KRIMINALITAS

MEDIAKEPRI.CO.ID, Tangerang – Jeri Kirana (21) diamankan Polsek Cisoka, Kabupaten Tangerang setelah mencuri peralatan rumah tangga pada toko milik Ahyani di Kampung Cisalak, Desa Cirendeu kecamatan Solear, kabupaten Tangerang. Pencurian itu dia lakukan bersama tiga orang rekannya, Rizal, Kiki dan Imron yang masih diburu.

“Para pelaku melakukan pencurian dengan pemberatan berupa tabung gas LPG, peralatan dapur wajan, kuali dan teko di toko tersebut dengan total Rp 3 juta,” terang Kapolsek Cisoka AKP Uka Subakti, Kamis, 17 Januari 2019.

Main di Freezer Berukuran Besar, Ketiga Bocah Ini Ditemukan Tewas

Usaha Guru Pelaku Sodomi Ini Gagal Setelah Polisi Menangkapnya di Bandara

Mereka masuk ke toko korban, melalui pintu samping dengan merusak pagar yang terbuat dari papan kayu. Dari hasil pencurian barang-barang tersebut dijual kemudian barangnya dipakai untuk foya-foya membeli minuman keras.

Tersangka Jeri juga sempat dibui karena kasus pencurian. Kini, dia kembali dijerat dengan Pasal Pencurian dengan Pemberatan 363 KUHPidana dengan ancaman penjara 7 tahun. (***)

sumber: merdeka.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Bengkulu – Petugas penyidik Polres Rejang Lebong , Bengkulu , menjerat pasal berlapis kepada Jumhari Muslim (33) tersangka pelaku pembunuhan sekeluarga di daerah itu, pada Sabtu, 12 Januari 2019 lalu.

Kapolres Rejang Lebong AKBP Jeki Rahmat Mustika, melalui Kabag Ops Polres Rejang Lebong AKP Ariansyah didampingi Kasat Reskrim AKP Jeri Antonius Nainggolan, Senin, 14 Januari 2019 sore, saat menggelar jumpa pers di Mapolres Rejang Lebong mengatakan, tersangka dijerat dengan tiga pasal dengan ancaman hukuman minimal 20 tahun penjara dan atau seumur hidup bahkan hukuman mati.

Jijik dengan Lendirnya, Ternyata Bekicot Setelah Diolah Terasa Nikmat dan Kaya Gizi

“Tersangka pelaku ini dijerat pelanggaran Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana, Pasal 338 tentang pembunuhan dan Pasal 365, tentang pencurian dengan kekerasan. Sedangkan untuk pelanggaran undang-undang perlindungan anak saat ini masih dikembangkan,” katanya seperti diwartakan Antara.

Berdasarkan pengakuan tersangka kepada petugas penyidik, aksi pembunuhan itu dilakukan tersangka pada Senin dini hari 12 Januari 2019 dengan menggunakan balok semacam alu, yang digunakan memukul kepala korban Hasnatul, dan kemudian menusuknya dengan pisau dapur yang ada di rumah korban.

Kesedihan dan Kelegaan Debby Sahertian Soal Meninggalnya Robby Tumewu, “Selamat Jalan Mas”

Sedangkan kedua anak korban dihabisi dengan cara dijerat dengan kabel carger laptop dan kabel sambungan listrik, kemudian dipukul dengan kayu reng atau balok persegi empat ukuran kecil sepanjang satu meter.

“Korban Melan dan Chyka ini berdasarkan pengakuan tersangka, dibunuh lantaran melihat ibunya dibunuh tersangka dengan menjerat lehernya dengan kabel carger laptop dan kabel sambungan listrik serta dipukul dengan kayu balok,” tambah dia.

Alhamdulillah.. CVR Lion Air JT610 Ditemukan, Ini Kronologi Penemuannya

Sejauh ini motif pembunuhan yang dilakukan suami ketiga almarhum Hasnatul Laili tersebut, dilatar belakangi dendam. Upaya rujuk setelah bercerai dua bulan lalu dengan korban tidak berhasil, karena korban menolak kembali dengan tersangka.

Tersangka sendiri tinggal satu kelurahan dengan korban, yang pada malam kejadian sengaja mendatangi rumah korban dan menunggu disamping rumah bagian belakang.

Duaarr.. Petir Menyambar dan Menewaskan Pemain Bola saat Bertanding, Tubuhnya Berasap di Lapangan

Saat menjelang subuh korban Hasnatul ke luar rumah langsung dipukul dengan alu dan diseret ke dalam rumah, kemudian aksi ini dipergoki anak korban sehingga anak-anak korban juga turut dibunuh.

Dalam kasus pembunuhan ibu beserta dua anaknya itu petugas selain mengamankan tersangka pelaku juga sejumlah barang bukti dua buah kayu berbentuk alu dan balok persegi empat (reng), pisau dapur berkarat, dua buah topi, baik yang dipakai saat pembunuhan dan satu lagi saat melarikan diri, gelang emas, tiga buah cincin, uang Rp520.000, STNK mobil korban, SIM pelaku, HP android, dan tas selempang.

Tersangka ini ditangkap petugas Polres Bengkulu Selatan pada Senin pagi sekitar pukul 05.00 WIB saat berada di wilayah itu dan berupaya kabur ke Krui, Lampung.

Tersangka kemudian digelandang ke Mapolda Bengkulu dan pada sore harinya dibawa penyidik ke Mapolres Rejang Lebong guna menjalani pemeriksaan lanjutan.

Kasus pembunuhan satu keluarga yang dialami Hasnatul Laili alias Lili (35) yang kesehariannya berprofesi sebagai pedagang pisang, dan dua anaknya Melan Miranda (16), pelajar kelas X Madrasyah Aliyah Negeri (MAN) Curup dan Chyka Ramadani (10) yang baru duduk di kelas III SD, yang tinggal di RT 08, Simpang Suban Air Panas, Kelurahan Talang Ulu, Kecamatan Curup Timur, terjadi pada Sabtu, 12 Januari 2019 lalu.

Ketiganya ditemukan meninggal dunia sekitar pukul 16.30 WIB, dan baru diketahui setelah keluarga korban mendobrak rumah kediamannya karena seharian tidak terlihat keluar rumah baik untuk sekolah maupun berdagang. (***)

sumber: suara.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Tulungagung – Puskesmas Kauman di Jalan Soekarno Hatta, Tulungagung, pada Kamis, 10 Januari 2019 malam heboh. Salah satu pasien melahirkan di kamar mandi puskesmas.

Yang membikin geger adalah bayi yang dilahirkan coba ‘dihilangkan’ dengan cara membuangnya ke kloset. Namun perbuatan kejam itu gagal. Tubuh bayi tersangkut di kloset.

Untuk mengeluarkan bayi, kloset harus dibongkar. Meski sudah diupayakan, namun nyawa bayi tak tertolong. Kekagetan belum berakhir sampai di situ karena yang melahirkan alias sang ibu kandung masih tercatat sebagai seorang pelajar yang masih berusia 16 tahun.

“Peristiwa berawal saat E, ibunya yang masih berusia 16 tahun, diantar orang tuanya ke puskesmas karena mengeluh sakit perut hingga nyeri pinggang. Saat itu petugas Puskesmas meminta ibu bayi untuk istirahat untuk menunggu observasi,” kata Kasubbag Humas Polres Tulungagung, AKP Sumaji, Jumat, 11 januari 2019.

Namun saat proses menunggu, tanpa sepengetahuan petugas piket, E menuju ke kamar mandi puskesmas dengan alasan ingin buang air besar. Saat berada di kamar mandi itulah E melahirkan. Petugas puskesmas baru mengetahui setelah ibu E melaporkan kejadian itu dan meminta tolong ke tenaga medis.

Ibu E merasa curiga karena anaknya terlalu lama berada di dalam kamar mandi. Ibu E kemudian mengetuk pintu kamar mandi dan dibukakan oleh anaknya.

“Saat ibu dari E memberitahu petugas Puskesmas Kauman, anaknya sudah melahirkan di kamar mandi, sedangkan posisi bayi separuh badannya masuk ke kloset,” ujarnya.

E sendiri membantah hamil. Untuk menutupi kondisi yang sebenarnya, E mengenakan pakaian besar dan jaket. Postur tubuh E juga agak gemuk.

“Sekilas memang tidak kelihatan kalau sedang hamil, karena posturnya agak gemuk, sedangkan dia juga pakai baju besar dan jaket. Tapi setelah dibuka oleh petugas kelihatan kalau perutnya besar, namun dia tetap membantah kalau hamil,” kata Kepala Puskesmas Kauman, Tulungagung, Aris Setiawan.

Saat itu pasien sempat mengaku tidak menstruasi, namun tetap membantah jika hamil. Dia beralibi tidak datang bulan lantaran mengonsumsi obat untuk sakit kalenjar getah bening yang diderita.

“Karena pasien tidak mengaku kalau hamil, kami tidak mungkin memeriksa lebih dalam menyangkut kandungan, kemudian pasien kami lakukan observasi,” ujar Aris.

Aris sendiri menemukan fakta dari kasus tersebut. Fakta yang dinilai tidak wajar dalam proses persalinan normal pada umumnya.

Aris Setiawan mengatakan beberapa fakta tersebut di antaranya adalah terputusnya tali pusar saat bayi ditemukan. Padahal untuk memutus tali pusar dibutuhkan benda tajam lantaran kondisinya yang kuat.

“Kalau hanya ditarik apalagi kondisi pasien masih lemas kelihatannya tidak mungkin, karena tali pusar itu kuat, jadi harus pakai alat. Kami masih belum tahu apakah dia bawa alat untuk memotong atau digigit,” kata Aris Setiawan, Jumat, 11 Januari 2019.

Fakta lain adalah posisi bayi saat ditemukan di dalam toilet, kedua kaki bayi dan sebagian badan berada di dalam lubang kloset, sedangkan bagian kepala dan tangah di luar lubang. Kondisi ini mengindikasikan tidak mungkin bayi tersebut keluar dari rahim dan langsung masuk ke dalam kloset.

“Karena kalau secara normal bayi itu keluar pasti kepalanya, memang ada kemungkinan tidak demikian tapi kecil. Terkait ini kami tidak berani menyimpulkan, karena yang bersangkutan tidak pernah periksa kehamilan sebelumnya, apakah sungsang atau tidak,” imbuh Aris.

Sedangkan menurut Kanit Perlindungan Perempuan dan Anak (UPPA) Polres Tulungagung, Ipda Retno Puji, kondisi bayi saat pertama kali ditemukan dalam kondisi bersih, hal ini diduga akibat disiram oleh ibu bayi.

“Tubuhnya sudah bersih yang ada darahnya itu di sekitar ibu bayi, karena posisi berdiri dan darah terus mengucur,” kata Retno di Polres Trenggalek.

Saat ini perkara ini masih dalam proses penyelidikan oleh UPPA Polres Tulungagung. Sejumlah barang bukti juga diamankan untuk memperkuat proses hukum lebih lanjut. Polisi juga akan mencari ayah biologis bayi tersebut. (***)

sumber: detik.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Belitung – Keluarga almarhum masih tidak menyangka jika Badarudin (22) adalah pelaku kasus pembunuhan pasangan suami-istri Animan (65) dan Misnawati (55) di pondok kebun Desa Simpang Rusa, Kecamatan Membalong, Kabupaten Belitung, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Ilpi Yanto, putra kandung korban mengatakan sebelumnya hubungan antara orangtuanya dan pelaku baik-baik saja layaknya hubungan saudara.

Bahkan orangtuanya selalu meminta bantuan pelaku untuk memanen lada saat musim panen tiba.

Tarif Tiket Pesawat tak Lagi Murah, Ini Kata Pengamat Penerbangan

Antasari Azhar: Ingat, Pelaku Teror Itu Akan Lebih Duluan Bergerak Daripada yang Akan Diteror

“Hubunganya sih biasa, namanya juga saudara. Kalau sedang panen sahang (lada) dia (pelaku) pasti dipanggil dan almarhum juga tidak sayang kalau ngasih upah ke dia,” kata Ilpi Yanto.

