PENDIDIKAN

MEDIAKEPRI.CO.ID, Palembang – Polisi secara maraton telah memeriksa sejumlah saksi terkait siswa SMA Taruna Indonesia, Delwyn Berli (14) yang meninggal dunia ketika MOS. Polisi menyebut banyak temuan dan akan ada tersangka di kasus ini.

“Banyak temuan-temuan yang janggal. Nanti kami (beri tahu) di rilis,” tegas Kapolresta Palembang, Kombes Didi Hayamasyah saat dikonfirmasi lewat telepon, Senin, 15 Juli 2019.

Hasil temuan tersebut, lanjut Didi, dilihat dari hasil pemeriksaan dokter forensik di RS Bhayangkara Polda Sumsel. Di mana ada luka serius di tubuh korban dan luka di kepala bagian belakang.

Dari temuan di lapangan, mantan Kabid Propam Polda Sumsel ini pun yakin ada tersangka di kasus tersebut. Namun dia belum mau membeberkan karena hasil forensik baru diterima sore ini.

“Kalau dilihat dari hasil autopsi pasti (ada tersangka), karena di kepala pecah juga itu belakangnya,” jawab Didi menjawab pertanyaan wartawan apakah ada tersangka dalam kasus ini.

Untuk diketahui, Delwyn Berli Juliandro (14) meninggal di RS Myria, Palembang.

Korban disebut sempat kejang-kejang dan pingsan saat mengikuti rangkaian kegiatan MOS, Jumat, 12 Juli 2019 malam.

Melihat kondisi korban kejang, panitia pun langsung membawa korban ke RS Myria. Korban dilaporkan meninggal pada Sabtu, 13 Juli 2019 sekitar pukul 04.00 WIB.

Ibu kandung korban, Berce (41), yang tak terima langsung melaporkan kejadian ini ke Polresta Palembang. Dalam laporan itu, Berce melihat banyak luka lebam di tubuh putranya.

Polisi yang mendapat laporan langsung menuju SMA Taruna Indonesia di Jalan Pendidikan, Sukarami Palembang. Dari sekolah, polisi pun membawa beberapa orang saksi untuk dimintai keterangan.

Sementara untuk hasil pemeriksaan tim secara keseluruhan bakal disampaikan ke Kapolda Sumsel Irjen Firli, malam ini di Mapolresta Palembang. Selain Kapolda, ada juga pihak dari Kementerian dan dinas terkait yang hadir.(***)

sumber: detik.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Hari ini, Senin 15 Juli 2019 merupakan hari pertama masuk sekolah.

Orangtua tentu semangat untuk mengantarkan anak ke sekolah dan menyapa guru.

Pada momen bahagia seperti ini, biasanya orangtua semangat menyebarkan foto-foto seru bersama anak ke media sosial.

Tapi ingat, ada beberapa hal perlu diingat orangtua sebelum menyebarkan foto tersebut ke media daring.

Beberapa resiko perlu diwaspadai orangtua saat mengunggah foto anak di media sosial, kejahatan pedofilia atau predator anak, perundungan (bullying), perampokan, penculikan, pencurian identitas dan bahaya lainnya.

Dilansir dari laman resmi Sahabat Keluarga Kemendikbud, berikut beberapa hal perlu diperhatikan sebelum orangtua mengunggah foto hari pertama sekolah anak di media sosial: 7 hal penting saat unggah foto hari pertama sekolah

1.Jangan memasang identitas lengkap anak, seperti nama lengkap, tanggal, lahir, nama sekolah, alamat sekolah, nomor telepon, dan lainnya.

2.Hati-hati, pastikan fitur geo-tagging atau penanda lokasi dimatikan saat memutuskan memasang foto anak.

3.Bila ingin berbagi foto anak, sebaiknya terbatas pada keluarga dan lingkungan dekat yang bisa dipercaya, tidak kepada publik luas.

Setiap media sosial bisa mengatur jenis privasi dan peredaran foto.

4.Jangan memasang foto anak yang memungkinkan ia mendapatkan pelecehan, penghinaan dan perundungan.

5.Pikirkan dari sisi anak, apakah ia akan senang dangan foto yang dipasang, atau malah akan merasa malu dan sedih.

6.Jangan memasang foto anak lain tanpa seizin orangtuanya.

7.Ajak keluarga dan teman untuk berhati-hati saat memasang foto anak.

5 pertanyaan penting untuk sekolah

Selain itu, ada beberapa hal penting perlu ditanyakan orangtua kepada pihak sekolah saat bertemu guru atau kepala sekolah di hari pertama sekolah:

1.Adakah informasi mengenai program sekolah?
2.Bagaimana sekolah dalam menangani masalah kesiswaan, baik masalah akademik maupun non akademik?
3.Apa saja kegiatan ekstrakulikuler yang bisa diikuti anak?
4.Adakah nomor telepon wali kelas atau sekolah yang bisa dihubungi?
5.Adakah jadwal rutin pertemuan antara orangtua dengan wali kelas?

Jika tidak ada, apakah orangtua bisa mengatur sendiri pertemuan dengan wali kelas? (***)

sumber: kompas.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Yogyakarta – Mahasiswa Teknik Informatika Institut Teknologi Bandung (ITB) berhasil meraih Juara 1 dan Juara 3 untuk kategori Data Mining, serta Best Pitching dalam kategori Apps Innovation di ajang Jogja Information Technology Session (JOINTS) 2019. Kompetisi ini diselenggarakan oleh Program Studi Ilmu Komputer Universitas Gajah Mada.

Ada beberapa kategori dalam kompetisi ini, diantaranya Programming Competition Session, Data Mining, Apps Innovation dan Capture The Flag. Ajang ini diikuti oleh kurang lebih 650 tim dari Perguruan tinggi di seluruh tanah air, termasuk ITB yang diwakilkan oleh 3 tim. Ketiga tim ini berasal dari Jurusan Teknik Informatika Sekolah Teknik Elektronika dan Informatika (STEI).

Ketua Tim ITB Peraih Juara 1 Kategori Data Mining, Christian Wibisono, mengungkapkan dalam kontes ini timnya ditantang untuk melakukan pengolahan dan analisis big data sehingga peserta dapat membuat model machine learning untuk membuat prediksi seakurat mungkin sesuai atribut yang tersedia, yaitu mengenai lokasi, fasilitas, gender, dan harga dari kos, yang kemudian dituangkan ke dalam paper dan presentasi.

“Tim saya membuat prediksi untuk segmentasi pasar bisnis kos menggunakan Gradien Boosting Machine. Untuk ilmunya, kami peroleh dasarnya dari materi kuliah yang diajarkan di Teknik Informatika ITB, kemudian mengikuti kompetisi-kompetisi serupa dan tentunya otodidak lewat Platform Kaggle,” katanya dalam siaran pers Rabu, 26 Juni 2019.

Selain itu, Ketua Tim Peraih Best Pitching Apps Innovation, Cornelius Yan, tidak segan membagikan tips mengenai materi pitching yang menghantarkan tim mereka menjadi juara dalam mempresentasikan rekayasa perangkat lunak berupa aplikasi mobile, web, maupun desktop.

“Tim kami tidak hanya memaparkan dari segi solutifnya, namun juga dari segi nilai bisnis,” ujarnya.

Ia berharap semakin banyak lagi mahasiswa ITB yang menekuni perkembangan IT dan berprestasi dalam bdang ini. Ia memberikan saran agar mahasiswa lainnya memperbanyak latihan dan rajin untuk mengikuti lomba agar memperkaya pengalaman dalam data mining serta data science. (***)

sumber: republika.co.id

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Pendaftaran calon siswa baru di sekolah favorit membuat para orang tua harus rela datang lebih awal bahkan ada yang sampai menginap demi mendapatkan nomor antrian.

Seperti yang dialami oleh salah seorang pendaftar di SMAN 3 Bogor, dirinya sudah datang lebih awal namun nyatanya nomor antrian yang diterima sudah nomor urut ratusan, karena ternyata banyak pendaftar yang sudah stand by dari dini hari bahkan menginap.

Sayangnya, setelah perjuangan mengantri yang cukup memakan waktu itu menghasilkan kekecewaan pada sebagian pendaftar. Pasalnya, jumlah antrian yang dibatasi sehingga tidak semua pendaftar di hari itu bisa melakukan pendaftaran di hari yang sama, alhasil mereka harus kembali di keesokan harinya dan mendaftar kembali.

Belum lagi sistem zonasi yang diterapkan saat ini, bukan jaminan ketika nomor urut antrian awal belum tentu bisa diterima di sekolah favorit. Karena yang lebih diutamakan adalah mereka yang berada di zona terdekat dengan sekolah, bahkan sekalipun mereka adalah siswa berprestasi tak mudah untuk diterima, karena hanya sebesar 5 persen saja yang bisa diterima di setiap sekolah negeri.

Sungguh miris, melihat setiap tahunnya kebijakan dalam penerimaan calon siswa baru selalu berubah-ubah, membuat orangtua ketar-ketir mencari sekolah untuk sang anak. Padahal sebelumnya setiap siswa telah mengikuti ujian untuk kelulusan dengan usaha mendapatkan nilai yang tinggi agar bisa masuk sekolah yang diidamkan. Namun, semua akan menjadi sia-sia ketika kebijakan setiap tahunnya berubah membuat siswa merasa jerih payahnya tak diapresiasi oleh pemerintah.

Sistem pendidikan yang masih carut marut, tak bisa memfasilitasi kebutuhan setiap pelajar mendapatkan kemudahan. Masyarakat dibuat bingung dan kesulitan saat tahun ajaran baru dimulai. Mulai dari pendaftaran hingga biaya yang akan dikeluarkan, terlebih mereka yang bersekolah di swasta maka biaya yang dikeluarkan akan lebih banyak alias mahal.

Beginilah ketika sistem pendidikan bukan di bawah naungan sistem Islam, semua berjalan sesuai kepentingan dan perintah atasan, menjadi bahan percobaan. Alangkah baiknya kebijakan pendaftaran sekolah tak lagi membuat para orang tua resah. (***)

sumber: republika.co.id

MEDIAKEPRI.CO.ID, Bandarlampung – Kepala Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMP Kota Bandar Lampung M Badrun menyatakan, siswa berprestasi sebagian akan terbebas dari zonasi penerimaan peserta didik baru (PPDB) tingkat SMP tahun 2019 di Kota Bandar Lampung. Menurut dia, siswa dari jalur prestasi berjenjang pada PPDB tingkat SMP akan dibebaskan dari zonasi di Kota Bandar Lampung tahun 2019.

“Jalur berprestasi ada dua jenis, yang satu dibebaskan zonasi PPDB,” kata Badrun pada sosialisasi PPDB di aula Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Bandar Lampung, Jumat, 14 Juni 2019.

Dua jenis jalur berprestasi yakni prestasi akademik, di antaranya prestasi akademik yang merupakan juara umum terbaik I, II, III di tingkat SD. Kedua, jalur prestasi nonakademik, yakni prestasi berjenjang juara I, II, dan III tingkat kabupatenkota, provinsi, nasional, dan internasional.

Ia mengatakan, jalur prestasi akademik juara I, II, dan III di tingkat SD masing-masing tetap dibelakukan sistem zonasi. Sedangkan, jalur prestasi berjenjang, misalnya juara I, II, dan III Olimpiade Siswa Nasional, O2 SN, maupun FLS2N, bebas sistem zonasi. Hal tersebut berlaku bagi siswa dari dalam dan luar Kota Bandar Lampung.

Menurut dia, siswa berprestasi tingkat SD berjenjang dipersilakan memilih dan mendaftar ke SMP yang ada di Kota Bandar Lampung. “Bebas pilih sekolah,” katanya.

Meski demikian, ia menyatakan, siswa berprestasi berjenjang tersebut tetap dipersyaratkan untuk menyertakan bukti sertifikat, piagam penghargaan, dan surat keterangan dari sekolah.

PPDB tingkat SMP di Kota Bandar Lampung menerapkan sistem zonasi dengan dua tahapan. Pertama, siswa dari jalur bina lingkungan, anak kandung guru dan tenaga pendidikan, perpindahan tugas orang tua, dan prestasi. PPDB jalur ini akan dibuka pada 18 hingga 21 Juni 2019.

Sedangkan, zonasi PPDB SMP lewat jalur reguler dibuka pada 26 hingga 28 Juni 2019. PPDB tingkat SMA tahun ajaran 2019/2020 sistem zonasi tidak menggunakan nilai ujian nasional. (***)

sumber: republika.co.id

MEDIAKEPRI.CO.ID, Kupang – Berdasarkan data yang diperoleh dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT, ada tiga siswa dari tiga sekolah yang meraih nilai sempurna atau nilai 100.

Nilai 100 untuk mata pelajaran matematika saat ujian nasional tingkat SMP.

Masih Ingat Steve Emmanuel Tersandung Kasus Narkoba dan Terancam Hukuman Mati, Nih Kesaksian Mantan Teman Hidupnya

Sudah Pak Sudah, Teriak Kedua Anaknya saat Tahu Bapaknya Cekik Ibunya hingga Meninggal Dunia, Ini Kronologinya

Ketiga siswa tersebut adalah Christian Tanjung Wirjoatmodjo dari SMP Dian Harapan, Etheldreda O. K. W Viera dari SMPK Theresia Kupang dan Oswald Arsens Rambung dari SMPK St Klaus Werang.

Pengumuman kelulusan tingkat sekolah baru akan dilaksanakan Rabu, 29 Mei 2019. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Lombok – Upaya keluarga dan tim pendamping Aldi Irpan, siswa kelas XII jurusan IPS, SMAN 1 Sembalun, Lombok Timur, NTB, untuk menganulir keputusan Kepsek yang tidak meluluskan Aldi kandas di tengah jalan.

Pasalnya, Kepala Dinas Pendidikan dan kebudayaan (Dikbud) NTB Rusman mengaku baru menjabat selama dua minggu dan tidak bisa membuat keputusan dengan cepat terkait kasus Aldi.

Dia juga mengaku sistem pendidikan di NTB belum sepenuhnya baik dan sebagai kepala Dikbud yang baru dirinya harus menghormati keputusan kepala sekolah SMAN 1 Sembalun Sadikin Ali yang tidak meluluskan Aldi.

