KRIMINALITAS

MEDIAKEPRI.CO.ID, Prabumulih – Seorang suami di Kota Prabumulih, Sumatera Selatan (Sumsel), tega menyiram air keras ke sekujur tubuh istrinya hingga luka bakar parah. Tim Satuan Reserse dan Kriminal Polres Prabumulih, akhirnya menangkap pelaku.

Pelaku Evan Zaputra (25), warga Kelurahan Cambai, Kecamatan Cambai, Kota Prabumulih, mengaku tega menyiram air keras ke istrinya M (17), karena kesal. Saat dia datang ke rumah sang istri untuk melampiaskan hasrat seksualnya, istri tak pernah ada di rumah.

Pelaku lalu berencana untuk menyiramkan air keras ke tubuh istri keduanya. Senin, 11 Maret 2019, pelaku kembali mendatangi rumah korban yang saat itu di rumah. Pelaku lalu bertanya kepada korban, tapi tidak dijawab.

Pelaku langsung menyiramkan sebotol air keras yang sudah dia siapkan ke sekujur tubuh korban. Setelah itu, pelaku kabur. Polisi yang mendapatkan laporan, langsung mengejar pelaku yang sudah lari keluar kota.

“Pelaku hadir ke rumah korban hanya untuk memenuhi hasrat seksualnya, tapi sering tidak ada di rumah. Pelaku datang lagi ke rumah korban dan korban yang sedang tidur disiram dengan air keras,” kata Kasat Reskrim Polres Prabumulih AKP Abdul Rahman, Rabu, 13 Maret 2019.

 

Abdul Rahman mengatakan, pelaku sudah merencanakan perbuatannya kepada sang istri. Dia telah mempersiapkan sebotol air keras dari rumahnya sebelum menemui korban.

“Korban mengalami luka bakar dari leher sampai paha. Ini menjadi atensi kami karena baru kali ini ada kejadian penyiraman air keras seperti ini. Memang pelaku sudah meniatkannya,” katanya.

Kasat Reskrim mengatakan, dari tempat kejadian perkara (TKP), polisi juga mengamankan barang bukti air keras yang digunakan pelaku beserta pakaian yang digunakan korban saat disiram air keras oleh suaminya.

Sadis!! Dua Pria Ini Ditemukan Tewas Terbakar dengan Terikat Kedua Kaki dan Tangannya, Ini Pelakunya

Atas perbuatan, pelaku diancam dengan Undang-Undang Nomor 35 tahun 2003 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) Junto Pasal 351 KUHPidana tentang Penganiayaan.

Atas perbuatan, pelaku diancam dengan Undang-Undang Nomor 35 tahun 2003 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) Junto Pasal 351 KUHPidana tentang Penganiayaan.

Sementara itu pelaku mengaku kesal kepada istrinya karena sering tidak ada di rumah. Kekesalannya memuncak saat dia menemui istrinya, tapi tidak menjawab pertanyaannya.

“Saya kesal karena dia enggak jawab waktu saya tanya, saya siram dengan air keras yang sudah saya bawa dari rumah,” kata Evan Zaputra.
(***)

sumber: inews.id

MEDIAKEPRI.CO.ID, Pekanbaru – Sambil membawa parang dan jeriken berisi bensin, Margono (44) mengamuk di kantor BNI, Dumai, Riau. Margono memecahkan kaca dan mengancam nasabah.

“Polres Dumai melakukan olah tempat kejadian perkara, informasi yang kami dapat ada seseorang bawa jeriken sama parang masuk ke bank BNI, memecahkan kaca, mengancam nasabah,” kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karo Penmas) Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo kepada wartawan di Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin, 11 Maret 2019.

Siapa Sangka, Zulkifli Pelantun Lagu “Aishiteru” Ini Terancam Hukuman Mati

Polisi kemudian bergerak setelah mendapat laporan dari warga. Di lokasi, pelaku diminta menyerah namun menolak.

“Sehingga dilakukan (tindakan) secara tegas terukur, melumpuhkan orang tersebut. Saat ini tersangka sedang di dalam perawatan RS setempat. TKP dilakukan pengolahan oleh Satreskrim. Saat ini belum disimpulkan apakah itu perampokan ataupun pidana lainnya,” papar Dedi.

Kejadian ini disebut Dedi terjadi sekitar pukul 10.00 WIB. Belum diketahui motif pelaku yang mengamuk.

Setelah Gorok Leher Istrinya, Pria Ini Belah Perut dan Mengambil Bayi yang Dikandung, Ini Kronologi Lengkapnya

Sementara Kapolres Dumai, AKBP Restika Nainggolan saat dimintai konfirmasi terpisah menyebut Margono lebih dulu ke SPBU mengisi bensin motor sebelum mengamuk di kantor BNI Dumai.

Setelah tangki motor terisi bensin, pelaku menolak membayar saat diminta petugas SPBU. Pelaku menurut Restika juga mengancam petugas SPBU dengan parang

“Karena diancam, akhirnya petugas SPBU tak berani, pelaku pun pergi begitu saja,” kata Restika. (***)

sumber: detik.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Blora – Kantor kas BKK Purwokerto cabang Sumbang di Jalan Raya Desa Kebanggan, Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, disatroni kawanan perampok bersenjata tajam. Dua perampok menyekap petugas penjaga malam hingga terluka dan merampas uang Rp50.000 milik penjaga malam.

Dua pelaku perampok bersenjata pisau menyatroni kantor kas BKK Purwokerto Selatan cabang Sumbang, Jumat, 8 Maret dini hari.

Perampok melumpuhkan petugas jaga malam bernama Pramono dengan cara mengancam dan menyekap serta melukai penjaga malam dengan pisau di bagian bibir atas.

Meski dengan alat Seadanya, Satgas TMMD dan Warga Tak Kendor Semangatnya

Namun dua perampok tidak menemukan uang sepeser pun karena kantor kas BKK Purwokerto Selatan cabang Sumbang tidak menyimpan uang kontan dan hanya untuk menyimpan berkas para nasabah. Kedua perampok pun merampas uang Rp50.000 milik penjaga malam yang disekap di ruang belakang.

Aksi pembobolan BKK Purwokerto baru diketahui pada pagi hari, setelah anak penjaga malam curiga. Sebab sampai pukul 7.00 WIB, ayahnya yang bertugas jaga malam belum keluar dan pintu gerbang masih dikunci.

Anak penjaga malam kemudian masuk melompat pagar dan mencari ayahnya di ruang belakang BKK. Dia didapati ayahnya dalam kondisi disekap bagian mulut dilakban dan tangan diikat. Kejadian tersebut kemudian dilaporkan ke Polsek Sumbang.

Petugas Polsek Sumbang mendatangi tempat kejadian perkara (TKP) dan menghubungi Tim Inafis Polres Banyumas untuk olah (TKP). Kasus tersebut ditangani Satreskrim Polres Banyumas guna penyelidikan dan pengejaran pelaku. (***)

sumber: sindonews.com

KRIMINALITAS

Senin | 04 Maret 2019

Lagi Santai Berjalan, Pria Ini Tewas Ditikam

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Seorang pria tewas usai ditusuk oleh orang tak dikenal di kawasan Kebon Jeruk, Jakata Barat pada Ahad, 3 Maret 2019 malam.

Kapolsek Kebon Jeruk Kompol Eric Ekananta Sitepu mengatakan, awalnya korban diadang oleh pelaku yang meminta barang berharga milik korban.

Saat kejadian korban sedang berjalan kali bersama seorang temannya itu. Eric belum bisa merinci bagian tubuh korban mana yang mengalami luka sehingga menyebabkan korban meninggal dunia.

Sesosok Mayat Pria Ditemukan di Rumah Kosong, Siapakah Dia?

“Kejadiannya tadi malam, korban sedang jalan kaki bersama temannya. Kemudian pelaku datang menodongkan sajam dan meminta barang milik korban,” ucapnya

Terkait barang berharga miliki korban yang dibawa pelaku, Eric menyatakan saat ini pihaknya masih melakukan penyelidikan termasuk untuk mendalami motif kejadian tersebut.

Telah Ditemukan Mayat Terbungkus Kain Sprei di Dalam Tong Plastik, Siapakah Dia?

Saat ini sudah ada beberapa saksi yang telah dimintai keterangan.

“Ada beberapa barang. Sedang kita mintai keterangan saksi,” tutupnya. (***)

sumber: kumparan.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Palembang – Anggota Subdit III Jatanras Polda Sumatera Selatan Briptu Agus (26), mengalami luka tusuk akibat senjata tajam (sajam) saat mengejar pelaku kriminal.

Diketahui Briptu Agus anggota Jatanras Polda Sumsel ini dikeroyok preman saat mengejar DPO pelaku pembunuhan di kawasan Tangga Buntung Jalan Pangeran Sido Ing Lautan Lorong Manggis Kelurahan 36 Ilir Kecamatan Gandus Palembang Sabtu, 23 Februari 2019 sore.

”Salut dengan Tentara yang Selalu Dekat dengan Masyarakat”

Dari informasi dihimpun, pelaku penusukan diduga lebih dari lima orang. Ketika itu pelaku baru mengetahui bahwa Briptu Agus merupakan anggota polisi.

“Anggota Sabtu sore melakukan penyelidikan terhadap pelaku pembunuhan pada tahun 2018 korbannya meninggal dunia. Saat berpapasan itu si pelaku ini curiga dan langsung kabur,” kata Direktur Reskrimum Polda Sumsel, Kombes Yustan Alpiani di IGD RS Bhayangkara Palembang, Sabtu, 23 Februari 2019 malam.

Yustan mengatakan, saat itu pelaku lari dan langsung dikejar oleh Briptu Agus. Saat mengejar pelaku, anggota terjebak di kerumunan preman yang sedang berkumpul.

Astaghfirullah.. Pasangan Sejoli Ini Tertangkap Lagi Wik Wik Diatap Masjid

“Saat mengejar dan berada di tempat mereka berkumpul pelaku langsung teriak dan Briptu Agus dikeroyok. Sekitar 15-20 orang pelakunya dan tiga pelaku melakukan penusukan dengan senjata tajam pisau,” ujarnya.

Meski dalam kondisi luka tusuk di punggung Briptu Agus berusaha menyelamatkan diri.

Kemudian Briptu Agus diselamatkan oleh anggota lain yang ikut memantau penangkapan pelaku dari kejauhan.

“Teman Briptu Agus yang datang ke TKP langsung membawa Agus ke rumah sakit Bhayangkara. Ada tiga luka tusuk di punggung Briptu Agus dan kondisinya saat ini sudah membaik dan dalam perawatan,” katanya.

Saat ini baru empat pelaku yang berhasil ditangkap.

Satu ditembak karena melakukan perlawanan (ditembak) saat ditangkap. Sisanya masih dikejar.

Keempat pelaku adalah Heriyadi, Khoiri dan Ajit. Sementara satu pelaku lain yakni Agung, yang tidak lain adalah pelaku penusukan tahun 2018 lalu dan menyebabkan korban, Refi Saputra meninggal dunia.(***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Palembang – Harismail (25), pria yang dipaksa mengaku sebagai pelaku pemerkosa bidan desa YL harus terbujur lemah di kamar rumah sakit RS Bhayangkara, Palembang Sabtu, 23 Februari 2019.

Saat itu Harismail ditemukan warga di Kecamatan Rambutan, sudah tergeletak dengan mata tertutup lakban dan penuh luka di sekujur tubuh.

 

Harismail belum bisa membuka matanya akibat mengalami luka lebam di wajahnya.

Bapak satu anak tersebut menceritakan dengan pelan bagaimana kasus yang menimpanya pertama Kali.

Kronologi

Harismail menceritakan kronologi awal mula dirinya yang tiba-tiba saja dipaksa untuk masuk ke dalam sebuah mobil orang tak dikenal.

“Saya habis beli rokok, waktu mau pulang dicegat di depan rumah teman saya. Saya lagi di sana. Di masukan ke dalam mobil,” ungkapnya menceritakan kejadian dirinya ditangkap.

Dalam perjalanan tersebut, dirinya dipaksa mengaku sebagai pelaku pemerkosa bidan YL.

Harismail yang biasa dipanggil Ujang atau Hari berusaha membantah setiap tuduhan terhadap dirinya.

Dipaksa Mengaku

Berbagai siksaan datang saat dirinya membantah setiap pertanyaan.

“Dipaksa ngaku aku. Aku bantah, jawab tidak. Ada sekitar sejaman lebih saya di dalam mobil tangan diborgol jelasnya lemas,” ungkapnya.

Keluarga Hari baru mengetahui kejadian sehari setelah korban dibawa pergi orang tidak dikenal.

Informasi tersebut didapat dari Kepala Desa, Kamal, Kecamatan Pumulutan Barat.

“Uji kades tobok (aku) ke Palembang. Bujang tobok di RS Bhayangkara sekarang, masuk rumah sakit,” ungkap ibu korban Hasanah (60) menirukan omongan kades.

Alami Luka Lebam

Dia mengaku lemas mengetahui anaknya menderita luka lebam di sekujur tubuh.

Tangan, kaki, dan wajah serta mata yang mengeluarkan darah.

Pergelangan tangan kiri dan kanan Haris pun mengalami luka seperti bekas jeratan.

“Babak belur Haris dipukulin. Saya enggak tau siapa yang mukulin, saya hanya minta kasus ini diusut.

Pengakuan Saksi

Salah seorang saksi mata, yang merupakan teman korban Krisna Murdani (25) melihat bagaimana korban dibawa secara paksa.

Dua tembakan ke udara dan satu tembakan ke tanah membuat geger warga.

Pasalnya, saat ditangkap Krisna menyaksikan teman satu profesinya tersebut dibawa polisi.

Saat ditangkap, 2 mobil dan 3 motor menjemput paksa korban Haris.

“Ada dua mobil. Innova warna telur bebek sama Avanza putih. Sisanya naik motor. Yang menyetop hari 2 orang naik motor RX King. Lalu dia dimasukan ke mobil. Motor saya yang lagi dibawa sama Hari juga dibawa pergi.”

“Saya tanya mau dibawa kemana. Dijawab, ke Polda. Karena kami baru saja pulang dari mengangkut batu dari Gasing,” ujarnya.

Haris sempat meminjam motor milik Krisna untuk membeli rokok.

Keduanya baru saja makan-makan di rumah Krisna. Kedua teman tersebut, belum lama pulang mengantar batu split dari Gasing ke proyek Tol Kayuagung.

“Kami beduo gawe ngangkut Batu, kami nih supirnyo. Dari hari sabtu, 16 Februari 2019 kami di Kayuagung. Balek itu Kamis, 21 Februari 2019, baru istirahat kejadian dio dibawak. Tangan diborgol dimasuke dalam Mobil.”

“Karena kejadian itu, motor aku jugo dibawak. Motor Revo BG 5719 JY,” ujarnya.

Pihak keluarga hingga saat ini masih menunggu itikat baik pihak yang terlibat penculikan terhadap Haris.

“Kami ingin pihak yang terlibat bertanggung jawab. Tolong diobati, kami dak bakal nuntut secara hukum. Kalau ada itikad baik. Kami sudah lapor ke Polda informasi awal diculik wong,” ungkapnya.

Bidan YL Mengaku Diperkosa

Seperti diberitakan sebelumnya, dugaan pemerkosaan disertai perampokan menimpa seorang Bidan Desa (Bides) Desa Simpang Pelabuhan Dalam Kecamatan Pemulutan Kabupaten Ogan Ilir (OI) berinisial Yl (27).

