PRESTASI

PRESTASI

Sabtu | 17 Agustus 2019

Inilah 10 Kampus Tebaik di Jakarta Tahun 2019

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Kementerian Riset, Teknologi dan Perguruan Tinggi (Kemenristek Dikti) terus mendorong peningkatan kualitas perguruan tinggi di Indonesia. Upaya tersebut dilakukan melalui pemetaan perguruan tinggi yang tertuang dalam program klasterisasi 100 perguruan tinggi terbaik di Indonesia tahun 2019.

Berdasarkan data tersebut tergambar penyebaran perguruan tinggi yang terbaik di berbagai daerah, termasuk kota Jakarta. Bagi calon mahasiswa di wilayah Jakarta dan sekitarnya, berikut 10 perguruan tinggi yang dapat jadi pilihan berkuliah;

  1. Universitas Bina Nusantara (20 nasional)
  2. Universitas Katolik Indonesia Atmajaya (32 nasional)
  3. Universitas Tarumanagara (34 nasional)
  4. Universitas Trisakti (42 nasional)
  5. Universitas Pancasila (45 nasional)
  6. Universitas Mercu Buana (49 nasional)
  7. Universitas Gunadharma (55 nasional)
  8. Universitas Al Azhar Indonesia (69 nasional)
  9. Universitas Multimedia Nusantara (73 nasional)
  10. Universitas Swiss German (74 nasional)

Pengamat pendidikan dari Institute for Development of Policy and Local Partnership (IDP-LP), Fajar Agung menilai klasterisasi perguruan tinggi yang dilakukan Kementerian Ristek Dikti merupakan langkah tepat memotret perguruan tinggi secara nasional. Sekaligus memetakan secara kewilayahaan yang bisa menjadi potret kerja dari Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) sebagai lembaga pembina, monitoring dan peningkatan mutu.

“Pemetaaan perguruan tinggi dari hasil Kemenristekdikti itu bisa ditarik sebagai gambaran kerja LLDIKTI pada wilayahnya. Seperti LLDIKTI wilayah III, Jakarta ini,” ujar Fajar Agung dalam siaran pers yang diterima, Sabtu 17 Agustus 2019.

Menurutnya dalam UU No.12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi menjelaskan fungsi dan peran LLDIKTI, antara lain memetakan mutu pendidikan tinggi, memfasilitasi peningkatan mutu melalui penjaminan mutu eksternal, mengevaluasi dan melaporkan peningkatan mutu perguruan tinggi. Sekaligus memiliki fungsi pengelolaan data dan informasi di bidang pendidikan tinggi serta pelaksanaan administrasi LLDikti.

Tentu saja, lanjut dia bagi calon mahasiswa di Jakarta akan lebih mudah pula untuk memilih kampus idamannya. Terutama pada kampus yang secara data memang menunjukan peningkatan pretasi seperti Universitas Mercu Buana atau kampus lainnya di Jakarta.

Fajar memberi apresiasi atas upaya pemerintah menerbitkan klasterisasi peguruan tinggi yang memudahkan bagi masyarakat melihat kondisi perguruan tinggi di sekitarnya. Tentu keberhasilan ini harus terus ditingkatkan melalui penambahan indicator keberhasilan perguruan tinggi.

“Masyarakat perlu menjadikan data ranking atau klasterisasi ini sebagai acuan untuk kuliah,” tegasnya.

Sedangkan bagi kampus yang belum mendapatkan ranking, dia berharap tidak berputus asa. Upaya yang paling mudah adalah melakukan kunjungan atau dialog ke kampus yang sudah mendapatkan prestasi. Dari situlah dapat melakukan modifikasi untuk mencapai ranking.(***)

sumber: republika.co.id

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Enam mahasiswa Indonesia berhasil meraih tiga medali emas, dua perak, dan satu perunggu dalam International Mathematics Competition (IMC) 2019 di Bulgaria yang berlangsung pada 28 Juli – 3 Agustus 2019.

IMC sendiri merupakan ajang penting bagi matematikawan muda yang sudah berlangsung sejak 1994.

Medali emas diraih oleh Farras Mohammad Hibban Faddila dan Muhammad Afifurahman dari Institut Teknologi Bandung (ITB), serta Valentino Prasetya dari Universitas Indonesia (UI).

Sementara itu, Adrian Ramanda dan Rubio Gunawan dari ITB menyumbangkan masing-masing satu medali perak. Satu medali perunggu diraih oleh Muhammad Rizki Fadillah dari ITB.

Keenam mahasiswa itu dipilih dari pemenang medali dari Olimpiade Nasional Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (ON-MIPA) yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal, Pembelajaran, dan Kemahasiswaan (Belmawa) Kemenristekdikti.

Mereka kemudian digodok di Jakarta selama tiga hari. Mereka berlatih mengerjakan beragam bentuk soal olimpiade matematika internasional hingga mempersiapkan mental bertanding. Kepala tim pelatihan ialah Siti Fatimah dosen dari Pendidikan Matematika Universitas Pendidikan Indonesia.

Tim Indonesia sendiri secara kolektif berhasil menempati posisi ke 16 dari 77 tim yang mengikuti helatan IMC dengan jumlah nilai akumulatif 211,17.

Dirjen Belmawa Kemenristekdikti Ismunandar sangat mengapresiasi prestasi yang diraih oleh mahasiswa Indonesia di ajang bergengsi IMC. Dia menyebutkan para mahasiswa yang berprestasi di IMC menunjukkan minat mereka yang tinggi terhadap matematika disertai dengan semangat belajar yang sungguh-sungguh.

“Jadi kami harapkan dengan adanya mahasiswa yang berprestasi ini dapat menginspirasi mahasiswa Indonesia yang lain untuk lebih mencintai sains, matematika pada khususnya,” jelasnya melalui siaran pers yang diterima MEDIAKEPRI.

Ditjen Belmawa sendiri terus mendorong minat mahasiswa dalam science, technology, engineering and math (STEM). Salah satunya dengan meningkatkan kuantitas partisipan dan kualitas seleksi di ON MIPA, dan pengiriman para peraih medali ke ajang olimpiade tingkat internasional.

“Kalau minat mahasiswa sudah tinggi, kami harapkan ke depannya yang menjadi juara dunia tidak hanya berasal dari kampus-kampus besar,” ucap mantan Atdikbud RI di Washington DC ini. (***)

sumber:sindonews

MEDIAKEPRI.CO.ID, Surabaya – Sebuah pencapaian tak akan bisa diraih tanpa kerja keras. Seperti yang dilakukan mahasiswa ITS Muharom Gani Irwanda saat menyelesaikan skripsi setebal 3.045 halaman selama 3 minggu.

Mahasiswa Departemen teknik Infrastruktur Sipil Fakultas Vokasi ITS ini mengatakan, waktu efektif menulis skripsi hanya tiga minggu saja.

Karena jarak sidang yang sudah di depan mata, mau tak mau Gani harus ‘ngebut’ untuk merampungkan skripsinya.

Akibatnya, dalam sehari selama tiga minggu, Gani hanya tidur tiga hingga empat jam.

“Mulainya memang dari Februari sampai Juni, cuma pengerjaan bener-bener efektif ya itu cuma dua minggu di sebelum lebaran sama seminggu sebelum sidang itu.

Ngerjakannya dari subuh sampai dini hari. sehari sampai tidur 3 jam atau 4 jam,” kata Gani di Kampus ITS Manyar Surabaya, Jumat, 19 Juli 2019.

Sebelumnya, Gani mengaku telah mencari bahan-bahan skripsinya sejak semester 7. Lalu, di semester 8 tepatnya pada Februari, dia mulai mencicil skripsinya.

Namun kala itu Gani terpilih sebagai salah satu mahasiswa ITS yang bisa magang di salah satu BUMN konstruksi di Indonesia.