Sopir Itu Tidak Tahu Kalau Truk yang Dikendarainya Menggilas Bayi 18 Bulan hingga Tewas, Ini Kronologinya

Hal itu disampaikannya saat Aldi, keluarganya serta tim pendamping mendatangi Dikbud NTB mengadukan masalah yang dihadapinya, Selasa, 21 Mei 2019.

Tim pendamping terdiri atas Pusat Kajian dan Bantuan Hukum Universitas Mataram (PKBH Unram), Aliansi Gerakan Reforma Agraria (AGRA), Serikat Perempuan Indonesia (Seruni), serta Alumni SMAN 1 Sembalun.

“Saya baru menjabat dua minggu, jadi belum bisa memberikan keputusan. Untuk sementara ini saya harus menghormati keputusan kepala sekolah yang tidak meluluskan Aldi,” kata Rusman, Selasa, 21 Mei 2019.

Malang Benar Nasip Ati, Sebelum Ditemukan Tewas, Ini yang Dialami Asisten Rumah Tangga Ini

Rusman juga menyarankan agar Aldi dan tim yang membantunya untuk melaporkan kasusnya atau menyerahkan kasusnya ke Ombudsman NTB.

“Kami hanya bisa menyarankan agar menyampaikan kasus ini ke Ombudsman, apapun rekomendasi Ombudsman akan kami ikuti dan laksanakan,” ujarnya.

Jawaban Rusman sempat memicu emosi pendamping Aldi.

Tim pendamping memintanya agar bertangungjawab sebagai pemegang kebijakan dalam menyelesaikan masalah yang terkait langsung dengan mental dan kualitas pendidik di NTB.

Sempat Berhenti, Massa Kembali Lempari Batu Stasiun Tanah Abang, Penumpang Menumpuk

Pembicaraan yang alot itu pun harus berakhir dengan kekecewaan pihak Aldi.

Dia dan keluarganya kemudian memilih meninggalkan kantor Dikbud NTB.

“Saya tetap akan berusaha dan berdoa. Saya tetap menghormati pak guru, kepala sekolah, semoga hatinya terbuka memberikan hak-hak saya sebagai siswa mendapatkan kelulusan,” kata Aldi, anak petani bawang di Desa Sembalun, Lombok Timur ini.

Tim pendamping Aldi mengaku kecewa dengan sikap Kepala Dikbud NTB Rusman.

Sebab tim sudah membeberkan sejumlah fakta lapangan yang menunjukkan adanya kekeliruan keputusan Kepsek SMAN 1 Sembalun Sadikin Ali.

Ngabuburit Bareng Paguyuban Saund System dan Banser NU, Danramil Batangan Bagikan Takjil

Berdasarkan temuan tim, Kepsek tidak meluluskan Aldi karena sentimen pribadi dan tiga guru lainnya yakni guru BP dan Kesiswaan.

Di sisi lain, belasan guru di SMA itu keberatan dengan keputusan Kepsek.

“Kami sebagai warga Sembalun dan juga alumni SMAN 1 Sembalun menilai keputusan kepala sekolah dan tiga guru lainnya hanya keputusan sepihak yang tidak berdasar.

Bagaimana mungkin anak yang selama ini menjadi ketua kelas, pengurus OSIS, pelatih Pramuka, dinilai berperilaku dan berkarakter buruk di sekolahnya. Ini sangat tidak masuk akal,” kata Royal Sembahulun, salah satu alumni SMAN 1 Sembalun yang jadi tim pendamping Aldi.

Kekecewaan yang sama dirasakan oleh Rizal Sembapala, salah satu guru Aldi.

Dia mengaku mewakili para guru yang selama ini merasa tertekan atas kebijakan kepala sekolah.

Menurut dia, banyak kejanggalan atas tidak diluluskannya Aldi.

“Kalau Dikbud mau mengetahui yang sebenarnya bisa meminta keterangan para guru satu per satu, jangan beramai-ramai

apalagi ada kepala sekolahnya. Mereka akan terbuka tanpa tekanan menjelaskan semua yang mereka tahu dan rasakan atas

keputusan itu. Kebijakan kepala sekolah yang arogan membuat para guru memilih diam,” kata Rizal.

Permintaan maaf orangtua Aldi ditolak

Nuin, ayah Aldi, menginginkan agar Aldi diluluskan lantaran syarat kelulusan terpenuhi dan nilai Aldi selalu masuk 10 besar.

Sementara nilai Ujian Nasionalnya juga peringkat kedua di jurusannya.

Menurut Nuin, pihak keluarga sudah meminta maaf ke Kepsek agar ancamannya tidak meluluskan Aldi tidak dilaksanakan.

Pihak keluarga Aldi datang pada hari Minggu, dan menurut Kepsek, hari Minggu bukanlah jam kerjanya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Aldi Irfan tidak diluluskan atas keputusan kepala sekolah karena dinilai terlalu kritis memprotes kebijakan sekolah.

Ada tiga hal yang memberatkannya yakni protes karena dilarang memakai jaket di sekolah, beberapa kali terlambat dan parkir sembarangan.

Tiga hal itu membuat Aldi dicap berperilaku buruk. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Garut – Kelulusan siswa kelas XII SMKN 1 Garut dirayakan dengan hal berbeda.

Para siswa dan guru menggelar buka puasa bersama sebagai rasa syukur.

Selain buka bersama, para siswa juga mengumpulkan seragam sekolah.

Langkah itu dilakukan pihak sekolah agar kelulusan tak dirayakan berlebihan.

Kepala Sekolah SMKN 1 Garut, Dadang Johar Aripin mengatakan, 100 persen siswa kelas XII lulus ujian nasional.

Pihaknya memundurkan pengumuman kelulusan hingga buka puasa agar tak ada konvoi perayaan.

“Agendanya itu jam 14.00 sebenarnya. Tapi kami mundurkan ke sore hari dan (sekalian) melaksanakan buka bersama. Tujuannya agar tak ada corat-coret seragam dan konvoi,” ucap Dadang di SMKN 1 Garut, Jalan Cimanuk, Senin, 13 Mei 2019.

Pihaknya tak menginginkan para siswa menggelar perayaan secara berlebihan.

Apalagi pengumuman kelulusan dilakukan pada bulan Ramadan.

“Kami tak ingin anak-anak malah bikin macet di jalan karena ugal-ugalan bawa motor. Jadi mending berdoa di sekolah dan lebih bermanfaat,” katanya.

Seragam para siswa, lanjutnya, juga telah dikumpulkan.

Nantinya akan dibagikan kepada panti asuhan, adik kelas di sekolah, dan siswa di luar sekolah yang membutuhkan.

Syilffa mutia sofian (17), siswa kelas XII mengaku jika pengumpulan seragam sekolah lebih bermanfaat. Ketimbang harus mencorat-coret seragam.

“Masih bagus juga pakaiannya. Jadi bisa dimanfaatkan. Inisiatif juga sama temen seangkatan biar lebih bermanfaat,” kata Syilffa. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Bandung – Berparas cantik, masih muda, dan memiliki kecerdasan yang sangat luar biasa.

Itu menjadi gambaran sosok Nadya Silva, seorang lulusan termuda, yang mampu menyelesaikan studi selama 3,5 tahun di Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung (Unisba) tahun akademik 2018/2019.

Capaian IPK 3,44. Ia diwisuda saat masih berusia 18 tahun, 11 bulan, dan 6 hari.

Anak kedua dari empat bersaudara pasangan Sudirman (50) dan Ani Andriani (40) ini memiliki cita-cita yang ingin dicapainya setelah menyelesaikan studinya sebagai seorang sarjana kedokteran.

Dipaksa Ngaku Perkosa Bidan Desa, Pria Ini Babak Belur Dipukuli, Labfor: Tak Ada Bukti Diperkosa, Nah Loh

Ia ingin menjadi dokter spesialis obgyn atau kandungan.

Hal tersebut diakuinya karena terinspirasi dari sosok sang ibu, yang berprofesi sebagai seorang bidan di satu wilayah di Sukabumi.

Di matanya, ibunya mampu menyelamatkan nyawa seorang ibu dan bayi yang dikandungnya saat membantu proses melahirkan.

Pesta Sabu di Kamar Hotel Itu Melibatkan Tiga Oknum Polisi dan Seorang Wanita, Ini Identitasnya

“Insya Allah selain emang cita-cita tapi juga udah niat untuk jadi dokter spesialis obgyn di Sukabumi. Soalnya kalau dokter spesialis obgyn itu kan prakteknya bisa stay di rumah, beda halnya sama dokter spesialis jantung atau spesialis lainnya, yang harus terus ada di rumah sakit, karena peralatannya memang cuma ada di sana,” kata perempuan berhijab ini.

“Apalagi dokter spesialis obgyn itu bisa menggantikan peran bidan, untuk bisa membantu proses melahirkan sekaligus menekan angka kematian ibu dan anak di masyarakat,” ujarnya seusai prosesi wisuda di Aula Unisba, Jalan Tamansari, Bandung, Sabtu, 23 Februari 2019.

Keberhasilannya menjadi dokter di usia 18 tahun tak terlepas dari perjuangannya sejak SMP.

“Ya Allah Nyari Duit Gitu Amat Mas”, Ada Apa dengan Cinta Ratu?

Nadia Silva mengatakan, semasa mengenyam pendidikan menengah pertama (SMP) dan menengah atas (SMA) di Sekolah Islam As-Syafi’iyah Sukabumi, ia merupakan seorang siswa akrelerasi atau program percepatan lama pendidikan dua tahun.

Sehingga saat lulus SMP usianya masih 13 tahun dan lulus SMA pada tahun 2015 lalu di usia menginjak 15 tahun.

“Saya pertama masuk TK itu umurnya masih empat tahun, satu tahun di TK kemudian umur lima tahun udah masuk SD. Setelah enam tahun lama sekolah SD (normal) lalu saya lulus SD pas umurnya sebelas tahun. Alhamdulillah pas umur 15 ikut tes untuk masuk ke Fakultas Kedokteran di sini (Unisba),” ucap Nadya Silva.

Nadia mengatakan, capaian prestasi pendidikan tersebut didapatkan bukan dengan cara mudah.

Ia melalui cukup banyak rintangan dan butuh perjuangan untuk melewatinya.

Ia mendapat dorongan dan motivasi dari kedua orang tua yang senantiasa menerapakan pola disiplin yang serius dalam mengerjakan berbagai hal, termasuk urusan belajar.

Maka, saat teman-teman sebayanya di SMA masih asyik bermain saat liburan sekolah, ia sudah harus belajar di fakultas kedokteran.

Diakuinya sempat ada perasaan iri dan kesal karena ingin seperti teman-temannya.

“Orang tua saya itu sosok yang cukup keras untuk masalah pendidikan, dan selalu menekankan juga meyakinkan saya mampu untuk masuk ke program akselerasi dan menargetkan diri masuk ke fakultas kedokteran dan menjadi dokter spesialis obgyn di usia muda,” ujar Nadya Silva.

“Karena yang namanya sekolah kedokteran itu lama dan panjang tahapannya, jadi saya harus fokus belajar dan ikut program akselarasi agar bisa mempersingkat lama studi dan usia saya untuk jadi dokter sesuai yang diharapkan,” kata Nadia Silva.

Perempuan kelahiran Sukabumi, 7 Maret tahun 2000, ini menambahkan, target terdekatnya setelah lulus ini adalah untuk segera mengambil program pendidikan profesi spesialis obgyn atau koas di rumah sakit regional Jawa Barat di Sukabumi, selama dua tahun.

“Alasan dari target saya untuk bisa menjadi dokter di usia muda, karena selain tentunya saya bisa lebih tenang dan luas dalam mengenyam ilmu pendidikan. Karena biasanya usia normal untuk mulai pendidikan profesi dokter itu di 24 tahun, tapi saya mampu di usia 19 tahun, tentunya ini akan menjadikan keleluasaan dalam hal pengalaman dan peningkatan karier saya sebagai dokter,” katanya. (***)

sumber: tribunnews.com

REGULASI

Sabtu | 16 Februari 2019

Ratusan Pelajar Ikuti Kuiz Rangking 1

MEDIAKEPRI.CO.ID, Bangka – Pelajar tingkat sekolah menengah umum sederajat akan mengikuti Kuiz Rangking 1 yang digelar Yayasan Rudi Center dan Bangka Pos.

Sekitar 200 pelajar akan berkompetisi dalam ajang Kuiz Ranking 1 yang berlangsung di Hotel Santika Bangka, Sabtu, 16 Februari 2019.

Koordinator EO Bangka Pos, Fatonah menjelaskan kuiz ini banyak diminati oleh siswa.

Dilihat dari yang mendaftar menurut Fatonah, animo siswa yang mau berkompetisi pada ajang ini banyak. Namun dalam kompetisi ini hanya dibatasi 200 peserta.

“Pesertanya memang kami targetkan untuk 200 orang siswa,” ungkap Fatonah, Jumat, 15 Februari 2019.

Peserta yang mendaftar merupakan dari 20 sekolah tingkat SMA sederajat di Kota Pangkalpinang. Namun ada dua sekolah yang tidak mengirimkan peserta dikarenakan ada agenda lain.

Ketua DPC PDI Perjuangan Pangkalpinang, Abang Hertza mengemukakan Kuiz Ranking 1 merupakan Program Yayasan Rudi Center. Dimana wujud kepedulian Rudianto Tjen sebagai Pendiri Yayasan Rudi Center.

“Pak Rudianto Tjen ini peduli pada bidang pendidikan, terutama bagi siswa-siswa yang berprestasi jenjang SMA sederajat, ” ungkap Abang Hertza.

Program ini katanya menyentuh langsung masyarakat, terutama pada anak-anak yang berprestasi.

“Ini merupakan wadah siswa untuk berkompetisi melalui kegiatan kuiz,” katanya.

Dijelaskan Abang Hertza, anak-anak yang cerdas dan potensial akan bisa dipantau.

Rudianto Tjen ini tidak hanya peduli pada bidang pendidikan namun peduli terhadap kesehatan masyarakat di Babel.