Badarudin bukan orang asing dalam kehidupan pasangan suami istri yang dibunuhnya.

Badarudin bisa disebut cucu pasangan ini.

Pasalnya, Badarudin adalah cucu dari abang kandung korban atau ayahnya Badarudin adalah anak dari abang kandung korban.

Jadi wajar, jika Badarudin memanggil pasangan ini sebagai kakek dan nenek.

“Iya masih ada hubungan saudara antara pelaku dan korban, dia ini (pelaku) cucu dari abang korban,” ujar kapolres.

Jajaran Satreskrim Polres Belitung masih terus melakukan pengembangan terhadap tersangka pembunuhan pasangan suami isteri, Badarudin.

Kasatreskrim Polres Belitung, AKP Bagus Krisna Ekaputra mengatakan, untuk sementara pihaknya akan menjerat tersangka dengan hukuman maksimal atas tindak pidana yang dilakukannya.

“Pelaku sudah kami tetapkan sebagai tersangka dan sudah ditahan di Mapolres Belitung. Pelaku sementara ini akan kami ancam dengan pasal pembunuhan dengan hukuman maksimal,” ujarnya.

Ia mengatakan, setelah melakukan pemeriksaan secara intensif kepada tersangka, pihaknya sudah menemukan barang bukti senjata tajam yang digunakan pelaku.

Menurut Bagus, barang bukti tersebut masih ditemukan di lokasi kejadian dan tidak sempat dibuang tersangka.

Pelaku Menyerahkan Diri ke Polisi

Tiga hari menjadi buruan polisi, Badarudin pelaku pembunuhan pasangan suami istri Animan (65) dan Misnawati (55) di pondok kebun, Desa Bantan, Kecamatan Membalong, akhirnya menyerahkan diri ke Polres Belitung, Rabu 9 Januari 2019.

Badarudin diketahui menyerahkan diri diantar seorang anggota keluarganya menggunakan sepeda motor.

Ia datang tepat di saat seluruh jajaran Polres Belitung sedang apel pagi.

“Pelaku sedang dalam pemeriksaan secara intensif untuk mengetahuai sejauh mana aksi yang dia lakukan, “ kata Kasat Reskrim Polres Belitung AKP Bagus Krisna Ekaputra.

Pihak kepolisian mengapresiasi langkah yang diambil pihak keluarga lantaran berhasil membujuk terduga pelaku untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Badarudin mengakui perbuatan di hadapan penyidik Polres Belitung membunuh pasangan suami istri yang tak lain adalah kakek dan neneknya.

Dalam menjalankan aksi kriminalnya, Badarudin mengaku seorang diri atau tak ada seorang pun yang membantu.

Tindakan itu dilakukan Badarudin di sebuah pondok kebun Desa Simpang Rusa (sebelumnya Desa Bantan), Kecamatan Membalong, Kabupaten Belitung, Kamis 3 Januari 2019 sekitar pukul 19.30 WIB.

“Tadi sudah diintrogasi‎ dari jajaran Satreskrim, kejadian itu dilakukan pada malam Jumat pekan lalu. Berdasarkan pengakuan pelaku, dia melakukan perbuatan itu seorang diri,” ujar Kapolres Belitung AKBP Yudhis Wibisana.

Pelaku Mengaku Tersinggung

Berdasarkan hasil interogasi, jajaran Satreskrim Polres Belitung berhasil mengungkap kronologis pembunuhan pasutri dari pengakuan Badarudin (22) terduga pelaku.

Menurut Kapolres Belitung AKBP Yudhis Wibisana terduga pelaku sudah menceritakan awal mula sampai terjadinya pembunuhan tersebut.

Kejadian bermula pada saat pelaku mendatangi pondok korban dalam keadaan mabuk pada Kamis, 3 Januari 2019 ‎berniat meminjam motor.

“Tapi tidak dipinjamkan oleh korban yang dalam hal ini Animan (kakek korban). Lalu pelaku merasa tersinggung dengan perkataan korban karena kalau dipinjamkan sering bikin ribut lah,” ungkap Yudhis Rabi 9 Januari 2019.

Karena merasa tersinggung dan dalam kondisi mabuk, akhirnya pelaku mencabut sebilah pisau yang diselipkan di pinggangnya.

Lalu, satu tusukan bersarang di perut kanan Animan‎ tapi korban melakukan perlawanan.

Akhirnya pelaku mengambil sebilah parang yang terletak di dekat pintu pondok dan digunakan untuk membacok korban dua kali di bagian perut serta leher.

“Melihat kejadian itu, Misnawati istri Animan ini mencoba membantu suaminya. Jadi dia dorong pelaku ini,” katanya.

Nahasnya, akibat dorongan tersebut Misnawati justru ikut menjadi pelampiasan kemarahan pelaku.

Pelaku kembali menusuk Misnawati dua kali di bagian perut serta satu kali bacokan di leher bagian belakang.

“Setelah melihat dua korban ini sudah tidak sadarkan diri, pelaku langsung melarikan diri. Berdasarkan pengakuan, pelaku sembunyi di kebun orang tidak kenal di sekitaran Jalan Akil Ali, Kelurahan Pangkal Lalang, Kecamatan Tanjungpandan dan mengonsumsi miras jenis arak,” jelas Yudhis.

Pihak kepolisian masih belum sampai pada kesimpulan adanya dugaan Badarudin nekat melakukan aksi kriminalnya lantaran pengaruh mental yang tidak baik.

Faktanya, pihak kepolisian menemukan kaleng bekas lem di tempat sampah di sekitar pondok kebun tersebut.

Ia menambahkan untuk lebih memperjelas kronologis yang diceritakan pelaku, jajaran Satreskrim Polres Belitung langsung melakukan pra rekontruksi di lokasi kejadian.

Informasi terkait pembunuhan pasutri oleh cucu sendiri ini sebenarnya sudah merebak di kalangan masyarakat Belitung.

Namun, pihak kepolisian sengaja untuk tidak terlalu membesar-besarkannya dengan alasan agar tidak ada aksi main hakim sendiri kepada pelaku.

Syukurlah langkah itu tepat, lantaran pelaku sudah lebih dahulu menyerahkan diri ke pihak berwenang.

“Semua info yang didapat makin menguat dan menjurus kepada pelaku. Kenapa kami tidak viralkan untuk mencegah terjadinya main hakim sendiri, apalagi terdapat keluarga korban anggota TNI, Alhamdulillah hari ini pelaku sudah menyerahkan diri,” kata kapolres. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Bogor – Andriana Yubelia Noven Cahya (18) tewas mengenaskan dengan luka tusuk di bagian dada. Siswi SMK Baranangsiang ini ditusuk seorang pria saat perjalanan pulang.

Polisi tengah memburu pembunuhnya. Noven, panggilan akrab korban, akan dimakamkam di Kota Bandung, Kamis, 10 Januari 2019.

Ini fakta-fakta pembunuhan Noven:

Dibunuh di Gang Sepi

Noven tewas usai ditusuk seorang pria di bagian dada kiri. Saat kejadian pada Selasa, 8 Januari 2019 pukul 16.00 WIB, lokasi penusukan di gang Jalan Riau, Baranangsiang, Bogor Sangat sepi.

Gang lokasi penusukan tak jauh dari kos-kosan Noven tinggal. Pelaku sengaja menunggu Noven yang baru pulang sekolah. Hingga akhirnya keduanya berpapasan dan penusukan terjadi.

Pembunuhan Terekam CCTV

Aksi pembunuhan yang menimpa Novendi terekam kamera CCTV di sekitar lokasi. Pelaku terlihat kamera, menunggu korban yang berjalan di gang.

Saat berpapasan, pelaku menusukkan senjata tajam di bagian dada kiri. Korban terkapar, pelaku langsung lari kencang meninggalkan lokasi.

Korban yang masih mengenakan seragam sekolah tersebut ditemukan warga sekitar pukul 16.00 WIB. Warga mengira pingsan, namun ternyata bersimbah darah dan tak bernyawa.

“Pas saya lihat, ternyata bukan pingsan, itu cewek meninggal. Bajunya penuh darah, katanya ada luka tusuk,” kata pedagang nasi bernama Neneng.

Luka Tusuk Sedalam 22 Sentimeter

Noven tewas usai pisau menembus dadanya sedalam 22 sentimeter. Remaja itu ditemukan bersimbah darah dan masih mengenakan seragam sekolah.

Sadisnya, pisau itu dibiarkan menancap di dada Noven. Pelaku lalu melarikan diri usia menusuk Noven.

“Korban alami luka tusuk di dada sedalam 22 sentimeter, lebar 3 sentimeter,” kata Kasat Reskrim Polresta Bogor Kota, AKP Agah Sonjaya, Selasa, 8 Januari 2019

Pelaku Berinisial S

Polisi memburu pelaku pembunuhan Noven. Polisi tinggal menunggu waktu untuk menangkap pria berinisial S tersebut.

“Keberadaannya sudah diketahui, inisialnya S,” kata Kapolresta Bogor Kota Kombes Hendri Fiuser saat ditemui di Mapolres Bogor, Rabu (9/1).

Menurut polisi, saat ini S berada di luar kota Bogor. Petugas segera menangkap terduga pelaku tersebut.

“Informasinya begitu. Kata anggota saya, masa anggota saya bohong. Tapi tadi belum ditangkap dan tinggal menunggu dia keluar, dia sedang mengikuti acara,” ucap Hendri. (***)

sumber: detik.com

KRIMINALITAS

Rabu | 09 Januari 2019

DOOR!! Dua Begal Sadis Ini Ditembak Polisi

MEDIAKEPRI.CO.ID, Banyuwangi – Dua tersangka begal asal Kecamatan Muncar ditangkap jajaran Reserse Kriminal Polres Banyuwangi. Satu di antara tersangka itu terpaksa harus dilumpuhkan lantaran melawan saat penangkapan.

Mereka adalah Andy Lala dan Tosari asal Dusun Palurejo, Desa Tembokrejo, Kecamatan Muncar. Keduanya tertangkap setelah melakukan aksinya pada pertengahan Desember 2018.

Lukita Berharap, BP Batam Dipimpin Profesional

“Pada awal Januari ini kita berhasil menangkapnya, dengan TKP di Kecamatan Muncar. Korbannya, Rizky Dwi Purnomo (18) asal Dusun Krajan, Desa Tembokrejo, Kecamatan Muncar,” ungkap Kasat Reskrim Polres Banyuwangi, AKP Panji Prathista, Rabu, 9 Januari 2019.

Motif pelaku, kata Panji, keduanya memberhentikan kendaraan korban di tengah jalan. Kemudian memaksanya memberikan barang berharga maupun uang.

Tragis! Truk yang Dikendarai Pria Mabuk Itu Menabrak Sepeda Motor dan Menewaskan Guru Beserta 3 Anaknya

“Mereka memberhentikan korban yang saat itu bersama kawannya bernama Galang. Kemudian, tersangka Tosari mengalungkan clurit kepada Rizky, dan tersangka lainnya menodongkan pisau kepada kawan korban. Tersangka mengambil HP korban uang senilai Rp17 ribu, kemudian tersangka melarikan diri,” terang Panji.

Tersangka ini, lanjut Panji, terbilang sadis karena tak segan melukai korbannya. “Akibat kejadian itu, karena korban sempat berusaha mempertahankan barangnya, sehingga lehernya terluka agak dalam karena clurit tersangka,” jelasnya.

WOOW! Jawaban Adik Billy saat Ditawari Kerjaan Kriss Hatta, Uta: “Gue Beli Cucian Mobilnya”

Sementara itu, menurut pengakuan Tosari, dirinya melakukan aksi begal itu sebanyak tiga kali. Hasil dari aksinya itu digunakan untuk membeli minuman keras.

“Caranya memberhentikan motor di jalan, mendatangi pemuda yang mabuk di suatu tempat. Hasilnya buat mabuk (minum minuman keras) itu saja,” kata Tosari.

