan autopsi tadi, saya banyak menemukan beberapa kejanggalan yang akan saya tuangkan di visum et refertum. Nah saya tidak punya wewenang dan hak untuk menjelaskannya kepada teman media. Tapi untuk beberapa hari kedepan bisa bertanya kepada penyidik yang melakukan menyelidiki kasus ini, ”tegasnya.

Beberapa kelainan yang ditemukan yang tidak bisa diungkapkan secara detail yaitu dibagian kepala, kemaluan dan lain-lainya.

Geger Penemuan Mayat Siswi SMP

Sebelumnya Warga di Dusun Peruan Dalam, Desa Peruan Dalam, Kecamatan Tayan Hulu, digegerkan dengan penemuan mayat seorang perempuan inisial AT (16) di dalam parit dengan menggunakan seragam pramuka oleh warga, Selasa 30 April 2019.

Ditemukanya mayat tersebut tak jauh dari permukiman warga di Dusun Peruan Dalam, Kecamatan Tayan Hulu, atau sekitar 1 KM dari SMP Tayan Hulu.

Kepala Desa Peruan Dalam, Kecamatan Tayan Hulu, Robert Jonshon membenarkan ditemukanya mayat perempuan berusia 16 tahun tersebut. Bahkan dirinya juga ikut ke TKP ditemukanya mayat tersebut.

“Betul tadi pagi sekira pukul 09.00 Wib dijumpai warga dengan mencium bau busuk di TKP. Dia siswi SMPN 05 Tayan Hulu, Kelas 8 B, ”katanya melalui telpon selulernya, Selasa, 30 April 2019 pukul 20.35 Wib.

Kades menjelaskan, Sebelumnya korban pulang sekolah pada Sabtu 27 April 2019 siang. Sejak itu tidak ada sampai di rumah.

“Dan baru digegerkan tadi pagi pukul 09.00 Wib, dan pihak Kades menerima laporan sekira pukul 09.20 Wib dari penemu bau busuk pertama oleh tiga orang warga, ”pungkasnya. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.D, Palembang – Nasib sial menimpa Usman Hery (35), ketika menagih utang di Jalan Teratai Putih, Kota Palembang, Sumatera Selatan. Hery ditembak temannya sendiri hingga tewas karena menolak bayar.

Aksi penembakan itu diduga terjadi pagi tadi Pukul 05.30 WIB. Menurut warga di kawasan eks lokalisasi tersebut, korban ditembak saat menagih utang.

“Tadi pagi sempat dengar ada ribut-ribut di sekitar lokasi. Nggak lama kok dengar suara tembakan,” terang seorang warga, Marzuki saat ditemui di RS Bhayangkara Palembang, Ahad, 28 April 2019.

Korban Banjir Bengkulu, 10 Orang Meninggal, 8 Hilang dan Belasan Ribu Warga Terpaksa Mengungsi

Tak lama setelah penembakkan, warga menemukan Usman tewas bersimbah darah. Usman mengalami luka tembak tepat di bagian leher.

“Luka bekas tembakan di leher. Sempat dibawa ke rumah sakit, tapi sudah tidak tertolong. Ini tadi suruh rujuk ke rumah sakit Bhayangkara dan mau di periksa,” katanya.

“Katanya tadi korban mau nagih utang. Tapi pelaku nggak mau bayar, terus ya ditembak,” katanya.

Bruk.. Model Ini Terjatuh saat Peragakan Busana, Setelah Itu sang Model Pun Dinyatakan Meninggal Dunia

Sementara Kapolsek Sukarami, Kompol Rivanda membenarkan peristiwa terjadi pagi tadi. Penembakan terjadi di daerah eks lokalisasi atau tepat di depan Cafe Golden Star.

“Keterangan beberapa saksi, bila pelaku ini punya utang kepada korban. Namun, saat korban menangih, pelaku ini malah marah kepada korban. Sampai akhirnya, pelaku menembak korban,” ujar Rivanda.

Saat ini pelaku masih dalam pengejaran pihak kepolisian karena si pelaku kabur usai menembak korban. Identitas pelaku pun sudah diketahui polisi.

“Pelaku dalam pengejaran dan memang korban sama pelaku sudah saling kenal. Namun untuk masalah utang apa masih kami selidiki,” tutupnya Rivanda. (***)

sumber: detik.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Cibinong – Sidang vonis terdakwa kasus pembunuhan Abdullah Fithri alias Dufi digelar di Pengadilan Negeri Cibinong, Kabupaten Bogor, Selasa, 23 April 2019 sore.

Majelis hakim menjatuhkan hukuman mati kepada dua terdakwa.

Vonis mati ini dijatuhkan kepada Muhammad Nurhadi dan Istrinya, Sari Murniasih.

“Ma Saya Sudah di Stasiun” Centang Satu WA Dufi yang Mayatnya Ditemukan dalam Drum

Dalam sidang putusan yang dipimpin oleh Hakim Ketua, Ben Ronald, bahwa terdakwa terbukti secara sah bersalah melakukan tindak pidana pembunuhan berencana.

“Kedua terdakwa Muhammad Nurhadi alias Hadi bin Muryanto dan juga Sari Murniasih telah terbukti secara sah telah melakukan tindak pidana pembunuhan serta melakukan pembunuhan berencana. Menjatuhkan pidana terhadap terdakwa-terdakwa tersebut dengan pidana mati,” kata Hakim Ketua saat membacakan putusan diikuti satu kali ketukan palu.

Kronologi Pembunuhan Pemandu Lagu yang Mayatnya Disembunyikan dalam Lemari

Terdakwa ketiga yakni Dasep alias Yudi yang berperan membantu dalam pembunuhan tersebut divonis hukuman 10 tahun.

Menurut pantauan, usai hakim membacakan putusan tersebut Nurhadi dan Sari Murniasih di ruang persidangan langsung berpegangan tangan sambil terisak di hadapan Majelis Hakim.

Telah Ditemukan Mayat Terbungkus Kain Sprei di Dalam Tong Plastik, Siapakah Dia? Ini Identitas Korban dan Pelakunya

Telah Ditemukan Mayat Terbungkus Kain Sprei di Dalam Tong Plastik, Siapakah Dia?

Isak tangis keduanya juga terus terjadi ketika Nurhadi dan Sari meninggalkan ruang persidangan dan memasuki ruang tahanan.

Juru Bicara PN Cibinong, Chandra Gautama, mengatakan yang menjadi pertimbangan hakim pada putusan mati ini adalah karena Nurhadi dan Sari merupakan pelaku utama pembunuhan berencana.

Pertimbangan lainnya, pembunuhan ini dinilai Majelis Hakim sebagai pembunuhan yang sadis.

Sedangkan Dasep hanya membantu membawa mayat korban.

“Mengenai tata cara pembunuhannya berdasarkan pertimbangan putusan dijelaskam bahwa pembunuhan terjadi di rumah kontrakan Muhammad Nurhadi dan Sari Murniasih. Dilakukan dengan tusukan pisau ke dada sebelah kiri dua kali. Itulah yang menyebabkan matinya Dufi,” ucap Chandra.

Diberitakan sebelumnya, Abdullah Fithri Setiawan alias Dufi ditemukan tewas oleh seorang pemulung dengan kondisi berada di dalam drum biru di kawasan Industri Kembangkuning, Klapanunggal, Kabupaten Bogor, pada Ahad, 18 November 2018.

Almarhum Dufi dimakamkan di TPU Budi Dharma, Semper, Jakarta Utara, Senin, 19 November 2018. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Indralaya – Kepergok massa saat sedang melakukan aksi penjambretan terhadap seorang mahasiswi yang kebetulan tengah melintas di jalan poros menuju gerbang Perkantoran Tanjung Senai Indralaya.

Akibatnya, dua orang pelaku penjambretan yang diketahui bernama Safrizal (23) dan Suharto (16) terdesak bersama sepeda motor yang dikendarainya ia pun memilih nekad untuk menceburkan diri ke rawa lebak yang ada di Tanjung Senai Indralaya Kabupaten Ogan Ilir (OI).

Lalu kedua pelaku penjambretan yang tercatat berdomisili di Desa Sukaraja Lama Kecamatan Indralaya Selatan Kabupaten OI ini, berenang hingga ke tengah lebak.

Waspadai Infeksi Saluran Kemih di Musim Panas, Nih Tipsnya

Merasa kelelahan sehingga mereka mendekati perahu yang ada di tengah lebak tersebut untuk minta pertolongan dibawa ke tepi daratan.

Saat berusaha dibawa ke tepi trotoar jalan poros Tanjung Senai, sejumlah massa yang sudah menunggu keduanya langsung menghampiri dan mendaratkan pukulan ke arah wajah kedua pelaku.

Beruntung aksi tersebut sempat dilerai oleh sejumlah petugas Sat Pol-PP Pemda Kabupaten OI yang kebetulan sedang melintas. Akhirnya, guna menjalani proses penyidikkan lebih lanjut kedua pelaku bersama barang bukti hasil penjambretan berupa satu unit ponsel merk Oppo langsung dibawa ke ruang penyidik Sat Reskrim Polres OI.

Cantiknya Nagita Slavina Foto Bareng BLACKPINK

“Kedua tersangka menjalankan aksi pencurian terjadi pada Senin, 22 April 2019 lalu TKP di jalan poros menuju perkantoran Pemda Tanjung Senai Indralaya, tepatnya dipersimpangan Desa Sakatiga,” ungkap Kapolres OI AKBP Ghazali Ahmad SIK MH didampingi Kanit Pidum IPDA Rahmat Djakatara, Selasa, 23 April 2019.

Modus pencurian yang dilakukan oleh kedua tersangka dijelaskan IPDA Rahmat yakni dengan cara kedua pelaku berboncengan menggunakan sepeda motor Honda Revo yang langsung memepet motor korban seorang mahasiswi Nisa Hayati Siregar (20) warga Jalan Bhakti Guna Indralaya.

Lalu kedua pelaku langsung mengambil satu unit ponsel merk Oppo A3 milik korban yang sedang diletakan di saku sepeda motor. Selanjutnya kedua pelaku langsung melarikan diri membawa hp milik korban, atas kejadian tersebut korban melaporkannya ke SPKT Polres Ogan Ilir.

“Salah satu dari pelaku merupakan anak dibawah umur,” ucap Kanit IPDA Rahmat Djakatara.

Atas perbuatannya, ditegaskan Kanit, kedua tersangka dijerat pasal 363 tentang pencurian dengan ancaman hukuman diatas lima tahun penjara.

Dihadapan penyidik, kedua pelaku Suharto dan Safrizal mengakui perbuatannya telah melakukan aksi penjambretan terhadap korban seorang mahasiswi.

Salah seorang tersangka yakni Safrizal mengaku terpaksa melakukan tindakan tersebut karena terdesak. “Aku ngelakuke ini karena terdesak pak,” kilah bapak satu anak ini. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Serang – TIM Jatanras Satreskrim Polres Serang menembak dua rampok spesialis minimarket. Keduanya ditembak saat ditangkap di tempat persembunyiannya di Kecamatan Cisoka, Kabupaten Tangerang dan Kecamatan Cipanas, Kabupaten Lebak.

