TERORIS

MEDIAKEPRI.CO.ID, Yogyakarta – Tiga terduga teroris tewas dalam baku tembak dengan polisi di Jalan Kaliurang KM 9,5, Sleman, Yogyakarta pada Sabtu, 14 Juli 2018.

Densus 88 Antiteror terpaksa melepaskan tembakan karena, terduga teroris melakukan perlawanan terhadap petugas menggunakan parang dan senjata.

Karena membahayakan, Densus 88 terpaksa melakukan tindakan tegas terukur.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen (Pol) Mohammad Iqbal mengatakan, akibat insiden itu, 2 petugas Densus juga mengalami luka-luka di bagian tangan.

Kini, jenazah ketiga terduga teroris telah dibawa ke RS Bhayangkara, Yogyakarta.

Dilaporkan sebelumnya, telah terjadi baku tembak di Jalan Kaliurang KM 9,5 hingga menyebabkan jalan ditutup.

Kepala Desa Sardonoharjo Herjuno Wiwoho mengatakan, dia melihat cukup banyak polisi yang berjaga di lokasi kejadian.

“Polisi yang di lokasi saya lihat membawa laras panjang. Tapi saya tidak tahu ada kasus perampokan atau teroris,” katanya

Dia menuturkan, sebelum akses jalan ditutup, dua juga mendengar suara tembakan dan ada dua orang tergeletak di tengah jalan. (***)

sumber: kompas.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Pasuruan – Ledakan terjadi di sebuah rumah kontrakan yang ditempati oleh pria bernama Abdullah di Kelurahan Pogar, Kecamatan Bangil, Kabupaten Pasuruan, Kamis, 5 Juli 2018.

Ledakan tersebut terjadi sekira pukul 11.30 WIB.

Dari keterangan saksi, yakni warga sekitar, ledakan terjadi sebanyak lima kali.

Kapolda Jawa Timur Machfud Arifin langsung meninjau lokasi ledakan pada pukul 13.40 WIB.

Kejadian tersebut mengakibatkan satu orang luka, yakni bocah berusia 6 tahun, yang diduga anak dari Abdullah.

Anak tersebut mengalami luka di kedua kakinya.

Dugaan kuat dari kepolisian, ia terkena ledakan pertama dan kedua.

Anak tersebut kemudian dirawat intensif di RSUD Bangil.

Sementara itu, pelaku bernama Abdullah melarikan diri.

Sebelumnya pelaku keluar dari rumah dan menakuti warga dengan tas ranselnya.

Pelaku juga sempat akan menyerang Kapolsek dengan tas yang dilemparnya sebelum meledak, tetapi usaha yang dilakukannya gagal.

Sebelum meninggalkan lokasi, pelaku sempat mendapatkan tembakan dari warga menggunakan senapan angin, tetapi tidak mengenai pelaku.

Atas kejadian ini, istri pelaku telah diamankan dan menjalani pemeriksaan di Polres Pasuruan Bangil. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Jaksa Penuntut Umum (JPU) di kasus Aman Abdurrahman, Mayasari menyatakan pihaknya akan segera mengeksekusi mati teroris di kasus Bom Thamrin itu. Namun, kejaksaan masih menunggu salinan putusan majelis hakim.

“Kita tunggu putusan lengkap dan membuat laporan ke pimpinan. Jika putusan sudah mempunyai kekuatan hukum tetap, maka yang bersangkutan dapat segera dieksekusi,” kata JPU Mayasari, ketika dihubungi detikcom, Jumat, 29 Juni 2018.

Seperti diketahui, Aman dan pengacaranya tidak mengajukan banding terhadap vonis hukuman mati yang dijatuhkan padanya. Sementara itu putusan hakim sama dengan tuntutan jaksa, yakni hukuman mati.

Kuasa hukum Aman, Asludin Hatjani, mengatakan pihak keluarga Aman memintanya tidak mengajukan hak banding. Sebab menurutnya, keluarga yakin ajal telah ditentukan oleh Allah.

“Saya sebagai pengacara diminta oleh ustaz Oman untuk tak banding, keluarga sendiri hanya menyampaikan bahwa ajal itu sudah ditentukan oleh yang di atas, Allah SWT,” ujar Asludin dihubungi terpisah.

