PENDIDIKAN

PENDIDIKAN

Minggu | 26 Agustus 2018

7 Tips Merancang Dana Pendidikan Anak

MEDIAKEPRI.CO.IDSebagai orangtua tentu memiliki harapan untuk memberikan segala yang terbaik bagi anak, termasuk juga dalam hal pendidikan.

Namun tak jarang hal ini memberikan beban tersendiri karena biaya pendidikan yang cenderung meningkat setiap tahun.

Bila tidak dipersiapkan dengan cermat, tentu akan menggoyahkan keuangan dan pendidikan anak pun terancam terganggu. Untuk itu, perencanaan dana pendidikan perlu disiapkan sejak dini, dan berikut ulasannya :

  1. Persiapkan anggaran sedini mungkin

Jangan menunggu hingga anak siap untuk bersekolah baru mulai bingung mempersiapkan dananya, karena pada saat itu Anda sudah tidak mempunyai banyak waktu untuk mempersiapkan diri.

Sebaiknya persiapkan anggaran sedini mungkin bahkan sejak anak masih balita, sehingga Anda mempunyai waktu yang cukup dan tidak terlalu ketat dalam mengatur keuangan

  1. Atur jumlah anggaran pendidikan

Untuk menyiapkan dananya, Anda tentu perlu mengetahui berapa kira-kira jumlah anggaran yang dibutuhkan. Anda dapat mencari informasi mengenai biaya sekolah pada sekolah idaman.

Jangan lupa hitung pula berbagai biaya lain yang mungkin muncul, misalnya biaya ekstrakurikuler, biaya buku dan seragam, uang pangkal, hingga kebutuhan lainnya.

Bila sedang merancang pendidikan untuk sekolah lanjutan atau perguruan tinggi, pertimbangkan pula apakah ada rencana anak Anda untuk bersekolah di luar kota atau bahkan luar negeri?

Karena kondisi tersebut memerlukan penghitungan yang lebih kompleks dan lengkap, misalnya bila Anda berencana menyekolahkan anak keluar negeri, tentu harus memperhitungkan pula biaya akomodasi, konsumsi, transportasi, dan kebutuhan hidup lainnya. Belum lagi biaya untuk pulang pergi kembali ke kampung halaman dan juga keperluan lainnya

Selanjutnya, perkirakanlah berapa banyak kenaikan rata-rata biaya tersebut setiap tahunnya. Hal ini digunakan untuk dapat menghitung berapa nilai anggaran tersebut beberapa tahun dari sekarang, ketika anak mulai memasuki sekolah tersebut.

  1. Atur anggaran untuk setiap anak

Setelah itu, persiapkan dana pendidikan untuk setiap anak. Jadi bila memiliki beberapa anak, maka pisahkanlah dana pendidikan untuk masing-masing, agar tiap anak memperoleh kepastian dan tidak terganggu oleh kebutuhan pendidikan saudaranya yang lain.

Untuk mempersiapkan dana tersebut, Anda dapat mengikuti asuransi pendidikan. Mengapa memilih asuransi pendidikan? Karena asuransi ini dapat memproteksi biaya pendidikan anak bila terjadi risiko kematian orang tua atau ketidakmampuan orang tua untuk mencari nafkah akibat cacat atau sakit.

  1. Berpikir realistis

Rancang anggaran pendidikan sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan Anda. Jangan sampai anggaran pendidikan yang terlalu besar mengganggu anggaran Anda untuk kebutuhan primer lain yang juga penting.

Apabila anak menginginkan sekolah pada tempat atau jurusan dengan biaya yang sangat besar, coba pikirkan alternatif lain yang lebih terjangkau. Solusi lainnya, Anda dapat mencoba mencari beasiswa. Tentu saja hal ini juga perlu dikomunikasikan pada buah hati agar mereka siap dan juga mampu mencetak prestasi yang sesuai dengan tujuan tersebut.

  1. Menentukan prioritas

Bila Anda merasa mulai kesulitan untuk mengatur dana pendidikan anak karena kebutuhan pengeluaran yang amat tinggi, maka mulailah menyusun daftar skala prioritas.

Pelajari anggaran apa yang dapat Anda kurangi untuk dialokasikan pada dana pendidikan. Contoh pos yang dapat dikurangi misalnya dana rekreasi dan hiburan di mana Anda dapat mengurangi makan-makan di restoran atau berbelanja di mal.

  1. Alokasi dana

Sisihkan dana dari pendapatan Anda dan pasangan minimal 10 persen sehingga target menabung atau membayar asuransi dapat terpenuhi. Cara ini membantu Anda untuk disiplin dalam mengumpulkan dana pendidikan anak.

  1. Bandingkan penawaran asuransi

Mintalah ilustrasi asuransi pendidikan kepada agen dari beberapa perusahaan asuransi. Jelaskan besar manfaat dan kualitas pendidikan yang Anda inginkan untuk anak Anda agar agen tersebut dapat memberikan ilustrasi yang tepat.

Dari ilustrasi tersebut Anda dapat mengetahui berapa premi yang harus dibayar, berbagai kelebihan dan kekurangan dari tiap perusahaan. Setelah itu, Anda dapat membandingkan dan menentukan mana yang terbaik.

Rancang dana pendidikan anak sejak dini, karena semakin anak dewasa maka waktu yang Anda miliki untuk menyiapkan dana pun semakin sedikit. Selain itu, semakin tinggi tingkat pendidikan anak, maka makin besar pula dana yang Anda butuhkan. (***)

sumber : disdik.kepriprov.go.id

MEDIAKEPRI.CO.ID, Kudus – Seorang gadis asal Kudus, Jawa Tengah siap berangkat ke Jepang sebagai wakil Indonesia. Di sana, dia akan unjuk kebolehan berpidato Bahasa Jepang melawan peserta lainnya dari negara-negara ASEAN.

Namanya Seli Inayanti, warga Desa Jati Kulon, RT 5 RW 2, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus. Anak keempat dari pasangan Rohmad dan Sulastri ini bakal berangkat ke Tokyo, pertengahan Oktober tahun ini.

Seli yang tak mampu menyembunyikan rasa semringahnya. “Bahagia bisa mewakili Indonesia di lomba pidato di Jepang nanti,” tutur dara kelahiran Kudus, 6 Maret 1997 saat ditemui di rumahnya, Senin, 23 Juli 2018.

Mahasiswi semester empat, Prodi Pendidikan Bahasa Jepang, Jurusan Bahasa dan Sastra Asing, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang (Unnes) tidak menyangka kalau bisa mendapat kesempatan seperti ini. Soalnya dia mengakui jika peserta lomba di Indonesia yang lain juga mempunyai kemampuan hebat.

“Tapi, Alhamdulillah hasil memang tidak mengkhianati proses,” kata Seli.

Dia menceritakan sekilas perjalanannya, terakhir mengikuti penyisihan lomba pidato tingkat Jateng itu yang ke-8 pada 12 Mei 2018 di Unnes. Kemudian, di Jakarta tanggal 14 Juli mewakili Jateng ikut lomba pidato Bahasa Jepang tingkat nasional yang ke-47.

“Jadi saya lomba dulu di Unnes (penyisihan Jateng) lomba pidato bahasa Jepang ke-8 dan menang. Baru saya mewakili Jateng di Jakarta ikut lomba pidato bahasa Jepang yang ke-47,” terangnya.

Dia juga menceritakan, dalam satu minggu latihan 5-6 hari. Pada akhir pekan, dia istirahat menenangkan pikiran. Dalam seminggu dia latihan bersama dosen kurang lebih 3 kali, sisanya dia latihan sendiri.

“Saya pernah dimarahin ibu gara-gara jarang tidur dan sakit gara-gara latihan,” bebernya.

Bahkan, dia pernah sampai demam seminggu, karena di kos, makan dan tidur tidak teratur dan makan makanan instan.

“Alhamdulillah nggak sampai masuk rumah sakit. Waktu itu cuma salah pola latihan,” ungkap Seli.

Dia berencana menceritakan materi pidatonya di Jepang tentang pekerjaan sang ayah sebagai pengepul sampah plastik. Dulu dia sempat malu dengan pekerjaan ayah. Namun, kini dia tak malu lagi.

“Perubahan itu saya ceritakan di pidato saya,” beber seli.

Dia mengungkapkan jika kemahiran berbahasa Jepang Seli dimulai sejak duduk di bangku sekolah yakni sering menonton video anime Jepang. Kemudian ada rasa senang. Dan akhirnya saat melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi.

“Dulu sering nonton film anime, terus ingin belajar bahasa Jepang. Film anime yang sering saya tonton itu seperti Spirited Away,” kata dia. (***)

sumber: detik.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Mojokerto – Siswi kelas XI SMAN 1 Gondang, Mojokerto Mas Hanum Dwi Aprilia lumpuh akibat menjalani hukuman squat jump di sekolahnya.

Hukuman itu dijatuhkan ke korban sebanyak 90 kali. Begini penjelasan pihak sekolah.

Kepala SMAN 1 Gondang Nurul Wakhidah mengatakan, hukuman itu diterima Hanum saat mengikuti Unit Kegiatan Kerohanian Islam (UKKI) di sekolahnya, Jumat, 13 Juli 2018 pagi.

Gara-garanya, siswi kelas XI IPS 2 ini terlambat datang di ekstra kurikuler (ekskul) tersebut. Saat itu UKKI mengadakan pelatihan untuk promosi ekskul ke siswa baru.

“Informasi dari anak-anak, waktu itu ada kesepakatan di antara teman-temannya, kalau terlambat datang ada hukuman. Seniornya anak-anak kelas XII menyampaikan hukumannya hafalan surat pendek (Alquran), tapi anggotanya tak mau, minta squat jump. Sudah diingatkan seniornya jangan hukuman itu karena keras. Kesepakatan kelompok tersebut hukumannya tetap squat jump,” kata Nurul kepada wartawan di kantornya, Kamis, 19 Juli 2018.

Saat itu, lanjut Nurul, ada siswa lainnya yang juga terlambat datang. Hanum dan temannya itu masing-masing harus menjalani 60 kali squat jump.

Sayangnya, teman Hanum hanya mampu melakukan squat jump sebanyak 30 kali. Sisa hukuman ini justru dibebankan ke Hanum. Selesai melakukan 60 kali squat jump, pelajar asal Krian, Sidoarjo ini harus melakukan lagi sebanyak 30 kali.

“Sehingga 90 kali squat jump dijalani Hanum sampai selesai. Saat itu dia masih sempat melanjutkan kegiatan, tak langsung jatuh sakit (lumpuh), hanya kakinya katanya sakit semua,” ujarnya.

Nurul menjelaskan, saat kegiatan UKKI berlangsung, tak ada satu pun guru yang mendampingi. Menurut dia, para siswa anggota UKKI menggelar kegiatan tanpa izin pembina ekskul, Pembina OSIS maupun Wakasek Kesiswaan.

“Saat kegiatan itu, sekolah masih libur. Sehingga kami semua tak tahu kalau anak-anak membuat kegiatan itu,” terangnya.

Hanum mulai mengeluh sakit di kaki dan punggung usai dihukum squat jump sebanyak 90 kali pada Jumat (13/7) pagi. Saat itu korban terlambat datang di kegiatan ekskul Unit Kegiatan Kerohanian Islam (UKKI) di SMAN 1 Gondang, Mojokerto.

Pelajar yang juga nyantri di PP Al Ghoits, Desa/Kecamatan Gondang ini benar-benar lumpuh pada Rabu, 18 Juli 2018 pagi.

Pengasuh pondok pun membawanya ke pengobatan saraf alternatif di Desa Pandanarum, Pacet. Karena Hanum diperkirakan mengalami saraf tulang belakang terjepit. (***)

sumber: detik.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Bali – Garam merupakan salah satu bahan pangan yang dibutuhkan oleh berbagai pihak baik untuk di konsumsi maupun untuk kebutuhan industri.

Pesisir Tejakula, Buleleng adalah salah satu sentra pembuatan garam di pulau Dewata.

Pada umumnya garam di buat dengan mengalirkan air yang akan dikumpulkan pada sepetak tanah atau tambak lalu dijemur, tinggal mengumpulkan dan mengambil hasilnya lalu di pasarkan. Berbeda tempat, berbeda pula proses pembuatannya.

Proses pembuatan garam di Desa Tejakula, Buleleng sangat unik dengan menggunakan tanah yang telah dicampur dengan air laut sebagai media untuk menyaring air tua yang akan dijemur diatas batang kelapa yang disebut palungan.

Proses pembuatan garam ini menghasilkan garam dengan kualitas yang bersih dan tidak pahit karena zat pahit tersebut diserap melalui pori-pori bilah kelapa.

Tak hanya itu, adanya inovasi produksi garam yang menjadi primadona dengan memanfaatkan rumah kaca dapat menghasilkan garam dengan bentuk piramid (pyramidion), bentuk kubus (dice) dan bentuk salju (snow).

Diolah secara tradisional dan tergantung dengan kondisi cuaca menjadikan produksi garam tidak menentu. Jika cuaca sedang bagus, produksi melimpah sebaliknya jika cuaca buruk, maka produksi garam tidak maksimal. Pendapatan wargapun menjadi tidak menentu dan cenderung untuk beralih profesi padahal proses pembuatan garam ini merupakan salah satu kearifan lokal yang diwariskan secara turun temurun.

