KRIMINALITAS

MEDIAKEPRI.CO.ID, Papua – Sejumlah guru dan tenaga kesehatan di Distrik Mapenduma, Kabupaten Nduga, Provinsi Papua disandera Kelompok kriminal bersenjata (KKB).

Kepala Bidang Humas Polda Papua Kombes Pol AM Kamal mengatakan, dari keterangan salah satu guru SD YPGRI 1 Mapenduma berinisial MN, diketahui bahwa MN dan 15 orang guru lainnya serta tenaga kesehatan di Distrik Mapenduma diancam dan ditahan untuk tidak melakukan aktivitas selama dua pekan dari 3 Oktober hingga 17 Oktober 2018.

“Iya, KKB menyandera sekelompok guru dan tenaga kesehatan,” kata Kombes Kamal, Senin, 22 Oktober 2018.

Pelaku pengancaman adalah Egianus Kogeya yang merupakan adik dari Kely Kwalik, mendiang pimpinan Organisasi Papua Merdeka (OPM).

KKB mengancam para guru dan tenaga medis tersebut lantaran mencurigai mereka sebagai aparat keamanan, yang sedang menyamar untuk mengorek informasi tentang KKB di Distrik Mapenduma.

Distrik Mapenduma memiliki dua sekolah yakni SD YPGRI 1 Mapenduma dan SMPN Mapenduma. Selain itu distrik ini memiliki sebuah puskesmas. Polisi langsung bergerak saat mengetahui adanya penyanderaan ini.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo menambahkan, saat ini para guru dan tenaga kesehatan sudah diamankan polisi. Hanya dua korban yang kondisinya luka-luka karena dianiaya.

“Setelah kami cek, ternyata beberapa guru dan tenaga kesehatan sudah dibebaskan oleh KKB. Cuma ada dua korban dianiaya sehingga luka-luka. Dianiaya karena dianggap sebagai mata-mata,” katanya.

Satu korban telah dilarikan ke RS Bhayangkara Jayapura. Sementara satu lainnya dirawat di RS Wamena. (***)

sumber:indonesiamedia.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Polisi bergerak menelusuri kabar Ratna Sarumpaet yang mengaku dianiaya. Hasilnya akan dipaparkan siang ini.

“Ya, nanti rilis ya jam 10.30 di Gedung Promoter Polda Metro,” kata Kadiv Humas Mabes Polri, Irjen Setyo Wasisto saat dikonfirmasi, Rabu, 3 Oktober 2018.

Hasil ini berdasarkan penelusuran polisi setelah mendapat kabar viral Ratna yang mengaku dianiaya di Bandung.

Kemarin, polisi sudah menyatakan bahwa tidak ada nama Ratna di rumah sakit di Cimahi.

Dari Bandung, polisi juga melakukan penelusuran di Jakarta. Hasilnya lengkapnya akan dijabarkan nanti.

Ratna Sarumpaet sendiri belum melaporkan klaim penganiayaan ini ke polisi. Ratna disebut pesimistis.

Saat bertemu capres Prabowo Subianto, Ratna membeberkan pengakuan penganiayaannya. Dia mengaku dianiaya di Bandung pada 21 September 2018. (***)

sumber: detik.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Bandung – Haringga Sirla tewas dikeroyok oknum Bobotoh saat akan menonton pertandingan Persib Bandung melawan Persija Jakarta Ahad, 23 September 2018.

Haringga dikeroyok lantaran diketahui warga Jakarta. Bagaimana bisa ketahuan?

Kasatreskrim Polrestabes Bandung AKBP M Yoris Maulana mengatakan sebelum pertandingan digelar di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) Bandung berlangsung kemarin tepatnya pukul 13.00 WIB, Haringga datang bersama seorang rekannya menggunakan sepeda motor. Beberapa oknum Bobotoh langsung melakukan aksi sweeping.

“Saat korban dan temannya menggunakan sepeda motor melintas di depan GBLA dan ternyata dilakukaan sweeping oleh anak-anak dari oknum Bobotoh,” ujar Kasatreskrim Polrestabes Bandung AKBP M Yoris Maulana di Mapolrestabes Bandung, Jalan Jawa, Kota Bandung, Senin, 24 September 2018.

Para oknum Bobotoh lantas mengetahui korban merupakan warga Jakarta. Hal itu terlihat dari KTP korban yang ditemukan oknum Bobotoh.

“Mereka mendapatkan ada satu orang diduga Jakmania yang memiliki KTP dari Jakarta,” katanya.

Sejumlah oknum Bobotoh lantas melakukan penganiayaan secara sadis. Korban dianiaya beberapa kali oleh sejumlah oknum Bobotoh.

Yoris mengatakan pelaku datang ke Bandung seorang diri. Dia datang sengaja untuk menonton laga Persib versus Persija.

“Setelah di Bandung dia dijemput oleh temannya. Mereka berdua menaiki sepeda motor ke stadion,” kata dia. (***)

sumber: detik.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Medan – Insiden penikaman guru berinisial PS oleh muridnya di SMK Negeri 1 Sorkam, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara menggegerkan dunia pendidikan di Indonesia.

PS sempat dibawa ke Puskesmas Gonting Mahe untuk mendapatkan perawatan sementara sebelum dilarikan ke RSU DR FL Tobing.

Saat dibawa sejumlah guru dan murid turut mendampingi korban. Istri dan anak korban juga tampak sudah berada di rumah sakit.

Belum diketahui pasti, apa yang memicu pelaku berinisial AP, pelajar kelas XI tersebut menancapkan pisau ke perut gurunya berinisial PS (44) yang mengajar sebagai guru otomotif.

Informasi yang dihimpun, kejadian begitu cepat saat jam istirahat selesai dan para pelajar serta guru sedang menuju ke dalam kelas.

“Pas mau masuk ke dalam kelas lah, korban rangkul AP dan disitulah korban ditikam AP dua kali,” kata Situmeang, rekan korban sesama guru, Sabtu, 15 September 2018.

Menurut Situmeang, AP memang dikenal nakal dan sering melawan kepada guru, terutama kepada PS. Saat berada di luar sekolah AP sempat memaki gurunya tersebut.

Dan saat berada di sekolah, menjadi momen PS untuk menasehati muridnya tersebut. Namun nahas, AP bertindak nekat.

“Anak ini memang bandel,” katanya.

Sementara itu, rekan guru lainnya di sekolah yang sama, Jenni menuturkan hal serupa.

AP menurut dia adalah murid yang nakal dan sudah sering dinasehati para guru. Korban sepengetahuan Jenni bukanlah guru yang keras pada murid.

“Bapak itu bukannya keras, bapak itu cuma menasehati siswa yang nakal kan wajar itu,” ucapnya.

Ditanya apakah ada unsur dendam murid kepada guru tersebut sehingga melampiaskannya dengan melakukan penusukan, guru perempuan ini mengaku tidak mengetahuinya.

“Kalau itu saya kurang tahu, yang saya tahu dia sedang dinasehati, tiba-tiba pisau langsung ditancapkan, itu yang saya tahu,” terang Jenni.

Perlu diketahui, korban PS merupakan penduduk di kecamatan Sarudik, Kabupaten Tapanuli Tengah tersebut sudah dibawa ke RSU DR FL Tobing Sibolga dan saat ini berada di ruang Instalasi Gawat Darurat (***).

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jambi – Seorang istri di Desa Sungai Mengkuang, Kecamatan Rimbo Tengah, Kabupaten Bungo, Jambi nekat menghabisi suaminya, Hr, Ahad 19 Agustus 2018.

Senin, 20 Agustus 2018, Ms menghabisi nyawa suaminya dengan memukul kepala korban berulang kali saat sedang tidur.

Sebelum melarikan diri, Ms sempat datang ke tetangga untuk meminjam uang.

Dia juga bercerita telah membunuh suaminya.

Armidi, Kepala Dusun setempat, mengatakan, warga lalu menemuinya, dan mereka bergegas menuju pondok Hr.

“Alangkah terkejut kami menemukan suaminya telah terbujur kaku bersimbah darah,” katanya.

Polisi yang dipanggil pun tiba di lokasi kejadian tak lama setelah itu.

Kabar istri yang bunuh suaminya tersebut juga beredar di media sosial, seperti diunggah akun Facebook Herpendi.

Menurut Herpendi, istri tersebut membunuh suaminya yang tidur di dalam pondok di tengah kebun karet.

Herpendi juga membagikan foto-foto bekas pembunuhan tersebut.

Diberitakan TribunJambi.com, kini Ms telah ditangkap, Senin, 20 Agustus 2018 dini hari.

Pelaku ditangkap saat hendak melarikan diri ke arah Sumatera Barat.

Kasatreskrim Polres Bungo Hendi Septiadi mengatakan, kasus ini masih dalam penyelidikan. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Polisi telah mengungkap motif penculikan yang dilakukan dukun bernama Jago (83) terhadap wanita berinisial H (28). Motifnya adalah Jago ingin menyetubuhi H.

“Motifnya persetubuhan di bawah umur,” kata Kapolres Tolitoli AKBP M Iqbal Alqudusy kepada detikcom, Senin, 6 Agustus 2018.

Diketahui H diculik sejak usia 13 tahun pada 2003 silam. Iqbal menerangkan saat hendak menyetubuhi, Jago menunjukan foto pria yang disebut sebagai Amrin kepada H. Iqbal menambahkan Jago mengatakan kepada H bahwa Amrin adalah jin yang akan merasuki tubuhnya.