“Iya, kami terpaksa melakukan tindakan tegas kepada tersangka karena melawan saat ditangkap petugas,” kata Kapolres Serang Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Indra Gunawan kepasa wartawan, Ahad 21 April 2019.

Lakukan Pelepasliaran Benih Lobster, Menteri Susi: Berani Tangkap Lobster Bertelur, Saya Tenggelamkan!

Rifat Alhamidi mengabarkan, kedua tersangka yakni Piki Rifansyah (33) dan Aang Gozali (33) warga Kampung Lurah, Desa Cipayung, Kecamatan Cipanas, Kabupaten Lebak. Piki ditembak di bagian mata kaki kiri. Sedangkan Aang di bagian betis.

Menurut Kapolres, kedua tersangka merupakan spesialis rampok mini market yang sudah beroperasi tak hanya di Kabupaten Serang. Aksi kejahatan yang diotaki tersangka Piki ini, juga di sejumlah tempat di Ciawi, Jawa Barat dan di Kabupaten Tangerang.

Bayi Berusia 5 Bulan Itu Akhirnya Meninggal Dunia Setelah Dikubur Hidup-hidup Oleh Ibunya, Ini Kronologinya

“Tersangka sudah menjadi buruan petugas dan sempat beberapa kali lolos dalam penyergapan. Dalam aksinya, kawanan ini dikenal bersenjatakan golok serta tidak segan-segan melukai korbannya jika melakukan perlawanan,” ujar Kapolres.

Aksi terakhir Kelompok Cipanas ini terjadi di minimarket Jalan Raya Serang-Jakarta tepatnya di Kampung Pabuaran, Desa/Kecamatan Kragilan, Kabupaten Serang, Senin, 1 April 2019 sekitar pukul 04.30. Dalam aksi ini, tersangka Piki dan Aang menggondol uang Rp80 juta dari dalam brankas serta melukai satu karyawan.

Kartini Masa Kini, Ibu Adalah Segalanya Buat Anaknya

“Modusnya, pelaku masuk ke minimarket menggunakan helm dengan masing-masing membawa sebilah golok untuk mengancam karyawan agar membuka berangkas penyimpanan uang, dan membawa semua uang yg berada di brangkas dan dalam kasir,” tuturnya. (***)

sumber: galamedianews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Setelah tiga minggu dirawat di rumah sakit, bayi berusia 5 bulan meninggal dunia. Sebelumnya bayi bernama Dian Asrian dikubur hidup-hidup oleh ibu yang melahirkannya.

Dian Asrian, bayi berusia tujuh bulan yang dikubur hidup-hidup oleh ibunya itu, meninggal dunia, Sabtu, 20 April 2019.

Korban sempat menjalani perawatan intensif di ruang PICU NICU RSUD Bayu Asih Purwakarta.

Korban meninggal dunia setelah dirawat oleh tim medis lebih dari tiga minggu dengan sejumlah alat medis yang menempel di tubuh mungilnya.

Bahkan untuk menopang hidupnya karena mengalami koma, selama 24 hari Dian terus ditopang oleh obat pemicu jantung.

Kabar meninggal dunianya Dian dibenarkan oleh Ketua RW rumah korban di Desa Pusakamulya, Kiarapedes, Purwakarta, Yayat Ahmad Hidayat saat ditemui di sekitar rumah duka.

“Saya dapat kabar anaknya Ujang yang dirawat di rumah sakit meninggal dunia pukul 09.00 WIB,” kata Yayat saat dikonfirmasi.

Menurut informasi yang didapatnya, Ahmad mengatakan bahwa bayi mungil itu meninggal dunia karena pernafasannya terganggu.

Usai dinyatakan meninggal dunia, korban langsung dibawa ke rumah duka dan tiba sekitar pukul 10.00 WIB.

Sesampainya jasad korban ke rumahnya, tidak lama dari itu langsung diurus untuk segera dimakamkan.

“Jelang 15 menit tiba di rumah duka, langsung dimakamkan tidak jauh dari rumah. Semua warga di sini ikut mengantar ke makam” ucapnya.

Terjadi Akhir Bulan Lalu

Bayi perempuan dari pasangan W (35) dan Ujang Solihin itu dikubur hidup-hidup di belakang rumahnya, Rabu, 27 Maret 2019.

W diduga melakukan hal tersebut karena mengalami gangguan jiwa. Anak keduanya itu ditemukan di belakang rumah oleh bibinya, Siti Atikah.

Siti Atikah curiga karena pelaku menggali dua lubang di belakang rumah. Saat ditanya untuk apa, pelaku hanya menjawab akan menanam tanaman.

Karena curiga, Siti Atikah menggali lubang dan menemukan keponakannya dalam keadaan lemas dan kotor.

Bayi yang lahir pada November 2018 itu kemudian dirawat di rumah sakit. Warga Kampung Pasirmuncang, Desa Pusakamulya, Kiarapedes, Purwakarta itu diduga mengalami depresi saat proses kehamilannya.

Kapolsek Kiarapedes, Iptu Toto Herman Permana mengatakan pelaku mengalami gangguan jiwa saat usia kandungannya sekitar tujuh bulan.

W mengubur bayinya sendiri ketika sang suami sedang kerja di kebun.

W mengaku kepada saudaranya bahwa sang bayi hilang. Tetangga dan keluarga pelaku mulai melakukan pencarian terhadap bayinya.

Siti Atikah memeriksa belakang rumah W. Ia curiga karena sehari-hari W selalu bersama bayi. Ia melihat ada sesuatu yang menyembul dari balik tanah yang sebelumnya digali oleh W.

“Saat diperiksa ke belakang rumah ditemukan ada dua galian tanah, dan salah satunya itu ada korban. Terlihat karena ada tangan dan kain putih di sekitar galian tanah,” ucapnya.

Setelah digali, korban dilarikan ke Puskesmas Wanayasa. Korban pun dirujuk ke RSUD Bayu Asih Purwakarta guna mendapat penangan medis lebih lanjut.

Korban mengalami hipotermia dan sesak nafas. Saat mendengar kabar tersebut, Ujang segera pulang dan melihat istrinya sedang menangis.

Rumahnya ramai dikunjungi orang-orang. “Para tetangga dan keluarga ikut mencari, alhamdulillah ditemukan sama bibi sudah dalam keadaan terkubur tanah.

Alhamdulillah bisa tertolong, sekarang dalam perawatan,” kata Ujang saat ditemui di RSUD Bayu Asih beberapa waktu lalu. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Makassar – Indra Anugrah Saputra (20), tega membunuh Rosalina Komala Sari alias Ocha (18), karena tak terima dicaci maki.

“Pelaku sudah ditangkap, alasan menikam korban karena dicaci maki oleh korban,” ungkap Kasatreskrim Polrestabes Makassar, AKBP Indratmoko, Jumat, 19 April 2019 petang.

Kasus pembunuhan Rosalina terjadi 11 April lalu, di lantai dua kamar nomor 209, Wisma Benhil, Jl Toddopuli Raya Timur, Makassar pukul 15.45 Wita, sore.

BERITA TERKAIT:

Saat Mau Bersihkan Kamar, Karyawan Wisma Temukan Wanita Tewas Bersimbah Darah

AKBP Indratmoko menjelaskan, pada saat itu pelaku hendak menemui korban di kamar 209 membicarakan teman pelaku yang ingin memakai jasa korban.

Tapi pelaku mengatakan ke korban, lelaki yang ingin memakai jasanya itu tidak bisa datang dan lalu membatalkan pertemuan itu, sehingga membuat korban marah.

“Korban marah ke pelaku, mengeluarkan kata-kata kotor.

Disitu pelaku marah dan keluarkan pisau, korban berusaha merebut pisau dan terjadi pertengkaran,” ujarnya.

Lanjut Indratmoko, saat terjadi perebutan pisau jenis sangkur itu, korban sempat berteriak.

Tapi pelaku langsung mendorong korban ke tempat tidur dan menikam korbannya.

“Disitu pelaku menutup wajah si korban dengan bantal, lalu pelaku menikam-nikam korban dibagian kepala, leher dan badan, kurang lebih 30 kali,” lanjut Indratmoko.

Setelah membunuh korban Rosalina alias Oca, tersangka Indra pun mengambil ponsel merek Oppo F5 dan motor Yamaha Mio milik korban lalu melarikan diri.

Indra Saputra ditangkap tim Resktim unit Jatanras Polrestabes dan Resmob Polda Sulsel, di Jl Barukang Utara, Kecamatan Tallo, Kamis 18 April 2019 pukul 23.00 Wita.

“Pelaku ditangkap berdasar pada laporan polisi (LP / 184 / IV / 2019 / Polrestabes Makassar / Sek. Panakukang), terkait itu kasus pembunuhan,” jelas Indratmoko.

Selain mengamankan pelaku, tim Resmob dan Jatanras juga amankan barang bukti Oppo F5 milik korban, motor Yamaha Mio milik korban dan hape Oppo pelaku.

Seperti diketahui, korban Rosalina alias Ocha diduga dibunuh oleh Indra dengan 27 sampi 31 tusukan di tubuhnya. Kejadinnya di kamar 209, hotel Benhil, Toddopuli. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jayapura – Oknum anggota Kepolisian yang bertugas di Mapolda Papua berinisial AK menembak dua warga di Kabupaten Jayapura, Papua.

Dari keterangan keluarga korban, diketahui jika antara pelaku dan korban masih ada hubungan saudara dan mereka bertikai karena masalah perebutan rumah.

Aksi nekat oknum polisi tersebut terjadi pada Senin, 15 April 2019, sekitar pukul 17.00 WIT di Telaga Ria Kampung Asei Kecil Distrik Sentani Timur, Kabupaten Jayapura.

Apa Saja yang Dibawa Saat ke TPS untuk Memilih di Pemilu 2019?

Saat itu pelaku AK mendatangi korban Abner Kaigere (45) yang sedang bersama keponakannya Anderson Hengga (17).

Menurut keterangan istri korban, Damari Wally, aksi dari penembakan itu dipicu masalah rumah. Pelaku tidak terima rumah yang ditempati dulu dibongkar.

“Rumah kosong yang dulu ditumpangi oleh orang tua pelaku dibongkar karena terkena banjir. Tapi pelaku tidak terima langsung datang melakukan pengancaman dan penganiayaan. Terus langsung melakukan penembakan,” tuturnya.

Pasutri Ini Ditangkap Karena Jadi Kurir Sekilo Sabu-sabu, Polisi: “Akan Saya Tembak Mati Kalian”

Akibat aksi tersebut, korban Abner Kaigere (45) mengalami luka tembak di kepala serta luka memar karena dianiaya, sementara Anderson Hengga (17) mengalami luka tembak di paha.

Kedua korban kini tengah menjalani perawatan di RS Dian Harapan, Kota Jayapura, Papua.