Hal inilah yang menjadi acuan Mahasiswa Sekolah Tinggi Pariwisata Bali Internasional yang terdiri dari Ni Made Ayu Natih Widhiarini selaku ketua, Ni Nengah Ariastini dan Ni Putu Feby Devira Permanita selaku anggota mengangkat penelitian yang berjudul “Desain Konsep Artifisial Pertanian Garam Palungan Sebagai Living Museum dalam Pengembangan Pariwisata Budaya dan Edukasi di Desa Tejakula” dalam ajang Program Kreativitas Mahasiswa (PKM).

Kombinasi peran serta komunitas pesisir, kearifan lokal, dan pariwisata melalui pengembangan pariwisata budaya dan edukasi yang berbasis masyarakat (community based tourism) dapat dilakukan dengan mengembangkan museum berbasis kearifan lokal.

“Museum sebagai daya tarik wisata budaya sudah banyak dikembangkan di Bali yang diharapkan mampu berkontribusi terhadap pembangunan pariwisata berkelanjutan. Akan tetapi kebanyakan orang berpikir museum hanyalah tempat benda-benda mati. Yang ingin kami tonjolkan dengan konsep lving museum adalah adanya atraksi budaya dan kearifan lokal yang hidup dan bisa disaksikan secara langsung bahkan bisa ikut berpartisipasi di dalamnya,” ujar Natih selaku ketua kelompok.

“Dengan adanya konsep living museum dapat menjadi sumber budaya dan edukasi yang memadukan pengalaman belajar aktif dan pasif dalam desain penataan ruang pamer yang terbuka, penyediaan fasilitas workshop diharapkan wisatawan nantinya dapat melihat atraksi budaya dan kearifan lokal yang secara langsung dapat memberikan edukasi kepada wisatawan,” Papar Ariastini.

Tim PKM-KC (Program Kreativitas Mahasiswa bidang Karsa Cipta) telah mendapatkan Hibah dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementrian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia.

“Kami berharap penelitian ini akan membawa manfaat bagi instansi dan masyarakat, yaitu dapat memberikan pertimbangan terkait upaya mengkonservasi kearifan lokal khususnya pertanian garam palungan yang dituangkan dalam bentuk desain konsep artifisial living museum sebagai pariwisata budaya dan edukasi di Desa Tejakula yang dapat mendukung pemerataan pariwisata berkelanjutan di bagian Bali Utara,” Tutup Feby. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Ribuan pendaftar sekolah negeri tiba-tiba mengaku miskin. Mereka menyodorkan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) sebagai buktinya. Setelah dicek ke rumahnya, ternyata sebaliknya.

Hal ini terjadi di berbagai tempat, salah satunya di Banyumas, Jawa Tengah. Terdapat siswa yang orang tuanya mempunyai mobil bagus dan bekerja dengan penghasilan yang cukup besar. Selain itu, rumah yang ditempati juga tidak menunjukkan jika siswa tersebut berasal dari keluarga yang tidak mampu.

“Ada yang orang tuanya pegawai swasta dengan penghasilan yang tinggi. Bahkan ada pula yang orang tuanya memiliki rumah yang bagus dan tidak terlihat sebagai keluarga miskin,” ujar Kasi SMK, Balai Pengembangan Pendidikan Menengah dan Khusus (BP2MK) Wilayah V Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Provinsi Jateng, Kustrisaptono.

Panitia PPDB SMK Negeri 1 Purwokerto hingga saat ini masih terus melakukan proses rekap terhadap jumlah pendaftar yang menggunakan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM). Dari 1.314 pendaftar, 948 merupakan pendaftar yang menggunakan SKTM.

“54 pendaftar sudah mencabut berkas kemarin, yang lain masih dalam proses,” kata Kepala Sekolah SMK Negeri 1 Purwokerto, Asep Saeful Anwar.

Di Magelang, Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) Kota Magelang melakukan verifikasi terbaru terkait pengguna Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) dalam Pendaftaran Peserta Didik Baru (PPDB) SMA.

Hasilnya, sebanyak 305 calon siswa dari 1.443 kuota siswa yang terpenuhi di lima SMAN di Kota Magelang, diketahui menggunakan SKTM. Hasilnya, ada delapan calon siswa pengguna SKTM yang didiskualifikasi karena tidak sesuai penggunaan SKTM-nya.

Sementara itu, di Yogyakarta, Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) DIY akan menelusuri dugaan orang mampu yang mendaftarkan anaknya ke salah satu SMA N memakai Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM). Sebab, praktik tersebut melanggar aturan.

“Kita memang perlu telusuri (dugaan tersebut). Ketika kita tahu namanya persis, kita bisa segera (bertindak),” kata Kabid Perencanaan dan Standarisasi Disdikpora DIY, Didik Wardaya.

Dengan banyaknya orang-orang yang mendadak miskin, Gubernur Jateng menginstruksikan kepala SMA/SMK negeri melakukan survei lapangan terkait penyalahgunaan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM). Salah satu yang ditegur langsung adalah SMAN Mojogedang, Karanganyar. Hasilnya, ada 32 pendaftar yang diragukan kebenarannya.

Kepala SMAN Mojogedang langsung menindaklanjuti instruksi gubernur untuk melakukan survei mulai kemarin sore. Ada 138 pendaftar Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) yang dinilai harus disurvei.

“Sejak kemarin jam lima kami survei. Dari 138 orang, ada 32 yang menurut kami tidak masuk kategori miskin,” kata Purwadi.

Mengantisipasi hal itu, SMA di Brebes yang diburu banyak peminat membuat strategis khusus. Yaitu mewajibkan orang tua calon siswa yang menggunakan surat keterangan tidak mampu (SKTM) untuk menandatangani pakta integritas. Kebijakan ini ternyata cukup membuat orang tua calon murid yang ber-SKTM ciut nyalinya.

Mereka pun akhirnya menarik surat tersebut dalam syarat pendaftaran sekolah.

“SKTM memang sedang booming. Di SMAN 2 saja ada banyak yang melampirkan surat miskin ini. Warga yang mengaku ngaku miskin padahal kaya jika terbukti memalsukan bisa dipidana,” ujar Kepala SMA N 2 Brebes, Sadimin kepada wartawan, Selasa, 10 Juli 2018.

Menyikapi hal ini, Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X meminta Dinas Pendidikan di kabupaten/kota untuk melakukan pengawasan ketat.

“Saya minta dinas ketat untuk mengawasi baik di tingkat satu maupun kabupaten/kota. Izin yang diberikan harus tepat jangan menbohongi, itu pendidikan yang tidak baik,” kata Sri Sultan HB X di kantor Gubernur DIY di Kepatihan. (***)

sumber: detik.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Bandung – Institut Teknologi Bandung melakukan invonasi yang patut diapresiasi tinggi.

Lantaran mampu mengembangkan pemanis alami glikosida steviol (stevia) dari daun tanaman stevia.

Tim peneliti dari staf dosen Sekolah Farmasi Institut Teknologi Bandung (SF-ITB) telah melakukan penelitian dengan topik “Pengembangan Proses Produksi Pemanis Alami Glikosida Steviol (Stevia) dari Daun Tanaman Stevia.”
Tim peneliti terdiri dari Rahmana Emran Kartasasmita, Elfahmi, Muhammad Insanu, dan As’ari Nawawi.

Rahmana Emran Kartasasmita menjelaskan, penelitian yang dilakukan oleh timnya sudah dimulai sejak 2012.

“Pada tahun tersebut, masih dilaksanakan dalam skala laboratorium. Pada tahun 2015 tim mendapatkan dana penelitian dari Kementerian Kesehatan melalui program Fasilitasi Pengembangan Bahan Baku Obat (BBO) dan Bahan Baku Obat Tradisional (BBOT),” ujarnya via keterangan tertulis, Selasa, 10 Juli 2018.

“Berkat pendanaan tersebut, penelitian dapat dilakukan pada skala yang lebih besar dengan menggandeng PT Kimia Farma sebagai industri mitra.”

Lebih lanjut Rahmana Emran menjelaskan, daun dan herbal tanaman stevia mengandung senyawa yang memiliki rasa manis (glikosida steviol, GS) dengan kadar cukup tinggi.

“Kemanisan senyawa GS mencapai 300 kali lipat dari gula sehingga GS yang diperoleh melalui ektraksi daun dan herbal tanaman Stevia ini banyak digunakan sebagai pemanis alami pensubstitusi gula, khususnya bagi yang memerlukan asupan kalori rendah,” ujarnya.

“GS sebagai pemanis alami sudah lama digunakan dan dinyatakan aman oleh Codex Alimentarius Commission (CAC) sebagai organisasi international di bawah FAO dan WHO yang mengeluarkan berbagai standard dalam bidang pangan.”

Sebagai pemanis intensitas tinggi (high intense sweetener), GS memiliki tingkat kemanisan yang tinggi.

Pada kadar rendah, GS sudah mampu memberikan rasa manis yang memadai.

“Sebagai ilustrasi, untuk memaniskan satu cangkir minuman, cukup digunakan 30-40 mg GS yang lazimnya digunakan dalam bentuk sachet. Keunggulan lainnya, GS tidak memiliki nilai kalori sehingga tidak akan menyebabkan kenaikan gula darah setelah dikonsumsi,” kata Emran.

“Oleh karena itu, pemanis alami ini sesuai untuk digunakan oleh penderita diabetes maupun yang memerlukan asupan kalori rendah seperti yang sedang melakukan diet rendah kalori.”

Sayangnya, di Indonesia, pemanis alami tersebut masih sepenuhnya diimpor.

Padahal, tanaman bernama latin Stevia rebaudiana Bertoni ini bisa hidup dan cocok untuk ditanam di dataran tinggi di Indonesia, seperti di daerah Ciwidey, Kabupaten Bandung.

“Sampai sekarang, belum ada satu pun industri di Indonesia yang melakukan ekstraksi daun Stevia dan memproduksi GS sebagai pemanis alami pada skala komersial,” kata Rahmana Emran.

Proses ekstraksinya, sambungnya, daun hasil panen yang telah dipetik petani kemudian disortir dan dikeringkan terlebih dahulu.

Setelah kering lalu dirontokkan daunnya dari tangkai.

Kemudian, dilanjutkan proses penghancuran menggunakan mesin agar lebih halus berbentuk bubuk.

Selanjutnya, dilakukan proses ekstraksi, dengan berbagai teknik, ada yang menggunakan air terlebih dahulu atau pelarut lain yang diizinkan untuk pengolahan pangan.

Berikutnya, yaitu proses pemurnian dan pengkristalan menjadi serbuk GS yang berwarna putih.

“Semua hasil penelitian ini sudah dilaporkan dan diserahkan ke Kementerian Kesehatan sebagai pemberi dana.”

“Untuk tindak lanjut produksi stevia pada skala komersial, Kementerian Kesehatan akan memfasilitasi bila ada industri yang berminat.”

“Kami berharap ada industri yang berminat dan bisa menindaklanjuti hasil penelitian ini,” ujar Rahmana Emran. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Blora – Salah satu orang tua calon siswa yang gagal lolos dalam Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) di SMK Negeri 1 Blora, memilih melapor ke polisi. Dia menengarai dugaan penerbitan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) yang tidak sesuai fakta.

Priyanto Muda Prasetya, menyayangkan penggunaan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) yang menurutnya banyak tak sesuai. Dia kemudian memutuskan membuat laporan kepada pihak kepolisian, dengan dugaan pembuatan SKTM yang tidak sesuai fakta.

“Indikasinya itu jelas SKTM-nya abal-abal, alias aspal. Angka kemiskinan di Blora kan cuma 13 persen, mosok dari sekian banyak murid hampir 100 persen pakai SKTM semua. Dalam hal ini bisa dikatakan orang miskin semua ini,” terangnya kepada detikcom, Sabtu 7 Juli 2018.

“Ada 14 poin yang menjadi indikator miskin, dan itu tidak masuk kategori itu semua. 100 persen pendaftar yang diterima itu karena SKTM, padahal danemnya rendah,” lanjutnya.

Priyanto mengatakan, anaknya semula mendaftar di SMK Negeri 1 Blora. Namun kemudian dicabut karena berada di urutan bawah, kalah dengan para siswa yang mendaftar menggunakan SKTM meskipun nilai akhir mereka lebih rendah dari anaknya.

“Anak mendaftar di SMK 1, nilai akhirnya 20 lebih. Terakhir posisinya ada di bawah karena tidak ada SKTM. Dikalahkan sama yang bawa SKTM meskipun nilainya di bawah anak saya. Malah ada yang cuma nilai 18 tapi masuk peringkat dua,” katanya.

Karena tak lolos dalam PPDB SMK N 1 Blora, rencananya Priyanto akan mengalihkan anaknya untuk masuk di pondok pesantren.

Kasatreskrim Polres Blora, AKP Heri Dwi Utomo, saat dikonfirmasi mengaku akan langsung melakukan tindak lanjut atas pelaporan tersebut hari ini juga. Diawali dengan penyelidikan, para orang tua murid pemilik SKTM akan diperiksa satu persatu di rumah masing-masing.

