KRIMINALITAS

MEDIAKEPRI.CO.ID, Sidoarjo – Petugas Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polresta Sidoarjo, Jawa Timur berhasil menindak tegas pelaku pencurian dengan kekerasan di sejumlah toko swalayan yang ada di Kabupaten Sidoarjo yang cukup meresahkan masyarakat.

Pelaku pencurian dihadiahi timah panas dan meninggal.

Kepala Kepolisian Resor Kota Sidoarjo Jawa Timur Kombes Pol Zain Dwi Nugroho saat dikonfirmasi mengatakan, aksi pencurian dengan kekerasan itu dilakukan oleh dua orang pelaku, yakni AH dan TS.

“Pada saat akan ditangkap, AH terpaksa ditindak dengan tembakan terukur karena berusaha menyerang petugas. Setelah itu, ketika dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Porong oleh petugas kesehatan, pelaku dinyatakan meninggal dunia,” katanya di sela ungkap kasus pencurian dengan kekerasan di Mapolresta Sidoarjo, Sabtu, 13 Juli 2019.

Ia melanjutkan, untuk satu tersangka lainnya yakni TS berhasil ditangkap petugas dengan sejumlah barang bukti aksi pencurian yang dilakukan di sejumlah toko swalayan.

“Dari tangan tersangka, petugas berhasil menyita beberapa barang bukti seperti uang tunai senilai Rp20 juta, senjata tajam jenis clurit dan pisau, helm dan juga kendaraan roda dua yang digunakan oleh pelaku saat menjalankan aksinya,” ujarnya.

Menurutnya, selain di Sidoarjo, dua orang pelaku yang berhasil ditangkap itu biasa melakukan aksinya di Pasuruan. Dari informasi yang didapat, pelaku beraksi di Tanggulangin Sidoarjo dan Beji, Pasuruan.

“Kami juga telah mengumpulkan sejumlah manajer toko swalayan yang ada di Sidoarjo untuk berkoordinasi terkait dengan permasalahan pencurian dengan kekerasan yang akhir-akhir ini cukup meresahkan masyarakat. Apalagi, para pelaku ini tidak segan-segan untuk melukai korbannya saat beraksi,” ujarnya.

Terhadap tersangka tersebut, kata dia, telah diduga keras melakukan tindak pidana pencurian dengan kekerasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 365 ayat (1) dan ayat (2) ke-1e, 2e KUHP diancam dengan pidana penjara selama-lamanya 12 (dua belas) tahun.

“Kami juga meminta kepada masyarakat untuk senantiasa melaporkan kepada petugas jika melihat ada tindakan-tindakan yang mencurigakan, termasuk menggunakan aplikasi Delta Siap yang di dalamnya terdapat tombol panic button yang bisa digunakan oleh masyarakat,” katanya. (***)

sumber: republika.co.id

MEDIAKEPRI.CO.ID, Banyumas – Deni Prianto membunuh, memutilasi dan membakar potongan tubuh korbannya, KW (51) di tempat dan waktu yang berbeda-beda. Berikut ini perjalan Deni dari Bogor hingga Banyumas.

“Kalau jamnya pas dia (KW) dibunuh di Puncak Bogor, dia (Deni) juga lupa. Tapi kalau jam pas dia (KW) dibawa ke sini, dia (Deni) sampai ke Banyumas sekitar subuh Hari Senin, 8 Juli 2019 pagi hari,” kata Kanit Reskrim III Polres Banyumas, Ipda Rizqi Adhiansyah Wicaksono kepada wartawan di Satreskrim, Jumat, 12 Juli 2019.

Pelaku yang telah membawa potongan tubuh KW tersebut sempat mampir ke rumah orang tuanya pada Senin subuh. Setelah itu, pada sekitar pukul 07.00 WIB pelaku membawa potongan tubuh tersebut untuk dibakar di Grumbul Plandi, Desa Watuagung, Kecamatan Tambak, Banyumas.

“Sempat ke rumah orang tuanya. Dia jam 7 an keluar dan membuang di TKP Watuagung. Ternyata Watuagung (TKP) yang pertama,” jelasnya.

“Jadi dari Bogor langsung ke rumah, subuh-subuh sampai. Habis itu jam 7-an dia ke Watuagung. Dia tidak nungguin, pokoknya api nyala lalu ditinggal. Mungkin juga gara-gara ada yang melihat itu,” ujar Rizqi.

Setelah itu, lanjut dia. Pelaku bingung dan sempat berjalan untuk membuang sisa potongan tubuh korban lainnya. Hingga akhirnya, pelaku menemukan tempat yang dianggapnya tak banyak dilewati orang untuk membakar potongan tubuh itu yakni di sebuah gorong-gorong di Jalan Raya Klampok-Sempor, Kebumen.

“Habis itu dia jalan dan mau buang dimana lagi ini, dan ketemulah di Sempor. Di sana itu siang hari ketika zuhur. Iya sempat muter-muter karena dia bingung mau buang di mana,” ucapnya.

Dia mengatakan jika dimungkinkan pelaku melakukan pembunuhan terhadap korban pada hari Minggu malam. Namun semuanya itu akan terjawab jika hasil autopsi jasad korban sudah keluar.

“Pembunuhannya dimungkinkan Minggu malam. Itu nanti akan terjawab dari hasil autopsi, sudah berapa lama, itu nanti menunggu hasil,” ungkapnya. (***)

sumber: detik.com

KRIMINALITAS

Senin | 08 Juli 2019

Ajakan Hubungan Badan Ditolak, Golokpun Bertindak

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Seorang pria membacok istrinya karena menolak ketika diajak berhubungan badan di Jalan Ancol Selatan II, Sunter Agung, Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Kapolsek Tanjung Priok, Kompol Supriyanto mengatakan, kejadian itu berlangsung pada Jumat, 5 Juli 2019 lalu.

Ia menjelaskan, awalnya pelaku bernama Anton Nuryanto meminta istrinya Fz untuk mengusap-ngusap perutnya untuk menaikkan birahinya. Namun, kala itu istrinya menolak. Si pelaku meminta hal tersebut berkali-kali kepada istrinya, namun korban tetap menolak.

“Akhirnya si pelaku kesel, dia ngambil golok yang ada di lemari diambil langsung diserang istrinya,” kata Supriyanto di kantornya, Senin, 8 Juli 2019.

Berdasarkan pengakuan pelaku, pertama ia menusuk bagian perut korban, namun tidak terluka. Ia kemudian kembali membacok istrinya, namun korban mengindar sehingga mengenai pipi kanan dan tangan korban.

Setelah korban terjatuh, pelaku menduduki perut istrinya dan langsung menyayat leher korban. Fz lalu berteriak meminta pertolongan “Terus nggak lama pak RT, warga dobrak, istrinya sedang berada di tempat tidur, kondisinya seprainya darahnya sudah cukup banyak. Langsung buru-buru ditolong,” ujarnya.

Saat itu korban langsung dibawa ke RSUD Koja. Nyawanya berhasil di selamatkan. Sementara pelaku dibawa ko Polsek Tanjung Priok. Adapun terhadap pelaku dikenakan pasal 44 Undang-Undang RI Nomor 23 Tahun 2004 tentang kekerasan dalam rumah tangga dengan ancaman hukuman lima tahun penjara. (***)

sumber: kompas.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Singaraja – Nyawa Jro Ketut Nurti Mahayoni (65) berakhir di tangan suaminya sendiri, Jro Mangku Nyoman Sumerta (68).

Wanita asal Lingkungan Ketewel, Kelurahan Penarukan, Kabupaten Buleleng ini tewas ditusuk suaminya dengan pisau pengutik pada bagian perut, Sabtu, 29 Juni 2019 sore.

Menurut informasi di lapangan, Jro Sumerta menghabisi sang istri tepat di teras rumah.

Saat itu, korban Jro Mahayoni baru pulang dan memarkirkan mobilnya.

Jro Sumerta rupanya telah menunggu istrinya di depan pintu.

Jro Sumerta langsung menusuk perut istrinya dengan pisau.

Sempat terjadi cekcok antara pasutri yang dikaruniai dua anak itu.

Diduga Jro Sumerta sakit hati lantaran sang istri kerap pergi dari rumah dan tidak beri kabar.

Sementara pelaku sedang sakit gagal ginjal dan harus jalani cuci darah.

Mereka pun dikabarkan kerap bertengkar belakangan ini.

Dalam kondisi bersimbah darah, warga setempat bergegas melarikan korban Jro Mahayoni ke RSUD Buleleng.

Namun setiba di rumah sakit, Jro Mahayoni mengembuskan napas terakhir.

Pelaku yang merupakan pensiunan pegawai Telkom telah diamankan di Mapolres Buleleng.

Kapolsek Kota Singaraja, Kompol Anak Agung Wiranata Kusuma, dikonfirmasi melalui telepon enggan memberikan keterangan lebih lanjut.

Alasannya kasus ini telah dilimpahkan ke Unit PPA Polres Buleleng mengingat motifnya masalah rumah tangga.

“Tersangka dan barang bukti sudah diamankan, sudah kami limpahkan karena ini masalah rumah tangga. Selanjutnya tanyakan ke Unit PPA ya,” katanya.

Kapolres Buleleng, AKBP Suratno juga membenarkan jika pelaku Jro Sumerta telah diamankan.

Kasubag Humas RSUD Buleleng, Budiantara menyebut korban Jro Mahayoni diterima di IGD rumah sakit itu sekira pukul 15.30 Wita.

Saat hendak dioperasi, korban meninggal dunia, tepat pukul 17.30.

Korban mengalami luka robek pada bagian perut kanan dan kiri.

“Rencana operasi pada perut. Namun sebelum tindakan, pasien sudah meninggal. Saat diterima pasien sudah dalam keadaan tidak sadar,” ujarnya. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI,CO,ID, Jakarta – Perempuan berinisial S (22) disiksa ketika dirampok oleh driver taksi online. Korban tidak hanya diikat, tapi juga dibekap hingga ditonjok oleh tersangka.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono mengatakan korban sempat melawan ketika diancam oleh tersangka.

“Karena dia melawan, akhirnya mulutnya dipukul, sehingga giginya patah satu. Kemudian juga dibekap dengan kaus kaki ini,” jelas Kombes Argo Yuwono, Sabtu, 29 Juni 2019.

Korban awalnya menumpang taksi online yang dikemudikan oleh Aris Suhandini (31) ini di Plaza Indonesia pada Rabu, 26 Juni 2019 malam. Korban saat itu hendak pulang ke Apartemen Green Bay, Pluit, Jakarta Utara.

Namun, belum sampai di apartemen, tersangka malah menepikan mobilnya. Di situ, tersangka langsung mengancam korban.

“Kemudian sopir ini mengancam penumpang, lalu mengikat korban dengan tali sepatu. Ini bekasnya tangan yang diikat. Merah ini tangannya. Nah, ini tali sepatunya, pergelangan tangan kanan-kiri merah,” jelas Argo.

Dari situ, korban dibawa ke Tol Jagorawi. Di sana tersangka kembali mengancam korban dengan menggunakan antena mobil.

Dari Tol Jagorawi, tersangka membawa korban ke kawasan Blok M, Jakarta Selatan. Di situ, tersangka menguras rekening lewat ATM korban dan meninggalkannya. (***)

sumber: detik.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Beringin – Pelaku pembacokan terhadap tetangganya Agus Setiadi alias Badak (45) buruh bangunan, warga Dusun 1 Desa Emplasmen Kuala Namu, akhirnya ditangkap.

Bambang Heriandi alias Bintil (33), ditangkap 1,5 jam setelah melakukan aksi penikaman yang hampir menewaskan korban, Senin, 24 Juni 2019 sekitar pukul 22.00 WIB kemarin.

Kapolsek Beringin, AKP Bambang H Tarigan mengatakan bahwa pada saat kejadian, pelaku mencurigai bahwa istrinya selingkuh dengan korban.

Lalu Bintil bertanya kepada istrinya yang mengakui memang telah berselingkuh dengan tetangganya Badak.

Saat emosi Bintil masih memuncak mendengar pengakuan sang istri, tiba-tiba Badak datang ke rumah pelaku yang memang bersebelahan.

“Pada saat itu pelaku emosi dan langsung mengambil parang. Kemudian membacok dada bagian sebelah kanan dan tangan kiri korban sehingga Korban mengalami luka bacok,” kata Bambang, Rabu, 26 Juni 2019.

“Setelah melakukan aksinya itu, tersangka langsung melarikan diri untuk menghilangkan jejak,” sambungnya.

Bambang menjelaskan bahwa anak korban yang mengetahui kejadian itu, lalu datang melapor ke Polsek Beringin.

Ia memberitahukan kalau korban masih ada di TKP dalam kondisi bersimbah darah.

Tim Reskrim Polsek Beringin yang mengetahui peristiwa tersebut, langsung mendatangi TKP dan membawa korban ke RS Patar Asih untuk perawatan.

Informasi yang dihimpun, pelaku melarikan diri ke arah Desa Sekip Lubukpakam.

Tim Reskrim yang mendapat informasi langsung bergegas mencari keberadaan pelaku.

Tak butuh waktu lama, berselang 1,5 jam setelah kejadian tepatnya sekitar pukul 23.45 WIB, Tim Reskrim Polsek Beringin akhirnya berhasil meringkus pelaku.

“Pelaku kita tangkap di rumah pamannya di Dusun Mesjid 1, Desa Sekip, Kecamatan Lubukpakam.