Jika putusan telah berkekuatan hukum tetap, maka nantinya Aman akan segera dieksekusi. Jaksa Agung HM Prasetyo sendiri sebelumnya mengatakan menyambut baik putusan tersebut karena sama dengan putusan JPU. Prasetyo menyebut jika Aman mengajukan banding, maka JPU juga harus banding untuk proses hukum selanjutnya. Namun jika tidak ada banding maka berkas akan dinyatakan berkekuatan hukum tetap.

Kasus yang dilakukan Aman yaitu kasus Bom Thamrin. Kejadian itu terjadi pada Januari 2016. Meski Aman tidak ada di lokasi pengemboman, tapi Aman dinyatakan sebagai otak yang menggerakan para bomber tersebut. Kala itu, Aman mendekam di balik jeruji besi di LP Nusakambangan.

Aman Abdurrahman menurut majelis hakim terbukti menggerakkan teror bom Gereja Oikumene di Samarinda pada 13 November 2016; bom Thamrin pada Januari 2016; bom Kampung Melayu pada 24 Mei 2017; penusukan polisi di Sumut tanggal 25 Juni 2017 serta penembakan polisi di Bima pada 11 September 2017. (***)

sumber: detik.com

TERORIS

Minggu | 03 Juni 2018

Perakit Bom Ditangkap di Universitas Riau

MEDIAKEPRI.CO.ID – MNZ (33), tersangka kasus terorisme yang ditangkap di Universitas Riau mengaku mendapat pesanan untuk merakit bom dari Mursalim alias Ical alias Pak Ngah (42).

Pak Ngah merupakan terduga teroris yang melakukan penyerangan terhadap Markas Polda Riau.

Pak Ngah beserta komplotannya, menyerang dengan menabrakkan mobil ke sejumlah anggota polisi yang sedang berjaga di pintu masuk, Rabu, 16 Mei 2018.

“MNZ alias Jack alias Zam Zam terkait jaringan dengan tersangka terorisme atas nama Pak Ngah kelompok penyerangan Polda Riau,” ujar Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Pol Setyo Wasisto di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Ahad, 3 Juni 2018.

Setyo menerangkan, berdasarkan keterangan yang diperoleh dari MNZ, ia sempat dimintai oleh Pak Ngah untuk dibuatkan bom.

“Tersangka mengakui bahwa sebelum penyerangan Polda Riau, Pak Ngah dan kelompoknya pernah memesan untuk dibuatkan bom kepada yang bersangkutan,” kata Setyo.

Sebelumnya, Densus 88 menggeledah gedung Gelanggang Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Riau, Sabtu, 2 Juni 2018.

Densus 88 menemukan bom rakitan di kampus tersebut.

MNZ diduga memiliki kemampuan membuat bom TATP dan membagikan cara pembuatan bom di link group telegram.

Tersangka diduga menyerukan amaliyah atau penyerangan terhadap kantor-kantor DPR RI dan DPRD.

Tim Densus 88 Antiteror mengamankan barang bukti dua bom pipa besi yang sudah jadi, bahan peledak TATP yang sudah jadi, dan bahan handak lain, yakni Pupuk KNO3, Sulfur, Gula, dan Arang.

Barang bukti lainnya berupa dua busur panah dan delapan anak panahnya, satu buah senapan angin, serta satu granat tangan rakitan.

Dua orang ditetapkan sebagai saksi, yakni RB alias D (34) yang merupakan eks mahasiswa UNRI, bekerja sebagai karyawan swasta, dan OS alias K (32) yang juga merupakan eks mahasiswa UNRI yang bekerja sebagai karyawan swasta.(***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID – Rupanya ada alasan tersendiri kenapa para terduga teroris di Surabaya melakukan aksi bom bunuh diri dengan mangajak anak dan istrinya.

Selain karena iming-iming ingin bersama-sama saat di surga nanti, mereka juga juga rupanya mempunyai pesan yang ingin disampaikan pada para pria yang merupakan anggota kelompoknya.

Hal itu disampaikan oleh mantan teroris Al Qaeda, Sofyan Tsauri yang juga seorang mantan anggota Brimob Polri di acara Pagi Pagi Pasti Happy yang ditayangkan pada Jumat, 18 Mei 2018.

Dalam perbincangannya dengan Uya Kuya dan beberapa host lainnya itu, ia menjelaskan kalau keikutsertaan anak dan istri ini punya pesan penting.