Dari tangan tersangka, Polisi mengamankan barang bukti berupa 5 handphone, dua motor matic, clurit dan pisau. Atas perbuatannya itu, Polisi mengganjar Pasal 365 ayat 1 dan 2 KUHP dengan ancaman hukuman 9 tahun penjara. (***)

sumber: inilah.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Nurhayati (36) seorang perempuan lajang, ditemukan tewas mengenaskan di lorong Apartemen Green Pramuka City, Tower Chrysant, Sabtu, 5 Januari 2019 pukul 17.30 WIB.

Di tubuhnya didapati ada sepuluh luka tusukan.

Anda Penyuka Pedas, Cumi Tepung Saus Blackpepper Pilihan yang Pas

Karenanya polisi memastikan bahwa warga Jalan Pramuka Sari V, Kelurahan/Kecamatan Rawasari, Jakarta Pusat itu, merupakan korban pembunuhan.

Kapolrestro Jakarta Pusat Kombes Roma Hutajulu menuturkan korban pertama kali ditemukan oleh petugas keamanan apartemen.

Tiduran di Bawah Fly Over, Tak Disangka Segini Penghasilan Gelandangan Ini Selama Seminggu

“Korban ditemukan tergeletak di lorong tower Chrysant lantai 16, Apartemen Green Pramuka City. Ada 10 luka tusukan di tubuhnya,” kata Roma, Ahad, 6 Januari 2019.

Menurutnya dalam kasus ini polisi telah melakukan olah TKP dan memeriksa 6 orang saksi.

Duh Artis cantik Ini Ditangkap Polisi Terkait Kasus Prostitusi Online, Siapakah Dia?

“Yakni 4 orang sekuriti atau petugas keamanan dan dua orang pengelola apartemen. Jadi totalnya ada 6 saksi yang sudah kami periksa,” kata Roma.

Dari hasil penyelidikan awal kata dia diketahui korban belum menikah atau masih lajang.

“Jenasah korban sudah dibawa ke RSUD Cempaka Putih untuk diotopsi, sebagai bahan alat bukti,” katanya.

Balada Brigpol Dewi: Diperas Pacar hingga Ditipu Napi Sampai Membuatnya Dipecat Tidak Hormat

Roma memastikan pihaknya akan mendalami kasus ini untuk mengidentifikasi pelaku pembunuhan.

“Penyidik masih mendalami kasus pembunuhan ini, untuk mengungkap pelakunya,” kata Roma.(***)

sumber: tribunnews.com

Korban yang dirampok ternyata majikan tempat pelaku Mad bekerja

MEDIAKEPRI.CO.ID, Indramayu – Seorang pemuda berinisial Mad (21), warga Desa Karangasem, Kecamatan Terisi, Kabupaten Indramayu, digelandang petugas Reskrim Polsek Cikedung karena mencuri.

Aksi pencurian itu dilakukan oleh pelaku karena terdesak keperluan untuk modal menikah lagi.

Kapolres Indramayu, AKBP M Yoris MY Marzuki melalui Kapolsek Cikedung, Iptu I Gusti Indrayana, menjelaskan, korban dari aksi pencurian tersebut adalah seorang juragan beras di Blok Badak, Desa Mundakjaya, Kecamatan Cikedung. Korban tak lain adalah majikan dari pelaku.

“Dari hasil keterangan pelaku menyebutkan, perbuatan itu dilakukannya seorang diri,” ujar Gusti, Rabu, 2 Januari 2019.

Gusti mengatakan, pelaku juga mengaku aksi pencurian tersebut baru pertama kali dilakukannya. Pelaku, yang telah beristri, rencananya akan menggunakan hasil curiannya itu untuk menikah lagi dengan kekasih gelapnya yang bekerja sebagai pelayan di warung remang-remang (warem).

Adapun modus yang dilakukan pelaku adalah mengambil uang milik korban dengan cara masuk melalui pintu depan rumah korban yang tidak terkunci. Setelah itu, pelaku mengambil uang di atas kasur majikannya yang ditutupi bantal dan dibungkus dua kantong plastik warna hitam.

Tak cukup sampai di situ, pelaku juga menggasak perhiasan milik majikannya yang ada di dalam lemari. Usai melakukan aksiya itu, pelaku kabur melalui pintu samping rumah korban.

Korban yang mengetahui harta bendanya dicuri, kemudian melaporkan peristiwa tersebut kepada polisi. Hanya selang beberapa hari setelah kejadian itu, polisi berhasil menangkap pelaku.

Dari tangan pelaku, polisi mengamankan sejumlah barang bukti, di antaranya uang tunai senilai Rp 52 juta lebih, dua gelang rantai emas, satu buah cincin emas dan satu buah liontin atau bandul emas.

“Akibat perbuatannya itu, Mad terancam masuk penjara lima tahun karena melanggar Pasal 363 KUHP,” tandas Gusti. (***)

sumber: republika.co.id

MEDIAKEPRI.CO.ID, Samarinda – Berakhir sudah pelarian Muhammad Juhairi (45), pemukul balok di kepala belakang dan wajah kiri wanita yang sedang salat di masjid, Jumat, 28 Desember 2018 lalu. Tidak ada alasan lain yang dia lontarkan, selain hanya karena perlu makan, hingga dia gelap mata.

Pria dengan tato di lengan kiri itu dengan lugas menjawab pertanyaan demi pertanyaan yang dilontarkan wartawan, yang menunggunya di Mapolresta Samarinda, sore ini.

GEGER! Telah Ditemukan Mayat Pria Tanpa Kepala dan Sudah Membusuk, Siapakah Dia?

“Cuma karena lapar saja Pak, tidak punya uang jadi begitu,” kata Juhairi, kepada wartawan, Rabu, 2 januari 2019.

Sebelum kejadian pemukulan itu, Juhairi sempat menyapa korban, yang hendak mengambil air wudhu, dan menunaikan salat Dzuhur. Namun, dia menjadi gelap mata lantaran melihat tas korban.

Di Tahun Politik Ini Rupiah di Prediksi Stabil, Ini Pemicunya

“Di tasnya, kalau ada uang, saya mau ambil. Tapi tidak jadi karena saya bukan seperti itu (seperti perampok). Setelah saya pukul 2 kali, saya pergi,” ujarnya.

Keseharian Juhairi, memang pekerja tambang batubara di Sangasanga. Namun, ada kalanya dia mendapat jadwal off bekerja. Kedatangan dia di Masjid Al Istiqomah di Jalan Pangeran Antasari pun, sekadar menumpang.

“Saya siap tidak dikasih uang, cukup tempat tinggal saja. Sampai 3 hari saya di masjid itu,” ungkap Juhairi, yang mengaku punya 8 anak dari 2 wanita yang dia nikahi di Sangasanga.

Biadab!!! RM Tega Kubur Bayinya dalam Keadaan Hidup-hidup, Ini Kata Polisi

Juhairi masih merasa heran, dia bisa tega memukuli wanita yang sedang salat di masjid. “Saya memang dikasih uang, dikasih makan tapi ya kurang. Ya itu tadi Pak, cuma karena lapar saja,” ungkapnya.

Selama pelariannya dari Samarinda ke Sangasanga, lalu ke Balikpapan, dan kemudian ke Sangatta di Kutai Timur dan Bontang, sambil membawa motor tetangganya, Juhairi terus merasa gusar, dan dihantui perasaan bersalah setiap harinya.

Tragis ya, Seorang Istri Menyaksikan Suaminya Diterkam Buaya Tapi Tak Mampu Berbuat Apa-apa

Dia juga mengaku sadar, gara-gara perbuatannya bakal jadi buruan polisi, dan akhirnya viral di media sosial. “Saya bingung, mau menyerahkan diri. Akhirnya saya pulang kembali ke rumah (di Sangasanga),” terangnya lagi.

Korban pemukulan Merissa Ayu Ningrum (20), kini mengalami gangguan penglihatan di mata kirinya, pascapemukulan menggunakan balok itu. Merissa cedera di tengkuk kepala belakang dan di bagian wajah sebelah mata kirinya. “Saya tidak tahu kondisinya Pak. Mudah-mudahan tidak terjadi dengan anak perempuan saya,” tutup Juhairi. (***)

sumber: merdeka.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Sidoarjo – Sesosok bayi dikubur dalam keadaan hidup-hidup di Sidoarjo. Pelaku adalah RM (18), warga Sedati,Sidoarjo.

“Memang benar ada salah satu warga Desa Kwangsan yang telah mengubur bayi hasil hubungan gelap secara hidup-hidup,” kata Kapolsekta Sedati AKP I Gusti Made Merta saat ditemui detikcom di Mapolsekta, Rabu, 2 januari 2018.

Tragis ya, Seorang Istri Menyaksikan Suaminya Diterkam Buaya Tapi Tak Mampu Berbuat Apa-apa

Gusti mengatakan penguburan dilakukan RM di pemakaman umum Dusun Wagir Desa Kwangsan, Sedati Sidoarjo pada Ahad, 30 Desember 2018 sekitar pukul 18.00 WIB. Dua hari kemudian pada Selasa, 1 januari 2019 sekitar pukul 18.00, RM kembali membongkar kuburan bayinya tersebut.

Awan Hitam Berbentuk Ombak di Makassar Sepanjang 18 Km, Pertanda Apa Ini?

Gusti menambahkan saat di lokasi, RM langsung diamankan polisi. Bayi yang dikubur kemudian jenazahnya dibawa ke RSUD Sidoarjo.

Bencana di Awal Tahun, Puluhan Orang Meninggal Tertimbun Tanah Longsor

“Saat ini yang bersangkutan masih dalam penyelidikan, untuk pengembangan kasus tersebut,” tandas Gusti. (***)

sumber: detik.com

Kapolda meminta warga tak mengonsumsi sopi.

MEDIAKEPRI.CO.ID, Ambon – Kapolda Maluku Irjen Pol Royke Lumowa geram dengan kasus pemerkosaan terhadap bocah berusia dua tahun di Kabupaten Maluku Tenggara.

Pelaku diketahui adalah orang yang mabuk akibat miras tradisional jenis sopi.

Film “Terlalu Tampan” Tayang 31 Januari 2019, Yuk Kenali Karakter Pemainnya

“Kemarin ada laporan dari Kapolres Malra, akibat sopi menyebabkan pelaku memperkosa seorang bocah yang masih berusia dua tahun hingga pingsan,” kata Kapolda saat memimpin upacara kenaikan pangkat 593 personel Polri dan dua PNS di Ambon, Senin 31, Desember 2018.

Kapolda mempertanyakan mengapa anak dua tahun yang harus menjadi korban sopi, bukan kambing atau hewan lainnya karena itu bukan termasuk perbuatan pidana. Jika pelaku bisa dihukum mati, maka Royke mengaku mendukung.

Apes! Rumah Permanen Milik Warga Ini Ludes Terbakar saat Ditinggal Potong Rambut2018/12/31

“Jika bisa dilakukan hukuman mati maka diterapkan saja, sayangnya ancamannya tidak seperti itu. Jadi menyesal kalau saudara kita yang menjadi korban seperti itu dan semuanya berangkat dari konsumsi sopi,” katanya.

Kapolda mengajak semua satker di lingkup Polda Maluku agar masing-masing membuat tulisan khusus tentang bahaya sopi di Maluku yang memicu kriminalitas dan mengganggu kamtibmas.

“Bongkar” Cuma Ada di Indonesia, Krishna Murti: Sepakbola Milik Orang-orang Kupret

Menurutnya, bukan hanya orang Maluku yang minum sopi. Tetapi warga negara Indonesia lain dari berbagai suku yang datang ke sini juga pasti ada yang minum dengan alasan menghormati adat dan kebiasaan atau pergaulan.

Sebanyak 593 personel Polri dan dua PNS yang mendapatkan kenaikan pangkat satu tingkat lebih tinggi hari ini terdiri dari 37 perwira dan 234 bintara di Polda Maluku. Ditambah 18 perwira dan 304 bintara dari berbagai Polres ditambah dua orang PNS.