Dia berusaha bersembunyi dari kejaran polisi,” ungkap Bambang.

Masih kata Bambang, dari pelaku diamankan barang bukti sebuah parang dan celurit.

“Untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, pelaku diamankan ke Polsek Beringin untuk dimintai keterangannya,” tutup Bambang. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Bandung – Penceramah Rahmat Baequni diamankan petugas Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Jawa Barat, Kamis 20 Juni 2019 malam.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, Rahmat dibawa dari tempatnya terakhir pada pukul 23.00 WIB. Saat ini Jumat, 21 Juni 2019, Rahmat Baequni diperiksa intensif di Kantor Ditreskrimum Polda Jabar.

“Betul, (Rahmat Baequni-red) sudah dibawa (diamankan ke Mapolda Jabar-red),” tutur Direktur Reskrimsus Polda Jabar Kombes Pol Samudi dikonfirmasi via telepon selulernya.

Dampak Musim Kemarau yang Perlu Diwaspadai

Samudi mengemukakan, langkah mengamankan Rahmat Baequni berkaitan penanganan kasus penyebaran informasi sesat atau hoaks tentang ratusan petugas Kelompok Panitia Pemungutan Suara (KPPS) meninggal dunia karena dicarun saat pelaksanaan Pemilu serentak 2019.Rahmat diduga menyampaikan hoaks saat berceramah di Bandung.

“Iya terkait hal itu. Seperti disampaikan sebelumnya, kami sudah melakukan penyelidikan terhadap kasus ini dengan memeriksa sejumlah pihak,” ujar Samudi.

Ini Alasannya Mengapa Album Dul Jaelani Ditolak Label Maia Estianty

Sesuai Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (Kuhap), penyidik memiliki waktu 24 jam untuk menetapkan status seseorang apakah tersangka atau tidak. Pagi ini sudah lebih dari lima jam Baequni diperiksa penyidik Polda Jabar.

“Sudah tersangka. Penetapan tersangka ini terkait dugaan penyebaran informasi bohong,” tutur Samudi.

“Potong Tumpeng”, Ini Doa dan Harapan ARJ saat Rayakan Ulang Tahun Pak Jokowi

Penyidik, kata dia, memiliki kewenangan menetapkan tersangka jika sudah mengantongi dua alat bukti.

Bukti yang dimaksud adalah video ceramah Baequni yang menyebut petugas KPPS meninggal karena diracun.

“Penetapan tersangka sudah dua alat bukti. Ada alat bukti petunjuk, keterangan ahli, dan saksi,” ungkap dia.

Personil Kodim Pati Jaga Stamina, Laksanakan Aerobik Rutin

Berikut isi video ceramah Rahmat Baequni yang tentang petugas KPPS meninggal dunia karena diracun:

“Bapak ibu, boleh saya cerita bapak ibu. Seumur-umur pemilu dilaksanakan, jujur, boleh saya jujur? Enggak apa-apa ya? Bapak-bapak ada yang sudah senior, enggak sebut sepuh karena berjiwa muda. Seumur-umur kita melaksanakan pemilu, pesta demokrasi, ada tidak petugas KPPS yang meninggal? Tidak ada ya? Tidak ada. Tapi kemarin, ada berapa petugas KPPS yang meninggal, 229 orang. Itu dari kalangan sipil, dari kepolisian berapa yang meninggal? Jadi total berapa? 390 orang meninggal. Sesuatu yang belum pernah terjadi dan ini tidak masuk di akal. Bapak ibu sekalian, ada yang sudah mendapat informasi mengenai ini?

Tapi ini nanti di-skip ya. Bapak ibu sekalian yang dirahmati Allah, ketika semua yang meninggal ini dites di lab, bukan diautopsi, dicek di lab forensik ya. Ternyata apa yang terjadi? Semua yang meninggal ini, mengandung dalam cairan tubuhnya, mengandung zat yang sama, zat racun yang sama. Yang disebar dalam setiap rokok, disebar ke TPS. Tujuannya apa? Untuk membuat mereka meninggal setelah tidak dalam waktu yang lama. Setelah satu hari atau paling tidak dua hari. Tujuannya apa? Agar mereka tidak memberikan kesaksian tentang apa yang terjadi di TPS? (***)

sumber: sindonews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Pekanbaru – Perkelahian dua remaja hingga berujung maut terjadi di Kampung Dosan, Kecamatan Pusoko Kabupaten Siak, Riau. Ironisnya, penyebab perkelahian karena hal sepele, yakni jaringan internet WiFi.

Korban tewas adalah RB (13) yang merupakan pelajar salah satu SMP di Siak. Sementara pelaku adalah IM (14). Tersangka IM yang juga berstatus pelajar sempat kabur, namun saat ini sudah diamankan polisi. “Hari ini IM berhasil diamankan. Dia mengakui perbuatannya,” kata Kasubbag Humas Polres Siak Bripka Dedek Rabu. 19 Juni 2019.

Peraturan Berubah Membuat Orang Tua Resah saat Daftarkan Anaknya Sekolah

Keterangan saksi mata, saat itu IM berserta temannya pergi ke rumah RB. Kedatangan IM ke rumah RB berselancar internet dengan meminta WiFi di rumah RB. Saat itu posisi mereka berada di belakang rumah.

Namun diduga korban tidak memberikan pasword Wifi, IM marah. Terjadilah perkelahian antara mereka. IM diduga menganiaya temannya itu dengan mencekik leher RB. Korban yang tidak bisa melepaskan cekikan akhirnya tersungkur.

Benarkah Momen Bersejarah Menjadi Mualaf Dipilih Deddy Corbuzier Akhir Pekan Ini?

Pihak warga yang melihat kejadian langsung melerai. IM dan temannya langsung melarikan diri. Orang tua baru menyadari kalau anaknya tidak berdaya setelah diberitahu warga. Keluarga pun mencoba membawa korban ke rumah sakit. Namun setelah diperiksa, pihak rumah sakit menyatakan RB telah meninggal dunia.

“Hasil autopsi Rumah Sakit Bhayangkara Polda Riau tidak ditemukan luka akibat benda tajam. Hasil pemeriksaan dokter ada luka lecet pada bagian bibir, luka terbuka pada ujung lidah. Kemudian ada resapan darah pada kulit kepala bagian sebelah kiri, otot leher, selaput pembungkus kerongkongan, saluran penapasan, pengantung usus dan dalam usus. Diduga kematian korban karena kekerasan benda tumpul pada daerah leher yang menyebabkan sumbatan jalan nafas,” pungkasnya. (***)

sumber: sindonews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Bekasi – Seorang pencuri bernama Wanto (36) dianiaya hingga tewas oleh satpam di kawasan Cikarang, Bekasi pada hari Rabu, 12 Juni 2019 lalu.

Peristiwa tersebut pun dilaporkan ke Polda Metro Jaya pada Jumat dini hari tadi.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono menuturkan, mulanya korban sedang melakukan pencurian barang di proyek pembangunan kereta tol Cikarang kabupaten Bekasi kilometer 30.

Aksi tersebut diintai oleh dua pelaku bernama Saman dan Samin Ranadhab yang bertugas sebagai petugas keamanan di proyek pembangunan tersebut. Keduanya pun menghabisi Wanto di dalam lahan kosong milik PT Trisna Jalan Kruing li, Cikarang Selatan, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.

“Kedua pelaku mengejar korban sampai di TKP terjadilah perkelahian antara korban dengan pelaku yang mana pelaku sempat menusuk kedua kaki korban dan memukul beberapa bagian tubuh korban hingga mengakibatkan korban meninggal dunia,” kata Argo kepada wartawan, Jumat, 14 Juni 2019.

Saksi dalam kejadian tersebut bernama (49), Ari Ratna (37) dan Majid (50). Kasus ini tengah diusut oleh Polsek Cikarang Selatan. Belum diketahui jenis barang apa yang dicuri Wanto. (***)

sumber: merdeka.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Bogor – Tak terima dicurigai dan dituduh hendak mencuri, IT (60), warga Desa/Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor nekat membacok GT (56), tetangganya sendiri hingga tewas, Rabu 12 Juni 2019 malam.

Informasi dihimpun menyebutkan, peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 22.30 WIB saat korban memergoki pelaku berusaha mencuri sebuah gudang alumunium, di Kampung Ciapus, RT3/4, Desa/Kecamatan Tamansari.

Hadi (27), anak korban menjelaskan, saat itu pelaku kepergok hendak mencuri sebuah gudang alumunium yang dijaga ayahnya.

Saat itulah, keduanya terlibat adu mulut hingga berujung penganiayaan.

“Tiba-tiba pelaku menyerang dan membacok ayahnya. Saat itu saya mendengar ayah saya teriak. Kemudian saya datangi tapi pelaku sudah kabur melarikan diri,” jelasnya di Bogor, Kamis, 13 Juni 2019.

Dia menuturkan, sebelum kejadian ayahnya memang pernah bercerita tentang gerak gerik pelaku yang mencurigakan dan diduga hendak melakukan aksi pencurian.

“Jadi sebetulnya ini sudah beberapa kali pelaku kita curigai mau mencuri ke gudang yang kebetulan dititipkan kuncinya pada almarhum,” kata Hadi.

Kapolsek Tamansari Iptu Nurhidayat saat dikonfirmasi membenarkan peristiwa pembacokan di wilayah hukumnya tersebut. “Iya benar kita masih memburu pelakunya,” ungkapnya.

Berdasarkan hasil penyidikan sementara dan keterangan sejumlah saksi, peristiwa itu bermula dari kecurigaan korban terhadap IT yang hendak melakukan aksi pencurian terhadap sebuah gudang bahan material alumunium.

“Pelaku sebelumnya bertamu di rumah kakak korban yang lokasinya berdampingan dengan rumah korban. Kemudian, tersangka terlihat di depan gudang, korban akhirnya menegur pelaku dengan dugaan hendak mencuri,” tukasnya.

Lantaran tak terima ditegur dan dituduh korban, akhirnya keduanya terlibat adu mulut hingga berujung pada pembacokan yang menyebabkan luka parah di bagian leher korban.

“Saat itulah jatuh dengan kondisi bersimbah darah dan sempat dilarikan ke rumah sakit. Namun karena korban banyak mengeluarkan darah akhinrya meninggal dua saat diperjalanan. Jadi diduga korban meninggal karena kehabisan darah setelah dibacok pelaku,” ungkapnya.

Lebih lanjut, ia mengatakan, keduanya merupakan warga asli Desa Tamansari dan satu sama lain memang sudah saling kenal. “Mereka saling kenal. Masih satu wilayah dan sering bertemu juga,” katanya.

Dia menyebutkan hingga saat ini pihaknya masih memburu pelaku ke sejumlah lokasi persembunyiannya. “Beberapa saat setelah kejadian kita langsung mengejar tersangka. Namun pada dua titik yang kami datangi tersangka tidak juga kami temukan,” terangnya.

Guna kepentingan penyidikan, kata dia, pihaknya langsung membawa jenazah korban ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ciawi untuk diautopsi. “Bahkan kita juga sudah koordinasi dengan Polres Bogor semoga dalam waktu dekat ini tersangka bisa segera tertangkap,” pungkasnya. (***)

sumber: sindonews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Denpasar – Nahas nasib seorang karyawati Tiara Dewata, Ni Kadek Santrika (21), setelah dipukul dan ditusuk seorang driver ojek online bernama Dwi Apriyanto (32), Selasa, 11 Juni 2019.

Dwi Apriyanto diduga nekat karena ketahuan mengintip Kadek Santrika yang sedang mandi.

Tindakan kekerasan yang dialami perempuan asal Karangasem tersebut terjadi di sebuah kamar mandi kos Jalan Kapten Japa Gang XVIII Denpasar, Bali.

Pelaku yang juga tetangga kos korban nekat memukul korbannya dengan palu dan menusuk dengan gunting.

Akibatnya korban mengalami 10 luka robek pada bagian kepala akibat benda tumpul, dan 6 luka robek di tangan akibat benda tajam.

Tak hanya itu, korban juga mengalami satu luka robek di perut sekitar 10 sentimeter di atas pusar, dan satu luka robek di bagian kiri perut akibat benda tajam.

Peristiwa ini terjadi sekitar pukul 13.30 Wita.

Korban Kadek Santrika yang saat itu tengah mandi mencurigai kehadiran seseorang.

Korban curiga setelah mendengar ada suara berisik di sebelah kamar mandi kamarnya.

Setelah selesai mandi, korban langsung memakai handuk dan bermaksud keluar kamar mandi.

Namun saat keluar, korban dikagetkan kehadiran pelaku yang tiba-tiba terpeleset dan jatuh dari atas tembok, lalu menimpa korban.

Pelaku yang panik dan juga malu karena aksinya ketahuan, menjadi kalap. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Palembang – Malang dialami RA (32) warga Jalan Sakyakirti Lorong Pancasila Kelurahan Karang Jaya Kecamatan Gandus Palembang ini.

Ia dan keluarganya terpaksa mendatangi Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polresta Palembang, Selasa, 11 Juni 2019 lantaran hendak melaporkan kejadian yang dialami suaminya, Ganda (35)

Yang diketahui sudah menjadi korban penganiayaan pada senin, 10 Juni 2019 sekitar pukul 00:30.

Di hadapan petugas saat melapor RA yang tengah hamil tersebut mengatakan saat kejadian ia sedang berada di rumah, lalu suaminya diantarkan pulang dengan keadaan luka tangan sudah dibacok.