ASTAGA!! Ketagihan Nonton Film Porno di HP, Siswa SD dan Siswa SMP Ini Hamili Anak SMA

Kapolres Jayapura, AKBP Victor Macbon membenarkan kejadian tersebut dan menjelaskan pelaku sudah diamankan oleh Propam Polda Papua.

“AK kami sudah amankan jam 19.00 WIT, termasuk senjata yang digunakannya pun sudah kami sita,” ujarnya. (***)

sumber:Kompas.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Malang – Tetangga sebut menantu yang bakar mertuanya hidup-hidup di Pujon, Kota Batu, Jawa Timur depresi karena anaknya meninggal dua bulan lalu.

Beberapa spekulasi muncul terkait penyebab pelaku, Nurul Mutholib membunuh Lismini, ibu mertuanya.

Pihak keluarga menyebut kemungkinan penyebabnya adalah pelaku merasa iri terhadap korban yang membeli kasur baru.

Namun belum diketahui secara pasti motif yang menyebabkan pelaku nekad melakukan tindakan sadis tersebut.

Satu Orang Tewas Terjepit Setelah Pikap Muat Telur Tabrak Truk Parkir, Ini Kronologinya

Untuk mengetahui kepastian motifnya, Polres Batu kini masih menginterogasi pelaku, Nurul Mutholib (30) yang tak lain adalah menantu perempuan dari korban, Lismini.

Kasat Reskrim Polres Batu, AKP Anton Widodo menyebut Nurul sakit hati karena sering cekcok dengan mertua perempuannya, Lismini (57).

Sakit hati itu membuat Nurul melakukan aksi nekat membakar mertua perempuannya itu.

Belum diketahui pasti apa yang melatarbelakangi keduanya sering cekcok.

Sering Pulang Larut Malam, Pria Ini babak Belur Ditikam Pisau dan Dipukul dengan Stik Golf, Ini Kronologinya

Banyak informasi yang muncul di lapangan.

Ada yang mengatakan karena persoalan kasur baru.

Ada juga yang mengatakan pemicu cekcok antara menantu dan mertua perempuan ini terkait urusan soal air.

Tapi ada juga yang mengaitkan sikap nekat Nurul itu karena kondisi Nurul yang tertekan karena anaknya meninggal beberapa waktu lalu.

Astami (42), saksi mata sekaligus tetangga korban yang membatu menolong memadamkan api menyebut semenjak dua bulan ini Nurul dan mertua perempuannya, Lismini terlihat tidak harmonis.

Tolong..Tolong Anakku Dibawa Buaya! Teriak Seorang Ibu Melihat Anaknya Diterkam Buaya

Astami dan warga sekitarnya menduga, Nurul tega membakar mertuanya sendiri karena depresi mengingat ia baru saja kehilangan anak keduanya, sekitar 27 hari lalu.

Suparman (60) suami Lismini menduga, menantunya itu iri hati ketika dirinya membeli kasur baru.

Dikatakan Suparman, sudah sejak dua bulan ini Nurul dan mertua perempuannya, Lismini kerap berselisih.

“Kemungkinan menantu saya iri saat kami beli kasur,” terangnya.

Informasi lain menjelaskan, peristiwa itu terjadi ketika Nurul pulang kerja dari kebun.

Nurul kemudian cekcok dengan Lismini. Dari cekcok itu, Mutholib nekat membakar Lismini.

Peristiwa tragis menantu perempuan membakar mertua perempuan ini terjadi di RT 26/RW 04 Dusun Ngebrong Desa Tawang Sari, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang, Jumat, 12 April 2019.

Korban Lismini mengalami luka bakar berat dilarikan ke rumah sakit.

Setelah api yang dapat dipadamkan, korban langsung dibawa warga ke Puskesmas Pujon.

Namun karena tak mumpuni Lismini dirujuk ke RS Hasta Brata dan kemudian malam harinya dibawa ke RSSA Malang.

Korban akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya pukul 05.30 WIB Sabtu 13 April 2019 pagi tadi.

Polisi Resort Batu mengamankan Nurul Mutholib (30) sejak Jumat (12/4/2019) sore pasca kejadian.

Kapolres Baru AKBP Budi Hermanto menjelaskan, pelaku diamankan setelah peristiwa terjadi.

“Kejadian kemarin siang. Tadi pagi, korban meninggal. Pelaku sudah diamankan setelah kejadian,” ujar Budi, Sabtu, 13 April 2019.

Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Batu, AKP Anton Widodo menerangkan, kalau Nurul diamankan di hutan menjelang maghrib.

Petugas yang saat itu mendapatkan laporan dari warga langusung menuju lokasi.

“Kami sebar anggota untuk mencari pelaku. Ketemu di hutan belakang rumah. Dia tidak berani keluar karena takut dimassa,” ujar Anton. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Surabaya – Identitas dua pelaku pembunuh dan mutilasi mayat dalam koper, Budi Hartanto (28) telah terungkap.

Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Frans Barung Mangera mengatakan satu pelaku berinisial AP ditangkap di Jakarta, Kamis, 11 April 2019 sore. Sementara pelaku lainnya yang berinisial AJ ditangkap di Kediri Kamis malam.

“Ada dua pelaku. Satu berinisial AP dari Jakarta, satunya inisial AJ kita tangkap malam di Kediri,” kata Barung di Mapolda Jatim Jalan Ahmad Yani Surabaya, Jumat, 12 April 2019.

BERITA TERKAIT

GEGER! Ada Kaki Menyembul Keluar dari Koper, Setelah Dibuka Ini Isinya

Saat ditanya keduanya warga mana, Barung mengaku mereka warga Kediri. Diketahui, keduanya juga orang terdekat korban.

“Dua-duanya orang Kediri. Orang terdekat korban,” lanjutnya.

Barung menambahkan sejak awal kasus, polisi menyakini kasus ini bukanlah pembunuhan tunggal. Namun minimal ada dua pelaku yang membantu melancarkan aksinya.

“Polisi menyakini pembunuh bukan tunggal, minimal ada yang membantu mempersiapkannya,” imbuh Barung.

ASTAGFIRULLAH, Dasar Anak Durhaka, Seorang Ibu Tewas Mengenaskan dan Lehernya Nyaris Putus Digorok Anak Kandung

Penemuan mayat dalam koper, Rabu, 3 April 2019 pukul 07.00 WIB membuat geger warga Blitar. Koper warna hitam itu ditemukan pencari rumput di Desa Karanggondang, Kecamatan Udanawu. Saat ditemukan, di dalam koper itu terdapat sesosok mayat tanpa bagian kepala. (***)

sumber: detik.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Palembang – Nasib malang dialami seorang janda tua berusia 60 tahun yang tewas ditangan anak kandungnya sendiri.

Leher Sabriah binti Abdul Manan digorok oleh anak kandungnya sendiri yakni AKM (35) yang ia besarkan sejak kecil.

Bahkan, leher sang ibu nyaris putus akibat tikaman senjata tajam anak durhakanya itu.

Insiden pembunuhan ini terjadi di Dusun III Desa Tanjungagung Kecamatan Lengkiti Kabupaten Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan.

Sang ibu yang sudah renta itu diketahui bekerja seorang diri untuk menghidupi dua putranya.

Sejak berpisah dengan sang suami, Sabriah bekerja banting tulang untuk makan kedua putranya hingga anak-anaknya berusia dewasa.

Namun, saat beranjak dewasa sang anak bukannya bekerja untuk membantu ekonomi keluarga.

Namun, ia lebih memilih bermalas-malasan dan membiarkan sang ibu bekerja sendirian.

Sabriah tinggal serumah bersama dua orang putranya yang telah berusia dewasa.

Namun, salah satu putra korban terpaksa dipasung lantaran mengalami gangguan jiwa.

Sementara itu, AKM yang juga putra korban yang kondisinya sehat malah malas bekerja.

AKM diduga tersinggung dan sakit hati lantaran dimarahi oleh ibu kandungnya sendiri yakni Sabriah.

Berdasarkan kronologi yang dihimpun, pada hari Rabu, 10 April 2019 Sarbiah binti Abdul Manan (60) baru pulang dari kebun.

Saat itu melihat anaknya berinisial Akm (35) sedang duduk malas malasan di rumahnya.

Wanita yang usianya sudah renta itu kesal lalu marah kepada putrnya yang berinisial AKM.

Korban memarahi AKM dan mengatakan malas dan tidak mau bekerja.

Saking kesalnya dengan kelakuan sang anak, korban pun sampai membanting piring nasi ke lantai.

Ironisnya bukannya menyadarai kesalahannya, Akm malah tersinggung dan menyerang ibu wanita yang sudah melahirkan dan membesarkannya itu.

Pelaku pun mengambil parang di dapur dan langsung menggorok leher ibu kandungnya sebanyak 3 kali hingga meninggal dunia.

Korban pun bersimbah darah dengan leher nyaris putus di dalam rumahnya sendiri.

Setelah menghabisi nyawa korban, pelaku lalu lari keluar rumah menuju sumur untuk membersihkan bekas darah yang menempel di parang .

Selanjutnya parang tersebut diselipkannya di pinggang lalu pelaku pergi ke pinggir sungai dan menyembunyikan parang itu di semak–semak di pinggiran sungai .

Kemudian pelaku pergi naik mobil menuju arah Kota Baturaja. Tersangka bersembunyi di rumah kakak iparnya di Desa Sukamaju Kecamatan Baturaja Barat.

Kematian korban baru diketahui saat menjelang tengah malam oleh warga sekitar.

Pada pukul 23.30 WIB, para tetangga mendengar teriakan minta tolong dari salah satu anak korban yang dipasung didalam rumah.

Anak korban yang sedang dipasung itu minta bantuan warga untuk memeriksa kondisi ibunya yang baru saja ribut dengan kakaknya.

“Anak korban minta tolong perikso ibunyo yang baru bertengkar dengan kakaknya,” terang salah seorang nara sumber seraya menambahkan begitu diintip ternyata ibunya sudah tergeletak.

Warga lalu beramai-ramai masuk ke dalam rumah korban dan betapa terkejutnya warga menyaksikan wanita yang sudah menjanda ini sudah tewas bersimbah darah.

Warga setempat lalu melaporkan kasus dugaan tersebut ke aparat kepolisian setempat.

Polisi yang tiba dilokasi pun langsung melakukan olah tempat kejadian perkara dan mengevakuasi jasad korban.

Kapolres OKU AKBP Dra Ni Ketut Widayana Sulandari didampingi Kasat Reskrim AKP Alex Andriyan SKom dan Kapolsek Lengkiti Iptu Marjuni yang dikonfirmasi Kamis, 11 April 2019 mengatakan tersangka pelaku yang diduga membunuh korban sudah dititipkan di Mapolres OKU.

Dikatakan Kapolres, saat ini Kasat Reskrim sedang ke TKP untuk mendalami kasus ini.

Sedangkan tersangkanya sudah diamankan di Polres untuk menghindarihal-hal yang tidak diinginkan.