Yakni memperlihatkan pada para pria untuk tidak segan melakukan amaliyah.

“Dengan melibatkan wanita dan anak-anak ada sebuah pesan yang ingin disampaikan oleh kelompok ini. Wahai para kesatria, kalau kami telah mengorbankan anak-anak dan wanita, mana kalian laki-lakinya?,” jelasnya.

Jadi menurut dia, ini memunculkan sugesti kepada laki-laki untuk mau seperti wanita dan anak-anak.

“Malu lah kalian, kami sudah menyumbangkan wanita dan anak-anak kami, itu yang selalu ada di benak kelompok mereka,” tambahnya.

Sofyan juga menjelaskan bahwa ada kemungkinan kalau anak-anak itu bisa saja tidak sadar, namun didoktrin oleh orang tuanya.

Ia kemudian memberi contoh doktrin yang bisa dilakukan orang tua pada anaknya.

“Saya yakin mereka tak kuasa menolak hal ini. Misalnya begini: ‘Nak, mau nggak kamu ikut Abi dan Umi ke surga? Nggak sakit kok. Cuma tinggal pencet tombol ini, maka kita sudah terbang dan kita ke surga,” kata Sofyan.

Ia lalu menjelaskan bagaimana cara doktrin perlahan kepada istri dan anak-anaknya.

“Pertama seseorang terpapar biasanya melalui ayahnya. Lewat pergaulan ayahnya, lalu dia mengajar kepada istrinya baru anak-anaknya,” jelasnya.

Ia mencontohkannya dengan mengajak anak-anaknya menonton film jihad sampai mendengar petasan agar sang anak tidak kaget.

Namun ada kejadian unik yang dialaminya akibat doktrin yang ia tanamkan itu dan membuatnya terkejut.

Saat itu, ia bersama keluarganya sedang makan di RM Padang dan di tempat itu juga ada anggota polisi yang sedang makan juga.

“Setelah polisinya pergi, anak saya yang baru kelas 3 SD bilang ‘Bi, itu ada polisi kok nggak Abi tembak saja?’. DI situ saya mikir, bahaya sekali video-video itu, sudah tertanam mereka, itu anak kelas 3 SD loh,” katanya.

Nah sejak saat itu, saat ia masuk penjara, dirinya berjanji tidak akan lagi memperlihatkan video jihad pada anak-anaknya. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Riau – Aksi teroris kembali terjadi. Kali ini teroris menyerang Mapolda Riau, Rabu, 16 Mei 2018. Tiga pelaku yang menaiki mobil Toyota Avanza, menabrak gerbang Mapolda, di mana saat yang bersamaan Polda Riau tengah melakukan ekspos narkoba di dalamnya.

Dua jurnalis yang tengah meliput rilis narkoba menjadi korban dari penyerangan itu. Kedua korban itu adalah jurnalis tvOne dan MNC.

“Memang tadi pagi, sebelum peristiwa ini, Mapolda Riau melaksanakan rilis pengungkapan narkoba. Sejumlah wartawan melihat dan mengambil berita rilis. Namun saat berjalan, ada sebuah mobil yang terlihat menabrak gerbang Mapolda, dan sejumlah jurnalis mendekati mobil tersebut. Dan mobil tersebut menabrak sejumlah jurnalis. Termasuk rekan kita, jurnalis tvOne,” ujar reporter tvOne, Arifin.

Menurut Arifin, kedua jurnalis yang menjadi korban, kini sudah dalam perawatan di Rumah Sakit Bhayangkara. “Dari luka sendiri luka ringan di bagian kepala. Namun tetap kawan-kawan kita dirawat. Keduanya telah kita bawa ke rumah Sakit Bhayangkara Polda Riau,” ujar Arifin.

Dalam aksi itu, ketiga penyerang tewas ditembak, setelah menyerang dengan mengacungkan samurai ke petugas. Saat ini polisi masih melakukan olah tempat kejadian perkara. (***)

sumber: viva.co.id

MEDIAKEPRI.CO.ID, Surabaya – Teror bom bunuh diri di Surabaya dan Sidoarjo sepanjang Ahad, 13 Mei 2018 dan Senin, 14 Mei 2018 mengakibatkan banyak korban jiwa dan luka.