Magang tersebut dilakukan di Pekalongan, Jawa Tengah sekitar pertengahan Februari. Gani mengaku tak bisa fokus mengerjakan skripsinya karena jam magangnya menguras waktu.

“Jadi benar-benar di situ magang tapi ibaratnya kita kerja lah jadi masuk jam 8 pulang jam 5 dengan segala tugas yang ada. Karena di situ nggak mungkin bisa fokus di skripsi,”terang Gani.

Sempat pesimis akan lulus, Gani akhirnya mencoba mencicil skripsinya sepulang magang. Namun, menurutnya dia hanya bisa efektif mengerjakan skripsi selama 2 jam karena terlalu lelah usai bekerja.

“Akhirnya dicoba dari bulan Februari dicicil tapi tubuh juga punya daya tahan tubuh sendiri, sudah kerja dari jam 08.00 sampai jam 17.00 WIB. Istirahat bentar jam 19.00 WIB baru mulai mengerjakan skripsi tapi nggak bisa maksimal mengerjakan cuma bisa maksimal 2 jam sampai jam 21.00 WIB jam 22.00 WIB itu sudah maksimal. Tapi selebihnya udah nggak fokus nggak produktif. Dalam 3 bulan itu kayak gitu terus,” papar Gani.

Lalu Gani pun mendapat cuti Lebaran. Selama H-7 sebelum lebaran, Gani pun memanfaatkan waktu ini untuk lembur mengerjakan skripsi. Namun mulai H-3 hingga H+3 Lebaran, Gani mengaku kembali tidak bisa fokus karena masih banyak acara keluarga.

Masa Liburan pun habis. Gani akhirnya kembali magang lagi. Gani kemudian menyadari jika jadwal pengumpulan skripsi dimajukan dan mau tak mau dia harus mengejar agar bisa lulus tepat waktu. Gani pun langsung mengambil cuti untuk kembali mengerjakan skripsinya.

“Akhirnya pada 23 Juni muncul bahwa sidang diajukan tanggal 5 Juli, itu waktunya sudah tinggal sedikit banget.

Saya minta izin buat balik lagi tanggal 28 atau 29 izin. Setelah itu tanggal 30 baru mengerjakan nonstop lagi full dari subuh sampai malam sampai tidur 3-4 jam lagi dan akhirnya bisa selesai tepat waktu pada tanggal 4 Juli 2019,” pungkas Gani sembari tersenyum. (***)

sumber: detik.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Yogyakarta – Mahasiswa Teknik Informatika Institut Teknologi Bandung (ITB) berhasil meraih Juara 1 dan Juara 3 untuk kategori Data Mining, serta Best Pitching dalam kategori Apps Innovation di ajang Jogja Information Technology Session (JOINTS) 2019. Kompetisi ini diselenggarakan oleh Program Studi Ilmu Komputer Universitas Gajah Mada.

Ada beberapa kategori dalam kompetisi ini, diantaranya Programming Competition Session, Data Mining, Apps Innovation dan Capture The Flag. Ajang ini diikuti oleh kurang lebih 650 tim dari Perguruan tinggi di seluruh tanah air, termasuk ITB yang diwakilkan oleh 3 tim. Ketiga tim ini berasal dari Jurusan Teknik Informatika Sekolah Teknik Elektronika dan Informatika (STEI).

Ketua Tim ITB Peraih Juara 1 Kategori Data Mining, Christian Wibisono, mengungkapkan dalam kontes ini timnya ditantang untuk melakukan pengolahan dan analisis big data sehingga peserta dapat membuat model machine learning untuk membuat prediksi seakurat mungkin sesuai atribut yang tersedia, yaitu mengenai lokasi, fasilitas, gender, dan harga dari kos, yang kemudian dituangkan ke dalam paper dan presentasi.

“Tim saya membuat prediksi untuk segmentasi pasar bisnis kos menggunakan Gradien Boosting Machine. Untuk ilmunya, kami peroleh dasarnya dari materi kuliah yang diajarkan di Teknik Informatika ITB, kemudian mengikuti kompetisi-kompetisi serupa dan tentunya otodidak lewat Platform Kaggle,” katanya dalam siaran pers Rabu, 26 Juni 2019.

Selain itu, Ketua Tim Peraih Best Pitching Apps Innovation, Cornelius Yan, tidak segan membagikan tips mengenai materi pitching yang menghantarkan tim mereka menjadi juara dalam mempresentasikan rekayasa perangkat lunak berupa aplikasi mobile, web, maupun desktop.

“Tim kami tidak hanya memaparkan dari segi solutifnya, namun juga dari segi nilai bisnis,” ujarnya.

Ia berharap semakin banyak lagi mahasiswa ITB yang menekuni perkembangan IT dan berprestasi dalam bdang ini. Ia memberikan saran agar mahasiswa lainnya memperbanyak latihan dan rajin untuk mengikuti lomba agar memperkaya pengalaman dalam data mining serta data science. (***)

sumber: republika.co.id

MEDIAKEPRI.CO.ID, Bandarlampung – Kepala Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMP Kota Bandar Lampung M Badrun menyatakan, siswa berprestasi sebagian akan terbebas dari zonasi penerimaan peserta didik baru (PPDB) tingkat SMP tahun 2019 di Kota Bandar Lampung. Menurut dia, siswa dari jalur prestasi berjenjang pada PPDB tingkat SMP akan dibebaskan dari zonasi di Kota Bandar Lampung tahun 2019.

“Jalur berprestasi ada dua jenis, yang satu dibebaskan zonasi PPDB,” kata Badrun pada sosialisasi PPDB di aula Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Bandar Lampung, Jumat, 14 Juni 2019.

Dua jenis jalur berprestasi yakni prestasi akademik, di antaranya prestasi akademik yang merupakan juara umum terbaik I, II, III di tingkat SD. Kedua, jalur prestasi nonakademik, yakni prestasi berjenjang juara I, II, dan III tingkat kabupatenkota, provinsi, nasional, dan internasional.

Ia mengatakan, jalur prestasi akademik juara I, II, dan III di tingkat SD masing-masing tetap dibelakukan sistem zonasi. Sedangkan, jalur prestasi berjenjang, misalnya juara I, II, dan III Olimpiade Siswa Nasional, O2 SN, maupun FLS2N, bebas sistem zonasi. Hal tersebut berlaku bagi siswa dari dalam dan luar Kota Bandar Lampung.

Menurut dia, siswa berprestasi tingkat SD berjenjang dipersilakan memilih dan mendaftar ke SMP yang ada di Kota Bandar Lampung. “Bebas pilih sekolah,” katanya.

Meski demikian, ia menyatakan, siswa berprestasi berjenjang tersebut tetap dipersyaratkan untuk menyertakan bukti sertifikat, piagam penghargaan, dan surat keterangan dari sekolah.

PPDB tingkat SMP di Kota Bandar Lampung menerapkan sistem zonasi dengan dua tahapan. Pertama, siswa dari jalur bina lingkungan, anak kandung guru dan tenaga pendidikan, perpindahan tugas orang tua, dan prestasi. PPDB jalur ini akan dibuka pada 18 hingga 21 Juni 2019.

Sedangkan, zonasi PPDB SMP lewat jalur reguler dibuka pada 26 hingga 28 Juni 2019. PPDB tingkat SMA tahun ajaran 2019/2020 sistem zonasi tidak menggunakan nilai ujian nasional. (***)

sumber: republika.co.id

MEDIAKEPRI.CO.ID, Kupang – Berdasarkan data yang diperoleh dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT, ada tiga siswa dari tiga sekolah yang meraih nilai sempurna atau nilai 100.

Nilai 100 untuk mata pelajaran matematika saat ujian nasional tingkat SMP.