“Ini kami langsung lidik, mengumpulkan data-data siswa yang lulus menggunakan SKTM dan akan kami cek satu per satu ke rumah siswa tersebut,” jelasnya. (***)

sumber: detik.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Luka pasca operasi biasanya sulit sembuh dan membutuhkan waktu lama. Untuk menghentikan perdarahan dan mempercepat penyembuhan, tiga mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada (UGM) membuat spons koral buatan.

Oktika Nur Anisa, Atha Yuska Irfani, dan Imroatul Maghfiroh mengembangkan spons koral yang terbuat dari bahan dasar kalsium karbonat yang bisa menjadi aktivator pembekuan darah.

“Spons koral berperan sebagai agen haemostasis yakni suatu bahan yang membantu dalam tahap pertama proses penyembuhan luka yakni hemostasis.

Ketika terjadi luka maka secara alamiah tubuh sudah memiliki sistem untuk menghentikan perdarahan dengan terbentuknya benang benang fibrin,” ujar Oktika kepada detikHealth melalui pesan singkat.

“Jika hanya mengandalkan kemampuan hemostasis alami maka tidak sepenuhnya memberi hasil maksimal dan waktunya lama. Sehingga dibutuhkan spons koral yang membantu dalam hemostasis atau menghentikan perdarahan,” lanjutnya.

Salah satu keunggulan spons koral buatan ini yakni bisa diserap oleh tubuh, tidak seperti agen hemostasis konvensional yang tidak bisa diserap oleh tubuh.

“Spons koral buatan keunggulannya dapat diserap oleh tubuh sehingga lebih praktis karena tidak perlu diambil oleh praktisi,” tandasnya.

Spons koral buatan ini masih dalam tahap percobaan in vivo yang dilakukan pada hewan dan menunjukkan percepatan penyembuhan luka pasca operasi. Setelah diulang hingga empat kali pun, semua pengujian menunjukkan hasil yang positif yaitu dapat mengontrol perdarahan pasca operasi.

“Setelah percobaan in vivo selesai, kemungkinan selanjutnya akan dilakukan uji klinis manusia,” tutup Oktika. (***)

sumber: detik.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Surabaya – Perkembangan teknologi manufaktur berjalan sangat cepat. Kemampuan alat-alat produksi semakin canggih.

Untuk itu, jurusan Teknik Industri Sekolah Tinggi Teknik Surabaya (STTS) membekali mahasiswanya dengan kapabilitas dan kompetensi yang memadai terkait penggunaan teknologi tinggi (hi-tech).

Teknologi Hi-tech ini kemudian dianfaatkan mahasiswa di semester awal untuk membuat komponen dalam mekanisme Automata.

Automata, adalah mainan mekanis yang menyuguhkan serangkaian gerakan otomatis. Suatu putaran akan membuat mainan ini begerak berkesinambungan, biasanya dirancang secara memikat dan menghibur.

Dosen jurusan Teknik Industri, Tigor Tambunan, mengatakan untuk membuat komponen Automata, mahasiswa harus membuat bagian-bagian alat yang berukuran kecil dan detail.

Alat-alat yang dibuat dari plastik, akrilik, metal, hingga kayu harus dibuat mahasiswa dengan memakai alat hi-tech layaknya di industri besar.

“Mahasiswa mempelajari cara-cara merancang sistem mekanisme alat-alat produksi dengan menggunakan teknologi Computer Aided Design (CAD), kemudian membuat produk-produk tersebut dengan menggunakan perangkat-perangkat berbasis CNC seperti mesin laser CNC dan mesin 3D printer,” kata Tigor, Sabtu 23 Juni 2018.

Proses perancangan dan pembuatan sistem mekanisme produksi yang disederhanakan dalam bentuk model mekanisme automata ini melibatkan proses analisis dan diskusi yang cukup intens antara mahasiswa di setiap kelompok dengan dosen.

“Banyak kesulitan yang dihadapi oleh mahasiswa dalam proses pengerjaan tugas ini, mulai dari masalah keragaman karakteristik bahan, kompleksitas rancangan, termasuk karakteristik mesin yang ternyata juga bisa sangat bervariasi,” sambungnya.

Lewat model pembelajaran semacam ini, mahasiswa tidak hanya menguasai cara menggunakan alat-alat yang canggih, tapi juga memiliki kemampuan analisis dan kerja sama yang efektif.

“Pembelajaran mata kuliah proses manufaktur ini, diharapkan mahasiswa akan memiliki kapabilitas dan kompetensi yang sesuai dengan tuntutan pasar industri manufaktur di era Revolusi Industri 4.0,” jelasnya.

Rizky Wijaya (20) salah satu mahasiswa yang dinilai membuat mekanisme Automata yang unik mengungkapkan ia memilih membuat mekanisme Automata yang menunjukkan pergerakan tulisan dari hasil perputaran alat yang dibuatnya.

“Jadi setap papan yang ada tulisannya ini akan bisa bergerak bergerak kiri kanan atas bawah. Tetapi proses pemasangan agak susah, gear yang saya buat tidak pas,” urainya

Rizky dan teman-temannya mengungkapkan membuat alat ini dari panduan di You tube. Sebab mereka harus memikirkan konsep Automata yang komponennya akan mereka buat di laboratorium.

Amelia Chrisanta, salah satu mahasiswa perempuan mengungkapkan mengoperasikan alat hi-tech bukan lagi hal yang sulit. Karena saat ini alat sudah serba digital.

“Teknik Industri sekarang lebih mudah untuk pakai alatnya, karena serba otomatis. Tetapi kalau untuk pemasangan alatnya butuh waktu dan tenaga ekstra karena tenaganya manual,”pungkasnya. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID – Ujian Nasional merupakan awal dari langkah yang besar, yaitu persaingan untuk mendapatkan bangku di perguruan tinggi idaman.

Berbagai persiapan tentu dilakukan oleh calon mahasiswa untuk masuk ke kampus yang diinginkan demi mencapai cita-cita dan pekerjaan yang telah didamba sejak lama.

Ada yang mengikuti bimbingan belajar sampai keluar kota, ada juga yang belajar sendiri di rumah dengan bermodalkan modul-modul yang mendukung.

Menentukan kampus dan jurusan menjadi salah satu keputusan terpenting, apalagi melihat jumlah kampus di Indonesia yang mencapai lebih dari 4.300 institusi pendidikan tinggi.

Banyak hal yang menjadi pertimbangan dalam memilihnya, karena keputusan ini akan berpengaruh pada masa depanmu kelak.

Seringkali, minimnya informasi dan ketidaktahuan akan minat atau bakat bisa menyebabkan masalah dan penyesalan di kemudian hari.

Contohnya seperti perguruan tinggi yang tidak sesuai harapan, tidak tertarik dengan bidang kuliah, hingga akhirnya tidak bisa menyelesaikan kuliah tepat waktu.

Oleh karena itu, pemilihan kampus dan jurusan yang tepat harus dipertimbangkan sejak dini dan dipersiapkan secara matang.

Berikut ini ada beberapa cara untuk menentukan kampus dan jurusan yang tepat agar sukses di kemudian hari:

1. Potensi diri

Buat kamu yang masih bingung untuk menentukan jurusan yang sesuai dengan minat dan bakat, segeralah konsultasi kepada pihak konseling di sekolahmu juga orangtua agar kamu semakin terarah. Perlu diingat, jurusan yang temanmu pilih belum tentu sesuai dengan diri kita. Jadi, tentukanlah minat dan bakatmu sesuai kata hati.

2. Lokasi kampus dan biaya

Lokasi perguruan tinggi yang diinginkan dapat memengaruhi banyak sedikitnya biaya yang dikeluarkan, untuk itu kamu harus benar-benar mempersiapkannya dengan matang, juga dengan dukungan orangtua agar kuliahmu lancar.

3. Profil kampus dan jurusan impian

Riset kecil-kecilan mengenai kampus tujuan itu penting. Kunjungi situs web kampus tujuan dan pahami jurusan yang diinginkan. Jika kamu memiliki relasi kakak tingkat di kampus impianmu, kamu juga dapat menanyakan informasi mengenai kampus tersebut sebagai bekal dalam menentukan kampus impian.

4. Akreditasi Internasional

Kualitas perguruan tinggi perlu kamu lihat dari akreditasi yang dimiliki. Akreditasi ini mencakup di tingkat program studi maupun institusi dari BAN-PT. Tentunya, lebih bagus jika kampus impianmu juga telah memiliki Akreditasi Internasional, sehingga kamu dapat semakin unggul bersaing di masa depan.

5. Prospek karier

Hal berikutnya harus dipertimbangkan adalah apakah setelah lulus nanti ada kepastian karier dan pekerjaan yang didapatkan. Pilih perguruan tinggi yang memang sudah terbukti menghasilkan lulusan siap pakai dan memiliki jaringan kerjasama dengan industri sehingga memudahkan lulusan mencari pekerjaan.

Lebih baik lagi, bila perguruan tinggi tersebut memiliki wadah pengembangan karier untuk membantu menyalurkan lulusannya bekerja di industri yang sesuai, sehingga tidak mempersulit kita ketika nanti sudah tiba saatnya untuk lulus, karena pemilihan tempat kuliah dan jurusan yang tepat sangat mempengaruhi kesuksesanmu di masa depan.

Kesimpulannya, selain dari diri sendiri, peran kampus tujuan menjadi hal yang ikut menentukan pilihanmu ke depannya.

Nah, kalau kamu ingin tahu rekomendasi jurusan terbaik di kampus idaman, Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta selalu memberikan informasi tentang fakultas dan jurusan yang tersedia di kampus tersebut.

Kamu juga bisa melihat banyak lulusan yang sukses di dunia kerja setelah lulus dari kampus yang termasuk dalam jajaran perguruan tinggi terbaik di Indonesia ini.

Selain ter-Akreditasi Institusi A, UII Yogyakarta juga telah ter-Akreditasi Internasional pada program studi Arsitektur, Akuntansi, Teknik Lingkungan, dan Teknik Sipil. (***)

sumber: tribunnews.com

Tunjangan segera diberikan kepada semua guru yang memang tercatat sebagai penerima.

MEDIAKEPRI.CO.ID, Malang – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Prof Muhadjir Effendi meminta para guru untuk bersabar dalam menunggu pencairan tunjangan profesi guru (TPG).

“Meskipun sempat tertunda, dalam waktu dekat tunjangan tersebut akan diberikan kepada semua guru yang memang berhak dan tercatat sebagai penerima,” kata Mendikbud di sela penyerahan Kartu Indonesia Pintar (KIP), bantuan pendidikan, dan bantuan pangan nontunai di Kota Malang, Jawa Timur, Sabtu, 12 Mei 2018.

Muhadjir menjelaskan tunjangan profesi tersebut diberikan melalui dana alokasi khusus (DAK). DAK disalurkan melalui pemerintah kota dan kabupaten untuk SD dan SMP. Sedangkan SMA melalui pemerintah provinsi.

“Jika dana yang disalurkan belum sampai, saya harap para guru bersabar dan bersyukur karena belum semua guru dapat memperoleh kesempatan ini,” ujarnya.

TPG merupakan tunjangan khusus yang diberikan kepada para guru yang telah lulus sertifikasi profesi, baik PNS maupun non-PNS. Termasuk guru atau pengajar di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).

Dana TPG bagi guru PNS daerah dialokasikan melalui kas daerah sesuai dengan yang diajukan sejak awal tahun anggaran. Pemerintah pusat melalui Kementerian Keuangan mentransfer dana tersebut ke masing-masing pemerintah daerah.

Sedangkan untuk TPG bukan PNS masuk ke dalam anggaran Kemendikbud. Sehingga dana tunjangan profesi akan langsung dikirim Kemendikbud ke rekening masing-masing guru.

Dasar pembayaran tunjangan profesi tersebut sudah diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan nomor 50/PMK.07/2017. Aturan tersebut terkait pengelolaan transfer ke daerah dan dana desa.

Besaran (nominal) TPG yang diterima guru sebesar satu kali gaji bruto per bulan. Hanya saja, TPG tersebut tidak diberikan rutin setiap bulan, melainkan per triwulan, bahkan lebih.

Untuk mendapatkan TPG tersebut, setiap guru harus menempuh berbagai persyaratan yang ditetapkan. Jika lolos akan mendapatkan TPG dan jika gagal bisa mengulang pada kesempatan berikutnya.

Di Kota Malang, jumlah guru, baik yang telah lolos sertifikasi (TPG) dan berstatus ASN maupun bukan ASN mencapai belasan ribu. Bahkan, jumlahnya lebih besar daripada jumlah ASN di lingkungan Pemkot Malang. (***)

Sumber : republika.co.id

Daya saing ini ditentukan oleh kapabilitas SDM dalam mengelola potensi yang ada.

MEDIAKEPRI.CO.ID, Malang – Menteri Koordiantor Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Puan Maharani mengemukakan era globalisasi menuntut sebuah negara berdaya saing kuat dan memadai. Daya saing ini ditentukan oleh kapabilitas SDM dalam mengelola potensi yang ada.

Menurut Puan, pembangunan SDM yang berkualitas, tidak terlepas dari peran pendidikan tinggi. Saat ini, laporan World Economic Forum (WEF) menyebutkan daya saing Indonesia periode 2017-2018 naik lima peringkat.