“Saat itu suami saya pulang diantarkan oleh temannya Roy dan Ayis, mendapati itu saya panik dan langsung membawanya ke Rumah Sakit untuk mendapatkan perawatan,” ungkapnya kepada petugas.

Akibat kejadian ini, korban mengalami putus tiga jari tangan kanan dan luka tusuk di bagian pinggang sebelah kanan dan luka bacok pada bagian tangan kiri.

Lanjutnya, belum mengetahui penyebab suaminya menjadi korban penganiayaan tersebut.

” Saya tidak tau kenapa tiba-tiba dia dibacok, mungkin saat itu dia sedang berkelahi atau apa saya kurang tahu,” bebernya.

Ditempat yang sama Iwan, Kakak Ipar korban ketika dimintai keterangan mengatakan pertama ia pertama kali mendapat kabar adiknya menjadi korban penganiaan sekitar pukul 01.00.

” Sebelumnya dia itu sedang nonton orgen tunggal, lokasinya tidak jauh dari rumah itulah, kemudian dapat kabar kalau dia kena kapak ,” bebernya lagi

Sementara, Kasat Reskrim Polresta Palembang, Kompol Yon Edi Winara, melalui Kepala SPKT Polresta Palembang AKP Heri membenarkan adanya laporan korban.

” Benar telah terjadi tindak penganiayaan, dan istri korban telah membuat laporan di Polresta Palembang,” ungkapnya.

Lebih lanjut Heri mengatakan, laporan sudah diterima dan akan segera ditindak lanjuti ke Unit Reskrim Polresta Palembang.(***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Gresik – Gara-gara sang istri yang marah dan menuduh dirinya selingkuh, Lutfi Dwi Herianto (33) tega mencekik dan menutup pernapasan sang istri dengan bantal hingga akhirnya meninggal.

Kejadian ini pun disaksikan oleh kedua anaknya di rumah di Driorejo, Gresik. Kedua anaknya pun sempat meminta sang ayah berhenti.

Lutfi pun kini ditetapkan sebagai tersangka.

Peristiwa bermotif asmara ini berawal ketika sang istri, Visa Wuri Ermadani (32), mendatangi tempat kerja suaminya di sebuah bank swasta.

Kapolres Gresik, AKBP Wahyu Sri Bintoro, menjelaskan bahwa sang istri menduga Lutfi telah selingkuh.

Perhatikan Kesalahan Sederhana Ini, Nih Tips Bikin Selai Nanas Buat Isi Nastar yang Legit dan Harum

“Indikasi istrinya ini cemburu,” ujar AKBP Wahyu Sri Bintoro saat ditemui di kamar mayat RSUD Ibnu Sina, Senin, 27 Mei 2019.

Pada Sabtu, 25 mei 2019 pukul 22.00 WIB, Visa mendatangi tempat kerja suaminya sebagai salah satu penjaga bank swasta di wilayah Pasar Kembang, Surabaya.

“Saat itu dia mendapati suami yang sedang menelpon dengan orang yang diduga adalah selingkuhannya,” kata AKBP Wahyu Sri Bintoro.

Akhirnya mereka cekcok di tempat suaminya, tidak hanya adu mulut bahkan saling tarik menarik baju.

Undangan Special dari Disney untuk Sandra Dewi, Netizen: Princess Asli

Sambil menangis, Visa memantapkan diri untuk menginap di tempat kerja suaminya itu.

Pukul 03.00 WIB, Visa menelepon rekan kerja suaminya agar segera dikeluarkan dari tempatnya bekerja.

Dua jam kemudian, sangking kesalnya Visa sempat merusak motor milik suaminya yang terparkir.

Pukul 07.00 WIB, ibu dua anak ini kembali kerumahnya di Perum Pesona Bukit Tanjung blok E no 38, Dusun Lenggan, Desa Tanjungan, Kecamatan Driyorejo.

Selama Ramadhan, Pedagang Asongan Ini Raup Untung dengan Berjualan Peci

Kemudian, 30 menit berselang, Lutfi pulang kerumah dan mendapati istrinya sedang istirahat lalu Lutfi pun tertidur di ruang tengah depan TV.

“Saat bangun, Lutfi langsung minta maaf kepada istrinya namun ditolak,” kata dia.

Pukul 13.00 WIB, usai Visa mandi, Lutfi kembali meminta maaf namun tidak direspon, keduanya kembali cekcok dan adu mulut dengan nada tinggi.

Saat itu, Lutfi langsung mengambil makanan. Saat itu, Visa mengambil gunting diarahkan ke suami, namun berhasil ditepis.

“Istrinya sempat membawa gunting dan menyerang pelaku sempat ada satu sayatan atau sedikit luka di sebelah dada kiri atas akibat tusukan benda tajam,” terangnya.

Tidak sampai disitu, Visa langsung mengambil baju-baju milik Lutfi di dalam lemari kemudian digunting-gunting.

Lutfi yang terus meminta maaf bahkan sempat ditendang. Dia pun langsung melawan dengan mencekik istrinya di dalam kamar.

Istrinya dicekik sekitar 15 menit, kemudian sempat masih ada nafas.

Kemudian ditambah lagi penekanan dengan kepalan tangan sebelah kanan ditambah dengan menutup hidung dengan bantal selama 10 sampai 12 menit setelah itu baru lemas dan diduga korban telah meninggal dunia.

“Saat keduanya beradu mulut, dua anaknya berteriak, ‘Sudah Pak, sudah Pak, kasihan Mama’ sambil memegangi baju ayahnya,” kata dia.

Usai mendapati istrinya telah meninggal, dia langsung mengajak dua anaknya meninggalkan rumah dan pergi menuju rumah saudaranya di Surabaya.

Pukul 17.15 WIB, dia kembali ke Gresik menuju Polsek Driyorejo menyerahkan diri dan mengakui perbutannya.

Di hadapan petugas, Lutfi mengaku kesal dengan perlakuan istrinya yang berlebihan.

Lutfi mengaku menyesal apalagi dua buah hatinya akan tumbuh besar tanpa sosok orang tua.

Usai melakukan olah rekonstruksi awal di lokasi kejadian petugas mengamankan dua buah handphone yang rusak usai dibanting.

Satu buah tas hitam yang berisi baju kerja milik Lutfi yang sobek.

“Tersangka kita jerat pasal 338 KUHP dengan ancaman hukuman selama-selamanya penjara 15 tahun,” pungkasnya.

Saat ini jenazah Visa sedang diotopsi di RSUD Ibnu Sina. Dari pantauan, leher Visa tampak merah bekas cekik an di leher. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Depok – Tiga perampok bersenjata api dan bersenjata tajam menyatroni minimarket Alfamart di Jalan Raya Abdul Wahab RT 4/RW 8, Kelurahan Kedaung, Kecamatan Sawangan, Kota Depok, Sabtu, 25 Mei 2019 malam sekitar pukul 23.30.

Mereka menyekap tiga karyawan minimarket yang bersiap menutup minimarket tersebut.

Ketiga karyawan disekap dengan diikat tali dan lakban di gudang toko.

Dibanding Tahun Lalu, Konsumsi Avtur Bandara Adi Soemarmo Diprediksi Turun

Sehingga para perampok berhasil menggasak uang tunai dalam brankas toko sebanyak Rp 68,4 Juta, serta satu sepeda Motor Vario F 6494 FCY dan HP Xiaomi milik karyawan minimarket.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono menuturkan peristiwa perampokan itu dilaporkan karyawan minimarket setelah mereka berhasil membebaskan diri dari sekapan pelaku ke Polsek Sawangan, Ahad, 26 Mei 2019 subuh sekitar pukul 05.00.

Ia menjelaskan dari kesaksian tiga karyawan minimarket yang disekap peristiwa berawal saat Sabtu, 25 Mei 2019 malam sekira pukul 23.20.

WADUH! di Kota ini Indomaret dan Alfamart Ditutup Pemerintah

Saat itu toko sudah tutup dan seorang karyawan yakni Tri Widianto (19) mematikan AC dan menutup pintu depan.

“Tiba-tiba masuk 3 orang dengan memakai seragam Alfa dan menodongkan sejenis senjata api dan golok. Mereka mengancam dan menyuruh para karyawan masuk ke ruangan belakang,” kata Argo, Ahad, 26 Mei 2019.

Di sana katanya dua karyawan disekap oleh dua pelaku dengan diikat tali dan lakban.

Diduga Ilegal, Klinik Kecantikan Ini Digrebek

Sementara satu pelaku membawa seorang karyawan dengan diancam senpi untuk menunjukkan brankas yang menyimpan uang.

“Karyawan itu disuruh pelaku untuk membuka brankas. Karena diancam senjata api dan ketakutan, sang karyawan membuka brankas yang menyimpan uang hasil penjualan minimarket,” kata Argo.

Kemudian katanya pelaku menggasak semua uang di dalam brankas yang berjumlah total Rp 68.413.000.

“Semua uang di dalam brankas digasak pelaku,” kata Argo.

Bukan itu saja kata Argo, satu sepeda motor Honda Vario F 6494 FCY dan satu HP Xiaomi milik karyawan juga dibawa ketiga pelaku.

“Setelah itu ketiga pelaku kabur dengan uang dan barang hasil pencuriannya,” kata Argo.

Mereka meninggalkan tiga karyawan minimarket yang disekap, dengan diikat tali dan lakban di ruang belakang minimarket.

“Akhirnya para karyawan berhasil membuka tali dan lakban setelah berupaya keras. Mereka kemudian membuat laporan ke Polsek Sawangan,” kata Argo.

Setelah menerima laporan itu katanya petugas langsung mendatangi lokasi kejadian dan sudah melakukan olah TKP serta memeriksa saksi korban.

“Saat ini kasusnya masih didalami untuk mengidentifikasi pelakunya,” kata Argo. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Polisi mengatakan asisten rumah tangga (ART) yang kerap dianiaya oleh majikannya sudah lima hari tidak diberi makan sebelum akhirnya tewas.

“Korban sering mengalami kekerasan fisik dan terakhir koban sudah lima hari tidak diberi makan dan dimasukkan ke dalam kamar mandi, sehingga pada pukul 03.00 WIB korban ditemukan sudah tidak bernyawa,” kata Kapolres Metro Jakarta Utara Kombes Pol Budhi Herdi Susianto, Selasa, 21 Mei 2019.

ART malang itu yang diketahui bernama Linawati alias Ati (20) dan berasal dari Garut, Jawa Barat.

Ngabuburit Bareng Paguyuban Saund System dan Banser NU, Danramil Batangan Bagikan Takjil

Ati kerap mendapat kekerasan fisik dari majikannya yang berinisial TVL, seperti dipukul dengan ulekan dan setrika jika pekerjaannya dianggap kurang rapi.

Bukti kekerasan oleh TVL terlihat jelas dengan banyaknya bekas luka di jenazah Ati.

“Pada jenazah tersebut banyak terdapat bekas luka baru maupun lama, lebam dan sebagainya yang dimungkinkan akibat kekerasan fisik,” kata Budhi di Mapolsek Metro Penjaringan.

Sempat Berhenti, Massa Kembali Lempari Batu Stasiun Tanah Abang, Penumpang Menumpuk

15 Tahun Penjara

Tersangka TVL kini telah ditahan oleh Polsek Metro Penjaringan dan masih menjalani pemeriksaan intensif.

Pelaku penganiayaan terancam jerat pidana dengan hukuman maksimal 15 tahun penjara. “Kami kenakan Undang-Undang Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) Pasal 44 Ayat 3 UU No.23/2004 dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara,” kata Kapolres Metro Jakarta Utara Kombes Pol Budhi Herdi Susianto

Dalam konferensi pers di Mapolsek Metro Penjaringan, Kombes Budhi mengatakan polisi mengenakan UU KDRT karena peristiwa tersebut terjadi di dalam lingkup rumah tangga.

Duaarr.. Petasan Jumbo Itu Meledak, Dua Bocah Berlari dan Terluka

“Karena ini masih dalam lingkup rumah tangga, dalam hal ini korban adalah ART dari pelaku,” tutur Budhi. (***)

sumber: harianterbit.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Malang – Kasus mutilasi ini terkuak kala ditemukannya mayat wanita misterius di gedung eks Matahari Departement Store, Pasar Besar, Kota Malang pada Selasa, 14 mei 2019.

Setelah mayat wanita ini ditemukan, lalu Polresta Malang segera menangani kasus mutilasi ini.

Kondisi mayat wanita yang diperkirakan berusia 34 tahun itu saat ditemukan tidak utuh.

Dari hasil olah Tempat Kejadian Perkara (TKP), polisi mengumpulkan enam potongan tubuh korban yang tercecer di Pasar Besar Malang.

Potongan tubuh itu terdiri dari dua kaki, dua tangan, bagian badan dan bagian kepala korban.

Selain itu, polisi juga temukan tiga surat misterius yang tertulis seperti mantra di dinding dekat TKP.

Dengan petunjuk yang sangat minim, polisi lalu menerjunkan unit K-9 atau anjing pelacak untuk membantu mencari pelaku.

“Anjing ini melacak sampai di Gotong Royong tempat untuk pembakaran mayat di Jalan Laksamana Martadinata. Di sana sempat berhenti, namun karena tidak ada orang kemudian anjing ini kami pulangkan,” ungkap Kapolres Malang Kota AKBP Asfuri, dikutip Grid.ID dari Kompas.com.