“Baru-baru ini dilaksanakan kegiatan bakti sosial (baksos) operasi mata katarak gratis serta kegiatan sosial kemasyarakatan juga merupakan komitmen PDI Perjuangan di Bangka Belitung,” jelasnya. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Serang – Berawal dari tugas praktikum kuliah, mahasiwa Universitas Banten Jaya (Unbaja) mengubah limbah minyak jelantah jadi karbol ramah lingkungan.

Produk ini, kemudian dijual di Kota Serang bahkan ke luar kota.

Inovasi ini bermula dari 5 mahasiswa jurusan Tekhnik Lingkungan Unbaja. Dibimbing oleh dosen, mereka diminta melakukan riset pembuatan karbol dari limbah tapi tidak menimbulkan bahaya.

Ini Kisah Ibu Rumah Tangga, dari Tukang Urut hingga Akhirnya Nekat Menculik 2 Balita Sekaligus

Dari situ, lima mahasiwa yaitu Irfan Alfandiana, Ita Solihati, Indra Aviatna, Popo Kusmayanti, dan Ahlan Badra memanfaatan minyak goreng bekas. Mereka melakukan riset memanfaatkan buah mengkudu, kulit jeruk untuk dijadikan karbol. Hasilnya, terciptalah Karboling atau Karbol Lingkungan yang sehat dan ramah lingkungan.

Menikah Itu Adalah Solusi Namun Juga Gudang Masalah, Ini yang Harus Dipelajari

“Perbedaan dengan karbol biasa, ini memanfaatkan limbah minyak jelantah, dari yang tadinya dibuang menjadi bermanfaat,” kata Fitriyah Jumat, 8 Februari 2019.

Fitriyah yang juga dosen pembimbing ini meminta mahasiswa agar berinovasi memanfaatkan limbah. Pilihannya tertuju ke minyak bekas yang sering dibuang sembarangan oleh ibu rumah tangga. Campuran buah mengkudu katanya dipilih karena buah ini melimpah di Serang dan jarang dimanfaatkan. Selain itu, buah ini memberi fungsi penjernihan pada minyak bekas yang sudah berwarna hitam.

Cetak Gol ke Gawang Klub Inggris, Mochamad Supriadi Dikaitkan dengan Klub Besar Ini

“Makanya kita manfaatkan sesuatu yang berguna. Dalam skala besar itu (minyak bekas) bisa mencemari. Apalagi jika minyak jelantahnya dibuang ke tanah,” ujarnya.

Sebagai bahan tambahan, kemudian mereka mencampurkan kulit jeruk agar keluar aroma wangi. Semua bahan Karboling dibuat dari bahan yang ramah terhadap lingkungan.

Vanessa Angel Dikabarkan Sudah Punya Anak, Ini Kata Sang Ayah

Karbol ini menurutnya resmi jadi produk mahasiswa Unbaja. Pihak kampus kemudian membuat tim agar Karboling bisa digunakan secara massal. Mereka mempercantik kemasan dan dipasarkan secara online.

Hasilnya, Karboling yang perbungkusnya dijual Rp 7000, jadi laku terjual di lingkungan internal kampus. Jaringan keluarga mahasiswa, bahkan ada permintaan penjualan di daerah Cirebon.

“Ke depan kita ingin kembangkan, kita kemas lebih menarik. Ada pengembangan produk makanya kita buat tim yang namanya Karakterpreneurship untuk memasarkan ini dan produk-produk kampus,” paparnya.

Karboling ini juga katanya jadi produk yang akan dipamerkan di pekan kreativitas mahasiswa se Banten. Harapannya, produk ini jadi jadi juara dan jadi karbol alternatif yang tidak berbahaya dan ramah lingkungan.(***)

sumber: detik.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Pendaftaran Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) dibuka hari ini, Senin, 4 Februari-14 Februari 2019. Namun di hari pertama, siswa menemukan kesulitan mengakses laman https://web.snmptn.ac.id untuk mendaftar, karena adanya gangguan pada sistem server.

Guru SMA Negeri 1 Cikalong Wetan, Bandung Rahmat Hidayat mengungkapkan kebingungan dalam pendaftaran SNMPTN di hari pertama kali ini. Yakni tidak adanya batasan kuota bagi siswa untuk mendaftar SNMPTN.

“Harusnya untuk sekolah kami karena terakreditasi A, hanya 40 persen siswa saja yang bisa mendaftar. Tapi ternyata ini dicoba kok bisa masuk semua,” kata Rahmat.

Seperti diketahui, jumlah siswa yang berhak mendaftar SNMPTN telah ditentukan berdasarkan pemeringkatan nilai oleh sistem Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi (LTMPT). Besarnya kuota tiap sekolah ditetapkan berdasarkan status akreditasi masing-masing sekolah, yakni sekolah akreditasi A (40% nilai terbaik siswa di sekolah), akreditasi B (25% siswa), dan akreditasi C (5% siswa).

Selain itu, kata Rahmat, sistem di server SNMPTN juga tidak konsisten saat siswa melakukan log in. “Pertama buka bisa, 2-3 menit kemudian tidak bisa, buka lagi bisa, tidak konsisten, ini membingungkan para siswa,” tegas Ketua bidang kurikulum Pengurus Pusat Ikatan Guru Indonesia (IGI) ini.

Hingga saat ini, sekolah menunggu arahan resmi dari pihak LTMPT agar secepatnya penjelasan dari pihak LTMPT tersebut dapat disosialisasikan kepada siswa. “Kami masih menunggu kabar, jadi kami belum bisa beri arahan kepada siswa,” ujar Rahmat.

Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi (LTMPT) akan mengumumkan siswa yang masuk pemeringkatan dan eligible (berhak) mendaftar SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri) hari ini, Senin, 4 Februari 2019 mulai pukul 08.00-15.00 WIB. Jumlah siswa yang berhak mendaftar di SNMPTN 2019 sebanyak 613.860 siswa.

Ketua LTMPT, Ravik Karsidi mengatakan, jumlah sekolah yang siswanya memenuhi syarat bisa mendaftar di SNMPTN 2019 sebanyak 14.744 sekolah. “Bagi siswa yang eligible dapat segera mendaftar mulai 4 Februari pukul 14.00 WIB sampai tanggal 14 Februari 2019,” seru Ravik, di Jakarta, Minggu malam, 3 Februari 2019.

Proses pendaftaran SNMPTN diperuntukkan bagi siswa Pendaftar yang memenuhi kriteria pemeringkatan oleh LTMPT, menggunakan NISN (Nomor Induk Siswa Nasional) dan password log in ke laman SNMPTN 2019 https://web.snmptn.ac.id untuk melakukan pendaftaran. (***)

sumber: metrotvnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Kayong Utara – Program belajar khusus warga buta huruf di Kabupaten Kayong Utara dihentikan sampai 2018.

Kepala Seksi Kurikulum dan Penilaian Dinas Pendidikan Kayong Utara, Syarifah Masna mengatakan, program yang berlangsung setiap Juli-Desember itu terpaksa dihentikan karena tak ada anggaran.

“2019 ini ndak ada lagi dah. Bukan ndak ada, yang udah jelas itu anggarannya ndak ada. Kita pun tahu kan sekarang kan istilahnya berkurang anggaran-anggaran,” kata Masna di Kantor Dinas Pendidikan Kayong Utara, Sukadana, Jumat, 1 Februari 2019.

Singgung Kasus Hoax, Kejujuran Ratna Sarumpaet Dapat Acungan Jempol dari Jokowi

Akan tetapi, kata Masna, apabila kedepan masih banyak ditemukan warga buta huruf, kemungkinan program dilanjutkan kembali.

Menurut Masna, sebenarnya hal yang paling penting untuk menyelesaikan permasalahan tuna aksara ini, ialah dengan memperkuat sinergi antara Dinas Pendidikan, Pemerintah Desa, dan Disdukcapil.

Tak Perlu Marah-marah, Begini Cara Kontrol Emosi saat Ketahuan Dibohongi

Data warga buta huruf dari Pemerintah Desa atau Disdukcapil sangat diperlukan agar Dinas Pendidikan lebih mudah merancang program pengentasannya.

“Kita validkan data dulu. Jadi, bukan apa, kalau kami ini di Dinas pendidikan, ndak mungkinlah kami data, bukan tugas kami. Ini kan datanya desa atau Capil,” ujar Masna. (***)

sumber: tribunnews.com

Pemkot Depok sudah mengirimkan tim psikolog.

MEDIAKEPRI.CO.ID, Depok – Seorang siswi SD yang berdomisili di Kelurahan Sukamaju, Cilodong, Kota Depok mengalami trauma. Ini setelah dia mendapat hukuman 100 kali melakukan push up dari oknum kepala sekolah SDIT di Bonjonggede, Bogor.

Siswi bernama GSN (10 tahun) dihukum lantaran belum membayar Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP) bulanan. “Saya dihukum 100 kali push up oleh kepala sekolah karena belum bayar SPP. Saya ikuti, baru 10 kali, saya nggak kuat karena tangan dan perut saya mulai sakit. Saya nggak mau sekolah, takut,” ujar GSN saat ditemui sejumlah wartawan di rumahya di Kampung Sidamukti RT 05/RW 10, Kelurahan Sukamaju, Kecamatan Cilodong, Kota Depok, Selasa, 29 Januari 2019.

GSN yang duduk kelas IV ini mengutarakan, hukuman push up sudah dua kali didapatkannya karena telat membayar SPP. “Teman-teman lainnya juga disuruh push up kalau telat membayar SPP. Pak kepala sekolah juga bilang kalau nggak bayar SPP nggak boleh ikut ujian. Saya nggak mau lagi sekolah disitu, takut,” tegasnya.

Dengan kejadian yang menimpa anaknya, HD (40) tak mau berpekara dan segera memindahkan anaknya ke sekolah yang dekat rumahnya di kawasan Cilodong, Depok. “Saya bukan tidak mampu bayar, cuma karena telat, itupun soal mis informasi. Saya sudah protes ke kepala sekolah. Anak saya sudah nggak mau sekolah disitu lagi. Sudah 10 hari nggak sekolah, dia trauma. Terpaksa saya pindahkan sekolahnya. Sekarang saya sedang urus surat pindah. Rencananya pindah ke sekolah di Cilodong, Depok,” tuturnya.

HD berharap, pihak sekolah dimanapun juga jangan menghukum anak-anak dengan push up dan kekerasan. “Saya berharap tidak ada anak-anak yang dihukum push up dan kekerasan yang membuat anak-anak takut bersekolah,” harapnya.

Kepala Sekolah SDIT Bina Mujtama Bojonggede, Bogor, Budi, membenarkan adanya aturan hukuman push up bagi siswa yang telat membayar SPP. “Ya, benar, GSN kami hukum push up karena belum bayar SPP. “Ini bukan hukuman tapi aturan sekolah. Aturan itu merupakan bentuk peringatan kepada orang tua yang lalai membayar SPP. Kita dan orang tua sama-sama mempunyai tanggungjawab mendidik anak,” jelas Budi.

Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Depok, Mohammad Thamrin menegaskan, pihaknya melarang adanya hukuman displin dengan push up, di suruh pulang dan bentuk-bentuk hukuman kekerasan lainnya.

“Kami melarang adanya hukuman seperti itu. Itu kejadiannya di sekolah di Bogor. Di Depok tidak ada sanksi belum bayar SPP, siswa yang menanggung hukumannya. Kami mengimbau untuk menerapkan sanksi yang kreatif tidak membuat siswa trauma. Contohnya, siswa yang telat masuk jangan disuruh pulang tapi diberi peringatan dan sebaiknya diberikan sanksi displin dengan membersihkan taman, membersihkan kaca atau menyapu halaman,” tuturnya.

Kepala Dinas Perlindungan Anak Pemberdayaan Masyarakat dan Keluarga (DPAPMK) Kota Depok, Nessy Annisa Handari menambahkan, pihaknya sudah mendapat laporan adanya siswi SD di Depok yang trauma sekolah karena hukuman push up yang diterimanya. “Kami sudah kirimkan tim psikolog untuk menemui GSN, mendampinginya dan menghiburnya agar traumanya pelan-pelan dilupakannya,” ungkapnya.

Nessy mengutarkan akan segera berkoordinasi dengan Disdik Kota Depok untuk segera membantu mencarikan sekolah baru buat GSN.

Kami akan bantu GSN dapat bersekolah di SD negeri di Depok. Kami akan terus mendampingi GSN hingga traumanya hilang dan dapat dengan senang untuk bersekolah. Kami berharap, para guru menjadikannya sekolah itu tempat menyenangkan bagi anak bukan tempat yang menakutkan,” katanya. (***)

sumber: republika.co.id

MEDIAKEPRI.CO.ID, Bogor – Senyum Lutfi Rahmaningtyas terus sumringah saat wisuda berlangsung. Lutfi Rahmaningtyas adalah mahasiswi lulusan terbaik Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor ( kampus IPB) yang menjadi lulusan terbaik dengan IPK 3,95

Tak hanya Lutfi Rahmaningtyas, rasa haru sekaligus bangga terpancar dari wajah orang tuanya. Anak dari pasangan Sri Lestari dan Juwari itu berhasil menyelesaikan kuliah S1-nya dengan dibiayai dari beasiswa kampus IPB.

Lutfi menceritakan meski sang ayah hanya seorang tukang ojek dan ibunya hanya sebagai ibu rumah tangga, namun kedua orang tuanya itu sangat peduli dengan pendidikan anaknya.

Bahkan meski sang ayah hanya lulusan Sekolah Dasar namun ayahnya itu selalu berjuang untuk menyekolahkan anaknya.

“Ayah dan ibu dari dulu berjuang untuk anaknya, meski pun ayah hanya tukang ojek lulusan Sekolah Dasar dan ibu tidak bekerja tapi Alhamdulillah mereka berhasil menyekolahkan anaknya hingga lulus SMA,” kata Lutfi saat ditemui usai Wisuda di Gedung Graha Widya Wisuda Dramaga, Rabu, 12 Desember 2018.

Namun ketika Lutfi akan lulus SMA ayahnya berpesan agar dirinya melanjutkan sekolah hingga jenjang sarjana.

Meski demikian ayahnya mengungkapkan keterbatasannya untuk menyekolahkan Lutfi untuk melanjutkan perkuliahan.