Peristiwa terjadi Selasa, 19 Februari 2019 sekitar pukul 00.30 dini hari, berlangsung di kamar korban Yl yang tinggal di kantor Puskesdes, Desa Simpang Pelabuhan Dalam.

Korban yang ditinggal suaminya pergi keluar daerah tersebut, tidak bisa berbuat banyak, tanpa bisa melakukan perlawanan.

Menurut Zainal, orang pertama yang ditemui korban, usai kejadian mengatakan, bahwa korban mengaku baru saja diperkosa dan dirampok oleh pelaku yang belum diketahui identitasnya itu.

Lalu Zainal menghubungi Kades Simpang Pelabuhan Dalam Nurdin Abdullah, kemudian keduanya mendatangi lokasi TKP, baru selanjutnya dilaporkan ke Polsek Pemulutan.

“Semalam ramai disini, petugas dari Polsek Pemulutan sudah melakukan olah TKP,’’ kata Kades Nurdin Selas, 19 Februari 2019.

Dari keterangan korban Yl kepada Kades, bahwa pelaku yang belum diketahui berapa jumlahnya, karena situasi gelap didalam rumah, pelaku masuk ke kamar tidurnya, dan membekap muka korban dengan bantal, lalu melilit leher korban dengan kain.

“Nah kemungkinan saat itulah korban diperkosa,’’ ujar kades yang mengaku korban Yl sempat shock dan pingsan akibat kejadian tersebut.

Korban sempat dirawat di RS Muhammadiyah Palembang.

“Kami mengantarkannya ke RS Muhammadiyah, karena selain diduga diperkosa, muka korban lembab akibat dipukul oleh pelaku, korban juga kehilangan uang Rp 500 ribu dan sebuah ponsel,’’ ujar Kades Simpang Pelabuhan Dalam Pemulutan.

Kapolres OI AKBP Ghazali Ahmad melalui Kasat Reskrim AKP Malik Fahrin membenarkan adanya seorang Bides di Simpang Pelabuhan Dalam menjadi dugaan korban pemerkosaan dan perampokan.

“Kasus ini dilaporkan ke Polsek Pemulutan, namun akan kami back-up,’’ kata AKP Malik Fahrin.

Tim Labfor Ungkap Tidak Ada Bukti Diperkosa

Dalam penyelidikan lanjutan, polisi tidak menemukan adanya pemerkosaan dalam kasus bidan desa YL.

Kalabforcab Palembang, Kombes Pol I Nyoman Sukena. SIK membenarkan pernyataan Kapolda Sumsel mengenai tidak ditemukannya bukti ilmiah hasil olah TKP Tim Forensik.

Menurutnya, dari hasil yang ada saat ini dari bukti-bukti yang sudah dikumpulkan tidak diketemukan petunjuk yang mengarah pada kasus pemerkosaan.

“Sampai saat ini kita sudah melakukan olah TKP mencari alat bukti yang diperlukan. Seperti sperma atau bulu kemaluan, tapi tidak ditemukan. Hal itu penting untuk membuktikan secara sciencetifik,” ujarnya.

Dikatakan, pemeriksaan lain juga dilakukan untuk melihat sidik jari yang tertinggal. Apa lagi dari informasi yang didapat, korban mengaku didatangi lima orang.

“Kalau dari informasi ada orang Lima, namun hasil penyelidikan di pintu tidak ditemukan jejak sidik jari, dan bekas tempelan jejak kaki di rumah. Dari sprei juga tidak ditemukan bekas sperma,” ujar Kalabfor.

Kapolda Sumsel, Irjen Pol Zulkarnain Adimegara menerima hasil labfor mengenai kasus pemerkosaan Bidan YL (27) yang bertugas di Pumulutan, Ogan Ilir.

Dari hasil penyelidikan tim labfor didapatkan fakta berbeda, jika sebelumnya korban mengaku diperkosa, hasil labfor tidak menunjukan adanya tanda-tanda korban diperkosa.

Hal tersebut didapat dari hasil pemeriksaan ilmiah di TKP.

“Tim forensik mengungkap, kami membangun asumsi melalui fakta peristiwa. Semua itu dibuktikan dengan fakta ilmiah. Tim sempat berdebat, karena dari puskesmas membawa sampel sperma, tim labfor mengatakan bukan,”

“Termasuk di kasur diperiksa tanda-tanda sperma yang tertinggal atau pun bulu-bulu halus,” ujarnya saat ditemui di Polda Sumsel, Jumat, 22 Februari 2019.

Selain itu tim juga memeriksa tempat praktek dan tempat tinggal sang bidan desa, yang dari pengakuannya diperkosa ketika malam hari.

“Saat kejadian terjadi hujan lebat. Kami tidak menemukan jejak kaki, seharusnya jika ada yang masuk akan meninggalkan jejak. Dari sidik jari pun tidak ditemukan,” jelasnya.

Hingga saat ini pihak kepolisian, terus menunggu hasil visum terhadap korban.

Kapolda juga enggan mengatakan jika korban tidak diperkosa.

“Kami tidak berasumsi jika dia tidak diperkosa. Semuanya dibuktikan secara Ilmiah, seperti pemerkosaan dan pembunuhan mahasiswi di Gelumbang kemarin hasil labfor terbukti ditemukan sperma. Jadi hingga sekarang kami menunggu hasil visum korban,” ungkapnya.

Tim dari Polda Sumsel Langsung Cek Kondisi Harismail

Tim dari Polda Sumsel mengecek kondisi Harismail (25) di RS Bhayangkara Palembang, Sabtu, 23 Februari 2019.

Hal itu diungkapkan Junaidi, kakak kandung Harismail (25).

Junaidi yang menerima langsung Tim dari Polda Sumsel.
x
Harismail sendiri sampai saat ini masih terbaring lemah di ruang rawat inap rumah Sakit Bhayangkara Palembang.

Menurut pengakuan Junaidi, pihak kepolisian datang memastikan kondisi kesehatan adiknya Harismail.

“Tadi ada polisi datang menanyakan kondisi adik saya. Ada dua polisi yang datang,” ujarnya.

Tidak berselang lama Tim dari Propam Polda Sumsel datang menjenguk korban guna memastikan kebenaran kejadian yang menimpa Harismail.

“Yang kedua dari Propam Polda Sumsel sudah datang. Mereka berjanji akan mencari tahu terlebih dahulu,” ujarnya. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Bengkulu – Erni Susanti (31), seorang ibu yang sedang hamil tua tewas setelah dibunuh oleh suaminya sendiri, Romi Sepriawan Kamis 21, Februari 2019 di Kota Bengkulu.

Sebelum tewas dengan luka di leher dan perut, Erni ternyata sempat mengungkapkan permintaan terakhir kepada suaminya.

Permintaan terakhir Erni terungkap dari pengakuan Romi yang banyak beredar di media sosial.

Romi mengaku sang istri sempat memintanya untuk menyelamatkan janin buah hati mereka.

Awalnya, Romi mengaku membunuh sang istri yang sedang hamil tua menggunakan parang.

“Pakai parang,” katanya.

Parang tersebut ia pinjam dari tetangganya dengan alasan hendak memotong buah kelapa.

Dimintai keterangan, Romi mengaku bahwa dirinya melukai istrinya pada bagian leher.

Meski dilukai dengan senjata tajam oleh Romi, Erni ternyata masih sempat sadarkan diri.

Saat itulah ia melontarkan permintaannya agar Romi menyelamatkan anak yang sedang dikandungnya.

“Terus dia kode anak katanya,” uca Romi menceritakan permintaan Erni.

“Saya ambil anaknya (dari dalam perut),” jelas Romi.

Berita yang beredar di media sosial, Romi mengambil anak di dalam kandungan Erni dengan cara membelah perut Erni.

Namun terkait kebenaran kabar tersebut, pihak kepolisian setempat masih belum memberikan penjelasan lebih lanjut, lantaran masih melakukan penyelidikan.

Diketahui, seusai membunuh Erni, Romi berteriak meminta pertolongan pada tetangga dan juga kakaknya.

Romi mendatangi rumah salah satu warga dengan kondisi berlumuran darah.

Melihat kondisi Romi itu, warga langsung memanggil ketua RT dan juga pihak kepolisian.

Menyerahkan diri ke polisi saat korban dievakuasi, Romi mengakui perbuatannya itu kepada polisi.

Saat Romi mengakui perbuatannya, ratusan warga yang ada di sekitar lokasi sempat ingin menghakiminya.

Namun polisi dengan sigap mengamankan Romi.

Dalam pengakuannya pada kepolisian, Romi mengaku melukai leher dan juga perut sang istri.

“Saya melakukannya karena khilaf, kami cekcok perkara ponsel, dia seperti merahasiakan sesuatu,” jelas Romi di Mapolres Bengkulu Jumat, 22 Februari 2019.

“Pelaku sudah diamankan ke Polres Bengkulu,” ujar Kapolsek Teluk Segara Kompol Jauhari, Jumat, 22 Februari 2019.

Diketahui, Erni adalah ibu beranak tiga yang bekerja sebagai pedagang.

Pengakuan Romi Tega Bunuh Istrinya yang sedang Hamil

Romi diamankan pihak terkait setelah Erni ditemukan tewas.

Dalam keterangan video yang beredar itu, diketahui bahwa kejadian pembunuhan tersebut terjadi pada Kamis, 21 Februari 2019, sekitar pukul 13.30 WIB.

Dalam pengakuannya, Romi mengaku menghabisi nyawa istrinya itu lantaran emosi tak kunjung diberi tahu kode handphone sang istri.

“Sekitar 4 bulanan pak, masalahnya itu HP, jadi di HP dia itu seperti menyimpan sesuatu, kan pakai kode kan,” kata Romi, seperti yang dikutip dari tayangan akun Facebook Yuni Rusmini.

Berkali-kali ditanya oleh suaminya, korban diiketahui enggan memberikan kode handphonenya pada Romi.

“Terus saya bilang, jujur aja, saya terima, jujur, terus, dia jawab enggak ada apa-apa cuma dia ngotot-ngotot terus,” kata Romi menjelaskan percakapannya dengan sang istri.

Meskipun korban menegaskan tidak ada hal lain di handphone miliknya, Romi mengaku tetap tidak percaya.

“Cuma kata saya enggak mungkin (percaya) HP ini soalnya ini HP dia kunci dia masa dia enggak tahu ya kan di setel di HP,” jelas Romi lagi Kamis, 21 Februari 2019.

“Saya tanya apa dia kata enggak ada apa-apa tapi kok bisa ada (kode) sendiri enggak mungkin kata saya kan.”

Ia juga mengatakan bahwa istrinya sempat marah saat ia bertanya mengenai kode handphone.

“Terus lama-lama saya tanya, dia balik ngotot, kadang saya diam kadang saya keluar kadang ribut kami,” jelasnya.

Mengaku sudah bertengkar dengan sang istri selama 4 bulan, Romi mengaku tetap berusaha untuk mengalah.

Ia mengaku lebih memilih keluar rumah saat terlibat pertengkaran dengan istrinya yang sedang hamil itu.

“Pokoknya sudah empat bulanan kayak gitu, tapi kejadiannya seperti tadi pagi, aku ribut, aku keluar gitu sama kakak ini, sudah itu bagus lagi gitu kan,” kata Romi.

Meskipun pertengkaran keduanya mulai membaik, namun Romi menilai bahwa sang istri kerap memancing permasalahan kembali.

“Dia itu sering jawab itu seperti mancing terus tapi ya aku lah yang salah ya,” jelas Romi.

Bertengkar selama 4 bulan lamanya, emosi Romi kemudian memuncak sampai berujung dirinya tega membunuh Erni, istrinya.

Romi mengaku emosi lantaran tidak didengarkan saat sedang berbicara.

“Susah ngomongnya om, pas saya ajak ngobrol baik-baik dia tinggalin saya ke kamar,” terang Romi.

“Padahal maksud saya mau tanya kan, terus masalah seperti itu kami tidak ada masalah lain,” katanya.

Romi mengaku istrinya itu enggan memberikan kesempatan pada Romi untuk memberikan penjelasan sedikitpun.

“Di setiap saya ngajak ngobrol dia masuk ke kamar, enggak pernah apa jelaskan enggak ada apa-apa itu kata dia,” tutur Romi.

“Atau tunggu saya dulu biar saya ngomel sedikit, enggak dia langsung tinggalin, kadang dia yang marah itulah puncaknya tadi om,” kata Romi menjelaskan.

Romi Bunuh Istrinya dengan Parang Pinjaman

Disebutkan bahwa parang yang digunakan oleh Romi untuk membunuh sang istri, dipinjam dari tetangga dengan alaan untuk membuka kelapa.

Setelahnya, Romi langsung menyembunyikan parang tersebut di dalam kamarnya di balik selimut di kamar tempat korban tidur.

Korban yang awalnya tertidur di kamar kembali terlibat cekcok dengan Romi setelah bangun.

Saat itulah Romi menghabisi nyawa istrinya dengan parang yang ia sembunyikan.

“Berawal dari pelaku marah kepada korban karna tidak diperbolehkan melihat handphone korban, setelah itu terjadilah cekcok,

dan kemudian pelaku keluar rumah setelah itu kembali lagi meminjam parang milik tetangga dengan alasan ingin membuka kelapa, setelah meminjam parang ke tetangga nya,

Pelaku masuk ke dalam rumah lagi dan masuk kedalam kamar menaruh parang tersebut di atas kasur dengan ditutupi selimut dalam posisi korban tertidur,

Melihat pelaku masuk membuka pintu kamar korban terbangun setelah itu terjadi cekcok lagi antara korban dan pelaku, setelah itu pelaku langsung mengambil parang yang di tarok di balik selimut dan langsung menebas leher korban dalam posisi korban sedang tiduran di atas kasur. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Kalimantan – Rahmawati (23), ibu rumah tangga warga Belimbing, kota Bontang, Kalimantan Timur, dibekuk polisi di rumahnya kemarin. Dia diduga mencuri perhiasan senilai Rp 30 juta, dengan modus pura-pura bertamu di perumahan, yang masih tetangganya di Bontang.

Aksi pencurian itu terjadi Rabu, 13 Februari 2019 siang.

Rahmawati berkeliling perumahan mencari rumah sasaran, hingga tiba di kawasan perumahan perusahaan di Bontang, dan pura-pura bertamu.

Apalah Ya Pemuda Ini, Masa Karna Dipecat Malah Ngrampok

Tidak ada sahutan dari dalam rumah, Rahmawati nekat masuk ke dalam rumah. Kebetulan, di dalam rumah, Nurdi (52) sedang beristirahat sejenak dari kerjaannya.

“Korban (Nurdi) ini sedang tidur, kemudian terbangun. Dia melihat ada wanita yang dia kira anaknya, sedang berdandan. Ternyata, wanita itu bukan putrinya,” kata Kasubbag Humas Polres Bontang, Iptu Suyono, kepada wartawan di Bontang, Rabu, 20 Februari 2019.

Tragis Ya, Niatnya Beri Makan Hewan Peliharaannya, Naas Wanita Ini Terjatuh ke Kandang dan Dimakan Hidup-hidup

Wanita tak dikenal itupun diusir keluar rumah, dan Nurdi pun kembali bekerja ke kantornya, setelah mengunci semua pintu dan jendela rumah. “Dia (Nurdi) kemudian kontak istrinya, bilang ada wanita masuk rumah tanpa izin,” ujar Suyono.

“Istrinya kemudian pulang ke rumah, dan mengecek semua perhiasan di tempat penyimpanan, ternyata enggak ada. Diduga dibawa wanita yang masuk tanpa izin itu, dan akhirnya lapor ke kantor kehilangan 4 gelang dan 3 cincin emas, dengan kerugian Rp 30 juta,” tambah Suyono.