Sugeng si pelaku mutilasi ini mengaku bahwa ia memutilasi tubuh korban dengan menggunakan gunting.

Saat ditanya, gaya bicaranya saat menjawab terlihat seperti orang yang memiliki kelainan jiwa.

Sugeng juga ternyata memiliki riwayat kriminal atau kejahatan lainnya.

Diketahui Sugeng dulunya adalah warga Jodipan Wetan Gang III RT 04/RW 06 Kota Malang.

Ia diusir dari kampungnya karena kerap membuat onar.

Narko (51) yang dulunya tetangga Sugeng menuturkan kalau Sugeng pernah membakar rumahnya saat tinggal di Jodipan.

Sugeng juga pernah memotong llidah pacarnya sendiri dan memukul kepala sang ayah menggunakan palu.

“Sugeng ini dari dulu selalu bikin gempar warga. Bahkan, Sugeng juga pernah diusir dari sini (Jodipan) sekitar 7-8 tahun lalu,” ujarnya. (***)

sumber: grid.id

MEDIAKEPRI.CO.ID, Bangka – Seorang pria bernama Andrew meregang nyawa setelah terlibat duel maut selama menit.

Pria berusia 40 tahun ini bersimbah darah karena mengalami sejumlah luka tikam senjata tajam di tubuhnya.

Andrew berduel dengan Anto Iwan (35).

Sebelum ajal menjemput, Andrew sempat menghubungi temannya melalui video call.

Detik-detik terakhir itu disaksikan Haji Ipi (45), seorang warga di lokasi kejadian

Dalam video call itu Andrew menyebutkan bahwa dia akan mati jika tak ditolong.

Duel maut itu terjadi diduga Anto Iwan tak senang Andrew menjalin kasih dengan mantan pacarnya, ZR, janda beranak tiga.

Malam minggu lalu, menjadi kenangan kelam bagi ZR yang harus kehilangan calon suami dengan cara tragis.

Berikut sejumlah fakta duel maut gara-gara cinta segitiga:

Korban sempat video call

“Tolong aku, mati aku kalau tidak ditolong.”

Kalimat itu didengar Haji Ipi (45), warga Desa Sempan, Kecamatan Pemali, Kabupaten Bangka, dari mulut Andrew.

Saat itu, menurut Haji Ipi, Andre yang bersimbah darah melakukan video call.

Tidak beberapa lama, Andrew ambruk dan meregang nyawa.

“Korban roboh, tapi masih sempat mengucap, La Ilaha Illallah (tiada Tuhan selain Allah SWT). Di saat itu pula HP di tangan korban terlepas dari tangan, dan korban tak berdaya (meninggal dunia),” kata Haji Ipi saat mengenang peristiwa yang terjadi pada Sabtu, 11 Mei 2019 malam tersebut.

Haji Ipi merupakan warga yang menyaksikan duel maut antara Anto Iwan (35) dan Andrew (40) pada Sabtu, 11 Mei 2019 malam lalu.

Haji Ipi mengaku awalnya mendengar suara minta tolong pada malam tersebut.

“Saya buka pintu ternyata ada orang berkelahi, bergulat dekat rumah saya, depan Masjid Albina,” kata Haji Ipi Senin, 13 Mei 2019.

“Lalu saya tutup kembali pintu rumah dan ambil HP, saya telepon warga. Sementara dua orang itu (Anto Iwan Vs Andrew) masih tetap bertarung sambil salah satunya berteriak minta tolong,” lanjutnya.

Tak berapa lama, warga pun datang. Dan Haji Ipi kembali keluar rumah.

Dia melihat Andrew bersimbah darah dan berjalan terhuyung menuju arah Jalan Sungailiat-Mentok Desa Sempan.

“Saya lihat korban (Andrew) dalam kondisi terluka, terhuyung berjalan ke arah aspal. Korban sempat videocall (ke temannya), korban video call saat sedang sekarat. Saya lihat korban video call sambil minta tolong ke temannnya di videocall sambil bilang ..tolong…tolong ..tolong aku, mati aku kalau tidak ditolong,” kata Haji Ipi.

Duel lima menit

Anto Iwan mengaku sempat duel dengan Andrew selama lima menit.

Perkelahian itu terjadi setelah Anto Iwan bertemu Andrew di rumah ZR, janda tiga anak yang sempat menjadi pacar Anto Iwan.

Andrew berada di rumah ZR di Desa Sempan, karena keduanya berstatus pacaran.

Andrew roboh setelah ditusuk Anto Iwan sebanyak enam kali.

Ditangkap saat kabur

Polisi menangkap Anto Iwan saat berusaha kabur ke wilayah Kabupaten Bangka Barat.

Kapolres Bangka AKBP Budi Arianto diwakaili Kapolsek Pemali, Ipda Meidy didampingi Kanit Reskrim Aipda KGG Fitrian D pada Senin, 13 Mei 2019 mengatakan sudah memanggil beberapa saksi.

Saksi yang dimaksud, antara lain, warga Desa Sempan dan pihak keluarga korban serta Saksi ZR, janda beranak tiga yang jadi rebutan.

“Kita minta keterangan pada keluarga korban sekitar enam orang, pihak saksi ZR dan juga kawan korban (video call),” kata Kapolsek Pemali Ipda Meidy didampingi Kanit Reskrim Aipda Fitrian, seraya menyatakan, penyidikan kasus ini sedang berjalan.

Pengakuan ZR

ZR tak banyak bicara saat ditemui di rumah ibunya di Desa Sempan, Pemali, Kabupaten Bangka, Senin, 13 Mei 2019.

Di rumah itu pula cekcok mulut terjadi antara Anto Iwan dan Andrew hingga berujung duel maut.

Janda tiga anak itu menyinggung hubungannya dengan Anto Iwan.

ZR mengaku sudah putus hubungan dengan Anto Iwan selama satu bulan.

“Saya punya anak tiga, suami saya (BB) sudah meninggal tahun lalu. Rencananya saya memang mau menikah dengan Andrew setelah lebaran ini,” kata ZR membuka kisah.

“Dengan Anto Iwan memang sempat berhubungan (pacaran) selama delapan bulan, tapi sudah putus. Kemudian satu bulan lebih setelah putus, saya berhubungan (pacaran) dengan Andrew dan berencana menikah setelah lebaran,” lanjutnya.

Serupa disampaikan ibu ZR di tempat yang sama. Dia menyebut Andrew sebagai calon menantu yang lebih baik bagi ZR.

Malang, Tuhan berkehendak lain.

“Padahal saya sudah setuju jika anak saya, ZR menikah dengan Andew. Andrew itu anaknya baik sopan ramah. Baru tiga kali ke rumah kami, sudah menyenangkan,” katanya.

“Baru satu tahun lebih anak saya (ZR) menjanda, sejak ditinggal ruah (almarhum suami ZR).

Anak saya (ZR) kemudian dekat dengan Anto Iwan, tapi kemudian putus hubungan (pacaran). Kemudian baru-baru ini ZR dekat dengan Andrew dan mereka berencana menikah setelah lebaran nanti, tapi ternyata Tuhan tak berkehendak,” imbuhnya menyesalkan kematian Andrew, calon menantu keduanya itu. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Sulastri alias Tari (21), wanita korban pembunuhan di apartemen Habitat, Karawaci, Kabupaten Tangerang, pada Sabtu, 11 Mei 2019, lalu. Korban diketahui telah tiga bulan menjalani profesi sebagai wanita pesanan BO (Booking Order).

Dia kemudian terbunuh oleh lelaki yang melakukan kencan dengannya, Agus Susanto (37).

Telah Ditemukan Mayat Perempuan di Penginapan dengan Tangan Putus dan Disembunyikan di dalam Springbed, Siapakah Dia?

Masih Ingat Mayat di Penginapan dengan Tangan Putus, Nih Identitas dan Kata-kata Terakhir Sebelum Ditemukan Tewas Mengenaskan

Dari penyelidikan sementara diketahui motif pelaku menghabisi nyawa korban untuk menguasai sejumlah harta benda yang tersimpan di kamar Apartemen Habitat nomor 311 tower C, Karawaci, Kabupaten Tangerang.

Hal itu diketahui dari keterangan kekasih korban, Andra Anjaya (30), asal Serpong, Tangerang Selatan. Sulastri itu baru menjalani pekerjaan sebagai wanita panggilan selama 3 bulan terakhir.

“Kalau keterangan kekasihnya dia mengetahui profesi korban. Itu sudah 3 bulan,” kata Kapolsek Kelapa Dua, Kompol Efendi, Senin, 13 Mei.

Siswi SMP yang Ditemukan Jadi Mayat, Ternyata Korban Pemerkosaan dan Pembunuhan Ayah Tiri

Telah Ditemukan Mayat Anak Laki-laki Mengambang, Siapakah Dia?

Dia mengatakan, sebelum pembunuhan terjadi sang kekasih bahkan sempat berkomunikasi dengan korban. Dia (kekasih korban) sendiri juga yang pertama kali mengetahui bahwa kekasihnya itu terbunuh.

“Jadi sebelum ketahuan kekasinya itu terbunuh, dia sempat berkirim pesan singkat. Terakhir dikabarkan kalau korban sedang menerima tamu, namun beberapa saat tak lagi ada jawaban dari sang kekasih. Hingga akhirnya kekasih korban mendatangi kamar apartemen dan menemukan jasad kekasihnya sudah dalam kondisi tidak bernyawa,” tukasnya.

Dari kamar tersebut, pelaku berhasil mencuri sejumlah harta benda korban berupa perhiasan, uang tunai Rp 5 juta dan dua handphone milik korban. (***)

sumber: merdeka.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Kupang – Seorang pria bernama Gilman (40) babak belur setelah dihajar warga gara-gara mengancam anggota Polres Timor Tengah Utara (TTU) menggunakan senjata tajam sangkur.

“Anggota polisi yang diancam pelaku menggunakan sangkur, yakni Brigpol Rustam. Kejadiannya tadi sekitar pukul 11.00 Wita,” kata Kabid Humas Polda NTT, Kombes Jules Abraham Abast, Sabtu, 11 Mei 2019.

Kejadian itu bermula saat Rustam mengendarai sepeda motor sepulang menjemput anaknya dari sekolah.

Ketika melewati Jalan El Tari kilometer 1, motor Rustam hampir ditabrak Gilman yang juga mengendarai sepeda motor dari arah berlawanan. Rustam lalu menghampiri Gilman dan menegurnya.

“Brigpol Rustam lalu memberi teguran, agar pada saat berkendaraan lebih hati-hati. Namun Gilman, tidak terima dengan teguran itu dan langsung mencabut dua buah sangkur dari pinggang,” kata Jules.

Tindakan Gilman tersebut, membuat Rustam yang membawa anak-anaknya panik.

Pada saat yang bersamaan, datanglah Brigpol Agus Saku, Anggota Satuan Reskrim Polres TTU. Agus berusaha menenangkan Gilman, tetapi tidak dihiraukan.

Sadar kondisi semakin berbahaya, Agus memutuskan menelepon Kepala SPK Aiptu Abilio Fallo untuk datang ke lokasi kejadian dan membawa sejumlah personel.

Saat sejumlah personel tiba di lokasi, massa sudah mengelilingi Gilman.

Situasi kian tak terkendali sehingga Brigpol Melki Ola melepaskan tembakan peringatan dengan senjata SS1.

Tembakan tersebut membuat Gilman membuang pisaunya.

Massa lalu menganiaya Gilman menggunakan tangan kosong dan batu hingga mengakibatkan Gilman mengalami luka robek di bagian wajah.

Polisi membubarkan massa. Gilman pun dilarikan ke rumah sakit untuk diberi perawatan medis.

“Yang bersangkutan sementara ini sudah ditangani oleh anggota Polres TTU dan diamankan di Mapolres TTU,” ujarnya. (***)

sumber: kompas.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Palembang – Terungkap kata-kata terakhir Vera Oktaria kasir cantik Indomaret yang tewas dimutilasi di sungai Lilin, Kota Palembang

Kata-kata terakhir Vera Oktaria itu diungkapkan oleh Arina yang merupakan kepala toko indomaret tempat kasir cantik itu bekerja

Arina mengungkapkan saat terakhir kali ketemu Vera Oktaria cuma bilang ‘pulang bu’

BERITA TERKAIT

Telah Ditemukan Mayat Perempuan di Penginapan dengan Tangan Putus dan Disembunyikan di dalam Springbed, Siapakah Dia?

Manurut Arina, Vera Oktaria baru satu minggu bekerja di indomaret yang dipimpinnya.

“Kebetulan saat terakhir ketemu saya shift sore sedangkan vera shift pagi jadi kami sempat ketemu, dia juga biasanya kalo pulang kerja naik motor sendiri,” ujar Arina

Arina juga menjelaskan bahwa ibu korban juga sempat datang malam hari menanyakan keberadaan Vera, sampai esok harinya pun ia tidak masuk lagi.

Napi Buat Kerusuhan dengan Membakar Rutan, Diduga Ini Pemicunya

“Kami tidak menyangka bahwa korban mutilasi itu Vera, kami sendiri dapat info dari media sosial dan pesan whatsApp berantai,” ujar Arina

Vera Oktaria (20) perempuan cantik kasir minimarket di Palembang ditemukan tidak bernyawa di sebuah hotel di Sungai Lilin Musi Banyuasin, sekitar 132 kilometer dari Kota Palembang.