“Dari posisi 41 menjadi posisi 36 dari 137 negara,” kata Puan Maharani di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Dome di Malang, Jawa Timur, Sabtu 12 Mei 2018.

Bahkan, lanjutnya, Indonesia dinilai sebagai salah satu inovator teratas di antara negara berkembang. Namun, sarjana di Indonesia hanya berkontribusi 11 persen atau 13 juta orang dari 121 juta penduduk di Tanah Air yang bekerja.

Untuk memperkuat profil angkatan kerja Indonesia, salah satu agenda setrategis pemerintah adalah memperkuat seluruh perguruan tinggi yang ada di Indonesia, negeri dan swasta. Jumlah perguruan tinggi nasional lebih dari 4.300 dan lebih dari 90 persen merupakan perguruan tinggi swasta.

Terhadap perguruan tinggi swasta ini, dia mengatakan, pemerintah telah memberikan perlakuan yang sama. Termasuk dalam pemberian beasiswa bagi dosen dan mahasiswa, bantuan biaya operasional, serta bantuan dana riset.

Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi juga telah memberikan pendampingan dan pembinaan kepada perguruan tinggi swasta (PTS). Alhasil, 27 PTS binaan telah memiliki akreditasi A pada 2017.

“Untuk mengembangan perguruan tinggi dan dunia pendidikan pada umumnya, Muhammadiyah juga memiliki perhatian yang luar biasa besar untuk mewujudkan pendidikan yang berkualitas,” ujarnya.

Pada kesempatan itu dilakukan penyerahan sertifikat lisensi oleh Kepala Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) Sumarna F Abdurahman kepada Lembaga Sertifikasi Profesi UMM. Menurut Rektor UMM Fauzan, penyerahan lisensi dari BNSP ini dapat membantu lulusan UMM memperoleh pengakuan nasional dan internasional.

“Mulai sekarang UMM berhak menyelenggarakan sertifikasi profesi lulusannya dengan skema yang telah ditentukan,” kata Fauzan.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy yang juga hadir di UMM Dome untuk wisuda sarjana dan pascasarjana UMM itu mengatakan sarjana UMM adalah bagian dari makhluk yang akan disiapkan untuk menghadapi tantangan masa depan.

Dia berharap mereka dapat menunjukkan kepada siapa saja dengan percaya diri bahwa UMM dapat melahirkan generasi muda yang sanggup menegakkan kedaulatan dan kebesaran bangsa Indonesia ini.

“Kami berharap lulusan UMM untuk terus berkarya dan membawa nama besar UMM dimanapun berada,” kata dia.

Usai menghadiri wisuda di UMM, Puan Maharani bersama Muhadjir Effendi menghadiri Lomba Mewarnai dan Menggambar Se-Jawa Timur di Taman Sengkaling UMM.

Lomba yang mengangkat tema “Indonesia Pintar Budaya dalam Warna” ini hasil kerja sama UMM, Kemendikbud dan Kemenko PMK RI. Total peserta yang hadir mencapai 1.512 orang yang terdiri dari siswa TK dan SD. (***)

Sumber : republika.co.id

MEDIAKEPRI.CO.ID, Bandung – Mahasiswa Universitas Komputer (Unikom) Bandung lagi-lagi mengukir prestasi kompetisi robot skala internasional. Kali ini perwakilan Unikom berhasil menyabet empat medali emas, satu perak dan dua perunggu dari tujuh kategori lomba yang diikuti.

Unikom mewakili Indonesia bersama puluhan negara peserta mengikuti kompetisi robot di Amerika Serikat yang berlangsung mulai tanggal 27 – 29 April 2018. Unikom mengikuti tujuh kategori dari 12 robot yang diboyong ke negeri Paman Sam.

Tujuh kategori robot yang diikuti oleh mahasiswa Unikom ini yaitu Autonomous Robomagellan, Open Fire Fighting robot, Open Walker Challenge, Open Table Top Navigation, Open Ribbon Climber, Beam Photovore dan Beam Speeder.

“Setiap tahun mengikuti kompetisi (robot), ini tahun ke 9 bagi Unikom. Riset dilakukan oleh mahasiswa-mahasiswa dari jurusan teknik elektro, jurusan teknik komputer dan jurusan teknik informatika,” kata dosen pembimbing divisi robot Unikom Taufiq Nuzwir di Unikom, Jalan Dipatiukur, Kota Bandung, Senin, 7 Mei 2018.

Berkat riset mendalam dan pengalaman Unikom mengikuti kompetisi robot skala internasional, Indonesia kembali unjuk gigi di negara lain. Unikom lewat putra putri terbaiknya berhasil menggondol empat emas, satu perak dan dua perunggu.

“Tahun ini merupakan pencapaian terbaik kami dengan empat emas. Tahun-tahun sebelumnya paling banyak tiga emas kita bawa pulang,” tutur dia.

Salah satu robot bernama DU 114 P18 diganjar medali emas setelah mengguli tuan rumah dengan medali perak dan perwakilan Mesir medali perunggu. Prototype robot pendeteksi dan pemadam api ini berhasil memukau juri Robogames 2018.

Salah seorang perancang robot DU 114 P18 Gyan Aditya mengatakan dalam kompetisi kali ini terdapat maket rumah yang di dalamnya terdapat tujuh lilin. Kemudian robot setiap peserta secara bergantian beroperasi menemukan titik api.

Berbekal teknologi ultrasoni dan Uvitron yang disematkan, robot ciptaan dua mahasiswa jurusan teknik elektro ini mampu menemukan titik api dengan cepat. Sang robot mampu melewati setiap rintangan-rintangan menuju titik api.

“Teknologi yang ada di robot ini mampu mendeteksi keberadaan api dengan cepat. Robot ini juga bisa membedakan antara api dengan cahaya atau suhu panas,” tutur dia.

“Robot prototype ini juga berfungsi memadamkan api kecil seperti lilin. Karena dibekali kipas. Ke depannya bisa dikembangkan dengan dibekali air. Saat ini prototype yang kami ciptakan 90 persen bahan lokal,” menambahkan.

Robot yang membutuhkan waktu pengerjaan selama tujuh bulan ini bertujuan untuk membantu kerja petugas pemadam kebakaran ke depannya. Sebab, sambung dia, tak jarang petugas pemadam kebakaran gugur saat memadamkan si jago merah.

“Tentu robot ini ke depannya untuk mengurangi risiko kematian petugas kebakaran,” ujar Gyan. (***)

sumber: detik.com

MEDIAKEPRI.CO.ID – Pengumuman hasil nilai Ujian Nasional (UN) tingkat SMA, MA, SMK dan SMALB diumumkan, Selasa, 2 Mei 2018, Sedangkan, hasil kelulusan oleh satuan pendidikan dilaksanakan pada Kamis ini 3 Mei 2018.

Menurut Kepala Dinas Pendidikan Jabar, Ahmad Hadadi, pihaknya telah mengirimkan surat edaran ke semua sekolah di Jabar agar melarang siswanya berkonvoi merayakan kelulusan sambil melakukan aksi corat-coret seragam.

“Kami sudah mengirimkan surat edaran terkait larangan corat-coret seragam itu sejak 31 April lalu ke semua sekolah,” ujar Ahmad Hadadi kepada wartawan, Kamis, 3 Mei 2018.

Menurut Hadadi, dalam surat edaran tersebut, ia pun meminta semua sekolah agar melakukan pengawasan kepada siswa baik di dalam sekolah maupun di luar lingkungan sekolah. “Kami berharap semua sekolah mengarahkan siswa pada kegiatan positif dalam mengekpresikan rasa syukur mereka,” katanya.

Hadadi berharap, dengan adanya surat edaran tersebut semua kepala sekolah bisa sigap. Jangan sampai, ada kebiaasaan tak baik seperti tahun lalu. Yakni, siswa melakukan euforia berlebihan, konvoi, corat-coret sampai vandalisme.

“Harus syukuran, bukan berati sudah selesai tapi harus dilanjutkan. Siswa harus terus diberikan nasihat supaya gak kebablasan,” katanya.

Saat ditanya terkait hasil UN, menurut Hadadi, nilai UNBK SMA di Jabar mendekati rata-rata nasional. Karena, hasilnya sama dengan tahun sebelumnya.

“Yang naik tuh Bahasa Indonesia, kurang lebih mirip tahun-tahun sebelumnya. Jabar sama secara umum dengan Provinsi maju di bidang pendidikan lainnya, seperti Yogyakarta, DKI, Jatim, Jateng, lebih kurang di sana,” katanya.

Sementara menurut Ketua Ujian Nasional (UN) Tingkat Jawa Barat, Firman Adam, ia telah melaksanakan serah terima hasil UN tingkat SMA, MA, SMK, dan SMALB Tahun Pelajaran 2017-2018.

Serah terima dilaksanakan di Aula Balai Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan (Tikomdik), Kantor Dinas Pendidikan Jawa Barat, Jalan Dr Radjiman No. 6, Kota Bandung, Jawa Barat pada Selasa, 1 Mei 2018.

Firman mengatakan, pelaksanaan UN jenjang SMA, MA, SMK, dan SMALB tahun ini berjalan lancar, aman, dan terkendali. Apalagi mengingat pelasanakan UN tingkat SMA, MA dan SMK di Jawa Barat 100 persen berbasis komputer.

Penyelenggaraan UN dengan moda Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) tersebut dirasa lebih efisien, serta memudahkan siswa untuk mengerjakan soal-soal Ujian Nasional. Selain itu, peran Tim Helpdesk Provinsi dan kabupaten/kota sangat terasa dalam membantu penyelenggaraan UNBK.

“Keberhasilan penyelenggaraan UN patut disyukuri oleh kita semua karena merupakan jerih payah dari semua pihak, kata Firman.

Menurut Firman, terkait hasil yang diraih oleh siswa pada pelaksanaan UN tahun ini, hendaknya dianalisis secara komprehensif oleh seluruh kepala sekolah dan guru sebagai gambaran perbaikan atas proses pembelajaran yang telah berlangsung selama ini. Ke depannya, diharapkan antarsekolah dapat saling berkonsolidasi dan membantu, melihat kelemahan dan kelebihan satu sama lain.

“Sehingga antarsekolah bisa saling bantu meningkatkan mutu lulusan,” katanya.

Selain itu, kata dia, setelah pelaksanaan UN berakhir, aset yang dimiliki sekolah berupa komputer, dapat dimanfaatkan dengan baik. Firman berharap, aset tersebut selanjutnya dapat dimanfaatkan pada proses pembelajaran, tidak hanya berhenti pada UNBK saja.

Sebanyak 638.255 siswa melaksanakan ujian nasional di Jawa Barat.

Jumlah siswa SMA yang melaksanakan UNBK tercatat berjumlah 213.078 siswa, SMK sebanyak 314.547 siswa, MA sebanyak 67.339 siswa, dan paket C sebanyak 43.081. Sedangkan untuk SMALB yang melaksanakan UNKP sebanyak 210 siswa. (***)

sumber: galamedianews.com

Aplikasi ini mempunyai tiga fitur utama terkait Pemilu.

MEDIAKEPRI.CO.ID, Bogor – Tim mahasiswa dari Institut Pertanian Bogor (IPB) berhasil menjadi juara pertama dalam lomba Apps Challenge Sosialisasi Pilkada untuk Disabilitas Tunarungu yang digelar oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jawa Barat dan Telkom University di Bandung, Selasa, 24 April 2018.

Tim yang terdiri dari Fajar Maulana, Wardiman Perdian dan Yasmin Salamah, dari Departemen Ilmu Komputer Fakultas Matematika dan IPA (FMIPA), ini mengembangkan aplikasi bernama SuaraKami. Atas prestasinya ini, ketiganya berhak membawa pulang hadiah senilai Rp 15 juta.

“SuaraKami adalah aplikasi pendukung sosialisasi pemilu. Dalam aplikasi ini ada paparan tentang tahapan pemilu dengan visual yang menarik hingga mudah dipahami. Kami siapkan tiga fitur utama yakni sosialisasi Calon Gubernur (Cagub), fitur edukasi yang menjelaskan apa saja yang perlu disiapkan sebelum pemilu seperti dokumen, sistematika Tempat Pemungutan Suara (TPS), sistematika coblos dan lainnya. Fitur ketiga adalah fitur Saat Anda di TPS,” ujar Yasmin dalam rilis IPB yang diterima Republika.co.id.

Ia menambahkan, fitur Saat Anda di TPS ini terinspirasi dari temannya yang menderita tunarungu. Temannya itu kehilangan hak suara karena tidak mendengar panggilan mencoblos.

Nah, fitur ketiga ini menuntun pengguna step by step saat ada di TPS. Fitur ini dilengkapi notifikasi berupa getaran di smartphone. Fitur ini hanya bisa diakses di hari H. Saat pengguna sudah ada di TPS, ada barcode yang harus diakses untuk memvalidasi partisipasi pengguna aplikasi.

Menurut Fajar Maulana, aplikasi ini masih memerlukan pengembangan lebih lanjut. Ada usulan penambahan fitur video yang memuat bahasa isyarat, perubahan barcode (karena penambahan barcode di TPS ditakutkan melanggar undang-undang) menjadi GPS dan peningkatan keamanan data pengguna.