Penjual Sayur Keliling Yang Bakal Menanggung Keuntungan Pasca TMMD

Menindaklanjuti laporan itu, polisi mendapatkan titik terang pelaku, melalui rekaman CCTV perumahan. “Terduga pelaku, kita identifikasi juga sebagai warga Belimbing. Setelah kita pastikan, akhirnya dia (Rahmawati) ini kita amankan ke kantor,” terang Suyono.

Di hadapan polisi, Rahmawati, mengakui perbuatannya, dan ditetapkan sebagai tersangka. “Dia mengaku karena terdesak bayar utang arisan online. Penyidik menerapkan pasal 363 KUHP tentang Pencurian disertai pemberatan,” demikian Suyono. (***)

sumber: merdeka.com

KRIMINALITAS

Selasa | 19 Februari 2019

Ini Alasan Ratno Tikam Istrinya hingga Tewas di Hotel

MEDIAKEPRI.CO.ID, Palembang – Ratno Afriadi (35) pelaku pembunuhan terhadap istrinya sendiri bernama Cinta Amela (37) melakukan rekonstruksi kejadian di Polsek Ilir Barat (IB) 1 Palembang, Sumatera Selatan, Selasa, 19 Februari 2019.

Dalam proses rekonstruksi tersebut, pelaku memeragakan 45 adegan.

Dalam reka adegan kejadian yang berlangsung pada 18 Januari 2018 tersebut, Ratno dan Cinta sebelumnya sempat memesan kamar hotel di kawasan Cinde Palembang.

Di sana, keduanya tidur bersama.

Namun, Ratno mendadak naik pitam saat memergoki Cinta mengangkat telepon dari pria lain.

“Istri saya langsung ke kamar mandi, saya cek di ponselnya ternyata telepon dari pria lain. Saya langsung emosi,” kata Ratno saat memperagakan reka adegan tersebut.

Ratno yang tak dapat lagi memebendung emosi, langsung menganiaya istrinya menggunakan obeng hingga korban tewas.

Setelah memastikan Cinta tak lagi bernyawa, tubuh korban langsung ditutup menggunakan seprai hotel dan pelaku melarikan diri ke Kabupaten Ogan Ilir hingga akhirnya tertangkap pada 23 Januari 2019 kemarin.

“Kami memang sering cekcok karena istri saya sering kedapatan selingkuh dengan pria lain. Saya sadar saat membunuhnya,”ujar pelaku.

Kapolsek Ilir Barat 1 Kompol Masnoni mengatakan, dari hasil pemeriksaan, motif pembunuhan tersebut memang dilatarbelakangi cemburu dari pelaku terhadap korban.

Pelaku sendiri, menurut Masnoni, sempat buron selama satu tahun usai kejadian tersebut.

“Korban diduga selingkuh, sehingga pelaku nekat membunuhnya. Pelaku sudah merencanakan aksi pembunuhan itu,” jelas Kapolsek.

Atas perbuatannya, Ratno pun dikenakan pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana dengan ancaman hukuman 20 tahun penjara dan maksimal hukuman mati. (***)

sumber: tribunnews.com

KRIMINALITAS

Senin | 18 Februari 2019

Apalah Ya Pemuda Ini, Masa Karna Dipecat Malah Ngrampok

MEDIAKEPRI.CO.ID, Surabaya – Wahyu Kurniyanto, terbilang nekat dalam aksi pencuriannya. Sebab tidak hanya uang melainkan juga mengambil kulkas di tempat kerjanya yang ada di Jl Simpang Darmo Permai Utara Surabaya.

Meskipun berhasil menggondol barang curian, pemuda 20 tahun dan tinggal di Jalan Tengger Rejo Mulyo 3, Kandangan Kecamatan Benowo Surabaya berhasil dibekuk Anggota Reskrim Polsek Lakarsantri.

“Hasil curiannya belum sempat terjual, tapi untuk uangnya sudah habis,” kata Kapolsek Lakarsantri Kompol Dwi Heri Sukiswanto, Senin, 18 Februari 2019.

Awalnya polisi sempat kesulitan dalam kasus tersebut. Namun, atas ketekunan penyelidikan dan mengumpulkan keterangan saksi di lokasi kejadian.

Anggota Reskrim Polsek Lakarsantri mendapatkan informasi bahwa pelaku adalah mantan orang dalam sendiri. Sehingga waktu anggota melihat yang bersangkutan lewat dijalan Raya Tengger Kandangan langsung dilakukan penangkapan.

Dari penangkapan itu, anggota menggelandangnya menuju Mapolsek untuk dilakukan penyidikan lebih lanjut. “Ternyata pelaku melakukannya karena sakit hati terhadap majikannya yang telah memecat dengan alasan kerap telat dan kalau bekerja semaunya sendiri,” lanjutnya.

Sementara Wahyu sendiri mengakui dalam aksinya tersebut, hingga kini dirinya menginap di hotel prodeo Mapolsek Lakarsantri, Surabaya. Sebab polisi menjerat dengan Pasal 363 KUHP tentang pencurian dengan pemberatan. (***)

sumber: inilah.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Ponorogo – Ismijati (47), perempuan yang diduga melakukan bunuh diri rupanya tewas di tangan sang suami. Luka menganga di bagian leher membuat polisi curiga dengan kematian warga Jalan MT Haryono, Kecamatan Ponorogo.

Apalagi di dekat tubuh korban ditemukan gurinda yang masih menyala, Kamis, 14 Februari 2019 Polres Ponorogo akhirnya memperluas olah TKP dan menemukan kaus yang terdapat bercak darah di belakang rumah.

Seorang saksi sekaligus adik korban, Musriah (45) mengatakan dirinya menemukan kakaknya dalam posisi sudah tidak bernyawa di dalam kamarnya.

“Saya tahu pukul 08.00 WIB, di dalam kamar itu. Darahnya banyak, mesin gerinda masih nyala akhirnya sama anaknya dimatikan mesinnya,” tutur Musriah saat ditemui detikcom di lokasi, Kamis, 14 Februari 2019

Polisi menduga, ibu rumah tangga itu bunuh diri karena motif ekonomi. Suami Ismijati disebut jarang pulang dan meninggalkan banyak utang.

“Sang suami Edi Purwanto jarang pulang dan tidak memberikan nafkah. Bahkan anak bungsunya yang kini duduk di kelas 1 SMA sudah beberapa bulan terakhir belum membayar uang sekolah,” ujar Kapolsek Kota AKP Lilik Sulastri kepada detikcom saat ditemui di lokasi.

Namun Ismijati rupanya dibunuh. Pelakunya tidak lain suaminya, Edi. Dia ditangkap polisi di rumah istri keduanya, di Kendal, Jawa Tengah. Karena sempat ada perlawanan saat ditangkap pelaku ditembak kakinya.

“Nggak tahu ada setan apa tahu-tahu kok kejadiannya begitu. Saya tidak membunuh tapi secara tidak sengaja itu, rebutan gerinda. Dia yang megang sendiri gerindanya saya halangi tetap kena ke lehernya,” tutur Edi saat ditemui detikcom di RS Aisyiyah untuk perawatan luka tembak, Ahad, 17 Februari 2019.

Edi kemudian menceritakan detik-detik gurinda menggores leher sang istri. Kala itu ia juga memukul korban 3 kali lantaran kesal.

“Awalnya cek cok, saya sering diomeli karena tidak bawa uang. Padahal sudah saya kasih, sedikit, terus ngomel-ngomel,” tutur Edi.

Menurut Edi, dirinya tidak berniat membunuh istrinya. Pagi itu, dirinya pulang ke rumah dan terjadi cekcok. Penyebabnya, tunggakan sekolah anaknya selama 5 bulan dan cicilan sepeda motor. (***)

sumber: detik.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Blitar – Nardi (33), warga Dusun Sumbermanggis, Desa Sumberurip, Kecamatan Doko, Kabupaten Blitar, tega menghabisi nyawa istrinya, Sri Dewi (25).

Nardi menusuk istrinya menggunakan pisau dapur.

Istrinya tewas bersimbah darah di lokasi.

Duel Sengit, Macan Ibu Kota Ingin Bayar Kekecewaan

Anak pasangan suami istri itu yang masih berusia tujuh bulan juga ikut tewas.

Saat peristiwa penganiayaan terjadi, istrinya sedang menggendong anaknya yang masih bayi.

Peristiwa yang menggegerkan warga Dusun Sumbermanggis itu terjadi Sabtu, 16 Februari 2019 malam.

Pasangan suami istri itu sempat cekcok mulut terlebih dahulu.

Malang Benar Nasib Bocah di Panti Asuhan Ini, Diduga Karna Takut, Tubuhnya Tewas Terpanggang di Dalam Lemari

Warga sempat melerai pasangan suami istri itu. Tapi, tak lama kemudian pasangan suami istri itu kembali bertengkar.

“Saat kejadian, di sini hujan deras. Warga sudah berusaha melerai, tapi keduanya tetap bertengkar,” kata Ketua RT 5 RW 4 Dusun Sumbermanggis, Desa Sumberurip, Kecamatan Doko, Kabupaten Blitar, Ahad, 17 Februari 2019.

Warga tidak berani mendekat karena melihat Nardi membawa pisau dapur. Nardi semakin kalap dan menusuk istrinya menggunakan pisau dapur.

Saat itu, istrinya sedang menggendong anak mereka yang masih berusia tujuh bulan. Anaknya juga terkena tusukan dan ikut meninggal.

“Mereka tinggal di rumah orang tuanya Sri Dewi. Orang tuanya sudah tua, juga tidak berani melerai,” ujarnya.

Saat ini, warga berkumpul di rumah duka. Mereka menunggu jenazah kedua korban datang.

Saat ini jenazah kedua korban masih di RSUD Ngudi Waluya.

Kasus pembunuhan itu sudah ditangani Polres Blitar. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Bondowoso – Kasus serempetan sepeda motor di jalan disebut sebagai pemicu penusukan M Hasyim Zaki Adil atau M Zaky (23), pebalap road race nasional, Jumat, 15 Februari 2019 malam.

Peristiwa itu terjadi di jalan raya Desa Taal Kecamatan Tapen, Bondowoso.

Polisi telah meminta keterangan dari enam orang saksi dan tersangka, Faesal Karim, warga Desa/Kecamatan Tapen, Bondowoso.

Kasatreskrim Polres Bondowoso AKP Jamal kepada Surya, menuturkan, peristiwa itu bermula dari serempetan di jalan raya yang menghubungkan Bondowoso-Situbondo tersebut.

Telah Ditemukan Sesosok Jenazah Terapung di Laut, Siapa Dia?

Menurut keterangan Faesal kepada polisi, ketika itu Faesal baru pulang kerja dari Prajekan, Bondowoso.

Dia melaju dari arah utara atau dari arah Situbondo. Begitu juga dengan M Zaky yang berada di jalan itu untuk ‘nyeting’ sepeda motor balapnya.

“Di lokasi itu, korban nyerempet tersangka ini. Kemudian sempat dikejar,” kata Jamal Sabtu, 16 Februari 2019.

Menurut Jamal, Faesal sempat mengejar M Zaky setelah sebelumnya sempat cekcok mulut.

Bisikan Gaib Itu Membuat Kurnaevi Tebas Kepala Tetangganya yang Lagi Salat di Masjid

Meski terserempet, Faesal tidak sampai terjatuh dari motor karenanya langsung berusaha mengejar M Zaky.

Faesal sempat kehilangan jejak M Zaky. Namun Faesal menemukan M Zaky dan sepeda motornya di sebuah garasi rumah di Kecamatan Tapen.

Jarak antara lokasi serempetan dan rumah tersebut cukup jauh sekitar 4 kilometer.

“Rumah ini tempat biasa korban berkumpul sama teman-temannya. Di garasi rumah itulah terjadi penusukan. Tersangka menusuk korban memakai pisau lipat,” kata Jamal.

Jalan-jalan ke Kota Ini jangan Lewatkan Sambal Jando dan Sangu Tutug Opak Khas Priangan Timur, Raos Pisan Euy

M Zaky ditikam di bagian dadanya. Ada dua tusukan.

Cekcok yang berbuntut penganiayaan itu disaksikan beberapa orang.

Mereka sempat melerai, namun penusukan tak terhindarkan.

M Zaky terjatuh bersimbah darah. Faesal pergi dari tempat tersebut.

Teman-teman M Zaky bergegas membawanya ke Puskesmas Tapen, namun nyawanya tidak tertolong.

“Untuk penyebab kematian kami masih menunggu visum dari dokter,” lanjut Jamal.

Polisi menjerat Faesal memakai Pasal 351 Ayat 3 KUHP tentang Penganiayaan Berat yang Mengakibatkan Hilangnya Nyawa Seseorang.

Saat ini Faesal telah ditahan di sel tahanan Mapolres Bondowoso.

Sementara, jenazah M Zaky dipulangkan ke rumah duka di Desa Ramban Kulon Kecamatan Cerme.

Saat peristiwa itu diketahui polisi, awalnya polisi tidak mengetahui kalau korban merupakan pebalap road race.

Setelah pemeriksaan lebih lanjut akhirnya diketahui jika M Zaky merupakan pebalap road race nasional.

M Zaky adalah mantan pebalap Asia. Dia eks pebalap TJM Racing.

M Zaky lahir di Bondowoso 4 Oktober 1995, dan meninggal dunia dalam usia 23 tahun. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Sumedang – Maslikin alias Mas (54) tewas akibat ditebas kapak oleh tetangganya, Kurnaevi (35). Insiden berdarah itu berlangsung saat korban salat berjamaah di Masjid Miftahul Falah, Dusun Salam, Desa Sindangsari, Kecamatan Sukasari, Kabupaten Sumedang, Kamis, 14 februari 2019 kemarin malam.

Ada cerita mistis di balik kejadian maut tersebut. Kapolres Sumedang AKBP Hartoyo mengatakan sebelum peristiwa mengerikan itu awalnya pelaku berjalan menuju masjid. Belum sempat masuk masjid, Kurnaevi mengaku mendapat bisikan gaib.

Diduga Alami Kelainan, Pemuda Ini Pacari Nenek 75 Tahun Lalu Dibunuhnya

Pelaku lalu pulang ke rumah dan ternyata membawa kapak. Dia kembali ke masjid saat sejumlah orang menunaikan salat isya.

“Makmum di situ ada delapan lelaki. Kenapa yang dipukulnya korban, karena dia (pelaku) mendapat bisikan gaib,” ucap Kapolres Sumedang AKBP Hartoyo Jumat, 15 Februari 2019.

Okky Lukman Ajukan Pertanyaan Ke Sophia Latjuba, Kok Cut Tari Emosi! Ada Apa Ya?

Berdasarkan keterangan kepada polisi, pelaku mengaku bisikan gaib tersebut muncul sekelebat. Pelaku menjelaskan bisikan itu menyebutkan bahwa mantan istrinya berselingkuh dengan Maslikin.

“Dia ngakunya mendapat bisikan kalau istrinya ini selingkuh sama korban (Maslikin). Sehingga dia pulang untuk mengambil kapak dan membacokan ke arah kepala korban,” tuturnya.

Lezatnya Makanan Khas dari Hasil Laut, Yuk Cobain Pindang Gombyang Kepala Jambal

Menurut Hartoyo, Kurnaevi dan istrinya memang bercerai. Perceraian itu terjadi pada 2015. Polisi memastikan bisikan gaib yang disebut pelaku itu berupa halusinasi.