Dikatakan Kapolres, tersangkanya akan dikirim ke Palembang untuk menjalani pemeriksaan kejiwaan.

Kapolres yang juga didampingi Kasi Humas Polres OKU AKP Rahmad Haji mengatakan, polisi sedang mendalami kasus ini, untuk mengetahui motif pembunuhan yang diduga dilakukan oleh anak kandung korban sendiri. (***)

sumber: tribunnews.com

KRIMINALITAS

Selasa | 09 April 2019

Demi Biaya Berobat Anak, Bapak Ini Rela Menjambret

MEDIAKEPRI.CO.ID, Palembang – Faizal Umum (27 tahun), warga Jalan Fiqih Usman Lorong Jaya Laksana Kelurahan 3-4 Ulu nekat menjambret, Selasa, 9 April 2019 pukul 07.30 WIB.

Faizal mengatakan nekat melakukan hal tersebut lantaran anaknya sedang demam, sementara dirinya tidak memiliki uang untuk membawa anaknya ke dokter untuk berobat.

Korban jambret itu Olga Riezelda (22 tahun). Ia dijambret saat melintas di Jalan Pangeran Ratu, Kelurahan 8 Ulu Kecamatan Seberang Ulu I.

Akibat perbuatannya tersebut, Faizal dihakimi massa dan beruntung diselamatkan petugas Polsek Seberang Ulu I.

“Saya pusing anak saya demam, pinjam uang sama mertua untuk berobat kurang, narik becak cukup untuk makan saja, terpaksa saya jambret tas korban. Berharap ada uang dan handphone,” Jelasnya.

Dikatakannya saat itu, ia baru saja pulang dari rumah mertuanya yang berlokasi di Kawasan Jakabaring untuk meminjam uang.

“Saya baru saja dari rumah mertua di Jakabaring untuk pinjam uang Rp 50 ribu. Saat perjalanan pulang ke rumah melihat korban berboncengan,” katanya.

Meski awalnya tak ada niat untuk melakukan aksi kriminal, namun lantaran ingin melihat anaknya sembuh. Firman terpaksa nekat melakukan hal tersebut.

“Jadi saya pepet sepeda motornya pas lah dan tarik tas dia. Saat posisi tasnya ada di depan, sedang dipangku,” katanya.

Faizal menceritakan, saat itu ia dan korban sempat saling tarik sebelum akhirnya dia kepung oleh warga.

“Kami sempat tarik-tarikan tas dan tas berhasil berpindah ke tangan saya. Sayangnya, dia langsung mengejar dan meneriaki saya hingga warga mengepung dan saya langaung di amankan” ungkapnya.

Sementara Kapolsek Seberang Ulu I Palembang, AKP Mayestika mellui Kanit Reskrim, Iptu Yundri membenarkan adanya serahan tersangka.

Selain mengamankan pelaku, petugas juga mengamankan barang bukti berupa tas korban warna hitam dan satu sepeda motor merek Suzuki Smash nopol BE 4335 WF milik tersangka yang digunakan saat beraksi.

“Benar pelaku saat ini sudah kita amankan, untuk sekarang masih dalam pemeriksaan penyidik. Kami juga masih mencari informasi apakah pelaku ini merupakan spesialis atau bukan,” jelas Iptu Yundri. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Bogor – Peristiwa pembunuhan terjadi di Kelurahan Kayumanis, Kecamatan Tanahsareal, Kota Bogor. Anisa tewas setelah dicekik dan dibekap oleh Memed, suaminya sendiri.

Kasat Reskrim Polresta Bogor Kota, AKP Agah Sonjaya mengatakan, pembunuhan terjadi sekitar pukul 03:00 WIB. Sebelum tewas dibunuh, Anisa sempat terlibat cekcok mulut dengan Memed.

Berdasarkan keterangan saksi-saksi, kata Agah, korban datang ke kediaman pelaku di dalam gudang rongsokan sekitar pukul 22:00 WIB. Saat itu, keduanya dalam kondisi baik-baik saja. Sehingga saksi-saksi yang tinggal di lokasi tidak menaruh rasa curiga sedikitpun.

Dasar Kurang Ajar! Dipercaya Sebagai Guru Les Privat, Bukannya Mengajar SW Malah Cabuli Murud-muridnya

“Pelaku dipercaya untuk mengelola gudang rongsokan itu dan diberi tempat tinggal. Kemudian korban datang untuk bertemu sekitar pukul 22:00 WIB. Awalnya biasa saja, seperti biasa dan sempat saling bercanda. Tapi kemudian pada dini hari keduanya terlibat cekcok mulut. Pelaku kemudian membekap mulut korban hingga akhirnya meninggal dunia,” kata Agah.

“Jadi berdasarkan keterangan sementara, korban dibunuh dengan cara dibekap,” sambung Agah.

TRAGIS! Sumardi Meregang Nyawa Setelah Dikeroyok Keluarga Korban Pelecehan

Usai melakukan aksinya, lanjut Agah, Memed kemudian datang ke Polsek Bogor Barat sekitar pukul 06:00 WIB dan menyampaikan apa yang telah dilakukannya.

“Kemudian oleh pihak Polsek Bogor Barat pelaku diserahkan ke Polsek Tanahsareal, karena TKP masuk wilayah Tanahsareal,” tambah Agah.

Saat ini, lanjut Agah, pelaku Memed masih dalam pemeriksaan intensif di Polsek Tanahsareal. Sementara korban, dibawa ke RS Bhayangkari Polresta Bogor Kota untuk diautopsi. (***)

sumber: detik.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Medan – Sumardin (26) warga Jalan Karya Karsa Dalam, Kelurahan Karang Berombak, Kecamatan Medan Barat meregang nyawa di Rumah Sakit Imelda.

Pasalnya, ia mendapat pukulan bertubi-tubi oleh tiga orang pria, pada Rabu, 3 April 2019 sekitar pukul 06.00 WIB.

Berdasarkan informasi yang diperoleh, aksi penganiayaan tersebut dipicu karena korban diduga telah melakukan pelecehan terhadap adik kandung perempuan dari dua pelaku.

Di Kota “Mendoan”, Ini Cara Jokowi dan Prabowo Bersaing Memperebutkan Suara

Adapun aksi yang dibuat oleh penjahat kelamin bernama Sumardi ini yakni dengan cara meremas (maaf) buah dada wanita berinisial EDS.

Kapolsek Medan Barat Kompol Choky S Meliala melalui Kanit Reskrim Polsek Medan Barat, Iptu Herison Manullang mengatakan, saat ini dua dari tiga pelaku penganiayaan terhadap korban telah berhasil diamankan.

Keduanya bernama, Deni Rahmadan (23) warga Jalan Karya Suka Dame, Sei Agul, Medan Barat, serta Bahriansyah Dalimunthe (22) warga Pasar 2 Tembung.

Benarkah Pria Masa Kini Jarang Bercinta karena Kebanyakan Main Game dan Medsos?

“Sementara satu pelaku lainnya atas nama Zulkifli Harahap (35) warga Pasar 8 Gang Padi, Jalan Letda Sujono masih dalam pencarian,” ujarnya, Rabu, 3 April 2019 sore.

Manullang menjelaskan, dari hasil interogasi yang dilakukan kepada kedua pelaku, bahwa kejadian pada Selasa, 2 April 2019 malam.

“Peristiwa penganiayaan ini bermula, ketika korban, pada Selasa 2, April 2019 sekitar pukul 18.30 WIB dengan nekat meremas payudara EDS, yang merupakan adik kandung dari pelaku Zulkifli dan Deni Rahmadan.

Rampok Itu Gondol Perhiasan Senilai Rp 1,6 Miliar Setelah Membacok Tangan Pemiliknya

“Mereka tidak terima, ketiga pelaku lalu mendatangi korban di Jalan Sekata, Lorong 6, Kelurahan Karang Berombak, Kecamatan Medan Barat,” ungkap Kanit.

Lebih lanjut dikatakan Kanit, kemudian para pelaku langsung melakukan penganiayaan sampai korban tidak berdaya, sehingga harus dilarikan ke rumah sakit.

“Satu pelaku lainnya, yakni atas nama Bahriansah juga merupakan sepupu dari EDS. Sehingga dipastikan, ketiga pelaku kesemuanya adalah keluarga,” jelasnya.

Namun, meski telah dirawat di rumah sakit, nyawa Sumardin tidak dapat tertolong.

Sehingga oleh keluarganya, kasus penganiayaan tersebut dilaporkan ke Polsek Medan Barat.

“Saat ini dua dari tiga pelaku sudah ditahan, guna dilakukan proses lebih lanjut,” pungkasnya.

Dari tangan para pelaku petugas amankan sejumlah barang bukti berupa sepasang sepatu hitam korban, helm milik korban, serta satu potong jaket coklat milik pelaku atas nama Bahriansah saat melakukan penganiayaan.(***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Palembang – Djulijono (71) dan istrinya Kevi (65) harus dilarikan ke rumah sakit lantaran mengalami luka bacok di bagian tangan usai menjadi korban perampokan yang diduga dilakukan oleh empat orang pelaku.

Korban diketahui adalah pemilik toko emas,”Sinar Mas” di kawasan Jalan Sayangan, Kecamatan Ilir Timur I, Palembang, Sumatera Selatan .

Djulijono dirampok oleh empat orang pelaku ketika melintas di kawasan Jalan Dempo Luar, Kecamatan Ilir Timur I, Palembang, saat menaiki becak motor (bentor) menuju ke toko, Rabu, 3 April 2019.

GEGER! Ada Kaki Menyembul Keluar dari Koper, Setelah Dibuka Ini Isinya

Di tengah perjalanan, para pelaku menghentikan mereka dan langsung membacok lengan Djulino dan istrinya.

Emas yang ada di dalam tas korban pun berhasil dibawa kabur oleh pelaku.

Kapolsek Ilir Timur I Palembang Kompol Edi Rahmat ketika dikonfirmasi membenarkan kejadian tersebut.

AWAS! Jangan Cuci Motor saat Mesin Masih Panas

Menurutnya,10 keping emas logam mulia dengan berat masing-masing 100 gram, serta perhiasan 1,7 kilogram dibawa kabur pelaku dengan perkiraan kerugian sebesar Rp 1,6 miliar.

“Kedua korban masih dirawat karena mengalami luka bacok di lengan,” kata Edi.

Edi menjelaskan, aksi tarik menarik sempat terjadi antara korban dan pelaku. Bahkan, Ridwan (55) yang merupakan sopir bentor sempat memukul salah satu pelaku dengan menggunakan kayu.

Ditebar Ancaman ke Gawang, Arema Bungkam Kalteng Putra 3-0

Namun, dua pelaku lain datang dan ikut membacok korban hingga tas yang dipegang oleh Djulijono pun terlepas.