“Korban disetubuhi sejak 2003, saat masih umur 13 tahun. Modus tersangka adalah mensugesti H dengan sebuah foto pria yang diberi nama Amrin,” terang Iqbal.

“Lalu mengatakan Amrin itu jin yang akan masuk ke tubuh tersangka. Tersangka mengakui itu (kepada polisi), bahwa Amrin itu ya dirinya sendiri,” sambung dia.

Iqbal menegaskan Jago dikenai Pasal 76D, 76E dan 81 Undang-undang Perlindungan Anak Nomor 35 Tahun 2014 tentang Persetubuhan dan Pencabulan Anak di Bawah Umur. Ancaman hukuman bagi Jago adalah 15 tahun penjara.

H ditemukan di sela bebatuan besar di dekat rumah dukun bernama Jago pada kemarin, Desa Bajugan, Kecamatan Galang, Tolitoli, Sulawesi Tengah pada Ahad, 5 Agustus 2018.

2003 silam, keluarga pernah membawa H untuk berobat alternatif ke Jago.

Beberapa saat setelah itu, H dinyatakan hilang dari keluarganya. Kepada keluarga H, Jago berpura-pura menerawang keberadaan H dan mengatakan H telah pergi jauh. (***)

sumber: detik.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Tangerang – Seorang pria di Tangerang berinisial HI (32) nekat membakar rumah milik wanita yang dicintainya berinisial TK (36) .

Rumah wanita yang berstatus janda tersebut beralamatkan di Jalan Suryadarma, Kelurahan Selapajang Jaya, Kecamatan Neglasari, Kota Tangerang.

Pelaku yang berstatus duda itu kehilangan akal sehatnya saat jalinan asmaranya berakhir dengan TK.

TK menolak untuk melanjutkan biduk cintanya dengan pria berusia 32 tahun tersebut.

“Motifnya berawal dari asmara. Jadi antara pelaku dengan penghuni rumah yang dibakar ini berpacaran. Kemudian pelaku ditolak sehingga emosi dan bakar rumah,” ujar Kapolsek Neglasari, Kompol Robinson Manurung, Jumat, 3 Agustus 2018.

Keduanya sempat memadu kasih selama satu tahun lamanya.

Sepanjang satu tahun itu, pasangan ini hanya berhubungan lewat pesan singkat melalui telepon seluler.

Mereka baru bertemu sebanyak tiga kali.

“Pelaku bisa kenal korban lewat nomor telepon acak,” ucapnya.

Tersangka berasal dari Majalengka.

Duda pengangguran tersebut membakar rumah korban pada Jumat, 3 Agustus 2018 dini hari.

Manurung menyebut pelaku membakar rumah janda ini menggunakan korek gas yang dinyalakan dengan pakaian.

Kemudian api berkobar di jendela dan meludeskan kediaman milik TK.

“Rumah terbakar. Api menyala besar,” kata Manurung.

Sementara itu, pelaku mengklaim bahwa selama dirinya berhubungan, korban mengaku berstatus seorang janda.

Bahkan korban selalu memberinya uang serta telepon seluler.

“Dia (TK) bilangnya janda. Saya dikasih uang sama handphone sama dia,” ungkap HI.

Ia merasa kesal karena hubungannya disudahi korban.

“Saya sakit hati diputusin, ya sudah bakar rumah pakai plastik ditaruh di sofa rumahnya,” kata pelaku.

Akibat perbuatannya tersebut pelaku mendekam di tahanan Mapolsek Neglasari.

Tersangka dijerat Pasal 187 KUHP dengan ancaman hukuman 12 tahun penjara.(***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Bojonegoro – Polisi mengamankan dua orang penjaga rumah di Bojonegoro, Jawa Timur lantaran menguras harta majikannya yang telah meninggal dunia.

Kapolres Bojonegoro, AKBP Ary Fadli mengatakan, penangkapan dua pelaku pencurian itu dilakukan dari hasil rekaman CCTV. Kedua pelaku berinisial SN (39) dan AG (27) warga Desa Nglarangan, Kecamatan Kanor, Kabupaten Bojonegoro.

Sedangkan korbannya adalah almarhum Andi Tjandra, mantan Kepala Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Pemkab Bojonegoro.

Kronologi pencurian saat itu, rumah korban dalam keadaan sepi. Hanya ada AG yang kebetulan bertugas sebagai penjaga rumah milik almarhum Andi Tjandra sehari-harinya.

“Pas korban meninggal dunia, dan dimakamkan di daerah Surabaya, pada saat itulah rumah dalam keadaan sepi. Selanjutnya pelaku meminta bantuan tetangganya SN untuk melakukan aksinya,” terang Kapolres Bojonegoro, AKBP Ary Fadli, Senin, 30 Juli 2018.

Kedua pelaku masuk kamar korban yang terkunci melalui jendela. Selanjutnya menguras barang-barang berharga seperti HP, soundsystem, helm senilai Rp5 juta, tas senilai Rp30 juta, hingga emas batangan milik korban.

“Banyak barang-barang yang diambil, termasuk uang tunai sekitar Rp50 juta yang saat ini sudah habis digunakan foya-foya oleh kedua pelaku. Barang yang diambil oleh pelaku diangkut menggunakan mobil bak terbuka,” terangnya.

Kapolres menyebut, barang yang dicuri kedua pelaku diperkirakan mencapai Rp300 juta rupiah. Dia juga menyebutkan, jika pelaku AG sebenarnya orang yang dipercaya untuk menjaga rumah, namun saat rumah sepi AG malah melakukan aksi pencurian dengan rekannya SN.

“AG sudah tiga tahun menjadi penjaga rumah korban. Sementara aksi pencurian ini dilaporkan oleh istri korban,” paparnya.

Kapolres menambahkan, kedua tersangka mencoba menghilangkan jejak usai melakukan pencurian. AG dan SN mengganti kunci kamar yang sudah dirusak dengan kunci pintu baru.

“Dari tidak bisa dibukanya pintu kamar itulah korban istri almarhum Andi Tjandra curiga. Kemudian melapor ke Polres Bojonegoro, dan dilakukan penangkapan,” tandasnya.

Kedua tersangka dijerat pasal 363 KUHP tentang Pencurian dengan Pemberatan dengan hukuman maksimal 7 tahun penjara. Saat ini keduanya mendekam dibalik jeruji besi tahanan Mapolres Bojonegoro. (***)

sumber: inilah.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Bekasi – Seorang pria berinisial B menusuk pria berinisial H hingga tewas di Jalan Cemerlang, Kelurahan Jatibening Baru, Kecamatan Pondok Gede, kota Bekasi, jumat, 27 Juli 2018.

H merupakan pacar seorang wanita berinisial P.

Sedangkan pelaku penusukan adalah mantan P.

Kapolres Metro Bekasi Kota Kombes Indarto mengatakan, motif pembunuhan diduga karena cemburu.

“Jadi pelakunya sudah ketangkap, bekas pacarnya P. Pacarnya ini abis makan terus pulang tiba-tiba ditusuk trus kita tangkep. Motifnya cemburu,” jelas Indarto di Mapolres Metro Bekasi Kota, Jumat.

Berdasarkan dari keterangan Sunah (60) saksi kejadian, pada pukul 03.00 WIB dia mendengar suara keributan di belakang rumahnya.

Lalu ketika dicek, dia mendapati seorang membawa pisau dan satu orang terjatuh di tanah.

“Jam 3 subuh, saya dengar ada keributan saya pikir orang mabuk atau apa ya, pas saya lihat dibelakang rumah ada orang bawa pisau, sama satu orang udah jatuh di bawah,” kata Sunah.

Pelaku berinisial B sempat kabur sebelum akhirnya menyerahkan diri.

Sedangkan korban berinisial H tewas dan ditemukan beberapa luka tusukan ditubuhnya. Korban yang sedang mengantar pulang pacarnya itu tiba-tiba diserang pelaku dan langsung ditusuk.

“Dia (korban) kayaknya abis antar P, tau-tau ada pelaku langsung nyerang, saya kurang tahu persis ya awalnya sempet gemetar lihat darah orang,” ujar Sunah.

Polisi pun datang ke Tempat Kejadian Perkara (TKP) pada pukul 05.00 WIB untuk melakukan penyidikan dan membawa korban ke Rumah Sakit Polri Kramat Jati. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Pangkalan Kerinci – Praktik aborsi yang dilakukan pasangan tak memiliki ikatan pernikahan di Pangkalan Kerinci oleh Polres Pelalawan membuat heboh.

Pasangan itu ditemukan di Wisma Sarinah oleh polisi setelah menggugurkan kandungannya.

Polisi menemukan jabang bayi berusia empat bulan yang telah digugurkan pasangan tak resmi yang berinisial IS (27) dan ND (28).

Orok itu disimpan dalam kantong plastik dan dimasukkan dalam jok sepeda motor.

Saat diperiksa, janin itu sudah busuk dan mengeluarkan bau tak sedap.

“Waktu diperiksa anggota, janin disimpan dalam jok motor sudah bau busuk. Itulah yang menguatkan kasus aborsi ini,” tutur Kapolres Pelalawan, AKBP Kaswandi Irwan, kepada tribunpelalawan.com, Rabu, 25 Juli 2018.