Kemudian saat itu Lutfi pun bertekad untuk melanjutkan perjuangan ayah dan ibadahnya untuk menuntut ilmu.

“Iya ayah sudah bilang kalau tidak sanggup, tapi beliau juga selalu menyemangati, dan saya memiliki tekad dan niat kalau mencari ilmu itu adalah ibadah. Alhamdulillah saya bisa kuliah melalui jalur SNMPTN dan mendapat beasiswa dari bidik misi,” katanya.

Mahasiswi program studi Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata itu pun memilih kampus IPB karena menurutnya kampus IPB merupakan Universitas terbaik di Indonesia.

Lutfi menjelaskan kebutuhannya sehari-hari dan selama menjalani perkuliahan dibiayai oleh beasiswa.

Ia pun tidak meminta kiriman uang dari orangtuanya di kampung.

Tidak hanya mengandalkan beasiswa, Lutfi pun sempat menjalani beberapa pekerjaan paruh waktu.

“Saat kuliah saya mengajar di bimbel Mitra PPKU, dalam seminggu saya mengajar 3 sampai 4 kali. Dulu ketika TPB atau PPKU saya bisa mendapatkan uang tambahan dengan berjualan (danusan) makanan ringan,” kata Lutfi.

“Setelah di fakultas saya juga sempat bekerja freelance di Aqla Travel Agency dengan sistem bayaran by project. Selebihnya untuk mencukupi kebutuhan saya lebih menggunakan strategi untuk menghemat pengeluaran dan memanfaatkan uang bidikmisi sebaik-baiknya,” ujarnya.

Sementara itu Sri Lestari, ibunda Lutfi mengungkapkan rasa bahagianya karena melihat anak pertamanya berhasil mendapat gelar sarjana dengan predikat terbaik.

Sri mengatakan selama menjalani perkuliahan Lutfi tidak pernah meminta uang kepada orangtuanya.

“Iya Lutfi belum pernah minta uang dan kami juga orangtuanya tidak bisa mengirimkan uang kepada Lutfi. Tapi Alhamdulillah Lutfi bisa lulus dan saya sama bapaknya sangat bersyukur dan bahagia,” ujarnya. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Denotatif, seorang siswa SMAK Yos Sudarso, Batam berhasil lolos sebagai juara 2 lomba video pendek yang digelar Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT) RI. Penyerahan hadiah di Malam Anugrah Indonesia Damai 2018 dengan Tema Menjadi Indonesia berlangsung di Gedung Pusat Perfilman Usmar Ismail, Jakarta, Kamis, 29 November 2018.

Perlombaan yang digelar BNPT itu melibatkan berbagai lapisan masyarakat untuk berpartisipasi dalam penanggulangan terorisme pada ajang Anugerah Indonesia Damai.

Braaak.. Mobil Toyota Yaris Itu Menabrak 8 Unit Motor di Parkiran, Ini Sebabnya

Penyerahan hadiah dihadir oleh jajaran pimpinan BNPT yakni Kepala BNPT Komjen Pol. Drs. Suhardi Alius S.H. M.H., Deputi I Bidang Pencegahan, Perlindungan dan Deradikalisasi Brigjen TNI Hendri Paruhuman Lubis, serta Inspektur BNPT, Kepala Biro Umum BNPT, dan Direktur Pencegahan BNPT.

Anugerah Indonesia Damai yang mengusung tema “Menjadi Indonesia” memiliki 3 cabang lomba yaitu Lomba Karya Tulis Naskah Dakwah bagi penyuluh lintas agama, Lomba Karya Jurnalistik bagi awak media dan pers mahasiswa, serta Lomba Video Pendek bagi siswa SMA/Sederajat. Pada malam ini hadir 30 finalis yang berhasil masuk 10 besar di tiap kategori lomba.

PNS Lewat Jalur Prestasi Berstatus Pelatnas, Gaji Dobel pun Didapatkan

Mengawali kegiatan, agenda Malam Anugerah Indonesia Damai memasuki Audiensi dengan 30 Finalis lomba dan 15 Narasumber serta Konferensi Pers dengan awak media. Dalam agenda Audiensi dan Konferensi Pers Kepala BNPT hadir memberikan kata pengantar di Ballroom Hotel Royal Kuningan, Jakarta Selatan.

Kepala BNPT menyampaikan ucapan selamat dan apresiasi atas keikutsertaan elemen masyarakat dalam upaya pencegahan terorisme. Komjen Pol. Suhardi Alius berharap hal ini dapat menjadi embrio perkembangan penanggulangan terorisme yang lebih baik.

Persit KCK Cabang XXXIX Kodim0718/Pati Kunjungi Agrowisata Jollong

Sebelum memasuki pengumuman pemenang tiap lomba, Kasubdit Pemberdayaan Masyarakat Dr. Andi Intang Dulung M.HI menyampaikan laporan ketua panitia. Dalam sambutannya, beliau mengatakan adanya peningkatan keterlibatan masyarakat. Hal ini dicapai dengan menggandeng Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) di 32 Provinsi se-Indonesia.

“Selama setahun penuh, jumlah masyarakat yang berhasil dilibatkan mencapai 31.351 orang. Melalui dialog, pelatihan, diseminasi dan penelitian mereka memahami bahaya terorisme, pemetaan perkembangan terorisme serta tips mencegah paparan dan ajakan radikal terorisme,” ujar Kasubdit Pemberdayaan Masyarakat.

Karya-karya yang diajukan pada Anugerah Indonesia Damai telah melalui proses penjurian. Penjurian menghadirkan tokoh-tokoh sebagai juri yang berkompeten di bidangnya seperti M. Amirullah (Kepala Seksi Penyuluh Agama Kementerian Agama RI), Mohammad Monib (Direktur Indonesian Conference on Religion and Peace), Sholehuddin (Direktur Daulah Bangsa), Taufik Hidayatullah (Peneliti di Indonesia Institute for Society Empowerment), Andi Intang Dulung (Kasubdit Pemberdayaan Masyarakat BNPT).

Waspadai Penyakit Anemia Dibalik Tren Badan Kurus Kering

Untuk bidang karya tulis naskah dakwah jurinya adalah, Yosep Adi Prasetyo (Ketua Dewan Pers), Abdullah Alamudi (Pengajar Senior di Dr. Soetomo Press Institute), Dwidjo Utomo Maksum (Mantan Jurnalis Senior Tempo Media Group), Willy Pramudya (Anggota Majelis Etik AJI Indonesia). Sementara untuk lomba karya jurnalistik, dan Sutjiati Eka Tjandra (Produser di Samuan Film), Swastika Nohara (Penulis Skenario Film “Tiga Srikandi”), Ratrikala Bhre Aditya (Asisten Sutradara Film “Ada Apa Dengan Cinta”), Prisia Nasution (Aktris) dan Dyah Kusumawati (Praktisi Perfilman dari Kalbis Institute).  (***)

Innalillahi, Neng Mela Korban Begal Itu Akhirnya Meninggal Dunia, Tangisan Anaknya Menyayat Hati

Daftar Pemenang Lomba Karya Tulis Naskah Dakwah
“Dakwah Ayat-Ayat Damai” 2018

Juara
1. Rofi’udin – Penyuluh Agama asal Jawa Timur “Setitik Darah Di Kertas Putih”;
2. Azizah Herawati – Penyuluh Agama asal Jawa Tengah “Menjaga Ektremisme Dengan PPK”;
3. Abdul Gafur – Penyuluh Agama asal Riau “Hidup Rukun Dalam Kebhinnekaan”.

Juara Harapan
1. Asep Jaelani – Penyuluh Agama asal Jawa Barat “Islam Vs. Terorisme”;
2. Ilham Latif – Penyuluh Agama asal Sulawesi Selatan “Makna Jihad Dalam Perspektif Islam”;
3. Wiwin – Penyuluh Agama asal Jawa Barat “Tauhid Sebagai Landasan Toleran Dalam Kehidupan”;

Daftar Pemenang Lomba Karya Jurnalistik BNPT 2018

Juara
1. Keluarga Membuat Eks Napiter JI Insyaf – Erik Purnama Putra – Republika;
2. Metamorfosis Stigma Teroris, dari Baju Gamis ke Rambut Klimis – M. Amir Tedjo Sukmono – www.ngopibareng.id
3. Ngaji Filsafat Biar Tak Sesat – Anang Zakaria – www.beritagar.id

Juara Harapan
1. Perlawanan Sang Mantan Komandan – Wakoz Reza Gautama – Tribun Lampung
2. Ngobrol Bareng Mantan Kombatan dan Narapidana Terorisme tentang ke-Indonesia-an – Mochammad As’ad – Warta Bromo
3. Agar Virus Radikalisme Tak Mewabah di Balik Jeruji Penjara – Zainul Arifin – www.liputan6.com

Daftar Pemenang Lomba Video Pendek
Cerita Terbaik:
1. Seperadik – SMAN Pangkal Pinang, Bangka Belitung;
2. Garuda – SMA Islam Kebumen, Lampung;
3. Sedia – SMAN Modal Bangsa, Aceh;

Viewers terbanyak :
1. Yang Terkikis – SMA Muhammadiyah Bangkinang Kota, Riau.

Video terbaik:
1. Juang – SMAN 1 Tegalombo Pacitan, Jawa Timur;
2. Denotatif – SMAK Yos Sudarso, Kepulauan Riau
3. Bersatu Kita Teguh, Bercerai Kita “Terbakar” – SMK Pasim Plus Sukabumi, Jawa Barat

PENDIDIKAN

Minggu | 26 Agustus 2018

7 Tips Merancang Dana Pendidikan Anak

MEDIAKEPRI.CO.IDSebagai orangtua tentu memiliki harapan untuk memberikan segala yang terbaik bagi anak, termasuk juga dalam hal pendidikan.

Namun tak jarang hal ini memberikan beban tersendiri karena biaya pendidikan yang cenderung meningkat setiap tahun.

Bila tidak dipersiapkan dengan cermat, tentu akan menggoyahkan keuangan dan pendidikan anak pun terancam terganggu. Untuk itu, perencanaan dana pendidikan perlu disiapkan sejak dini, dan berikut ulasannya :

  1. Persiapkan anggaran sedini mungkin

Jangan menunggu hingga anak siap untuk bersekolah baru mulai bingung mempersiapkan dananya, karena pada saat itu Anda sudah tidak mempunyai banyak waktu untuk mempersiapkan diri.

Sebaiknya persiapkan anggaran sedini mungkin bahkan sejak anak masih balita, sehingga Anda mempunyai waktu yang cukup dan tidak terlalu ketat dalam mengatur keuangan

  1. Atur jumlah anggaran pendidikan

Untuk menyiapkan dananya, Anda tentu perlu mengetahui berapa kira-kira jumlah anggaran yang dibutuhkan. Anda dapat mencari informasi mengenai biaya sekolah pada sekolah idaman.

Jangan lupa hitung pula berbagai biaya lain yang mungkin muncul, misalnya biaya ekstrakurikuler, biaya buku dan seragam, uang pangkal, hingga kebutuhan lainnya.

Bila sedang merancang pendidikan untuk sekolah lanjutan atau perguruan tinggi, pertimbangkan pula apakah ada rencana anak Anda untuk bersekolah di luar kota atau bahkan luar negeri?

Karena kondisi tersebut memerlukan penghitungan yang lebih kompleks dan lengkap, misalnya bila Anda berencana menyekolahkan anak keluar negeri, tentu harus memperhitungkan pula biaya akomodasi, konsumsi, transportasi, dan kebutuhan hidup lainnya. Belum lagi biaya untuk pulang pergi kembali ke kampung halaman dan juga keperluan lainnya

Selanjutnya, perkirakanlah berapa banyak kenaikan rata-rata biaya tersebut setiap tahunnya. Hal ini digunakan untuk dapat menghitung berapa nilai anggaran tersebut beberapa tahun dari sekarang, ketika anak mulai memasuki sekolah tersebut.

  1. Atur anggaran untuk setiap anak

Setelah itu, persiapkan dana pendidikan untuk setiap anak. Jadi bila memiliki beberapa anak, maka pisahkanlah dana pendidikan untuk masing-masing, agar tiap anak memperoleh kepastian dan tidak terganggu oleh kebutuhan pendidikan saudaranya yang lain.

Untuk mempersiapkan dana tersebut, Anda dapat mengikuti asuransi pendidikan. Mengapa memilih asuransi pendidikan? Karena asuransi ini dapat memproteksi biaya pendidikan anak bila terjadi risiko kematian orang tua atau ketidakmampuan orang tua untuk mencari nafkah akibat cacat atau sakit.

  1. Berpikir realistis

Rancang anggaran pendidikan sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan Anda. Jangan sampai anggaran pendidikan yang terlalu besar mengganggu anggaran Anda untuk kebutuhan primer lain yang juga penting.

Apabila anak menginginkan sekolah pada tempat atau jurusan dengan biaya yang sangat besar, coba pikirkan alternatif lain yang lebih terjangkau. Solusi lainnya, Anda dapat mencoba mencari beasiswa. Tentu saja hal ini juga perlu dikomunikasikan pada buah hati agar mereka siap dan juga mampu mencetak prestasi yang sesuai dengan tujuan tersebut.

  1. Menentukan prioritas

Bila Anda merasa mulai kesulitan untuk mengatur dana pendidikan anak karena kebutuhan pengeluaran yang amat tinggi, maka mulailah menyusun daftar skala prioritas.

Pelajari anggaran apa yang dapat Anda kurangi untuk dialokasikan pada dana pendidikan. Contoh pos yang dapat dikurangi misalnya dana rekreasi dan hiburan di mana Anda dapat mengurangi makan-makan di restoran atau berbelanja di mal.

  1. Alokasi dana

Sisihkan dana dari pendapatan Anda dan pasangan minimal 10 persen sehingga target menabung atau membayar asuransi dapat terpenuhi. Cara ini membantu Anda untuk disiplin dalam mengumpulkan dana pendidikan anak.

  1. Bandingkan penawaran asuransi

Mintalah ilustrasi asuransi pendidikan kepada agen dari beberapa perusahaan asuransi. Jelaskan besar manfaat dan kualitas pendidikan yang Anda inginkan untuk anak Anda agar agen tersebut dapat memberikan ilustrasi yang tepat.