“Pelaku memakai dua motor. Saat korban melawan, dua pelaku datang dan membacok korban. Pelaku ada empat orang,sekarang masih dilakukan penyelidikan, “ujarnya. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Makasar – Setelah ditetapkan sebagai tersangka kasus penipuan dengan modus penggandaan uang, nenek Tampa (61) kembali memiliki pengakuan lain saat melancarkan tipu yang merugikan korban hingga miliaran rupiah.

Kabid Humas Polda Sulsel Kombes Dicky mengatakan, selain memberikan selebaran doa-doa kepada korbannya, Tampa juga mengaku memiliki kekuatan gaib sehingga bisa menggandakan uang.

Pengakuan ini juga menjadi senjata ampuh bagi Tampa hingga membuat tiap korbannya menyetor hingga ratusan juta rupiah.

“Menurut keterangan dari tersangka dia bisa berhubungan dengan orang gaib. Orang gaib inilah yang akan menggandakan uang sehingga banyak orang yang tertarik,” kata Dicky di Mapolsek Bontoala, Kecamatan Bontoala, Makassar, Sulawesi Selatan, Jumat, 29 Maret 2019.

Dicky mengatakan, sudah tiga tahun Tampa melakukan aksinya. Namun, Tampa tidak melakukan aksinya dengan cara promosi di media sosial atau di orang-orang seperti modus penggandaan uang pada umumnya.

Cara Tampa terbilang sederhana yakni dengan cara mengenali dulu korbannya hingga pada akhirnya bisa merayunya. Hal ini terbukti pada dua korban yaitu Hapsah dan Sukmawati, ibu dan anak yang menjadi induk semang Tampa sewaktu tinggal di Makassar.

Begitupun dengan Norma, korbannya yang berasal dari Nunukan. Sebelum mengambil dua sertifikat rumah Norma yang nilainya mencapai Rp 500 juta, nenek kelahiran Sinjai ini lebih dulu tinggal di Nunukan selama satu tahun.

“Dia lakukan ini sudah hampir tiga tahun. Kalau diperiksa ibu ini seolah-olah merasa tidak bersalah. Dia katakan bahwa dia tidak pegang uang tapi semua uang masuk ke rekening dia,” ujar Dicky.

Hingga kini di hadapan penyidik, Tanpa selalu mengaku bisa bertemu dengan orang gaib. Ia mengatakan bahwa uang yang diambilnya dari korban sudah diserahkan kepada orang gaib itu.

Tampa mengakui bahwa di rumahnya masih ada uang senilai Rp19,6 miliar yang berada dalam kuasa orang gaib itu.

“Itu nggak mungkinlah, itu cuma akal-akalan dia untuk membuat korban itu percaya bahwa betul ada uang sayangnya korban memang betul-betul percaya,” ujar Dicky.

“Kami imbau kepada masyarakat jangan percaya degan penggandaan uang. Saat inj akan kami dalami terutama dengan siapa saja Bu Tampa berkomunikasi. Bu Tampa kan punya HP juga,” katanya melanjutkan. (***)

Hanya dengan bermodalkan kertas yang bertuliskan doa-doa Tampa melancarkan aksinya. Hasilnya, ia berhasil menipu korbannya hingga Rp 1,2 miliar. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Banda Aceh – SY (22) ibu yang tega melempar bayinya berusia setahun ke bak mandi terancam hukuman mati. Dia dijerat dengan pasal pembunuhan berencana dan penganiayaan anak.

“Tersangka terancam pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu penjara selama 20 tahun,” kata Kapolres Langsa AKBP Andy Hermawan didampingi Kasat Reskrim Iptu Agung Wijaya Kusuma, kepada wartawan dalam konferensi pers di Mapolres Langsa, Kamis, 28 Maret 2019.

Menurut Kapolres, tersangka SY dijerat dengan beberapa pasal di KUHPidana serta Undang-undang Perlindungan Anak. Pasal yang disangkakan terhadap SY yaitu Pasal 340 Jo Pasal 338 KUHPidana tentang pembunuhan berencana.

Usai Lihat Alat Vital Menantu, Mertua Cabut Laporan Polisi, Ini yang Terjadi

Selain itu dia juga dijerat dengan Pasal 80 Ayat (3), Ayat (4) Undang-undang Nomor 35 tahun 2014 tentang perlindungan anak. Tersangka SY kini sudah mengakui perbuatannya membunuh anak kandungnya.

Dia tega menghabisi nyawa sang buah hati karena kesal dengan suaminya yang sudah lama tidak menafkahinya. Dia dan suami diketahui bekerja sebagai pengemis di Kota Langsa.

“Rasa kesal hingga berujung kepada tindak kekerasan terhadap anaknya itu muncul saat pelaku sedang memandikan korban,” jelas Andy.

Sebelum Dibunuh Calon Pendeta Muda Ini Diduga Diperkosa Dahulu, Ini Faktanya

Di tengah kekesalannya, pelaku tiba-tiba melempar anaknya ke dalam bak mandi pada Rabu, 27 Maret 2019 pagi.

Dia membiarkan bayinya tenggelam dalam air selama setengah jam.

“Setelah 30 menit ditinggalkan, lalu pelaku kembali ke kamar mandi dan melihat korban sudah terlentang mengapung dengan kondisi tubuh korban sudah membiru di bagian bibir dan lidahnya,” jelas Kapolres.

Tersangka SY kini mendekam di sel Mapolres Langsa untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Dia ditangkap tak lama setelah sang buah hati dibawa ke rumah sakit. (***)

sumber: detik.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Palembang – Kasus pembunuhan dan dugaan perkosaan yang menimpa calon pendeta, Melinda Zidemi (MZ) masih misterius.

MZ ditemukan tewas dalam kondisi tanpa busana di areal PT PSM Divisi 3 Blok F19, Dusun Sungai Baung, Desa Bukti Batu, Kecamatan Air Sugihan, Kabupaten OKI, Sumatera Selatan, Senin, 25 Maret 2019

Ditemukannya jasad MZ berawal dari laporan NP (9), pelajar yang bersama MZ dan berhasil selamat.

Hingga saat ini, polisi masih belum berhasil menangkap pelaku.

Tangis Keluarga Pecah saat Jenazah MZ Tiba di Rumah Sakit

Jenazah MZ tiba di Rumah Sakit Bhayangkara Palembang untuk dilakukan visum pada Selasa, 26 Maret 2019.

Jenazah tiba dibawa dengan ambulans.

Pemimpin gereja GKII Sungai Baung dan vikaris (calon pendeta) Arisman Manai terlihat mendampingi kedatangan jenazah.

Saat jenazah diturunkan, adik korban Yanti dan keluarga lainnya tak kuasa menahan tangis.

Tak banyak kata yang terucap dari mulut Yanti.

Ia hanya terlihat terus meneteskan air mata sembari memeluk sanak saudaranya yang ada di depan ruang jenazah.

Video Call Terakhir

Anugerah Gaurifah (25), sepupu MZ mengatakan, korban menamatkan jenjang strata 1 dan meraih gelar Sarjana Teologi Kependetaan di Sekolah Tinggi Teologi Injili Palembang pada 2018.

Selama menempuh pendidikan, MZ tinggal di mess kampus.

Jika sedang libur, korban sering berkunjung ke kediaman sepupunya di kawasan Sukabangun.

“Setelah tamat kuliah, MZ ikatan dinas dan bertugas di Sungai Baung. Adiknya juga kuliah di sini di kampus yang sama,” kata Anugerah.

Ia pun tak menyangka, jika video call MZ satu bulan lalu saat berada di Sungai Baung merupakan video call terakhir kalinya sebelum MZ ditemukan menjadi korban pembunuhan.

Dalam video call tersebut, MZ mengaku akan kembali berkunjung ke Palembang sebelum pulang ke Nias untuk menikah.

“Terakhir kakak saya yang video call, korban bilang mau pulang ke Palembang dulu. Memang mau menikah dalam waktu dekat ini di Nias,”ujarnya.

Keluarga Berharap Polisi segera Ringkus Pelaku

Pihak keluarga MZ berharap polisi bisa segera menangkap pelaku pembunuhan MZ.

Sementara, Kabid Humas Polda Sumsel Kombes Pol Supriadi mengaku, jika saat ini mereka sedang mengumpulkan seluruh bukti untuk mengejar para pelaku melalui keterangan NP (9).

NP berhasil selamat setelah dikira oleh para pelaku tewas usai dicekik dan diikat.

“Kami masih kumpulkan bukti dan keterangan dari korban. Kasus ini masih dikembangkan Polda Sumsel mem-back up Polres OKI,” kata Supriadi.

Penemuan Jenazah MZ Berawal dari Laporan NP yang Berhasil Kabur

Ditemukannya jenazah MZ berawal dari bocah 9 tahun, NP, yang berhasil kabur dan melapor ke gereja.

NP berhasil lolos dari maut setelah dikira tewas setelah dicekik oleh dua pelaku pembunuhan MZ.

Vikaris GKII Sungai Baung Arisman Manai mengatakan, sembari menangis, NP berlari seorang diri menuju ke gereja tanpa mengenakan sandal.

Ia berada dalam kondisi ketakutan.

Gadis kecil tersebut sempat diikat tangan dan kakinya oleh para pelaku serta dicekik.

Setelah dikira tewas, korban lalu dibuang oleh pelaku ke areal perkebunan sawit.

Sementara MZ juga diikat oleh pelaku dengan menggunakan karet ban dalam motor serta diseret masuk ke dalam areal perkebunan sawit.

“Karena dikira sudah tewas setelah dicekik, NP ditinggal sendiri. Mungkin dapat mukjizat dari Tuhan ternyata ikatan tangan korban lepas sehingga langsung kabur dan menuju gereja,” kata Arisman saat berada di Rumah Sakit Bhayangkara Palembang, Selasa, 26 Februari 2019.

Para jemaat gereja yang sedang berkumpul untuk mencari keberadaan MZ dan NP langsung memberikan pertolongan kepada korban.

Dari gadis kecil itulah, jemaat menuju ke lokasi tempat kedua korban dibuang.

Di sana, MZ ditemukan dalam kondisi tanpa busana serta tangan dan kaki terikat.

Sekitar jarak 300 meter dari penemuan MZ, sepeda motor korban juga ditemukan.

“Ponsel korban tidak ditemukan. NP itu lari sejauh 4 kilometer dari lokasi seorang diri dan ketakutan. Anaknya sekarang masih trauma,” ujarnya.

Sementara, seorang saksi mata, Diana (30), yang tinggal di kawasan Divisi I, sempat terkaget-kaget melihat kondisi NP yang menangis ketakutan.

Ia makin terkejut setelah mendengar cerita gadis kecil tersebut, MZ diculik seseorang.

“Tolong, tante diculik. NP bilang begitu sambil nangis ketakutan, kejadiannya malam kemarin,” kata Diana ketika berada di Rumah Sakit (RS) Bhayangkara Palembang, Selasa, 26 Maret 2019.

Diana pun langsung memberikan kabar tersebut kepada para jemaat GKII yang sebelumnya sempat mencari kebaradaan NP dan MZ.