Menurut pengakuan IS, praktik aborsi dilakukan setelah mengetahui pacarnya ND tengah hamil empat bulan.

Janin yang ada di dalam perut wanita itu merupakan hasil hubungan gelap mereka selama ini.

Padahal IS merupakan pria berisitri dengan dua orang anaknya.

Sedangkan ND merupakan janda yang sedang proses perceraian.

Alhasil IS berencana menggugurkan kandung pacarnya yang semakin membengkak, karena takut ketahuan kepada orang lain termasuk keluarga keduanya.

IS memesan obat ternama dari seorang temannya yang berfungsi untuk mengugurkan kehamilan.

Pada Sabtu, 22 Juli 2018 lalu, IS membawa ND ke salah satu hotel di Pekanbaru dan menginap dengan menyewa salah satu kamar.

Ia memberikan obat tersebut ke pacarnya untuk diminum.

Berselang beberapa jam, janin itupun keluar dari rahim wanita tersebut. IS mencucinya dan membungkusnya dengan kantong plastik.

Pada Selasa, 24 Juli 2018 mereka kembali ke Pangkalan Kerinci dengan membawa orok tersebut yang disimpan di dalam jok sepeda motor.

Dengan alasan kecapean, mereka kembali menginap di Wisma Sarinah Pangkalan Kerinci satu malam dan berniat pulang ke Bandar Petalangan pada Rabu, 25 Juli 2018.

“Hingga akhirnya mereka terjaring razia karena tak dapat menunjukan identitas sebagai suami istri oleh anggota. Maka terbongkarlah praktik aborsi yang tadi,” tambah Kapolres Kaswandi.

Baik IS maupun ND saat ini sedang diperiksa secara intensif atas praktik aborsi yang dilakukannya. ND sempat menjalani perawatan di RS Efarina Pangkalan Kerinci atas pendarahan yang dialaminya akibat aborsi.(***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Purwakarta – Petugas Polres Purwakarta, Jawa Barat membongkar sebuah makam di TPU Cigelam, Kecamatan Babakan Cikao, Kabupaten Purwakarta, Rabu, 25 Juli 2018.

Makam ini merupakan kuburan Siti Munasiro, seorang pembantu asal Kebumen yang diduga menjadi korban penganiayaan majikannya di Perumahan Gandasari Purwakarta.

Siti Munasiroh (27) merupakan warga Kampung Dukuh Waluh Kulon RT 01/03 Desa Waluyorejo, Kecamatan Puring, Kabupaten Kebumen, Jawa tengah, yang meninggal dunia pada 18 Juli 2018. Sebelum meninggal, Siti sempat dibawa ke Rumah Sakit Siloam Purwakarta oleh majikannya.

Kanit Reskrim Polres Purwakarta Iptu Budi Suheri mengungkapkan, pembongkaran makam korban dilakukan karena adanya kejanggalan dalan kematian Siti Munasiroh.

Polisi juga mendapat laporan dari masyarakat melalui aplikasi WhatsApp yang mengonfirmasikan bahwa pembantu di rumah milik Jaya Berlina, Perum Gandasari Blok 5 RT 26/7 Desa Cigelam, Kecamatan Babakan Cikao telah meninggal dunia secara tidak wajar dan dimakamkan malam hari dengan tergesa gesa.

Polisi telah melakukan penyelidikan di rumah Jaya Berlina, tapi berdasarkan keterangan majikan, Siti Munasiroh adalah anak angkatnya yang meninggal dunia karena menderita asma dan TBC. Setelah mencari identitas korban di rumah Berlina, polisi menemukan nomor handphone keluarga kampung halaman.

“Berbekal nomor tersebut akhirnya korban diketahui sebagai pembantu rumah tangga asal Kebumen yang hilang kontak selama 11 tahun. Selama itu korban bekerja di tempat majikanya tersebut,” ungkap Budi.

Sementara dengan adanya keterangan serta persetujuan dari keluarganya, makam korban dibongkar untuk dilakukan autopsi, sehingga penyebab kematian korban dapat diketahui secara pasti. (***)

sumber: sindonews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Surabaya – Desy Ayu Indriani, perempuan yang didakwa membunuh suaminya sendiri menggunakan palu, tak bisa mengelak dari keterangan saksi pada sidang di PN Surabaya, Selasa, 24 Juli 2018.

Keterangan saksi semakin menguatkan dakwaan bahwa terdakwa adalah pembunuh suaminya, Fendik Tri Oktasari.

Pada persidangan di PN itu, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Fathurosyid menghadirkan saksi utama yakni polisi yang menangani kasus ini.

Saksi bernama Aiptu Bambang Hadi Siswanto ini bertutur, ketika polisi datang ke lokasi, dia menemukan posisi Fendik gantung diri, dengan leher terikat tali.

“Namun posisi ini aneh, karena saat ditemukan, kedua tangan korban terikat lakban. Selain itu, jika memang gantung diri, kaki tak menyentuh tanah. Tapi ini posisinya setengah terduduk,” ujarnya.

Setelah diperiksa dan diotopsi, kejanggalan lain adalah ditemukannya memar pada kepala. Memar ini biasanya didapat jika dipukul dengan benda tumpul.

“Dari petunjuk yang ada, maka ini bukan bunuh diri tapi pembunuhan,” katanya.

Kasus ini makin terkuak ketika polisi memeriksa terdakwa. Dari pengakuan Desy, diketahui jika dia memukul suaminya dengan palu seberat 250 gram.

Terdakwa membunuh suaminya karena dibakar rasa cemburu.

“Terdakwa cemburu karena suami yang penjual tahu ini punya WIL,” katanya.

Majelis hakim yang diketuai FX Hanung Dwi lalu meminta jawaban terdakwa atas keterangan saksi, dan dibenarkan Desy. “Iya, benar,” katanya.

Untuk diketahui, polisi dari Polsek Karangpilang menangkap Desy Ayu Indriani. Polisi menangkap terdakwa karena menghabisi korban, namun dengan alibi bunuh diri.

Dari pemeriksaan, diketahui jika korban saat dipukul, posisinya duduk di ruang tengah.

Pertama kali dipukul di bagian kepala kanan, tapi korban tidak melawan. Lantas pukulan kedua dilayangkan Desy dengan kondisi kalap dan pukulannya sangat keras. Pukulan martil itu yang menyebabkan kematian korban Fendik.

Martil yang diamankan di Polsek Karangpilang untuk barang bukti, diambil tersangka di bagian dapur. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Garut – FNM (12), bocah kelas 6 sekolah dasar di Kecamatan Cikajang, Garut, tewas dengan luka sabetan benda tajam. FNM diduga tewas setelah berkelahi dengan teman sekelasnya.

Kapolsek Cikajang AKP Cecep Bambang membenarkan hal tersebut. Cecep mengatakan kejadian tersebut terjadi pada Jumat, 20 Juli 2018.

“Jadi Hkm ini kehilangan buku, kemudian keesokan harinya, Saptu 21 Juli 2018 buku yang hilang tersebut ada di bawah meja belajar FNM. Selepas pulang sekolah, Hkm menuduh jika FNM yang mencuri bukunya sehingga terjadi pertikaian,” ujar Cecep kepada wartawan di kantornya, Jalan Raya Cikajang-Garut, Cikajang, Selasa, 24 Juli 2018.

Perkelahian dua bocah tersebut terjadi sepulang sekolah di kawasan Kampung Babakan Cikandang. Saat perkelahian berlangsung, sambung Cecep, Hkm mengeluarkan gunting yang ia bawa di tasnya kemudian mengarahkan gunting itu ke arah FNM.

“Korban mengalami luka di kepala dan punggung,” kata Cecep.

Setelah perkelahian tersebut, pihak keluarga sempat membawa FNM ke RS Garut untuk mendapatkan perawatan intensif. Namun sayang, nyawa bocah tersebut tak mampu terselamatkan. FNM meninggal pada Ahad, 22 Juli 2018 siang di RS Garut.

Sementara itu kasus tersebut ramai diperbincangkan sore kemarin. Seorang warganet mengunggah foto-foto korban ke media sosial.

Polisi yang mengetahui hal tersebut langsung turun ke lokasi untuk melakukan penyelidikan. Petugas terpaksa jemput bola karena hingga saat ini pihak keluarga tak berani melapor.

“Untuk sementara kami menyita baju seragam milik korban serta gunting yang diduga dipakai untuk menghabisi nyawa korban,” ujar Cecep. (***)

sumber: detik.com

MEDIAKEPRI.CO.ID – Seorang wanita berinisial SW, warga Nabarua, Nabire, Papua, dibakar hidup-hidup DR, suaminya.

Peristiwa itu terjadi pada Sabtu, 21 jULI 2018 sekitar pukul 10.00 WIT karena korban menolak perintah pelaku.

Dilansir Tribun-Video.com dari Kompas.com, Sabtu, 21 jULI 2018, awalnya DR meminta SW mengambil speaker di rumah orangtua DR di Samabusa, tetapi ditolak.

“Korban menolaknya karena ia baru dapat pergi mengambilnya keesokan harinya,” kata Kabid Humas Polda Papua Kombes Ahmad Mustofa Kamal, Sabtu malam.

DR meradang, lalu, sambil membawa sekop dan parang, mengejar SW, yang lari ke rumah tetangga.