Masih Ingat Steve Emmanuel Tersandung Kasus Narkoba dan Terancam Hukuman Mati, Nih Kesaksian Mantan Teman Hidupnya

Sudah Pak Sudah, Teriak Kedua Anaknya saat Tahu Bapaknya Cekik Ibunya hingga Meninggal Dunia, Ini Kronologinya

Ketiga siswa tersebut adalah Christian Tanjung Wirjoatmodjo dari SMP Dian Harapan, Etheldreda O. K. W Viera dari SMPK Theresia Kupang dan Oswald Arsens Rambung dari SMPK St Klaus Werang.

Pengumuman kelulusan tingkat sekolah baru akan dilaksanakan Rabu, 29 Mei 2019. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Bandung – Berparas cantik, masih muda, dan memiliki kecerdasan yang sangat luar biasa.

Itu menjadi gambaran sosok Nadya Silva, seorang lulusan termuda, yang mampu menyelesaikan studi selama 3,5 tahun di Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung (Unisba) tahun akademik 2018/2019.

Capaian IPK 3,44. Ia diwisuda saat masih berusia 18 tahun, 11 bulan, dan 6 hari.

Anak kedua dari empat bersaudara pasangan Sudirman (50) dan Ani Andriani (40) ini memiliki cita-cita yang ingin dicapainya setelah menyelesaikan studinya sebagai seorang sarjana kedokteran.

Dipaksa Ngaku Perkosa Bidan Desa, Pria Ini Babak Belur Dipukuli, Labfor: Tak Ada Bukti Diperkosa, Nah Loh

Ia ingin menjadi dokter spesialis obgyn atau kandungan.

Hal tersebut diakuinya karena terinspirasi dari sosok sang ibu, yang berprofesi sebagai seorang bidan di satu wilayah di Sukabumi.

Di matanya, ibunya mampu menyelamatkan nyawa seorang ibu dan bayi yang dikandungnya saat membantu proses melahirkan.

Pesta Sabu di Kamar Hotel Itu Melibatkan Tiga Oknum Polisi dan Seorang Wanita, Ini Identitasnya

“Insya Allah selain emang cita-cita tapi juga udah niat untuk jadi dokter spesialis obgyn di Sukabumi. Soalnya kalau dokter spesialis obgyn itu kan prakteknya bisa stay di rumah, beda halnya sama dokter spesialis jantung atau spesialis lainnya, yang harus terus ada di rumah sakit, karena peralatannya memang cuma ada di sana,” kata perempuan berhijab ini.

“Apalagi dokter spesialis obgyn itu bisa menggantikan peran bidan, untuk bisa membantu proses melahirkan sekaligus menekan angka kematian ibu dan anak di masyarakat,” ujarnya seusai prosesi wisuda di Aula Unisba, Jalan Tamansari, Bandung, Sabtu, 23 Februari 2019.

Keberhasilannya menjadi dokter di usia 18 tahun tak terlepas dari perjuangannya sejak SMP.

“Ya Allah Nyari Duit Gitu Amat Mas”, Ada Apa dengan Cinta Ratu?

Nadia Silva mengatakan, semasa mengenyam pendidikan menengah pertama (SMP) dan menengah atas (SMA) di Sekolah Islam As-Syafi’iyah Sukabumi, ia merupakan seorang siswa akrelerasi atau program percepatan lama pendidikan dua tahun.

Sehingga saat lulus SMP usianya masih 13 tahun dan lulus SMA pada tahun 2015 lalu di usia menginjak 15 tahun.

“Saya pertama masuk TK itu umurnya masih empat tahun, satu tahun di TK kemudian umur lima tahun udah masuk SD. Setelah enam tahun lama sekolah SD (normal) lalu saya lulus SD pas umurnya sebelas tahun. Alhamdulillah pas umur 15 ikut tes untuk masuk ke Fakultas Kedokteran di sini (Unisba),” ucap Nadya Silva.

Nadia mengatakan, capaian prestasi pendidikan tersebut didapatkan bukan dengan cara mudah.

Ia melalui cukup banyak rintangan dan butuh perjuangan untuk melewatinya.

Ia mendapat dorongan dan motivasi dari kedua orang tua yang senantiasa menerapakan pola disiplin yang serius dalam mengerjakan berbagai hal, termasuk urusan belajar.

Maka, saat teman-teman sebayanya di SMA masih asyik bermain saat liburan sekolah, ia sudah harus belajar di fakultas kedokteran.

Diakuinya sempat ada perasaan iri dan kesal karena ingin seperti teman-temannya.

“Orang tua saya itu sosok yang cukup keras untuk masalah pendidikan, dan selalu menekankan juga meyakinkan saya mampu untuk masuk ke program akselerasi dan menargetkan diri masuk ke fakultas kedokteran dan menjadi dokter spesialis obgyn di usia muda,” ujar Nadya Silva.

“Karena yang namanya sekolah kedokteran itu lama dan panjang tahapannya, jadi saya harus fokus belajar dan ikut program akselarasi agar bisa mempersingkat lama studi dan usia saya untuk jadi dokter sesuai yang diharapkan,” kata Nadia Silva.

Perempuan kelahiran Sukabumi, 7 Maret tahun 2000, ini menambahkan, target terdekatnya setelah lulus ini adalah untuk segera mengambil program pendidikan profesi spesialis obgyn atau koas di rumah sakit regional Jawa Barat di Sukabumi, selama dua tahun.

“Alasan dari target saya untuk bisa menjadi dokter di usia muda, karena selain tentunya saya bisa lebih tenang dan luas dalam mengenyam ilmu pendidikan. Karena biasanya usia normal untuk mulai pendidikan profesi dokter itu di 24 tahun, tapi saya mampu di usia 19 tahun, tentunya ini akan menjadikan keleluasaan dalam hal pengalaman dan peningkatan karier saya sebagai dokter,” katanya. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Bogor – Senyum Lutfi Rahmaningtyas terus sumringah saat wisuda berlangsung. Lutfi Rahmaningtyas adalah mahasiswi lulusan terbaik Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor ( kampus IPB) yang menjadi lulusan terbaik dengan IPK 3,95

Tak hanya Lutfi Rahmaningtyas, rasa haru sekaligus bangga terpancar dari wajah orang tuanya. Anak dari pasangan Sri Lestari dan Juwari itu berhasil menyelesaikan kuliah S1-nya dengan dibiayai dari beasiswa kampus IPB.

Lutfi menceritakan meski sang ayah hanya seorang tukang ojek dan ibunya hanya sebagai ibu rumah tangga, namun kedua orang tuanya itu sangat peduli dengan pendidikan anaknya.

Bahkan meski sang ayah hanya lulusan Sekolah Dasar namun ayahnya itu selalu berjuang untuk menyekolahkan anaknya.

“Ayah dan ibu dari dulu berjuang untuk anaknya, meski pun ayah hanya tukang ojek lulusan Sekolah Dasar dan ibu tidak bekerja tapi Alhamdulillah mereka berhasil menyekolahkan anaknya hingga lulus SMA,” kata Lutfi saat ditemui usai Wisuda di Gedung Graha Widya Wisuda Dramaga, Rabu, 12 Desember 2018.

Namun ketika Lutfi akan lulus SMA ayahnya berpesan agar dirinya melanjutkan sekolah hingga jenjang sarjana.

Meski demikian ayahnya mengungkapkan keterbatasannya untuk menyekolahkan Lutfi untuk melanjutkan perkuliahan.

Kemudian saat itu Lutfi pun bertekad untuk melanjutkan perjuangan ayah dan ibadahnya untuk menuntut ilmu.

“Iya ayah sudah bilang kalau tidak sanggup, tapi beliau juga selalu menyemangati, dan saya memiliki tekad dan niat kalau mencari ilmu itu adalah ibadah. Alhamdulillah saya bisa kuliah melalui jalur SNMPTN dan mendapat beasiswa dari bidik misi,” katanya.

Mahasiswi program studi Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata itu pun memilih kampus IPB karena menurutnya kampus IPB merupakan Universitas terbaik di Indonesia.