Hingga Senin malam sekitar pukul 21.00 WIB, ada sebanyak 25 orang tewas dan 57 dirawat di rumah sakit.

Data yang diperoleh menyebutkan, 13 orang tewas itu merupakan pelaku bom bunuh diri dan ledakan.

Rinciannya, 6 orang tewas bom bunuh diri di tiga gereja, 4 orang tewas bom di Polrestabes Surabaya dan 3 orang tewas di Rusun Wonocolo, Sepanjang, Sidoarjo.

Sedangkan korban masyarakat, yakni ada sebanyak 12 orang.

Rinciannya di Gereja Santa Maria Tak Bercela Jl Ngagel 5 orang dan Jl Gereja Pantaikosta 7 orang.

“Semua jenazah korban masyarakat yang meninggal sudah diserahkan ke keluarga, ada 12 orang,” ujar Kabid Huas Polda Jatim Kombes Pol Frans Barung Mangera, Senin, 14 Mei 2018 malam.

Untuk korban yang dirawat di rumah sakit, lanjut Barung, ada sebanyak 57 orang.

“Kami mohon doa, semoga korban yang dirawat di rumah sakit segera sembuh,” harap Barung. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Surabaya – Video seorang anak kecil bangkit pasca ledakan di Polrestabes Surabaya beredar di media sosial.

Melansir Kompas.com, Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Frans Barung Mangera mengungkapkan bahwa ledakan bom terjadi setelah sebuah motor memaksa masuk di gerbang Mapolrestabes Surabaya.

Berdasarkan rekaman CCTV, polisi mengatakan bahwa sepeda motor itu berisi paling tidak dua penumpang.

“Kalau dilihat dari CCTV, yang bersangkutan membonceng seorang wanita,” tutur Barung dalam konferensi pers di Mapolda Jawa Timur.

Menurut Barung, ledakan terjadi setelah sepeda motor mendekati plang gerbang masuk Mapolrestabes berdasarkan rekaman CCTV di kawasan itu.

“Jadi sebelumnya masuk, ada mobil dulu, kemudian ada motor di belakang kemudian terjadi ledakan, sebelum masuk ke areal lapangan Polrestabes,” tuturnya di Markas Polda Jatim, Senin.
Barung juga mengatakan, ada anggota yang terluka, begitu juga warga.

Namun, polisi belum bisa menyampaikan keterangan secara detail.

“Kami mohon maaf belum bisa kami transparansikan korbannya berapa, alamat dan data, berapa yang terkapar karena masih dilakukan pengolahan TKP dan identifikasi lokasi,” tuturnya.

Akun Instagram @wgfront mengunggah video pasca ledakan terjadi.

Video ini seperti direkam dari arah dalam Polrestabes Surabaya.

Tampak sebuah mobil hitam dengan kepulan asap hitam.

Dari samping mobil tersebut, terlihat seorang anak kecil mengenakan kerudung kuning dan penutup wajah mencoba berdiri.

Kemudian, ia mencoba untuk berjalan meski terlihat sempoyongan.

Ada seorang lelaki yang kemudian menjemputnya dan menggendong.

Video CCTV tersebut sangat jelas merekam saat bom bunuh diri meledak dan melukai beberapa anggota polisi yang berjaga.

Awalnya, terlihat sebuah mobil hitam sedang melaju di depan pintu penjagaan.

Ada sekitar 4 polisi yang tengh berjaga, lalu ada 2 orang pria lainnya di dekat lokasi.

Mobil tersebut diberhentikan polisi yang berjaga.

Tiba-tiba, ada 2 sepeda motor yang datang dan langsung dihadang 2 petugas polisi.

Sepeda motor yang depan berboncengan, sementara motor yang di belakangnya dikendarai seorang pria yang membonceng seorang diduga anak kecil dan seorang wanita.

Saat diberhentikan, tiba-tiba terjadi ledakan besar.

Awalnya, ledakan diduga berasal dari sepeda motor yang didepan.

Tak berselang lama ledakan kembali muncul dari motor yang berada di belakang.

Semua orang yang berada di sekitar lokasi ledakan langsung terkapar. (***)

sumber: tribunnnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Surabaya – Ledakan terjadi di depan gerbang Markas Polrestabes Surabaya pagi ini. Ledakan ini menyebabkan anggota Polrestabes dan juga warga terluka.