Dari ilustrasi tersebut Anda dapat mengetahui berapa premi yang harus dibayar, berbagai kelebihan dan kekurangan dari tiap perusahaan. Setelah itu, Anda dapat membandingkan dan menentukan mana yang terbaik.

Rancang dana pendidikan anak sejak dini, karena semakin anak dewasa maka waktu yang Anda miliki untuk menyiapkan dana pun semakin sedikit. Selain itu, semakin tinggi tingkat pendidikan anak, maka makin besar pula dana yang Anda butuhkan. (***)

sumber : disdik.kepriprov.go.id

MEDIAKEPRI.CO.ID, Kudus – Seorang gadis asal Kudus, Jawa Tengah siap berangkat ke Jepang sebagai wakil Indonesia. Di sana, dia akan unjuk kebolehan berpidato Bahasa Jepang melawan peserta lainnya dari negara-negara ASEAN.

Namanya Seli Inayanti, warga Desa Jati Kulon, RT 5 RW 2, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus. Anak keempat dari pasangan Rohmad dan Sulastri ini bakal berangkat ke Tokyo, pertengahan Oktober tahun ini.

Seli yang tak mampu menyembunyikan rasa semringahnya. “Bahagia bisa mewakili Indonesia di lomba pidato di Jepang nanti,” tutur dara kelahiran Kudus, 6 Maret 1997 saat ditemui di rumahnya, Senin, 23 Juli 2018.

Mahasiswi semester empat, Prodi Pendidikan Bahasa Jepang, Jurusan Bahasa dan Sastra Asing, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang (Unnes) tidak menyangka kalau bisa mendapat kesempatan seperti ini. Soalnya dia mengakui jika peserta lomba di Indonesia yang lain juga mempunyai kemampuan hebat.

“Tapi, Alhamdulillah hasil memang tidak mengkhianati proses,” kata Seli.

Dia menceritakan sekilas perjalanannya, terakhir mengikuti penyisihan lomba pidato tingkat Jateng itu yang ke-8 pada 12 Mei 2018 di Unnes. Kemudian, di Jakarta tanggal 14 Juli mewakili Jateng ikut lomba pidato Bahasa Jepang tingkat nasional yang ke-47.

“Jadi saya lomba dulu di Unnes (penyisihan Jateng) lomba pidato bahasa Jepang ke-8 dan menang. Baru saya mewakili Jateng di Jakarta ikut lomba pidato bahasa Jepang yang ke-47,” terangnya.

Dia juga menceritakan, dalam satu minggu latihan 5-6 hari. Pada akhir pekan, dia istirahat menenangkan pikiran. Dalam seminggu dia latihan bersama dosen kurang lebih 3 kali, sisanya dia latihan sendiri.

“Saya pernah dimarahin ibu gara-gara jarang tidur dan sakit gara-gara latihan,” bebernya.

Bahkan, dia pernah sampai demam seminggu, karena di kos, makan dan tidur tidak teratur dan makan makanan instan.

“Alhamdulillah nggak sampai masuk rumah sakit. Waktu itu cuma salah pola latihan,” ungkap Seli.

Dia berencana menceritakan materi pidatonya di Jepang tentang pekerjaan sang ayah sebagai pengepul sampah plastik. Dulu dia sempat malu dengan pekerjaan ayah. Namun, kini dia tak malu lagi.

“Perubahan itu saya ceritakan di pidato saya,” beber seli.

Dia mengungkapkan jika kemahiran berbahasa Jepang Seli dimulai sejak duduk di bangku sekolah yakni sering menonton video anime Jepang. Kemudian ada rasa senang. Dan akhirnya saat melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi.

“Dulu sering nonton film anime, terus ingin belajar bahasa Jepang. Film anime yang sering saya tonton itu seperti Spirited Away,” kata dia. (***)

sumber: detik.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Mojokerto – Siswi kelas XI SMAN 1 Gondang, Mojokerto Mas Hanum Dwi Aprilia lumpuh akibat menjalani hukuman squat jump di sekolahnya.

Hukuman itu dijatuhkan ke korban sebanyak 90 kali. Begini penjelasan pihak sekolah.

Kepala SMAN 1 Gondang Nurul Wakhidah mengatakan, hukuman itu diterima Hanum saat mengikuti Unit Kegiatan Kerohanian Islam (UKKI) di sekolahnya, Jumat, 13 Juli 2018 pagi.

Gara-garanya, siswi kelas XI IPS 2 ini terlambat datang di ekstra kurikuler (ekskul) tersebut. Saat itu UKKI mengadakan pelatihan untuk promosi ekskul ke siswa baru.

“Informasi dari anak-anak, waktu itu ada kesepakatan di antara teman-temannya, kalau terlambat datang ada hukuman. Seniornya anak-anak kelas XII menyampaikan hukumannya hafalan surat pendek (Alquran), tapi anggotanya tak mau, minta squat jump. Sudah diingatkan seniornya jangan hukuman itu karena keras. Kesepakatan kelompok tersebut hukumannya tetap squat jump,” kata Nurul kepada wartawan di kantornya, Kamis, 19 Juli 2018.

Saat itu, lanjut Nurul, ada siswa lainnya yang juga terlambat datang. Hanum dan temannya itu masing-masing harus menjalani 60 kali squat jump.

Sayangnya, teman Hanum hanya mampu melakukan squat jump sebanyak 30 kali. Sisa hukuman ini justru dibebankan ke Hanum. Selesai melakukan 60 kali squat jump, pelajar asal Krian, Sidoarjo ini harus melakukan lagi sebanyak 30 kali.

“Sehingga 90 kali squat jump dijalani Hanum sampai selesai. Saat itu dia masih sempat melanjutkan kegiatan, tak langsung jatuh sakit (lumpuh), hanya kakinya katanya sakit semua,” ujarnya.

Nurul menjelaskan, saat kegiatan UKKI berlangsung, tak ada satu pun guru yang mendampingi. Menurut dia, para siswa anggota UKKI menggelar kegiatan tanpa izin pembina ekskul, Pembina OSIS maupun Wakasek Kesiswaan.

“Saat kegiatan itu, sekolah masih libur. Sehingga kami semua tak tahu kalau anak-anak membuat kegiatan itu,” terangnya.

Hanum mulai mengeluh sakit di kaki dan punggung usai dihukum squat jump sebanyak 90 kali pada Jumat (13/7) pagi. Saat itu korban terlambat datang di kegiatan ekskul Unit Kegiatan Kerohanian Islam (UKKI) di SMAN 1 Gondang, Mojokerto.

Pelajar yang juga nyantri di PP Al Ghoits, Desa/Kecamatan Gondang ini benar-benar lumpuh pada Rabu, 18 Juli 2018 pagi.

Pengasuh pondok pun membawanya ke pengobatan saraf alternatif di Desa Pandanarum, Pacet. Karena Hanum diperkirakan mengalami saraf tulang belakang terjepit. (***)

sumber: detik.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Bali – Garam merupakan salah satu bahan pangan yang dibutuhkan oleh berbagai pihak baik untuk di konsumsi maupun untuk kebutuhan industri.

Pesisir Tejakula, Buleleng adalah salah satu sentra pembuatan garam di pulau Dewata.

Pada umumnya garam di buat dengan mengalirkan air yang akan dikumpulkan pada sepetak tanah atau tambak lalu dijemur, tinggal mengumpulkan dan mengambil hasilnya lalu di pasarkan. Berbeda tempat, berbeda pula proses pembuatannya.

Proses pembuatan garam di Desa Tejakula, Buleleng sangat unik dengan menggunakan tanah yang telah dicampur dengan air laut sebagai media untuk menyaring air tua yang akan dijemur diatas batang kelapa yang disebut palungan.

Proses pembuatan garam ini menghasilkan garam dengan kualitas yang bersih dan tidak pahit karena zat pahit tersebut diserap melalui pori-pori bilah kelapa.

Tak hanya itu, adanya inovasi produksi garam yang menjadi primadona dengan memanfaatkan rumah kaca dapat menghasilkan garam dengan bentuk piramid (pyramidion), bentuk kubus (dice) dan bentuk salju (snow).

Diolah secara tradisional dan tergantung dengan kondisi cuaca menjadikan produksi garam tidak menentu. Jika cuaca sedang bagus, produksi melimpah sebaliknya jika cuaca buruk, maka produksi garam tidak maksimal. Pendapatan wargapun menjadi tidak menentu dan cenderung untuk beralih profesi padahal proses pembuatan garam ini merupakan salah satu kearifan lokal yang diwariskan secara turun temurun.

Hal inilah yang menjadi acuan Mahasiswa Sekolah Tinggi Pariwisata Bali Internasional yang terdiri dari Ni Made Ayu Natih Widhiarini selaku ketua, Ni Nengah Ariastini dan Ni Putu Feby Devira Permanita selaku anggota mengangkat penelitian yang berjudul “Desain Konsep Artifisial Pertanian Garam Palungan Sebagai Living Museum dalam Pengembangan Pariwisata Budaya dan Edukasi di Desa Tejakula” dalam ajang Program Kreativitas Mahasiswa (PKM).

Kombinasi peran serta komunitas pesisir, kearifan lokal, dan pariwisata melalui pengembangan pariwisata budaya dan edukasi yang berbasis masyarakat (community based tourism) dapat dilakukan dengan mengembangkan museum berbasis kearifan lokal.

“Museum sebagai daya tarik wisata budaya sudah banyak dikembangkan di Bali yang diharapkan mampu berkontribusi terhadap pembangunan pariwisata berkelanjutan. Akan tetapi kebanyakan orang berpikir museum hanyalah tempat benda-benda mati. Yang ingin kami tonjolkan dengan konsep lving museum adalah adanya atraksi budaya dan kearifan lokal yang hidup dan bisa disaksikan secara langsung bahkan bisa ikut berpartisipasi di dalamnya,” ujar Natih selaku ketua kelompok.

“Dengan adanya konsep living museum dapat menjadi sumber budaya dan edukasi yang memadukan pengalaman belajar aktif dan pasif dalam desain penataan ruang pamer yang terbuka, penyediaan fasilitas workshop diharapkan wisatawan nantinya dapat melihat atraksi budaya dan kearifan lokal yang secara langsung dapat memberikan edukasi kepada wisatawan,” Papar Ariastini.

Tim PKM-KC (Program Kreativitas Mahasiswa bidang Karsa Cipta) telah mendapatkan Hibah dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementrian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia.

“Kami berharap penelitian ini akan membawa manfaat bagi instansi dan masyarakat, yaitu dapat memberikan pertimbangan terkait upaya mengkonservasi kearifan lokal khususnya pertanian garam palungan yang dituangkan dalam bentuk desain konsep artifisial living museum sebagai pariwisata budaya dan edukasi di Desa Tejakula yang dapat mendukung pemerataan pariwisata berkelanjutan di bagian Bali Utara,” Tutup Feby. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Ribuan pendaftar sekolah negeri tiba-tiba mengaku miskin. Mereka menyodorkan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) sebagai buktinya. Setelah dicek ke rumahnya, ternyata sebaliknya.

Hal ini terjadi di berbagai tempat, salah satunya di Banyumas, Jawa Tengah. Terdapat siswa yang orang tuanya mempunyai mobil bagus dan bekerja dengan penghasilan yang cukup besar. Selain itu, rumah yang ditempati juga tidak menunjukkan jika siswa tersebut berasal dari keluarga yang tidak mampu.

“Ada yang orang tuanya pegawai swasta dengan penghasilan yang tinggi. Bahkan ada pula yang orang tuanya memiliki rumah yang bagus dan tidak terlihat sebagai keluarga miskin,” ujar Kasi SMK, Balai Pengembangan Pendidikan Menengah dan Khusus (BP2MK) Wilayah V Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Provinsi Jateng, Kustrisaptono.

Panitia PPDB SMK Negeri 1 Purwokerto hingga saat ini masih terus melakukan proses rekap terhadap jumlah pendaftar yang menggunakan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM). Dari 1.314 pendaftar, 948 merupakan pendaftar yang menggunakan SKTM.

“54 pendaftar sudah mencabut berkas kemarin, yang lain masih dalam proses,” kata Kepala Sekolah SMK Negeri 1 Purwokerto, Asep Saeful Anwar.

Di Magelang, Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) Kota Magelang melakukan verifikasi terbaru terkait pengguna Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) dalam Pendaftaran Peserta Didik Baru (PPDB) SMA.

Hasilnya, sebanyak 305 calon siswa dari 1.443 kuota siswa yang terpenuhi di lima SMAN di Kota Magelang, diketahui menggunakan SKTM. Hasilnya, ada delapan calon siswa pengguna SKTM yang didiskualifikasi karena tidak sesuai penggunaan SKTM-nya.

Sementara itu, di Yogyakarta, Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) DIY akan menelusuri dugaan orang mampu yang mendaftarkan anaknya ke salah satu SMA N memakai Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM). Sebab, praktik tersebut melanggar aturan.

“Kita memang perlu telusuri (dugaan tersebut). Ketika kita tahu namanya persis, kita bisa segera (bertindak),” kata Kabid Perencanaan dan Standarisasi Disdikpora DIY, Didik Wardaya.

Dengan banyaknya orang-orang yang mendadak miskin, Gubernur Jateng menginstruksikan kepala SMA/SMK negeri melakukan survei lapangan terkait penyalahgunaan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM). Salah satu yang ditegur langsung adalah SMAN Mojogedang, Karanganyar. Hasilnya, ada 32 pendaftar yang diragukan kebenarannya.

Kepala SMAN Mojogedang langsung menindaklanjuti instruksi gubernur untuk melakukan survei mulai kemarin sore. Ada 138 pendaftar Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) yang dinilai harus disurvei.

“Sejak kemarin jam lima kami survei. Dari 138 orang, ada 32 yang menurut kami tidak masuk kategori miskin,” kata Purwadi.

Mengantisipasi hal itu, SMA di Brebes yang diburu banyak peminat membuat strategis khusus. Yaitu mewajibkan orang tua calon siswa yang menggunakan surat keterangan tidak mampu (SKTM) untuk menandatangani pakta integritas. Kebijakan ini ternyata cukup membuat orang tua calon murid yang ber-SKTM ciut nyalinya.