“Ke depan, kami akan kerja sama dengan Gerkatin (komunitas penyandang tuna rungu) untuk mengajari kami konten bahasa isyarat sehingga aplikasi ini ramah digunakan oleh kawan rungu,” ujarnya.

Ia menjelaskan, teknologi ini mengkonversi bahasa lisan menjadi bahasa tulisan dan bahasa tulisan menjadi bahasa isyarat. Jadi penyandang disabilitas terbantu dan bisa menggunakan hak pilihnya nanti pada Pilkada serentak 27 Juni 2018. Saat ini ada lebih dari 9.000 kawan rungu yang memiliki hak pilih pada Pilkada nanti. (***)

sumber: republika.co.id

MEDIAKEPRI.CO.ID, Kayong Utara – Wakil Bupati Kayong Utara, Idrus menyebut minat baca anak-anak di Kayong Utara masih rendah meski pemerintah daerah sudah banyak membangun perpustakaan.

“Perpustakaan di Kayong Utara ini sudah banyak, persediaan bukunya juga lumayan,” katanya saat membuka acara lomba bercerita SD/MI tingkat kabupaten di Balai Nirmala, Sukadana, Rabu, 25 April 2018,

Oleh sebab itu, dia meminta para pendidik bekerja semaksimal mungkin, agar anak-anak yang mengikuti lomba bercerita ini kelak dapat unjuk gigi mewakili Kayong Utara di tingkat provinsi.

Dia menegaskan, lomba bercerita ini juga harus berkesinambungan, mengingat fungsinya yang dapat memancing minat baca anak-anak sejak dini.

“Intinya anak-anak jangan takut berkreativitas selama mengikuti lomba ini,” ujarnya.

Dia menjelaskan, para peserta yang nantinya berhasil meraih juara akan dikirimkan untuk mengikuti lomba di tingkat provinsi, yang mana akan dipusatkan di Kota Pontianak.

“Kalau menang lagi nanti akan diberangkatkan ke Jakarta untuk lomba tingkat nasional,” tutupnya. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Serbia – Siswa-siswi SMA & SMP dari berbagai wilayah di Indonesia sukses meraih 2 medali emas lomba penelitian internasional “25th International Conference of Young Scientists (ICYS) 2018 di Beograd, Serbia, 19-25 April 2018.

Dari rilis yang diterima dari Center for Young Scientists, Rabu, 25 April 2018, tim yang dipimpin Monika Raharti (Center for Young Scietists Indonesia) juga membawa pulang 3 medali perunggu, 2 special awards, dan penghargaan best poster.

Emas diraih Muhammad Firman Nuruddin dari SMA Taruna Nusantara Magelang di bidang Environmental Science dan Ian Santoso dari SMA Cita Hati West Campus Surabaya pada bidang Life Sciences.

Medali perunggu dipersembahkan Firman Fathoni dari SMPN1 Surabaya pada bidang Computer Science, Michael Teguh Laksana dari SMA St Aloysius Bandung pada bidang Physics, dan Peter Gonawan dari SMA Cita Hati East Campus Surabaya pada bidang Engineering.

Nicholas Patrick dari SMP Cita Hati Surabaya meraih Special Award bidang Mathematics, dan Stephanie Susanto & Suzan Basaran dari SMA Budi Utama Yogyakarta juga mendapatkan Special Award bidang Life Sciences.

Arflyno Chrisdion Pudayar Pahombar Ludjen dari SMA Bina Cita Utama Palangkaraya berhasil meraih The Best Poster bidang Computer Science.

Direktur Pembinaan SMA, Kemendikbud mengatakan para pelajar itu bersemangat untuk mengharumkan nama Indonesia di Beograd.

Tim Indonesia disambut hangat oleh Duta Besar Republik Indonesia untuk Serbia di Beograd yang juga hadir pada acara Closing and Awarding Ceremony ICYS 2018di Sumice, Beograd, Serbia.

Para siswa ini akan tiba di Tanah Air pada Kamis (26/4/2018) pukul 15:05 WIB di Bandara Soekarno Hatta. (***)

sumber: tribunjabar.id

MEDIAKEPRI.CO.ID – Dunia pendidikan kembali menjadi sorotan publik.

Setelah heboh profil artis tampan Daniel Mananta dalam soal ujian bahasa Inggris, kini beredar soal ujian yang benar-benar buat kaget.

Dalam soal ujian yang tertulis tanggal 19 April 2018 tersebut, publik dibuat terkejut dengan salah satu soal.

Dimana pertanyaan dalam soal tersebut amat disayangkan muncul dalam sebuah ujian, terlebih ujian SMP.

Dimana para pelajar tingkat SMP masihlah anak-anak yang baru beranjak remaja.

Yang mana masih membutuhkan banyak pembelajaran dan juga bimbingan, terlebih dalam mengenal seks.

Begitu disayangkan, pertanyaan yang muncul disoal tersebut membahas tentang seks.

Terlihat soal nomer 25 ini menanyakan tentang tempat untuk seks bebas.

“Berdasarkan hasil penelitian, tempat yang paling banyak digunakan untuk melakukan seks bebas adalah di . . .

A. Rumah
B Taman
C. Mobil
D. Hotel”

Pelajar SMP yang usianya masih sekitaran 12 hingga 15 tahun ini dihadapkan dengan soal yang tak semestinya.

Tak hanya untuk pelajar tingkat SMP saja, pertanyaan seperti ini pun tidak sepantasnya muncul dalam soal ujian.

“Yang lagi viral di group WhatsApp nih lamisers

Soal ujian lagi

Kali ini soal Ujian Sekolah tingkat SMP

Yang bikin soal uda kehabisan bahan apa gimana

Susah banget jawabannya

Mintje nggak sanggup mikirnyaaa

Kira kira apa jawabannya nih lamisers” tulis akun Lambe Lamis. Berikut tanggapan netizen, terkait munculnya soal tersebut di ujian tingkat SMP.

@novakayla.nk, “Ini koo soal ujiam kaya gini.. apa gak di saring2 dulu ya kalo buat pertanyaan..”

@nanda_sav, “Itu yang buat soal gila atau gimana?? Anak SMP ditanyain kaya begituan”

@vty89, “pendidikan seks memang penting.. tapi kalo soalnya kayak gitu, kan ngga relevan.. kenapa ngga bagaimana cara menjaga kebersihan reproduksi, misalnya.. kan tiap anak pasti tahu.. kalo soal ini ??? tiap anak jadi pengen tahu, naudzubillah amot²..”

@fitriumanah28, “Udah rusak moral anak bangsa sekarang yang bikin soal kok ngga berbobot sekali”. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Pengumuman Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) akan dilakukan mulai hari ini, Selasa, 17 April 2018 pada pukul 17.00 WIB. Pengumuman resmi ini akan disampaikan melalui laman http://pengumuman.snmptn.ac.id/

“Kami mohon bagi peserta yang lulus seleksi untuk mencermati dan mentaati pengumuman resmi yang dikeluarkan oleh masing-masing PTN, terutama dengan ketentuan persyaratan penerimaan juga jadwal dan tempat jadwal ulang (registrasi) 2018,” kata Sekretaris Panitia SNMPTN 2018 Joni Hermana, di Jakarta, Selasa, 17 April 2018.

Selain itu, registrasi calon mahasiswa yang lulus seleksi PTN dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan ujian tulis Seleksi Bersama Masuk PTN (SBMPTN). Registrasi atau pendaftaran ulang di PTN masing-masing dijadwalkan pada 8 Mei 2018. Di hari yang sama, ujian SBMPTN dilakukan.

Tujuannya, kata Joni, agar siswa yang lulus SNMPTN tidak lagi mengikuti SBMPTN sehingga bisa memberi kesempatan bagi siswa lain untuk diterima di PTN.

SNMPTN merupakan jalur masuk perguruan tinggi negeri (PTN) melalui jalur nilai rapor. Sedangkan SBMPTN dilakukan dengan sistem ujian.

Joni menginformasikan bagi siswa yang ingin melihat hasil SNMPTN bisa masuk melalui laman pengumuman.snmptn.ac.id. “Masukkan nomor pendaftaran pada kolom yang telah disediakan. Selanjutnya masukkan tanggal lahir. Baru kemudian klik tombol lihat hasil seleksi,” ujarnya.

Selain itu, pengumuman bisa diakses melalui laman resmi PTN seperti http://snmptn.itb.ac.id, http://snmptn.ui.ac.id,http://snmptn.ugm.ac.id, http://snmptn.ipb.ac.id, http://snmptn.its.ac.id,http://snmptn.unair.ac.id, ttp://snmptn.undip.ac.id, http://snmptn.unsri.ac.id,http://snmptn.untan.ac.id, http://snmptn.unhas.ac.idhttp://snmptn.unand.ac.id, dan http://snmptn.unsyiah.ac.id. (rilis)

MEDIAKEPRI.CO.ID, Pasuruan – Wali Kota Pasuruan Setiyono melakukan sidak ke beberapa SMA di Kota Pasuruan dalam rangka mengecek pelaksanaan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK), Senin, 9 April 2018.

Dalam sidak kali ini, Setiyono didampingi Sekda Kota Pasuruan Bahrul Ulum dan Indah Yudiani selaku Kepala Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur untuk Kota Pasuruan.

Sidaknya dilakukan di tiga titik 3 yakni SMK Bayt Al Hikmah, SMAN I dan MAN Kota Pasuruan.

Dalam proses sidak ini, Setiyono tidak menemukan kendala sedikit pun.

Pelaksanaan UNBK hari pertama, mata pelajaran Bahasa Indonesia berjalan lancar.

Tidak ada siswa yang absen ujian, baik itu disebabkan sakit, izin atau tanpa keterangan.

Tidak ada laporan tentang listrik padam atau kendala jaringan internet.

Setiyono mengimbau kepada orang tua untuk ikut menjaga putra-putrinya yang mau ujian.

Ia meminta orang tua untuk ikut mengawasi kegiatan atau aktivitas anak-anaknya.

“Yang perlu diawasi, khususnya anak laki-laki, biasanya begadang sampai larut malam, saya minta untuk dilarang. Ini demi kebaikan mereka juga. Orang tua harus berperan juga. Kalau mereka tidak mengikuti ujian karena sakit, mereka juga yang akan rugi,” kata dia.

Kepada para pelajar kelas XII, Setiyono juga mengimbau kepada mereka untuk dapat menjaga kesehatan selama pelaksanaan ujian.

Tingkatkan intensitas belajar. Rileks dan jangan tegang.

Terpenting, kata dia, jangan lupa berdoa ke Tuhan Yang Maha Esa.

Untuk soal teknis, Setiyono menegaskan, pihaknya sudah mengintruksikan kepada semua sekolah untuk siap dalam menghadapi kendala-kendala yang kemungkinan akan ditemui dalam UNBK.

“Kalau ada jaringan yang rusak atau bermasalah, sekolah harus siap. Jangan sampai siswa fokus pikirannya terganggu akibat internet yang trouble atau tiba-tiba listrik padam. Semua sekolah harus stand by dan memastikan semuanya berjalan aman dan lancar,” tambah dia.

Ia juga mendoakan, semua siswa-siswi yang mengikuti ujian diberikan kemudahan dalam proses pengerjaannya dan akan mendapatkan hasil maksimal.

“Saya berharap semua siswa dan siswi lulus 100 persen,” ungkap dia.

Sekadar diketahui, jumlah siswa SMA/MA Negeri/Swasta se-Kota dan Kabupaten Pasuruan yang menghadapi UNBK mencapai 10.568 anak.

Rinciannya, 1649 siswa-siswi SMA/MA Negeri se-Kota Pasuruan dan 8919 pelajar SMA/MA Negeri swasta se-Kabupaten Pasuruan. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Belitung – Komandala Putra nama laki-laki itu dipanggil, dibalik penampilannya yang sederhana, pria murah senyum tersebut memiliki kemampuan yang tak biasa.

Pria yang akrab disapa Koman itu ternyata menguasai 16 bahasa asing, ditambah lagi koman Bahasa Indonesia dan Belitung, hingga saat ini sudah 18 bahasa dikuasainya.

Koman sendiri mengaku belajar Bahasa asing diperlajari dari kampus, tempat kursus, buku dan internet.

Dari pengalaman tersebut koman Menyampaikan ada tiga tantangan yang paling sering orang temui saat belajar bahasa asing yaitu, Sulit mengingat kosakata baru, sulit mengingat rumus Dan tidak ada teman berlatih.

Untuk bisa mempelajari bahasa asing koman menerangkan harus memiliki motivasi yang keharusan. (***)

sumber: tribunnews.com

Metode Coarse to Fine Search (CFS) dapat menyelesaikan masalah multidimensi.

MEDIAKEPRI.CO.ID, Surabaya – Kendala utama efisiensi bahan bakar pembangkit listrik terletak pada masalah sulitnya penghematan biaya listrik atau Economic Dispatch (ED). Hal ini disinyalir menyebabkan optimalisasi biaya pembangkitan sistem tenaga berskala besar sulit dicapai.

Persoalan ini mendorong Jangkung Raharjo, mahasiswa Program Doktor Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), menemukan metode Coarse to Fine Search (CFS) sebagai penanganan masalah tersebut. Hasil penelitiannya pun sudah ia presentasikan dalam sidang promosi doktor.