Berikut kronologi kejadiannya berdasarkan waktu sejak dikabarkan hilang sampai ditemukan.

  1. Selasa 7 Mei 2019, Tampak Gelisah

Malam itu saat sedang bekerja di Indomaret Jl Jenderal Sudirman, Vera Oktaria terlihat gelisah.

Rekan tempatnya bekerja melihat paling tidak ada puluhan kali telepon masuk ke ponselnya.

“Malam itu saya mendengar telepon korban berdering kurang lebih 10 kali, terdengar korban mengangkat telepon dan berkata ‘tidak bisa, tidak bisa’ namun masih saja terdengar bunyi handphone nya hingga dia pulang bekerja,” ujar Dwi teman sekerja Vera Oktaria.

Pukul 23.30, Vera Oktaria pamit pulang.

Sekitar satu jam kemudian, keluarga Vera Oktaria datang ke toko dan bertanya tentang keberadaan Vera yang belum juga pulang ke rumah.

  1. Selasa 8 Mei 2019, Check In Hotel

Seorang pria berinisial D check in kamar Penginapan Sahabat Mulya, Jalan PT Hindoli, Kelurahan Sungai Lilin Kecamatan Sungai Lilin, Kabupaten Muba.

“Pemesan kamar tanpa menyertakan KTP saat menginap, menurut saksi ada dua orang laki-laki dan satu perempuan, diduga korban,” kata Supriadi.

Supriadi menjelaskan, pria tersebut memesan kamar pada Rabu, 8 Mei 2019.

  1. Jumat 10 Mei 2019, Mayat Ditemukan

Petugas penginapan mencurigai kamar nomor 06 karena bau busuk.

Sehari sebelumnya petugas penginapan juga sudah curiga namun tak berbuat apa-apa. Baru keesokan harinya mereka menghubungi polisi.

Nurdin yang merasa curiga langsung mengetuk pintu kamar dan mencoba untuk membuka pintu tersebut tapi tidak ada respon dari penghuni kamar.

Karena dikira tidak terjadi apa-apa Nurdin langsung menghubungi orang tuanya untuk menanyakan keberadaan tamu tersebut yang tidak kembali setelah membawa kunci tersebut.

“Saya curiga waktu saya bersihkan lantai mencium bau busuk, nah baru besoknya (hari ini) bau busuk itu semakin kuat langsung saya hubungi Polsek Sungai Lilin.”

“Setelah pihak polsek Sungai lilin datang, kamar tersebut baru di buka. Ditemukan sesosok wanita di atas ranjang dalam keadaan tanpa busana dengan kondisi tangan terpotong jenazah membengkak ditutupi dengan selimut,” ujar Nurdin. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Surabaya – Oknum pilot Lion Air AG (29) yang melakukan penganiayaan kepada pegawai La Lisa Hotel Surabaya AR (28) resmi ditahan di Mapolrestabes Surabaya.

Hal itu disampaikan Kepala Bidang Humas Kepolisian Daerah Jawa Timur Kombes Pol Frans Barung Mangera Kamis, 9 Mei 2019.

“Tadi malam sudah kita tahan, terhitung hari ini sudah kita tahan di Mapolrestabes. Nanti kita akan live,” kata Barung.

Barung memastikan, AG sudah ditetapkan sebagai tersangka.

Penetapan AG sebagai tersangka, kata Barung, setelah polisi memeriksa video pemukulan pilot Lion Air terhadap pegawai La Lisa Hotel Surabaya, AR.

“Kalau dilihat dari video itu penganiayaan,” ucapnya.

Jalin Silahturahmi Melalui Safari Ramadan

Sebelumnya, Barung menyebut, Polda Jatim memiliki sejumlah alasan mengapa kasus penganiayaan oknum pilot kepada pegawai hotel di Surabaya itu diambil alih.

Salah satu alasannya adalah kepolisian tidak ingin ada intervensi dalam menangani perkara tersebut.

Selain itu, kasus tersebut juga menjadi perhatian publik luas.

menyatakan, Polda Jatim berkomitmen untuk menangani kasus tersebut secara serius.

Buka Stand Bazar Ramadhan di Lahan Pribadinya, Ini Harapan Via Vallen

Status AG yang kini masih berstatus saksi, kemungkinan bisa naik statusnya menjadi tersangka.

“Polda Jatim akan melakukan penanganan kasus ini secara serius. Artinya kita akan panggil saksi (AG) dan kemungkinan akan kita jadikan tersangka,” ujar dia.

Kronologi pemukulan, pada Jumat, 3 mei 2019 lalu, pegawai La Lisa Hotel, Surabaya, AR (28) yang diduga menjadi korban pemukulan pilot Lion Air AG (29), mendatangi Polrestabes Surabaya untuk melaporkan tindak kekerasan tersebut.

Cuaca Buruk, Benarkah Petir Dapat Menjatuhkan Pesawat?

AR bersama pihak hotel dan kuasa hukumnya, melaporkan kasus pemukulan itu di SPKT Polrestabes Surabaya.

Oleh polisi, AR juga sempat dimintai keterangan sekitar lima menit.

Pihak kepolisian kemudian menerbitkan laporan polisi nomor STTLP/B/440/V/Res.1.6/2019/SPKT/JATIM/RESTABESSBY.

Kejadian itu terjadi pada Jumat, 30 April 2019 lalu sekitar pukul 05.28 WIB di La Lisa Hotel, Jl Raya Nginden Nomor 82, Surabaya.

Kasus penganiayaan oknum pilot Lion Air kepada pegawai hotel itu ramai beredar di dunia maya.

Video CCTV yang viral itu, menampilkan seorang berbaju putih menganiaya dan melayangkan pukulan kepada seorang pegawai hotel di Surabaya.

Pemukulan tersebut, berdasarkan identifikasi kepolisian, diduga kuat dilakukan oleh oknum pilot Lion Air, di Hotel La Lisa, Nginden, Surabaya, Selasa, 30 April 2019 lalu.

Keterangan yang didapat kepolisian, aksi oknum pilot tersebut, diduga dipicu dari rasa kecewa dengan pelayanan Hotel La Lisa, yang dilakukan oleh pegawai hotel berinisial AR tersebut.

Perlakuan yang dilakukan oleh AG kepada AR tersebut kini ditangani Polda Jatim menggunakan Pasal 351 ayat 3 KUHP tentang dugaan penganiayaan dan perbuatan tidak menyenangkan. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Selain karena kecewa lantaran hamil di luar nikah, sopir laundry berinisial MS (23) nekat menghabisi bayi kandungnya, KQS, 3 bulan karena dalam pengaruh sabu. Sadisnya, sebelum dibunuh bayi tersebut mengalami penyiksaan kakinya dipelintir hingga patah.

“Ini bukan yang pertama. Sebelumnya saat korbannya berumur 1,5 bulan. Bayi itu sudah dipelintir kakinya, hingga membuatnya patah tulang,” kata Kapolsek Kebon Jeruk, AKP Erick Sitepu, Senin, 6 Mei 2019.

Sebelumnya Bayi berumur tiga bulan, KQS, harus meregang nyawa di tangan ayah kandungnya, MS. Ia tewas usai disiksa di rumahnya Kelurahan Sukabumi Utara, Kecamatan Kebon Jeruk Jakarta Barat, Kamis 2 Mei 2019 kemarin.

Suami Bunuh Istri, Lalu Lukai Anak dan Mertuanya, Ini Kata Tetangga

Kepada polisi, MS mengakui saat menyiksa anaknya itu dirinya tengah dipengaruhi narkoba jenis sabu. Hal itu terbukti dengan tes urine yang menemukan pelaku positif metaphetamine.

Dari narkoba itu, pelaku yang emosi langsung memelintir bagian tubuh si anak.

Kejadian itu dilakukan saat istrinya atau ibu kandung KQS, SK (22) pergi. SK kemudian tak menyadari bila luka yang dilakukan si anak terjadi karena kelakuan si suami. Ia malah menyangka patahan tulang itu karena pola pengasuhan yang salah.

Tetangga Dengar Suara Bayi Menangis dari Pagi, Setelah Dicek Sang Ibu Tewas Tergantung Disampingnya

“Tulang patah sendiri kami ketahui setelah melakukan rontgen. Setelah di intograsi pelaku baru kami mengetahui kejadian setengah bulan lalu,” ucapnya.

Sementara terhadap kejadian yang terjadi saat ini. Erick mengatakan pelaku juga memanfaatkan kelengahan istrinya. Kala itu si Istri pergi ke pasar dan menitipkan KQS ke MS. Meskipun didalam rumah terdapat dua orang tua SK. Namun karena keterbatasan penglihatan, membuat keduanya tak bisa mengawasi. “Disitulah MS menyiksa anaknya membabi buta hingga menyiksa korbannya,” ucapnya.

Dari hasil penyidikan sementara diketahui pembunuhan yang dilakukan MS dilakukan pada Sabtu, 27 April 2019 lalu. Karena itulah polisi bakal memeriksa Dokter Puskesmas Kebon Jeruk. Ia diduga membiarkan kasus ini, meskipun mengetahui kejadian ini.

Siswi SMP yang Ditemukan Jadi Mayat, Ternyata Korban Pemerkosaan dan Pembunuhan Ayah Tiri

“Saat ini kami masih fokus penanganan penyidikan terhadap pelaku. Kemudian untuk dari pihak Puskesmas sendiri, beberapa sudah kami mintai keterangan ya. Memang perlu diketahui dari dokter sendiri telah membuat rekam medis,” ucapnya.
Karena itu, MS mengatakan pihaknya berencana akan memeriksa dokter itu esok hari. Sebab untuk saat ini, si dokter sedang berpergian keluar kota. (***)

sumber: sindonews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Purworejo – Seorang pria di Purworejo, Jawa Tengah diduga tega menghabisi nyawa istrinya sendiri. Tak hanya itu, pelaku juga melukai kedua mertua dan anaknya.

Pelaku adalah Gunardi (36) warga Desa Panggel Dlangu, Kecamatan Butuh, Purworejo.

Gurnadi diduga tega mengabisi nyawa istrinya Siti Sarah Apriyani (32) bahkan melukai kedua mertua yakni Muh Wahyono (65) dan Endang Susilowati (50) serta anaknya sendiri Kamila Azka Nisa (10), Ahad, 5 Mei 2019.

Jelang Ramadhan, Harga Bawang Putih Tembus Rp 80.000/Kilogram

“Iya, diduga pelakunya adalah suaminya sendiri. Korban meninggal yakni istrinya dan yang luka-luka mertua serta anak dari pelaku,” ungkap Kasat Reskrim Polres Purworejo, AKP Haryo Seto Liestiyawan.

Sebelum peristiwa itu terjadi, beberapa tetangga korban mendengar kegaduhan dan teriakan minta tolong dari lokasi kejadian. Lokasi kejadian merupakan rumah mertua pelaku, Muh Wahyono.

Saat Akan Mendarat, Pesawat Boeing 737 Meluncur Keluar Landasan Pacu dan Berakhir di Sungai, Ini yang Terjadi

Selang beberapa saat, para tetangga berdatangan dan melihat korban sudah tergeletak di lantai. Melihat kejadian tersebut, tetangga korban langsung menghubungi polisi. Pelaku yang saat itu masih bersembunyi di dalam rumah langsung dibekuk oleh petugas.

“Pelaku sudah kami amankan beserta barang bukti sebilah parang,” lanjutnya.

Sang istri meninggal di lokasi kejadian lantaran mengalami luka parah bekas sabetan senjata tajam di kepalanya, sedangkan korban lain mengalami luka pada bagian tangan, kaki dan bahu.

Tetangga Dengar Suara Bayi Menangis dari Pagi, Setelah Dicek Sang Ibu Tewas Tergantung Disampingnya

Semua korban kemudian dilarikan ke RS dr Tjitro Wardojo Purworejo.

Hingga kini, polisi masih mendalami motif apa yang menyebabkan pelaku tega melakukan tindakan itu. Untuk penyelidikan lebih lanjut, pelaku diamakan di Mapolres Purworejo.

“Motifnya apa masih kami dalami, yang jelas mereka (korban dan pelaku) masih dalam proses perceraian,” pungkasnya. (***)

sumber: detik.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Sanggau – Tersangka dugaan pembunuhan siswi SMP Tayan Hulu, inisial AT (16) ternyata ayah tiri korban inisial RW.

Hal itu disampaikan Kapolres Sanggau, AKBP Imam Riyadi didampingi Kasat Reskrim Polres Sanggau, AKP Haryanto, Tim Dokter Forensik Polda Kalbar, dr Monang Siahaan saat menggelar prease release terkait pengungkapan kasus pembunuhan.

Kegiatan berlangsung di Polres Sanggau, Rabu, 1 Mei 2019.

Kapolres Sanggau, AKBP Imam Riyadi menjelaskan kronologis kejadian yakni, pada Selasa, 30 April 2019 satu diantara warga Kecamatan Tayan Hulu, inisial JR yang pergi keladang mencium bau yang tidak enak.

“Setelah dicari ternyata disitu melihat kaki manusia yang sudah tertimbun dengan tanah. Kemudian saksi menginformasikan kejadian itu ke Polsek Tayan Hulu, ”katanya.

Kemudian, tim dari Polres Sanggau dan Polsek mendatangi TKP dan melakukan olah TKP serta mengindentifikasi dan mengumpulkan barang bukti dan informasi yang ada di TKP.