Mereka pun akhirnya menarik surat tersebut dalam syarat pendaftaran sekolah.

“SKTM memang sedang booming. Di SMAN 2 saja ada banyak yang melampirkan surat miskin ini. Warga yang mengaku ngaku miskin padahal kaya jika terbukti memalsukan bisa dipidana,” ujar Kepala SMA N 2 Brebes, Sadimin kepada wartawan, Selasa, 10 Juli 2018.

Menyikapi hal ini, Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X meminta Dinas Pendidikan di kabupaten/kota untuk melakukan pengawasan ketat.

“Saya minta dinas ketat untuk mengawasi baik di tingkat satu maupun kabupaten/kota. Izin yang diberikan harus tepat jangan menbohongi, itu pendidikan yang tidak baik,” kata Sri Sultan HB X di kantor Gubernur DIY di Kepatihan. (***)

sumber: detik.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Bandung – Institut Teknologi Bandung melakukan invonasi yang patut diapresiasi tinggi.

Lantaran mampu mengembangkan pemanis alami glikosida steviol (stevia) dari daun tanaman stevia.

Tim peneliti dari staf dosen Sekolah Farmasi Institut Teknologi Bandung (SF-ITB) telah melakukan penelitian dengan topik “Pengembangan Proses Produksi Pemanis Alami Glikosida Steviol (Stevia) dari Daun Tanaman Stevia.”
Tim peneliti terdiri dari Rahmana Emran Kartasasmita, Elfahmi, Muhammad Insanu, dan As’ari Nawawi.

Rahmana Emran Kartasasmita menjelaskan, penelitian yang dilakukan oleh timnya sudah dimulai sejak 2012.

“Pada tahun tersebut, masih dilaksanakan dalam skala laboratorium. Pada tahun 2015 tim mendapatkan dana penelitian dari Kementerian Kesehatan melalui program Fasilitasi Pengembangan Bahan Baku Obat (BBO) dan Bahan Baku Obat Tradisional (BBOT),” ujarnya via keterangan tertulis, Selasa, 10 Juli 2018.

“Berkat pendanaan tersebut, penelitian dapat dilakukan pada skala yang lebih besar dengan menggandeng PT Kimia Farma sebagai industri mitra.”

Lebih lanjut Rahmana Emran menjelaskan, daun dan herbal tanaman stevia mengandung senyawa yang memiliki rasa manis (glikosida steviol, GS) dengan kadar cukup tinggi.

“Kemanisan senyawa GS mencapai 300 kali lipat dari gula sehingga GS yang diperoleh melalui ektraksi daun dan herbal tanaman Stevia ini banyak digunakan sebagai pemanis alami pensubstitusi gula, khususnya bagi yang memerlukan asupan kalori rendah,” ujarnya.

“GS sebagai pemanis alami sudah lama digunakan dan dinyatakan aman oleh Codex Alimentarius Commission (CAC) sebagai organisasi international di bawah FAO dan WHO yang mengeluarkan berbagai standard dalam bidang pangan.”

Sebagai pemanis intensitas tinggi (high intense sweetener), GS memiliki tingkat kemanisan yang tinggi.

Pada kadar rendah, GS sudah mampu memberikan rasa manis yang memadai.

“Sebagai ilustrasi, untuk memaniskan satu cangkir minuman, cukup digunakan 30-40 mg GS yang lazimnya digunakan dalam bentuk sachet. Keunggulan lainnya, GS tidak memiliki nilai kalori sehingga tidak akan menyebabkan kenaikan gula darah setelah dikonsumsi,” kata Emran.

“Oleh karena itu, pemanis alami ini sesuai untuk digunakan oleh penderita diabetes maupun yang memerlukan asupan kalori rendah seperti yang sedang melakukan diet rendah kalori.”

Sayangnya, di Indonesia, pemanis alami tersebut masih sepenuhnya diimpor.

Padahal, tanaman bernama latin Stevia rebaudiana Bertoni ini bisa hidup dan cocok untuk ditanam di dataran tinggi di Indonesia, seperti di daerah Ciwidey, Kabupaten Bandung.

“Sampai sekarang, belum ada satu pun industri di Indonesia yang melakukan ekstraksi daun Stevia dan memproduksi GS sebagai pemanis alami pada skala komersial,” kata Rahmana Emran.

Proses ekstraksinya, sambungnya, daun hasil panen yang telah dipetik petani kemudian disortir dan dikeringkan terlebih dahulu.

Setelah kering lalu dirontokkan daunnya dari tangkai.

Kemudian, dilanjutkan proses penghancuran menggunakan mesin agar lebih halus berbentuk bubuk.

Selanjutnya, dilakukan proses ekstraksi, dengan berbagai teknik, ada yang menggunakan air terlebih dahulu atau pelarut lain yang diizinkan untuk pengolahan pangan.

Berikutnya, yaitu proses pemurnian dan pengkristalan menjadi serbuk GS yang berwarna putih.

“Semua hasil penelitian ini sudah dilaporkan dan diserahkan ke Kementerian Kesehatan sebagai pemberi dana.”

“Untuk tindak lanjut produksi stevia pada skala komersial, Kementerian Kesehatan akan memfasilitasi bila ada industri yang berminat.”

“Kami berharap ada industri yang berminat dan bisa menindaklanjuti hasil penelitian ini,” ujar Rahmana Emran. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Blora – Salah satu orang tua calon siswa yang gagal lolos dalam Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) di SMK Negeri 1 Blora, memilih melapor ke polisi. Dia menengarai dugaan penerbitan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) yang tidak sesuai fakta.

Priyanto Muda Prasetya, menyayangkan penggunaan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) yang menurutnya banyak tak sesuai. Dia kemudian memutuskan membuat laporan kepada pihak kepolisian, dengan dugaan pembuatan SKTM yang tidak sesuai fakta.

“Indikasinya itu jelas SKTM-nya abal-abal, alias aspal. Angka kemiskinan di Blora kan cuma 13 persen, mosok dari sekian banyak murid hampir 100 persen pakai SKTM semua. Dalam hal ini bisa dikatakan orang miskin semua ini,” terangnya kepada detikcom, Sabtu 7 Juli 2018.

“Ada 14 poin yang menjadi indikator miskin, dan itu tidak masuk kategori itu semua. 100 persen pendaftar yang diterima itu karena SKTM, padahal danemnya rendah,” lanjutnya.

Priyanto mengatakan, anaknya semula mendaftar di SMK Negeri 1 Blora. Namun kemudian dicabut karena berada di urutan bawah, kalah dengan para siswa yang mendaftar menggunakan SKTM meskipun nilai akhir mereka lebih rendah dari anaknya.

“Anak mendaftar di SMK 1, nilai akhirnya 20 lebih. Terakhir posisinya ada di bawah karena tidak ada SKTM. Dikalahkan sama yang bawa SKTM meskipun nilainya di bawah anak saya. Malah ada yang cuma nilai 18 tapi masuk peringkat dua,” katanya.

Karena tak lolos dalam PPDB SMK N 1 Blora, rencananya Priyanto akan mengalihkan anaknya untuk masuk di pondok pesantren.

Kasatreskrim Polres Blora, AKP Heri Dwi Utomo, saat dikonfirmasi mengaku akan langsung melakukan tindak lanjut atas pelaporan tersebut hari ini juga. Diawali dengan penyelidikan, para orang tua murid pemilik SKTM akan diperiksa satu persatu di rumah masing-masing.

“Ini kami langsung lidik, mengumpulkan data-data siswa yang lulus menggunakan SKTM dan akan kami cek satu per satu ke rumah siswa tersebut,” jelasnya. (***)

sumber: detik.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Luka pasca operasi biasanya sulit sembuh dan membutuhkan waktu lama. Untuk menghentikan perdarahan dan mempercepat penyembuhan, tiga mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada (UGM) membuat spons koral buatan.

Oktika Nur Anisa, Atha Yuska Irfani, dan Imroatul Maghfiroh mengembangkan spons koral yang terbuat dari bahan dasar kalsium karbonat yang bisa menjadi aktivator pembekuan darah.

“Spons koral berperan sebagai agen haemostasis yakni suatu bahan yang membantu dalam tahap pertama proses penyembuhan luka yakni hemostasis.

Ketika terjadi luka maka secara alamiah tubuh sudah memiliki sistem untuk menghentikan perdarahan dengan terbentuknya benang benang fibrin,” ujar Oktika kepada detikHealth melalui pesan singkat.

“Jika hanya mengandalkan kemampuan hemostasis alami maka tidak sepenuhnya memberi hasil maksimal dan waktunya lama. Sehingga dibutuhkan spons koral yang membantu dalam hemostasis atau menghentikan perdarahan,” lanjutnya.

Salah satu keunggulan spons koral buatan ini yakni bisa diserap oleh tubuh, tidak seperti agen hemostasis konvensional yang tidak bisa diserap oleh tubuh.

“Spons koral buatan keunggulannya dapat diserap oleh tubuh sehingga lebih praktis karena tidak perlu diambil oleh praktisi,” tandasnya.

Spons koral buatan ini masih dalam tahap percobaan in vivo yang dilakukan pada hewan dan menunjukkan percepatan penyembuhan luka pasca operasi. Setelah diulang hingga empat kali pun, semua pengujian menunjukkan hasil yang positif yaitu dapat mengontrol perdarahan pasca operasi.

“Setelah percobaan in vivo selesai, kemungkinan selanjutnya akan dilakukan uji klinis manusia,” tutup Oktika. (***)

sumber: detik.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Surabaya – Perkembangan teknologi manufaktur berjalan sangat cepat. Kemampuan alat-alat produksi semakin canggih.

Untuk itu, jurusan Teknik Industri Sekolah Tinggi Teknik Surabaya (STTS) membekali mahasiswanya dengan kapabilitas dan kompetensi yang memadai terkait penggunaan teknologi tinggi (hi-tech).

Teknologi Hi-tech ini kemudian dianfaatkan mahasiswa di semester awal untuk membuat komponen dalam mekanisme Automata.

Automata, adalah mainan mekanis yang menyuguhkan serangkaian gerakan otomatis. Suatu putaran akan membuat mainan ini begerak berkesinambungan, biasanya dirancang secara memikat dan menghibur.

Dosen jurusan Teknik Industri, Tigor Tambunan, mengatakan untuk membuat komponen Automata, mahasiswa harus membuat bagian-bagian alat yang berukuran kecil dan detail.

Alat-alat yang dibuat dari plastik, akrilik, metal, hingga kayu harus dibuat mahasiswa dengan memakai alat hi-tech layaknya di industri besar.

“Mahasiswa mempelajari cara-cara merancang sistem mekanisme alat-alat produksi dengan menggunakan teknologi Computer Aided Design (CAD), kemudian membuat produk-produk tersebut dengan menggunakan perangkat-perangkat berbasis CNC seperti mesin laser CNC dan mesin 3D printer,” kata Tigor, Sabtu 23 Juni 2018.

Proses perancangan dan pembuatan sistem mekanisme produksi yang disederhanakan dalam bentuk model mekanisme automata ini melibatkan proses analisis dan diskusi yang cukup intens antara mahasiswa di setiap kelompok dengan dosen.

“Banyak kesulitan yang dihadapi oleh mahasiswa dalam proses pengerjaan tugas ini, mulai dari masalah keragaman karakteristik bahan, kompleksitas rancangan, termasuk karakteristik mesin yang ternyata juga bisa sangat bervariasi,” sambungnya.

Lewat model pembelajaran semacam ini, mahasiswa tidak hanya menguasai cara menggunakan alat-alat yang canggih, tapi juga memiliki kemampuan analisis dan kerja sama yang efektif.

“Pembelajaran mata kuliah proses manufaktur ini, diharapkan mahasiswa akan memiliki kapabilitas dan kompetensi yang sesuai dengan tuntutan pasar industri manufaktur di era Revolusi Industri 4.0,” jelasnya.

Rizky Wijaya (20) salah satu mahasiswa yang dinilai membuat mekanisme Automata yang unik mengungkapkan ia memilih membuat mekanisme Automata yang menunjukkan pergerakan tulisan dari hasil perputaran alat yang dibuatnya.

“Jadi setap papan yang ada tulisannya ini akan bisa bergerak bergerak kiri kanan atas bawah. Tetapi proses pemasangan agak susah, gear yang saya buat tidak pas,” urainya

Rizky dan teman-temannya mengungkapkan membuat alat ini dari panduan di You tube. Sebab mereka harus memikirkan konsep Automata yang komponennya akan mereka buat di laboratorium.

Amelia Chrisanta, salah satu mahasiswa perempuan mengungkapkan mengoperasikan alat hi-tech bukan lagi hal yang sulit. Karena saat ini alat sudah serba digital.

“Teknik Industri sekarang lebih mudah untuk pakai alatnya, karena serba otomatis. Tetapi kalau untuk pemasangan alatnya butuh waktu dan tenaga ekstra karena tenaganya manual,”pungkasnya. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID – Ujian Nasional merupakan awal dari langkah yang besar, yaitu persaingan untuk mendapatkan bangku di perguruan tinggi idaman.

Berbagai persiapan tentu dilakukan oleh calon mahasiswa untuk masuk ke kampus yang diinginkan demi mencapai cita-cita dan pekerjaan yang telah didamba sejak lama.

Ada yang mengikuti bimbingan belajar sampai keluar kota, ada juga yang belajar sendiri di rumah dengan bermodalkan modul-modul yang mendukung.

Menentukan kampus dan jurusan menjadi salah satu keputusan terpenting, apalagi melihat jumlah kampus di Indonesia yang mencapai lebih dari 4.300 institusi pendidikan tinggi.

Banyak hal yang menjadi pertimbangan dalam memilihnya, karena keputusan ini akan berpengaruh pada masa depanmu kelak.

Seringkali, minimnya informasi dan ketidaktahuan akan minat atau bakat bisa menyebabkan masalah dan penyesalan di kemudian hari.

Contohnya seperti perguruan tinggi yang tidak sesuai harapan, tidak tertarik dengan bidang kuliah, hingga akhirnya tidak bisa menyelesaikan kuliah tepat waktu.