Promovendus yang akrab disapa Jangkung ini menjelaskan, masalah Economic Dispatch merupakan masalah multidimensi yang bergantung pada jumlah pembangkit yang dilibatkan. Hal tersebut menyebabkan optimalisasi biaya pembangkitan pada sistem tenaga berskala besar menjadi sebuah masalah yang rumit.

Ia juga menjelaskan, selama ini metode yang digunakan untuk menganalisa peminimalan biaya pembangkitan kurang optimal. “Metode yang selama ini digunakan belum mencapai biaya yang terendah namun sudah berhenti,” kata Jangkung dalam siaran pers yang diterima Republika.co.id, Sabtu, 31 Maret 2018.

Berbekal ilmunya tentang telekomunikasi yang ia ambil ketika S2 dulu, akhirnya Jangkung menemukan ide untuk mencoba sebuah metode pengolahan video, yakni metode CFS. “Saya mencoba berinovasi pada metode ini karena saya merasa ada kemiripan antara variabel pengolahan video dengan variabel dalam masalah Economic Dispatch tersebut,” ujar Jangkung.

Selama ini, metoda CFS digunakan pada persoalan optimasi pengolahan sinyal informasi, khususnya pada pergerakan sinyal video. Bagi Jangkung, metode ini bisa juga digunakan untuk mengurangi kompleksitas sistem pembangkit, sehingga waktu komputasi lebih cepat.

Dosen di Telkom University Bandung ini pun berhasil membuktikan bahwa metode CFS dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah ED tersebut dengan jaminan konvergensi yang metode ini berikan. Selain itu, metode ini pun disinyalir dapat menyelesaikan persoalan multidimensi.

“Hal tersebut membuat metode ini dapat digunakan dalam dimensi tak terbatas,” kata Jangkung.

Untuk memvalidasi metode ini telah dilakukan pengujian pada sistem tenaga Jawa-Bali dengan tegangan 500 kilovolt (kV). Pada pengujian tersebut fakta menarik kembali ditemukan, yakni metode ini juga dapat memecahkan persoalan ED untuk fungsi obyektif yang berorde tinggi. (***)

sumber: republika.co.id

MEDIAKEPRI.CO.ID, Kupang – Sekolah Dasar Inpres (SDI) Bea Nanga, di Kecamatan Lamba Leda, Kabupaten Manggarai Timur (Matim), memang boleh berbangga. Sebab, salah satu siswi sekolah itu, Aulyanti Putri Lentar, mewakili Kabupaten Manggarai Timur (Matim) mengikuti lomba bidang studi Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dalam ajang Olimpiade Sains Nasional (OSN) tingkat Provinsi NTT di Kupang, pekan depan.

Informasi ini disampaikan Camat Lamba Leda, Drs. Aleksius Rahman, melalui layanan WhatsApp (WA) kepada Pos-Kupang.Com, Kamis, 29 Maret 2018.

Aleksius menjelaskan, dipilihnya Aulya mewakili Kabupaten Manggarai Timur di tingkat Provinsi NTT setelah dalam seleksi di tingkat kabupaten di Borong meraih juara I mata pelajaran IPA. Sedangkan juara II mata pelajaran IPA diraih SDK Mano I Kecamatan Poco Ranaka.

Sementara juara matematika diraih oleh dua sekolah, yakni SDK St. Eduardus Borong dan SDK Wae Lengga Kecamatan Kota Komba.

“SDI Bea Nanga merupakan salah satu sekolah yang mendapat program rintisan KIAT guru,” kata Aleksius.

Kepala SDI Bea Nanga, Elfida Jerahi, S.Ag menyampaikan terima kasih kepada pemerintah pusat yang memilih SDI Bea Nanga dalam program ini. Ucapan yang sama juga disampaikan kepada para guru, orangtua murid, Kelompok Pengguna Layanan (KPL) serta Kepala Desa Lamba Keli yang telah bekerjasama dalam menunjang proses belajar mengajar di sekolah tersebut.

Camat Lamba Leda, Drs. Aleksius Rahman, menyampaikan profisiat kepada SDI Bea Nanga, teristimewa kepada Aulya yang telah mengharumkan nama baik Kecamatan Lemba Leda dan Kabupaten Manggarai Timur ke tingkat provinsi.

“Harapan saya di tingkat provinsi bisa meraih juara sehingga dapat berlaga di tingkat nasional. Peserta akan berangkat ke Kupang pada hari Selasa tanggal 3 April 2018,” kata Aleksius. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Banjarmasin – Sekretaris Dinas Pendidikan Kota Banjarmasin, Sarwani, saat dikonfirmasi menyatakan pihaknya dalam waktu dekat akan segera mendrop sebanyak 550 komputer ke 25 SMPN untuk keperluan UNBK.

“Pembagian komputer ke 25 buah SMPNN ini berdasarkan skala prioritas. Lelang komputer sudah selesai dilaksanakan , tinggal serah terima barang saja. Minggu ini komputer, kita bagikan ke sekolah-sekolah,” katanya.

Sarwani menyatakan pihaknya akan mendrop komputer ke SMPN yang nebeng UNBK, SMPN yang menggelar UNBK mandiri dan tiga SMPN yang masih UNKP tahun ini, yakni SMPN 12, SMPN 11 dan SMPN 32.

Selain, tiga SMPN, juga ada SMP swasta yang belum bisa UNBK, yakni SMP PGRI 4.

Pihakya masih mencoba mendaftarkan lagi ke pusat kurikulum (Puskor) Kemendikbud) agar tiga SMPN, yakni SMPN 12, SMPN 11 dan SMPN 32 untuk bisa UNBK.

Pada 27 Maret ini, dirinya akan berangkat ke Kemendikbud lagi.

“Untuk dana BOS bisa saja digunakan untuk memperlancar keperluan UNBK, tapi ada batas prosentasenya,” katanya. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Sleman – Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Mulyono meresmikan Universitas Achmad Yani (Unjani) Yogyakarta di Jalan Siliwangi Rongroad Barat Banyuraden Gamping , Sleman, Senin 26 Maret 2018

Peresmian ditandai dengan penandatanganan salinan Surat Keputusan (SK) Pembentukan Unjani Yogyakarta, pembukaan selubung tulisan Universitas Achmad Yani di Depan Gedung Unjani, serta penyerahan bendera lambang Unjani Yogyakarta oleh Mulyono kepada Rektor Unjani, Djoko Mulyono.

Menurut Mulyono, pendirikan Unjani Yogyakarta merupakan buah dari berbagai pertimbangan dan penilaian efisien, yakni hasil penggabungan STMIK Jenderal Achmad Yani dan STIKES Jenderal Achmad Yani menjadi Universitas Jenderal Achmad Yani.

“Di samping itu, hal ini juga merupakan tuntutan pendidikan ke depan dan komitmen bagaimana meningkatkan sumber daya manusia, khususnya anak-anak dari purnawirawan TNI AD dan TNI AD,” katanya kepada wartawan usai acara peresmian Unjani, Senin.

Sebelumnya, dalam sambutannya Mulyono mengatakan pendidikan masih menjadi permasalahan tersendiri di Indonesia. Meskipun sudah meningkatkan anggaran pendidikan, namun pemerintah baru memberikan sedikit perubahan pada aspek kualitatif, yakni semakin meratanya layanan pendidikan bagi masyarakat. Sedangkan pada aspek kualitas pendidikan belum mengalami perbaikan signifikan.

“Melalui peresmian Unjani Yogyakarta ini TNI Angkatan Darat (AD) melalui Yayasan Kartika Eka Paksi ingin memberikan kontribusi yang konkrit dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia agar generasi penerus bangsa Indonesia memiliki sumber daya yang terus meningkat, mampu bersaing, bahkan lebih unggul dibandingkan bangsa lain,” katanya.

Mulyono juga berharap agar Unjani Yogyakarta menjadi pilot project klinik imunitas bangsa yang memberikan vaksin kekebalan berupa nilai-nilai luhur budaya bangsa untuk menjaga kelangsungan hidup bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Hal ini sangat penting. Selain mahasiswa memiliki pengetahuan dan keterampilan, mereka juga harus menjadi generasi muda yang tangguh, dan menjadi bangsa yang memiliki sikap menghormati perbedaan, semangat untuk bersatu, rela berkrorban, pantang menyerah, memiliki jiwa kebersamaan, gotong royong, dan prefesionalisme,” ujarnya.

Ketua Yayasan Kartika Eka Paksi Mayjend TNI (Pur) Adi Mulyono memaparkan Unjani Yogyakarta berdiri atas izin Kementerian Riset dan Teknologi Pendidikan Tinggi Nomor 166/KPP/I/2018 tanggal 2 Februari 2018 tentang izin penggabungan STMIK Jenderal Achmad Yani dan STIKES Jenderal Achmad Yani.

Saat ini, Unjani Yogyakarta memiliki tiga fakultas. Pertama, Fakultas Kesehatan yang memiliki enam prodi. Kedua, Fakultas Teknik dan Teknologi Informasi yang memiliki lima Prodi jenjang S1 dan satu prodi jenjang ahli madya. Ketiga, Fakultas Ekonomi dan Sosial yang memiliki empat prodi.

Menurut Adi , semua prodi tersebut dibuka dengan maksud mempermudah calon mahasiswa untuk mendapatkan kesempatan meningkatkan derajat pendidikan ke lebih tinggi lagi khususnya bagi mahasiswa yang berasal dari keluarga TNI AD. Hal ini ditunjang dengan pemberian beasiswa prestasi Rp 5 juta per mahasiswa dan juga potongan biaya kuliah 25 persen untuk para mahasiswa dari keluarga besar angkat darat.

Sementara itu, Ketua Kopertis V DIY Bambang Supriyadi berharap agar Unjani pada tahun ajaran baru meningkatkan jumlah mahasiswa sekitar 2.000-3.000 mahasiswa. Ia mengusulkan agar Yayasan Kartika Eka Paksi menyiapkan promosi untuk meningkatkan jumlah mahasiswa Unjani Yogyakarta.

Lebih lanjut, Bambang dalam sambutannya mengatakan setelah Unjani harus segera menyiapkan data-data akreditasi untuk membantu meningkatkan daya tarik para calon mahasiswa baik dari Yogyakarta maupun dari seluruh Indonesia. (***)

sumber: republika.co.id

MEDIAKEPRI.CO.ID, Bandung – Universitas Komputer Indonesia (Unikom) Bandung menobatkan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai Bapak Pembangunan Pendidikan Teknologi Informasi Indonesia. SBY datang menerima piagam penghargaan tersebut di Unikom, Sabtu sore, 24 Maret 2018.

Rektor sekaligus pendiri Unikom, Eddy Soeryanto Soegoto mengatakan, penghargaan itu hasil wujud kepedulian SBY terhadap dunia pendidikan.

“SBY pemimpin yang sangat santun, sangat cerdas, sangat perhatian kepada rakyatnya khususnya kepada dunia pendidikan,” kata Eddy pada pidatonya.

SBY, menurut Eddy, membuktikannya selama memimpin. Tingkat pendidikan meningkat cepat dan tingkat pertumbuhan ekonomi 6-7 persen.

“Di dunia pendidikan, SBY bisa memotivasi mahasiswa untuk berkompetisi. Pada kontes robot nasional Unikom juara,” ujar Eddy.

Penghargaan diberikan setelah SBY selesai sebagai Presiden dua periode. Alasannya, kata Eddy, karena dia dan SBY dulu sama-sama sibuk.

“Ide penghargaannya ini cepat, dan beliau mau datang ke sini,” kata Eddy kepada Tempo seusai acara.

Pada akhir pekan ini SBY berkeliling tempat di Bandung antara lain untuk bertemu kader, pengusaha, dan ke lokasi wisata.

SBY mengaku senang dan bangga berada di Unikom yang disebutnya salah satu universitas terbaik di Indonesia.

“Tidak banyak universitas yang mendapat prestasi seperti ini,” katanya.

Unikom menurut SBY menjadi contoh sebagai tempat kelahiran putra-putri bangsa yang menguasai teknologi informasi.

Menurut SBY, pada 30 tahun terakhir ini Indonesia memasuki gelombang awal terbangunnya masyarakat informasi. SBY yang merujuk pada sebuah buku Alvin Toffler, Kejutan Masa Depan (Future Shock) menyebutkan, gelombang pertama itu masyarakat agraris, kedua industrial, dan ketiga masyarakat informasi.

“Awal abad ke-21 hidup dalam revolusi gelombang keempat dengan datangnya teknologi digital,” kata SBY. (***)

Orang tua umumnya mengambil strategi netral dalam investasi pendidikan untuk anak.

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Orang tua umumnya mengambil strategi netral dalam investasi pendidikan untuk anak-anaknya, tidak memperhatian kemampuan kognitif anak. Kesimpulan itu berdasarkan penelitian mahasiswa Program Studi Doktor Ilmu Ekonomi FEB UGM Adji Pratikto.

“Hal ini berarti orang tua berusaha untuk mengalokasikan sumber daya yang sama tanpa melihat perbedaan kemampuan kognitif anak-anaknya,” kata Adji Pratikto dalam keterangan tertulis di Jakarta, Jumat 23 Maret 2018.