“Sehingga di TKP juga kita amankan beberapa barang bukti, berupa kayu, batu dan juga seragam korban. Setelah diidentifikasi dan mencari keterangan, mayat yang sudah tertimbun inisial AT yang sudah tiga hari tidak kembali, ”ujarnya.

Setelah itu, jenasah dibawa ke Puskesmas Tayan Hulu. Dan setelah melakukan upaya mengevakuasi korban, langsung melakukan komunikasi kepada Bidang Dokes Polda Kalbar.

“Untuk penangganan jenasah untuk dilakukan autopsi. Dan hari ini sudah ada tim dokter forensik Polda Kalbar yang telah melaksanakan autopsi terhadap AT, ”tegasnya.

Kapolres menegaskan, pihaknya secara maraton melakukan pemeriksaan terhadap saksi-saksi, termasuk juga dilakukan pengumpulan keterangan dari pihak sekolah, lantaran saat itu korban masih menggunakan seragam pramuka.

“Kita periksa saksi-saksi termasuk juga teman dekat, kerabat, ibu kandung korban, wali kelas korban dan dugaan tersangka RW (Ayah tiri korban).

Diperoleh juga keterangan para saksi yang mengarah kepada RW. Dan yang bersangkutan mengakui bahwa pelaku pembunuhan adalah RW, ”jelasnya.

Sebelum menghabisi korban, RW sempat menyetubuhi korban di TKP. Dan sebelumnya juga sudah dilakukan sebanyak tiga kali, dua kali dilakukan dirumah pada tahun 2018 dan sekali dilakukan TKP.

“Kita juga mendapatkan informasi dari wali kelas korban, dari keteranganya memang melihat bahwa korban ini seperti tekanan batin sehingga disekolah itu cenderung untuk diam, ”jelasnya.

Pelaku juga yang kerap mengantar jemput korban saat sekolah. Dan saat itu juga, pelaku membawa korban kesalah satu TKP galian tanah.

“Disitulah pelaku menyetubuhi korban, karena juga sudah cek cok mulut. Korban merasa masa depanya tidak ada lagi sehingga menuntut bagaimana pertanggungjawaban pelaku terhadap korban. Kemudian korban didorong dan jatuh ke parit dan langsung melakukan penyekikan, disitu ada juga batu dan kayu dan sepeda motor sebagi alat angkutnya, ”jelasnya.

Barang bukti yang diamankan berupa sepeda motor, batu yang digunakan untuk melakukan pemukulan maupun kayu yang digunakan untuk menimbun termasuk juga baju korban yang sudah kita amankan.

“Ancaman hukumam bisa seumur hidup, karena juga ini kita lapis dengan UU perlindungan anak. Tentunya ini menjadi efek jera dan pelajaran bagi kita. Dan pihak korban juga rela untuk di autopsi untuk mengungkap. Dan ini menjadi pemahaman bagi masyarakat kita, dalam penyidikan perlu sekali untuk dibuktikan secara ilmiah, sehingga dokter dari forensik memberikan bantuan dalam penyidikan, ”tegasnya.

Kapolres menambahkan, pelaku berhasil diamankan kurang dari 24 jam. Untuk itulah, Kapolres mengucapkan terima kasih kepada seluruh masyarakat yang turut serta dalam membantu pengungkapan ini.

“Dan kerjasamanya yang baik antar masyarakat khususnya di wilayah Kecamatan Tayan Hulu yang sudah memberikan informasi, masukan demi kecepatan terungkapnya kasus pembunuhan ini. Mudah-mudahan kedepan tidak terulang kembali kejadian seperti ini, ”tegasnya.

Sementara itu, Tim Dokter Forensik Polda Kalbar, dr Monang Siahaan menyampaikan, pihaknya mendapatkan informasi lisan melalui telekomunikasi yang ditujukan ke Bid Dokes Polda Kalbar, untuk meminta bantuan mengungkap misteri kematian seorang wanita di wilayah Kabupaten Sanggau.

“Sore kemarin langsung kita bentuk tim untuk meluncur langsung ke Sanggau. Surat yang memang saya baca dengan benar, memohon untuk melakukan pemeriksaan dalam dan luar untuk melakukan autopsi namanya, ”ujarnya.

Selain itu, ada surat persetujuan tindakan autopsi yang ditandatangani bermatrai enam ribu dari pihak penyidik, keluarga ataupun saksi yang ada.

“Setelah dilakukan autopsi tadi, saya banyak menemukan beberapa kejanggalan yang akan saya tuangkan di visum et refertum. Nah saya tidak punya wewenang dan hak untuk menjelaskannya kepada teman media. Tapi untuk beberapa hari kedepan bisa bertanya kepada penyidik yang melakukan menyelidiki kasus ini, ”tegasnya.

Beberapa kelainan yang ditemukan yang tidak bisa diungkapkan secara detail yaitu dibagian kepala, kemaluan dan lain-lainya.

Geger Penemuan Mayat Siswi SMP

Sebelumnya Warga di Dusun Peruan Dalam, Desa Peruan Dalam, Kecamatan Tayan Hulu, digegerkan dengan penemuan mayat seorang perempuan inisial AT (16) di dalam parit dengan menggunakan seragam pramuka oleh warga, Selasa 30 April 2019.

Ditemukanya mayat tersebut tak jauh dari permukiman warga di Dusun Peruan Dalam, Kecamatan Tayan Hulu, atau sekitar 1 KM dari SMP Tayan Hulu.

Kepala Desa Peruan Dalam, Kecamatan Tayan Hulu, Robert Jonshon membenarkan ditemukanya mayat perempuan berusia 16 tahun tersebut. Bahkan dirinya juga ikut ke TKP ditemukanya mayat tersebut.

“Betul tadi pagi sekira pukul 09.00 Wib dijumpai warga dengan mencium bau busuk di TKP. Dia siswi SMPN 05 Tayan Hulu, Kelas 8 B, ”katanya melalui telpon selulernya, Selasa, 30 April 2019 pukul 20.35 Wib.

Kades menjelaskan, Sebelumnya korban pulang sekolah pada Sabtu 27 April 2019 siang. Sejak itu tidak ada sampai di rumah.

“Dan baru digegerkan tadi pagi pukul 09.00 Wib, dan pihak Kades menerima laporan sekira pukul 09.20 Wib dari penemu bau busuk pertama oleh tiga orang warga, ”pungkasnya. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.D, Palembang – Nasib sial menimpa Usman Hery (35), ketika menagih utang di Jalan Teratai Putih, Kota Palembang, Sumatera Selatan. Hery ditembak temannya sendiri hingga tewas karena menolak bayar.

Aksi penembakan itu diduga terjadi pagi tadi Pukul 05.30 WIB. Menurut warga di kawasan eks lokalisasi tersebut, korban ditembak saat menagih utang.

“Tadi pagi sempat dengar ada ribut-ribut di sekitar lokasi. Nggak lama kok dengar suara tembakan,” terang seorang warga, Marzuki saat ditemui di RS Bhayangkara Palembang, Ahad, 28 April 2019.

Korban Banjir Bengkulu, 10 Orang Meninggal, 8 Hilang dan Belasan Ribu Warga Terpaksa Mengungsi

Tak lama setelah penembakkan, warga menemukan Usman tewas bersimbah darah. Usman mengalami luka tembak tepat di bagian leher.

“Luka bekas tembakan di leher. Sempat dibawa ke rumah sakit, tapi sudah tidak tertolong. Ini tadi suruh rujuk ke rumah sakit Bhayangkara dan mau di periksa,” katanya.

“Katanya tadi korban mau nagih utang. Tapi pelaku nggak mau bayar, terus ya ditembak,” katanya.

Bruk.. Model Ini Terjatuh saat Peragakan Busana, Setelah Itu sang Model Pun Dinyatakan Meninggal Dunia

Sementara Kapolsek Sukarami, Kompol Rivanda membenarkan peristiwa terjadi pagi tadi. Penembakan terjadi di daerah eks lokalisasi atau tepat di depan Cafe Golden Star.

“Keterangan beberapa saksi, bila pelaku ini punya utang kepada korban. Namun, saat korban menangih, pelaku ini malah marah kepada korban. Sampai akhirnya, pelaku menembak korban,” ujar Rivanda.

Saat ini pelaku masih dalam pengejaran pihak kepolisian karena si pelaku kabur usai menembak korban. Identitas pelaku pun sudah diketahui polisi.

“Pelaku dalam pengejaran dan memang korban sama pelaku sudah saling kenal. Namun untuk masalah utang apa masih kami selidiki,” tutupnya Rivanda. (***)

sumber: detik.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Cibinong – Sidang vonis terdakwa kasus pembunuhan Abdullah Fithri alias Dufi digelar di Pengadilan Negeri Cibinong, Kabupaten Bogor, Selasa, 23 April 2019 sore.

Majelis hakim menjatuhkan hukuman mati kepada dua terdakwa.

Vonis mati ini dijatuhkan kepada Muhammad Nurhadi dan Istrinya, Sari Murniasih.

“Ma Saya Sudah di Stasiun” Centang Satu WA Dufi yang Mayatnya Ditemukan dalam Drum

Dalam sidang putusan yang dipimpin oleh Hakim Ketua, Ben Ronald, bahwa terdakwa terbukti secara sah bersalah melakukan tindak pidana pembunuhan berencana.

“Kedua terdakwa Muhammad Nurhadi alias Hadi bin Muryanto dan juga Sari Murniasih telah terbukti secara sah telah melakukan tindak pidana pembunuhan serta melakukan pembunuhan berencana. Menjatuhkan pidana terhadap terdakwa-terdakwa tersebut dengan pidana mati,” kata Hakim Ketua saat membacakan putusan diikuti satu kali ketukan palu.

Kronologi Pembunuhan Pemandu Lagu yang Mayatnya Disembunyikan dalam Lemari

Terdakwa ketiga yakni Dasep alias Yudi yang berperan membantu dalam pembunuhan tersebut divonis hukuman 10 tahun.

Menurut pantauan, usai hakim membacakan putusan tersebut Nurhadi dan Sari Murniasih di ruang persidangan langsung berpegangan tangan sambil terisak di hadapan Majelis Hakim.

Telah Ditemukan Mayat Terbungkus Kain Sprei di Dalam Tong Plastik, Siapakah Dia? Ini Identitas Korban dan Pelakunya

Telah Ditemukan Mayat Terbungkus Kain Sprei di Dalam Tong Plastik, Siapakah Dia?

Isak tangis keduanya juga terus terjadi ketika Nurhadi dan Sari meninggalkan ruang persidangan dan memasuki ruang tahanan.

Juru Bicara PN Cibinong, Chandra Gautama, mengatakan yang menjadi pertimbangan hakim pada putusan mati ini adalah karena Nurhadi dan Sari merupakan pelaku utama pembunuhan berencana.

Pertimbangan lainnya, pembunuhan ini dinilai Majelis Hakim sebagai pembunuhan yang sadis.

Sedangkan Dasep hanya membantu membawa mayat korban.

“Mengenai tata cara pembunuhannya berdasarkan pertimbangan putusan dijelaskam bahwa pembunuhan terjadi di rumah kontrakan Muhammad Nurhadi dan Sari Murniasih. Dilakukan dengan tusukan pisau ke dada sebelah kiri dua kali. Itulah yang menyebabkan matinya Dufi,” ucap Chandra.

Diberitakan sebelumnya, Abdullah Fithri Setiawan alias Dufi ditemukan tewas oleh seorang pemulung dengan kondisi berada di dalam drum biru di kawasan Industri Kembangkuning, Klapanunggal, Kabupaten Bogor, pada Ahad, 18 November 2018.

Almarhum Dufi dimakamkan di TPU Budi Dharma, Semper, Jakarta Utara, Senin, 19 November 2018. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Indralaya – Kepergok massa saat sedang melakukan aksi penjambretan terhadap seorang mahasiswi yang kebetulan tengah melintas di jalan poros menuju gerbang Perkantoran Tanjung Senai Indralaya.

Akibatnya, dua orang pelaku penjambretan yang diketahui bernama Safrizal (23) dan Suharto (16) terdesak bersama sepeda motor yang dikendarainya ia pun memilih nekad untuk menceburkan diri ke rawa lebak yang ada di Tanjung Senai Indralaya Kabupaten Ogan Ilir (OI).

Lalu kedua pelaku penjambretan yang tercatat berdomisili di Desa Sukaraja Lama Kecamatan Indralaya Selatan Kabupaten OI ini, berenang hingga ke tengah lebak.

Waspadai Infeksi Saluran Kemih di Musim Panas, Nih Tipsnya

Merasa kelelahan sehingga mereka mendekati perahu yang ada di tengah lebak tersebut untuk minta pertolongan dibawa ke tepi daratan.

Saat berusaha dibawa ke tepi trotoar jalan poros Tanjung Senai, sejumlah massa yang sudah menunggu keduanya langsung menghampiri dan mendaratkan pukulan ke arah wajah kedua pelaku.

Beruntung aksi tersebut sempat dilerai oleh sejumlah petugas Sat Pol-PP Pemda Kabupaten OI yang kebetulan sedang melintas. Akhirnya, guna menjalani proses penyidikkan lebih lanjut kedua pelaku bersama barang bukti hasil penjambretan berupa satu unit ponsel merk Oppo langsung dibawa ke ruang penyidik Sat Reskrim Polres OI.