Lutfi menjelaskan kebutuhannya sehari-hari dan selama menjalani perkuliahan dibiayai oleh beasiswa.

Ia pun tidak meminta kiriman uang dari orangtuanya di kampung.

Tidak hanya mengandalkan beasiswa, Lutfi pun sempat menjalani beberapa pekerjaan paruh waktu.

“Saat kuliah saya mengajar di bimbel Mitra PPKU, dalam seminggu saya mengajar 3 sampai 4 kali. Dulu ketika TPB atau PPKU saya bisa mendapatkan uang tambahan dengan berjualan (danusan) makanan ringan,” kata Lutfi.

“Setelah di fakultas saya juga sempat bekerja freelance di Aqla Travel Agency dengan sistem bayaran by project. Selebihnya untuk mencukupi kebutuhan saya lebih menggunakan strategi untuk menghemat pengeluaran dan memanfaatkan uang bidikmisi sebaik-baiknya,” ujarnya.

Sementara itu Sri Lestari, ibunda Lutfi mengungkapkan rasa bahagianya karena melihat anak pertamanya berhasil mendapat gelar sarjana dengan predikat terbaik.

Sri mengatakan selama menjalani perkuliahan Lutfi tidak pernah meminta uang kepada orangtuanya.

“Iya Lutfi belum pernah minta uang dan kami juga orangtuanya tidak bisa mengirimkan uang kepada Lutfi. Tapi Alhamdulillah Lutfi bisa lulus dan saya sama bapaknya sangat bersyukur dan bahagia,” ujarnya. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Denotatif, seorang siswa SMAK Yos Sudarso, Batam berhasil lolos sebagai juara 2 lomba video pendek yang digelar Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT) RI. Penyerahan hadiah di Malam Anugrah Indonesia Damai 2018 dengan Tema Menjadi Indonesia berlangsung di Gedung Pusat Perfilman Usmar Ismail, Jakarta, Kamis, 29 November 2018.

Perlombaan yang digelar BNPT itu melibatkan berbagai lapisan masyarakat untuk berpartisipasi dalam penanggulangan terorisme pada ajang Anugerah Indonesia Damai.

Braaak.. Mobil Toyota Yaris Itu Menabrak 8 Unit Motor di Parkiran, Ini Sebabnya

Penyerahan hadiah dihadir oleh jajaran pimpinan BNPT yakni Kepala BNPT Komjen Pol. Drs. Suhardi Alius S.H. M.H., Deputi I Bidang Pencegahan, Perlindungan dan Deradikalisasi Brigjen TNI Hendri Paruhuman Lubis, serta Inspektur BNPT, Kepala Biro Umum BNPT, dan Direktur Pencegahan BNPT.

Anugerah Indonesia Damai yang mengusung tema “Menjadi Indonesia” memiliki 3 cabang lomba yaitu Lomba Karya Tulis Naskah Dakwah bagi penyuluh lintas agama, Lomba Karya Jurnalistik bagi awak media dan pers mahasiswa, serta Lomba Video Pendek bagi siswa SMA/Sederajat. Pada malam ini hadir 30 finalis yang berhasil masuk 10 besar di tiap kategori lomba.

PNS Lewat Jalur Prestasi Berstatus Pelatnas, Gaji Dobel pun Didapatkan

Mengawali kegiatan, agenda Malam Anugerah Indonesia Damai memasuki Audiensi dengan 30 Finalis lomba dan 15 Narasumber serta Konferensi Pers dengan awak media. Dalam agenda Audiensi dan Konferensi Pers Kepala BNPT hadir memberikan kata pengantar di Ballroom Hotel Royal Kuningan, Jakarta Selatan.

Kepala BNPT menyampaikan ucapan selamat dan apresiasi atas keikutsertaan elemen masyarakat dalam upaya pencegahan terorisme. Komjen Pol. Suhardi Alius berharap hal ini dapat menjadi embrio perkembangan penanggulangan terorisme yang lebih baik.

Persit KCK Cabang XXXIX Kodim0718/Pati Kunjungi Agrowisata Jollong

Sebelum memasuki pengumuman pemenang tiap lomba, Kasubdit Pemberdayaan Masyarakat Dr. Andi Intang Dulung M.HI menyampaikan laporan ketua panitia. Dalam sambutannya, beliau mengatakan adanya peningkatan keterlibatan masyarakat. Hal ini dicapai dengan menggandeng Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) di 32 Provinsi se-Indonesia.

“Selama setahun penuh, jumlah masyarakat yang berhasil dilibatkan mencapai 31.351 orang. Melalui dialog, pelatihan, diseminasi dan penelitian mereka memahami bahaya terorisme, pemetaan perkembangan terorisme serta tips mencegah paparan dan ajakan radikal terorisme,” ujar Kasubdit Pemberdayaan Masyarakat.

Karya-karya yang diajukan pada Anugerah Indonesia Damai telah melalui proses penjurian. Penjurian menghadirkan tokoh-tokoh sebagai juri yang berkompeten di bidangnya seperti M. Amirullah (Kepala Seksi Penyuluh Agama Kementerian Agama RI), Mohammad Monib (Direktur Indonesian Conference on Religion and Peace), Sholehuddin (Direktur Daulah Bangsa), Taufik Hidayatullah (Peneliti di Indonesia Institute for Society Empowerment), Andi Intang Dulung (Kasubdit Pemberdayaan Masyarakat BNPT).

Waspadai Penyakit Anemia Dibalik Tren Badan Kurus Kering

Untuk bidang karya tulis naskah dakwah jurinya adalah, Yosep Adi Prasetyo (Ketua Dewan Pers), Abdullah Alamudi (Pengajar Senior di Dr. Soetomo Press Institute), Dwidjo Utomo Maksum (Mantan Jurnalis Senior Tempo Media Group), Willy Pramudya (Anggota Majelis Etik AJI Indonesia). Sementara untuk lomba karya jurnalistik, dan Sutjiati Eka Tjandra (Produser di Samuan Film), Swastika Nohara (Penulis Skenario Film “Tiga Srikandi”), Ratrikala Bhre Aditya (Asisten Sutradara Film “Ada Apa Dengan Cinta”), Prisia Nasution (Aktris) dan Dyah Kusumawati (Praktisi Perfilman dari Kalbis Institute).  (***)

Innalillahi, Neng Mela Korban Begal Itu Akhirnya Meninggal Dunia, Tangisan Anaknya Menyayat Hati

Daftar Pemenang Lomba Karya Tulis Naskah Dakwah
“Dakwah Ayat-Ayat Damai” 2018

Juara
1. Rofi’udin – Penyuluh Agama asal Jawa Timur “Setitik Darah Di Kertas Putih”;
2. Azizah Herawati – Penyuluh Agama asal Jawa Tengah “Menjaga Ektremisme Dengan PPK”;
3. Abdul Gafur – Penyuluh Agama asal Riau “Hidup Rukun Dalam Kebhinnekaan”.

Juara Harapan
1. Asep Jaelani – Penyuluh Agama asal Jawa Barat “Islam Vs. Terorisme”;
2. Ilham Latif – Penyuluh Agama asal Sulawesi Selatan “Makna Jihad Dalam Perspektif Islam”;
3. Wiwin – Penyuluh Agama asal Jawa Barat “Tauhid Sebagai Landasan Toleran Dalam Kehidupan”;

Daftar Pemenang Lomba Karya Jurnalistik BNPT 2018

Juara
1. Keluarga Membuat Eks Napiter JI Insyaf – Erik Purnama Putra – Republika;
2. Metamorfosis Stigma Teroris, dari Baju Gamis ke Rambut Klimis – M. Amir Tedjo Sukmono – www.ngopibareng.id
3. Ngaji Filsafat Biar Tak Sesat – Anang Zakaria – www.beritagar.id

Juara Harapan
1. Perlawanan Sang Mantan Komandan – Wakoz Reza Gautama – Tribun Lampung
2. Ngobrol Bareng Mantan Kombatan dan Narapidana Terorisme tentang ke-Indonesia-an – Mochammad As’ad – Warta Bromo
3. Agar Virus Radikalisme Tak Mewabah di Balik Jeruji Penjara – Zainul Arifin – www.liputan6.com

Daftar Pemenang Lomba Video Pendek
Cerita Terbaik:
1. Seperadik – SMAN Pangkal Pinang, Bangka Belitung;
2. Garuda – SMA Islam Kebumen, Lampung;
3. Sedia – SMAN Modal Bangsa, Aceh;

Viewers terbanyak :
1. Yang Terkikis – SMA Muhammadiyah Bangkinang Kota, Riau.