Namun, akhirnya SW terkejar dan dibawa pulang DR.

DR kemudian memukulkan botol ke SW di rumah dan menyiramkan minyak tanah ke badan SW sebelum menyulut korek api.

“Tersangka mengambil minyak tanah lima liter lalu disiramkan di tubuh korban hingga tinggal tersisa satu liter,” kata Kamal.

DR melarikan diri saat api melahap tubuh SW.

SW lantas berteriak minta tolong lalu dihampiri tetangga dan dilarikan ke RSUD Nabire.

“Korban, yang pada saat itu berteriak minta tolong, lalu diselamatkan oleh masyarakat dengan membuka baju korban lalu disiram air dan membawanya ke RSUD,” tutur Kamal.

Akibat kejadian nahas tersebut, korban mengalami luka bakar hingga 87 persen.

Tak lama kemudian, polisi berhasil menangkap pelaku di rumah saudaranya di Nabarua.

Pelaku tidak melakukan perlawanan saat penangkapan lalu dibawa ke Polsek Nabire Kota.

“Barang bukti yang diamankan, satu korek gas, jeriken minyak tanah lima liter, dan satu botol Jenever,” kata Kamal. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Palembang – Malang dialami Yuliana (34) warga Lorong Dharma Bakti RT 22/08 Kelurahan 30 Ilir Kecamatan IB II Palembang, pasalnya dirinya harus mengalami memar di kepala belakang serta lebam
di pipi kanan dan kirinya, akibat dipukuli oleh terlapor RP (35) yang merupakan pacarnya sendiri.

Tak terima kejadian tersebut, membuat wanita yang bekerja di salah satu Mall Kota Palembang ini melapor ke Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polresta Palembang, Sabtu, 21 Juli 2018.

Dihadapan petugas kepolisian yang memeriksanya, Yuliana mengatakan kejadian yang dialaminya terjadi pada Jumat, 20 Juli 2018 kemarin sekira pukul 17.30 WIB di Jalan POM IX hingga ke Jalan Musi II Palembang.

Dimana, kejadian berawal dari terjadinya permasalah hubungan diantara kedua pasangan tersebut.

Kemudian saat korban hendak pulang kerumah dari berjalan di Palembang Square Mall, korban bertemu dengan terlapor yang langsung merampas kunci sepeda motor korban.

“Dia (terlapor-red), langsung mengambil alih mengendarai sepeda motor saya pak, katanya mau mengajak saya kesuatu tempat untuk menyelesaikan masalah hubungan kami,” katanya.

Akan tetapi disepanjang perjalanan, lanjut korban, pacarnya tersebut terus memukulinya diatas motor, hingga membuatnya tak tahan dan meloncat dari atas sepeda motor.

“Saya tak tahan pak, muka dan kepala saya terus dipukulinya. Jadi terpaksa saya loncat dari motor, saya masuk kerumah warga untuk meminta bantuan.”

“Saya tidak bisa terima pak, memang pacar saya itu sering kasar. Sudah tidak tahan lagi saya dengan perlakuannya pak,” ungkapnya sembari berharap terlapor segera ditangkap.

Kasat Reskrim Polresta Palembang, Kompol Yon Edi Winara, melalui Kasubag Humas AKP Andi Haryadi, membenarkan adanya laporan korban dugaan tindak pidana pasal 351 KUHP tentang penganiayaan.

“Laporan sedang dalam penyelidikan unit Reskrim Polresta Palembang,” kata Andi singkat. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Medan – Yos Agus Lumbanbatu nekat membakar Kantor Mandiri Tunas Finance di Jalan Ringroad Pasar II Medan, Sumatera Utara pada Jumat, 20 Juli 2018.

Kapolsek Sunggal Kompol Yasir Ahmadi mengatakan, pelaku telah menyiapkan tiga botol air mineral besar yang berisi minyak untuk melancarkan niatnya.

“Jadi dia meletakkan minyak di dadanya. Dia bawa tiga botor aqua besar berisi BBM. Satu dipegang di tangan dan dua berada di tas jinjing yang dipakai sandang di depan,” kata Yasir seperti dikutip dari TribunMedan.com.

Atas kejadian itu, korban juga menderita luka bakar 60 persen disebabkan oleh dua botol minyak yang berada di tas sandang yang dikenakannya di depan.

Pelaku dilaporkan nekat membakar kantor Mandiri Tunas Finance karena kecewa.

Mobil Daihatsu Grandmax milik pelaku yang kredit di leasing itu ditarik karena tidak membayar angsuran.

Apalagi angsuran tersebut hanya tinggal 5 bulan lagi akan lunas.

Pelaku telah ditangkap saat melarikan diri dengan cara menumpang mobil milik warga yang melintas.

Saat ini, Yasir mengungkapkan, pelaku sedang menjalani perawatan intensif di RS Adam Malik karena luka bakar yang dideritanya. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Kotabandung – Pasar Gedebage, menjadi tempat pertemuan terakhir dua sahabat Reno Candra (29) dan Wahyu (29). Persahabatan keduanya berakhir tragis setelah Reno menghabisi nyawa Wahyu dengan menghujamkan sebilah pisau.

Pertemuan itu terjadi pada Kamis, 19 Juli 2018 pukul 23.30 WIB. Sebelum bertemu, Reno sudah menyiapkan sebilah pisau dapur dari rumahnya.

Tak banyak perbincangan yang terjadi. Reno menghujamkan pisau ke tubuh kawan karibnya sehingga nyawa Wahyu tak terselamatkan meski sempat dibawa ke rumah sakit.

“Korban ditusuk oleh pelaku sehingga nyawanya tidak tertolong,” ucap Kasatreskrim Polrestabes Bandung AKBP M Yoris Maulana di Mapolrestabes Bandung, Jalan Jawa, Kota Bandung.

Kepada polisi, Reno mengaku terbakar cemburu sehingga nekat menghabisi nyawa Wahyu. Reno marah lantaran Wahyu menggoda istrinya bebera hari sebelum kejadian.

“Pelaku menanyakan apakah korban menggoda istrinya. Lalu Korban ditusuk di arah dada sebelah kiri, lengan sebelah kiri dan ke arah dagu sebanyak tiga kali,” kata Yoris.

Alasan cemburu yang menghantuinya juga dibenarkan Reno. Dia bahkan menyebut sang istri digoda Wahyu di depan matanya.

“Saya lihat dengan mata dan kepala saya sendiri. Kalau dia (Wahyu) menggoda istri saya,” ucap Reno.

Reno mengaku khilaf menikam bertubi-tubi temannya tersebut. Dia gelap mata lantaran emosi.

“Saya khilaf,” ucap Reno singkat.

Reno ditangkap sekitar 30 menit setelah kejadian. Dia kini mendekam di ruang tahanan Mapolrestabes Bandung. Reno dijerat Pasal 351 KUHP tentang Penganiayaan dengan ancaman hukuman 7 tahun bui. (***)

sumber: detik.com

MEDIAKEPRI.CO.ID – Seorang balita berusia 2 tahun kritis setelah terjatuh dari sepeda motor yang dikendarai ibunya saat mengejar pelaku penjambretan di Jalan Pahlawan, Desa Sanja, Kecamatan Citeureup, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Balita bernama Abyzar itu mengalami luka yang cukup serius di bagian kepala.

Menurut ibu korban, Teti Budiarti (42), kejadian itu saat dirinya tengah mengendarai sepeda motor bersama dua anaknya, yakni Abyzar (2) dan Alika (9), pulang dari rumah temannya sekitar pukul 15.00 WIB.

Setibanya di lokasi, Teti dipepet seorang pria yang mengendarai sepeda motor. Kemudian, pria berjaket cokelat itu langsung mengambil dompet serta handphone yang disimpan di dashboard motornya.

“Itu baru keluar jalan dari rumah teman di daerah Sanja. Saya langsung dipepet, dia ngambil handphone sama dompet yang saya taruh di dashboard motor,” kata Teti saat dihubungi Okezone, Rabu 18 Juli 2018.

Menyadari barangnya dirampas, Teti pun spontan mengejar pelaku dengan motornya. Saat melintasi jalan menikung, Teti tidak bisa mengendalikan motornya hingga terjatuh ke saluran air di lokasi.

“Pokoknya saya kejar orang itu sambil teriak-teriak. Pas sampe di tikungan deket klenteng, ada belokan saya panik enggak belok malah lurus terus sampai jatuh got (saluran air) besar. Anak saya Abyzar yang berdiri di depan sama Alika di belakang jatuh juga,” jelasnya.

Akibatnya, Abyzar mengalami luka parah di kepala karena menghantam aspal hingga tidak sadarkan diri. Sedangkan Teti dan Alika mengalami luka-luka dan mereka dilarikan ke RS Sentra Medika Citeureup.

“Yang parah itu Abyzar belum sadar sampai sekarang karena dia posisinya di motor dia berdiri di depan. Kalau saya sama Alika enggak parah,” ungkap Teti.

Sementara itu, Kapolsek Citeureup Kompol Darwan membenarkan adanya peristiwa penjambretan tersebut. Pihaknya masih melakukan penyelidikan lebih lanjut dengan memeriksa saksi-saksi.