Paparan penelitian ini dilakukan Adji dalam rangka promosi ujian doktor dan melalui penelitian itu juga menunjukkan faktor gender memiliki pengaruh yang signifikan, yakni anak perempuan memiliki tingkat pendidikan yang lebih tinggi dibandingkan dengan saudara laki-lakinya.

Adji menilai hal itu menarik dari perspektif ilmu ekonomi karena anak perempuan dipersepsikan memiliki penghasilan yang diperkirakan lebih rendah diandingkan dengan anak laki-laki.

Persepsi itu timbul karena banyak temuan di dalam penelitian yang memperlihatkan bahwa rata-rata tingkat upah pekerja perempuan lebih rendah dibandingkan dengan pekerja laki-laki.

“Kemungkinan orang tua mengambil strategi kompensasi dalam investasi pendidikan terkait dengan gender anak-anaknya tersebut,” kata Adji.

Selain itu, hasil penelitian mengungkapkan orang tua dari rumah tangga di Indonesia masih memiliki ketergantungan terhadap beasiswa dari institusi lain di luar sekolah.

Anak yang menerima beasiswa dari institusi lain akan memiliki tingkat pendidikan yang lebih tinggi dibandingkan dengan saudaranya yang tidak menerima beasiswa.

Namun, beasiswa dari sekolah dalam bentuk pengurangan biaya sekolah tidak memiliki pengaruh yang signifikan. Hal itu berarti pengurangan biaya sekolah masih belum mampu untuk mendorong orang tua dalam menyekolahkan anak-anaknya.

Dalam rumah tangga miskin, kemiskinan yang dialami oleh orang tua akan menghalangi anaknya untuk mengakses pendidikan yang diinginkan sehingga mereka tidak mampu bersaing di pasar kerja.

Oleh karena itu, peran pemerintah dalam penyediaan sarana dan prasarana pendidikan yang mampu diakses oleh rumah tangga miskin menjadi satu kebutuhan dalam mendukung pembangunan ekonomi yang berkelanjutan. (***)

Sumber : republika.co.id

Komunitas ini menghimpun para alumni, para dosen dan pegawai, para mahasiswa

MEDIAKEPRI.CO.ID, Sleman – Divisi Ekonomi, pengurus Ikatan Alumni UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (Ikasuka) mendirikan komunitas berniaga keluarga besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang diberi nama Gerbang Kaliman.

Pendirian Gerbang Kaliman dimotori oleh Ketua Divisi Ekonomi Ikasuka, Taufik Aji, M.T., (Dosen Prodi Teknik Industri, Fakultas Sains dan Teknologi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta) dan Wakil Dekan III (Bidang Kemahasiswaan dan kerjasama) Fakultas Sains dan Teknologi, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Dr. Jafar Luthfi.

Menurut Taufik Aji, pemilihan nama Gerbang Kaliman memiliki nama gerbang adalah pintu, sedangkan kaliman (baca ka-5-an), terbentuk dari angka 5 yang mempunyai arti khusus bagi warga muslim dan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Pasalnya, rukun Islam, shalat lima waktu, Pancasila kesemuanya mengandung angka 5.

“Selain itu, gerbang dalam sengkalan Jawa bermakna angka 9, yang maknanya terhubung dengan Sunan Kalijaga yang merupakan Sunan ke-9. Gerbang Kaliman juga mengandung visi Gerak Membangun Keluarga Kalijaga Mandiri,” kata Taufik Aji, Rabu 21 Maret 2018.

Komunitas ini menghimpun para alumni, para dosen dan pegawai, para mahasiswa, keluarga para dosen dan pegawai yang respek terhadap dunia kewirausahaan. Baik mereka yang telah sukses menekuni dunia wirausaha, sudah mulai merintis, maupun yang mempunyai keinginan untuk merintis wirausaha.

Jafar Luthfi menambahkan, wadah ini akan sangat bermanfaat sebagai ajang sosialisasi dan inisiasi, belajar dan sharing bareng, bazar anggota bersama komunitas wirausaha lain, menemukan mentor bisnis, dan mempertemukan investor dengan pelaku usaha.

“Saat ini sudah lebih dari 200 pelaku wirausaha keluarga besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang mendaftar bergabung menjadi anggota Gerbang Kaliman,” ujarnya.

Sebagai agenda awal, dalam waktu dekat ini akan diselenggarakan bazar gabungan antara sesama anggota Gerbang Kaliman dengan pelaku wirausaha alumnus UGM yang tergabung dalam Keluarga Gama Mandiri (KGM).

Selain itu juga akan digelar talkshow seputar kewirausahaan dengan menghadirkan narasumber pengusaha, investor, Kepala Selretariat KGM, Ipunk Purniant Rajiman, dan Dosenpreneur Fakultas Saintek UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Maya Rahmayanti. Kegiatan ini rencana akan digelar pada Selasa 3 April 2018 di UIN Sunan Kalijaga. (***)

sumber: republika.co.id

MEDIAKEPRI.CO.ID, Pontianak – Minat terhadap mekanikal mesin kendaraan bermotor mengantarkan Jodi (18) memilih sekolah kejuruan.

Jurusan Teknik dan Bisnis Sepeda Motor (TBSM) Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 7 Pontianak dipilihnya menjadi tempat menimba ilmu.

“Kebetulan memang sudah sejak lama hobi dengan keteknikan mesin kendaraan bermotor. Ini juga yang jadi alasan saya memilih melanjutkan sekolah di SMKN 7 Pontianak di jurusan TBSM,” ujarnya, saat dijumpai, Selasa 20 Maret 2018.

Bekal ilmu di sekolah, katanya, sangat bermanfaat. Baik untuk diri sendiri dalam merawat kuda besinya, dan yang lebih penting adalah dunia pekerjaan yang hendak dipilihnya di masa depan.

Gayung bersambut. Sekolah tempatnya menimba ilmu ini, jadi satu dari sekolah kejuruan yang dipercaya menjalankan program Teaching Manufacturing (TeFa) dari Direktorat Jenderal Pendidikan Menengah (Dirjen Dikmen) di jurusan keteknikan sepeda motor.

Berbagai program unggulan TeFa pun dinilainya sangat membantu meningkatkan kompetensinya soal keteknikan sepeda motor. Menjadi bekal penting di masa depan sebagai mekanis handal.

“TeFa benar-benar membuat kita merasa terjun langsung ke lapangan pekerjaan mekanikal sepeda motor. Dengan adanya program TeFa, kita kenal dunia kerja dengan lebih baik,” sambungnya.

Ada banyak aspek-aspek yang dirasakannya sangat penting didapatkannya dari TeFa. Seperti cara service sepeda motor dan penanganan sparepart yang cukup berbeda dari mekanik di bengkel-bengkel biasa.

“Perbedaan terbesar ada di cara kerja, di mana di TeFa, kami diajarkan untuk bekerja dengan standar prosedur. Sehingga semua hasilnya terukur jelas,” pungkasnya. (***)

sumber: tribunnews.com

Lulusan harus juga bisa memanfaatkan ilmu pengetahuan yang untuk kepentingan daerah.

MEDIAKEPRI.CO.ID, Padang – Bupati Sijunjung Yuswir Arifin mengingatkan lulusan Universitas Negeri Padang (UNP) Sumatera Barat jangan hanya terobsesi menjadi pegawai negeri sipil (PNS). Lulusan perguruan tinggi harus juga bisa memanfaatkan ilmu pengetahuan yang didapatkan untuk kepentingan daerah.

“Wisudawan yang memiliki beragam ilmu pengetahuan saat ini hendaknya mengaplikasikan ilmu mereka untuk daerah atau minimal lingkungan masing-masing,” kata dia saat memberikan orasi ilmiah di Auditorium UNP, Ahad 18 Maret 2018.

Menurut dia, zaman telah berubah seiring perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Karena itu, seharusnya menjadi PNS bukan menjadi obsesi para lulusan mahasiswa dari universitas ternama termasuk UNP.

“Lulusan perlu mencari langkah-langkah agar ilmu yang dimiliki dapat bermanfaat bagi diri dan lingkungan sekitar. Konsep itu harus ditanamkan kepada generasi muda,” kata dia.

Ia mengatakan pendidikan usia dini sangat berperan dalam pembentukan karakter anak sehingga mereka tumbuh menjadi generasi bangsa yang cerdas memiliki daya saing tinggi.

“Pemerintah berencana pada 100 tahun kemerdekaan Indonesia tahun 2045 negara ini akan maju, namun hal itu harus disertai dengan karakter yang kuat sehingga dapat bersaing dalam era global,” ujar dia.

Ia mencontohkan di Kabupaten Sijunjung sendiri telah ada 566 lembaga pendidikan anak usia dini, di setiap jorong ada satu hingga tiga lembaga pendidikan anak usia dini. “Ada 3.200 tenaga pengajar yang kita miliki namun masih ada kekurangan sehingga kami perlu bekerja sama dengan UNP untuk meningkatkan kapasitas guru yang kami miliki,” kata dia.

Ia mengatakan saat ini karakter generasi muda banyak yang rusak sehingga terjadi pembunuhan terhadap guru, melawan dan memperkarakan guru ke ranah hukum. Hal ini yang coba diantisipasi dengan pembangunan karakter mulai dari bawah.

“Kunci pembagunan karakter adalah dengan mempersiapkan lembaga dan tenaga pendidik profesional sehingga menghasilkan karakter anak yang baik,” kata dia

Rektor UNP Prof Ganefri mengatakan pihaknya terus melakukan pembenahan terhadap kurikulum pendidikan. UNP terus beradaptasi dengan zaman dengan memanfaatkan teknologi dalam ilmu pengetahuan. “Kami melegalkan pembelajaran daring, mata kuliah yang diberikan mahasiswa dapat dilakukan secara online sebesar 50 persen, sisanya dilakukan dengan tatap muka. Selain itu kami berusaha agar para dosen membuat riset untuk memperbarui bahan ajar dan ilmu pengetahuan mereka,” kata dia.

UNP menyambut baik adanya kerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Sijunjung dalam meningkatkan kualitas tenaga pendidik di daerah itu.

“Kami terus berupaya meningkatkan kualitas tenaga pengajar baik dari tingkat PAUD, SD, SMP agar generasi kita dapat memiliki ilmu pengetahuan yang lebih baik dan mampu bersaing dengan negara lain,” ujarnya. (***)

Sumber : republika.co.id

MEDIAKEPRI.CO.ID – Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir mengakui jumlah perguruan tinggi di beberapa wilayah di Indonesia seperti Papua dan Papua Barat masih terbatas.

Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) diyakini merupakan salah satu solusi tepat untuk meningkatkan akses pendidikan tinggi di daerah. Hanya persoalan infrastruktur teknologi informasi dan SDM, baik kampus maupun mahasiswa, bakal menjadi kendala.

Saat ini Angka Partisipasi Kasar Pendidikan Tinggi Indonesia baru pada angka 31,5 persen, dengan skema peningkatan akses secara konvensional, rata-rata peningkatan APK hanya 0,5 persen per tahun. Diharapkan dengan Pendidikan Jarak Jauh (PJJ), APK akan meningkat lebih signifikan. Kemenristekdikti menargetkan pada tahun 2022-2023 APK pendidikan tinggi bisa di angka 40 persen.

Hanya saja proses pembelajaran dengan sistem PJJ tidak boleh melupakan kualitas. Baik perguruan tinggi negeri maupun swasta mesti menjalankan program PJJ sesuai dengan peraturan yang ditetapkan oleh Kemenristekdikti. Kopertis ditugaskan melakukan pembinaan terhadap perguruan tinggi swasta yang ingin mengembangkan PJJ di kampus mereka.

Pembelajaran Jarak Jauh dengan cara daring sangat membutuhkan dukungan infrastruktur jaringan internet yang baik. Menristekdikti telah meminta dukungan dari Telkom untuk meningkatkan jaringan internet di daerah. Ke depan diharapkan program pembelajaran daring tersebut dapat berguna untuk meningkatkan kualitas pendidikan suatu PT dalam menghadapi persaingan secara global.

PJJ menjadi keniscayaan sebab pengguna Internet di Indonesia terus mengalami peningkatan. Hal itu seiring dengan kemajuan teknologi dan tren generasi milenial yang tak bisa lepas dari internet. Apalagi menurut survei yang dilakukan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), ada 143,26 juta orang Indonesia yang telah menggunakan internet, dari total populasi sebanyak 262 juta orang.

Artinya ada 54,86 persen orang Indonesia yang telah terhubung ke internet. Dari data tersebut, diketahui orang Indonesia yang paling banyak menggunakan internet didominasi generasi millenial, yang rentang usianya mulai 19 tahun sampai 34 tahun. Ada 49,52 persen pengguna internet Indonesia yang berasal dari generasi millenial.

Setelahnya, ada kelompok usia 35-54 persen dengan 29,55 persen, kelompok 13-18 tahun dengan 16,68 persen dan lebih dari 54 tahun dengan 4,24 persen.

APJII memrediksi di tahun 2018 bakal ada peningkatan yang sangat besar 65-70 persen. Ini menunggu Palapa Ring 2020 menjangkau daerah terpencil.

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) memang sedang melakukan pembangunan infrastruktur telekomunikasi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat hingga ke pelosok. Saat pembangunan infrastrukturnya selesai, maka masyarakat di seluruh Indonesia akan terhubung secara internet hanya melalui telepon pintar (smartphone).