“Hanya halusinasi. Faktanya tidak ada perselingkuhan,” ucap Hartoyo menegaskan. (***)

sumber: detik.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Kediri – Dedyk Asmawan alias Glowor (26), tersangka utama yang menghabisi kekasihnya nenek Sukinem alias Mbah Mentil (75), diduga menderita kelainan oedipus complex. Kelainan ini karena Dedyk yang berusia 26 tahun menjalin hubungan asmara terlarang dengan nenek yang usia 75 tahun.

Bahkan, dari pengakuan pelaku hubungan asmara terlarang itu telah berlangsung sejak 2013. Kedua insan dengan usia selisih 46 tahun itu juga melakukan hubungan badan layaknya suami istri.

Okky Lukman Ajukan Pertanyaan Ke Sophia Latjuba, Kok Cut Tari Emosi!

Dosen Fakultas Dakwah Jurusan Psikologi Institut Agama Islam (IAIT) Tribakti Kota Kediri, Wahyu Utami MSi MPsi, menjelaskan faktor penyebab oedipus complex masing-masing orang berbeda. Bisa jadi karena faktor biologis, psikologis dan lingkungan sekitar terkait dengan pola asuh.

“Dalam kasus oedipus compex biasanya yang paling berperan adalah terkait dengan pola asuh di saat seseorang masih anak-anak,” jelas Wahyu, Jumat, 15 Februari 2019.

“Cilok Cilok” Pejuang Cilik Ini Berjualan Cilok Setelah Ayahnya Meninggal Dunia, Ini Kisahnya

Pada tahap ini, anak masih belum mengerti norma-norma yang berlaku. Ini berpengaruh di masa remaja dan bahkan hingga dewasa yang diperkuat lagi dengan adanya faktor lingkungan.

Wahyu juga menilai perlunya pendampingan pelaku pembunuhan yang dialami pengidap oedipus complex.

HORE!! Garuda Indonesia, Sriwijaya Air dan NAM Air Turunkan Tiket Pesawat Hingga 20 Persen

“Pendampingan diperlukan karena permasalahan psikologis yang dialami klien harus diselesaikan jangan sampai berkembang menjadi masalah maupun gangguan lain,” jelasnya.

Karena individu dengan gangguan maupun permasalahan psikologis butuh arahan untuk mereka bisa memutuskan bagaimana harus berperilaku secara tepat.

Sedangkan penanganan masalah hukum tetap ditangani oleh aparat yang berwenang. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Cianjur – Sebanyak 13 anggota geng motor diringkus Satreskrim Polres Cianjur dari empat tempat berbeda, Rabu, 13 Februari 2019 dini hari.

Belasan geng motor diciduk saat mereka tertidur pulas.

Mereka tak mengelak setelah alat bukti senjata tajam menguatkan beberapa kasus penganiayaan yang meresahkan warga.

Sadis, Hasnatul dan 2 Anaknya Dibunuh Karna Menolak Rujuk, Ini Kronologinya

Korban terakhir geng motor sempat melukai bahu dan lengan seorang warga Kecamatan Haurwangu hingga korban terkapar mengalami luka berat.

Kapolres Cianjur AKBP Soliyah, mengatakan, belasan tersangka tersebut diringkus dari beberapa tempat yakni, bengkel ketok magic Jalan Irhanda Warungbatu, Desa Mekarsari, lalu di Kampung Babakan, Desa Gadog, Kecamatan Pacet, selanjutnya di Jalan Raya Sukabumi Kampung Cieundeur, Desa Buniasri, Kecamayan Warungkondang, dan di Jalan Raya Bandung-Cianjur Kampung Pabuaran, Desa Haurwangi, Kecamatan Haurwangi.

Tragis ya, Wanita Bersuami Ini Tewas Terbakar Bersama Kekasihnya Dikosan

“Kami juga mengamankan empat unit kendaraan bermotor, senjata tajam jenis golok, samurai, corbek, trisula, dan gergaji,” ujar Soliyah di Bundaran Lampu Gentur, Kamis, 14 Februari 2019.

Soliyah mengatakan, para tersangka melakukan aksi penganiayaan sampai mengambil motor korban dengan cara mengacungkan senjata tajam.

“Ada juga yang mengambil motor korban dengan cara memberhentikan korban ketika mengendarai motor dan membawa kabur motor korban,” kata Soliyah.

Apa yang Terjadi Gerobak Makanan di Pesawat Itu Terbalik dan Berserakan Serta Mendarat Darurat?

Mereka juga dikenal sadis, ada yang mengejar dan menebaskan senjata tajam (golok) secara bersama-sama kepada korban.

Para tersangka terancam Pasal 365 KUHP (CURAS) ancaman hukuman 9 tahun penjara, Pasal 170 KUHP (Pengeroyokan) ancaman hukuman 9 tahun penjara, Pasal 351 KUHP (penganiayaan) ancaman hukuman 7 tahun penjara.

Kapolres mengatakan, alasan ekspose di di tempat keramaian untuk memberikan efek jera agar pelaku tak melakukan hal serupa.

Dandim 0608 Letkol INF Rendra Dwi Ardhani, mengatakan, TNI siap membantu jajaran kepolisian untuk memberantas geng motor di wilayah hukum Cianjur.

“Kami berkomitmen untuk memberantas penyakit masyarakat terutama geng motor yang menjadi atensi semua pihak,” kata Rendra.(***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Bangko – Seorang Pekerja Seks Komersial (PSK) yang tinggal di Dusun Sungai Tebal, Kecamatan Lembah Masurai, Bangko, tewas ditikam seorang pria hidung belang.

Kejadian yang terjadi pada Senin, 11 Februari 2019 malam itu membuat geger warga sekitar.

Dengan cepat, warga yang mengetahui informasi itu, langsung berbondong-bondong untuk mendatangi lokasi.

Korban diketahui berinisial YS (20) yang sehari-harinya bekerja di cafe Jenggot.

Sedangkan pelaku adalah Cikal Anarki (25) seorang petani yang tinggal di Dusun Sungai Tebal.

Informasi yang dihimpun, kejadian ini bermula ketika, pelaku datang ke Cafe Jenggot untuk memuaskan nafsu birahinya.

Sesampainya di lokasi, pelaku pun bertemu dengan korban.

Pelaku langsung mengajak korban untuk berhubungan intim.

Tetapi, korban meminta pelaku untuk membayar terlebih dahulu, namun permintaan ini ditolak korban.

Mendapatkan penolakan dari korban, pelaku emosi dan langsung menusuk dada serta perut korban menggunakan pisau, hingga nyawa korban tidak tertolong.

Melihat kondisi korban tergeletak dan bersimbah darah, pelaku langsung melarikan diri ke kebun yang tidak jauh dari lokasi.

Warga lain yang melihat kejadian sempat ingin menyelamatkan korban, namun belum sempat dibawa, korban sudah diketahui meninggal dunia.

Kasat Reskrim Polres Merangin, IPTU Khairunnas dikonfirmasi, mengiyakan adanya kejadian tersebut.

“Iya ada pembunuhan semalam, saya bersama anggota sudah di lokasi sejak semalam,” ungkap Khairunnas.

Pihaknya masih menyelidiki kasus ini, dan terus menggali informasi sedetail-detailnya dan akan meminta keterangan dari saksi. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Pontianak – Sungguh terlalu, Seorang pria mengenakan Jaket dari sebuah perusahaan Ojek Online dengan tega membengkas dan merusak kotak Amal di mesjid Al Ikhwan yang terletak di jalan Kesehatan, Kelurahan Kota Baru, Kecamatan Pontianak Selatan, Kota Pontianak, dan mengembat uang didalamnya.

Kejadian ini tertangkap kamera CCTV masjid yang terpasang didalam dan di luar masjid, yang kemudian di upload oleh sebuah akun media Sosial Instagram bernama pontianak_update pada Senin, 11 Februari 2019.

Jokowi Merasa Lucu saat Dinobatkan Sebagai Bapak Pariwisata

Akun tersebut menuliskan bahwa kejadian ini terjadi sekira pada tanggal 4 Februari 2019.

“Masjid Al Ikhwan, Jalan Kesehatan (Kobar). sekitar tanggal 4 Februari 2019. Harap pelaku menyerahkan diri. Foto pelaku screenshot dari rekaman cctv di story’ tempat ibadahpun ente embat bang – bang,”tulisnya.

Wajah dari pelaku yang merusak kotak amal dan mengambil uang di mesjid pun terlihat jelas dari screenshot di Vidio cctv yang ada.

Panjat Pintu Gerbang dan Rusak Jendela, Kawanan Pencuri Ini Gondol Kotak Amal Masjid, Aksinya Terekam CCTV

Dari Video CCTV yang ada, pelaku yang mengenakan Jaket yang berwarna hiju bercampur hitam itu tampak santai berjalan dari halaman mesjid menuju dalam mesjid.

Lalu, setelah didalam masjid, dirinya langsung menuju kotak amal yang berada di Bagian tengah Shaf belakang masjid, di balik tiang belakang.

Kemudian ia terlihat mengeluarkan sebuah benda dan mencoba mencongkel – congkel kotak mesjid yang terlihat berwarna putih itu.

Ia tampak kesusahan membuka kotak itu, namun akhirnya ia bisa membuka tutup kotak Amal mesjid yang di gembok oleh pihak pengurus.

Saat Tribun berusaha menelusuri Vidio ini dan mendatangi mesjid tersebut lalu bertemu dengan pengurus Mesjid.

Pengurus mesjid bidang kebersihan yang bernama Muhammad Thamrin pun membenarkan kejadian ini, namun ia mengatakan bahwa kejadian ini terjadi pada hari Jumat di tanggal 1 Februari 2019.

“Bukan tanggal 4 si kejadian nya, itu kejadian hari Jumat, tanggal 1 Februari 2019,”katanya. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Bandung – Pria pengusaha tekstil asal Bandung tewas dimutilasi di Malaysia.

Kisah tragis pengusaha tekstil asal Bandung tewas dimutilasi di Malaysia ini membuat keluarganya berduka.

Pria pengusaha tekstil asal Bandung tewas dimutilasi di Malaysia itu, Nuryanto (37), adalah suami dari Meli Rahmawati (33).

Ketika berpamitan menuju Malaysia, kepada istrinya, Meli Rahmawati, dia mengatakan hendak berbisnis.

Selama berada di Malaysia korban sering kontak dengan keluarganya di Baleendah.

“Iya dia bilang mau ke Malaysia, biasa packing sama saya, katanya mau berangkat tanggal 17 (Kamis),” ujar istri korban Meli Rahmawati (33) di rumahnya di Kampung Ciodeng, Desa Bojong Malaka, Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung, Senin, 11 Februari 2019.

Korban tewas warga negara Indonesia (WNI) lainnya adalah Ai Munawaroh.

Keduanya ditemukan dalam keadaan tubuh sudah dimutilasi.

Kemudian, satu korban lagi bernama Ai Munawaroh.

Berikut ini fakta-fakta Nuryanto, pria pengusaha tekstil asal Bandung yang tewas di Malaysia.

Ditemukan di Pinggir Sungai

Kedua WNI itu ditemukan di Sungai Buloh, Selangor, Malaysia.

Tubuh korban ditemukan dalam keadaan sudah dimutilasi.

Potongan tubuh pun tersebar di sekitar TKP.

Polisi setempat pun mengumumkan kejadian itu pada 26 Januari 2019.

Di Malaysia, peristiwa itu pun menjadi sorotan dan diberitakan media massa.

Nuryanto Ada Urusan Bisnis

Nuryanto merupakan warga Kampung Ciodeng, Kelurahan Bojong Malaka, Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung.

Ia adalah pengusaha tekstil yang juga menjual produknya ke Malaysia.

Kepergian Nuryanto ke Malaysia disebut kuasa hukumnya, Hermawan untuk urusan bisnis.

Nuryanto akan mengambil uang dan bertemu relasi di Malaysia.

Putus Komunikasi

Nuryanto berangkat ke Malaysia pada 17 Januari 2019.

Dari catatan maskapai Air Asia, ia seharusnya pulang pada 23 Januari 2019.

Namun, pada 22 Januari 2019, nomor ponselnya tak aktif.

“Kita lost contact tanggal 22 Januari, handpone dia sudah enggak aktif. Karena chek in di hotel terakhir tanggal 21-23 otomatiskan tanggal 23 dia harus pulang, masuk tengah malamnya tanggal 21 sudah lost contact,” kata kuasa hukum Nurmanyo.

Ciri-ciri Kuat Korban Itu Nuryanto

Tubuh korban mutilasi dalam keadaan membusuk.

Hal ini menyebabkan korban sulit dikenali.

Namun, terdapat bukti kuat yang berserakan di sekitar TKP yang menunjukkan ciri-ciri Nuryanto.

Mulai dari pakaian luar dan dalam, sabuk, ponsel itu sesuai ciri-ciri Nuryanto.

Ciri-ciri tersebut dilihat dari foto yang dikirim istrinya di Bandung.

Selain itu, ada kesamaan juga dari bukti CCTV saat korban keluar hotel.

“Dari Bandung dikirimkan fotonya, ternyata sesuai. Nah, yang kedua handphone dan baju yang dia pakai ketika keluar hotel (CCTV) dan di lokasi diketemukannya mayat, ada kesamaan,” ujar Hermawan.

Menunggu Hasil Tes DNA

Adik Nuryanto, diberangkatkan ke Malaysia untuk tes DNA.

Hal itu dilakukan untuk mengidentifikasi kebenaran terkait identitas korban.

“Salah satu rekan kita (tim pengacara) ke Malaysia, membawa salah satu keluarga, adiknya Nuryanto untuk tes DNA, untuk memastikan apakah jenasah itu Nuryanto apa bukan,” kata Hermawan.

Namun, hasil tes DNA itu membutuhkan waktu yang tak sebentar.

Hal ini disebabkan kondisi tubuh korban yang sudah membusuk.

Hasilnya disebut akan keluar antara dua pekan atau satu bulan ke depan.


Pamit Pergi Urusan Bisnis, Nuryanto Tewas Dimutilasi di Malaysia, Ini Fakta Pengusaha Tekstil Asal bandung Itu

Nuryanto (37) WNI asal Baleendah Kabupaten Bandung yang diduga menjadi korban mutilasi di Malaysia, izin pergi ke Malaysia kepada istri untuk bisnis.

Selama berada di Malaysia korban sering kontak dengan keluarganya di Baleendah.

Selama di Malaysia korban beberapa kali berkomunikasi via telepon dengan pihak keluarga.

Bahkan saat sampai di Malaysia korban langsung menghubungi keluarganya di Baleendah.

“Berangkat Kamis tanggal 17, Sabtu tanggal 19 sudah nelepon, Senin tanggal 21, nelepon lagi untuk terakhir kalinya, itu malam-malam. Selasa tanggal 22 hilang kontak, saya pikir mungkin sudah tidur. Saya terus minta anak menghubungi, Kamis, 31 Januari 2019 telepon sudah enggak aktif sampai sekarang,” tuturnya. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Pangkep – Ronal hanya tertunduk. Meski hanya tamatan SD, siapa nyana ia bisa jadi ahli IT dan membuat polisi kesusahan mengejarnya. Korban Ronal pun beragam, bahkan hingga sarjana.

“Tidak pernah kursus. Belajar otodidak saja. Sudah lebih dari setahun saya jalankan (penipuan online) bersama teman-teman saya,” kata Ronal di Mapolres Pangkep.