Kapolda mengajak jajarannya untuk mempertebal iman dan tiak mudah tergoda dengan miras maupun narkoba.

“Saya yakin kita semua sanggup untuk melakukan ini dengan penuh tanggung jawab dan kenaikan pangkat satu tingkat lebih tinggi, sama harapannya juga harus lebih banyak berbuat,” katanya. (***)

sumber: republika.co.id

MEDIAKEPRI.CO.ID, Martapura – Lantaran sering dibully dan dihina, Safrudin (19), warga Desa Sari Berangas Kecamatan Bataguh

Kabupaten Kapuas Kalteng nekat memenggal kepala kawannya M Rahmadi (21) warga Desa Tatah Layap Kabupaten Banjar.

M Safrudin (19) kini sudah mendekam dalam sel tahanan Polres Banjar. Proses hukumnya ditangani oleh Satreskrim Polres Banjar.

Dari kisah dia, selama perjalanan, kabur ke arah Bati-bati, dia mengaku tidak dihantui korban meski sudah dipenggal kepalanya dan membuangnya ke bawah Jembatan Barito.

Malah dia merasa nyenyak tidur di kontrakannya sampai polisi bisa menangkapnya.

“Gak. Saya gak dihantui, saya biasa saja. Malah saya tidur pulas,” kata Safrudin kamis, 27 Desember 2018

Pelaku ditangkap di rumah kontrakannya di Gang 55 Desa Bentok Kecamatan Bati-bati Kabupaten Tanahlaut, Kamis, 22 November 2018 sekitar pukul 00:50 Wita.

“Ya benar saat itu memang malah posisi tidur pelakunya tidur pulas,” kata salah satu anggota kepolisian.

Terungkap pelaku membuang kepala korban ke bawah Jembatan Barito usai menghabisi korban. Hasil keterangan tersangka karena tidak senang dibully, kini Safrudin dijerat pasal 340 KUHP dan karena ada barang-barang korban hilang juga dikenakan kenakan pencurian dan kekerasan.

Hasil rekontruksi mengungkap tabir di mana pelaku sudah melakukan perencanaan sebelum memenggal kepala korban dengan mengiming-imingi korban pekerjaan di daerah Palangkarya, Kalimantan Tengah melalui sambungan telepon.

Setelah berhasil membujuk korban melalui telepon tersangka dan korban pun bertemu dan berboncengan menuju arah luar kota.

Saat tiba di Desa Lokbaintan pada tengah malam, tersangka berpura–pura ingin buang air kecil. Atas permintaan tersangka korban pun ikut bahkan lebih awal buang air kecil.

Karena gelap dan sepi tersangka pun melancarkan aksinya membunuh korban yang tak lain adalah rekannya sendiri. Korban pertama kali ditebas menggunakan parang yang sengaja dibawa tersangka dari belakang saat tak sengaja handphone korban terjatuh saat buang air kecil.

Pada adegan adegan rekonstruksi ke 34 terungkap fakta mencengangkan korban sempat memberikan perlawanan sengit terhadap tersangka.

Korban sempat mencekik leher tersangka berusaha menghindari tebasan parang tersangka dan juga berusaha mengeluarkan pisau yang dibawa korban dari celananya untuk memberikan perlawan terhadap tersangka.

Usai membunuh korban, tersangka pun membungkus kepala korban dengan tas, lantas dibawa ke jembatan barito.

Dari atas Jembatan Barito, kepala korban beserta identitas korban di buang ke Pulau Bakut di bawah Jembatan Barito untuk menghilangkan barang bukti. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Probolinggo – Selama kurun tahun 2018, publik dikejutkan aksi main hakim sendiri. Seorang kepala desa (Kades) di Probolinggo menginstruksikan warganya membakar hidup-hidup maling motor.

Hal itu dilakukan karena warga yang tinggal di Desa Tlogosari kerap kehilangan motor. Amarah warga memuncak saat pelaku, Samhadi alias Essam (40) menuntun sepeda motor milik Butran (59), sekitar pukul 01.00 WIB, Senin, 9 Agustus 2018 lalu.

Aksi warga Desa Andung Sari, Kecamatan Tiris, mendorong sepeda motor keluar halaman rumah, terbentur pagar sehingga menimbulkan suara. Butran terbangun dan terkejut melihat motornya dibawa Samhadi.

Sontak Butran berteriak maling dan warga yang sedang melaksanakan ronda malam mengepung Samhadi. Begitu tertangkap, tubuh Samhadi diseret sejauh 500 meter.

Oleh warga, pelaku kemudian dihajar menggunakan kayu dan batu, serta diarak ke tengah jalan Desa Tlogosari. Tampak Pak Kades, Saton, di tengah kerumunan massa. Bahkan sang kades turut mengawal aksi warga sambil menenteng senapan angin untuk menakut-nakuti. Saat itu ada kekhawatiran pelaku melarikan diri. Apalagi pelaku dikenal memiliki kekebalan tubuh.

Dalam sekali perintah Pak Kades, warga langsung menyiram bensin dan membakar hidup-hidup Samhadi. Bahkan sang kades mengaku siap bertanggung jawab atas segala sesuatu yang akan terjadi.

Rupanya, pria yang baru menjabat sebagai kades 2 tahun lalu itu malu karena wilayahnya kemalingan motor. Dalam semalem, 3 warganya kehilangan motor tanpa tahu siapa pencurinya.

“Dia malu karena desanya kemalingan. Semalem 3 motor warga hilang,” kata Kasatreskrim Polres Probolinggo, AKP Riyanto.

Kasat menceritakan jika kades merupakan orang yang malang melintang di dunia preman. Oleh warga dijadikan kades agar wilayahnya aman. Namun siapa sangka, suatu hari wilayahnya kemalingan.

“Padahal sebelumnya aman, tiba-tiba motor warga hilang,” tegasnya.

Pada akhirnya polisi mengamankan 7 orang pelaku pembakaran. Ketujuh warga Desa Tlogosari, Kecamatan Tiris tersebut ditangkap di rumah masing-masing tanpa perlawanan. Pak Kades Tlogosari, Saton pun turut menghuni sel tahanan Polres Probolinggo.

Kades dan 7 pelaku aksi main hakim sendiri dijerat Pasal 340 Sub 338 Sub 170 Ayat 3 Sub 351 Ayat 3 KUHP, ancaman hukuman seumur hidup, atau paling lama 20 tahun kurungan penjara. (***)

sumber: detik.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Polisi menemukan sejumlah proyektil di jalur bus Transjakarta di Jalan Jatinegara Barat, Jakarta Timur.

Polisi menyebut korban bernama Letkol CPM Dono Kuspriyanto, anggota Polisi Milter TNI AD.

Menanggapi Laporan Remaja Korban Asusila, Ini yang Akan Dilakukan Polisi

Saksi mata mendengar empat kali letusan sebelum Letkol Dono ditembak pada pukul 22.30 WIB.

Korban tewas di dalam mobil Kijang yang dikendarainya dengan nomor 2334-34.

Nomor -34 di akhir merujuk pada kendaraan Pusat Polisi Militer.

Di lokasi jatuhnya proyektil peluru telah dilingkari pihak kepolisian.

Ada sekira delapan lingkaran yang telah ditandai polisi di jalur bus Transjakarta tersebut.

Jalan sempat ditutup sementara, kini Jalan Jatinegara Barat arah Matraman sudah dapat dilalui kendali oleh para pengendara.

4 kali letusan

Saksi mata yang enggan namanya disebut sempat mendengar letusan tembakan

sebelum Letkol CPM Dono Kuspriyanto ditemukan tewas di dalam mobil yang ia kendarai.

Letkol CPM Dono mengendarai Toyota Kijang nomor pelat 2334-34.

Nomor -34 di akhir merujuk pada kendaraan Pusat Polisi Militer.

“Kronologinya enggak tahu pasti, tapi sempat dengar beberapa kali tembakan,

kalau tidak salah empat kali,” ucap saksi mata di lokasi pada Rabu 16 Desember 2018 dini hari.

Tak lama sesudah mendengar bunyi tembakan tersebut, ia melihat sebuah mobil

di jalur Transjakarta, Jalan Jatinegara Barat, Jakarta Timur nampak oleng.

“Pas saya lihat mobilnya masih jalan, tapi sudah oleng,” ungkap dia.

Akibatnya, kondisi mobil yang dikendarai oleh anggota TNI tersebut rusak kaca belakang.

Polisi masih memburu orang tak dikenal yang menembak Letkol CPM Dono.

Penembakan berlangsung pada Selasa, 25 Desember 2018 sekira pukul 23.30 WIB. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Probolinggo – Seorang pria asal Kecamatan Gading, Kabupaten Probolinggo, tega membunuh istrinya sendiri. Ia cemburu buta karena istrinya diduga main serong dengan ayah kandung pria tersebut alias mertuanya sendiri.

Pria tersebut diketahui bernama Jumali (23) warga Desa Batur, Kecamatan Gading, Kabupaten Probolinggo. Ia tega membunuh istrinya yang bernama Siti Holifah (19).

Kapolres Probolinggo, AKBP Eddwi Kurnianto, menuturkan peristiwa pembunuhan tersebut terjadi sejak tahun lalu yaitu pada Sabtu 30, Desember 2017. Namun baru terungkap pada awal Desember 2018 ini.

“Tersangka tidak bisa mengelak lagi setelah hasil uji forensik menunjuk ada bekas cekikan di leher korban,” ujarnya, Senin, 24 Desember 2018.

Eddwi membantah pihaknya bukan lambat dalam menangani kasus tersebut. Sebab, keluarga korban baru melapor peristiwa tersebut ke polisi pada 8 Maret lalu, setelah mereka curiga dengan kematian ibu satu anak itu.

Pascalaporan tersebut, Satreskrim kemudian langsung memeriksa sejumlah saksi, termasuk tersangka. Pelaku sendiri mengelak telah membunuh dengan alasan istri sakit kanker.

Tak segera mendapatkan titik terang, Satreskrim melakukan pembongkaran makam Siti Holifah untuk diautopsi pada September lalu dan akhirnya menemukan titik terang. Berdasarkan hasil pemeriksaan dan bukti forensik Polda Jatim, polisi kemudian mengamankan Jumali pada 12 Desember lalu.

“Sementara ini tidak ada orang lain yang terlibat. Berdasarkan pengakuan, tersangka membunuh istrinya itu seorang diri. Namun demikian, kami masih akan melakukan penyelidikan lebih lanjut,” kata mantan Kabagops Polrestabes Surabaya ini.

Jumali sendiri mengaku tega membunuh istrinya karena selingkuh dengan Pak Li, ayah kandungnya. Di mana pada suatu hari, ia mendapati istrinya tidur bersama sang ayah. Sehingga Jumali merasa gelisah dan tidak tenang.

“Ndak ada pikiran untuk membunuhnya. Cuma pada suatu malam sekitar pukul tiga, saya merasa gelisah. Kemudian saya cekik istri saya itu. Tidak ada yang bantu, sendirian saja,” tutur pria yang tinggal di Dusun Rabunan itu. (***)

sumber: kumparan.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Polisi masih memburu pelaku pembunuhan Sisca Icun Sulastri (34) di unit Apartemen Kebagusan City, Jakarta Selatan. Sisca sempat membalas chat pada Ahad, 16 Desember 2018, lalu tak ada lagi respons.

Penjual nutrisi herbal ini ditemukan tewas pada Selasa, 18 Desember 2018 sore, setelah kontak komunikasi ‘terputus’. Perempuan berinisial IR kepada polisi mengaku terakhir berkomunikasi via WhatsApp pada Ahad, 16 Desember 2018, sekitar pukul 11.45 WIB.

Keesokan harinya, sekitar pukul 22.03 WIB, Senin, 17 Desember 2018, Sisca Icun Sulastri tak lagi merespons panggilan telepon IR.