Video terbaik:
1. Juang – SMAN 1 Tegalombo Pacitan, Jawa Timur;
2. Denotatif – SMAK Yos Sudarso, Kepulauan Riau
3. Bersatu Kita Teguh, Bercerai Kita “Terbakar” – SMK Pasim Plus Sukabumi, Jawa Barat

MEDIAKEPRI.CO.ID, Kudus – Seorang gadis asal Kudus, Jawa Tengah siap berangkat ke Jepang sebagai wakil Indonesia. Di sana, dia akan unjuk kebolehan berpidato Bahasa Jepang melawan peserta lainnya dari negara-negara ASEAN.

Namanya Seli Inayanti, warga Desa Jati Kulon, RT 5 RW 2, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus. Anak keempat dari pasangan Rohmad dan Sulastri ini bakal berangkat ke Tokyo, pertengahan Oktober tahun ini.

Seli yang tak mampu menyembunyikan rasa semringahnya. “Bahagia bisa mewakili Indonesia di lomba pidato di Jepang nanti,” tutur dara kelahiran Kudus, 6 Maret 1997 saat ditemui di rumahnya, Senin, 23 Juli 2018.

Mahasiswi semester empat, Prodi Pendidikan Bahasa Jepang, Jurusan Bahasa dan Sastra Asing, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang (Unnes) tidak menyangka kalau bisa mendapat kesempatan seperti ini. Soalnya dia mengakui jika peserta lomba di Indonesia yang lain juga mempunyai kemampuan hebat.

“Tapi, Alhamdulillah hasil memang tidak mengkhianati proses,” kata Seli.

Dia menceritakan sekilas perjalanannya, terakhir mengikuti penyisihan lomba pidato tingkat Jateng itu yang ke-8 pada 12 Mei 2018 di Unnes. Kemudian, di Jakarta tanggal 14 Juli mewakili Jateng ikut lomba pidato Bahasa Jepang tingkat nasional yang ke-47.

“Jadi saya lomba dulu di Unnes (penyisihan Jateng) lomba pidato bahasa Jepang ke-8 dan menang. Baru saya mewakili Jateng di Jakarta ikut lomba pidato bahasa Jepang yang ke-47,” terangnya.

Dia juga menceritakan, dalam satu minggu latihan 5-6 hari. Pada akhir pekan, dia istirahat menenangkan pikiran. Dalam seminggu dia latihan bersama dosen kurang lebih 3 kali, sisanya dia latihan sendiri.

“Saya pernah dimarahin ibu gara-gara jarang tidur dan sakit gara-gara latihan,” bebernya.

Bahkan, dia pernah sampai demam seminggu, karena di kos, makan dan tidur tidak teratur dan makan makanan instan.

“Alhamdulillah nggak sampai masuk rumah sakit. Waktu itu cuma salah pola latihan,” ungkap Seli.

Dia berencana menceritakan materi pidatonya di Jepang tentang pekerjaan sang ayah sebagai pengepul sampah plastik. Dulu dia sempat malu dengan pekerjaan ayah. Namun, kini dia tak malu lagi.

“Perubahan itu saya ceritakan di pidato saya,” beber seli.

Dia mengungkapkan jika kemahiran berbahasa Jepang Seli dimulai sejak duduk di bangku sekolah yakni sering menonton video anime Jepang. Kemudian ada rasa senang. Dan akhirnya saat melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi.

“Dulu sering nonton film anime, terus ingin belajar bahasa Jepang. Film anime yang sering saya tonton itu seperti Spirited Away,” kata dia. (***)

sumber: detik.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Bandung – Institut Teknologi Bandung melakukan invonasi yang patut diapresiasi tinggi.

Lantaran mampu mengembangkan pemanis alami glikosida steviol (stevia) dari daun tanaman stevia.

Tim peneliti dari staf dosen Sekolah Farmasi Institut Teknologi Bandung (SF-ITB) telah melakukan penelitian dengan topik “Pengembangan Proses Produksi Pemanis Alami Glikosida Steviol (Stevia) dari Daun Tanaman Stevia.”
Tim peneliti terdiri dari Rahmana Emran Kartasasmita, Elfahmi, Muhammad Insanu, dan As’ari Nawawi.

Rahmana Emran Kartasasmita menjelaskan, penelitian yang dilakukan oleh timnya sudah dimulai sejak 2012.

“Pada tahun tersebut, masih dilaksanakan dalam skala laboratorium. Pada tahun 2015 tim mendapatkan dana penelitian dari Kementerian Kesehatan melalui program Fasilitasi Pengembangan Bahan Baku Obat (BBO) dan Bahan Baku Obat Tradisional (BBOT),” ujarnya via keterangan tertulis, Selasa, 10 Juli 2018.

“Berkat pendanaan tersebut, penelitian dapat dilakukan pada skala yang lebih besar dengan menggandeng PT Kimia Farma sebagai industri mitra.”

Lebih lanjut Rahmana Emran menjelaskan, daun dan herbal tanaman stevia mengandung senyawa yang memiliki rasa manis (glikosida steviol, GS) dengan kadar cukup tinggi.

“Kemanisan senyawa GS mencapai 300 kali lipat dari gula sehingga GS yang diperoleh melalui ektraksi daun dan herbal tanaman Stevia ini banyak digunakan sebagai pemanis alami pensubstitusi gula, khususnya bagi yang memerlukan asupan kalori rendah,” ujarnya.

“GS sebagai pemanis alami sudah lama digunakan dan dinyatakan aman oleh Codex Alimentarius Commission (CAC) sebagai organisasi international di bawah FAO dan WHO yang mengeluarkan berbagai standard dalam bidang pangan.”

Sebagai pemanis intensitas tinggi (high intense sweetener), GS memiliki tingkat kemanisan yang tinggi.

Pada kadar rendah, GS sudah mampu memberikan rasa manis yang memadai.

“Sebagai ilustrasi, untuk memaniskan satu cangkir minuman, cukup digunakan 30-40 mg GS yang lazimnya digunakan dalam bentuk sachet. Keunggulan lainnya, GS tidak memiliki nilai kalori sehingga tidak akan menyebabkan kenaikan gula darah setelah dikonsumsi,” kata Emran.

“Oleh karena itu, pemanis alami ini sesuai untuk digunakan oleh penderita diabetes maupun yang memerlukan asupan kalori rendah seperti yang sedang melakukan diet rendah kalori.”

Sayangnya, di Indonesia, pemanis alami tersebut masih sepenuhnya diimpor.

Padahal, tanaman bernama latin Stevia rebaudiana Bertoni ini bisa hidup dan cocok untuk ditanam di dataran tinggi di Indonesia, seperti di daerah Ciwidey, Kabupaten Bandung.

“Sampai sekarang, belum ada satu pun industri di Indonesia yang melakukan ekstraksi daun Stevia dan memproduksi GS sebagai pemanis alami pada skala komersial,” kata Rahmana Emran.

Proses ekstraksinya, sambungnya, daun hasil panen yang telah dipetik petani kemudian disortir dan dikeringkan terlebih dahulu.

Setelah kering lalu dirontokkan daunnya dari tangkai.