Deteksi Secara Dini, Penyakit Kusta Sembuh Tanpa Merusak Saraf

Dalam sekali beraksi, pelaku bisa memperdaya korbannya minimal Rp 500 ribu. Terakhir, ia berhasil menipu seorang warga Pangkep yang lulusan Sarjana Hukum sebesar Rp 121 juta dengan modus jualan bibit unggas (bebek) melalui website. Uangnya pun ia gunakan untuk kebutuhan dua istrinya.

“Paling sedikit Rp 500 ribu. Paling banyak yang kasus ini. Uangnya saya pakai untuk kebutuhan sehari-hari. Saya beristri dua kali,” lanjutnya.

Istri Bakar Sisa Uang dan Ibu Pingsan Melihat Anaknya Dikawal Polisi, Ini Kronologi Pengungkapan Uang palsu

Dalam aksinya, ia dibantu dua rekannya, Undru (36) dan Jusriani (28). Meski hanya tamatan SD, Ronal cukup merepotkan dan kerjanya susah terlacak.

Selama menjalankan aksinya, baik nomor HP maupun rekening untuk bertansaksi, semua bukan atas nama ketiga pelaku. Mereka mendapatkan rekening ‘bodong’ dengan cara mengupah orang lain untuk membuka rekening dan registrasi nomor HP, lalu ia gunakan dalam beraksi.

Siswa Kurang Ajar, Mau Jadi Apa Kamu?, Polisi Pun Turun Tangan

“Penipuan mereka ini sangat rapi. Mereka dapatkan ATM dan nomor HP itu dengan mengupah orang lain. Kan banyak tuh tukang becak, misalnya, dikasi uang saja lalu di bawa ke bank buka rekening. Nah ATMnya itu diambil sama mereka. Nomor HP juga begitu,” kata Kasat Reskrim Polres Pangkep, AKP Nico Ericson Renhold.

Untuk mengungkap kasus penipuan daring ini, Polres Pangkep pun harus melibatkan jajaran Polda Sulawesi Tengah dan Polda Metro Jaya. Pasalnya, pelaku utama diketahui berada di Palu, sementara yang lainnya berada di Bekasi, Jawa Barat.

Gedebug! Tak Disangka Itu Suara Orang Terjatuh dari Lantai 6

Polisi masih terus melakukan pendalaman atas kasus ini. Diduga, para pelaku merupakan jaringan penipuan online yang kerap beraksi di seluruh Indonesia dengan berbagai modus. Mulai dari jualan bebek, hingga undian berhadiah melalui sms.

“Yah kami libatkan Polda Sulteng dan Metro jaya. Kami yakin korbannya tidak hanya ini saja. Karena mereka ini pemain lama dengan berbagai modus penipuan lainnya. Kami masih memburu satu pelaku lain,” sebutnya.

Polisi juga masih memburu satu tersangka lain yang sudah teridentifikasi. Mereka dijerat dengan pasal 28 UU No 11 tahun 2008 tentang ITE dan pasal 378 KUHP dengan ancama maksimal 5 tahun penjara. (***)

sumber: detik.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Pontianak – Aparat kepolisian mengungkap produksi uang palsu di Kota Pontianak, Kalimantan Barat.

Dari pengungkapan, diketahui bahwa uang palsu yang diproduksi mencapai raturan juta rupiah.

Empat orang ditetapkan tersangka, MN, HA, SJ dan SW yang diduga sebagai otak dibalik produksi uang palsu ini.

Kapolsek Anjongan, Iptu Ambril mengungkapkan bahwa tersangka belajar membuat uang palsu dari YouTube.

“Tersangka SW dan HA ini belajar membuat uang palsu ini dari YouTube, mereka buka google. Mereka belajar dari sana,” ungkapnya, Jumat, 9 Februari 2019.

Hal itu dibenarkan SW saat ditanya di sela-sela penggeledahan di rumahnya, Pontianak Utara yang dijadikan lokasi tempat memproduksi.

Ia mengaku bahwa uang palsu yang diedarkan dibuat sendiri dan bukan didapat dari orang lain.

Sudah sekitar sebulan terakhir dirinya mencetak uang palsu, menggunakan printer.

Ia mengaku hasil dari mencetak uang palsu, dalam sehari ia bisa mengumpulkan uang asli antara Rp500 ribu hingga 1 juta rupiah.

“Lumayan, biasa 1 hari bisa Rp 500 ribu, satu juta,” katanya tertunduk lesu.

SW mengungkapkan proses produksi uang palsu ini dirinya dibantu saudara ipar dan anggota keluarganya yang lain.

Kronologi Pengungkapan

Kapolsek Anjongan Iptu Ambril yang ditemui awak media menjelaskan kronologis pihaknya dapat berhasil mengungkap peredaran uang Palsu ini.

Ia mengatakan bahwa pihaknya Jumat, 9 Februari 2019 mendapati informasi dari masyarakat di pasar wilayah Anjongan, bahwa para pedagang di dihebohkan dengan adanya penemuan uang palsu.

Dan yang mengedarkan di wilayah itu adalah MN, Kapolsek menjelaskan bahwa pagi tadi MN membelanjakan ratusan ribu uang palsu untuk membeli Langsat, Petai, sendal.

“Pagi tadi, MN berbelanja di pasar Anjongan, dia beli petai Rp100 ribu, sendal Rp100 ribu ungkapnya.

Setelah MN berbelanja, hebohkan pasar Anjongan, dan kemudian para pedagang yang di rugikan melapor ke Polsek Anjongan.

Mendapat laporan tersebut, petugas pun bergerak cepat, dengan mengumpulkan informasi kepada pedagang dan para korban, yang pada akhirnya mengarah kepada MN, dari pengakuan MN, uang tersebut didapatnya dari ketiga tersangka lain.

Di kediaman MN, pihak kepolisian mendapati ketiga tersangka lainnya sedang tidur, lalu tanpa berbasa basi pihak kepolisian langsung mengamankan ketiganya serta MN untuk di mintai keterangan lebih lanjut.

“Dari pengakuan mereka, tadi didapati informasi bahwa mereka sudah mengedarkan uang palsu ini selama seminggu di wilayah Mempawah, yakni Anjongan, Sungai Pinyuh, Mempawah Hilir, dan sekitarnya, dan mereka telah mengedarkan uang sebanyak 30 juta,” ungkap Kapolsek.

“Uang yang mereka bawa ini Rp 50 juta, sudah diedarkan Rp30 juta, jadi sisa Rp 20 juta, dan sudah kita amankan di Polsek Anjongan,” jelasnya.

Setelah diinterogasi, pihak kepolisian pun berhasil mendapati lokasi pembuatan uang palsu ini yang merupakan rumah SW.

Tak menunggu lama, Unit Jatanras Polres Mempawah menggrebek lokasi yang berada di jalan Parit Pangeran, kelurahan Siantan Hilir, Kecamatan Pontianak Utara, yang mana rumah ini milik tersangka SW.

Ibu Histeris dan Pingsan

Warga masyarakat sekitar pun heran dengan kedatangan petugas kepolisian kerumah yang dijadikan lokasi pembuatan uang, banyak warga yang terheran – heran dan tak menyangka akan perbuatan tersangka yang mencetak uang palsu.

Bahkan, ibu dari SW tampak syok melihat anaknya datang kerumahnya dengan tangan di belakang pinggang dengan posisi di borgol dan dikawal oleh pihak kepolisian.

Sang ibu meraung – raung dan tampak histeris, memohon kepada petugas untuk meminta kejelasan terkait apa yang menimpa putranya, dan meminta putra tidak dibawa.

Bahkan, sang ibu sampai pingsan akibat tak kuat menahan kesedihannya dan syoknya melihat sang anak di Gelandang pihak kepolisian.

Di lokasi sendiri, pihak kepolisian kesulitan mencari sisa uang palsu yang sudah dicetak oleh tersangka, karena uang palsu dan kertas lain tersebut sudah dimusnahkan dengan cara di bakar oleh istri dari SW yang berinisial ST.

Istri dari SW sendiri terlihat dalam kondisi hamil saat pihak kepolisian mendatangi rumahnya.

Istri dari SW sempat tak mengakui bahwa suaminya mencetak uang palsu, namun setelah di berikan penjelasan oleh pihak kepolisian, ia mengaku dan telah membakar uang palsu sisa yang ada di kamar mandi.

Pihak kepolisian pun saat memeriksa bagian belakang rumah tersangka menemukan sisa abu pembakaran dari uang palsu tersebut.

Selain itu, pihak kepolisian juga menemukan sejumlah barang bukti di halaman depan rumah berupa abu-abu bekas uang palsu yang terbakar di dua titik.

Ancaman 15 Tahun Penjara

Pihak kepolisian mengamankan uang palsu yang dimiliki tiga tersangka senilai Rp. 21.400.000.

Selain mengamankan 4 tersangka, pihak kepolisian juga mengamankan istri dari SW, yang mana diduga telah menghilangkan barang bukti.

“Diduga istri SW telah menghilang kan barang bukti, dimana atas pengakuan tersangka uang palsu senilai Rp. 65 juta telah dibakar,” terangnya.

Kapolsek menegaskan 4 tersangka ini, akan dikenakan pasal 244 dan 245 KUHP dengan ancaman 15 tahun penjara.

Atas beredarnya uang palsu ini, Kapolsek menghimbau kepada masyarakat untuk berhati-hati dan selalu teliti terhadap uang yang diterima.

“Bagi yang merasa mendapat uang palsu dari pelaku, segera menyerahkan dan melaporkan kepihak kepolisian,” ucap Ambril.

Dimana, Ambril mengatakan uang palsu ini, sudah beredar selama kurun waktu 1 bulan di wilayah Pontianak dan Mempawah.

“Dan uang yang telah beredar dan telah dicetak senilai Rp. 200 juta, maka dari itu diharapkan kepada masyarakat untuk lebih teliti terhadap uang yang diterima,” pungkas Ambril. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Sekayu – Pasal hutang piutang membuat pelaku Fitriyadi (36) harus gelap mata dan menghabisi temannya sendiri yakni Aswani (33) warga Desa Lubuk Bintialo, Kecamatan Batang Hari Leko (BHL), Kabupaten Musi Banyuasin (Muba).

Pelaku nekat membacok korban pada lehernya, Sabtu, 9 Februari 2019 sekitar pukul 01.05 WIB yang menyebabkan korban meregang nyawa.

Berdasarkan informasi yang dihimpun dari pihak kepolisian, pelaku yang merupakan warga Desa Lubuk Bintialo Kecamatan BHL, Muba mulanya meminjamkan uang terhadap korban Aswani.

Vonis Mati untuk Letto Cs yang Dinilai Mafia dan Merusak Generasi Bangsa Mendapat Apresiasi dari Polda Sumsel

Sebelumnya korban meminjam uang sebesar Rp 1 juta dan akan dijanjikan dikembalikan keesokan harinya.

Setelah esoknya pelaku menagih hutang terhadap korban dan kemabali akan membayar esok, setelah di tagih beberapa sampai ketiga kalinya korban terus beralasan akan membayarnya nanti.

Sampai hari keenam puncak kekesalan pelaku memuncak dan pelaku tetap tidak mau membayar dan membentak pelaku.

Dari Rayuan Maut, Pelaku Dapatkan Foto Bugil Korbannya untuk Dijadikan Alat Pemerasan

Dikarenakan sudah gelap mata Fitryadi langsung mengambil senjata tajam jenis parang yang sudah dipersiapkan.

Kemudian pelaku yang sudah kesal berpura – pura berjalan kearah belakang korban dan langsung membacokkan kearah leher korban sebanyak satu kali seketika langsung roboh ke tanah.

Pelaku langsung melarikan diri, warga sekitar yang melihat korban tersungkur langsung dilarikan ke Puskesmas terdekat sesampai di Puskesmas nyawa korban tak tertolong.

Serem! Hampir 4 Tahun Meninggalnya Olga Syahputra, Billy Mimpi Dijemput dengan Ambulans

Kapolres Muba AKBP Andes Purwanti SE MM, melalui Kapolsek BHL AKP Sofyan Afandi SH, membenarkan prihal kejadian tersebut dan langsung menuju lokasi untuk melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). Diketahui pelaku bernama Fitriyadi yang merupakan temannya sendiri.

“Pasca kejadian itu kita langsung melakukan pengejaran terhadap pelaku dan sekitar pukul 09.00 WIB pelaku berhasil diamankan di rumahnya tanpa perlawanan. Saat ini pelaku telah diamankan di Mapolsek BHL untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut,”kata Sofyan.

Sementara, Fitriyadi mengakui semua perbuatan yang telah dilakukan hal tersebut lantaran kesal dikarenakan korban tidak membayar hutang.

“Saya kesal pak dia tidak mau bayar hutang padahal sudah janji mau membayar. Selain itu ketika mau ditagih ia mengeluarkan kata-kata tidak enak,” ujarnya singkat. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jambi – Baru-baru ini viral di media sosial kabar dua orang anak diculik di wilayah Kuburan Cina, Kota Jambi.

Peristiwa penculikan tersebut ternyata benar-benar terjadi. Pelaku ditangkap polisi beberapa hari yang lalu.

Pelaku penculikan anak tersebut dihadirkan polisi di hadapan media saat konfrensi pers, pada Kamis, 7 Februari 2019.

Pelaku hanya bisa tertunduk lesu siang itu, di Mapolresta Jambi. Tidak ada kata pembelaan yang keluar dari mulutnya.

Pelaku merupakan seorang perempuan berinisial EK.

Dia sehari-hari sebagai ibu rumah tangga yang tinggal di Kecamatan Danau Sipin. Dia diamankan petugas atas kasus dugaan penculikan dua anak balita yakni D (perempuan, lima tahun) dan R (laki-kali, 5 bulan).

Kapolresta Jambi, Kombes Pol Dober Christian, mengatakan penculikan anak tersebut bermula ketika EK mendatangi seorang tukang urut.

Tujuannya ke sana adalah untuk berurut, karena sudah beberapa tahun menikah tapi belum juga mendapatkan keturunan.

Mendengar cerita EK saat diurut, akhirnya tukang urut tersebut menyarankan kepada EK supaya mengadopsi anak dari RT yang tinggal di Kelurahan Simpang IV Sipin.

EK diberitahu tukang urut itu bahwa RT ingin ada yang mengadopsi anaknya, karena dia sudah punya banyak anak.

EK merasa senang atas informasi itu. Tak lama setelah itu dia mendatangi kediaman RT, pada Jumat, 25 Januari 2019.

Dia menyampaikan niatnya mengasuh dan mengadopsi anak dari RT tersebut.

Namun, RT membantah bila ia ingin memberikan anaknya kepada orang lain.

Permintaan dari EK ditolak perempuan itu.

Dia juga mengatakan tidak pernah menyampaikan informasi demikan.

Tak puas sampai di situ, keesokan harinya EK datang lagi ke rumah RT.

Dia mengajak mereka jalan-jalan menggunakan sepeda motor matic, Selasa, 29 Januari 2019 sore.

Saat itu RT membawa serta dua orang anaknya yang masih kecil yakni D dan R.

Dalam perjalanan sore tersebut, D meminta kepada ibunya dibelikan rambutan yang dijual di pinggir jalan.

Mendengar permintaan itu EK menghentikan kendaraan saat tiba di kawasan Kuburan Cina.

Di sana, dia meminta RT membelikan rambutan untuk D.

Uang Rp 10 ribu dia berikan kepada ibu anak-anak itu. Sementara R yang merupakan bayi 5 bulan, berpindah ke gendongan EK.

