REGULASI

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Tak dapat dipungkiri, bahwa ‘Aisyiyah merupakan pioner pendidikan anak usia dini. ‘Aisyiyah berdiri 1917 dan Frobel Kindergarten atau yang kini disebut dengan TK ‘Aisyiyah Bustanul Athfal (disingkat TK ABA) berdiri pada tahun 1919. Pada masa itu perempuan masih sulit mengakses ruang publik. Mereka banyak yang dikawinkan di usia belia dan tidak banyak mendapatkan hak-haknya.

Menilik kondisi itu, ‘Aisyiyah berpikir tentang adanya kesetaraan hak. ‘Aisyiyah mendorong anak-anak perempuan untuk dapat menikmati pendidikan selayaknya anak laki-laki. ‘Aisyiyah telah berpikir maju melindungi hak anak yang kondisinya lebih subordinat dari perempuan.

Melampui Zaman

‘Aisyiyah telah melampaui zamannya, karena ia berpikir futuristik tentang nasib anak, terkhusus anak perempuan. ‘Aisyiyah mereformasi kesadaran agar anak tidak menjadi subordinat dalam sistem sosial. Anak perempuan perlu mendapatkan pendidikan yang layak. Dengan pendidikan yang layak perempuan akan memiliki potensi yang sama dengan laki-laki.

Dalam proses pendidikan anak sejak dini, ‘Aisyiyah menyiapkan sumber daya manusia Indonesia yang unggul. Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) adalah jaminan masa emas (golden age). Masa itu tidak akan pernah terulang karena hanya berjalan sekali seumur hidup. Oleh karenanya mendidik anak di masa golden age menjadi investasi sumber daya manusia paling fundamental.

PAUD menjadi tempat pengasuhan sekaligus pendidikan anak. Jika ada masalah di rumah, koreksi pengasuhan dapat dilakukan di PAUD. Karena jika anak tidak selesai fase golden agenya, maka potensi masalah sosial dan rehabilitasi di masa yang akan datang akan lebih berat.

Menyelamatkan fase golden age berarti ‘Aisyiyah sudah menyiapkan sumber daya manusia yang unggul. Dan ‘Aisyiyah sudah memikirkannya satu abad yang lalu.

‘Aisyiyah telah berpikir bahwa pendidikan anak menjadi hal utama bagi bangsa. Saat anak mendapatkan pendidikan yang layak dan memadai, hal itu akan menjamin masa depan sebuah peradaban. ‘Aisyiyah telah berkontribusi dalam proses penyiapan keagungan keadaban itu.

Tiga Pilar

Kontribusi bagi keadaban itu terbangun dari tiga hal utama. ‘Aisyiyah mendasarkan aktivitasnya pada tiga pilar branding: iman, ilmu, amal. ‘Aisyiyah menguatkan pendidikan karakter melalui iman, ilmu, amal. Iman, ilmu, dan amal adalah upaya pembangunan manusia yang berkarakter.

Iman, ilmu, dan amal menjadi fondasi keteguhan sikap dan karakter utama. Iman menjadi fondasi awal kelekatan manusia dengan Sang Pencipta. Berbekal iman, seseorang akan selalu ingat dan sadar akan kehadiran Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Iman merupakan manifestasi tauhid yang dalam bahasa Ismail Raji al-Faruqi merupakan esensi peradaban Islam. Esensi itulah yang akan menyinari pilar lain sebagai bagian organis mewujudkan peradaban utama.

Ilmu menjadi penunjukan jalan kebenaran. Ilmu menjadi suluh bagi terciptanya sebuah peradaban. Tanpa ilmu pengetahuan peradaban sulit terwujud. Ilmu menjadikan manusia dapat berkreasi menciptakan kebajikan. Kebajikan yang menuntun dan mengokohkan manusia sebagai ahsani taqwim (penciptaan terbaik).

Sedangkan amal merupakan puncak dari aktivitas hidup. Iman dan ilmu akan menjadi sempurna dengan amal (kerja produktif). Amal merupakan investasi manusia dalam menanam kebajikan. Dari amal itulah akan lahir sebuah keunggulan (inovasi) yang memungkinkan manusia menjadi khalifah fi al-ardh (pemimpin di muka bumi).

Peneguhan Nasionalisme

Ketiga pilar itulah yang menjadikan ‘Aisyiyah semakin eksis di Indonesia. Eksistensi ‘Aisyiyah itu juga menjadi penanda nasionalisme yang mewujud. Keberadaan TK ABA adalah bagian peneguhan nasionalisme anak bangsa. TK ABA jumlahnya hampir 20 persen dari PAUD di Indonesia dan tersebar di seluruh wilayah Nusantara.

TK ABA melayani hingga pulau terluar, seperti Natuna. TK ABA tidak mengenal agama. Misalnya di Bali, Nusa Tenggara Timur (NTT), dan Papua, TK ABA tetap menjadi pelayan dan penyedia pendidikan bagi masyarakat. TK ABA melayani semua agama, dan dari berbagai kelas ekonomi.