Dari keterangan NP, para warga serta jemaat GKII menuju daerah Divisi III Blok F19, Dusun Sungai Baung, Desa Bukti Batu Kecamatan Air Sugihan, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, tempat MZ ditemukan tewas.

Polisi Duga Pelaku Kenal Korban

Dugaan ini didasarkan atas aksi pelaku yang mengenakan penutup wajah saat menghadang dan menghabisi korban.

“Kalau dilihat, diduga korban ini kenal dengan pelaku. Makanya, pelaku ini menggunakan tutup wajah agar tidak diketahui korban,” ujar Kabid Humas Polda Sumsel, Kombes Pol Supriadi.

Jenazah korban yang berada di kamar mayat RS Bhayangkara Palembang, minimal akan divisum agar bisa diketahui apakah memang benar korban sebelum dibunuh terlebih dahulu diperkosa.

Karena, saat ditemukan korban dalam kondisi tidak mengenakan busana.

Dari itulah, harus dikuatkan dengan dilakukan visum bila sebelum dibunuh korban diperkosa terlebih dahulu.

“Untuk kondisi NP, anak yang bersama korban saat ini masih syok. Dari korban NP inilah bisa mengetahui kejadian pembunuhan terhadap MZ,” ujarnya.

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Sumedang – Korban pembunuhan bermotif cinta segi banyak di Kabupaten Sumedang rupanya sempat meminta tolong pada warga setempat.

Korban JF alias Jufri (44), warga Kota Lhokseumawe, Aceh, sempat mengetuk pintu rumah salah seorang warga Tanjungmedar untuk meminta pertolongan.

Hal ini disampaikan Iding Supriatna, saksi mata yang pintu rumahnya diketuk oleh korban, ketika ditemui di kediamannya di Desa Wargaluyu, Kecamatan Tanjungmedar, Kabupaten Sumedang, Rabu, 27 Maret 2019.

Benarkah Kebiasaan Minum Teh Panas Sebabkan Kanker Kerongkongan? Ini Kata Sang Ahli

“Dia minta tolong ke rumah saya malam-malam, jam delapan malam,” ujar Iding Supriatna.

Korban JF, lanjut Iding, sempat mengetuk dan bilang permisi di depan pintu rumah Idin sebelum akhirnya pemilik rumah membuka pintu.

Kondisi JF, Iding Supriatna mengatakan, membuatnya kaget karena tidak memakai baju dan hanya menggunakan celana.

Disebut Banyak Jin dan Genderuwo di Hotel Borobudur, Ini Kata Manajemen

“Dia bilangnya dia dibegal, dipukuli empat orang,” ujar Iding Supriata.

Sebelumnya diberitakan, JF alias Jufri (44), warga Kota Lhokseumawe, Provinsi Aceh, sendiri ditemukan warga di pinggir Jalan di Kecamatan Tanjungmedar, Kabupaten Sumedang, dalam kondisi babak belur.

Sayangnya, setelah tiga hari dirawat di RSUD Sumedang, Jefri meninggal dunia akibat luka-lukanya terlalu parah.

Kasus ini bermula dari Korban menjalin hubungan dengan tersangka D, sementara tersangka D memiliki hubungan asmara dengan tersangka SM alias G, otak penganiayaan.

D sendiri telah memiliki suami, begitu pula dengan G yang sudah memiliki istri, korban pun, polisi menyebut, memiliki istri di Aceh.

G, kata Kapolres Sumedang, merasa cemburu dengan komunikasi intensif yang dilakukan korban dengan D akhirnya merencanakan penganiayaan. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Prabumulih – Seorang suami di Kota Prabumulih, Sumatera Selatan (Sumsel), tega menyiram air keras ke sekujur tubuh istrinya hingga luka bakar parah. Tim Satuan Reserse dan Kriminal Polres Prabumulih, akhirnya menangkap pelaku.

Pelaku Evan Zaputra (25), warga Kelurahan Cambai, Kecamatan Cambai, Kota Prabumulih, mengaku tega menyiram air keras ke istrinya M (17), karena kesal. Saat dia datang ke rumah sang istri untuk melampiaskan hasrat seksualnya, istri tak pernah ada di rumah.

Pelaku lalu berencana untuk menyiramkan air keras ke tubuh istri keduanya. Senin, 11 Maret 2019, pelaku kembali mendatangi rumah korban yang saat itu di rumah. Pelaku lalu bertanya kepada korban, tapi tidak dijawab.

Pelaku langsung menyiramkan sebotol air keras yang sudah dia siapkan ke sekujur tubuh korban. Setelah itu, pelaku kabur. Polisi yang mendapatkan laporan, langsung mengejar pelaku yang sudah lari keluar kota.

“Pelaku hadir ke rumah korban hanya untuk memenuhi hasrat seksualnya, tapi sering tidak ada di rumah. Pelaku datang lagi ke rumah korban dan korban yang sedang tidur disiram dengan air keras,” kata Kasat Reskrim Polres Prabumulih AKP Abdul Rahman, Rabu, 13 Maret 2019.

 

Abdul Rahman mengatakan, pelaku sudah merencanakan perbuatannya kepada sang istri. Dia telah mempersiapkan sebotol air keras dari rumahnya sebelum menemui korban.

“Korban mengalami luka bakar dari leher sampai paha. Ini menjadi atensi kami karena baru kali ini ada kejadian penyiraman air keras seperti ini. Memang pelaku sudah meniatkannya,” katanya.

Kasat Reskrim mengatakan, dari tempat kejadian perkara (TKP), polisi juga mengamankan barang bukti air keras yang digunakan pelaku beserta pakaian yang digunakan korban saat disiram air keras oleh suaminya.

Sadis!! Dua Pria Ini Ditemukan Tewas Terbakar dengan Terikat Kedua Kaki dan Tangannya, Ini Pelakunya

Atas perbuatan, pelaku diancam dengan Undang-Undang Nomor 35 tahun 2003 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) Junto Pasal 351 KUHPidana tentang Penganiayaan.

Atas perbuatan, pelaku diancam dengan Undang-Undang Nomor 35 tahun 2003 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) Junto Pasal 351 KUHPidana tentang Penganiayaan.

Sementara itu pelaku mengaku kesal kepada istrinya karena sering tidak ada di rumah. Kekesalannya memuncak saat dia menemui istrinya, tapi tidak menjawab pertanyaannya.

“Saya kesal karena dia enggak jawab waktu saya tanya, saya siram dengan air keras yang sudah saya bawa dari rumah,” kata Evan Zaputra.
(***)

sumber: inews.id

MEDIAKEPRI.CO.ID, Pekanbaru – Sambil membawa parang dan jeriken berisi bensin, Margono (44) mengamuk di kantor BNI, Dumai, Riau. Margono memecahkan kaca dan mengancam nasabah.

“Polres Dumai melakukan olah tempat kejadian perkara, informasi yang kami dapat ada seseorang bawa jeriken sama parang masuk ke bank BNI, memecahkan kaca, mengancam nasabah,” kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karo Penmas) Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo kepada wartawan di Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin, 11 Maret 2019.

Siapa Sangka, Zulkifli Pelantun Lagu “Aishiteru” Ini Terancam Hukuman Mati

Polisi kemudian bergerak setelah mendapat laporan dari warga. Di lokasi, pelaku diminta menyerah namun menolak.

“Sehingga dilakukan (tindakan) secara tegas terukur, melumpuhkan orang tersebut. Saat ini tersangka sedang di dalam perawatan RS setempat. TKP dilakukan pengolahan oleh Satreskrim. Saat ini belum disimpulkan apakah itu perampokan ataupun pidana lainnya,” papar Dedi.

Kejadian ini disebut Dedi terjadi sekitar pukul 10.00 WIB. Belum diketahui motif pelaku yang mengamuk.

Setelah Gorok Leher Istrinya, Pria Ini Belah Perut dan Mengambil Bayi yang Dikandung, Ini Kronologi Lengkapnya

Sementara Kapolres Dumai, AKBP Restika Nainggolan saat dimintai konfirmasi terpisah menyebut Margono lebih dulu ke SPBU mengisi bensin motor sebelum mengamuk di kantor BNI Dumai.

Setelah tangki motor terisi bensin, pelaku menolak membayar saat diminta petugas SPBU. Pelaku menurut Restika juga mengancam petugas SPBU dengan parang

“Karena diancam, akhirnya petugas SPBU tak berani, pelaku pun pergi begitu saja,” kata Restika. (***)

sumber: detik.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Blora – Kantor kas BKK Purwokerto cabang Sumbang di Jalan Raya Desa Kebanggan, Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, disatroni kawanan perampok bersenjata tajam. Dua perampok menyekap petugas penjaga malam hingga terluka dan merampas uang Rp50.000 milik penjaga malam.

Dua pelaku perampok bersenjata pisau menyatroni kantor kas BKK Purwokerto Selatan cabang Sumbang, Jumat, 8 Maret dini hari.

Perampok melumpuhkan petugas jaga malam bernama Pramono dengan cara mengancam dan menyekap serta melukai penjaga malam dengan pisau di bagian bibir atas.

Meski dengan alat Seadanya, Satgas TMMD dan Warga Tak Kendor Semangatnya

Namun dua perampok tidak menemukan uang sepeser pun karena kantor kas BKK Purwokerto Selatan cabang Sumbang tidak menyimpan uang kontan dan hanya untuk menyimpan berkas para nasabah. Kedua perampok pun merampas uang Rp50.000 milik penjaga malam yang disekap di ruang belakang.

Aksi pembobolan BKK Purwokerto baru diketahui pada pagi hari, setelah anak penjaga malam curiga. Sebab sampai pukul 7.00 WIB, ayahnya yang bertugas jaga malam belum keluar dan pintu gerbang masih dikunci.

Anak penjaga malam kemudian masuk melompat pagar dan mencari ayahnya di ruang belakang BKK. Dia didapati ayahnya dalam kondisi disekap bagian mulut dilakban dan tangan diikat. Kejadian tersebut kemudian dilaporkan ke Polsek Sumbang.

Petugas Polsek Sumbang mendatangi tempat kejadian perkara (TKP) dan menghubungi Tim Inafis Polres Banyumas untuk olah (TKP). Kasus tersebut ditangani Satreskrim Polres Banyumas guna penyelidikan dan pengejaran pelaku. (***)

sumber: sindonews.com

KRIMINALITAS

Senin | 04 Maret 2019

Lagi Santai Berjalan, Pria Ini Tewas Ditikam

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Seorang pria tewas usai ditusuk oleh orang tak dikenal di kawasan Kebon Jeruk, Jakata Barat pada Ahad, 3 Maret 2019 malam.

Kapolsek Kebon Jeruk Kompol Eric Ekananta Sitepu mengatakan, awalnya korban diadang oleh pelaku yang meminta barang berharga milik korban.

Saat kejadian korban sedang berjalan kali bersama seorang temannya itu. Eric belum bisa merinci bagian tubuh korban mana yang mengalami luka sehingga menyebabkan korban meninggal dunia.