“Ketika orang tua anak itu pergi membeli rambutan ke seberang jalan, saat itulah pelaku (EK) langsung membawa kabur kedua anak tadi menggunakan sepeda motor,” ungkap Kapolresta Jambi, Kombes Pol Dover Christian, saat konfrensi pers di Mapolresta Jambi.

Kombes Pol Dover Crinstian mengatakan, setelah EK membawa kabur dua orang anak tersebut, ibu dari anak-anak itu mendatangi Polsek Telanaipura.

Dia melaporkan terjadi penculikan dua anak yang baru saja dialaminya.

Berdasarkan laporan tersebut, Tim Opsnal melakukan penyelidikan.

Viral di medsos

Pada pukul 22.00 malam itu, beredar informasi di media sosial, yang berisi warga menemukan anak perempuan.

Anak tersebut ditinggalkan orang tak dikenal di wilayah Desa Mendalo Darat, Kabupaten Muaro Jambi.

Polisi menyambangi lokasi tersebut, dan menemukan perempuan kecil itu di sana.

“Anak itu ditinggalkan warung tertutup oleh EK, dengan alasan ingin mengisi minyak motor,” katanya.

Pada Selasa, 30 Januari 2019 sekira Pukul 11.00, tim opsnal akhirnya mendapati informasi keberadaan pelaku.

Tak ingin kehilangan buruan tim bergegas menuju tempat yang di informasikan. Pelaku akhirnya ditangkap tanpa perlawanan.

“Tersangka ditangkap di rumah orangtuanya di Kelurahan Selamat, Kecamatan Danau Sipin,” ujar Kapolresta.

Kasus Kedua

Aksi penculikan yang dilakukan EK di Kota Jambi tercatat sebagai aksi penculikan kedua yang terjadi di Provinsi Jambi dalam tahun ini.

Sebelum ini juga terjadi penculikan anak di Kabupaten Tanjung Jabung Timur. RR bocah berumur satu tahun, sempat berada di tangan penculik bayi.

Peristiwa itu terjadi pada Selasa, 29 Januari 2019 siang, di Kelurahan Parit Culum 1, Muara Sabak Barat.

Ahmad Syafi’i paman korban menceritakan, peristiwa itu terjadi saat ia dan orang tua korban sedang memanen duku di kebunnya.

Saat itu RR sedang tidur di dalam ayunan ditemani kakak sepupunya, Febri (18).

Ketika mereka sedang duduk istirahat, tiba-tiba Febri berteriak adik sepupunya dibawa lari oleh seseorang.

Mereka langsung mengejar pelaku penculikan tersebut, yang diketahui seorang pria, bila dilihat dari ciri-cirinya.

Syafi’i menyebutkan sempat melihat pelaku berlari sambil menggendong keponakannya itu, tapi tidak bisa melihat secara pasti ciri-ciri pelaku.

“Dari jarak 100 meteranlah dari kami pelaku itu kelihatan lari menggendong RR,” ungkapnya.

Pelaku kemungkinan merasa tak mampu lagi melanjutkan aksinya, sehingga meletakkan bayi itu di atas semak-semak, saat orangtua bayi itu mengejarnya.

“Pas dia meletakkan korban di semak-semak pun saya lihat. Tapi setelah berhasil menyelamatkan anak kami tak berpikir untuk mengejar perlaku lagi. Yang penting keponakan kami selamat. Lagi pun sudah ramai warga yang turun membantu mengejar pelaku,” sebutnya.

Bocah itu bisa diselamatkan, ditinggalkan oleh pelaku di dalam semak-semak ilalang di kebun pinang.

“Mungkin pelaku itu, merasa terdesak karena ramai dikejar oleh warga setempat. Anak ini langsung dilempar ke semak-semak,” sebut Syafi’i.

Febri mengatakan saat kejadian ia sedang tertidur di dekat buaiyan adeknya tersebut. Tiba-tiba adeknya yang sedang tertidur di dalam ayunan dibawa oleh seorang laki-laki keluar rumah.

“Baru sekitar beberapa menit saya tertidur, tiba-tiba saya mendengar bunyi, penghalang di pintu berbunyi, saya lihat ada orang berjaket hitam dengan tutup kepala membawa adik saya, karena saya tidak bisa mengejar pelaku, saya teriak memanggil bapak saya yang sedang memanen duku untuk mengejarnya,” ucap Febri.

Kapolsek Muara Sabak Timur, Ipda Cibro, saat dikonfirmasi membenarkan jika ada informasi dari warga bahwa adanya aksi percobaan penculikan anak itu. Cibro bilang pihaknya masih mendalami kasus itu. Apakah benar-benar aksi penculikan atau motif lain.

Dengan kejadian ini, Cibro mengimbau masyarakat untuk tidak resah namun harus waspada. “Warga tak perlu resah, namun harus tetap waspada mengawasi anak-anaknya,” tuturnya. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Timor Timur – Polres Timor Tengah Selatan (TTS) menggelar kasus rekonstruksi pembunuhan terhadap seorang pedagang keripik, Fredik Boimau, di Kecamatan Batu Putih.

Fredik Boimau tewas setelah sebilah pisau menancap di dada.

Pisau tersebut dihunjamkan oleh tersangka Melson Mafeo.

Kasus pembunuhan yang terjadi pada 20 November 2018 lalu.

Sementara rekonstruksinya dilangsungkan, Rabu, 6 Februari 2019.

Detik-detik Fredik Boimau terbunuh itu tergambar dalam 9 adegan rekonstruksi.

Admin Libra, Akan Mendapat Kabar Baik, Kalau Kamu Gimana, Yuk Intip Zodiakmu Disini

Saat itu, tersangka Melson memeragakan saat dirinya menikam korban dengan sebilah pisau tepat di bagian perut hingga tewas.

Kasat Reskrim Polres TTS, Iptu Jamari SH MH mengatakan rekonstruksi dilakukan guna menyatukan keterangan para saksi dengan klarifikasi ulang kejadian perkara, guna merampung berkas kasus pembunuhan tersebut.

“Kemarin, Rabu, 6 Februari 2019 pagi kita sudah melakukan rekonstruksi kasus pembunuhan ini yang juga disaksikan jaksa penuntut umum dan pengacara tersangka,” kata Jamari Kamis, 7 Februari 2019.

Prestasi Bulu Tangkis Indonesia dinilai Kurang Merata, Ini Himbauan Susy Susanti untuk Atlet Pelatnas

“Kita ingin melihat kembali kesesuaian antara keterangan para saksi dan tersangka dengan kejadian yang sebenarnya. Usai rekonstruksi ini, kita akan segera merampungkan berkas kasus ini,” ujarnya lagi.

Tersangka lanjut Jamari, dijerat dengan pasal 338 KUHP dengan ancaman penjara selama 20 tahun.

Hingga saat ini, tersangka masih mendekam di sel tahanan Polres TTS guna proses perampungan berkas.

“Tersangka masih kita tahan guna proses perampungan berkas. Dalam waktu dekat, kita targetkan segera melimpahkan berkas kasus pembunuhan ini ke jaksa penuntut umum,” ujarnya.

Bobotnya Capai Ratusan Kilo Setelah Konsumsi Obat Steroid Berbulan-bulan, Ini Kata Dokter

Dalam rekonstruksi itu, tersangka sempat terlibat pertengkaran dengan seorang pedagang kripik lainnya.

Melihat ada pertengkaran, Fredik Boimau datang hendak melerai.

Saat Fredik hendak melerai itulah, tersangka Melson langsung mencabut pisau yang disimpan di pinggangnya.

Pencipta Lagu “Goyang Nasi Padang” Diciduk Polisi, Kasus Apa Ya?

Dengan secepat lilat, ia langsung mengarahkannya ke perut Fredik.

Fredik tidak dapat menghindar hingga pisau itu tertancap di dadanya.

Untuk diketahui, Nasib naas menimpa Fredik Boimau seorang pedagang keripik di Kecamatan Batu Putih, Kabupaten TTS.

Bermaksud untuk melerai perkelahian, justru Fredik harus kehilangan nyawanya akibat ditikam dengan pisau oleh pelaku, MM di bagian perutnya.

“Pilu” Bocah 9 Tahun Ini Bisa Naik Motor dan Mengantar Ibunya Berobat, Ini Kisahnya

Akibat tusukan tersebut, seketika pula korban langsung tersungkur ke dalam selokan.

Darah segar langsung keluar dari luka tusukan tersebut, sehingga membuat pakaian korban dipenuhi darah.

Korban sempat dibawa ke Puskesmas Batu Putih untuk mendapatkan pertolongan medis.

Namun nyawa korban tak bisa diselamatkan.

Kasus bermula ketika mobil travel Suzuki APV warna hitam dengan Nomor Polisi DH 1925 AY berhenti di Cabang Battu Putih hendak membeli air mineral

Mobil membawa 7 penumpang menuju SoE.

Saat mobil berhenti, dua orang anak penjual air mineral datang menawarkan air mineral kepada para penumpang mobil travel.

Mobil dikemudikan Nehemia Lopo.

Karena harus berebut penumpang yang mau membeli air mineral, dua pedagang mineral AN dan AL terliat pertengkaran.

Melson yang ada di dalam mobil travel merasa terganggu dengan pertengkaran AN dan AL.

Melson kemudian keluar dari mobil dan hendak menghampiri AN yang sudah berjalan meninggalkan mobil travel.

Melihat Melson yang hendak menghampiri AN, Fredik langsung menghampiri Melson dengan maksud menahan pelaku agar tidak terjadi keributan.

Tidak terima ditahan Fredik, Melson langsung mengambil sebilah pisau yang sudah disimpan di pinggangnya.

Ia langsung menikam korban pada bagian dadanya.

Korban langsung jatuh tersungkur ke dalam selokan akibat tikaman tersebut.

Melihat korban yang terjatuh ke dalam selokan, AN lantas langsung berteriak.

“Om Fredik ditikam,” katanya.

Sontak, para pedagang air mineral, keripik dan tukang ojek yang berada di dekat lokasi kejadian langsung mengejar Melson yang berusaha lari ke arah hutan jati.

Melson akhirnya berhasil dibekuk warga dan menjadi bula-bulanan masa yang marah.

Melson lalu diserahkan ke Polsek Amanuban Barat.

Karena pertimbangan keamanan, Melson langsung jemput dan ditahan di Mapolres TTS untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Lampung – Seorang pemandu lagu (PL) di sebuah tempat karaoke berinisil WI (19) menjadi korban kebringasan seorang tamu.

Warga Jalan Raden Intan, Kotamadya Bandar Lampung itu menjadi korban pemerkosaan yang dilakukan oleh Supriyanto alias Bangil (30), warga Tiyuh Pulung Kencana, Kecamatan Tulangbawang Tengah (TbT), Tubaba.

Viral Siswi SMA Bermesum Ria di Tempat Terbuka, Siapa yang Merekam Aksi Mereka?

Kapolsek Tulangbawang Tengah, Kompol Zulfikar M mengatakan, peristiwa yang dialami oleh WI terjadi pada Senin, 28 Januari 2019 sekitar pukul 02.00 wib.

“Kejadiannya bertempat di salah satu room Karaoke Bintang, yang beralamat di Tiyuh Pulung Kencana,” terang Zulfikar, Selasa 29 Januari 2019.

Penyidik Senior KPK Mengutuk Aksi Penyerangan Pegawai KPK yang Sedang Bertugas, “Jahat”

Saat itu, korban bersama rekannya berinisil SW (20) dan MS (18), sedang berada di room atau ruangan tempat karaoke, yang kebetulan sudah tutup.

Tiba-tiba terdengar suara seorang laki-laki berteriak memanggil untuk dibukakan pintu dengan alasan akan mengambil barang miliknya yang tertinggal di dalam room karaoke.

Ini Kata Sang Ahli, Kenapa Seseorang Mudah Marah Ketika Tengah Lapar?

Korban dan dua rekannya ketika itu tidak mau membuka pintu.

Tak lama berselang, terdengar suara orang yang melompat dari arah kamar mandi, ternyata pelaku berusaha masuk ke dalam room karaoke tersebut.

Setelah berhasil masuk ke dalam room karaoke, pelaku langsung mengancam korban dan dua rekannya menggunakan senjata tajam jenis badik.

Lalu pelaku mengajak korban melakukan hubungan layaknya suami istri.

Jika korban menolak maka akan dibunuh dan dibuang ke tanggul irigasi.

“Karena korban ketakutan di bawah ancaman sajam, dengan mudah pelaku melakukan aksi kejahatannya. Usai melakukan aksinya pelaku lalu keluar dari room karaoke,” beber Zulfikar.

Setelah kejadian tersebut, korban bersama dua rekannya yang ada dalam room lalu menghubungi rekan-rekannya yang lain.

Salah satu rekan korban menghubungi Polsek Tulangbawang Tengah.

Mendapat informasi tersebut, anggota polisi langusng meluncur ke tempat kejadian perkara dan mencari pelakunya.

“Setelah mengetahui siapa pelakunya, petugas kami langsung melakukan pencarian dimana keberadaan pelaku. Sekira pukul 04.00 WIB, pelaku berhasil ditangkap saat sedang bersembunyi di dekat Balai Desa Tiyuh Pulung Kencana, yang berjarak hanya sekira 500 meter dari TKP,” terang Kompol Zulfikar.

Dalam perkara ini, petugas melakukan penyitaan barang bukti berupa sajam jenis badik dengan panjang sekira 28 cm, selimut warna putih dan biru muda. (***)

sumber: tribunews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Maluku – Aksi pembunuhan terhadap tiga orang di Desa Wailikut, Kecamatan Waisama, Kabupaten Buru Selatan, Maluku, menggegerkan warga, Sabtu, 2 Februari 2019 malam.

Tiga warga yang ditemukan tewas adalah Irma Saleky (37), Fauzan Ponotoreng (7) dan seorang bayi berusia 1 tahun yang belum diketahui identitasnya. Ketiganya tewas dengan luka senjata tajam.

Apa yang Terjadi Sampai Pilot Batalkan Penerbangan?, Ini Tanggapan Sriwijaya Air

Seorang petugas dari Polres Pulau Buru menyebutkan, salah seorang saksi yang juga tetangga para korban sempat melihat seorang lelaki tidak dikenal menyerang korban Fauzan dengan sebilah parang saat duduk di teras rumahnya sekira pukul 18.30 WIT.

“Ada warga yang melihat kejadian itu, korban diserang sebanyak dua kali, tapi saksi tidak mengenali wajah pria itu. Saat itu saksi langsung berteriak tutup pintu dan dia langsung masuk ke rumahnya sambil menutup pintu rapat-rapat,” kata polisi tersebut Ahad, 3 Februari 2019.

Dengan Terpaksa Program Belajar Warga Buta Huruf Kayong Utara Dihentikan, Ini Sebabnya

Menurut dia, saat itu salah seorang saksi lain kemudian keluar dan melihat tubuh korban sudah bersimbah darah lalu memberitahukan kejadian itu kepada keluarganya.

“Setelah mengetahui kejadian itu, saksi atas nama Yusuf langsung bergegas untuk melaporkan kejadian itu ke Sekretaris Desa. Namun dalam perjalanan dia bertemu salah satu keluarga korban dan dia memberitahukan kejadian itu kepadanya,” tambahnya.

Tips Aman Ketika Berada di Pesawat Bersama Balita

Beberapa saat kemudian, warga yang telah mengetahui kejadian itu kemudian berkumpul di depan rumah seorang warga almarhum Alim Nurlete dan melempari rumah tersebut. Warga mendatangi rumah itu karena warga melihat ada jejak darah di sekitar rumah tersebut.