Kabid Humas Polda Jawa Timur, Kombes Frans Barung mengatakan peristiwa ini tak akan membuat kepolisian goyah.

“Tidak pernah goyah sedikit pun kepolisian pada peristiwa ini,” kata Frans di Mapolrestabes Surabaya dalam jumpa pers, Senin, 14 mei 2018.

Peristiwa ini terjadi sekitar pukul 08.50 WIB. Dia menyebut serangan ini dilakukan oleh seseorang yang mengendarai sepeda motor.

Orang tersebut memboncengi seorang wanita. Bom meledak ketika sepeda motor itu hendak masuk.

“Di situlah terjadi peledakan itu oleh seseorang yang kalau dilihat di CCTV-nya maka yang bersangkutan membonceng seorang wanita,” ucap Frans. (***)

sumber: detik.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Surabya – Sorot matanya tajam saat menceritakan dan megingat sesuatu yang tak bisa dilupakannya, Erni Sucianti berada di halaman Gereja Santa Maria Tak Bercela, Ngagel, Surabaya, sebelum tragedi ledakan bom terjadi, Ahad, 13 Mei 2018 pagi.

Dengan napas yang tak beraturan, Erni menceritakan peristiwa berdarah tersebut.

“Sekitar pukul 07.00 pagi saya datang ke gereja, ada ledakan. Awalnya saya kira suara keramik, saya lihat atas kok ada asap, terus kaca gereja pecah,” kata Erni Sucianti, seorang saksi mata kejadian ledakan di Gereja Santa Maria Tak Bercela, Ngagel, Surabaya, Ahad, 13 Mei 2018.

Setelah menoleh ke belakang ia mendapati potongan tubuh berceceran.

“Saya kira plastik kresek merah, ternyata bukan plastik kresek, tapi seonggok daging,” lanjutnya.

Erni merupakan warga yang selamat dari peristiwa tersebut.

Ia tepat berada di luar halaman gereja yang terletak di Jalan Ngagel tersebut.

Halaman yang terletak di depan perpustakaan gereja, lanjut Erni, dipenuhi dengan beberapa bongkahan daging.

Merasa tidak kuat dengan pemandangan tersebut, wanita paruh baya ini lantas berlari ke arah ke luar gereja.

“Saat mau lari, ada wanita teriak minta tolong, ada pria juga, dengan kondisi yang mengenaskan, akhirnya saya tolong,” kenangnya.

Erni menyebutkan ia sempat menyaksikan pelaku pengeboman memasuki gereja menggunakan motor yang memaksa masuk gereja.

“Langsung terdengar suara ledakan, dan pecah semua kacanya,” cetusnya.

Tidak hanya itu, ia juga melihat Vicentcius, satu di antara korban meninggal yang masih anak-anak.

Sebelumnya korban bersimbah darah.

Spontan Vicentcius langsung dibopong oleh Ari Setyawan, adik ipar Erni yang juga bertugas sebagai satpam di gereja tersebut.

“Sayangnya korban sudah meninggal saat dirawat, karena mengalami pendarahan,” jelas wanita 65 tahun ini.

Korban anak itu diketahui hendak bersekolah Minggu di gereja tersebut, serta sempat di antarkan orang tuanya.

Ia juga menuturkan lokasi di dalam gereja semua dipenuhi dengan pecahan kaca, sedangkan di luar gereja, pos satpam sudah hancur dan sejumlah motor juga dalam keadaan yang sama. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Surabaya – BERDUKA. Minggu pagi yang cerah, wajah Surabaya berganti duka. Ada tindakan brutal dengan melakukan aksi bom bunuh diri. Ini sebuah berita buruk bagi Surabaya dan Indonesia Umumnya.

Tragedi ini meninggalkan banyak buksi yang menjadi saksi cerita duka. Salah seorang saksi yakni Vikjen Keuskupan Surabaya Romo Tri Budi Didik Pr.

Ia mengaku sudah menerima laporan detail soal ledakan di Gereja Santa Maria Surabaya. Romo Tri mendapat informasi soal detik-detik kejadian.