Sesosok Mayat Pria Ditemukan di Rumah Kosong, Siapakah Dia?

“Kejadiannya tadi malam, korban sedang jalan kaki bersama temannya. Kemudian pelaku datang menodongkan sajam dan meminta barang milik korban,” ucapnya

Terkait barang berharga miliki korban yang dibawa pelaku, Eric menyatakan saat ini pihaknya masih melakukan penyelidikan termasuk untuk mendalami motif kejadian tersebut.

Telah Ditemukan Mayat Terbungkus Kain Sprei di Dalam Tong Plastik, Siapakah Dia?

Saat ini sudah ada beberapa saksi yang telah dimintai keterangan.

“Ada beberapa barang. Sedang kita mintai keterangan saksi,” tutupnya. (***)

sumber: kumparan.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Palembang – Anggota Subdit III Jatanras Polda Sumatera Selatan Briptu Agus (26), mengalami luka tusuk akibat senjata tajam (sajam) saat mengejar pelaku kriminal.

Diketahui Briptu Agus anggota Jatanras Polda Sumsel ini dikeroyok preman saat mengejar DPO pelaku pembunuhan di kawasan Tangga Buntung Jalan Pangeran Sido Ing Lautan Lorong Manggis Kelurahan 36 Ilir Kecamatan Gandus Palembang Sabtu, 23 Februari 2019 sore.

”Salut dengan Tentara yang Selalu Dekat dengan Masyarakat”

Dari informasi dihimpun, pelaku penusukan diduga lebih dari lima orang. Ketika itu pelaku baru mengetahui bahwa Briptu Agus merupakan anggota polisi.

“Anggota Sabtu sore melakukan penyelidikan terhadap pelaku pembunuhan pada tahun 2018 korbannya meninggal dunia. Saat berpapasan itu si pelaku ini curiga dan langsung kabur,” kata Direktur Reskrimum Polda Sumsel, Kombes Yustan Alpiani di IGD RS Bhayangkara Palembang, Sabtu, 23 Februari 2019 malam.

Yustan mengatakan, saat itu pelaku lari dan langsung dikejar oleh Briptu Agus. Saat mengejar pelaku, anggota terjebak di kerumunan preman yang sedang berkumpul.

Astaghfirullah.. Pasangan Sejoli Ini Tertangkap Lagi Wik Wik Diatap Masjid

“Saat mengejar dan berada di tempat mereka berkumpul pelaku langsung teriak dan Briptu Agus dikeroyok. Sekitar 15-20 orang pelakunya dan tiga pelaku melakukan penusukan dengan senjata tajam pisau,” ujarnya.

Meski dalam kondisi luka tusuk di punggung Briptu Agus berusaha menyelamatkan diri.

Kemudian Briptu Agus diselamatkan oleh anggota lain yang ikut memantau penangkapan pelaku dari kejauhan.

“Teman Briptu Agus yang datang ke TKP langsung membawa Agus ke rumah sakit Bhayangkara. Ada tiga luka tusuk di punggung Briptu Agus dan kondisinya saat ini sudah membaik dan dalam perawatan,” katanya.

Saat ini baru empat pelaku yang berhasil ditangkap.

Satu ditembak karena melakukan perlawanan (ditembak) saat ditangkap. Sisanya masih dikejar.

Keempat pelaku adalah Heriyadi, Khoiri dan Ajit. Sementara satu pelaku lain yakni Agung, yang tidak lain adalah pelaku penusukan tahun 2018 lalu dan menyebabkan korban, Refi Saputra meninggal dunia.(***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Palembang – Harismail (25), pria yang dipaksa mengaku sebagai pelaku pemerkosa bidan desa YL harus terbujur lemah di kamar rumah sakit RS Bhayangkara, Palembang Sabtu, 23 Februari 2019.

Saat itu Harismail ditemukan warga di Kecamatan Rambutan, sudah tergeletak dengan mata tertutup lakban dan penuh luka di sekujur tubuh.

 

Harismail belum bisa membuka matanya akibat mengalami luka lebam di wajahnya.

Bapak satu anak tersebut menceritakan dengan pelan bagaimana kasus yang menimpanya pertama Kali.

Kronologi

Harismail menceritakan kronologi awal mula dirinya yang tiba-tiba saja dipaksa untuk masuk ke dalam sebuah mobil orang tak dikenal.

“Saya habis beli rokok, waktu mau pulang dicegat di depan rumah teman saya. Saya lagi di sana. Di masukan ke dalam mobil,” ungkapnya menceritakan kejadian dirinya ditangkap.

Dalam perjalanan tersebut, dirinya dipaksa mengaku sebagai pelaku pemerkosa bidan YL.

Harismail yang biasa dipanggil Ujang atau Hari berusaha membantah setiap tuduhan terhadap dirinya.

Dipaksa Mengaku

Berbagai siksaan datang saat dirinya membantah setiap pertanyaan.

“Dipaksa ngaku aku. Aku bantah, jawab tidak. Ada sekitar sejaman lebih saya di dalam mobil tangan diborgol jelasnya lemas,” ungkapnya.

Keluarga Hari baru mengetahui kejadian sehari setelah korban dibawa pergi orang tidak dikenal.

Informasi tersebut didapat dari Kepala Desa, Kamal, Kecamatan Pumulutan Barat.

“Uji kades tobok (aku) ke Palembang. Bujang tobok di RS Bhayangkara sekarang, masuk rumah sakit,” ungkap ibu korban Hasanah (60) menirukan omongan kades.

Alami Luka Lebam

Dia mengaku lemas mengetahui anaknya menderita luka lebam di sekujur tubuh.

Tangan, kaki, dan wajah serta mata yang mengeluarkan darah.

Pergelangan tangan kiri dan kanan Haris pun mengalami luka seperti bekas jeratan.

“Babak belur Haris dipukulin. Saya enggak tau siapa yang mukulin, saya hanya minta kasus ini diusut.

Pengakuan Saksi

Salah seorang saksi mata, yang merupakan teman korban Krisna Murdani (25) melihat bagaimana korban dibawa secara paksa.

Dua tembakan ke udara dan satu tembakan ke tanah membuat geger warga.

Pasalnya, saat ditangkap Krisna menyaksikan teman satu profesinya tersebut dibawa polisi.

Saat ditangkap, 2 mobil dan 3 motor menjemput paksa korban Haris.

“Ada dua mobil. Innova warna telur bebek sama Avanza putih. Sisanya naik motor. Yang menyetop hari 2 orang naik motor RX King. Lalu dia dimasukan ke mobil. Motor saya yang lagi dibawa sama Hari juga dibawa pergi.”

“Saya tanya mau dibawa kemana. Dijawab, ke Polda. Karena kami baru saja pulang dari mengangkut batu dari Gasing,” ujarnya.

Haris sempat meminjam motor milik Krisna untuk membeli rokok.

Keduanya baru saja makan-makan di rumah Krisna. Kedua teman tersebut, belum lama pulang mengantar batu split dari Gasing ke proyek Tol Kayuagung.

“Kami beduo gawe ngangkut Batu, kami nih supirnyo. Dari hari sabtu, 16 Februari 2019 kami di Kayuagung. Balek itu Kamis, 21 Februari 2019, baru istirahat kejadian dio dibawak. Tangan diborgol dimasuke dalam Mobil.”

“Karena kejadian itu, motor aku jugo dibawak. Motor Revo BG 5719 JY,” ujarnya.

Pihak keluarga hingga saat ini masih menunggu itikat baik pihak yang terlibat penculikan terhadap Haris.

“Kami ingin pihak yang terlibat bertanggung jawab. Tolong diobati, kami dak bakal nuntut secara hukum. Kalau ada itikad baik. Kami sudah lapor ke Polda informasi awal diculik wong,” ungkapnya.

Bidan YL Mengaku Diperkosa

Seperti diberitakan sebelumnya, dugaan pemerkosaan disertai perampokan menimpa seorang Bidan Desa (Bides) Desa Simpang Pelabuhan Dalam Kecamatan Pemulutan Kabupaten Ogan Ilir (OI) berinisial Yl (27).

Peristiwa terjadi Selasa, 19 Februari 2019 sekitar pukul 00.30 dini hari, berlangsung di kamar korban Yl yang tinggal di kantor Puskesdes, Desa Simpang Pelabuhan Dalam.

Korban yang ditinggal suaminya pergi keluar daerah tersebut, tidak bisa berbuat banyak, tanpa bisa melakukan perlawanan.

Menurut Zainal, orang pertama yang ditemui korban, usai kejadian mengatakan, bahwa korban mengaku baru saja diperkosa dan dirampok oleh pelaku yang belum diketahui identitasnya itu.

Lalu Zainal menghubungi Kades Simpang Pelabuhan Dalam Nurdin Abdullah, kemudian keduanya mendatangi lokasi TKP, baru selanjutnya dilaporkan ke Polsek Pemulutan.

“Semalam ramai disini, petugas dari Polsek Pemulutan sudah melakukan olah TKP,’’ kata Kades Nurdin Selas, 19 Februari 2019.

Dari keterangan korban Yl kepada Kades, bahwa pelaku yang belum diketahui berapa jumlahnya, karena situasi gelap didalam rumah, pelaku masuk ke kamar tidurnya, dan membekap muka korban dengan bantal, lalu melilit leher korban dengan kain.

“Nah kemungkinan saat itulah korban diperkosa,’’ ujar kades yang mengaku korban Yl sempat shock dan pingsan akibat kejadian tersebut.

Korban sempat dirawat di RS Muhammadiyah Palembang.

“Kami mengantarkannya ke RS Muhammadiyah, karena selain diduga diperkosa, muka korban lembab akibat dipukul oleh pelaku, korban juga kehilangan uang Rp 500 ribu dan sebuah ponsel,’’ ujar Kades Simpang Pelabuhan Dalam Pemulutan.

Kapolres OI AKBP Ghazali Ahmad melalui Kasat Reskrim AKP Malik Fahrin membenarkan adanya seorang Bides di Simpang Pelabuhan Dalam menjadi dugaan korban pemerkosaan dan perampokan.

“Kasus ini dilaporkan ke Polsek Pemulutan, namun akan kami back-up,’’ kata AKP Malik Fahrin.

Tim Labfor Ungkap Tidak Ada Bukti Diperkosa

Dalam penyelidikan lanjutan, polisi tidak menemukan adanya pemerkosaan dalam kasus bidan desa YL.

Kalabforcab Palembang, Kombes Pol I Nyoman Sukena. SIK membenarkan pernyataan Kapolda Sumsel mengenai tidak ditemukannya bukti ilmiah hasil olah TKP Tim Forensik.

Menurutnya, dari hasil yang ada saat ini dari bukti-bukti yang sudah dikumpulkan tidak diketemukan petunjuk yang mengarah pada kasus pemerkosaan.

“Sampai saat ini kita sudah melakukan olah TKP mencari alat bukti yang diperlukan. Seperti sperma atau bulu kemaluan, tapi tidak ditemukan. Hal itu penting untuk membuktikan secara sciencetifik,” ujarnya.