Komunikasi terakhir di hari Minggu juga diterangkan saksi berinisial WS. Pria ini sempat datang ke unit apartemen yang disewa Sisca, lalu terakhir berkomunikasi chat WA pada pukul 15.35 WIB, Ahad, 16 Desember 2018. Pada hari Senin, Sisca Icun Lestari tak juga bisa dihubungi.

Curiga ada yang janggal, IR dan WS mendatangi unit apartemen Sisca Icun di Tower A pada sekitar pukul 14.30 WIB, Selasa, 18 Desember 2018.

Tapi pintu unit kamar Sisca terkunci hingga akhirnya dibuka paksa dan ditemukan Sisca sudah tewas.

Sisca Icun Sulastri langsung dibawa ke RS Fatmawati untuk autopsi. Dari hasil visum ditemukan luka akibat senjata tajam.

“Ada tiga (tusukan), satu di ulu hati, satu lengan, dan satu (luka tusukan) di pinggul,” ujar Kapolres Jakarta Selatan Kombes Indra Jafar kepada wartawan, Rabu, 19 Desember 2018. (***)

sumber: detik.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Polisi berkoordinasi dengan Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) untuk mengamankan dua remaja yang menjadi korban dugaan penganiayaan Habib Bahar bin Smith dan keluarga korban. Kedua korban juga mendapat pengamanan dari kepolisian.

“Telah mengirimkan surat dan juga telah berkoordinasi dengan pihak LPSK untuk mengamankan kedua korban dan keluarganya, serta menempatkan anggota pengamanan melekat,” kata Karo Penmas Divisi Humas Polri, Brigjen Dedi Prasetyo dalam keterangan tertulisnya, Rabu 19 Desember 2018.

Dugaan penganiayaan oleh Habib Bahar dan rekan-rekannya itu terjadi pada Sabtu, 1 Desember 2018 di Pesantren Tajul Alawiyyin di Pabuaran, Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Dua orang yang menjadi korban adalah MHU (17) dan ABJ (18).

Mereka dianiaya karena mengaku sebagai Habib Bahar dan temannya sesama habib. Kasus penganiayaan ini dilaporkan ke Polres Bogor pada Rabu, 5 Desember 2018 dengan laporan polisi nomor LP/B/1125/XI/I/2018/JBR/Res.Bgr.

Dedi menuturkan pasca-dianiaya, kedua remaja itu telah dibawa berobat oleh polisi ke RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur dan diberi pengawalan ketat dua orang anggota polisi. Pengawalan diberikan selama proses hukum terhadap Habib Bahar selesai di tingkat pengadilan.

“Telah membawa kedua korban berobat ke RS Soekanto dan juga melakukan pengamanan melekat sebanyak dua orang anggota terhadap kedua korban dan kedua orang tua korban sampai selesai peradilan,” ujar Dedi.

Polda Jabar telah menetapkan Habib Bahar sebagai tersangka pada Selasa, 18 Desember 2018 kemarin. Penetapan tersangka dan penahanan dilakukan usai memeriksa Bahar.

Habib Bahar bin Smith mengajukan permohonan penangguhan penahanan terkait kasus kliennya. Pihak pengacara meminta polisi juga menggali alasan Bahar melakukan dugaan penganiayaan itu.

“Dari video yang ada, Habib Bahar tidak mungkin bahwa, apa namanya, memang beliau yang melakukan, tapi kan ada alasannya kenapa melakukan itu. Ini harus digali lebih dalam oleh polisi,” kata pengacara Habib Bahar, Sugito Atmo Prawiro, saat dihubungi detikcom, kemarin. (***)

sumber: detik.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Sembilan remaja diamankan Polres Tangerang Selatan. Para pelaku ditangkap setelah melakukan tindak pidana penganiayaan, pengeroyokan dan pembunuhan terhadap Anwar Ibrahim (19), warga Teluknaga, Kabupaten Tangerang, usai menyaksikan konser Slank di HUT Trans Tv, Lapangan Sunburst BSD, Tangerang Selatan, Ahad, 16 Desember 2018.

Sembilan pelaku berinisial AM (17), Riki Ramli (19), MRH (15), AM (17), ADP (17), AGH (15), MRS (17), DAS (16), RI (17). Polisi masih memburu dua pelaku lain RATP (17) dan AP (16).

“11 orang kami tetapkan sebagai tersangka kasus tindak pidana pembunuhan, pengeroyokan dan atau pencurian dengan kekerasan terhadap korbannya, Anwar. Dari 11 pelaku ini, 10 orang pelaku adalah anak di bawah umur, hanya satu orang pelaku dewasa,” kata Kapolres Tangerang Selatan, AKBP Ferdy Irawan, Selasa, 18 Desember 2018.

Dia menerangkan, aksi penganiayaan hingga korban meninggal dunia ini terjadi pada Ahad, 16 Desember dini hari. Saat itu korban yang berasal dari Teluknaga, Kabupaten Tangerang, datang bersama sejumlah rekannya.

“Usai menyaksikan pesta musik, korban dan rekan-rekannya menumpang mobil truk ke arah Tangerang, kemudian dihadang kawanan pelaku, saat melintasi jalan Raya Serpong Utara,” ujar dia.

Pelaku yang datang mengadang truk dengan mengancam senjata tajam kemudian meminta harta benda para penumpang truk. Tak hanya itu, pelaku juga menyerang korban dengan sebilah celurit. Serangan ini mengenai paha kiri korban yang mengenai pembuluh arteri di pahanya.

“Korban meninggal saat di RS, karena sabetan senjata tajam mengenai pembuluh arterinya,” kata dia.

Di hadapan polisi, pelaku yang merupakan fans musisi Iwan Fals (OI), mengaku aksi tersebut, merupakan aksi balasan, atas pemalakan yang dialami salah satu pelaku ADP (17), yang dialami usai menyaksikan konser Iwan Fals di Pondok Cabe, Tangerang Selatan, pada November kemarin.

“Saya dipalak, dompet sama HP saya diminta, maka saya balas dendam dan ajak teman-teman saya,” ucap ADP di Mapolres Tangsel.

Dia mengaku, aksi pengadangan itu terjadi kepada semua fans Slank yang melintas di Jalan Raya Serpong. “Sebelumnya ada dua kendaraan juga kami berhentikan, minta HP dan dompet,” ucap dia.

Atas perbuatan pelaku dijerat pasal 351, subsider pasal 170 dan 338 dengan ancaman pidana penjara maksimal 20 tahun penjara. (***)

sumber: merdeka.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Surabaya – Polisi membekuk pemalsu identitas yang dipakai untuk pengajuan kredit secara online. Pelaku yakni Diki Widyanarko (34). Bersama istrinya, Diki memalsukan identitas mulai dari KTP, KK, SIM, hingga NPWP.

“Tersangka DW membuat sejumlah dokumen seperti KTP, SIM, NPWP, dan kartu keluarga (KK) yang semuanya untuk digunakan belanja daring dengan pembiayaan dari perusahaan kredit,” kata Kasubdit V Ditreskrimsus Polda Jatim AKBP Harissandi di Mapolda Jatim, Surabaya, Senin, 17 Desember 2018.

Harissandi menjelaskan modus operandi tersangka melakukan penipuan dengan cara membuat dokumen dan identitas palsu.

Identitas tersebut digunakan Diki pada aplikasi untuk mengajukan persyaratan pembelian barang seperti handphone di situs jual beli online melalui Home kredit. (***)

sumber: detik.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Riau – Polda Riau resmi menetapkan perusak bendera dan baliho Partai Demokrat berinisial HS sebagai tersangka. Dari pengakuan pelaku, aksinya tersebut karena disuruh seseorang.

“Pelaku sudah ditetapkan sebagai tersangka,” kata Kabid Humas Polda Riau Kombes Pol Sunarto Ahad, 16 Desember 2018.

Sunarto mengungkapkan, HS akan menjalani penahanan terhitung mulai hari ini. “Sudah dilakukan penahanan di Polresta Pekanbaru,” imbuh Sunarto.

Meski begitu, Sunarto belum dapat menyampaikan pasal yang disangkakan kepada tersangka HS.

Perusak bendera Partai Demokrat yang dirobek terjadi pada Sabtu 15, Desember 2018, insiden tersebut bertepatan saat kunjungan Ketum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Sebelumnya SBY, bereaksi keras terkait peristiwa perobekan sejumlah bendera dan baliho Partai Demokrat di Pekanbaru.

SBY meminta para kader untuk mengalah dan menurunkan bendera dan baliho yang tersisa agar kejadian serupa tak terulang.

“Saya perintahkan kepada Sekjen, pemimpin Demokrat Riau dan Pekanbaru agar semua atribut ucapan selamat datang atas kunjungan saya ke Riau dan bendera Partai Demokrat diturunkan,” kata SBY dalam keterangannya, Sabtu, 15 Desember 2018. (***)

sumber: kumparannews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Denpasar – Aksi bule Inggris Auj-e Taqaddas penampar staf Imigrasi di Bandara Ngurah Rai Bali kembali bikin geleng-geleng kepala. Saat menjalani persidangan dia terus memberikan bantahan hingga akhirnya hakim marah.

Ruangan sidang di PN Denpasar, Bali, Rabu, 12 Desember 2018 kala itu masih ramai dengan terdakwa lain yang mengantre untuk menjalani sidang. Aktivitas PN Denpasar juga masih sibuk dengan para pengunjung yang hilir-mudik, tiba-tiba terdengar suara keras dari salah satu ruangan sidang.

Ternyata ruangan itu sedang digunakan untuk proses sidang Taqaddas yang didakwa menampar staf imigrasi di Bandara Ngurah Rai Bali.

Suara keras itu sontak mengundang perhatian banyak orang, beberapa di antaranya mengintip dari jendela kaca ruangan sidang, maupun berjejal di pintu ruangan sidang. Di kursi terdakwa Taqaddas yang memakai kaos hitam dan memakai rok merah selutut itu sedang memberikan bantahannya usai mendengarkan keterangan saksi.

“Orang ini memegang paspor saya. Saya minta diputarkan rekaman CCTV,” ujarnya saat menanggapi keterangan saksi.

Empat orang petugas imigrasi, Bramiartha, Ardy, Satrio W, dan Andhika yang duduk sebagai saksi terlihat hanya tertegun mendengarkan keterangan Taqaddas. Tak berhenti sampai di situ, Taqaddas menyebut semua keterangan saksi itu bohong.

Dia merasa ‘dikeroyok’ 10 orang saat berada di ruangan Imigrasi, padahal sebelumnya menurut korban penamparan, Ardy, teman-temannya yang lain itu datang ketika mendengar keributan dan pasca-penamparan yang dilakukan Taqaddas.

Majelis hakim juga terlihat jengah dengan sikap Taqaddas yang tak menghormati jalannya sidang. Hingga akhirnya hakim anggota Angeliki Handajani memintanya diam.

“Shut up, shut up,” ujar hakim Kiki sambil menunjuk Taqaddas yang tak bisa diam itu.

Saat para saksi dipersilakan kembali ke tempat duduknya, Taqaddas yang duduk di kursi pesakitan itu masih terus membantah dan mengomel soal keterangan saksi itu. Ketua majelis hakim Esthar Oktavi pun menengahi dan meminta Taqaddas diam, namun tak diindahkan.

“Cukup ya, agenda selanjutnya dipersilakan menghadirkan saksi meringankan kalau ada,” ujar Esthar.

Taqaddas kemudian menunjukkan daftar nama-nama yang bakal menjadi saksinya di persidangan, salah satunya Konjen Inggris yang berkedudukan di Jakarta. Hakim menilai saksi-saksi yang akan dihadirkan Taqaddas tak relevan dengan kasusnya sebagai pelaku penamparan.

“Ini dijelaskan saksinya apakah ada di lokasi saat penamparan itu terjadi? Ini tidak terkait perkara yang overstay, tapi apakah benar anda menampar,” ujar hakim Esthar.

“Yes I slap him, but your imigration officer missbehaved,” terangnya sambil meminta majelis hakim melihat CCTV.