Kemudian, dilanjutkan proses penghancuran menggunakan mesin agar lebih halus berbentuk bubuk.

Selanjutnya, dilakukan proses ekstraksi, dengan berbagai teknik, ada yang menggunakan air terlebih dahulu atau pelarut lain yang diizinkan untuk pengolahan pangan.

Berikutnya, yaitu proses pemurnian dan pengkristalan menjadi serbuk GS yang berwarna putih.

“Semua hasil penelitian ini sudah dilaporkan dan diserahkan ke Kementerian Kesehatan sebagai pemberi dana.”

“Untuk tindak lanjut produksi stevia pada skala komersial, Kementerian Kesehatan akan memfasilitasi bila ada industri yang berminat.”

“Kami berharap ada industri yang berminat dan bisa menindaklanjuti hasil penelitian ini,” ujar Rahmana Emran. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Luka pasca operasi biasanya sulit sembuh dan membutuhkan waktu lama. Untuk menghentikan perdarahan dan mempercepat penyembuhan, tiga mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada (UGM) membuat spons koral buatan.

Oktika Nur Anisa, Atha Yuska Irfani, dan Imroatul Maghfiroh mengembangkan spons koral yang terbuat dari bahan dasar kalsium karbonat yang bisa menjadi aktivator pembekuan darah.

“Spons koral berperan sebagai agen haemostasis yakni suatu bahan yang membantu dalam tahap pertama proses penyembuhan luka yakni hemostasis.

Ketika terjadi luka maka secara alamiah tubuh sudah memiliki sistem untuk menghentikan perdarahan dengan terbentuknya benang benang fibrin,” ujar Oktika kepada detikHealth melalui pesan singkat.

“Jika hanya mengandalkan kemampuan hemostasis alami maka tidak sepenuhnya memberi hasil maksimal dan waktunya lama. Sehingga dibutuhkan spons koral yang membantu dalam hemostasis atau menghentikan perdarahan,” lanjutnya.

Salah satu keunggulan spons koral buatan ini yakni bisa diserap oleh tubuh, tidak seperti agen hemostasis konvensional yang tidak bisa diserap oleh tubuh.

“Spons koral buatan keunggulannya dapat diserap oleh tubuh sehingga lebih praktis karena tidak perlu diambil oleh praktisi,” tandasnya.

Spons koral buatan ini masih dalam tahap percobaan in vivo yang dilakukan pada hewan dan menunjukkan percepatan penyembuhan luka pasca operasi. Setelah diulang hingga empat kali pun, semua pengujian menunjukkan hasil yang positif yaitu dapat mengontrol perdarahan pasca operasi.

“Setelah percobaan in vivo selesai, kemungkinan selanjutnya akan dilakukan uji klinis manusia,” tutup Oktika. (***)

sumber: detik.com

Daya saing ini ditentukan oleh kapabilitas SDM dalam mengelola potensi yang ada.

MEDIAKEPRI.CO.ID, Malang – Menteri Koordiantor Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Puan Maharani mengemukakan era globalisasi menuntut sebuah negara berdaya saing kuat dan memadai. Daya saing ini ditentukan oleh kapabilitas SDM dalam mengelola potensi yang ada.

Menurut Puan, pembangunan SDM yang berkualitas, tidak terlepas dari peran pendidikan tinggi. Saat ini, laporan World Economic Forum (WEF) menyebutkan daya saing Indonesia periode 2017-2018 naik lima peringkat.

“Dari posisi 41 menjadi posisi 36 dari 137 negara,” kata Puan Maharani di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Dome di Malang, Jawa Timur, Sabtu 12 Mei 2018.

Bahkan, lanjutnya, Indonesia dinilai sebagai salah satu inovator teratas di antara negara berkembang. Namun, sarjana di Indonesia hanya berkontribusi 11 persen atau 13 juta orang dari 121 juta penduduk di Tanah Air yang bekerja.

Untuk memperkuat profil angkatan kerja Indonesia, salah satu agenda setrategis pemerintah adalah memperkuat seluruh perguruan tinggi yang ada di Indonesia, negeri dan swasta. Jumlah perguruan tinggi nasional lebih dari 4.300 dan lebih dari 90 persen merupakan perguruan tinggi swasta.

Terhadap perguruan tinggi swasta ini, dia mengatakan, pemerintah telah memberikan perlakuan yang sama. Termasuk dalam pemberian beasiswa bagi dosen dan mahasiswa, bantuan biaya operasional, serta bantuan dana riset.

Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi juga telah memberikan pendampingan dan pembinaan kepada perguruan tinggi swasta (PTS). Alhasil, 27 PTS binaan telah memiliki akreditasi A pada 2017.

“Untuk mengembangan perguruan tinggi dan dunia pendidikan pada umumnya, Muhammadiyah juga memiliki perhatian yang luar biasa besar untuk mewujudkan pendidikan yang berkualitas,” ujarnya.

Pada kesempatan itu dilakukan penyerahan sertifikat lisensi oleh Kepala Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) Sumarna F Abdurahman kepada Lembaga Sertifikasi Profesi UMM. Menurut Rektor UMM Fauzan, penyerahan lisensi dari BNSP ini dapat membantu lulusan UMM memperoleh pengakuan nasional dan internasional.

“Mulai sekarang UMM berhak menyelenggarakan sertifikasi profesi lulusannya dengan skema yang telah ditentukan,” kata Fauzan.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy yang juga hadir di UMM Dome untuk wisuda sarjana dan pascasarjana UMM itu mengatakan sarjana UMM adalah bagian dari makhluk yang akan disiapkan untuk menghadapi tantangan masa depan.

Dia berharap mereka dapat menunjukkan kepada siapa saja dengan percaya diri bahwa UMM dapat melahirkan generasi muda yang sanggup menegakkan kedaulatan dan kebesaran bangsa Indonesia ini.

“Kami berharap lulusan UMM untuk terus berkarya dan membawa nama besar UMM dimanapun berada,” kata dia.

Usai menghadiri wisuda di UMM, Puan Maharani bersama Muhadjir Effendi menghadiri Lomba Mewarnai dan Menggambar Se-Jawa Timur di Taman Sengkaling UMM.

Lomba yang mengangkat tema “Indonesia Pintar Budaya dalam Warna” ini hasil kerja sama UMM, Kemendikbud dan Kemenko PMK RI. Total peserta yang hadir mencapai 1.512 orang yang terdiri dari siswa TK dan SD. (***)

Sumber : republika.co.id

MEDIAKEPRI.CO.ID, Bandung – Mahasiswa Universitas Komputer (Unikom) Bandung lagi-lagi mengukir prestasi kompetisi robot skala internasional. Kali ini perwakilan Unikom berhasil menyabet empat medali emas, satu perak dan dua perunggu dari tujuh kategori lomba yang diikuti.

Unikom mewakili Indonesia bersama puluhan negara peserta mengikuti kompetisi robot di Amerika Serikat yang berlangsung mulai tanggal 27 – 29 April 2018. Unikom mengikuti tujuh kategori dari 12 robot yang diboyong ke negeri Paman Sam.

Tujuh kategori robot yang diikuti oleh mahasiswa Unikom ini yaitu Autonomous Robomagellan, Open Fire Fighting robot, Open Walker Challenge, Open Table Top Navigation, Open Ribbon Climber, Beam Photovore dan Beam Speeder.

“Setiap tahun mengikuti kompetisi (robot), ini tahun ke 9 bagi Unikom. Riset dilakukan oleh mahasiswa-mahasiswa dari jurusan teknik elektro, jurusan teknik komputer dan jurusan teknik informatika,” kata dosen pembimbing divisi robot Unikom Taufiq Nuzwir di Unikom, Jalan Dipatiukur, Kota Bandung, Senin, 7 Mei 2018.