Dikatakan, pemeriksaan lain juga dilakukan untuk melihat sidik jari yang tertinggal. Apa lagi dari informasi yang didapat, korban mengaku didatangi lima orang.

“Kalau dari informasi ada orang Lima, namun hasil penyelidikan di pintu tidak ditemukan jejak sidik jari, dan bekas tempelan jejak kaki di rumah. Dari sprei juga tidak ditemukan bekas sperma,” ujar Kalabfor.

Kapolda Sumsel, Irjen Pol Zulkarnain Adimegara menerima hasil labfor mengenai kasus pemerkosaan Bidan YL (27) yang bertugas di Pumulutan, Ogan Ilir.

Dari hasil penyelidikan tim labfor didapatkan fakta berbeda, jika sebelumnya korban mengaku diperkosa, hasil labfor tidak menunjukan adanya tanda-tanda korban diperkosa.

Hal tersebut didapat dari hasil pemeriksaan ilmiah di TKP.

“Tim forensik mengungkap, kami membangun asumsi melalui fakta peristiwa. Semua itu dibuktikan dengan fakta ilmiah. Tim sempat berdebat, karena dari puskesmas membawa sampel sperma, tim labfor mengatakan bukan,”

“Termasuk di kasur diperiksa tanda-tanda sperma yang tertinggal atau pun bulu-bulu halus,” ujarnya saat ditemui di Polda Sumsel, Jumat, 22 Februari 2019.

Selain itu tim juga memeriksa tempat praktek dan tempat tinggal sang bidan desa, yang dari pengakuannya diperkosa ketika malam hari.

“Saat kejadian terjadi hujan lebat. Kami tidak menemukan jejak kaki, seharusnya jika ada yang masuk akan meninggalkan jejak. Dari sidik jari pun tidak ditemukan,” jelasnya.

Hingga saat ini pihak kepolisian, terus menunggu hasil visum terhadap korban.

Kapolda juga enggan mengatakan jika korban tidak diperkosa.

“Kami tidak berasumsi jika dia tidak diperkosa. Semuanya dibuktikan secara Ilmiah, seperti pemerkosaan dan pembunuhan mahasiswi di Gelumbang kemarin hasil labfor terbukti ditemukan sperma. Jadi hingga sekarang kami menunggu hasil visum korban,” ungkapnya.

Tim dari Polda Sumsel Langsung Cek Kondisi Harismail

Tim dari Polda Sumsel mengecek kondisi Harismail (25) di RS Bhayangkara Palembang, Sabtu, 23 Februari 2019.

Hal itu diungkapkan Junaidi, kakak kandung Harismail (25).

Junaidi yang menerima langsung Tim dari Polda Sumsel.
x
Harismail sendiri sampai saat ini masih terbaring lemah di ruang rawat inap rumah Sakit Bhayangkara Palembang.

Menurut pengakuan Junaidi, pihak kepolisian datang memastikan kondisi kesehatan adiknya Harismail.

“Tadi ada polisi datang menanyakan kondisi adik saya. Ada dua polisi yang datang,” ujarnya.

Tidak berselang lama Tim dari Propam Polda Sumsel datang menjenguk korban guna memastikan kebenaran kejadian yang menimpa Harismail.

“Yang kedua dari Propam Polda Sumsel sudah datang. Mereka berjanji akan mencari tahu terlebih dahulu,” ujarnya. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Bengkulu – Erni Susanti (31), seorang ibu yang sedang hamil tua tewas setelah dibunuh oleh suaminya sendiri, Romi Sepriawan Kamis 21, Februari 2019 di Kota Bengkulu.

Sebelum tewas dengan luka di leher dan perut, Erni ternyata sempat mengungkapkan permintaan terakhir kepada suaminya.

Permintaan terakhir Erni terungkap dari pengakuan Romi yang banyak beredar di media sosial.

Romi mengaku sang istri sempat memintanya untuk menyelamatkan janin buah hati mereka.

Awalnya, Romi mengaku membunuh sang istri yang sedang hamil tua menggunakan parang.

“Pakai parang,” katanya.

Parang tersebut ia pinjam dari tetangganya dengan alasan hendak memotong buah kelapa.

Dimintai keterangan, Romi mengaku bahwa dirinya melukai istrinya pada bagian leher.

Meski dilukai dengan senjata tajam oleh Romi, Erni ternyata masih sempat sadarkan diri.

Saat itulah ia melontarkan permintaannya agar Romi menyelamatkan anak yang sedang dikandungnya.

“Terus dia kode anak katanya,” uca Romi menceritakan permintaan Erni.

“Saya ambil anaknya (dari dalam perut),” jelas Romi.

Berita yang beredar di media sosial, Romi mengambil anak di dalam kandungan Erni dengan cara membelah perut Erni.

Namun terkait kebenaran kabar tersebut, pihak kepolisian setempat masih belum memberikan penjelasan lebih lanjut, lantaran masih melakukan penyelidikan.

Diketahui, seusai membunuh Erni, Romi berteriak meminta pertolongan pada tetangga dan juga kakaknya.

Romi mendatangi rumah salah satu warga dengan kondisi berlumuran darah.

Melihat kondisi Romi itu, warga langsung memanggil ketua RT dan juga pihak kepolisian.

Menyerahkan diri ke polisi saat korban dievakuasi, Romi mengakui perbuatannya itu kepada polisi.

Saat Romi mengakui perbuatannya, ratusan warga yang ada di sekitar lokasi sempat ingin menghakiminya.

Namun polisi dengan sigap mengamankan Romi.

Dalam pengakuannya pada kepolisian, Romi mengaku melukai leher dan juga perut sang istri.

“Saya melakukannya karena khilaf, kami cekcok perkara ponsel, dia seperti merahasiakan sesuatu,” jelas Romi di Mapolres Bengkulu Jumat, 22 Februari 2019.

“Pelaku sudah diamankan ke Polres Bengkulu,” ujar Kapolsek Teluk Segara Kompol Jauhari, Jumat, 22 Februari 2019.

Diketahui, Erni adalah ibu beranak tiga yang bekerja sebagai pedagang.

Pengakuan Romi Tega Bunuh Istrinya yang sedang Hamil

Romi diamankan pihak terkait setelah Erni ditemukan tewas.

Dalam keterangan video yang beredar itu, diketahui bahwa kejadian pembunuhan tersebut terjadi pada Kamis, 21 Februari 2019, sekitar pukul 13.30 WIB.

Dalam pengakuannya, Romi mengaku menghabisi nyawa istrinya itu lantaran emosi tak kunjung diberi tahu kode handphone sang istri.

“Sekitar 4 bulanan pak, masalahnya itu HP, jadi di HP dia itu seperti menyimpan sesuatu, kan pakai kode kan,” kata Romi, seperti yang dikutip dari tayangan akun Facebook Yuni Rusmini.

Berkali-kali ditanya oleh suaminya, korban diiketahui enggan memberikan kode handphonenya pada Romi.

“Terus saya bilang, jujur aja, saya terima, jujur, terus, dia jawab enggak ada apa-apa cuma dia ngotot-ngotot terus,” kata Romi menjelaskan percakapannya dengan sang istri.

Meskipun korban menegaskan tidak ada hal lain di handphone miliknya, Romi mengaku tetap tidak percaya.

“Cuma kata saya enggak mungkin (percaya) HP ini soalnya ini HP dia kunci dia masa dia enggak tahu ya kan di setel di HP,” jelas Romi lagi Kamis, 21 Februari 2019.

“Saya tanya apa dia kata enggak ada apa-apa tapi kok bisa ada (kode) sendiri enggak mungkin kata saya kan.”

Ia juga mengatakan bahwa istrinya sempat marah saat ia bertanya mengenai kode handphone.

“Terus lama-lama saya tanya, dia balik ngotot, kadang saya diam kadang saya keluar kadang ribut kami,” jelasnya.

Mengaku sudah bertengkar dengan sang istri selama 4 bulan, Romi mengaku tetap berusaha untuk mengalah.

Ia mengaku lebih memilih keluar rumah saat terlibat pertengkaran dengan istrinya yang sedang hamil itu.

“Pokoknya sudah empat bulanan kayak gitu, tapi kejadiannya seperti tadi pagi, aku ribut, aku keluar gitu sama kakak ini, sudah itu bagus lagi gitu kan,” kata Romi.

Meskipun pertengkaran keduanya mulai membaik, namun Romi menilai bahwa sang istri kerap memancing permasalahan kembali.

“Dia itu sering jawab itu seperti mancing terus tapi ya aku lah yang salah ya,” jelas Romi.

Bertengkar selama 4 bulan lamanya, emosi Romi kemudian memuncak sampai berujung dirinya tega membunuh Erni, istrinya.

Romi mengaku emosi lantaran tidak didengarkan saat sedang berbicara.

“Susah ngomongnya om, pas saya ajak ngobrol baik-baik dia tinggalin saya ke kamar,” terang Romi.

“Padahal maksud saya mau tanya kan, terus masalah seperti itu kami tidak ada masalah lain,” katanya.

Romi mengaku istrinya itu enggan memberikan kesempatan pada Romi untuk memberikan penjelasan sedikitpun.

“Di setiap saya ngajak ngobrol dia masuk ke kamar, enggak pernah apa jelaskan enggak ada apa-apa itu kata dia,” tutur Romi.

“Atau tunggu saya dulu biar saya ngomel sedikit, enggak dia langsung tinggalin, kadang dia yang marah itulah puncaknya tadi om,” kata Romi menjelaskan.

Romi Bunuh Istrinya dengan Parang Pinjaman

Disebutkan bahwa parang yang digunakan oleh Romi untuk membunuh sang istri, dipinjam dari tetangga dengan alaan untuk membuka kelapa.

Setelahnya, Romi langsung menyembunyikan parang tersebut di dalam kamarnya di balik selimut di kamar tempat korban tidur.

Korban yang awalnya tertidur di kamar kembali terlibat cekcok dengan Romi setelah bangun.

Saat itulah Romi menghabisi nyawa istrinya dengan parang yang ia sembunyikan.

“Berawal dari pelaku marah kepada korban karna tidak diperbolehkan melihat handphone korban, setelah itu terjadilah cekcok,

dan kemudian pelaku keluar rumah setelah itu kembali lagi meminjam parang milik tetangga dengan alasan ingin membuka kelapa, setelah meminjam parang ke tetangga nya,

Pelaku masuk ke dalam rumah lagi dan masuk kedalam kamar menaruh parang tersebut di atas kasur dengan ditutupi selimut dalam posisi korban tertidur,

Melihat pelaku masuk membuka pintu kamar korban terbangun setelah itu terjadi cekcok lagi antara korban dan pelaku, setelah itu pelaku langsung mengambil parang yang di tarok di balik selimut dan langsung menebas leher korban dalam posisi korban sedang tiduran di atas kasur. (***)

sumber: tribunnews.com