Meski sudah dibantu penerjemah memahami pernyataan hakim, Taqaddas masih tetap ngotot untuk minta dihadirkan para saksi yang dianggapnya meringankan itu. Sambil berdiri dari kursinya lagi-lagi dia minta majelis hakim membuka rekaman CCTV untuk mengetahui alasannya menampar petugas.

Taqaddas juga tak mengindahkan instruksi majelis hakim agar duduk di kursinya dengan tertib. Dia terus berdiri sambil mengacung-ngacungkan lembaran kertas yang dibawanya dan diklaimnya sebagai bukti.

Hakim Kiki merasa penjelasan Taqaddas bertele-tele dan tidak sesuai dengan pokok perkara kemudian meminta hakim Esthar menutup sidang. Sebelum menutup sidang hakim meminta jaksa untuk menghadirkan saksi yang relevan dengan perkaranya, sementara Taqaddas masih terus ribut soal saksi meringankan dan membantah keterangan para saksi staf imigrasi.

“Sudah cukup, sidang dilanjutkan Senin, 17 Desember 2018,” kata Esthar sambil mengetuk palunya.

Raut wajah pun Taqaddas masih terlihat kesal. Hingga keluar sidang dia terus mengomel soal aksi penamparan yang dilakukannya dan klaimnya soal sikap petugas yang tidak sopan sambil menunjukkan kertas yang berisi foto anggota tubuhnya yang disebutnya lebam akibat ‘dikeroyok’ itu.

“Saya sudah memberikan rekaman CCTV, mereka (staf Imigrasi) itu semua bohong. Sudah ada 10 orang di ruangan itu saat saya masuk, mereka bilang di ruangan itu hanya ada empat orang. Itu bohong,” ujarnya tanpa henti.

Aksinya itu pun masih mengundang perhatian pengunjung sidang yang hilir mudik di PN Denpasar. Sebagian hanya tertawa dan geleng-geleng mendengar dia terus bicara hal yang sama sambil marah-marah. (***)

sumber: detik.com

KRIMINALITAS

Rabu | 12 Desember 2018

Ratusan Masa Ngamuk di Polsek Ciracas, Ini Faktanya

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Polsek Ciracas di Jalan Raya Bogor, Jakarta Timur, dirusak sekelompok orang. Massa yang mengamuk diduga mencari pemukul rekannya.

Peristiwa perusakan tersebut terjadi pada Selasa, 11 Desember 2018, sekitar pukul 22.00 WIB. Sejumlah mobil dan sepeda motor yang ada di parkiran digulingkan, dirusak, lalu dibakar.

Kapolda Metro Jaya Irjen Idham Azis menduga massa yang melakukan perusakan mencari tahu soal keberadaan pelaku pemukulan rekannya. Kapolda Metro juga memerintahkan para pelaku perusakan diungkap.

Ini Faktanya:

Didatangi Massa

Mapolsek Ciracas di Jl Raya Bogor, Jakarta Timur, didatangi sekelompok orang.

“Informasinya, ada orang ramai-ramai ke Mapolsek Ciracas, ramai banget sampai jalanan tidak bisa dilewati. Karena lokasinya di perbatasan Ciracas-Kramat Jati, saya juga standby di sini,” ujar Kapolsek Kramat Jati Kompol Nurdin AR saat dimintai konfirmasi, Selasa 11, Desember 2018, pukul 23.00 WIB.

Nurdin belum tahu pasti apa penyebab massa berkerumun ke Mapolsek Ciracas. Dia mengatakan massa datang sekitar pukul 22.00 WIB. “Infonya saya juga belum tahu pasti apakah ada kasus atau bukan,” kata dia.

Lalu lintas sempat ditutup dan dialihkan saat massa mendatangi Polsek, standby di sini,” ujar Kapolsek Kramat Jati Kompol Nurdin AR saat dimintai konfirmasi, Selasa 11, Desember 2018 malam.

Mobil Dirusak dan Dibakar

Mobil-mobil dan sepeda motor yang terparkir di depan Polsek digulingkan massa dan dirusak.

Belum diketahui dari mana massa yang menggulingkan kendaraan tersebut. Bangunan Polsek tampak berantakan. Kaca-kaca pecah dan beberapa fasilitasnya rusak.

Adapun mobil yang yang terbakar merupakan mobil polisi dan umum. Ada sembilan unit yang terbakar.

Massa Diduga Cari Pemukul Rekannya

Kapolda Metro Jaya Irjen Idham Azis belum mengungkap identitas massa yang merusak Polsek Ciracas, Jakarta Timur. Namun diduga massa mencari tahu soal keberadaan pelaku pemukulan rekannya.

“Kita tidak tahu massa dari mana. Itu massa yang kurang puas atas penanganan kasus yang terjadi sehari sebelumnya. Kemudian, dampak dari ketidakpuasan itu, sebagian massa itu, yang kurang-lebih 200 (orang), merangsek masuk untuk mengecek apakah benar tahanan yang memukul rekan mereka sudah ditahan,” kata Irjen Idham di Polsek Ciracas, Jaktim, Rabu, 12 Desember 2018 dini hari.

Pelaku Perusakan Dicari Polisi

Kapolda Metro Jaya Irjen Idham Azis memerintahkan agar pelaku di balik massa yang anarkistis merusak Polsek Ciracas diungkap.

“Saya sudah perintahkan Dirkrimum dan Kapolres Jaktim untuk lidik supaya kita bisa ungkap pelaku di balik massa yang anarkistis ini,” kata Kapolda di Polsek Ciracas, Jalan Raya Bogor, Jakarta Timur, Rabu, 12 Desember 2018.

Kapolda menjelaskan pihaknya belum tahu siapa massa yang merusak Polsek dan berlaku anarkistis tersebut.

7 Tahanan Dipindah

Tujuh orang tahanan di Polsek Ciracas, Jakarta Timur, dipindahkan ke Polda Metro Jaya. Pemindahan dilakukan setelah Polsek Ciracas dirusak massa.

“Tahanan sendiri jumlahnya tujuh dalam keadaan aman dan sehat, sudah dipindahkan ke Polda Metro Jaya,” ujar Kapolda Metro Jaya Irjen Idham Azis di Polsek Ciracas, Rabu, 12 Desember 2018 dini hari.

Menurut Idham, pelayanan Polsek Ciracas akan berjalan seperti biasa.

Diduga Terkait Pengeroyokan Anggota TNI

Kapolda Metro Jaya Irjen Idham Azis menduga perusakan tersebut terkait kejadian oknum anggota TNI yang terlibat cekcok dengan tukang parkir beberapa hari lalu.

“Apakah terkait kasus pemukulan TNI di Ciracas?” tanya wartawan di Polsek Ciracas, Jalan Raya Bogor, Jakarta Timur, Rabu, 12 Desember 2018 dini hari.

“Kemungkinan analisisnya ke sana, tapi beri saya waktu untuk teman-teman krimum dan Kapolres bekerja. Kalau ada perkembangan yang sudah didapat, saya sampaikan,” jawab Kapolda Metro Jaya Irjen Idham Azis. (***)

sumber: detik.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jayapura – Jenazah Serda Handoko, Anggota Batalyon 755/Yalet, salah satu korban meninggal saat posnya di Pos TNI 755/Yalet di Mbua, Kabupaten Nduga diserang kelompok kriminal bersenjata (KKB) pada Senin,3 Desember 2018 lalu, akan diterbangkan ke Sorong, Papua Barat, untuk dimakamkan.

Sempat Dilamar, Tapi Inces Lagi-lagi Batal Menikah, Ini Kata Sang Adik

“Jenazah akan kita bawa ke Sorong, sebab keluarganya ada di sana dan akan dimakamkan di sana,” kata Komandan Danyon 755 Yalet, Brigif 20 IJK, Devisi III Kostrad, Letkol Agus Rediyanto kepada wartawan, Rabu, 5 Desember 2018.

Tragedi Penembakan Masal di Papua, Diduga Ini Pemicunya

Menurut Agus, pihaknya hari ini juga akan ke Wamena, Kabupaten Jayawijya, untuk nelihat langsung anggotanya yang meninggal akibat penyerangan KKB di Mbua, Nduga.

Tersinggung karna Ditagih Hutang, Fajar Nekat Perkosa dan Bunuh Kasir Toko Bangunan

“Saya sendiri belum tahu informasi penyerangan anggota saya itu. Sebab, pada saat kejadian, komunikasi kami dengan SSB terputus-putus,” ujarnya.

Sebut Pak Harto “Bapak Korupsi dan Guru Korupsi”, Petinggi PDIP Dipolisikan

Dengan adanya kejadian penyerangan ini, Agus telah memerintahkan anak buahnya di seluruh Pos TNI di wilayah Nduga untuk tetap bersiaga. “Untuk personel di Pos TNI di Mbua, apakah nanti ditarik atau tidak, terkait dengan penyerangan itu. Saya belum bisa memutuskan. Semua tergantung pimpinan tertinggi,” ujarnya.

Dalam rilis Kapendam XVII Cenderawasih, Kolonel Inf Muhammad Aidi, aksi kebrutalan KKB juga terjadi ke Pos TNI Mbua di Nduga. Pada Senin, 3 Desember 2018 pukul 05.00 WIT Pos TNI 755/Yalet, tempat empat korban pekerja PT Istaka Karya yang lolos dan diamankan, diserang pihak KKB bersenjata standar militer campuran panah dan tombak.

Hanya Karna Model Gaun yang Dikenakannya, Artis Cantik Ini Terancam 5 Tahun Penjara. Kok Bisa, Ini Alasannya

“Serangan diawali dengan pelemparan batu ke arah pos, sehingga salah seorang anggota yonif 755/Yalet atas nama Serda Handoko membuka jendela dan langsung tertembak dan meninggal dunia,” kata Aidi, Rabu, 5 Desember 2018.

Kemudian, anggota pos membalas tembakan, sehingga terjadi kontak senjata sejak pukul 05.00 WIT hingga pukul 21.00 WIT. Oleh karena situasi tidak berimbang dan kondisi medan yang tidak menguntungkan, maka pada Selasa, 4 Desember 2018pukul 01.00 WIT dini hari, Danpos memutuskan untuk mundur mencari medan perlindungan yang lebih menguntungkan.

“Saat itulah, salah seorang anggota atas nama Pratu Sugeng tertembak di lengan,” kata Aidi. Pada waktu yang sama, Selasa, 4 Desember 2018 pukul 07.00 WIT, Satgas gabungan TNI/Polri berhasil menduduki Mbua dan melaksanakan penyelamatan serta evakuasi korban. (***)

sumber: kumparan.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Boyolali – Fajar Sigit Santoso, kini harus mempertanggungjawabkan perbuatannya karena membunuh dan memperkosa rekan kerjanya sendiri, kasir toko bangunan di Boyolali. Pemuda berumur 19 tahun itu pun dijerat pasal berlapis. Dia terancam dihukum mati.

Sebut Pak Harto “Bapak Korupsi dan Guru Korupsi”, Petinggi PDIP Dipolisikan

80 Menit di Udara, Wing Air ‘Terpaksa’ Bawa Pulang 58 Penumpang ke Bandara Asal

Luar Biasa “Ratu Skincare ” Suhay Salim Menikah Pakai Celana Jeans, Kenapa Ya?

Tersangka bercat rambut pirang itu kini juga harus meringkuk di sel tahanan Mapolres Boyolali. Kini, dia masih menjalani penyidikan untuk proses hukum lebih lanjut.

Kapolres Boyolali, AKBP Aries Andhi, mengatakan pembunuhan yang dilakukan tersangka kepada korban sudah direncanakan. Karenanya, dalam kasus tersebut penyidik menerapkan pasal pembunuhan berencana.

Jokowi Jajal Yamaha Xmax di Pabrik Perakitannya saat Lepas Ekspor ke-1,5 Juta Unit Motor Yamaha

Rezeki Dibalik Aksi Reuni 212

Tak Diundang Reuni 212, Ini yang Dilakukan Jokowi

“Terhadap tersangka kita kenakan Pasal 340 KUHP (tentang) pembunuhan berencana, karena di awal dia bertemu dengan korban karena mendengar ucapan-ucapan korban, niat tersangka untuk membunuh itu sudah ada. Artinya dia sudah merencanakan sampai dia pura-pura menjatuhkan kendaraannya sampai dengan dia melakukan kekerasan kepada korban,” kata Aries Andhi, Selasa, 4 Desember 2018.