Cantiknya Nagita Slavina Foto Bareng BLACKPINK

“Kedua tersangka menjalankan aksi pencurian terjadi pada Senin, 22 April 2019 lalu TKP di jalan poros menuju perkantoran Pemda Tanjung Senai Indralaya, tepatnya dipersimpangan Desa Sakatiga,” ungkap Kapolres OI AKBP Ghazali Ahmad SIK MH didampingi Kanit Pidum IPDA Rahmat Djakatara, Selasa, 23 April 2019.

Modus pencurian yang dilakukan oleh kedua tersangka dijelaskan IPDA Rahmat yakni dengan cara kedua pelaku berboncengan menggunakan sepeda motor Honda Revo yang langsung memepet motor korban seorang mahasiswi Nisa Hayati Siregar (20) warga Jalan Bhakti Guna Indralaya.

Lalu kedua pelaku langsung mengambil satu unit ponsel merk Oppo A3 milik korban yang sedang diletakan di saku sepeda motor. Selanjutnya kedua pelaku langsung melarikan diri membawa hp milik korban, atas kejadian tersebut korban melaporkannya ke SPKT Polres Ogan Ilir.

“Salah satu dari pelaku merupakan anak dibawah umur,” ucap Kanit IPDA Rahmat Djakatara.

Atas perbuatannya, ditegaskan Kanit, kedua tersangka dijerat pasal 363 tentang pencurian dengan ancaman hukuman diatas lima tahun penjara.

Dihadapan penyidik, kedua pelaku Suharto dan Safrizal mengakui perbuatannya telah melakukan aksi penjambretan terhadap korban seorang mahasiswi.

Salah seorang tersangka yakni Safrizal mengaku terpaksa melakukan tindakan tersebut karena terdesak. “Aku ngelakuke ini karena terdesak pak,” kilah bapak satu anak ini. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Serang – TIM Jatanras Satreskrim Polres Serang menembak dua rampok spesialis minimarket. Keduanya ditembak saat ditangkap di tempat persembunyiannya di Kecamatan Cisoka, Kabupaten Tangerang dan Kecamatan Cipanas, Kabupaten Lebak.

“Iya, kami terpaksa melakukan tindakan tegas kepada tersangka karena melawan saat ditangkap petugas,” kata Kapolres Serang Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Indra Gunawan kepasa wartawan, Ahad 21 April 2019.

Lakukan Pelepasliaran Benih Lobster, Menteri Susi: Berani Tangkap Lobster Bertelur, Saya Tenggelamkan!

Rifat Alhamidi mengabarkan, kedua tersangka yakni Piki Rifansyah (33) dan Aang Gozali (33) warga Kampung Lurah, Desa Cipayung, Kecamatan Cipanas, Kabupaten Lebak. Piki ditembak di bagian mata kaki kiri. Sedangkan Aang di bagian betis.

Menurut Kapolres, kedua tersangka merupakan spesialis rampok mini market yang sudah beroperasi tak hanya di Kabupaten Serang. Aksi kejahatan yang diotaki tersangka Piki ini, juga di sejumlah tempat di Ciawi, Jawa Barat dan di Kabupaten Tangerang.

Bayi Berusia 5 Bulan Itu Akhirnya Meninggal Dunia Setelah Dikubur Hidup-hidup Oleh Ibunya, Ini Kronologinya

“Tersangka sudah menjadi buruan petugas dan sempat beberapa kali lolos dalam penyergapan. Dalam aksinya, kawanan ini dikenal bersenjatakan golok serta tidak segan-segan melukai korbannya jika melakukan perlawanan,” ujar Kapolres.

Aksi terakhir Kelompok Cipanas ini terjadi di minimarket Jalan Raya Serang-Jakarta tepatnya di Kampung Pabuaran, Desa/Kecamatan Kragilan, Kabupaten Serang, Senin, 1 April 2019 sekitar pukul 04.30. Dalam aksi ini, tersangka Piki dan Aang menggondol uang Rp80 juta dari dalam brankas serta melukai satu karyawan.

Kartini Masa Kini, Ibu Adalah Segalanya Buat Anaknya

“Modusnya, pelaku masuk ke minimarket menggunakan helm dengan masing-masing membawa sebilah golok untuk mengancam karyawan agar membuka berangkas penyimpanan uang, dan membawa semua uang yg berada di brangkas dan dalam kasir,” tuturnya. (***)

sumber: galamedianews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Setelah tiga minggu dirawat di rumah sakit, bayi berusia 5 bulan meninggal dunia. Sebelumnya bayi bernama Dian Asrian dikubur hidup-hidup oleh ibu yang melahirkannya.

Dian Asrian, bayi berusia tujuh bulan yang dikubur hidup-hidup oleh ibunya itu, meninggal dunia, Sabtu, 20 April 2019.

Korban sempat menjalani perawatan intensif di ruang PICU NICU RSUD Bayu Asih Purwakarta.

Korban meninggal dunia setelah dirawat oleh tim medis lebih dari tiga minggu dengan sejumlah alat medis yang menempel di tubuh mungilnya.

Bahkan untuk menopang hidupnya karena mengalami koma, selama 24 hari Dian terus ditopang oleh obat pemicu jantung.

Kabar meninggal dunianya Dian dibenarkan oleh Ketua RW rumah korban di Desa Pusakamulya, Kiarapedes, Purwakarta, Yayat Ahmad Hidayat saat ditemui di sekitar rumah duka.

“Saya dapat kabar anaknya Ujang yang dirawat di rumah sakit meninggal dunia pukul 09.00 WIB,” kata Yayat saat dikonfirmasi.

Menurut informasi yang didapatnya, Ahmad mengatakan bahwa bayi mungil itu meninggal dunia karena pernafasannya terganggu.

Usai dinyatakan meninggal dunia, korban langsung dibawa ke rumah duka dan tiba sekitar pukul 10.00 WIB.

Sesampainya jasad korban ke rumahnya, tidak lama dari itu langsung diurus untuk segera dimakamkan.

“Jelang 15 menit tiba di rumah duka, langsung dimakamkan tidak jauh dari rumah. Semua warga di sini ikut mengantar ke makam” ucapnya.

Terjadi Akhir Bulan Lalu

Bayi perempuan dari pasangan W (35) dan Ujang Solihin itu dikubur hidup-hidup di belakang rumahnya, Rabu, 27 Maret 2019.

W diduga melakukan hal tersebut karena mengalami gangguan jiwa. Anak keduanya itu ditemukan di belakang rumah oleh bibinya, Siti Atikah.

Siti Atikah curiga karena pelaku menggali dua lubang di belakang rumah. Saat ditanya untuk apa, pelaku hanya menjawab akan menanam tanaman.

Karena curiga, Siti Atikah menggali lubang dan menemukan keponakannya dalam keadaan lemas dan kotor.

Bayi yang lahir pada November 2018 itu kemudian dirawat di rumah sakit. Warga Kampung Pasirmuncang, Desa Pusakamulya, Kiarapedes, Purwakarta itu diduga mengalami depresi saat proses kehamilannya.

Kapolsek Kiarapedes, Iptu Toto Herman Permana mengatakan pelaku mengalami gangguan jiwa saat usia kandungannya sekitar tujuh bulan.

W mengubur bayinya sendiri ketika sang suami sedang kerja di kebun.

W mengaku kepada saudaranya bahwa sang bayi hilang. Tetangga dan keluarga pelaku mulai melakukan pencarian terhadap bayinya.

Siti Atikah memeriksa belakang rumah W. Ia curiga karena sehari-hari W selalu bersama bayi. Ia melihat ada sesuatu yang menyembul dari balik tanah yang sebelumnya digali oleh W.

“Saat diperiksa ke belakang rumah ditemukan ada dua galian tanah, dan salah satunya itu ada korban. Terlihat karena ada tangan dan kain putih di sekitar galian tanah,” ucapnya.

Setelah digali, korban dilarikan ke Puskesmas Wanayasa. Korban pun dirujuk ke RSUD Bayu Asih Purwakarta guna mendapat penangan medis lebih lanjut.

Korban mengalami hipotermia dan sesak nafas. Saat mendengar kabar tersebut, Ujang segera pulang dan melihat istrinya sedang menangis.

Rumahnya ramai dikunjungi orang-orang. “Para tetangga dan keluarga ikut mencari, alhamdulillah ditemukan sama bibi sudah dalam keadaan terkubur tanah.

Alhamdulillah bisa tertolong, sekarang dalam perawatan,” kata Ujang saat ditemui di RSUD Bayu Asih beberapa waktu lalu. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Makassar – Indra Anugrah Saputra (20), tega membunuh Rosalina Komala Sari alias Ocha (18), karena tak terima dicaci maki.

“Pelaku sudah ditangkap, alasan menikam korban karena dicaci maki oleh korban,” ungkap Kasatreskrim Polrestabes Makassar, AKBP Indratmoko, Jumat, 19 April 2019 petang.

Kasus pembunuhan Rosalina terjadi 11 April lalu, di lantai dua kamar nomor 209, Wisma Benhil, Jl Toddopuli Raya Timur, Makassar pukul 15.45 Wita, sore.

BERITA TERKAIT:

Saat Mau Bersihkan Kamar, Karyawan Wisma Temukan Wanita Tewas Bersimbah Darah

AKBP Indratmoko menjelaskan, pada saat itu pelaku hendak menemui korban di kamar 209 membicarakan teman pelaku yang ingin memakai jasa korban.

Tapi pelaku mengatakan ke korban, lelaki yang ingin memakai jasanya itu tidak bisa datang dan lalu membatalkan pertemuan itu, sehingga membuat korban marah.

“Korban marah ke pelaku, mengeluarkan kata-kata kotor.

Disitu pelaku marah dan keluarkan pisau, korban berusaha merebut pisau dan terjadi pertengkaran,” ujarnya.

Lanjut Indratmoko, saat terjadi perebutan pisau jenis sangkur itu, korban sempat berteriak.

Tapi pelaku langsung mendorong korban ke tempat tidur dan menikam korbannya.

“Disitu pelaku menutup wajah si korban dengan bantal, lalu pelaku menikam-nikam korban dibagian kepala, leher dan badan, kurang lebih 30 kali,” lanjut Indratmoko.

Setelah membunuh korban Rosalina alias Oca, tersangka Indra pun mengambil ponsel merek Oppo F5 dan motor Yamaha Mio milik korban lalu melarikan diri.

Indra Saputra ditangkap tim Resktim unit Jatanras Polrestabes dan Resmob Polda Sulsel, di Jl Barukang Utara, Kecamatan Tallo, Kamis 18 April 2019 pukul 23.00 Wita.

“Pelaku ditangkap berdasar pada laporan polisi (LP / 184 / IV / 2019 / Polrestabes Makassar / Sek. Panakukang), terkait itu kasus pembunuhan,” jelas Indratmoko.

Selain mengamankan pelaku, tim Resmob dan Jatanras juga amankan barang bukti Oppo F5 milik korban, motor Yamaha Mio milik korban dan hape Oppo pelaku.

Seperti diketahui, korban Rosalina alias Ocha diduga dibunuh oleh Indra dengan 27 sampi 31 tusukan di tubuhnya. Kejadinnya di kamar 209, hotel Benhil, Toddopuli. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jayapura – Oknum anggota Kepolisian yang bertugas di Mapolda Papua berinisial AK menembak dua warga di Kabupaten Jayapura, Papua.

Dari keterangan keluarga korban, diketahui jika antara pelaku dan korban masih ada hubungan saudara dan mereka bertikai karena masalah perebutan rumah.

Aksi nekat oknum polisi tersebut terjadi pada Senin, 15 April 2019, sekitar pukul 17.00 WIT di Telaga Ria Kampung Asei Kecil Distrik Sentani Timur, Kabupaten Jayapura.

Apa Saja yang Dibawa Saat ke TPS untuk Memilih di Pemilu 2019?

Saat itu pelaku AK mendatangi korban Abner Kaigere (45) yang sedang bersama keponakannya Anderson Hengga (17).

Menurut keterangan istri korban, Damari Wally, aksi dari penembakan itu dipicu masalah rumah. Pelaku tidak terima rumah yang ditempati dulu dibongkar.

“Rumah kosong yang dulu ditumpangi oleh orang tua pelaku dibongkar karena terkena banjir. Tapi pelaku tidak terima langsung datang melakukan pengancaman dan penganiayaan. Terus langsung melakukan penembakan,” tuturnya.

Pasutri Ini Ditangkap Karena Jadi Kurir Sekilo Sabu-sabu, Polisi: “Akan Saya Tembak Mati Kalian”

Akibat aksi tersebut, korban Abner Kaigere (45) mengalami luka tembak di kepala serta luka memar karena dianiaya, sementara Anderson Hengga (17) mengalami luka tembak di paha.

Kedua korban kini tengah menjalani perawatan di RS Dian Harapan, Kota Jayapura, Papua.

ASTAGA!! Ketagihan Nonton Film Porno di HP, Siswa SD dan Siswa SMP Ini Hamili Anak SMA

Kapolres Jayapura, AKBP Victor Macbon membenarkan kejadian tersebut dan menjelaskan pelaku sudah diamankan oleh Propam Polda Papua.

“AK kami sudah amankan jam 19.00 WIT, termasuk senjata yang digunakannya pun sudah kami sita,” ujarnya. (***)

sumber:Kompas.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Malang – Tetangga sebut menantu yang bakar mertuanya hidup-hidup di Pujon, Kota Batu, Jawa Timur depresi karena anaknya meninggal dua bulan lalu.

Beberapa spekulasi muncul terkait penyebab pelaku, Nurul Mutholib membunuh Lismini, ibu mertuanya.