“Jadi jam 07.10 WIB tadi, sesudah selesai misa, orang sudah bersih-bersih. Lalu misa kedua jam 08.00 WIB. Itu pada saat orang berdatangan ada orang pakai sepeda motor dihalang-halangi oleh satpam, lalu meledak,” ujar Romo Tri Budi saat dihubungi, Minggu (13/5/2018). Laporan diterima dari pegawai gereja dan jemaat yang menyaksikan langsung peristiwa ledakan.

BACA: BOM Bunuh Diri di Gereja Santa Maria, 2 Tewas dan 13 Luka, Potongan Tubuh Berceceran

Romo Tri mengatakan orang yang masuk ke gereja seharusnya mengambil nomor tanda parkir. Namun motor pelaku bom bunuh diri menerobos masuk.

“Ada juga dua polisi yang tiap hari jaga gereja di Polsek (jadi korban). Lalu satpam dan dua polisi luka parah. Ada satu yang meninggal,” ujar Romo Tri.

Dia juga mengatakan seorang anak kecil langsung meninggal di lokasi.Saat ini gereja dijaga petugas. (***)

sumber: detik.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Surabaya – Ledakan bom terjadi di Gereja Santa Maria, Surabaya, Jawa Timur. Polisi tengah melakukan upaya pengamanan di lokasi ledakan.

“Iya benar sekarang petugas sedang melakukan upaya pengamanan,” ujar Karo Penmas Mabes Polri, M Iqbal kepada wartawan, Minggu, 13 Mei 2018.

Akibat kejadianb ini dua Orang tewas dan 13 Orang luka dalam aksi bom bunuh diri di Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela, Jalan Ngagel Madya Utara, Surabaya.

Dua di antaranya petugas sabhara yang sedang berjaga di lokasi. Korban sebagian dibawa ke RSU dr Soetomo dan RS Bhayangkara Polda Jatim.

“Di lokasi gereja ini ada 13 orang luka. Sebagian dibawa ke RSU dr Soetomo dan RS Bhayangkara Polda Jatim. Dua di antaranya petugas sabhara Polrestabes Surabaya,” kata Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Frans Barung Mangera kepada wartawan di lokasi, Minggu, 13 Mei 2018.

Informasi yang dihimpun, anak-anak turun jadi korban ledakan. Beberapa orang juga terlihat terkapar di depan gereja.

“(Petugas sedang memberi) bantuan kepada korban-korban. (Lokasi di Gereja) Santa Maria,” katanya.

Dari pantauan, terlihat satu mayat tergeletak di depan pagar gereja. Kondisi mayat tertelungkup. Terdapat potongan tubuh berceceran di lokasi kejadian. Dan sebuah sepeda motor.

Sementara itu polisi sudah di lokasi dan kawasan perempatan Ngagel Madya sudah dipasang police line.

“Lokasi sengaja kita sterilkan 120 meter karena beberapa serpihan ledakan dan potongan tubuh masih berceceran,” tambah Barung. (***)

berbagai sumber

MEDIAKEPRI.CO.ID – Ekspresi senyum di wajah-wajah para napi teroris saat mereka menyerahkan diri pada Kamis 10 Mei 2018 kemarin masih terus menjadi tanda-tanya besar.

Pantauan TribunStyle.com, warganet mengaku mengelus dada dan gagal paham dengan makna senyum di wajah-wajah mereka yang sudah membuat sejumlah nyawa personel polisi melayang.

“senyum dalam maksud apa yaa, udah menghabisi nyawa malah senyum,” tulis seseorang dengan akun @anisasptnr lewat Instagram .

Seseorang dengan akun Twitter @ernestprakasa mengaku sesak dadanya.

“Dada sesak membayangkan nasib para polisi yg gugur karna disiksa dan dibunuh di Mako Brimob. Turut berduka teramat dalam. #KamiBersamaPOLRI,” kicaunya di Twitter.

Seorang warganet membandingkan ekspresi ganjil para napi teroris saat menyerahkan diri dengan perlakuan kejam mereka kepada jajaran polisi hingga berujung 5 nyawa melayang di pihak korps Bhayangkara.

Simpati kepada polisi bertambah dengan beredarnya video perlakuan polisi menyuapi para napi teroris dengan nasi bungkus dalam perjalanan ke LP Nusa Kambangan.

Tambah bersimpati lagi melihat seorang anak balita keluarga napi teroris aman dalam gendongan polisi saat drama penyerahan diri.