Selain Pasal 340 KUHP, pemuda asal Dukuh Waru, Kelurahan Kemiri, Kecamatan Mojosongo, Boyolali itu juga dikenakan Pasal 338 KUHP dan atau Pasal 365 ayat (3) KUHP Jo Pasal 285 KUHP. Ancaman hukumannya maksimal hukuman mati.

BERITA TERKAIT

“Wong Edan Opo Wong Turu” Kata Nardi, Setelah Dicek Ternyata Wanita Itu Innalillahi

Korban nekat membunuh korban yang juga rekan kerjanya itu dengan dalih tersinggung karena ditagih hutangnya. Tersangka masih memiliki tanggungan hutang sekitar Rp 350.000 ke toko, yang belum disetorkan ke korban sebagai kasir di toko tersebut.

Tersangka menghabisi nyawa korban dan memperkosanya di tengah ladang di wilayah Dukuh Banjarsari, Kelurahan Kemiri, Kecamatan Mojosongo, Boyolali pada Sabtu (1/12) malam. Mayat perempuan berumur 24 tahun itu dutemukan warga Ahad, 2 Desember 2018 pagi.

Polres Boyolali dalam sehari berhasil mengungkap kasus tersebut. Sekitar pukul 14.00 WIB, Fajar Sigit Santoso alias Kenyung berhasil ditangkap di kamar mayat RSUD Pandan Arang, Boyolali, tempat korban disemayamkan. (***)

sumber: detik.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Bandung -‎ Korban percobaan pencurian dengan kekerasan di Jalan Soekarno-Hatta Bandung, Neng Mela Susana (33) meninggalkan dua anak laki-laki yang masih kecil.

“Dua anak, satu berusia 5 tahun sedang belajar di TK dan satu lagi berusia 1,5 tahun,” ujar Madan (19), kerabat keluarga korban dihubungi via ponselnya, Kamis, 29 November 2018.

Kedua anaknya itu sudah mengetahui dengan apa yang dialami ibunya, termasuk sudah mengetahui ibunya meninggal hari ini, setelah kritis sejak Senin, 26 November 2018.

“Awalnya tidak tahu ibunya meninggal, tapi karena banyaknya anggota keluarga yang datang menanyakan kabar almarhum, anak laki-laki pertama jadi tahu. Sedih, menangis bahkan sempat menanyakan kondisi ibunya,” ujar Madan.

Neng Mela meninggal hari ini pada pukul 13.15 setelah kritis sejak kejadian percobaan curas di Jalan Soekarno-Hatta pada Senin 26, November 2018, sepulang kerja di sebuah klinik ‎di Antapani Kota Bandung.

Saat itu, pelaku yang teridentifikasi berjumlah dua orang berusaha merampas tas milik korban. Tas gagal dirampas tapi korban dan suaminya terjatuh.

Kapolrestabes Bandung Kombes Irman Sugema menambahkan anggotanya sedang bekerja memburu pelaku. “Anggota masih bekerja, periksa saksi, mohon waktu, kami akan segera ungkap pelakunya,” ujar Irman di Jalan Merdeka. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Sepasang kekasih berinisial Y (24) dan NR (17) ditangkap karena diduga membunuh Ciktuti Iin Puspita (22) di Mampang, Jakarta Selatan. Begini detik-detik keduanya tega membunuh Iin dan menyembunyikan jenazahnya di lemari.

Iin, yang berprofesi sebagai pemandu lagu, dibunuh di kosan yang beralamat di Jalan Mampang Prapatan VIII Gang Senang kompleks Bapenas RT 003 RW 01 Kelurahan Tegal Parang, Kecamatan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan. Jenazahnya ditemukan pada Selasa, 20 November 2018 siang.

BACA: Ini Rahasia Cara Memasak Nasi Goreng yang Lezat Menurut Sains

BACA: Inikah Ponsel Lipat Huawei dan Siap Meluncur ke Pasaran?

BACA: Masa Lalu yang Kelam, Buat Reino Barack Tinggalkan Luna Maya

Polda Metro Jaya lalu menelusuri jejak pelaku dan berkoordinasi dengan Polres Merangin, Jambi. Dua pelaku ditangkap di Jambi pada Selasa, 20 November 2018.

BACA: MotoGP Valencia Menjadi Balapan Bersejarah untuk Dani Pedrosa

BACA: Berikut Daftar Perusahaan Indonesia yang Masuk Daftar Perusahaan Terbaik Dunia

BACA: Inilah Bambang Hartono Pria Terkaya di Indonesia Sekaligus Bos BCA yang Terima Bonus Asian Games Lewat BRI

Berikut detik-detik pembunuhan berdasarkan pengakuan pelaku yang diungkapkan Kapolres Merangin, AKBP I Kade Utama Wijaya seperti dilansir Antara, Rabu, 21 November 2018.

Senin, 19 November 2018

21.00 WIB
Korban Iin pulang ke kosan sambil marah-marah. Iin lalu bertengkar dengan NR. Sekitar beberapa menit bertengkar, pelaku Y marah dan langsung memukul korban menggunakan palu yang berada di dalam kamar.

Akibat mengalami luka yang cukup parah di kepala, korban akhirnya tewas. Melihat korbannya tewas, selanjutnya pelaku Y menyembunyikan jasad korban di dalam lemari

22.30 WIB
Usai membunuh, para pelaku keluar dari kos dan melarikan diri menggunakan bus menuju Sumatera Barat

Selasa, 20 November 2018

13.30 WIB
Jenazah Iin ditemukan oleh penjaga kos, Wahyu dan Rofik, yang mencurigai bau tidak sedap dari kamarnya. Keduanya mencoba membuka pintu kamar korban yang terkunci.

Keduanya kemudian menelusuri bau bangkai di dalam kamar hingga akhirnya membuka lemari. Keduanya terkejut saat menemukan sosok mayat korban di dalam lemari.

Malam hari
Dua terduga pembunuh Iin ditangkap di Merangin, Jambi saat menumpangi bus menuju Sumatera Barat. Keduanya diperiksa intensif di Polres Merangin.

Rabu, 21 November 2018

10.00 WIB
Kedua terduga pelaku masih berada di Jambi dan menunggu pesawat ke Jakarta. (***)

sumber: detik.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Polisi telah menetapkan Haris Simamora (HS) sebagai tersangka pembunuhan satu keluarga di Bekasi, Jawa Barat. Haris sebelumnya telah diperiksa secara intensif oleh polisi.

“(Haris Simamora) sudah tersangka,” kata Karopenmas Divisi Humas Mabes Polri Brigjen Dedi Prasetyo melalui pesan singkat, Jumat, 16 November 2018

Polisi mengatakan motif sementara dari tersangka adalah dendam. Hasil lengkap mengenai pemeriksaan tersangka akan segera diumumkan siang nanti.

“Sementara dendam. Habis Salat Jumat akan dirilis oleh Polda Metro setelah hasil labfornya keluar,” ujar Dedi.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono sebelumnya mengatakan HS ditangkap di kaki Gunung Guntur, Garut, Jawa Barat, Rabu, 14 November 2018 pukul 22.00 WIB. HS ditangkap setelah polisi menemukan petunjuk dari mobil korban pembunuhan yang ditemukan di Cikarang.

“Info dari masyarakat, ternyata HS ini ada di Garut sehingga tim dari Polda dan Polres menuju ke Garut. Sampai di Garut, HS ada di kaki Gunung Guntur. Katanya akan mendaki gunung,” ujar Argo di Mapolda Metro Jaya, Jl Jenderal Sudirman.

Penelusuran HS dilakukan setelah mobil Nissan X-Trail berwarna silver dengan nopol B-1075-UOG ditemukan di rumah kos di Cikarang. Diketahui HS sempat mengobati jari telunjuk yang terluka.

Saat diinterogasi, HS mengelak terlibat dalam pembunuhan satu keluarga di Bekasi. Tapi polisi akan mengecek bukti-bukti yang ada di mobil Nissan X-Trail, seperti ceceran darah, dengan bukti-bukti di rumah Diperum Nainggolan.(***)

sumber: detik.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Papua – Sejumlah guru dan tenaga kesehatan di Distrik Mapenduma, Kabupaten Nduga, Provinsi Papua disandera Kelompok kriminal bersenjata (KKB).

Kepala Bidang Humas Polda Papua Kombes Pol AM Kamal mengatakan, dari keterangan salah satu guru SD YPGRI 1 Mapenduma berinisial MN, diketahui bahwa MN dan 15 orang guru lainnya serta tenaga kesehatan di Distrik Mapenduma diancam dan ditahan untuk tidak melakukan aktivitas selama dua pekan dari 3 Oktober hingga 17 Oktober 2018.

“Iya, KKB menyandera sekelompok guru dan tenaga kesehatan,” kata Kombes Kamal, Senin, 22 Oktober 2018.

Pelaku pengancaman adalah Egianus Kogeya yang merupakan adik dari Kely Kwalik, mendiang pimpinan Organisasi Papua Merdeka (OPM).

KKB mengancam para guru dan tenaga medis tersebut lantaran mencurigai mereka sebagai aparat keamanan, yang sedang menyamar untuk mengorek informasi tentang KKB di Distrik Mapenduma.

Distrik Mapenduma memiliki dua sekolah yakni SD YPGRI 1 Mapenduma dan SMPN Mapenduma. Selain itu distrik ini memiliki sebuah puskesmas. Polisi langsung bergerak saat mengetahui adanya penyanderaan ini.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo menambahkan, saat ini para guru dan tenaga kesehatan sudah diamankan polisi. Hanya dua korban yang kondisinya luka-luka karena dianiaya.

“Setelah kami cek, ternyata beberapa guru dan tenaga kesehatan sudah dibebaskan oleh KKB. Cuma ada dua korban dianiaya sehingga luka-luka. Dianiaya karena dianggap sebagai mata-mata,” katanya.

Satu korban telah dilarikan ke RS Bhayangkara Jayapura. Sementara satu lainnya dirawat di RS Wamena. (***)

sumber:indonesiamedia.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Polisi bergerak menelusuri kabar Ratna Sarumpaet yang mengaku dianiaya. Hasilnya akan dipaparkan siang ini.

“Ya, nanti rilis ya jam 10.30 di Gedung Promoter Polda Metro,” kata Kadiv Humas Mabes Polri, Irjen Setyo Wasisto saat dikonfirmasi, Rabu, 3 Oktober 2018.

Hasil ini berdasarkan penelusuran polisi setelah mendapat kabar viral Ratna yang mengaku dianiaya di Bandung.

Kemarin, polisi sudah menyatakan bahwa tidak ada nama Ratna di rumah sakit di Cimahi.

Dari Bandung, polisi juga melakukan penelusuran di Jakarta. Hasilnya lengkapnya akan dijabarkan nanti.

Ratna Sarumpaet sendiri belum melaporkan klaim penganiayaan ini ke polisi. Ratna disebut pesimistis.

Saat bertemu capres Prabowo Subianto, Ratna membeberkan pengakuan penganiayaannya. Dia mengaku dianiaya di Bandung pada 21 September 2018. (***)

sumber: detik.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Bandung – Haringga Sirla tewas dikeroyok oknum Bobotoh saat akan menonton pertandingan Persib Bandung melawan Persija Jakarta Ahad, 23 September 2018.

Haringga dikeroyok lantaran diketahui warga Jakarta. Bagaimana bisa ketahuan?

Kasatreskrim Polrestabes Bandung AKBP M Yoris Maulana mengatakan sebelum pertandingan digelar di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) Bandung berlangsung kemarin tepatnya pukul 13.00 WIB, Haringga datang bersama seorang rekannya menggunakan sepeda motor. Beberapa oknum Bobotoh langsung melakukan aksi sweeping.