“Iya benar, anak korban yang masih berumur 2 tahun terpental dari motor kepalanya membentur aspal dan harus dirawat di rumah sakit. Sekarang masih dalam penyelidikan, menurut korban pelaku satu orang pakai motor Satria FU,” singkat Darwan, saat dikonfirmasi. (***)

sumber: sindonews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Kupang- Satuan Reserse dan Kriminal (Reskrim) Polres Manggarai Barat (Mabar), membekuk VR (21) asal Kecamatan Macang Pacar, Kabupaten Manggarai Barat (Mabar), Nusa Tenggara Timur (NTT), Rabu, 18 Juli 2018.

Sebelumnya VR masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) Polresta Denpasar, Bali. Diduga, VR terlibat kasus pembuangan bayi kembar di Denpasar Timur, Bali.

“Kita lakukan penangkapan berdasarkan DPO dari Polresta Denpasar. Pelaku nantinya kita serahkan kepada pihak Polda Bali,” ucap Kapolres Mabar, AKBP Julisa Kusumawardono, Rabu, 18 Juli 2018.

Dia menjelaskan, VR ditangkap oleh Unit Jatarnas Reskrim Polres Manggarai Barat di rumah salah satu warga di Kecamatan Macang Pacar, tepatnya Desa Pacar. Usai menangkap, tim Reskrim kemudian membawa pelaku ke Polres Mabar untuk ditahan di Rumah Tahanan Polres Manggarai Barat.

Berdasarkan keterangan sejumlah pihak, usai membuang bayi, VR kemudian melarikan diri dari Denpasar menuju kampungnya di Kecamatan Macang Pacar.

“Setelah kita mendapatkan DPO dan kita lakukan penyelidikan, kemudian pelaku terdeteksi berada di Kuwus. Setelah ditelusuri di Kuwus, pelaku berpindah ke Desa Pacar dan kita lakukan pengejaran hingga penangkapan di sana,”ungkap Julisa.

BACA: Ditemukan Jasad Bayi Kembar, Ini Alasannya Polisi Belum Periksa Wanita Berinisial ‘D’ Terduga Pelaku Pembuang Bayi Itu

VR adalah kekasih dari wanita berinisial D. Saat ini, pelaku pembuangan bayi itu intens diperiksa penyidik Polsek Denpasar Timur. Bayi kembar yang diduga dibunuh itu diperkirakan hasil hubungan gelap VR dan D selama berada di Denpasar.

Sebelumnya, dua orok kembar perempuan ditemukan pada Minggu, 15 Juli 2018, sekitar pukul 11.00 Wita, di Jalan Ratna, Gang Werkudara, Denpasar Timur, Bali. Namun, bayi kembar yang berbalut kain dan kantong plastik itu ditemukan warga sudah tidak bernyawa.(***)

Sumber: liputan6.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Malang – Sebuah aksi penjambretan sadis terekam CCTV. Seorang ibu terlihat menjadi korbannya. Video yang diunggah satu jam lalu di Facebook itu pun langsung menjadi viral.

Dalam rekaman berdurasi 45 detik itu tampak seorang pria memakai helm, jaket dan celana serba hitam tengah memperdaya seorang ibu di pinggir jalan.

Tangan kiri pria ini terlihat memegang leher korban, sementara tangan kanannya menghunus sebilah celurit.

Korban sempat bergulat dengan pelaku demi mempertahankan barang miliknya, bahkan hingga tersungkur di tanah.

Namun meski dilawan, pelaku juga terus memaksa dan sempat terlihat menyeret tubuh korban berulangkali.

Selama pelaku beraksi, sejumlah pengendara motor terlihat melintas di lokasi, namun tak ada satupun yang memberikan pertolongan.

Hingga akhirnya pelaku diduga berhasil menggasak kalung korban dan berjalan kaki menghilang dari sorotan CCTV.

Setelah pelaku berlalu, korban yang belum diketahui identitasnya ini bangkit dan berjalan lunglai melihat pelaku kabur.

Pengunggah pertama menuliskan jika peristiwa penjambretan terjadi di Desa Sepanjang, Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang. Ia juga sempat menjelaskan kejadian tersebut beberapa saat sebelum mengunggah video penjambretan.

Polres Malang sendiri tengah menyelidiki kejadian tersebut. “Masih kita lidik,” jawab Kasatreskrim Polres Malang AKP Adrian Wimbarda saat dikonfirmasi detikcom, Rabu, 18 Juli 2018. (***)

sumber: detik.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Denpasar – Dua bayi kembar perempuan ditemukan meninggal dunia, Ahad, 15 Juli 2018 sekitar pukul 11.00 Wita di Jalan Ratna, Gang Werkudara, Denpasar Timur.

Bayi yang berbalut kain dan kantong plastik itu ditemukan warga sudah tidak bernyawa.

Saat ini polisi telah mengamankan seorang perempuan inisial D di Jimbaran yang diduga pelaku pembuangan bayi kembar tersebut.

Namun sampai saat ini polisi belum bisa memeriksa yang bersangkutan.

Saat dikonfirmasi Selasa, 17 Juli 2018 Kapolsek Denpasar Timur, AKP I Nyoman Karang Adiputra membenarkan kejadian tersebut.

Diduga pelaku pembuangan kedua orok itu berhasil diamankan tadi malam. Namun pihaknya belum memeriksa siapa pun.

“Kami belum periksa siapa pun. Kalau saksi-saksi sudah kita interogasi, tapi yang bersangkutan belum. Jadi kita belum bisa pastikan motif apa yang menyertainya,” kata Karang Adiputra.

Ditanya mengenai motif membuang orok itu karena malu punya anak di luar nikah, kata Kapolsek dirinya belum bisa memastikan, karena pihaknya sendiri belum memeriksa diduga pelaku tersebut.

“Itu hanya perkiraan orang-orang saja. Semua berpersepsi. Tapi kita belum sampai ke situ. Yang perempuan itu masih di Trijata, belum mau ngomong. Ya udah kita coba supaya ada perawatan medis duluan,” kata Kapolsek.

Sementara pasangan lelaki yang juga diduga sebagai pelaku, timnya masih berusaha melakukan pengejaran dan kontak lintas instansi.

“Belum, ini kita upayakan sebar informasi sampai ke NTT, melalui jaringan kita. Dan sampai saat ini belum ada informasi,” ungkap dia. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Lampung – Diduga putus asa karena penyakit maag kronis tak kunjung sembuh, seorang perempuan di DesaTegineneng, Kabupaten Pesawaran, Provinsi Lampung nekat membunuh dua anaknya.

Kejadian yang merenggut nyawa anak berusia tiga dan delapan tahun itu spontan menggegerkan masyarakat sekitar pada Ahad, 15 Juli 2018 kemarin.

Menurut Kapolres Pesawaran Syaiful Wahyudi, hasil keterangan saksi yakni suami pelaku, kejadian itu berawal dari sang suami (TM) yang tengah tidur namun terbangun karena ompol dua anak mereka yang tidur bersamanya.

TM kemudian memanggil istrinya untuk membereskan ompol anak-anak tersebut. Pelaku dengan inisal DS (37) lalu pun memindahkan satu per satu anak mereka di kamar lain.

“Tak lama, berdasarkan keterangan suami, dia terbangun karena mendengar suara tangisan anak,” kata Syaiful Wahyudi pada Senin, 16 Juli 2018.

Ia pun tersentak ketika melihat kedua anaknya berlumuran darah dan istrinya pun tersungkur dengan 6 luka tusukan diperutnya.

Menurut pihak kepolisian, diduga pelaku kesal karena penyakit maag yang dideritanya tak kunjung sembuh sekalipun sebelumnya sudah menjalankan perawatan intensif di rumah sakit.

Suami dan warga sekitar lantas bergegas membawa korban dan pelaku ke rumah sakit. Namun di perjalanan, kedua anak pasangan DS dan TM tidak dapat diselamatkan.

Syaiful mengatakan, saat ini DS sendiri masih dalam perawatan di rumah sakit karena luka tusuknya, sambil memastikan kondisi kejiwaannya. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Cirebon – Setelah melempar bom panci ke Mapolres Indramayu, GL diketahui tidak berani pulang ke rumahnya.

Padahal, timah panas masih bersarang di dada kanan pria yang sehari-hari bekerja sebagai penjual kue di pasar itu.

“Saya ingatkan anggota di lapangan untuk kejar terus, makanya enggak berani pulang,” ujar Kapolda Jabar, Irjen Pol Agung Budi Maryoto, saat konferensi pers di Mapolres Indramayu, Jl Gatot Subroto, Kabupaten Indramayu, Ahad, 15 Juli 2018.

Ia mengatakan, GL ditangkap di rumah pamannya di Desa Tersana, Kecamatan Sukagumiwang, Kabupaten Indramayu.

Saat ini, GL dibawa ke RS Bhayangkara Losarang, Kabupaten Indramayu, dan dijaga ketat oleh petugas.

Sebelumnya GL sempat dibawa ke RSUD Arjawinangun, Kabupaten Cirebon, oleh sejumlah orang yang mengaku sebagai aparat Pemerintah Kecamatan Jatibarang, Kabupaten Indramayu.

Namun, ia tiba-tiba menghilang sebelum mendapatkan perawatan medis.

GL terkena tembakan petugas sesaat sebelum melakukan aksinya.

BACA:  Terobos Mapolres dan Lempar Panci Berisi Bom, Pasutri Ini Tepar Kena Timah Panas Polisi

Istrinya yang berinisial AN terkena tembakan di tangan kirinya sehingga panci yang dipegangnya itu terjatuh sebelum sempat meledak.