Oleh karena itu, pemilihan kampus dan jurusan yang tepat harus dipertimbangkan sejak dini dan dipersiapkan secara matang.

Berikut ini ada beberapa cara untuk menentukan kampus dan jurusan yang tepat agar sukses di kemudian hari:

1. Potensi diri

Buat kamu yang masih bingung untuk menentukan jurusan yang sesuai dengan minat dan bakat, segeralah konsultasi kepada pihak konseling di sekolahmu juga orangtua agar kamu semakin terarah. Perlu diingat, jurusan yang temanmu pilih belum tentu sesuai dengan diri kita. Jadi, tentukanlah minat dan bakatmu sesuai kata hati.

2. Lokasi kampus dan biaya

Lokasi perguruan tinggi yang diinginkan dapat memengaruhi banyak sedikitnya biaya yang dikeluarkan, untuk itu kamu harus benar-benar mempersiapkannya dengan matang, juga dengan dukungan orangtua agar kuliahmu lancar.

3. Profil kampus dan jurusan impian

Riset kecil-kecilan mengenai kampus tujuan itu penting. Kunjungi situs web kampus tujuan dan pahami jurusan yang diinginkan. Jika kamu memiliki relasi kakak tingkat di kampus impianmu, kamu juga dapat menanyakan informasi mengenai kampus tersebut sebagai bekal dalam menentukan kampus impian.

4. Akreditasi Internasional

Kualitas perguruan tinggi perlu kamu lihat dari akreditasi yang dimiliki. Akreditasi ini mencakup di tingkat program studi maupun institusi dari BAN-PT. Tentunya, lebih bagus jika kampus impianmu juga telah memiliki Akreditasi Internasional, sehingga kamu dapat semakin unggul bersaing di masa depan.

5. Prospek karier

Hal berikutnya harus dipertimbangkan adalah apakah setelah lulus nanti ada kepastian karier dan pekerjaan yang didapatkan. Pilih perguruan tinggi yang memang sudah terbukti menghasilkan lulusan siap pakai dan memiliki jaringan kerjasama dengan industri sehingga memudahkan lulusan mencari pekerjaan.

Lebih baik lagi, bila perguruan tinggi tersebut memiliki wadah pengembangan karier untuk membantu menyalurkan lulusannya bekerja di industri yang sesuai, sehingga tidak mempersulit kita ketika nanti sudah tiba saatnya untuk lulus, karena pemilihan tempat kuliah dan jurusan yang tepat sangat mempengaruhi kesuksesanmu di masa depan.

Kesimpulannya, selain dari diri sendiri, peran kampus tujuan menjadi hal yang ikut menentukan pilihanmu ke depannya.

Nah, kalau kamu ingin tahu rekomendasi jurusan terbaik di kampus idaman, Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta selalu memberikan informasi tentang fakultas dan jurusan yang tersedia di kampus tersebut.

Kamu juga bisa melihat banyak lulusan yang sukses di dunia kerja setelah lulus dari kampus yang termasuk dalam jajaran perguruan tinggi terbaik di Indonesia ini.

Selain ter-Akreditasi Institusi A, UII Yogyakarta juga telah ter-Akreditasi Internasional pada program studi Arsitektur, Akuntansi, Teknik Lingkungan, dan Teknik Sipil. (***)

sumber: tribunnews.com

Tunjangan segera diberikan kepada semua guru yang memang tercatat sebagai penerima.

MEDIAKEPRI.CO.ID, Malang – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Prof Muhadjir Effendi meminta para guru untuk bersabar dalam menunggu pencairan tunjangan profesi guru (TPG).

“Meskipun sempat tertunda, dalam waktu dekat tunjangan tersebut akan diberikan kepada semua guru yang memang berhak dan tercatat sebagai penerima,” kata Mendikbud di sela penyerahan Kartu Indonesia Pintar (KIP), bantuan pendidikan, dan bantuan pangan nontunai di Kota Malang, Jawa Timur, Sabtu, 12 Mei 2018.

Muhadjir menjelaskan tunjangan profesi tersebut diberikan melalui dana alokasi khusus (DAK). DAK disalurkan melalui pemerintah kota dan kabupaten untuk SD dan SMP. Sedangkan SMA melalui pemerintah provinsi.

“Jika dana yang disalurkan belum sampai, saya harap para guru bersabar dan bersyukur karena belum semua guru dapat memperoleh kesempatan ini,” ujarnya.

TPG merupakan tunjangan khusus yang diberikan kepada para guru yang telah lulus sertifikasi profesi, baik PNS maupun non-PNS. Termasuk guru atau pengajar di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).

Dana TPG bagi guru PNS daerah dialokasikan melalui kas daerah sesuai dengan yang diajukan sejak awal tahun anggaran. Pemerintah pusat melalui Kementerian Keuangan mentransfer dana tersebut ke masing-masing pemerintah daerah.

Sedangkan untuk TPG bukan PNS masuk ke dalam anggaran Kemendikbud. Sehingga dana tunjangan profesi akan langsung dikirim Kemendikbud ke rekening masing-masing guru.

Dasar pembayaran tunjangan profesi tersebut sudah diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan nomor 50/PMK.07/2017. Aturan tersebut terkait pengelolaan transfer ke daerah dan dana desa.

Besaran (nominal) TPG yang diterima guru sebesar satu kali gaji bruto per bulan. Hanya saja, TPG tersebut tidak diberikan rutin setiap bulan, melainkan per triwulan, bahkan lebih.

Untuk mendapatkan TPG tersebut, setiap guru harus menempuh berbagai persyaratan yang ditetapkan. Jika lolos akan mendapatkan TPG dan jika gagal bisa mengulang pada kesempatan berikutnya.

Di Kota Malang, jumlah guru, baik yang telah lolos sertifikasi (TPG) dan berstatus ASN maupun bukan ASN mencapai belasan ribu. Bahkan, jumlahnya lebih besar daripada jumlah ASN di lingkungan Pemkot Malang. (***)

Sumber : republika.co.id

Daya saing ini ditentukan oleh kapabilitas SDM dalam mengelola potensi yang ada.

MEDIAKEPRI.CO.ID, Malang – Menteri Koordiantor Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Puan Maharani mengemukakan era globalisasi menuntut sebuah negara berdaya saing kuat dan memadai. Daya saing ini ditentukan oleh kapabilitas SDM dalam mengelola potensi yang ada.

Menurut Puan, pembangunan SDM yang berkualitas, tidak terlepas dari peran pendidikan tinggi. Saat ini, laporan World Economic Forum (WEF) menyebutkan daya saing Indonesia periode 2017-2018 naik lima peringkat.

“Dari posisi 41 menjadi posisi 36 dari 137 negara,” kata Puan Maharani di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Dome di Malang, Jawa Timur, Sabtu 12 Mei 2018.

Bahkan, lanjutnya, Indonesia dinilai sebagai salah satu inovator teratas di antara negara berkembang. Namun, sarjana di Indonesia hanya berkontribusi 11 persen atau 13 juta orang dari 121 juta penduduk di Tanah Air yang bekerja.

Untuk memperkuat profil angkatan kerja Indonesia, salah satu agenda setrategis pemerintah adalah memperkuat seluruh perguruan tinggi yang ada di Indonesia, negeri dan swasta. Jumlah perguruan tinggi nasional lebih dari 4.300 dan lebih dari 90 persen merupakan perguruan tinggi swasta.

Terhadap perguruan tinggi swasta ini, dia mengatakan, pemerintah telah memberikan perlakuan yang sama. Termasuk dalam pemberian beasiswa bagi dosen dan mahasiswa, bantuan biaya operasional, serta bantuan dana riset.

Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi juga telah memberikan pendampingan dan pembinaan kepada perguruan tinggi swasta (PTS). Alhasil, 27 PTS binaan telah memiliki akreditasi A pada 2017.

“Untuk mengembangan perguruan tinggi dan dunia pendidikan pada umumnya, Muhammadiyah juga memiliki perhatian yang luar biasa besar untuk mewujudkan pendidikan yang berkualitas,” ujarnya.

Pada kesempatan itu dilakukan penyerahan sertifikat lisensi oleh Kepala Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) Sumarna F Abdurahman kepada Lembaga Sertifikasi Profesi UMM. Menurut Rektor UMM Fauzan, penyerahan lisensi dari BNSP ini dapat membantu lulusan UMM memperoleh pengakuan nasional dan internasional.

“Mulai sekarang UMM berhak menyelenggarakan sertifikasi profesi lulusannya dengan skema yang telah ditentukan,” kata Fauzan.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy yang juga hadir di UMM Dome untuk wisuda sarjana dan pascasarjana UMM itu mengatakan sarjana UMM adalah bagian dari makhluk yang akan disiapkan untuk menghadapi tantangan masa depan.

Dia berharap mereka dapat menunjukkan kepada siapa saja dengan percaya diri bahwa UMM dapat melahirkan generasi muda yang sanggup menegakkan kedaulatan dan kebesaran bangsa Indonesia ini.

“Kami berharap lulusan UMM untuk terus berkarya dan membawa nama besar UMM dimanapun berada,” kata dia.

Usai menghadiri wisuda di UMM, Puan Maharani bersama Muhadjir Effendi menghadiri Lomba Mewarnai dan Menggambar Se-Jawa Timur di Taman Sengkaling UMM.

Lomba yang mengangkat tema “Indonesia Pintar Budaya dalam Warna” ini hasil kerja sama UMM, Kemendikbud dan Kemenko PMK RI. Total peserta yang hadir mencapai 1.512 orang yang terdiri dari siswa TK dan SD. (***)

Sumber : republika.co.id

MEDIAKEPRI.CO.ID, Bandung – Mahasiswa Universitas Komputer (Unikom) Bandung lagi-lagi mengukir prestasi kompetisi robot skala internasional. Kali ini perwakilan Unikom berhasil menyabet empat medali emas, satu perak dan dua perunggu dari tujuh kategori lomba yang diikuti.

Unikom mewakili Indonesia bersama puluhan negara peserta mengikuti kompetisi robot di Amerika Serikat yang berlangsung mulai tanggal 27 – 29 April 2018. Unikom mengikuti tujuh kategori dari 12 robot yang diboyong ke negeri Paman Sam.

Tujuh kategori robot yang diikuti oleh mahasiswa Unikom ini yaitu Autonomous Robomagellan, Open Fire Fighting robot, Open Walker Challenge, Open Table Top Navigation, Open Ribbon Climber, Beam Photovore dan Beam Speeder.

“Setiap tahun mengikuti kompetisi (robot), ini tahun ke 9 bagi Unikom. Riset dilakukan oleh mahasiswa-mahasiswa dari jurusan teknik elektro, jurusan teknik komputer dan jurusan teknik informatika,” kata dosen pembimbing divisi robot Unikom Taufiq Nuzwir di Unikom, Jalan Dipatiukur, Kota Bandung, Senin, 7 Mei 2018.

Berkat riset mendalam dan pengalaman Unikom mengikuti kompetisi robot skala internasional, Indonesia kembali unjuk gigi di negara lain. Unikom lewat putra putri terbaiknya berhasil menggondol empat emas, satu perak dan dua perunggu.

“Tahun ini merupakan pencapaian terbaik kami dengan empat emas. Tahun-tahun sebelumnya paling banyak tiga emas kita bawa pulang,” tutur dia.

Salah satu robot bernama DU 114 P18 diganjar medali emas setelah mengguli tuan rumah dengan medali perak dan perwakilan Mesir medali perunggu. Prototype robot pendeteksi dan pemadam api ini berhasil memukau juri Robogames 2018.

Salah seorang perancang robot DU 114 P18 Gyan Aditya mengatakan dalam kompetisi kali ini terdapat maket rumah yang di dalamnya terdapat tujuh lilin. Kemudian robot setiap peserta secara bergantian beroperasi menemukan titik api.

Berbekal teknologi ultrasoni dan Uvitron yang disematkan, robot ciptaan dua mahasiswa jurusan teknik elektro ini mampu menemukan titik api dengan cepat. Sang robot mampu melewati setiap rintangan-rintangan menuju titik api.

“Teknologi yang ada di robot ini mampu mendeteksi keberadaan api dengan cepat. Robot ini juga bisa membedakan antara api dengan cahaya atau suhu panas,” tutur dia.

“Robot prototype ini juga berfungsi memadamkan api kecil seperti lilin. Karena dibekali kipas. Ke depannya bisa dikembangkan dengan dibekali air. Saat ini prototype yang kami ciptakan 90 persen bahan lokal,” menambahkan.

Robot yang membutuhkan waktu pengerjaan selama tujuh bulan ini bertujuan untuk membantu kerja petugas pemadam kebakaran ke depannya. Sebab, sambung dia, tak jarang petugas pemadam kebakaran gugur saat memadamkan si jago merah.

“Tentu robot ini ke depannya untuk mengurangi risiko kematian petugas kebakaran,” ujar Gyan. (***)

sumber: detik.com

MEDIAKEPRI.CO.ID – Pengumuman hasil nilai Ujian Nasional (UN) tingkat SMA, MA, SMK dan SMALB diumumkan, Selasa, 2 Mei 2018, Sedangkan, hasil kelulusan oleh satuan pendidikan dilaksanakan pada Kamis ini 3 Mei 2018.

Menurut Kepala Dinas Pendidikan Jabar, Ahmad Hadadi, pihaknya telah mengirimkan surat edaran ke semua sekolah di Jabar agar melarang siswanya berkonvoi merayakan kelulusan sambil melakukan aksi corat-coret seragam.

“Kami sudah mengirimkan surat edaran terkait larangan corat-coret seragam itu sejak 31 April lalu ke semua sekolah,” ujar Ahmad Hadadi kepada wartawan, Kamis, 3 Mei 2018.

Menurut Hadadi, dalam surat edaran tersebut, ia pun meminta semua sekolah agar melakukan pengawasan kepada siswa baik di dalam sekolah maupun di luar lingkungan sekolah. “Kami berharap semua sekolah mengarahkan siswa pada kegiatan positif dalam mengekpresikan rasa syukur mereka,” katanya.

Hadadi berharap, dengan adanya surat edaran tersebut semua kepala sekolah bisa sigap. Jangan sampai, ada kebiaasaan tak baik seperti tahun lalu. Yakni, siswa melakukan euforia berlebihan, konvoi, corat-coret sampai vandalisme.