“Saat korban dan temannya menggunakan sepeda motor melintas di depan GBLA dan ternyata dilakukaan sweeping oleh anak-anak dari oknum Bobotoh,” ujar Kasatreskrim Polrestabes Bandung AKBP M Yoris Maulana di Mapolrestabes Bandung, Jalan Jawa, Kota Bandung, Senin, 24 September 2018.

Para oknum Bobotoh lantas mengetahui korban merupakan warga Jakarta. Hal itu terlihat dari KTP korban yang ditemukan oknum Bobotoh.

“Mereka mendapatkan ada satu orang diduga Jakmania yang memiliki KTP dari Jakarta,” katanya.

Sejumlah oknum Bobotoh lantas melakukan penganiayaan secara sadis. Korban dianiaya beberapa kali oleh sejumlah oknum Bobotoh.

Yoris mengatakan pelaku datang ke Bandung seorang diri. Dia datang sengaja untuk menonton laga Persib versus Persija.

“Setelah di Bandung dia dijemput oleh temannya. Mereka berdua menaiki sepeda motor ke stadion,” kata dia. (***)

sumber: detik.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Medan – Insiden penikaman guru berinisial PS oleh muridnya di SMK Negeri 1 Sorkam, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara menggegerkan dunia pendidikan di Indonesia.

PS sempat dibawa ke Puskesmas Gonting Mahe untuk mendapatkan perawatan sementara sebelum dilarikan ke RSU DR FL Tobing.

Saat dibawa sejumlah guru dan murid turut mendampingi korban. Istri dan anak korban juga tampak sudah berada di rumah sakit.

Belum diketahui pasti, apa yang memicu pelaku berinisial AP, pelajar kelas XI tersebut menancapkan pisau ke perut gurunya berinisial PS (44) yang mengajar sebagai guru otomotif.

Informasi yang dihimpun, kejadian begitu cepat saat jam istirahat selesai dan para pelajar serta guru sedang menuju ke dalam kelas.

“Pas mau masuk ke dalam kelas lah, korban rangkul AP dan disitulah korban ditikam AP dua kali,” kata Situmeang, rekan korban sesama guru, Sabtu, 15 September 2018.

Menurut Situmeang, AP memang dikenal nakal dan sering melawan kepada guru, terutama kepada PS. Saat berada di luar sekolah AP sempat memaki gurunya tersebut.

Dan saat berada di sekolah, menjadi momen PS untuk menasehati muridnya tersebut. Namun nahas, AP bertindak nekat.

“Anak ini memang bandel,” katanya.

Sementara itu, rekan guru lainnya di sekolah yang sama, Jenni menuturkan hal serupa.

AP menurut dia adalah murid yang nakal dan sudah sering dinasehati para guru. Korban sepengetahuan Jenni bukanlah guru yang keras pada murid.

“Bapak itu bukannya keras, bapak itu cuma menasehati siswa yang nakal kan wajar itu,” ucapnya.

Ditanya apakah ada unsur dendam murid kepada guru tersebut sehingga melampiaskannya dengan melakukan penusukan, guru perempuan ini mengaku tidak mengetahuinya.

“Kalau itu saya kurang tahu, yang saya tahu dia sedang dinasehati, tiba-tiba pisau langsung ditancapkan, itu yang saya tahu,” terang Jenni.

Perlu diketahui, korban PS merupakan penduduk di kecamatan Sarudik, Kabupaten Tapanuli Tengah tersebut sudah dibawa ke RSU DR FL Tobing Sibolga dan saat ini berada di ruang Instalasi Gawat Darurat (***).

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jambi – Seorang istri di Desa Sungai Mengkuang, Kecamatan Rimbo Tengah, Kabupaten Bungo, Jambi nekat menghabisi suaminya, Hr, Ahad 19 Agustus 2018.

Senin, 20 Agustus 2018, Ms menghabisi nyawa suaminya dengan memukul kepala korban berulang kali saat sedang tidur.

Sebelum melarikan diri, Ms sempat datang ke tetangga untuk meminjam uang.

Dia juga bercerita telah membunuh suaminya.

Armidi, Kepala Dusun setempat, mengatakan, warga lalu menemuinya, dan mereka bergegas menuju pondok Hr.

“Alangkah terkejut kami menemukan suaminya telah terbujur kaku bersimbah darah,” katanya.

Polisi yang dipanggil pun tiba di lokasi kejadian tak lama setelah itu.

Kabar istri yang bunuh suaminya tersebut juga beredar di media sosial, seperti diunggah akun Facebook Herpendi.

Menurut Herpendi, istri tersebut membunuh suaminya yang tidur di dalam pondok di tengah kebun karet.

Herpendi juga membagikan foto-foto bekas pembunuhan tersebut.

Diberitakan TribunJambi.com, kini Ms telah ditangkap, Senin, 20 Agustus 2018 dini hari.

Pelaku ditangkap saat hendak melarikan diri ke arah Sumatera Barat.

Kasatreskrim Polres Bungo Hendi Septiadi mengatakan, kasus ini masih dalam penyelidikan. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Polisi telah mengungkap motif penculikan yang dilakukan dukun bernama Jago (83) terhadap wanita berinisial H (28). Motifnya adalah Jago ingin menyetubuhi H.

“Motifnya persetubuhan di bawah umur,” kata Kapolres Tolitoli AKBP M Iqbal Alqudusy kepada detikcom, Senin, 6 Agustus 2018.

Diketahui H diculik sejak usia 13 tahun pada 2003 silam. Iqbal menerangkan saat hendak menyetubuhi, Jago menunjukan foto pria yang disebut sebagai Amrin kepada H. Iqbal menambahkan Jago mengatakan kepada H bahwa Amrin adalah jin yang akan merasuki tubuhnya.

“Korban disetubuhi sejak 2003, saat masih umur 13 tahun. Modus tersangka adalah mensugesti H dengan sebuah foto pria yang diberi nama Amrin,” terang Iqbal.

“Lalu mengatakan Amrin itu jin yang akan masuk ke tubuh tersangka. Tersangka mengakui itu (kepada polisi), bahwa Amrin itu ya dirinya sendiri,” sambung dia.

Iqbal menegaskan Jago dikenai Pasal 76D, 76E dan 81 Undang-undang Perlindungan Anak Nomor 35 Tahun 2014 tentang Persetubuhan dan Pencabulan Anak di Bawah Umur. Ancaman hukuman bagi Jago adalah 15 tahun penjara.

H ditemukan di sela bebatuan besar di dekat rumah dukun bernama Jago pada kemarin, Desa Bajugan, Kecamatan Galang, Tolitoli, Sulawesi Tengah pada Ahad, 5 Agustus 2018.

2003 silam, keluarga pernah membawa H untuk berobat alternatif ke Jago.

Beberapa saat setelah itu, H dinyatakan hilang dari keluarganya. Kepada keluarga H, Jago berpura-pura menerawang keberadaan H dan mengatakan H telah pergi jauh. (***)

sumber: detik.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Tangerang – Seorang pria di Tangerang berinisial HI (32) nekat membakar rumah milik wanita yang dicintainya berinisial TK (36) .

Rumah wanita yang berstatus janda tersebut beralamatkan di Jalan Suryadarma, Kelurahan Selapajang Jaya, Kecamatan Neglasari, Kota Tangerang.

Pelaku yang berstatus duda itu kehilangan akal sehatnya saat jalinan asmaranya berakhir dengan TK.

TK menolak untuk melanjutkan biduk cintanya dengan pria berusia 32 tahun tersebut.

“Motifnya berawal dari asmara. Jadi antara pelaku dengan penghuni rumah yang dibakar ini berpacaran. Kemudian pelaku ditolak sehingga emosi dan bakar rumah,” ujar Kapolsek Neglasari, Kompol Robinson Manurung, Jumat, 3 Agustus 2018.

Keduanya sempat memadu kasih selama satu tahun lamanya.

Sepanjang satu tahun itu, pasangan ini hanya berhubungan lewat pesan singkat melalui telepon seluler.

Mereka baru bertemu sebanyak tiga kali.

“Pelaku bisa kenal korban lewat nomor telepon acak,” ucapnya.

Tersangka berasal dari Majalengka.

Duda pengangguran tersebut membakar rumah korban pada Jumat, 3 Agustus 2018 dini hari.

Manurung menyebut pelaku membakar rumah janda ini menggunakan korek gas yang dinyalakan dengan pakaian.

Kemudian api berkobar di jendela dan meludeskan kediaman milik TK.

“Rumah terbakar. Api menyala besar,” kata Manurung.

Sementara itu, pelaku mengklaim bahwa selama dirinya berhubungan, korban mengaku berstatus seorang janda.

Bahkan korban selalu memberinya uang serta telepon seluler.

“Dia (TK) bilangnya janda. Saya dikasih uang sama handphone sama dia,” ungkap HI.

Ia merasa kesal karena hubungannya disudahi korban.

“Saya sakit hati diputusin, ya sudah bakar rumah pakai plastik ditaruh di sofa rumahnya,” kata pelaku.

Akibat perbuatannya tersebut pelaku mendekam di tahanan Mapolsek Neglasari.

Tersangka dijerat Pasal 187 KUHP dengan ancaman hukuman 12 tahun penjara.(***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Bojonegoro – Polisi mengamankan dua orang penjaga rumah di Bojonegoro, Jawa Timur lantaran menguras harta majikannya yang telah meninggal dunia.

Kapolres Bojonegoro, AKBP Ary Fadli mengatakan, penangkapan dua pelaku pencurian itu dilakukan dari hasil rekaman CCTV. Kedua pelaku berinisial SN (39) dan AG (27) warga Desa Nglarangan, Kecamatan Kanor, Kabupaten Bojonegoro.

Sedangkan korbannya adalah almarhum Andi Tjandra, mantan Kepala Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Pemkab Bojonegoro.

Kronologi pencurian saat itu, rumah korban dalam keadaan sepi. Hanya ada AG yang kebetulan bertugas sebagai penjaga rumah milik almarhum Andi Tjandra sehari-harinya.

“Pas korban meninggal dunia, dan dimakamkan di daerah Surabaya, pada saat itulah rumah dalam keadaan sepi. Selanjutnya pelaku meminta bantuan tetangganya SN untuk melakukan aksinya,” terang Kapolres Bojonegoro, AKBP Ary Fadli, Senin, 30 Juli 2018.

Kedua pelaku masuk kamar korban yang terkunci melalui jendela. Selanjutnya menguras barang-barang berharga seperti HP, soundsystem, helm senilai Rp5 juta, tas senilai Rp30 juta, hingga emas batangan milik korban.

“Banyak barang-barang yang diambil, termasuk uang tunai sekitar Rp50 juta yang saat ini sudah habis digunakan foya-foya oleh kedua pelaku. Barang yang diambil oleh pelaku diangkut menggunakan mobil bak terbuka,” terangnya.

Kapolres menyebut, barang yang dicuri kedua pelaku diperkirakan mencapai Rp300 juta rupiah. Dia juga menyebutkan, jika pelaku AG sebenarnya orang yang dipercaya untuk menjaga rumah, namun saat rumah sepi AG malah melakukan aksi pencurian dengan rekannya SN.

“AG sudah tiga tahun menjadi penjaga rumah korban. Sementara aksi pencurian ini dilaporkan oleh istri korban,” paparnya.

Kapolres menambahkan, kedua tersangka mencoba menghilangkan jejak usai melakukan pencurian. AG dan SN mengganti kunci kamar yang sudah dirusak dengan kunci pintu baru.

“Dari tidak bisa dibukanya pintu kamar itulah korban istri almarhum Andi Tjandra curiga. Kemudian melapor ke Polres Bojonegoro, dan dilakukan penangkapan,” tandasnya.

Kedua tersangka dijerat pasal 363 KUHP tentang Pencurian dengan Pemberatan dengan hukuman maksimal 7 tahun penjara. Saat ini keduanya mendekam dibalik jeruji besi tahanan Mapolres Bojonegoro. (***)

sumber: inilah.com