Berkat riset mendalam dan pengalaman Unikom mengikuti kompetisi robot skala internasional, Indonesia kembali unjuk gigi di negara lain. Unikom lewat putra putri terbaiknya berhasil menggondol empat emas, satu perak dan dua perunggu.

“Tahun ini merupakan pencapaian terbaik kami dengan empat emas. Tahun-tahun sebelumnya paling banyak tiga emas kita bawa pulang,” tutur dia.

Salah satu robot bernama DU 114 P18 diganjar medali emas setelah mengguli tuan rumah dengan medali perak dan perwakilan Mesir medali perunggu. Prototype robot pendeteksi dan pemadam api ini berhasil memukau juri Robogames 2018.

Salah seorang perancang robot DU 114 P18 Gyan Aditya mengatakan dalam kompetisi kali ini terdapat maket rumah yang di dalamnya terdapat tujuh lilin. Kemudian robot setiap peserta secara bergantian beroperasi menemukan titik api.

Berbekal teknologi ultrasoni dan Uvitron yang disematkan, robot ciptaan dua mahasiswa jurusan teknik elektro ini mampu menemukan titik api dengan cepat. Sang robot mampu melewati setiap rintangan-rintangan menuju titik api.

“Teknologi yang ada di robot ini mampu mendeteksi keberadaan api dengan cepat. Robot ini juga bisa membedakan antara api dengan cahaya atau suhu panas,” tutur dia.

“Robot prototype ini juga berfungsi memadamkan api kecil seperti lilin. Karena dibekali kipas. Ke depannya bisa dikembangkan dengan dibekali air. Saat ini prototype yang kami ciptakan 90 persen bahan lokal,” menambahkan.

Robot yang membutuhkan waktu pengerjaan selama tujuh bulan ini bertujuan untuk membantu kerja petugas pemadam kebakaran ke depannya. Sebab, sambung dia, tak jarang petugas pemadam kebakaran gugur saat memadamkan si jago merah.

“Tentu robot ini ke depannya untuk mengurangi risiko kematian petugas kebakaran,” ujar Gyan. (***)

sumber: detik.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Serbia – Siswa-siswi SMA & SMP dari berbagai wilayah di Indonesia sukses meraih 2 medali emas lomba penelitian internasional “25th International Conference of Young Scientists (ICYS) 2018 di Beograd, Serbia, 19-25 April 2018.

Dari rilis yang diterima dari Center for Young Scientists, Rabu, 25 April 2018, tim yang dipimpin Monika Raharti (Center for Young Scietists Indonesia) juga membawa pulang 3 medali perunggu, 2 special awards, dan penghargaan best poster.

Emas diraih Muhammad Firman Nuruddin dari SMA Taruna Nusantara Magelang di bidang Environmental Science dan Ian Santoso dari SMA Cita Hati West Campus Surabaya pada bidang Life Sciences.

Medali perunggu dipersembahkan Firman Fathoni dari SMPN1 Surabaya pada bidang Computer Science, Michael Teguh Laksana dari SMA St Aloysius Bandung pada bidang Physics, dan Peter Gonawan dari SMA Cita Hati East Campus Surabaya pada bidang Engineering.

Nicholas Patrick dari SMP Cita Hati Surabaya meraih Special Award bidang Mathematics, dan Stephanie Susanto & Suzan Basaran dari SMA Budi Utama Yogyakarta juga mendapatkan Special Award bidang Life Sciences.

Arflyno Chrisdion Pudayar Pahombar Ludjen dari SMA Bina Cita Utama Palangkaraya berhasil meraih The Best Poster bidang Computer Science.

Direktur Pembinaan SMA, Kemendikbud mengatakan para pelajar itu bersemangat untuk mengharumkan nama Indonesia di Beograd.

Tim Indonesia disambut hangat oleh Duta Besar Republik Indonesia untuk Serbia di Beograd yang juga hadir pada acara Closing and Awarding Ceremony ICYS 2018di Sumice, Beograd, Serbia.

Para siswa ini akan tiba di Tanah Air pada Kamis (26/4/2018) pukul 15:05 WIB di Bandara Soekarno Hatta. (***)

sumber: tribunjabar.id

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Pengumuman Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) akan dilakukan mulai hari ini, Selasa, 17 April 2018 pada pukul 17.00 WIB. Pengumuman resmi ini akan disampaikan melalui laman http://pengumuman.snmptn.ac.id/

“Kami mohon bagi peserta yang lulus seleksi untuk mencermati dan mentaati pengumuman resmi yang dikeluarkan oleh masing-masing PTN, terutama dengan ketentuan persyaratan penerimaan juga jadwal dan tempat jadwal ulang (registrasi) 2018,” kata Sekretaris Panitia SNMPTN 2018 Joni Hermana, di Jakarta, Selasa, 17 April 2018.

Selain itu, registrasi calon mahasiswa yang lulus seleksi PTN dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan ujian tulis Seleksi Bersama Masuk PTN (SBMPTN). Registrasi atau pendaftaran ulang di PTN masing-masing dijadwalkan pada 8 Mei 2018. Di hari yang sama, ujian SBMPTN dilakukan.

Tujuannya, kata Joni, agar siswa yang lulus SNMPTN tidak lagi mengikuti SBMPTN sehingga bisa memberi kesempatan bagi siswa lain untuk diterima di PTN.

SNMPTN merupakan jalur masuk perguruan tinggi negeri (PTN) melalui jalur nilai rapor. Sedangkan SBMPTN dilakukan dengan sistem ujian.

Joni menginformasikan bagi siswa yang ingin melihat hasil SNMPTN bisa masuk melalui laman pengumuman.snmptn.ac.id. “Masukkan nomor pendaftaran pada kolom yang telah disediakan. Selanjutnya masukkan tanggal lahir. Baru kemudian klik tombol lihat hasil seleksi,” ujarnya.

Selain itu, pengumuman bisa diakses melalui laman resmi PTN seperti http://snmptn.itb.ac.id, http://snmptn.ui.ac.id,http://snmptn.ugm.ac.id, http://snmptn.ipb.ac.id, http://snmptn.its.ac.id,http://snmptn.unair.ac.id, ttp://snmptn.undip.ac.id, http://snmptn.unsri.ac.id,http://snmptn.untan.ac.id, http://snmptn.unhas.ac.idhttp://snmptn.unand.ac.id, dan http://snmptn.unsyiah.ac.id. (rilis)

MEDIAKEPRI.CO.ID, Kupang – Sekolah Dasar Inpres (SDI) Bea Nanga, di Kecamatan Lamba Leda, Kabupaten Manggarai Timur (Matim), memang boleh berbangga. Sebab, salah satu siswi sekolah itu, Aulyanti Putri Lentar, mewakili Kabupaten Manggarai Timur (Matim) mengikuti lomba bidang studi Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dalam ajang Olimpiade Sains Nasional (OSN) tingkat Provinsi NTT di Kupang, pekan depan.

Informasi ini disampaikan Camat Lamba Leda, Drs. Aleksius Rahman, melalui layanan WhatsApp (WA) kepada Pos-Kupang.Com, Kamis, 29 Maret 2018.

Aleksius menjelaskan, dipilihnya Aulya mewakili Kabupaten Manggarai Timur di tingkat Provinsi NTT setelah dalam seleksi di tingkat kabupaten di Borong meraih juara I mata pelajaran IPA. Sedangkan juara II mata pelajaran IPA diraih SDK Mano I Kecamatan Poco Ranaka.

Sementara juara matematika diraih oleh dua sekolah, yakni SDK St. Eduardus Borong dan SDK Wae Lengga Kecamatan Kota Komba.

“SDI Bea Nanga merupakan salah satu sekolah yang mendapat program rintisan KIAT guru,” kata Aleksius.