“Ini bayi anak dari seorang Napi teroris, aman dalam gendongan petugas polisi, adanya bayi ini jg tdk bisa serbuan scra sembrono, perlakuan manusiawi oleh polisi, berbeda jauh dr perlakukan keji bbrapa napi teroris thdp rekan2 mrk yg gugur & terluka parah #KamibersamaPolri ,” kicau Muhammad Guntur Romli di Twitter.

Seperti dilansir TribunnewsBogor.com, sebanyak 155 narapidana teroris di Mako BrimobKelapa Dua, Depok akhirnya menyerah pada Kamis, 10 Mei 2018.

Sebelumnya, terjadi kericuhan antara narapidana teroris dengan pihak kepolisian Mako Brimob sejak hari Selasa, 8 Mei 2018 malam.

Puncaknya adalah ketika 155 napi teroris menguasai tiga blok tahanan yaitu Blok A, Blok B, dan Blok C.

Tragisnya, dalam keributan itu, lima anggota polisi tewas dibunuh dengan berbagai cara brutal oleh para napi.

Bahkan seorang anggota polisi bernama Brigadir Polisi Iwan Sarjana disandera lebih dari 24 jam.

Setelah melakukan proses negosiasi yang cukup tegang dan alot, Brigarir Polisi Iwan Sarjama akhirnya dibebaskan dengan luka-luka dan lebam di seluruh bagian wajah serta tubuh.

Sebanyak 145 napi teroris menyerahkan diri setelah negosiasi, sementara 10 lainnya tetap bergeming.

Mereka baru benar-benar menyerah setelah polisi menyerukan peringatan melalui dentuman dan tembakan peluru.

Terlihat bahwa ekspresi para napi teroris ini tidak bisa ditebak dan menimbulkan tanda tanya.

Dilihat dari foto-foto di atas, para napi berbaris lalu menjalani pemeriksaan oleh para aparat kepolisian.

Mereka digeledah agar bisa dipastikan bahwa mereka tidak membawa senjata tajam maupun benda berbahaya lain. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Sudah 27 jam rutan Mako Brimob di Kelapa Dua, Depok, dikuasai napi teroris. Kapan polisi mengambil langkah penyelesaian?

Kadiv Humas Polri Irjen Setyo Wasisto menuturkan polisi sulit mendekat ke rutan Mako Brimob. “Polisi tidak bisa mendekat, Rutan dikuasai oleh mereka,” kata Kadiv Humas Polri Irjen Setyo Wasisto kepada detikcom, Rabu, 9 Mei 2018.

BACA: Kericuhan Terjadi di Rutan Mako Brimob, Ada Apa Ya?

Sampai pukul 22.00 WIB juga belum ada kondisi terakhir soal Bripka Irwan Sarjana yang disandera teroris. Sebelumnya anggota Densus 88 Antiteror tersebut dinyatakan dalam kondisi baik, sampai saat ini polisi masih terus bernegosiasi dengan napi teroris.

“(Kondisi yang disandera) masih dalam pengawasan kita,” imbuhnya.

Napi teroris di rutan Mako Brimob sudah rusuh sejak Selasa, 8 Mei 2018 sekitar pukul 19.30 WIB. Napi teroris yang melakukan penyanderaan menuntut sejumlah hal, salah satunya bertemu terdakwa teroris bom Thamrin, Aman Abdurrahman. Apa alasannya?

“Ya biasa, itu kan sebagai pimpinannya,” kata Kadiv Humas Polri Irjen Setyo Wasisto di Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat, Rabu, 9 mei 2018.

Rusuh di rutan Mako Brimob ini sudah memakan korban. 5 orang anggota polisi gugur dalam tugas dan seorang teroris tewas karena melawan polisi.

“Yang jelas, dari 5 rekan-rekan yang gugur, mayoritas luka akibat senjata tajam di leher. Saya ulangi, akibat senjata tajam di leher. Luka itu sangat dalam,” kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri Brigjen M Iqbal.

Iqbal menyebut mayoritas korban mengalami luka akibat senjata tajam di leher bagian belakang. “Seperti luka dibacok,” katanya.

Selain itu, polisi yang gugur rata-rata mengalami luka di sekujur tubuh. Ada juga yang mengalami tembakan di kepala. (***)

sumber: detik.com