“Bomnya kategori low explosion, dibuat dari black powder dan paku,” kata Agung Budi Maryoto. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Bandung – Dua orang tak dikenal menerobos dan melemparkan panci diduga bom ke Mapolres Indramayu, Jawa Barat. Keduanya merupakan pasangan suami istri (pasutri).

“Iya benar sepasang suami istri,” ujar Kapolres Indramayu AKBP Arif Fajarudin saat dihubungi, Ahad, 15 Juli 2018.

Pasutri tersebut melakukan penyerangan terhadap Mapolres Indramayu pada Minggu dini hari sekitar pukul 02.35 WIB. Mereka datang menggunakan sepeda motor matic.

Gerak geriknya sempat diketahui petugas jaga. Namun mereka tetap menerobos masuk ke dalam. Bahkan pelaku melemparkan panci berisi bahan peledak.

Polisi yang mengetahui, langsung mengejar pelaku. Bahkan beberapa tembakan dilepaskan polisi. Namun pelaku kabur.

Hingga akhirnya, polisi dapat menangkap kedua pelaku tersebut. “Dua-duanya sudah tertangkap,” kata Arif.

Pelaku kini dirawat di RS Bhayangkara Indramayu karena mengalami luka tembak saat berusaha kabur. (***)

sumber: detik.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Pati – Keluarga sales cantik, Siti Saidah alias Nindya, korban mutilasi oleh suaminya sendiri yakni M Kholili, tak terima dan kecewa karena pelaku hanya dituntut hukuman 14,5 tahun penjara. Tuntutan sebesar itu belum memenuhi rasa keadilan.

Ayah korban, Saryadi mengaku kecewa hasil sidang pembacaan tuntutan telah dilakukan di PN Karawang pada Selasa, 10 Juli 2018 lalu. Ia menilai, tuntutan 14,5 tahun penjara belum mewakili rasa keadilan hukum di negara ini. Selain itu pasal yang didakwakan bukan pembunuhan berencana namun masalah Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT).

“Kalau masalah hukuman cuma 14,5 tahun itu ya saya keberatan. Kalau hukuman seumur hidup paling tidak sesuai dengan umurnya saat ini, itu baru adil,” terangnya saat ditemui detikcom di rumahnya, Desa Srikaton RT 1 RW 5 Kecamatan Kayen, Pati, Sabtu, 14 Juli 2018.

Saryadi menganggap, tuntutan yang dilayangkan kepada terdakwa kurang tepat. Apalagi, pasal yang didakwakan terhadap terdakwa justru kekerasan dalam rumah tangga.

“Kalau kekerasan rumah tangga tidak menyebabkan sampai kehilangan nyawa, hukuman segitu itu tidak masalah. Tapi ini anak saya dibunuh, bahkan sampai dimutilasi dibakar, apa tidak keji itu,” terangnya.

Ia meminta agar peradilan di Indonesia bisa lebih memberikan payung hukum yang adil atas kasus kematian anaknya tersebut.

“Saya tidak bawa advokat atau apa untuk menuntut, kan saya bukan ingin menuntut. Tapi saya hanya ingin ada keadilan di negara ini,” tegasnya.

Saryadi mengaku pada awalnya pelaku termasuk melakukan pembunuhan berencana. Namun setelah sidang justru masalah KDRT.

“Ya kan awalnya duli dikiranya itu masuk ke pembunuhan berencana. Tapi ternyata ini masuknya justru ke KDRT,” katanya.

Menurut Saryadi, jika tuntutan atas pertimbangan bahwa tersangka masih memiliki tanggungan seorang anak, hal itu justru dibantahnya. Ia menyebutkan, sejak kejadian sang anak sudah langsung dipulangkan ke Pati dan kini dinafkahi oleh Saryadi yang merupakan kakeknya.

“Lha justru tanggungannya sekarang melimpah ke saya selaku kakeknya. Ya saya tidak masalah, tapi apa bisa hal itu jadi pertimbangan. Toh sekarang saya yang menafkahi anak ini,” paparnya.

Tak hanya anak yang kini dinafkahi oleh Saryadi dan istrinya, Nyami. Ia mengaku ada tanggungan lain yang dibebankan kepadanya seperti bank dan kredit motor.

“Ada bank itu saya yang nyelesaiin, sudah saya lunasi. Yang kredit motor ninja sempat dilimpahkan ke saya, ya saya keberatan sudah saya biarkan disana (tanggungan tersangka),” katanya. (***)

sumber: detik.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Magelang – Polres Magelang mengamankan Saryono (44), warga Desa Gondangrejo, Kecamatan Windusari, Kabupaten Magelang. Pria tersebut diduga tega meracuni kekasih gelapnya, Muntowiyah (42) dengan obat serangga hingga tewas.

“Berdasarkan keterangan pelaku dan para saksi, aksi ini dilakukan karena pelaku takut hubungan gelap keduanya diketahui keluarga. Apalagi korban tengah hamil,” jelas Kepala Sub Bagian Humas Polres Magelang AKP Tugimin, di Mapolres Magelang, Jumat 13 Juli 2018.

Tugimin mengatakan, tindakan nekat pelaku dilakukan di rumah korban, Kamis, 12 Juli 2018 sore.

Modusnya, pelaku memberikan minum kepada korban yang diduga telah dicampur dengan obat serangga dan insektisida terlebih dahulu.

Pelaku mengatakan kepada korban bahwa minuman tersebut telah dicampur dengan obat sehat agar korban percaya.

“Korban yang minum cairan tersebut kemudian mengalami gejala mirip keracunan seperti kejang-kejang sampai tidak sadarkan diri,” ungkap Tugimin.

Saksi mata yang melihat kejadian tersebut kemudian langsung menolong korban dan berteriak meminta bantuan warga lainnya. Sementara pelaku melarikan diri.

“Saat ditolong oleh warga, korban masih kejang-kejang, namun kemudian meninggal dunia saat akan dibawa ke Puskesmas Windusari,” terangnya.

Polsek Windusari, Polres Magelang telah melakukan oleh tempat kejadian perkara dan mengamankan satu buah plastik warna putih yang didalamnya terdapat sisa-sisa cairan diduga racun. Selain itu, gelas bekas yang digunakan oleh korban untuk minum, serta tes pack kehamilan bertanda positif.

“Dari hasil pemeriksaan oleh tim medis, korban mengalami keracunan dan kini telah dioutopsi ke RSUP Dr Sardjito Yogyakarta,” urai Tugimin.

Akibat perbuatannya, pelaku harus mendekam dalam sel tahanan Mapolres Magelang. Dia terancam Pasal 338 Jo 347 KUHP dengan ancaman hukuman maksimal 20 tahun penjara. (***)

sumber: detik.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Sidoarjo – Seorang pria di Sidoarjo, Jawa Timur, tega menjual istrinya melalui media sosial. Aksi pelaku ini diakui telah dilakukan sejak pertengahan tahun 2017 silam dengan dalih untuk membayar utang.

Polisi mengungkap kasus ini saat pelaku sedang bertransaksi di dalam rumahnya.

Dari setiap transaksinya dengan pelanggan, pelaku bisa mendapatkan uang untuk mencicil utang-utangnya.

Sang istri pun mengaku bahwa aksi suaminya ini ia lakukan atas kesepakatan bersama dan tidak ada unsur paksaan.

Untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya, pelaku dijerat dengan pasal berlapis dengan ancaman hukuman penjara paling lama 15 tahun dan denda sebesar Rp 120 Juta. (***)

Sumber: Kompas TV

MEDIAKEPRI.CO.ID, Pemalang – Dua orang narapidana Rutan Kelas II B Pemalang terluka dalam bentrokan semalam. Korban terluka akibat sikat gigi yang disulap menjadi senjata tajam atau yang sering disebut sikam.

Sikam merupakan senjata tajam yang dibuat dari sikat gigi yang ujungnya diruncingkan dengan cara menggosok-gosokan ke dinding.

Kepala Rutan Kelas II B Pemalang, Hisyam Wibowo mengaku heran dengan masih adanya sikam yang disimpan napi. Sebab dia merasa pihaknya sudah sering menggelar razia dadakan dan hasilnya memuaskan.

“Padahal kita sudah sering razia. Tapi nyatanya tetap saja ada (sikam),” kata Hisyam Wibowo kepada wartawan di kantornya, Jalan Muchtar No 3, Kebondalem, Pemalang Senin, 9 Juli 2018.

Dengan masih ada temuan tersebut, pihaknya akan terus ekstra berhati-hati dan lebih meningkatan razia.

“Tapi untuk saat ini kita coolingdown dulu. Biar adem dulu, napi-napi yang lain kondusif hanya kamar 11 saja,” katanya.

Dua korban yang terluka yakni Risky Hikmatullah (35) mengalami luka sobek pada kepala terkena sikam ( sikat gigi ditajamkan) begitu juga dengan napi lainnya yakni Imam Faturohman (36) luka pada kening dan tangan kiri. Keduanya kini masih dirawat di RSUD Pemalang. (***)

sumber: detik.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Palembang – Aksi sadis geng motor di Palembang, Sumatera Selatan kembali membuat resah. Dini hari tadi, seorang pelajar ditemukan tewas usai dibacok oleh geng motor.