Pihak keluarga menyebut kemungkinan penyebabnya adalah pelaku merasa iri terhadap korban yang membeli kasur baru.

Namun belum diketahui secara pasti motif yang menyebabkan pelaku nekad melakukan tindakan sadis tersebut.

Satu Orang Tewas Terjepit Setelah Pikap Muat Telur Tabrak Truk Parkir, Ini Kronologinya

Untuk mengetahui kepastian motifnya, Polres Batu kini masih menginterogasi pelaku, Nurul Mutholib (30) yang tak lain adalah menantu perempuan dari korban, Lismini.

Kasat Reskrim Polres Batu, AKP Anton Widodo menyebut Nurul sakit hati karena sering cekcok dengan mertua perempuannya, Lismini (57).

Sakit hati itu membuat Nurul melakukan aksi nekat membakar mertua perempuannya itu.

Belum diketahui pasti apa yang melatarbelakangi keduanya sering cekcok.

Sering Pulang Larut Malam, Pria Ini babak Belur Ditikam Pisau dan Dipukul dengan Stik Golf, Ini Kronologinya

Banyak informasi yang muncul di lapangan.

Ada yang mengatakan karena persoalan kasur baru.

Ada juga yang mengatakan pemicu cekcok antara menantu dan mertua perempuan ini terkait urusan soal air.

Tapi ada juga yang mengaitkan sikap nekat Nurul itu karena kondisi Nurul yang tertekan karena anaknya meninggal beberapa waktu lalu.

Astami (42), saksi mata sekaligus tetangga korban yang membatu menolong memadamkan api menyebut semenjak dua bulan ini Nurul dan mertua perempuannya, Lismini terlihat tidak harmonis.

Tolong..Tolong Anakku Dibawa Buaya! Teriak Seorang Ibu Melihat Anaknya Diterkam Buaya

Astami dan warga sekitarnya menduga, Nurul tega membakar mertuanya sendiri karena depresi mengingat ia baru saja kehilangan anak keduanya, sekitar 27 hari lalu.

Suparman (60) suami Lismini menduga, menantunya itu iri hati ketika dirinya membeli kasur baru.

Dikatakan Suparman, sudah sejak dua bulan ini Nurul dan mertua perempuannya, Lismini kerap berselisih.

“Kemungkinan menantu saya iri saat kami beli kasur,” terangnya.

Informasi lain menjelaskan, peristiwa itu terjadi ketika Nurul pulang kerja dari kebun.

Nurul kemudian cekcok dengan Lismini. Dari cekcok itu, Mutholib nekat membakar Lismini.

Peristiwa tragis menantu perempuan membakar mertua perempuan ini terjadi di RT 26/RW 04 Dusun Ngebrong Desa Tawang Sari, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang, Jumat, 12 April 2019.

Korban Lismini mengalami luka bakar berat dilarikan ke rumah sakit.

Setelah api yang dapat dipadamkan, korban langsung dibawa warga ke Puskesmas Pujon.

Namun karena tak mumpuni Lismini dirujuk ke RS Hasta Brata dan kemudian malam harinya dibawa ke RSSA Malang.

Korban akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya pukul 05.30 WIB Sabtu 13 April 2019 pagi tadi.

Polisi Resort Batu mengamankan Nurul Mutholib (30) sejak Jumat (12/4/2019) sore pasca kejadian.

Kapolres Baru AKBP Budi Hermanto menjelaskan, pelaku diamankan setelah peristiwa terjadi.

“Kejadian kemarin siang. Tadi pagi, korban meninggal. Pelaku sudah diamankan setelah kejadian,” ujar Budi, Sabtu, 13 April 2019.

Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Batu, AKP Anton Widodo menerangkan, kalau Nurul diamankan di hutan menjelang maghrib.

Petugas yang saat itu mendapatkan laporan dari warga langusung menuju lokasi.

“Kami sebar anggota untuk mencari pelaku. Ketemu di hutan belakang rumah. Dia tidak berani keluar karena takut dimassa,” ujar Anton. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Surabaya – Identitas dua pelaku pembunuh dan mutilasi mayat dalam koper, Budi Hartanto (28) telah terungkap.

Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Frans Barung Mangera mengatakan satu pelaku berinisial AP ditangkap di Jakarta, Kamis, 11 April 2019 sore. Sementara pelaku lainnya yang berinisial AJ ditangkap di Kediri Kamis malam.

“Ada dua pelaku. Satu berinisial AP dari Jakarta, satunya inisial AJ kita tangkap malam di Kediri,” kata Barung di Mapolda Jatim Jalan Ahmad Yani Surabaya, Jumat, 12 April 2019.

BERITA TERKAIT

GEGER! Ada Kaki Menyembul Keluar dari Koper, Setelah Dibuka Ini Isinya

Saat ditanya keduanya warga mana, Barung mengaku mereka warga Kediri. Diketahui, keduanya juga orang terdekat korban.

“Dua-duanya orang Kediri. Orang terdekat korban,” lanjutnya.

Barung menambahkan sejak awal kasus, polisi menyakini kasus ini bukanlah pembunuhan tunggal. Namun minimal ada dua pelaku yang membantu melancarkan aksinya.

“Polisi menyakini pembunuh bukan tunggal, minimal ada yang membantu mempersiapkannya,” imbuh Barung.

ASTAGFIRULLAH, Dasar Anak Durhaka, Seorang Ibu Tewas Mengenaskan dan Lehernya Nyaris Putus Digorok Anak Kandung

Penemuan mayat dalam koper, Rabu, 3 April 2019 pukul 07.00 WIB membuat geger warga Blitar. Koper warna hitam itu ditemukan pencari rumput di Desa Karanggondang, Kecamatan Udanawu. Saat ditemukan, di dalam koper itu terdapat sesosok mayat tanpa bagian kepala. (***)

sumber: detik.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Palembang – Nasib malang dialami seorang janda tua berusia 60 tahun yang tewas ditangan anak kandungnya sendiri.

Leher Sabriah binti Abdul Manan digorok oleh anak kandungnya sendiri yakni AKM (35) yang ia besarkan sejak kecil.

Bahkan, leher sang ibu nyaris putus akibat tikaman senjata tajam anak durhakanya itu.

Insiden pembunuhan ini terjadi di Dusun III Desa Tanjungagung Kecamatan Lengkiti Kabupaten Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan.

Sang ibu yang sudah renta itu diketahui bekerja seorang diri untuk menghidupi dua putranya.

Sejak berpisah dengan sang suami, Sabriah bekerja banting tulang untuk makan kedua putranya hingga anak-anaknya berusia dewasa.

Namun, saat beranjak dewasa sang anak bukannya bekerja untuk membantu ekonomi keluarga.

Namun, ia lebih memilih bermalas-malasan dan membiarkan sang ibu bekerja sendirian.

Sabriah tinggal serumah bersama dua orang putranya yang telah berusia dewasa.

Namun, salah satu putra korban terpaksa dipasung lantaran mengalami gangguan jiwa.

Sementara itu, AKM yang juga putra korban yang kondisinya sehat malah malas bekerja.

AKM diduga tersinggung dan sakit hati lantaran dimarahi oleh ibu kandungnya sendiri yakni Sabriah.

Berdasarkan kronologi yang dihimpun, pada hari Rabu, 10 April 2019 Sarbiah binti Abdul Manan (60) baru pulang dari kebun.

Saat itu melihat anaknya berinisial Akm (35) sedang duduk malas malasan di rumahnya.

Wanita yang usianya sudah renta itu kesal lalu marah kepada putrnya yang berinisial AKM.

Korban memarahi AKM dan mengatakan malas dan tidak mau bekerja.

Saking kesalnya dengan kelakuan sang anak, korban pun sampai membanting piring nasi ke lantai.

Ironisnya bukannya menyadarai kesalahannya, Akm malah tersinggung dan menyerang ibu wanita yang sudah melahirkan dan membesarkannya itu.

Pelaku pun mengambil parang di dapur dan langsung menggorok leher ibu kandungnya sebanyak 3 kali hingga meninggal dunia.

Korban pun bersimbah darah dengan leher nyaris putus di dalam rumahnya sendiri.

Setelah menghabisi nyawa korban, pelaku lalu lari keluar rumah menuju sumur untuk membersihkan bekas darah yang menempel di parang .

Selanjutnya parang tersebut diselipkannya di pinggang lalu pelaku pergi ke pinggir sungai dan menyembunyikan parang itu di semak–semak di pinggiran sungai .

Kemudian pelaku pergi naik mobil menuju arah Kota Baturaja. Tersangka bersembunyi di rumah kakak iparnya di Desa Sukamaju Kecamatan Baturaja Barat.

Kematian korban baru diketahui saat menjelang tengah malam oleh warga sekitar.

Pada pukul 23.30 WIB, para tetangga mendengar teriakan minta tolong dari salah satu anak korban yang dipasung didalam rumah.

Anak korban yang sedang dipasung itu minta bantuan warga untuk memeriksa kondisi ibunya yang baru saja ribut dengan kakaknya.

“Anak korban minta tolong perikso ibunyo yang baru bertengkar dengan kakaknya,” terang salah seorang nara sumber seraya menambahkan begitu diintip ternyata ibunya sudah tergeletak.

Warga lalu beramai-ramai masuk ke dalam rumah korban dan betapa terkejutnya warga menyaksikan wanita yang sudah menjanda ini sudah tewas bersimbah darah.

Warga setempat lalu melaporkan kasus dugaan tersebut ke aparat kepolisian setempat.

Polisi yang tiba dilokasi pun langsung melakukan olah tempat kejadian perkara dan mengevakuasi jasad korban.

Kapolres OKU AKBP Dra Ni Ketut Widayana Sulandari didampingi Kasat Reskrim AKP Alex Andriyan SKom dan Kapolsek Lengkiti Iptu Marjuni yang dikonfirmasi Kamis, 11 April 2019 mengatakan tersangka pelaku yang diduga membunuh korban sudah dititipkan di Mapolres OKU.

Dikatakan Kapolres, saat ini Kasat Reskrim sedang ke TKP untuk mendalami kasus ini.

Sedangkan tersangkanya sudah diamankan di Polres untuk menghindarihal-hal yang tidak diinginkan.

Dikatakan Kapolres, tersangkanya akan dikirim ke Palembang untuk menjalani pemeriksaan kejiwaan.

Kapolres yang juga didampingi Kasi Humas Polres OKU AKP Rahmad Haji mengatakan, polisi sedang mendalami kasus ini, untuk mengetahui motif pembunuhan yang diduga dilakukan oleh anak kandung korban sendiri. (***)

sumber: tribunnews.com

KRIMINALITAS

Selasa | 09 April 2019

Demi Biaya Berobat Anak, Bapak Ini Rela Menjambret

MEDIAKEPRI.CO.ID, Palembang – Faizal Umum (27 tahun), warga Jalan Fiqih Usman Lorong Jaya Laksana Kelurahan 3-4 Ulu nekat menjambret, Selasa, 9 April 2019 pukul 07.30 WIB.

Faizal mengatakan nekat melakukan hal tersebut lantaran anaknya sedang demam, sementara dirinya tidak memiliki uang untuk membawa anaknya ke dokter untuk berobat.

Korban jambret itu Olga Riezelda (22 tahun). Ia dijambret saat melintas di Jalan Pangeran Ratu, Kelurahan 8 Ulu Kecamatan Seberang Ulu I.

Akibat perbuatannya tersebut, Faizal dihakimi massa dan beruntung diselamatkan petugas Polsek Seberang Ulu I.

“Saya pusing anak saya demam, pinjam uang sama mertua untuk berobat kurang, narik becak cukup untuk makan saja, terpaksa saya jambret tas korban. Berharap ada uang dan handphone,” Jelasnya.

Dikatakannya saat itu, ia baru saja pulang dari rumah mertuanya yang berlokasi di Kawasan Jakabaring untuk meminjam uang.

“Saya baru saja dari rumah mertua di Jakabaring untuk pinjam uang Rp 50 ribu. Saat perjalanan pulang ke rumah melihat korban berboncengan,” katanya.

Meski awalnya tak ada niat untuk melakukan aksi kriminal, namun lantaran ingin melihat anaknya sembuh. Firman terpaksa nekat melakukan hal tersebut.

“Jadi saya pepet sepeda motornya pas lah dan tarik tas dia. Saat posisi tasnya ada di depan, sedang dipangku,” katanya.

Faizal menceritakan, saat itu ia dan korban sempat saling tarik sebelum akhirnya dia kepung oleh warga.

“Kami sempat tarik-tarikan tas dan tas berhasil berpindah ke tangan saya. Sayangnya, dia langsung mengejar dan meneriaki saya hingga warga mengepung dan saya langaung di amankan” ungkapnya.

Sementara Kapolsek Seberang Ulu I Palembang, AKP Mayestika mellui Kanit Reskrim, Iptu Yundri membenarkan adanya serahan tersangka.

Selain mengamankan pelaku, petugas juga mengamankan barang bukti berupa tas korban warna hitam dan satu sepeda motor merek Suzuki Smash nopol BE 4335 WF milik tersangka yang digunakan saat beraksi.

“Benar pelaku saat ini sudah kita amankan, untuk sekarang masih dalam pemeriksaan penyidik. Kami juga masih mencari informasi apakah pelaku ini merupakan spesialis atau bukan,” jelas Iptu Yundri. (***)

sumber: tribunnews.com