“Harus syukuran, bukan berati sudah selesai tapi harus dilanjutkan. Siswa harus terus diberikan nasihat supaya gak kebablasan,” katanya.

Saat ditanya terkait hasil UN, menurut Hadadi, nilai UNBK SMA di Jabar mendekati rata-rata nasional. Karena, hasilnya sama dengan tahun sebelumnya.

“Yang naik tuh Bahasa Indonesia, kurang lebih mirip tahun-tahun sebelumnya. Jabar sama secara umum dengan Provinsi maju di bidang pendidikan lainnya, seperti Yogyakarta, DKI, Jatim, Jateng, lebih kurang di sana,” katanya.

Sementara menurut Ketua Ujian Nasional (UN) Tingkat Jawa Barat, Firman Adam, ia telah melaksanakan serah terima hasil UN tingkat SMA, MA, SMK, dan SMALB Tahun Pelajaran 2017-2018.

Serah terima dilaksanakan di Aula Balai Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan (Tikomdik), Kantor Dinas Pendidikan Jawa Barat, Jalan Dr Radjiman No. 6, Kota Bandung, Jawa Barat pada Selasa, 1 Mei 2018.

Firman mengatakan, pelaksanaan UN jenjang SMA, MA, SMK, dan SMALB tahun ini berjalan lancar, aman, dan terkendali. Apalagi mengingat pelasanakan UN tingkat SMA, MA dan SMK di Jawa Barat 100 persen berbasis komputer.

Penyelenggaraan UN dengan moda Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) tersebut dirasa lebih efisien, serta memudahkan siswa untuk mengerjakan soal-soal Ujian Nasional. Selain itu, peran Tim Helpdesk Provinsi dan kabupaten/kota sangat terasa dalam membantu penyelenggaraan UNBK.

“Keberhasilan penyelenggaraan UN patut disyukuri oleh kita semua karena merupakan jerih payah dari semua pihak, kata Firman.

Menurut Firman, terkait hasil yang diraih oleh siswa pada pelaksanaan UN tahun ini, hendaknya dianalisis secara komprehensif oleh seluruh kepala sekolah dan guru sebagai gambaran perbaikan atas proses pembelajaran yang telah berlangsung selama ini. Ke depannya, diharapkan antarsekolah dapat saling berkonsolidasi dan membantu, melihat kelemahan dan kelebihan satu sama lain.

“Sehingga antarsekolah bisa saling bantu meningkatkan mutu lulusan,” katanya.

Selain itu, kata dia, setelah pelaksanaan UN berakhir, aset yang dimiliki sekolah berupa komputer, dapat dimanfaatkan dengan baik. Firman berharap, aset tersebut selanjutnya dapat dimanfaatkan pada proses pembelajaran, tidak hanya berhenti pada UNBK saja.

Sebanyak 638.255 siswa melaksanakan ujian nasional di Jawa Barat.

Jumlah siswa SMA yang melaksanakan UNBK tercatat berjumlah 213.078 siswa, SMK sebanyak 314.547 siswa, MA sebanyak 67.339 siswa, dan paket C sebanyak 43.081. Sedangkan untuk SMALB yang melaksanakan UNKP sebanyak 210 siswa. (***)

sumber: galamedianews.com

Aplikasi ini mempunyai tiga fitur utama terkait Pemilu.

MEDIAKEPRI.CO.ID, Bogor – Tim mahasiswa dari Institut Pertanian Bogor (IPB) berhasil menjadi juara pertama dalam lomba Apps Challenge Sosialisasi Pilkada untuk Disabilitas Tunarungu yang digelar oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jawa Barat dan Telkom University di Bandung, Selasa, 24 April 2018.

Tim yang terdiri dari Fajar Maulana, Wardiman Perdian dan Yasmin Salamah, dari Departemen Ilmu Komputer Fakultas Matematika dan IPA (FMIPA), ini mengembangkan aplikasi bernama SuaraKami. Atas prestasinya ini, ketiganya berhak membawa pulang hadiah senilai Rp 15 juta.

“SuaraKami adalah aplikasi pendukung sosialisasi pemilu. Dalam aplikasi ini ada paparan tentang tahapan pemilu dengan visual yang menarik hingga mudah dipahami. Kami siapkan tiga fitur utama yakni sosialisasi Calon Gubernur (Cagub), fitur edukasi yang menjelaskan apa saja yang perlu disiapkan sebelum pemilu seperti dokumen, sistematika Tempat Pemungutan Suara (TPS), sistematika coblos dan lainnya. Fitur ketiga adalah fitur Saat Anda di TPS,” ujar Yasmin dalam rilis IPB yang diterima Republika.co.id.

Ia menambahkan, fitur Saat Anda di TPS ini terinspirasi dari temannya yang menderita tunarungu. Temannya itu kehilangan hak suara karena tidak mendengar panggilan mencoblos.

Nah, fitur ketiga ini menuntun pengguna step by step saat ada di TPS. Fitur ini dilengkapi notifikasi berupa getaran di smartphone. Fitur ini hanya bisa diakses di hari H. Saat pengguna sudah ada di TPS, ada barcode yang harus diakses untuk memvalidasi partisipasi pengguna aplikasi.

Menurut Fajar Maulana, aplikasi ini masih memerlukan pengembangan lebih lanjut. Ada usulan penambahan fitur video yang memuat bahasa isyarat, perubahan barcode (karena penambahan barcode di TPS ditakutkan melanggar undang-undang) menjadi GPS dan peningkatan keamanan data pengguna.

“Ke depan, kami akan kerja sama dengan Gerkatin (komunitas penyandang tuna rungu) untuk mengajari kami konten bahasa isyarat sehingga aplikasi ini ramah digunakan oleh kawan rungu,” ujarnya.

Ia menjelaskan, teknologi ini mengkonversi bahasa lisan menjadi bahasa tulisan dan bahasa tulisan menjadi bahasa isyarat. Jadi penyandang disabilitas terbantu dan bisa menggunakan hak pilihnya nanti pada Pilkada serentak 27 Juni 2018. Saat ini ada lebih dari 9.000 kawan rungu yang memiliki hak pilih pada Pilkada nanti. (***)

sumber: republika.co.id

MEDIAKEPRI.CO.ID, Kayong Utara – Wakil Bupati Kayong Utara, Idrus menyebut minat baca anak-anak di Kayong Utara masih rendah meski pemerintah daerah sudah banyak membangun perpustakaan.

“Perpustakaan di Kayong Utara ini sudah banyak, persediaan bukunya juga lumayan,” katanya saat membuka acara lomba bercerita SD/MI tingkat kabupaten di Balai Nirmala, Sukadana, Rabu, 25 April 2018,

Oleh sebab itu, dia meminta para pendidik bekerja semaksimal mungkin, agar anak-anak yang mengikuti lomba bercerita ini kelak dapat unjuk gigi mewakili Kayong Utara di tingkat provinsi.

Dia menegaskan, lomba bercerita ini juga harus berkesinambungan, mengingat fungsinya yang dapat memancing minat baca anak-anak sejak dini.

“Intinya anak-anak jangan takut berkreativitas selama mengikuti lomba ini,” ujarnya.

Dia menjelaskan, para peserta yang nantinya berhasil meraih juara akan dikirimkan untuk mengikuti lomba di tingkat provinsi, yang mana akan dipusatkan di Kota Pontianak.

“Kalau menang lagi nanti akan diberangkatkan ke Jakarta untuk lomba tingkat nasional,” tutupnya. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Serbia – Siswa-siswi SMA & SMP dari berbagai wilayah di Indonesia sukses meraih 2 medali emas lomba penelitian internasional “25th International Conference of Young Scientists (ICYS) 2018 di Beograd, Serbia, 19-25 April 2018.

Dari rilis yang diterima dari Center for Young Scientists, Rabu, 25 April 2018, tim yang dipimpin Monika Raharti (Center for Young Scietists Indonesia) juga membawa pulang 3 medali perunggu, 2 special awards, dan penghargaan best poster.

Emas diraih Muhammad Firman Nuruddin dari SMA Taruna Nusantara Magelang di bidang Environmental Science dan Ian Santoso dari SMA Cita Hati West Campus Surabaya pada bidang Life Sciences.

Medali perunggu dipersembahkan Firman Fathoni dari SMPN1 Surabaya pada bidang Computer Science, Michael Teguh Laksana dari SMA St Aloysius Bandung pada bidang Physics, dan Peter Gonawan dari SMA Cita Hati East Campus Surabaya pada bidang Engineering.

Nicholas Patrick dari SMP Cita Hati Surabaya meraih Special Award bidang Mathematics, dan Stephanie Susanto & Suzan Basaran dari SMA Budi Utama Yogyakarta juga mendapatkan Special Award bidang Life Sciences.

Arflyno Chrisdion Pudayar Pahombar Ludjen dari SMA Bina Cita Utama Palangkaraya berhasil meraih The Best Poster bidang Computer Science.

Direktur Pembinaan SMA, Kemendikbud mengatakan para pelajar itu bersemangat untuk mengharumkan nama Indonesia di Beograd.

Tim Indonesia disambut hangat oleh Duta Besar Republik Indonesia untuk Serbia di Beograd yang juga hadir pada acara Closing and Awarding Ceremony ICYS 2018di Sumice, Beograd, Serbia.

Para siswa ini akan tiba di Tanah Air pada Kamis (26/4/2018) pukul 15:05 WIB di Bandara Soekarno Hatta. (***)

sumber: tribunjabar.id

MEDIAKEPRI.CO.ID – Dunia pendidikan kembali menjadi sorotan publik.

Setelah heboh profil artis tampan Daniel Mananta dalam soal ujian bahasa Inggris, kini beredar soal ujian yang benar-benar buat kaget.

Dalam soal ujian yang tertulis tanggal 19 April 2018 tersebut, publik dibuat terkejut dengan salah satu soal.

Dimana pertanyaan dalam soal tersebut amat disayangkan muncul dalam sebuah ujian, terlebih ujian SMP.

Dimana para pelajar tingkat SMP masihlah anak-anak yang baru beranjak remaja.

Yang mana masih membutuhkan banyak pembelajaran dan juga bimbingan, terlebih dalam mengenal seks.

Begitu disayangkan, pertanyaan yang muncul disoal tersebut membahas tentang seks.

Terlihat soal nomer 25 ini menanyakan tentang tempat untuk seks bebas.

“Berdasarkan hasil penelitian, tempat yang paling banyak digunakan untuk melakukan seks bebas adalah di . . .

A. Rumah
B Taman
C. Mobil
D. Hotel”

Pelajar SMP yang usianya masih sekitaran 12 hingga 15 tahun ini dihadapkan dengan soal yang tak semestinya.

Tak hanya untuk pelajar tingkat SMP saja, pertanyaan seperti ini pun tidak sepantasnya muncul dalam soal ujian.

“Yang lagi viral di group WhatsApp nih lamisers

Soal ujian lagi

Kali ini soal Ujian Sekolah tingkat SMP

Yang bikin soal uda kehabisan bahan apa gimana

Susah banget jawabannya

Mintje nggak sanggup mikirnyaaa

Kira kira apa jawabannya nih lamisers” tulis akun Lambe Lamis. Berikut tanggapan netizen, terkait munculnya soal tersebut di ujian tingkat SMP.

@novakayla.nk, “Ini koo soal ujiam kaya gini.. apa gak di saring2 dulu ya kalo buat pertanyaan..”

@nanda_sav, “Itu yang buat soal gila atau gimana?? Anak SMP ditanyain kaya begituan”

@vty89, “pendidikan seks memang penting.. tapi kalo soalnya kayak gitu, kan ngga relevan.. kenapa ngga bagaimana cara menjaga kebersihan reproduksi, misalnya.. kan tiap anak pasti tahu.. kalo soal ini ??? tiap anak jadi pengen tahu, naudzubillah amot²..”

@fitriumanah28, “Udah rusak moral anak bangsa sekarang yang bikin soal kok ngga berbobot sekali”. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Pengumuman Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) akan dilakukan mulai hari ini, Selasa, 17 April 2018 pada pukul 17.00 WIB. Pengumuman resmi ini akan disampaikan melalui laman http://pengumuman.snmptn.ac.id/

“Kami mohon bagi peserta yang lulus seleksi untuk mencermati dan mentaati pengumuman resmi yang dikeluarkan oleh masing-masing PTN, terutama dengan ketentuan persyaratan penerimaan juga jadwal dan tempat jadwal ulang (registrasi) 2018,” kata Sekretaris Panitia SNMPTN 2018 Joni Hermana, di Jakarta, Selasa, 17 April 2018.

Selain itu, registrasi calon mahasiswa yang lulus seleksi PTN dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan ujian tulis Seleksi Bersama Masuk PTN (SBMPTN). Registrasi atau pendaftaran ulang di PTN masing-masing dijadwalkan pada 8 Mei 2018. Di hari yang sama, ujian SBMPTN dilakukan.

Tujuannya, kata Joni, agar siswa yang lulus SNMPTN tidak lagi mengikuti SBMPTN sehingga bisa memberi kesempatan bagi siswa lain untuk diterima di PTN.

SNMPTN merupakan jalur masuk perguruan tinggi negeri (PTN) melalui jalur nilai rapor. Sedangkan SBMPTN dilakukan dengan sistem ujian.

Joni menginformasikan bagi siswa yang ingin melihat hasil SNMPTN bisa masuk melalui laman pengumuman.snmptn.ac.id. “Masukkan nomor pendaftaran pada kolom yang telah disediakan. Selanjutnya masukkan tanggal lahir. Baru kemudian klik tombol lihat hasil seleksi,” ujarnya.

Selain itu, pengumuman bisa diakses melalui laman resmi PTN seperti http://snmptn.itb.ac.id, http://snmptn.ui.ac.id,http://snmptn.ugm.ac.id, http://snmptn.ipb.ac.id, http://snmptn.its.ac.id,http://snmptn.unair.ac.id, ttp://snmptn.undip.ac.id, http://snmptn.unsri.ac.id,http://snmptn.untan.ac.id, http://snmptn.unhas.ac.idhttp://snmptn.unand.ac.id, dan http://snmptn.unsyiah.ac.id. (rilis)