Korban tewas bernama Deni (16), warga Sidomakmur, Sukajaya Kota Palembang. Selain Deni, ada pula Saputra yang kritis dan Erlangga dengan luka bacok ringan.

“Korban ada tiga orang, keponakan saya Deni meninggal dunia dengan luka bacok di kepala. Sedangkan kedua teman Deni menderita luka bacok serius,” kata paman Deni, Subur saat ditemui di rumah sakit Bhayangkara Polda Sumatera Selatan di Palembang, Senin, 9 Juli 2018.

Subur mengatakan korban saat ini duduk di kelas 2 salah satu SMA di Palembang. Dia ditemukan tewas oleh warga di jalan Mayor Zurbi Bustan atau tepat di depan kantor Den Intel Kodam Sriwijaya, pukul 06.00 WIB.

Melihat korban yang ditemukan tewas mengenaskan, keluarga menduga Deni yang saat kejadian berbonceng tiga itu adalah korban geng motor atau begal sadis. Apalagi dari keterangan warga ada belasan pelaku saat kejadian.

“Kalau dari keterangan yang didapat, ada belasan orang yang menyerang Deni dan temannya di lokasi dini hari tadi. Mereka rata-rata masih remaja, bahkan ada juga cewek di kelompok mereka,” kata Subur.

“Kalau kami menduga pelakunya antara begal atau geng motor. Tapi dugaannya lebih kuat ke geng motor, bahkan motor ponakan saya pun hilang,” imbuh Subur meyakini korban tewas akibat ulah geng motor.

Secara terpisah, Kasat Reskrim Polresta Palembang Kompol Yon Edi Winara saat dikonfirmasi mengaku telah mendapat laporan. Saat ini Unit Reskrim Polresta sedang mendalami dugaan geng motor yang menelan korban jiwa itu.

“Saya sudah dapat informasinya, belum bisa disimpulkan apakah itu ulah begal atau geng motor. Termasuk apa korban dan pelaku ini saling kenal, atau sudah ada selisih sebelumnya. Masih didalami oleh anggota,” kata Yon Edi.

Yon Edi menyebut akan menindak tegas para pelaku jika tertangkap. Bahkan hal ini telah disampaikan jauh hari saat tim pemburu preman dan kejahatan jalanan dilepas oleh Kapolresta Kamis, 5 Juli 2018 lalu menjelang Asian Games. (***)

sumber: detik.com

KRIMINALITAS

Minggu | 08 Juli 2018

Nasib Tragis Residivis Curanmor Ini Tewas Didor

MEDIAKEPRI.CO.ID, Tangerang – Residivis pencuri kendaraan bermotor di Curug, Tangerang, Banten, ditembak mati saat diminta menunjukkan barang bukti kejahatan. Sementara itu, polisi telah mengamankan 11 unit sepeda motor hasil curian dari komplotan spesialis pencurian sepeda motor tersebut.

Kanit Reskrim Polsek Curug Iptu Totok Ryanto menuturkan, pengungkapan kasus bermula dari informasi masyarakat yang curiga dengan aktivitas pemuda di salah satu rumah kontrakan di Curug.

“Kontrakan itu sering dijadikan tempat berkumpul remaja, yang sering gonta ganti motor,” kata Totok, Ahad, 8 Juli 2018.

Benar saja, petugas mendapati satu motor jenis matik warna merah yang bagian mesin juga body motor sedang dicopot.

“Motor ini ternyata setelah dilakukan pengecekan, merupakan motor yang dilaporkan pernah hilang karena dugaan dicuri. Satu pelaku atas nama Boim kami amankan di TKP,” ucap dia.

Kemudian diamankan seorang pelaku lain, Buyung, yang diakui Boim pernah melakukan tindak pidana kejahatan serupa di wilayah Curug.

“Pelaku Buyung mengaku sepeda motor hasil kejahatanya itu, dijual kepada seseorang di wilayah Tenjo, melalui Facebook. Penadahnya masih kami buru,” kata Totok.

Kemudian Polisi mengembangkan otak dari pelaku kejahatan tersebut. Petugas mendapati pelaku Deni Andika, yang diketahui pernah mendekam di tahanan karena perbuatan serupa di Polres kota Tangerang Kabupaten beberapa waktu lalu.

Saat diamankan, polisi mendapati Deni Andika bersama pelaku lain Aang Sanjaya yang diperintah untuk menjual barang curian kepada pemesannya.

“Saat diminta menunjukkan barang bukti hasil kejahatanya, pelaku Deni Andika berusaha melawan petugas dan merebut senjata api milik anggota, sehingga oleh anggot yang lain diberikan tindakan tegas dengan menembak pelaku dan mengenai dada kiri. Pelaku tewas di tempat,” jelasnya.

Totok mengungkap, para pelaku sudah menjual sembilan unit sepeda motor berbagai jenis dengan harga Rp2,5 juta sampai Rp3,5 juta.

“Deni Andika juga pernah melakukan tindak pidana kejahatan serupa, di wilayah Jakarta Barat dan Kemayoran, Jakarta Pusat. Akibat perbuatannya, para pelaku dijerat pasal 363 KUHPidana dengan ancaman penjara 7 tahun,” tandasnya. (***)

sumber: metrotvnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Situbondo – Setelah sempat kabur, pelaku pembacokan di Situbondo berhasil diamankan pihak kepolisian. Pelaku bernama Miswandi (35), memilih menyerahkan diri ke polisi setelah semalaman bersembunyi di dalam hutan, tak jauh dari rumahnya di Desa Jatisari Kecamatan Arjasa.

Dari tangan Miswandi polisi menyita sebilah celurit yang digunakan menganiaya M Yama (33), juga warga Desa Jatisari. Akibat aksi main bacok itu, selain tiga jari tangan Yama putus, bagian telapak tangan, paha, lalu lengan, dan dada samping juga terluka parah. Hingga kini, korban dalam perawatan medis di RSUD dr Abdoer Rahem Situbondo.

“Pelaku pembacokan yang TKP Jatisari sudah kita amankan pada Jumat, 6 Juli 2018 sore kemarin. Sekarang masih dalam pemeriksaan penyidik,” kata Kasatreskrim Polres Situbondo, AKP Masykur kepada detikcom, Sabtu, 7 Juli 2018.

Keterangan yang diperoleh detikcom menyebutkan, motif asmara menjadi pemicu terjadinya aksi pembacokan di Situbondo. Miswandi (35), langsung kalap saat melihat Yama keluar dari rumah istrinya, Miswati (31). Tanpa pikir panjang, pelaku mencegat korban yang mengendarai sepeda motor, lalu membacok-bacokkan celuritnya.

“Kaule pajet tak niat mateana, malle arassaagi sakekna kaadhek (Saya memang tidak berniat membunuhnya, biar dia merasakan sakitnya dulu, Red),” kata Miswandi dengan bahasa Madura.

Sebelum peristiwa pembacokan terjadi, pelaku dan istrinya memang pisah ranjang sejak sekitar setengah bulan lalu. Miswandi mengaku ditolak saat akan pulang ke rumahnya. Karena itu, dia pun memilih pulang ke rumahnya sendiri, yang jaraknya hanya sekitar setengah kilometer dari rumah istrinya.

Namun, sejak pisah ranjang itu Miswandi mengaku berhasil membawa ponsel milik istrinya. Nah, dari ponsel itulah Miswandi mencurigai adanya hubungan terselubung istrinya dengan pria lain. Puncaknya terjadi Kamis, 5 Juli 2018 malam, saat ponsel istrinya tiba-tiba berdering. Miswandi pun mengangkat telepon tersebut.

Agar tak curiga, pelaku menjawab dengan suara perlahan dan dibikin mirip suara perempuan. Tak disangka, saat itulah terdengar suara pria yang mengatakan akan datang ke rumah istri pelaku. Miswandi pun mengiyakan. Namun selang beberapa saat usai menerima telepon, sambil menenteng celurit pelaku mendatangi rumah sang istri yang tinggal bersama neneknya.

Benar saja, saat tiba di depan rumah sang istri, Miswandi melihat pria lain keluar dari rumah tersebut. Tanpa pikir panjang, pelaku langsung mencegat dan membacoknya.

“Kaule tak oning ka lalakek genika. Abit napa enten e delam gi kaule tak oning. Kaule nangale pon kaluar deri compok (Saya tidak tahu sama pria itu. Lama atau tidak dalam rumah itu saya juga tidak tahu. Saya hanya melihat dia keluar dari rumah, Red),” tandas Miswandi yang tak bisa berbahasa Indonesia itu.

Usai membacok korbannya, Miswandi mengaku langsung pulang ke rumahnya sendiri sebelum memutuskan sembunyi di hutan. Pelaku nekat kabur ke hutan karena khawatir dihakimi massa dari kerabat dan keluarga korban. Karena itu, setelah merasa aman pelaku segera menyerahkan diri ke polisi.

Kasatreskrim AKP Mansyur mengatakan, pihaknya masih menyelidiki pengakuan pelaku tersebut. Termasuk, apakah benar korban adalah pria yang berbicara di ujung telepon akan mendatangi rumah istri pelaku, atau bukan. Semuanya masih akan didalami.

“Kami juga masih akan memintai keterangan korban, yang saat ini masih dalam perawatan. Yang jelas, dengan perbuatannya pelaku ini akan dijerat pasal 351 KUHP,” tegas Masykur.