Kepala SDI Bea Nanga, Elfida Jerahi, S.Ag menyampaikan terima kasih kepada pemerintah pusat yang memilih SDI Bea Nanga dalam program ini. Ucapan yang sama juga disampaikan kepada para guru, orangtua murid, Kelompok Pengguna Layanan (KPL) serta Kepala Desa Lamba Keli yang telah bekerjasama dalam menunjang proses belajar mengajar di sekolah tersebut.

Camat Lamba Leda, Drs. Aleksius Rahman, menyampaikan profisiat kepada SDI Bea Nanga, teristimewa kepada Aulya yang telah mengharumkan nama baik Kecamatan Lemba Leda dan Kabupaten Manggarai Timur ke tingkat provinsi.

“Harapan saya di tingkat provinsi bisa meraih juara sehingga dapat berlaga di tingkat nasional. Peserta akan berangkat ke Kupang pada hari Selasa tanggal 3 April 2018,” kata Aleksius. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Pontianak – Minat terhadap mekanikal mesin kendaraan bermotor mengantarkan Jodi (18) memilih sekolah kejuruan.

Jurusan Teknik dan Bisnis Sepeda Motor (TBSM) Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 7 Pontianak dipilihnya menjadi tempat menimba ilmu.

“Kebetulan memang sudah sejak lama hobi dengan keteknikan mesin kendaraan bermotor. Ini juga yang jadi alasan saya memilih melanjutkan sekolah di SMKN 7 Pontianak di jurusan TBSM,” ujarnya, saat dijumpai, Selasa 20 Maret 2018.

Bekal ilmu di sekolah, katanya, sangat bermanfaat. Baik untuk diri sendiri dalam merawat kuda besinya, dan yang lebih penting adalah dunia pekerjaan yang hendak dipilihnya di masa depan.

Gayung bersambut. Sekolah tempatnya menimba ilmu ini, jadi satu dari sekolah kejuruan yang dipercaya menjalankan program Teaching Manufacturing (TeFa) dari Direktorat Jenderal Pendidikan Menengah (Dirjen Dikmen) di jurusan keteknikan sepeda motor.

Berbagai program unggulan TeFa pun dinilainya sangat membantu meningkatkan kompetensinya soal keteknikan sepeda motor. Menjadi bekal penting di masa depan sebagai mekanis handal.

“TeFa benar-benar membuat kita merasa terjun langsung ke lapangan pekerjaan mekanikal sepeda motor. Dengan adanya program TeFa, kita kenal dunia kerja dengan lebih baik,” sambungnya.

Ada banyak aspek-aspek yang dirasakannya sangat penting didapatkannya dari TeFa. Seperti cara service sepeda motor dan penanganan sparepart yang cukup berbeda dari mekanik di bengkel-bengkel biasa.

“Perbedaan terbesar ada di cara kerja, di mana di TeFa, kami diajarkan untuk bekerja dengan standar prosedur. Sehingga semua hasilnya terukur jelas,” pungkasnya. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Adalah Alamanda Shantika Santoso pencipta aplikasi Gojek yang meninggalkan perusahaan teknologi jasa angkutan Gojek demi mendirikan sekolah.

Perempuan kelahiran Jakarta 29 tahun lalu itu kini tak lagi mengusung warna hijau yang identik dengan aplikasi ojek online tersebut, melainkan warna ungu yang menjadi ciri khas Binar Academy.

“Keluar dari Gojek yang merupakan first unicorn startup, saya banyak belajar di sana. Tapi mimpi saya adalah menjadi menteri pendidikan, untuk itu saya ingin membagikan mimpi saya ke orang lain,” ujar Alamanda saat mengisi sebuah sesi diskusi dalam Habibie Festival 2017 di Jakarta, belum lama ini.

“Seperti di Gojek yang memiliki visi untuk membantu orang lain, yang bisa membahagiakan saya adalah kalau saya bisa berkontribusi kepada lingkungan,” sambung dia.

Saat ditemui ANTARA News, perempuan berambut pendek yang akrab disapa Ala itu mengaku “berat” menjadi seorang founder sekaligus CEO.

“Kadang suka mikir, suka down, biasalah seorang founder, mikir kayak “aduh, akhir bulan bisa gajian enggak, bisa ngegaji orang enggak,” kayak gitu-gitu,” kata dia.

Namun, anak-anak didiknya di Binar Academy yang mengalami kemajuan dan mulai berkembang, menjadi penyemangat dirinya.

Memilih angkat kaki dari Gojek memang bukan keputusan yang mudah. Mengaku memiliki pandangan yang berbeda, Ala membulatkan tekad untuk undur diri dari Gojek.

“I was a disrupter,” begitu dia menyebut dirinya dulu.

Sukses membesarkan nama Gojek, membuat dia menyadari bahwa dia telah “membunuh” aplikasi lain yang memiliki model bisnis serupa.

“Tanpa aku sadari Food Panda mati karena kompetisi, ternyata aku menyakiti banyak orang, di saat Food Panda mati banyak banget yang di-lay off, enggak sadar banyak banget menyakiti orang,” ujar Ala.

“Sekarang pemandangan aku, view-nya adalah aku mau men-disrupt para disrupters, enggak ada yang namanya kompetisi justru kita harus berkolaborasi,” lanjut dia.

Mengusung tagline “spirit of collaboration and learning,” Binar Academy menawarkan sekolah gratis selama 2,5 bulan untuk mereka yang tertarik mempelajari coding dan progamming.

Dia ingin membawa pendidikan teknologi lebih tinggi lagi, di samping e-commerce, fintech dan medical tech yang lebih “dilihat orang”.

“Sedangkan kita enggak bisa menciptakan fintech-fintech itu kalau manusianya enggak teredukasi,” ujar Ala.

Tertarik pada teknologi

Perempuan yang lahir pada 12 Mei 1988 itu mengaku tertarik pada ranah teknologi sejak usia 11 tahun.

“Dikasih komputer bukannya dinyalain dulu, tapi saya bongkar dulu, sampai motherboard terkecil tahu,” kata Ala.

“Saya suka art juga, suka menggambar,” sambung dia.

Saat itu, alumnus Ilmu Komputer Universitas Bina Nusantara ini menyadari bahwa dia harus belajar coding, sementara pada waktu itu sumber literatur mengenai pembelajaran bahasa pemograman tersebut di Indonesia masih sangat sedikit.

“Ada sepupu saya yang lama tinggal di London mengajari coding,” ujar  Ala.

Sebelum bergabung dengan Gojek, Ala bekerja di dunia perbankan. Dia mengaku sempat bingung ketika bos Gojek Nadiem Makarim “melamar” dia untuk ikut serta membesarkan Gojek.

Dia mengatakan, kekhawatiran untuk terjun ke dunia startup juga dirasakan ibundanya kala itu.

“Waktu itu sudah enak banget. Kemudian, ibu saya ajak ke rumah Gojek yang sudah mau ambruk. Ibu sempat tanya. ‘Beneran kamu mau ngurusin tukang ojek?'”, kenang Ala.

Ala bahkan mengaku sempat ingin menolak “pinangan” Nadiem. Namun, Nadiem meyakinkan Ala dengan perkataannya yang masih dia ingat hingga saat ini, “Di Gojek bukan menghidupi diri sendiri, tapi ratusan ribu orang di sana yang membutuhkan.”

Perempuan berkacamata itu akhirnya bergabung dengan Gojek. “Untungnya keluarga sangat open-minded,” kata Ala.

“Setelah Gojek berjalan satu tahun Ibu WhatsApp, “we are proud of you“,” lanjut dia.

Prinsip inilah yang kemudian dia bawa ke Binar Academy. “Bukan yang penting dapat gaji, tapi ada tujuan saat melangkah ke kantor,” ujar Ala.

Pesan ini juga yang ingin dia sampaikan Ala kepada anak-anak muda generasi Y. “Kamu (Gen Y) harus benar-benar tahu alasan kamu melakukan sesuatu, selalu awali dengan “why?”, dan yakin sama diri kamu sendiri.”***