Diperkirakan akhir 2018 pembangunan infrastruktur selesai dan bakal menjadi tahun melek internet untuk Indonesia.

Berarti PJJ bisa segera diwujudkan untuk menjangkau daerah terpencil. Perlu persiapan yang matang, baik dari sisi regulasi dan infrastruktur. Tugas besar adalah melatih calon mahasiswa di daerah terpencil agar mahir menggunakan internet. Kita berharap semakin banyak orang menikmati pendidikan tinggi tanpa harus meninggalkan daerahnya. (***)

sumber: hariansib.co

MEDIAKEPRI.CO.ID, Tarakan – Siswa SD Negeri 030, Sebengkok, Kota Tarakan, Kalimantan Utara masih melantai karena tidak memiliki kursi. Meja yang digunakan juga dari orang tua murid yang dibawa dari rumah.

Pihak sekolah sudah mengajukan anggaran untuk membeli mebeler ke Dinas Pendidikan setempat, tetapi hingga saat ini belum ada respon.

Empat kelas yang berada di SDN 030 Tarakan ini terpaksa melantai karena tidak ada kursi untuk duduk, sedangkan meja yang digunakan untuk belajar merupakan meja lipat yang dibawa dari rumah masing-masing. Untuk kelas 1 A dan 1 B, serta kelas 2 A dan 2 B, terpaksa melantai.

Meskipun demikian, para siswa tidak merasa risih maupun tidak nyaman karena belajar sama-sama dengan siswa lainya sehingga satu kelas merasakan hal yang sama. Seperti yang diungkapkan, Sherli siswa kelas 2 yang mengaku senang saja.

“Nggak papa belajar di lantai, banyak temannya. Udah terbiasa, jadi tidak apa-apa,” ucapnya kepada detikcom, Senin 5 Maret 2018.

Hal senada juga diungkapkan, Khairunisa yang merasa tetap nyaman meskipun belajar melantai tanpa alas. Menurutnya bisa sekolah dan belajar dengan teman-temanya menjadi kebahagiaan tersendiri baginya.

“Yang penting sekolah, bisa sama-sama teman belajar di sekolah nggak papa biar di lantai. Satu kelas, juga sepeti itu, udah biasa,” ucapnya.

Dikatakan Kepala Sekolah SDN 030 Jhoni Fransiskus bahwa ada 4 kelas yang tidak ada kursinya, meja yang ada merupakan milik dari siswa masing-masing yang dibawa dari rumah. Kondisi ini sudah berjalan selama 1 tahun terakhir.

“Pernah ada yang janjikan akan bantu 200 kursi tetapi hanya 28 saja, itupun kursi plastik dan ukuran meja dengan kursinya tidak sesuai. Makanya kita alihkan untuk kelas yang ada diatasnya. Yang melantai hanya kelas 1 dan 2 sedangkan untuk kelas 3,4,5, dan 6 sudah ada,” terangnya.

Pihak sekolah bukanya tidak berusaha untuk memenuhi kebutuhan, dalam pembahasan selalu mengajukan ke Dinas Pendidikan, Cuma selalu terkena penolakan dengan alasan masih ada prioritas lain yang harus diselesaikan oleh pemerintah kota Tarakan.

“Kita tidak tahu harga kursi, yang plastik, besi, atau yang kayu, tahun ini kita juga sudah minta ke Dinas Pendidikan, semoga saja dapat terealisasi sehingga anak-anak bisa belajar dengan nyaman dan aman. Meskipun terlihat biasa, tetapi kita merasa tidak enak hati untuk membiarkan hal ini terus terjadi,” ungkapnya.

Sementara itu, Plt Wali Kota Tarakan, Khaeruddin Arief Hidayat mengatakan anggaran untuk membeli mebeler SDN 030 tercoret karena berkaitan dengan pengadaan, sedangkan untuk gedung baru selesai dibangun.

“Kita melihat prioritas, anak-anak di sini membawa meja dari rumah tetapi melantai dan mejanya warna-warni. Ini menjadi kebutuhan dasar dan itu kewajiban kita supaya tidak memberatkan orang tua murid lagi. Ini menjadi catatan kita, bagaimana segera mungkin mengadakannya,” urainya.

Meskipun demikian, diharapkan sekolah lain yang memiliki kursi lebih, bisa dialihkan ke SDN 030, supaya siswa kelas 1 dan 2 bisa melakukan kegiatan belajar mengajar dengan layak. Sekolah ini menjadi prioritas serius.

“Saya pikir devisit anggaran tidak harus menyisihkan dunia Pendidikan, secara bertahap berapa dulu yang belum terselesaikan. Manasih prioritas dan mana yang emergensi harus kita pikirkan bersama-sama. Mudah-mudahan bisa tercaver di APBD murni, kalau tidak setidaknya di APBD Perubahan 2018 ini,” pungkasnya. (***)

sumber: detik.com

Budaya membaca di kalangan siswa Indonesia secara umum masih rendah.

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Komisi X ingin gerakan literasi sekolah dikuatkan. Budaya membaca diyakini akan mempengaruhi kualitas generasi muda. Anggota Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI, Ledia Hanifa Amaliah menyampaikan, meski gerakan literasi sekolah sudah dicanangkan sejak 2015 lalu, budaya membaca di kalangan siswa Indonesia secara umum masih rendah. Setidaknya itu yang didapat dari berbagai studi soal minat baca di berbagai negara termasuk Indonesia.

“Kalau programnya sudah ada tetapi budaya membacanya masih dilaporkan rendah berarti perlu ada evaluasi program secara menyeluruh. Bagaimana sarana prasarana pendukung programnya. Bagaimana koordinasi lintas kementriannya dan terutama bagaimana implementasi di lapangan,” kata Politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS), dalam siaran pers yang diterima Republika.co.id, Selasa27 Februari 2018.

Ledia mengingatkan bahwa mengasah budaya membaca pada siswa akan sangat mempengaruhi kualitas generasi muda masa depan. Membaca akan membantu siswa memperluas wawasan, menambah ilmu, mengolah pikiran dan menjadi batu pijakan sebelum menghasilkan karya tulis.

“Tetapi budaya ini harus disiapkan, ditumbuhkan, diasah, dibimbing dan diberi sarana prasarana yang memadai. Tidak bisa hanya diberi tugas, himbauan lalu diharapkan tumbuh menguat dengan sendirinya.”

Selain itu, urai Ledia, selama ini budaya baca seringkali hanya disederhanakan pada ukuran “minat baca”. Padahal budaya baca memiliki aspek lebih luas dan mendalam termasuk pada kemudahan akses, pembiasaan diri, contoh dari lingkungan, dan tentu saja kebijakan yang mendukung. Peraturan Menteri Pendidikan No 23 tahun 2015 memberikan terobosan penting.

“Yaitu dengan mewajibkan setiap hari ada 15 menit waktu membaca sebelum kegiatan belajar berlangsung, tapi belum terealisasi dengan baik,” kata dia.

Mungkin, menurut Ledia, karena belum tersedia perpustakaan atau ada perpustakaan tetapi buku-bukunya kurang. Bisa juga karena kegiatan ini tidak rutin dilakukan, tidak ada evaluasi atau bisa jadi karena tenaga pendidik dan orangtua sendiri tidak memberikan contoh gemar membaca.

Karena itu, Ledia meminta pemerintah untuk membuat evaluasi program secara menyeluruh dan melakukan penguatan program. Buku-buku bagi sekolah perlu diperbanyak, begitu juga perpustakaan keliling untuk menjangkau masyarakat pedalaman. Para guru perlu diberi pelatihan dan penguatan program literasi.

“Bahkan orangtua pun perlu digandeng untuk sama-sama membangun budaya baca ini menjadi kebiasaan siswa,” kata Ledia.

Tak cukup itu, untuk melengkapi semua desain gerakan literasi sekolah ini Ledia mengingatkan pentingnya membiasakan evaluasi program secara rutin dan berkala. Baik evaluasi dari guru kepada siswa maupun dari dinas pendidikan kepada sekolah.

Bagi siswa bisa saja diminta menceritakan kembali bacaannya di depan kelas atau dituliskan. Libur sekolah bisa diberi tugas membaca buku, bedah buku atau resensi buku,” ucap Ledia.

Lanjut Ledia, kunjungan pendidikan bisa dilakukan ke perpustakaan daerah. Kemudian sekolah pun bisa memiliki laporan tahunan berapa dan apa saja buku-buku yang dibaca. Maka dengan demikian, Ledia berharap ke depannya akan terjadi peningkatan budaya membaca yang lebih luas dan terukur. (***)

sumber: republika.co.id

Rencana itu ditandai kunjungan kerjasama Pemerintah Kabupaten Bulungan ke UII.

MEDIAKEPRI.CO.ID, Sleman – Universitas Islam Indonesia (UII) akan membuka pendaftaran mahasiswa baru di Kalimantan Utara, khususnya di Kabupaten Bulungan. Hal ini bertujuan guna memberikan kesempatan berkuliah yang lebih luas bagi pelajar di Kalimantan.

Rencana itu ditandai kunjungan kerjasama Pemerintah Kabupaten Bulungan ke UII. Kunjungan dipimpin langsung Bupati Bulungan, Sudjati beserta jajaran yang diterima langsung pula Rektor UII, Nandang Sutrisno beserta jajaran.

Dalam sambutannya, Rektor UII mengaku akan membuka lebar peluang kerjasama untuk menggali dan meningkatkan potensi yang dimiliki daerah-daerah Indonesia. Terlebih, langkah-langkah itu sejalan dengan catur dharma UII.

“Sampai saat ini kami sudah memiliki beberapa mitra kerjasama, yaitu dengan Pemerintah Kabupaten Purworejo dan Pemerintah Kabupaten Pacitan,” kata Nandang di Gedung GBPH Prabuningrat UII, belum lama ini.

Ia menerangkan, program unggulan yang sedang digali di antaranya pengembangan sumber daya manusia di kelurahan dan pengembangan desa. UII turut memberikan pendampingan sumber daya manusia untuk meningkatkan daya saing desa.

Menanggapi itu, Bupati Bulungan mengungkapkan apresiasi kepada UII atas peluang kerjasama yang hendak dijalin tersebut. Ia menegaskan, Pemkab Bulungan siap bekerjasama dengan UII demi mengembangkan potensi-potensi yang ada.

“Kami akan siapkan yang berkaitan dengan potensi yang akan digali dalam kerjasama ini, kami akan diskusikan dengan internal, sehingga ketika UII datang ke Bulungan semua akan siap dan kerjasama berjalan baik,” ujar Sudjati.

Rencananya, langkah awal kerjasama akan diimplementasikan dengan dibukanya tes penerimaan mahasiswa baru dengan pola Computer Based Test (CBT) di Kabupaten Bulungan. Hal ini akan dilakukan guna memudahkan siswa-siswa di Kalimantan Utara yang ingin berkuliah di UII. (***)

sumber: republika.co.id

MEDIAKEPRI.CO.ID, Pasuruan – SDN Trajeng II, Kota Pasuruan kebingungan mencari solusi pemindahan keranda dan peralatan mengurus jenazah milik warga yang ada di lingkungan sekolah. Pasalnya keranda tersebut sudah lama berada di sekolah.

Selain itu, pihak sekolah juga tak berani menentukan sikap karena masalah kepemilikan lahan sekolah. Lahan sekolah tersebut ternyata tak memiliki sertifikat.

“Kami sudah datangi kantor kelurahan menyampaikan niat agar bagaimana caranya keranda itu dipindah.

Pihak kelurahan katanya akan bermusyawarah dengan warga di RW 2 karena keranda tersebut milik lingkungan RW 2,” kata Kasek SDN Trajeng II Kusmardiyanto di kantornya, Jalan Sulawesi 8, Kota Pasuruan, Selasa 20 Februari 2018.

Kusmardiyanto mengaku sangat berharap pada kebijaksanaan warga. Di satu sisi keberadaan keranda tersebut membuat pihak sekolah dan siswa kurang nyaman, namun di sini lain, pihak sekolah juga tak berani menolak.

“Sebenarnya kami ingin hibahkan lahan sekolah yang dipakai gudang itu kepada warga. Nanti biar pintunya diarahkan ke utara atau ke perkampungan, yang penting bukan di dalam sekolah. Namun setelah kami telusuri, lahan sekolah ini ternyata masih belum jelas, belum ada sertifikatnya, jadi kami tak berani mengusulkan itu (menghibahkan lahan),” terangnya.

Jumari, salah seorang guru menimpali, bahwa lahan sekolah tersebut belum jelas apakah milik warga atau pemerintah. Yang pasti, kata dia, sebelum sekolah berdiri pada 1977, lahan tersebut berupa tanah lapang.

“Menurut cerita-cerita orang ini lahan lapang yang dulunya jadi tempat tong-tong BBM (Bahan Bakar Minyak). Kami nggak tahu milik pribadi atau pemerintah,” terang Jumari.

Terlepas dari belum jelasnya status lahan, pihak sekolah berharap ada solusi terkait masalah tersebut. Pihak dinas diharapkan turun tangan untuk membantu.

“Penyelesaian secara musyawarah lah semua pihak. Yang pasti kami ingin keranda itu pindah,” imbuh Kusmardiyanto. (***)

sumber: detik.com