Sebelumnya, niat hati ke dukun pijat, tidak tahunya malah jadi korban pembacokan. Inilah yang dialami M Yama, warga Desa Jatisari, Kecamatan Arjasa, Kabupaten Situbondo.

Pria 33 tahun itu mengaku dihadang dan dibacok celurit oleh pria tak dikenal saat ia berangkat menuju dukun pijat. Pembacokan sendiri berlangsung di tengah jalan desa setempat. (***)

sumber: detik.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Seorang murid SMP R (14) diculik oleh sekelompok debt collector atau penagih hutang lantaran orang tuanya menunggak pembayaran motor yang dikendarainya selama tiga bulan.

Kemudian anak tersebut dibawa oleh penagih hutang ke kantor Mega Finance yang berlokasi di Srengseng, Kembangan, Jakarta Barat pada Jumat, 6 Juli 2018 sore.

“Anak tersebut pulang dari sekolah dan motor diambil oleh beberapa orang debt colector, sehinggaanak itu dibawa debt collector,” kata Kapolsek Palmerah Kompol Aryono, Jumat, 6 Juli 2018 di Polsek Pamerah malam.

Aryono mengatakan orang tua korban mendatangi kantor polisi untuk melaporkan penculikan. Setelah dilakukan pemeriksaan dengan beberapa saksi di lokasi kejadian, korban diketahui hanya ditelantarkan setelah diculik.

“Di sana cuma ditelantarkan saja. Hanya di pojokan gedung. Kasihan sekali,” kata Aryono.

Saat ditemukan, korban sedang menangis di ruangan. Tangisnya tidak berhenti ketika bertemu dengan orang tuanya yang menanti di Polsek Palmerah. Namun, polisi tidak menemukan pelaku yang menculik korban di lokasi kejadian.

“Pelakunya ada lima kami kejar malam ini. Ini sangat meresahkan, korbannya di bawah umur,” ujar Aryono.

Sementara itu, Nining (42) ibu korban mengatakan anaknya mengirimkan pesan singkat yang menunjukkan ketakutan karena dibawa pergi penangih hutang. Ia mengatakan motor miliknya kurang melakukan pembayaran selama tiga dari 31 bulan pembayaran.

“Ya itu kan penculikan, karena secara paksa bawa orang anak dibawah umur. Kalau motor silakan deh kalau mau ambil, tapi anak saya itu loh,” kata Nining.

Saat itu, putrinya bersama kedua temannya hendak pergi untuk melakukan cap tiga jari pedaftaran SMK. Namun, hanya putrinya yang dibawa pergi oleh penagih hutang.

“Cuma R tuh sendiri dibawa muter-muter dibawa sampe ke Mega Finance. Jadi saya ditelpon ada kok WA-nya dia takut nangis-nangis,” katanya.

Sementara itu, pihak Mega Finance belum berhasil dihubungi untuk konfirmasi. (***)

sumber: kompas.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Motif penganiayaan berujung pembunuhan sadis di Pagedangan, Kabupaten Tangerang, adalah rasa sakit hati tersangka terhadap korban, karena sering diancam di tempat kerjanya.

Hal itu disampaikan Kapolres Tangerang Selatan AKBP Ferdy Irawan, setelah jajarannya membekuk dua tersangka di Cikande, Serang, Banten.

“Motifnya adalah sakit hati akibat konflik pribadi tersangka dan korban. Pihak korban dianggap sering melakukan intimidasi terhadap tersangka di kantornya,” papar AKBP Ferdy, Kamis, 5 Juli 2018.

Tersangka yang menghabisi korban bernama Iwan Wahyuda (39) berjumlah dua orang, Sutrisna (33) dan Anwarudin (37).

Sutrisna adalah rekan satu kantor Iwan di sebuah pabrik kasur di Pagedangan. Sutrisna yang menyimpan rasa dendam ke korban, mengambil peran sebagai eksekutor dengan menikamkan belati ke sekujur tubuh Iwan.

Sutrisna mengaku melakukan hal keji tersebut karena Iwan sering mengintimadasi dirinya, bahkan sampai mengancam akan melakukan kekerasan fisik.

“Diancem mau diabisin. Sebelum dia abisin saya, saya abisin duluan,” ujar Sutrisna yang mengalami luka tembak di kedua kakinya karena melawan petugas.

Polres Metro Tangerang Selatan mengungkap kasus kekerasan yang berujung pembunuhan keji dengan motif sakit hati di Pagedangan, Kabupaten Tangerang.

Tidak terima sering diancam, Sutrisna pun menyiapkan rencana, dua hari sebelum menganiaya korban secara kejam.

AKBP Ferdy menjelaskan kronologi pembunuhan berdarah itu. Saat itu sekitar pukul 16.00 WIB, Iwan keluar dari tempat kerjanya menggunakan sebuah sepeda motor, menuju arah Legok.

“Sesampainya di Kampung Kalapa Desa Kadusirung, Iwan sadar sedang diikuti oleh orang lain. Lalu Ia membelokkan kendaraannya ke sebuah bengkel di pinggir jalan untuk meminta pertolongan,” jelas Ferdy.

Namun, Sutrisna yang memiliki tato di tangan kirinya, membuntuti Iwan, dan mulai menikam secara membabi buta.

Iwan meregang nyawa di Jalan Raya Pagedangan, Kampung Kalapa RT 01/05, Kabupaten Tangerang, Senin, 2 Juli 2018, akibat luka terbuka di hampir seluruh tubuhnya. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID – Jum Artini (33) sepupu Rina Casrina yang ditemukan tewas di gudang penyimpanan kayu di Jalan Meruya Ilir, RT 002/01, Srengseng, Kembangan, Jakarta Barat, Ahad, 1 Juli 2018 mengatakan bahwa pelaku pembunuhan telah ditangkap polisi.

Hal tersebut ia ketahui dari pamannya, yang merupakan ayah Rina.

“Paman saya (ayah Rina) hubungi saya, bilang kalau pembunuh anaknya (Rina) ditangkap di Lampung saat menjual perhiasan,” ungkap Jum, Rabu, 4 Juli 2018.

Dilansir Tribun-Video dari Wartakota, pihak kepolisian tadi pagi menelepon ayah korban dan memberitahukan bahwa polisi telah menangkap terduga pembunuh Rina.

Polisi menangkap pelaku di Lampung, saat itu pelaku hendak menjual perhiasan yang diduga milik Rina.

Jum berujar, ia juga curiga bahwa perhiasan yang hendak pelaku jual adalah milik Rina.

Selain itu Jum juga yakin bahwa pembunuh sepupunya itu ialah Aris, yakni pacar korban.

“Pasti dia (Aris) pelakunya,” ucap Jum.

Pihak kepolisian masih mengusut kasus ini, namun dugaan sementara, polisi mencurigai kekasih Rina sebagai pelaku pembunuhan.

Hal tersebut terlihat saat kekasih korban menunjukkan gelagat yang mencurigakan pada Jumat 29 Juni 2018 malam.

Aris yang berprofesi sebagai kuli bangunan, diketahui tengah mengerjakan ruko milik Hamid, ia datang dengan muka panik.

Pada Jumat malam, Aris segera meminta agar upahnya segera dibayar malam itu juga pada Hamid.

Hamid memberinya uang sebesar Rp 600 ribu, namun semenjak itu Aris tidak kelihatan.

Kecurigaan kepolisian bahwa Aris adalah pelaku pembunuhan juga dikuatkan oleh saksi, yakni tukang martabak yang berjualan di dekat lokasi kejadian.

Ia menyebutkan bahwa Aris dan Rina sempat cekcok mulut di sekitar lokasi.

Aris juga telah mengirimkan pesan singkat kepada keluarga Rina, pesan tersebut berisi:

‘Kalau sudah ketemuin mayatnya tolong kasih tahu saya. Karena saya mau langsung bunuh diri’. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Cilacap – Woro alias KW (29), warga Desa Bonjati, Cilacap Selatan, Jawa Tengah, ditangkap setelah menganiaya Kusen alias Husen, terdakwa kasus pembunuhan kakak dari Woro, saat sidang berlangsung di Pengadilan Negeri Cilacap, Jawa Tengah, Senin, 2 Juli 2018.

Woro yang sehari-hari bekerja sebagai buruh ini diduga emosi dan dendam karena Kusen telah membunuh kakak kandungnya beberapa waktu lalu.

Kasat Reskrim Polres Kebumen AKP Onkoseno mengatakan, saat kejadian, Woro datang memenuhi panggilan majelis hakim untuk berbicara sebagai saksi atas kasus pembunuhan kakaknya oleh terdakwa.

“Saat terdakwa dimintai keterangan oleh majelis hakim, Woro mendekati terdakwa dan mencolek bahunya. Setelah korban menengok ke belakang, Woro langsung memukul hidung korban hingga tersungkur,” ujarnya, Rabu, 4 Juli 2018.

Anggota Reskrim yang saat itu melakukan pengamanan di ruang sidang langsung membekuk Woro dan membawanya ke Polsek Cilacap Selatan.

Pelaku dijerat dengan pasal 351 tentang penganiayaan dengan ancaman hukuman 5 tahun penjara.

“Woro diduga emosi saat terdakwa memberikan keterangan kepada majelis hakim,” ucap Onkoseno. (***)

sumber: tribunnews.com