“Warga kemudian melempari rumah tersebut, dan mereka meneriakkan pelaku agar keluar. Saat itu mereka melihat ada seorang pria langsung lari dari rumah menuju hutan,” katanya.

Tak Perlu Marah-marah, Begini Cara Kontrol Emosi saat Ketahuan Dibohongi

Beberapa saat kemudian, polisi datang ke lokasi kejadian kemudian masuk ke dalam rumah tersebut dan menemukan jasad Irma Saleky (37) dan bayi berusia 1 tahun yang belum diketahui identitasnya terkapar bersimbah darah.

“Saat masuk ke dalam rumah, ternyata ada dua jasad ditemukan di dalam dengan kondisi sangat mengenaskan,” tuturnya.

Kabid Humas Polda Maluku,Kombes Pol Muhamad Roem Ohoirat membenarkan adanya insiden pembunuhan tersebut.

“Iya benar ada tiga orang yang meninggal dunia dalam kasus pembunuhan itu,” katanya.

Dia menyebutkan, saat ini kasus tersebut masih dalam proses penyelidikan aparat kepolisian setempat.

”Masih diselidiki ya, Kapolres sedang menuju lokasi kejadian untuk pengusutan kasus itu saat ini,” ujarnya. (***)

sumber: kompas.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Lampung – Polisi mengungkap motif pembunuhan siswa SMP yang ditemukan tewas dalam kondisi leher terjerat dasi dan ikat pinggang di Kecamatan Seputih Mataram, Lampung Tengah.

Hanya demi memiliki sepeda motor, dua siswa SMP di Lampung Tengah tega menghabisi nyawa temannya sendiri.

Ini Kronologi Lubang Septic Tank yang Menewaskan 4 Warga di Jember

FY (15) dan DD, rekannya, diduga membunuh Axl Fernando (13), warga Kampung Rejosari, Kecamatan Seputih Mataram, Lampung Tengah, demi menguasai sepeda motornya.

Korban yang tercatat sebagai siswa SMP itu dihabisi dengan cara keji.

Ia ditemukan sudah tak bernyawa dengan kondisi leher terjerat dasi dan ikat pinggang, Rabu, 30 Januari 2019 dini hari.

Dua Bulan Menepi Karena Operasi, Marquez Kembali Tunggangi Motor

Keesokan harinya, Kamis, 31 Januari 2019, polisi berhasil menangkap FY, sementara DD masih dalam buruan polisi.

Kapolsek Seputih Mataram Iptu Setio Budi Howo mengatakan, FY adalah teman satu sekolah korban.

Terbongkarnya kasus pembunuhan ini, kata Setio, bermula saat polisi mendapatkan laporan dari kepala Kampung Sumber Agung soal penemuan mayat, Rabu, 30 Januari 2019 sekitar pukul 00.30 WIB.

“Pasangan” , Asal Indonesia Pelaku Bom Bunuh Diri di Gereja Filipina, Benarkah Ini Tujuannya?

Jasad seorang anak yang masih mengenakan seragam sekolah itu ditemukan di perkebunan karet Kampung Sumber Agung, Kecamatan Seputih Mataram.

Di sisi lain, aparat kepolisian juga menerima laporan dari keluarga Axl Fernando.

Pihak keluarga melaporkan bahwa Axl menghilang seusai pulang sekolah dan korban kali terakhir diketahui mengendarai sepeda motor.

Setelah mendapat laporan, Polsek Seputih Mataram langsung melakukan penyelidikan.

Polisi juga mencari keterangan kepada sejumlah saksi untuk mengetahui siapakah orang terakhir yang bertemu dengan korban.

“Kita lakukan penyelidikan dan mencari tahu korban terakhir pulang sekolah dengan siapa. Akhirnya diketahui korban pulang dengan pelaku (FY) dan satu rekannya lainnya (DD) yang saat ini masih buron,” kata Setio.

Kapolsek menambahkan, polisi menangkap FY di Kampung Sumber Agung, Kamis, 31 Januari 2019 sekitar pukul 20.00 WIB.

Turut diamankan sejumlah barang bukti, seperti bodi motor, lampu motor, dan pakaian yang dikenakan korban.

“Motif sementara pencurian dengan kekerasan (curas) disertai pembunuhan. Diduga karena pelaku ingin menguasai motor korban. Kondisi korban saat ditemukan, leher terlilit dasi dan ikat pinggang, serta terdapat luka luar di kepala dan badan,” beber Setio.

Saat ini polisi masih terus melakukan pendalaman perkara.

FY masih diamankan di Mapolsek Seputih Mataram guna penyidikan lebih lanjut.

Polisi juga terus melakukan pengejaran terhadap satu pelaku lainnya yang buron. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Lahat – Bak pepatah air susu dibalas air tuba, begitulah yang dilakukan Alfin Laguta (24) warga Jalan RE Martadinata Kelurahan Kota Negara Kecamaran Lahat, Kabupaten Lahat, terhadap ibu kandungnya Sri Nismawati (46).

Belum diketahui jelas apa motif lelaki yang sudah menikah ini mendorong dan menusuk perut ibunya dengan senjata tajam, yang pasti apa yang dilakukan sungguh tak patut dicontoh.

Peristiwa yang membuat warga sekitar sempat heboh ini bermula, Ahad, 27 Januari 2019 di kediaman korban. Saat itu, pelaku mendorong korban hingga tersungkur.

Melihat perlakuan anaknya, korbanpun lantas menyimpan pisau di pinggang celana. Namun, tersangka merampas pisau tersebut kemudian langsung menusukkan pisau tersebut kearah perut.

“Ya telah terjadi terjadi tindak pidana melakukan kekerasan fisik dalam lingkup rumah tangga atau penganiayaan terhadap ibu kandung yang dialami oleh korban, Sri Nismawati oleh sdr Alfin Laguta yang tak lain anaknya sendiri, “ungkap Kapolres Lahat, AKBP Ferry Harahap, SIK melalui Kasubag Humas Iptu Sabar T, Kamis, 31 Januari 2019.

Atas kejadian tersebut korban mengalami luka di bagian perut, dan melapor ke Polres Lahat.

Ditegaskannya, saat ini pelaku sudah diamankan.

Sementara, untuk barang bukti diamankan satu buah pisau berukuran 25 cm bergagang warna coklat.

“Jadi pas melihat korban ambil pisau pelaku langsung merebutnya dan seketika menusuknya,”ujar Sabar. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Binjai – Feni (40) terlihat lebih banyak diam, dan merana akibat ulah keji suaminya, Darma pria kelahiran 6 Januari 1974.

Bola mata Feni terlihat membiru dan pandangannya kabur pasca disiram air keras oleh suaminya di kediaman mereka di Jalan Wijaya Kusuma Nomor 12, Gang Nusa Indah, Lingkungan VI, Kelurahan Pahlawan, Binjai Utara, Senin, 21 Januari 2019.

Feni ibu dari sepasang anak, Dini Tamara dan Dimas tak bisa banyak beraktivitas lantaran menahan derita sakit di bagian wajahnya. Saat ditemui, Feni lebih banyak duduk bersandar di kursi di ruang tamu rumahnya.

Saat diwawancarai, Feni belum bisa banyak berbicara. Alhasil, Tribun Medan meminta bantuan abang ipar dari (suami dari kakak) Feni untuk menceritakan kejadian tragis yang dialami korban. Adalah Syafii yang memberi keterangan soal runut kejadian.

“Mulanya Feni dia berada di dapur. Kejadiannya kira-kira sekitar jam 9 pagi. Feni pas di dapur itu ada minta uang belanja. Disitu kata Feni kalau Darma membawa cangkir, dikira mau minum lah. Itu lah di dalam cangkir isinya air keras,” ‎ujar Syafii (64) bercerita santai ditemui di Jalan Danau Tondano, Gang Haunatas, Kelurahan Sumbermulyo Rejo, Binjai Timur, Rabu, 30 Januari 2019.

Syafii bilang, penyiraman air keras tersulut karena Feni minta uang belanja kepada suaminya. Saat itu Darma tidak memberikan uang sepeser sen pun. Malah, mendadak emosi dan langsung mencurahkan air keras di dalam cangkir ke wajah Feni.

“Jadi pas minta uang belanja, langsung di bilang Darma itu Mau duit? Ini untukmu,” ujar Syafii menirukan pengakuan Feni sambil menirukan kronologis kejadian.

Satu cangkir penuh air keras dicurahkan ke wakah Feni. Darma tega melakukannya kepada ibu dua anaknya dari arah samping. Saat itu Feni di sebelah kiri Darma dalam posisi duduk.

“Pas kejadian itu gak ada firasat buruk apa-apa. Gak disangka-sangka lah. Feni mengira dia (Darma) mau minum. Sepertinya ini sudah direncanakan. Barang buktinya sudah ketemu (oleh polisi),” beber Syafii.

Pasca penyiraman air keras, Feni menjerit kesakitan. Wajah, dada hingga hampir setengah badannya melepuh. Feni yang menjerit kesakitan langsung tak bisa membuk kedua matanya. Dan pandangannya menjadi rusak karena air keras.

“Itu adik saya kedua matanya parah. Kalau pas disiram, parah sekali mata kiri kalau dilihat. Agak kabur gak bisa jelas melihat. Tapi sekarang ini sebelah kiri yang mendingan.

Mata kanan yang masih kabur melihat. Jarak pandang tiga meter mata sebelah kiri masih bisa melihat tapi ya masih samar-samar. Semoga lah bisa balik normal semula,” Syafii berharap.

Dari cerita korban, anak Feni, Dini saat kejadian sedang berada di kamar. Dini yang mendengar jerit ibunya, kemudian keluar dari kamar menghampiri.

Dini yang masih duduk di bangku kelas 2 SM‎PN 11 Binjai sontak menjerit histeris membuntuti ibunya yang berlari ke rumah tetangga mencari pertolongan.

Dibeberkan Syafii bahwa Darma juga melakukan pengancaman pasca berbuat keji kepada istrinya. Sebelum kejadian, Feni juga sempat mencurahkan isi hatinya soal kelakukan Darma yang doyan judi.

“Darma juga ‎mengancam adik saya. Dibilangnya, puaskan matamu mandang-mandang itu. Ini kata adik Saya karena sebelum kejadian ada dia dua hari nginap di sini. Uang belanja enggak dikasih. Ada uang malah untuk berjudi,” beber Murniati, kakak kandung Feni.

Feni mendapat pertolongan usia membasuh air keras dengan air. Ia kemudian dibawa pihak keluarga ke Polsek Binjai Utara untuk melaporkan Darma pelaku tindak penganiayaan dalam rumah tangga. Namun, upaya Feni ditolak Polsek Binjai Utara.

“Orang Polsek Binjai Utara menolak. Kami disarankan untuk melapor ke Polres Binjai. Sesampai di Polres malah diminta untuk berobat dulu ke RSUD Djoelham. Kami seperti dibola-bolai. Setelah dari Djoelham, malah minta surat dari polisi. Kata polisi minta visum,” ungkap Syafii kesal dengan pelayanan pemerintah.

Setelah bolak-balik kantor polisi dan rumah sakit, laporan Feni akhirnya diterima oleh Polres Binjai sesuai dengan Laporan Polisi Nomor 040/I/2019/SPKT C/Res Binjai dalam dugaan tindak pidana penganiayaan. Laporan Feni diterima sesuai dengan Surat Tanda Penerimaan Laporan Pengaduan Nomor STPLP/024/I/2019/SPKT ‘C’ Res Binjai.

“Untuk perobatannya awalnya di Rumah sakit Djoelham, tapi dari situ dirujuk ke Rumah Sakit USU Medan. Jadi tiga hari sekali dicek. Butuh banyak biaya lah. Alhamdulillah ‎sekarang sudah mendingan Feninya. Tapi keluarga dari suami enggak ada yang mau tahu,” tukas Syafii.

Di sela perbincangan dengan Feni jurnalis mencoba mengajak Feni berkomunikasi. Dari jarak sekitar tiga meter, Feni wanita kelahiran 23 Oktober 1978 ini mengaku samar-samar melihat keberadaan orang yang berbicara dengannya.

“Bertahun-tahun (menikah), baru ini aku balas dendam,” ujar Feni menirukan ucapan Darma sebelum mencurahkan air keras.

Informasi teranyar, ‎Kasat Reskrim Polres Binjai, AKP Wirhan Arif menyatakan bahwa pihaknya telah mengamankan Darma. Saat ini Darma dibantarkan ke Lapas untuk proses pemberkasan perkara.

“Sudah ditangkap pelakunya (Darma). Sudah kami titipkan di Lapas. Tinggal menunggu dari pihak kejaksaan saja, sudah dilimpahkan ke jaksa,” pungkasnya. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Depok – Polisi menetapkan Romlah, 66 tahun, sebagai tersangka atas kematian bayi berusia tiga bulan di Perumahan Vila Santika, Kelurahan Rangkapan Jaya, Kecamatan Pancoran Mas, Kota Depok. Diduga bayi itu tewas akibat dianiaya oleh Romlah.

Kepala Satuan Reserse dan Kriminal Polresta Depok Komisaris Deddy Kurniawan mengatakan, Romlah bekerja sebagai pengasuh bayi. Ia kesal karena bayi yang diasuhnya rewel. Ia kemudian mencubit hidung dan bibir atas korban hingga berdarah. “Kemudian tersangka membersihkan darah dengan kain,” kata Deddy, Selasa, 29 Januari 2019.

BACA JUGA

Push Up Itu Buat Siswi SD Ini “Trauma” dan Tak Mau Kembali ke Sekolah

Banjir Longsor Melanda, Ratusan Warga Dipaksa Mengungsi

Karena korban tetap menangis, Romlah kemudian membuatkan susu di botol dan dimasukkan ke mulut korban. Namun bayi itu tetap saja menangis. Selanjutnya tersangka meletakan korban dalam posisi tengkurap di kasur. Romlah kemudian meninggalkan korban yang tetap menangis.

Sekitar 30 menit kemudian Romlah kembali menghampiri bocah yang diasuhnya. Saat itu korban sudah tidak bergerak. “Kemudian tersangka hendak membawa korban ke rumah neneknya pelaku memberhentikan mobil untuk meminta mengantar tapi si pengemudi tak bersedia,” kata Deddy.

“Maling, Maling” Teriak Korban dan Uang Rp 50 Juta Pun Melayang

Bentrok Antara PDIP dan Pengurus Masjid Jogokariyan Sepakat Berdamai

Menurut Deddy, saat itu warga sekitar curiga bayi yang diasuh Romlah sudah meninggal. Karena itu warga memanggil dokter untuk memeriksa.

Dokter menyatakan bayi itu sudah meninggal, kemudian tersangka diantara ke kantor polisi,” ujarnya.

Polisi menjerat Romlah dengan Pasal 80 ayat 3 UU RI Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak juncto Pasal 338 KUHP dengan hukuman penjara kurang lebih 15 tahun. Polisi menemukan lebam di bibir, hidung dan pipi korban.

“Korban meninggal karena mengalami penyumbatan pernafasan,” kata Deddy. Itu terjadi setelah tersangka meletakkan korban dalam posisi tengkurap padahal saat itu korban tengah menangis. “Ini mengakibatkan bayi tidak bisa bernafas hingga menyebabkan kematian. (***)

sumber: tempo.co

MEDIAKEPRI.CO.ID, Samarinda – Aksi kejahatan jalanan kembali terjadi di Samarinda, tepatnya di jalan KH Wahid Hasyim, Sempaja, Samarinda Utara Selasa, 29 Januari 2019 sekitar pukul 15.00 Wita.

Dari informasi yang dihimpun, korbannya merupakan seorang wanita yang menggunakan kendaraan roda empat.

Sebelum menjadi korban perampokan, korban berkendara dari arah simpang empat Sempaja, lalu berhenti di depan rombong gorengan, untuk membeli gorengan.

Rombong gorengan itu berada di pinggir jalan, tepat di samping Rutan Klas II A Sempaja.

Saat korban keluar mobil untuk membeli gorengan, berkisar hanya dua menit setelah turun dari mobil, korban tiba-tiba berteriak maling sambil berlari menuju ke mobilnya.

“Baru keluar dari mobil lalu dia nanya apa ada gorengan yang panas, setelah itu dia teriak maling-maling,” ucap Ahmad Saripuddin (52), penjual gorengan, Selasa, 29 Januari 2019.

Setelah melihat ada pencuri yang hendak membawa kabur tas berisi uang senilai kurang lebih Rp 50 Juta, dan laptop, korban lalu bergegas menghalau pencuri.

Tarik menarik antara pelaku dan korban pun sempat terjadi, bahkan, laptop yang ada di tas tersebut sempat terjatuh, namun pelaku berhasil membawa kabur tas berisi uang tunai tersebut.

Setelah lolos dari korban, pelaku sempat mendapatkan diadang warga sekitar.

Bahkan, salah satu pelaku yang menunggu di atas sepeda motor sempat terjatuh saat hendak ditangkap oleh warga, namun berhasil lolos.

Satu pelaku lainnya yang tertinggal oleh rekannya yang menggunakan motor, sempat berlari menuju ke arah simpang empat Sempaja, tiba-tiba terdapat pengendara motor lewat memberikan tumpangan kepada pelaku.

“Sempat dipukuli sama warga, tapi bisa lolos. Satu pelaku sempat jatuh dengan motornya, lalu kabur ke arah Bengkuring, sedangkan satu pelaku lainnya sempat berlari, tapi ada motor lewat berboncengan, pelaku yang lari itu ikut motor itu, jadi gonceng tiga mereka,” jelasnya.

“Jadi, kalau mereka semuanya pelaku, berarti ada empat orang dengan menggunakan dua motor. Kalau senjata tajam saya tidak lihat. Ibu itu sendiri memang langganan beli gorengan disini, katanya uang yang dibawa kabur sebesar Rp 50 Juta,” tambahnya.

Tidak jauh dari rombong gorengan itu, wanita paruh baya berprofesi sebagai pedagang durian yang ingin disebut mama Bella menjelaskan, saat salah satu pelaku terjatuh dari motor, dirinya sempat ingin melemparkan durian dagangannya ke pelaku, namun tidak jadi karena saat itu warga langsung bergegas mengejar pelaku.

“Sempat saya mau lempar pakai durian, tapi tidak jadi karena banyak orang berkumpul. Tapi anehnya mereka semua bisa lolos, padahal sempat ada yang dipukulin tadi,” jelasnya.

Bahkan, saat itu dirinya sempat membantu korban mengambil laptop yang terjatuh dari tas.

Dari pengamatannya saat kejadian, setelah korban memarkirkan dan turun dari mobil, terlihat dua pria dengan menggunakan motor berhenti di samping pintu mobil bagian depan, membuka pintu mengambil tas.

“Pokoknya belum lama setelah mbak (korban) itu turun dari mobil. Pelakunya ada yang kabur ke arah Bengkuring dan ada yang ke arah simpangan empat Sempaja,” jelasnya.

Kasubbag Humas Polresta Samarinda, Ipda Danovan menjelaskan, pihaknya belum dapat memberikan keterangan banyak terkait dengan kejadian itu, bahkan dirinya belum memperoleh data apapun perihal kejadian yang viral di media sosial itu.

“Belum dapat laporannya saya, kalau belum dapat datanya belum bisa saya beri keterangan,” ucapnya singkat saat dihubungi via telepon genggam.

Kejadian ini pun menambah panjang catatan kejahatan jalanan yang terjadi di Samarinda. Pada Januari tahun ini, terdapat sedikitnya lima kasus kejahatan jalanan dengan kerugian mencapai Rp 700 juta lebih. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Polewali Mandar – Diduga hanya karena saling bersenggolan saat acara kegiatan Maulid di Polewali Mandar, Sulawesi Barat, warga dari dua dusun bertetangga terlibat saling serang menggunakan senjata tajam.

Lima orang mengalami luka parah dievakuasi ke dua rumah sakit berbeda, sedangkan satu orang meninggal dunia di tempat kejadian.

DUAR! Gas Bocor Saat Kompor Dinyalakan Langsung Meledak

Hingga saat ini polisi masih siaga di lokasi kejadian untuk mengantisipasi segala kemungkinan pasca-kejadian.

Kapolsek Tinambung AKP Tajuddin mengatakan, bentrokan berdarah tersebut terjadi di Dusun Bala, Kecamatan Tuinambung, Polewali Mandar, Sulbar, pada Ahad, 27 Januari 2019.

Bendungan Jebol Ratusan Warga Hilang, Walikota: “Tragedi Ini Menghancurkan Kota Kami

Diduga ada warga Dusun Tallo dan warga Dusun Balla yang saling bersenggolan saat rombongan mereka melakukan arak-arakan kuda menari atau kuda patuddu.

Karena tak mampu menguasai diri dua warga yang saling bersenggolan tersebut terlibat bentrokan.

Padahal, keduanya ditengarai masih bersaudara. Akibatnya, acara Maulidan pun bubar. (***)

sumber: tribunnews.com

KRIMINALITAS

Sabtu | 26 Januari 2019

Sering Dihantui Buat Pembunuh Ini Menyerahkan Diri

MEDIAKEPRI.CO.ID, Palembang – Selama lima hari menjadi buronan polisi lantaran menjadi otak pembunuhan terhadap IA (20), Asri selalu berpindah tempat.

Tersangka mengaku, ia selalu dibayang-bayangi oleh sosok IA, yang tak lain adalah kekasihnya itu. Hal itu diakui Asri ketika menyerahkan diri di Polda Sumatera Selatan, Jumat, 25 Januari 2019.

Pebulu Tangkis Pasangan Nomor Satu Dunia Ganda Putra

Asri mengungkapkan, setelah membunuh korban, ia sempat berkelana menghindari kejaran petugas memakai sepeda motor yang dipinjam dari temannya di kawasan Kertapati, Palembang.

Setelah meminjam motor, Asri langsung menuju ke Kawasan Betung, Kabupaten Banyuasin, setelah itu menuju ke Kota Lubuk Linggau, Kabupaten Lahat, dan kembali ke Ogan Ilir.

Kurs Dolar AS Jatuh ke Level Terendah Setelah Penghentian Sementara Shutdown

“Empat hari saya bermotor menuju tiga kabupaten tersebut karena tak tahan selalu didatangi arwah korban,” ujar tersangka.

Ketika sampai ke Kabupaten Ogan Ilir, Asri pun menuju ke rumah kerabatnya. Di sana, ia disarankan untuk menyerahkan diri dan mempertanggung jawabkan perbuatannya tersebut.

“Keluarga sebelumnya kumpul ketika saya pulang. Akhirnya disarankan untuk menyerahkan diri dan diantar ke sini,” ujar Asri.

Asri adalah otak pelaku dari pembunuhan sadis terhadap IA. Korban yang berumur 20 tahun tersebut diketahui adalah kekasih pelaku sendiri.

Dari keterangan empat rekannya yang lebih dulu ditangkap, kurir narkoba itu tega membunuh korban karena dilatarbelakangi utang sebesar Rp 1,5 juta. Karena korban tak membayar, Asri lalu memperkosanya.

Korban yang mencoba melawan dipukul menggunakan kayu balok hingga tewas. Dalam kondisi meninggal, satu pelaku yakni Abdul Malik masih menyetubuhi korban. Lima pelaku ini lalu membawa jenazah IA ke kawasan Ogan Ilir bersama spring bed dan selanjutnya dibakar. (***)

sumber: kompas.com

KRIMINALITAS

Kamis | 24 Januari 2019

Cemburu Buta Bikin Pria Ini Masuk Penjara

MEDIAKEPRI.CO.ID, Sekayu – Cemburu buta yang dialami oleh Indra wasi (35) membuat ia harus merasakan dinginnya lantai penjara Mapolsek Lais Kabupaten Muba.

Pasalnya pelaku telah melakukan penganiyaan terhadap korban Eli hendri (34) yang menyebabkan korban menderita luka bacok di sekujur tubuh pada Rabu, 12 Desember 2018 sekitar pukul 07.00 WIB.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, peristiwa penganiyaan tersebut dilakukan oleh Indra Wasi ketika ia mendapat informasi bahwa istrinya berselingkuh dengan Eli Hendri yang belum tentu kebenarannya.

Karena sudah terbakar emosi pelaku langsung mengundang korban untuk bertandang ke rumahnya sendirian, tanpa menaruh rasa curiga undangan tersebut diterima tanpa adanya rasa curiga.

“Ya, kejadian tersebut berawal bahwa pelaku mendapatkan informasi bahwa istrinya selingkuh lalu ia mengundang korban kerumahnya.

Pada saat tiba di rumahnya, pelaku langsung menanyakan bahwa ia berselingkuh dengan istrinya, selanjutnya tanpa aba-aba pelaku langsung membacok korban pada lengan kiri dan kanan menggunakan sebilah golok,” kata Kapolres Muba AKBP Andes Purwanti SE MM, melalui Kapolsek Lais AKP Edy Siregar, Kamis, 23 Januari 2019.

Lanjut Edy, pelaku yang merupakan warga Dusun III Talang Ucin Desa Tanjung Agung Selatan usai melakukan pembacokan terhadap korban saat itu korban mencoba melarikan diri keluar rumah.

Namun, pelaku tetap mengejarnya sembari berteriak kepada warga sekitar bahwa korban telah berselingkuh dengan istrinya, karena masih emosi korban kembali membacok korban di punggunya.

“Korban berhasil melarikan diri ke rumah pamannya setelah kemarahan pelaku di redam oleh warga sekitar. Usai kejadian tersebut pelaku melarikan diri,”ujarnya

Pelarian pelaku setelah beberapa pekan akhirnya tercium, dimana pelaku ditangkap dipinggir jalan umum Dusun III Desa Tanjung Agunh Selatan Kecamatan Lais.

“Pelaku saat ini telah diamankan di Mapolsek Lais bersama barang bukti sebilah golok. Pelaku kita kenakan Pasal 351 ayat 2 KUHP dengan ancaman kurungan 5 tahun penjara,”jelasnya. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Pasuruan – Misteri penemuan dua jenazah pria yang ditemukan dalam kondisi hangus terbakar di Pasuruan, mulai menemukan titik terang.

Dua jenazah itu adalah jenazah Sya’roni (60), warga Dusun Pejaten, Desa Pajaran, Kecamatan Rembang, dan Imam Sya’roni (70), warga Desa Selorentek, Kecamatan Kraton, Kabupaten Pasuruan.

Mereka diduga korban pembunuhan.

Polisi kemudian mengamankan 3 orang yang diduga terlibat dalam pembunuhan.

Mereka adalah M Dhofir (59) dan istrinya Nanik Purwanti (30), warga Dusun Sumber Gentong, Desa Jati Gunting, Kecamatan Wonorejo.

Kesedihan Oki Setiana Dewi Ketika Melihat Ustadz Maulana Tidur Disamping Jenazah Istri

Satu tersangka lagi yang juga diamankan adalah Zainudin (30) warga Desa Wonosari, Kecamatan Wonorejo, Kabupaten Pasuruan.

Dua korban ditemukan tewas mengenaskan di depan rumah Nurul Huda, Desa Jati Gunting, Kecamatan Wonorejo, Kabupaten Pasuruan, Ahad, 20 Januari 2019 pagi.

Telah Ditemukan Mayat Terbungkus Kain Sprei di Dalam Tong Plastik, Siapakah Dia?

Kapolres Pasuruan AKBP Rizal Martomo menjelaskan, dalam pemeriksaan awal tersangka, terungkap ketiganya ini khususnya Dhofir dendam terhadap dua korbannya.

Kuat dugaannya, motifnya adalah Dhofir kesal karena pernah disantet sama kedua korban ini.

“Bagaimana detailnya kami masih kembangkan. Ini baru saja kami amankan para tersangkanya. Kami mohon waktu untuk bisa mencari tahu. Nanti kalau sudah ada hasil dari pemeriksaan akan kami sampaikan. Kalau perlu kami akan pers riliskan besok pagi,” tutup mantan Kapolres Pasuruan Kota ini.

Tewas Mengenaskan

Sebelumnya, dua pria ditemukan tewas mengenaskan di depan rumah Nurul Huda, Desa Jati Gunting, Kecamatan Wonorejo, Kabupaten Pasuruan, Ahad, 20 Januari 2019 pagi.

Dua laki-laki itu ditemukan dalam kondisi yang mengenaskan.

Kaki dan tangannya terikat dan sekujur tubuhnya dalam kondisi terbakar.

Nurul Huda mengetahui pertama saat dirinya membuka pintu rumahnya.

Ia melihat di depan bangunan rumahnya yang terbuat dari bambu itu ada benda besar.

Jangan Samakan Seperti Mesin, Ini Cara yang Tepat untuk Mengetahui Apakah Kamu Obesitas

“Saya tahunya kan pas Subuh itu ya. Masih gelap dan samar. Terus begitu saya dekati, ternyata itu manusia. Saya kaget karena tubuhnya terbakar semuanya. Gosong itu,” aku dia.

Ia pun tidak mengetahui darimana asal dua laki-laki yang ditemukan di depan rumahnya itu.

Ia juga baru saja tahu kalau ternyata itu dua mayat yang kondisinya terikat.

“Saya minta tolong warga dan kami lihat bersama-sama. Begitu saya lihat bersama warga, kondisinya sudah mengenaskan. Kami juga sempat menyiram air ke tubuh mereka. Karena saat kami lihat masih sedikit keluar asapnya,” akunya.

Sementara itu, Nurul Huda langsung melaporkan kejadian itu ke polisi.

Tak lama, kepolisian tiba di lokasi kejadian.

Korps Bhayangkara langsung mengevakuasi jenazah korban dan dibawa langsung ke RS Bhayangkara Pusdik Shabara Porong, Sidoarjo.

Jenazah diotopsi di sana. Selain itu, tim identifikasi Polres Pasuruan juga langsung melakukan pemeriksaan.

Sejumlah barang yang ada di lokasi kejadian diamankan.

Satreskrim Polres Pasuruan pun langsung melakukan olah tkp.

Kapolres Pasuruan AKBP Rizal Martomo menjelaskan, dari hasil olah tkp sementara, pihaknya berhasil mengidentifikasi identitas kedua mayat tersebut.

Itu terlihat dari sidik jari kedua korban yang ditemukan dalam kondisi terikat, berdempetan dan terbakar.

Mereka adalah Sya’roni (60) warga Dusun Pejaten, Desa Pajaran, Kecamatan Rembang, Kabupaten Pasuruan.

Satunya adalah Imam Sya’roni (70) warga Desa Selorentek, Kecamatan Kraton, Kabupaten Pasuruan.

“Kami masih melakukan penyelidikan. Mudah-mudahan kami bisa segera mengungkap kasus ini. Untuk sementara kami sudah mengetahui identitas korbannya. Kami juga masih mengumpulkan keterangan dari sejumlah saksi. Kami mohon doa agar bisa cepat mengungkap kasus ini,” jelasnya. (***)

sumber: tribunnews.com