Dengan demikian TK ABA telah mempratikan pendidikan untuk semua(education for all). TK ABA telah melampaui sekat agama dan budaya dengan kreativitasnya. Dan yang tak kalah penting adalah TK ABA melayani tanpa harus membenani ekonomi masyarakat. TK ABA tetap melayani masyarakat tanpa harus disibukkan dengan urusan pembiayaan. Kemandirian ekonomi dalam pengelolaan fasilitas pendidikan ini telah menjadi ciri utama TK ABA sejak seabad lalu.

‘Aisyiyah mengajarkan nasionalisme anak dengan caranya. Mengajarkan keragaman, mengajari anak sesuai hak anak, menyanyi dan lain-lain. Keragaman yang tersemai tanpa membedakan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) dan kelompok sosial inilah yang membentengi anak dari radikalisme dan mengajarkan toleransi. ‘Aisyiyah telah menyiapkan anak bangsa menjadi generasi yang mempunyai sifat dan watak kebangsaan yang luas. Mereka sudah biasa hidup berbeda dengan ragam keyakinan dan kebudayaan. Saat mereka dewasa, ia tidak akan mudah terprovokasi oleh gerakan yang membajak nilai-nilai agama untuk kepentingan jangka pendek.

‘Aisyiyah melalui TK ABA telah melakukan kerja peradaban untuk keagungan dan kemuliaan Indonesia. TK ABA telah berkhidmat untuk negeri sejak seabad lalu. Ia telah mendidik anak bangsa tumbuh kembang dalam pola pengasuhan di lembaga pendidikan yang memadai.

TK ABA pun telah melahirkan generasi emas dalam rentang panjang sejarah panjang bangsa. TK ABA telah menerapkan praktik baik keluhuran budi dalam proses pendidikan anak Indonesia. Selamat milad seabad TK ABA, tetaplah menjadi sinar terang bagi hidup baik anak Indonesia. (***)

sumber : republika.co.id

MEDIAKEPRI.CO.ID, Bandung – PELAKSANA Harian (Plh) Wali Kota Bandung, Yana Mulyana meminta para orang tua meningkatkan kualitas kompetensi anak selain dari pendidikan formal di bangku sekolah. Salah satunya dengan meningkatkan kecerdasan emosional dan spiritual anak sejak dini.

Menurutnya, hal ini merupakan fondasi menciptakan Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul.

“Jangan sampai putra putri kita sekedar pintar secara konseptual. Putra-putri kita juga harus pintar secara spiritual. Karena bagaimanapun mereka akan menjadi bagian dari masa depan. Generasi ini yang akan mengambil peran nanti,” beber Yana saat menjadi pembicara dalam peluncuran Gerakan Mental Sehat di Kawasan Car Free Day Dago, Minggu 18 Agustus 2019 pagi.

Gerakan yang diinisiasi oleh Pelita Nusantara School ini melibatkan peserta didik setara Sekolah Dasar (SD) beserta oara orang tua.

Yana menilai, gerakan ini sejalan dengan visi Bandung Unggul yakni meningkatkan kualitas SDM masyarakat dari segala bidang secara seimbang baik pemikiran maupun karakternya.

“Tentunya Pemerintah Kota mengapresiasi kegiatan ini karena ini me-refresh kembali gerakan revolusi mental. Karena sebetulnya Pak Soekarno dulu pernah melakukan gerakan revolusi mental dan saat ini diluncurkan dan diingatkan kembali oleh Presiden Joko Widodo. Tentu kita sangat mendukung,” katanya.

Dengan adanya gerakan mental sehat ini, lanjut Yana, para orang tua mempersiapkan anak-anak sejak dini untuk memiliki jiwa kepemimpinan tinggi. Sehingga, intelektualitas individu ini mampu mendongkrak kemajuan bangsa guna bersaing di pentas internasional.

“Mudah mudahan apa yang diramalkan pada tahun 2045 Indonesia menjadi tiga besar dunia mudah-mudahan itu bisa terwujud. Kalau kita dari sekarang bisa mempersiapkan generasi muda untuk bisa menghadapi tantangan di masa depan lewat geerakan sehat mental ini,” ujarnya.

Yana mengungkapkan, konsep serupa gerakan sehat mental ini sedang diterapkan kepada Aparatur Sipil Negara (ASN) Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung. Penguatan mental dan spiritual ini guna meningkatkan kompetensi ASN agar bisa memberikan pelayanan kepada masyarakat lebih prima.

“Selama ini kita di ASN khususnya terus meningkatkan kompetensi bukan hanya secara konseptual saja secara teknis tapi juga secara spiritual. Itu terus kita tingkatkan di kalangan teman-teman ASN Kota Bandung,” katanya. (***)

sumber : galamedianews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mengakui masih banyak persoalan yang terjadi di sektor kelautan dan perikanan Indonesia saat ini. Tapi persoalan-persoalan tersebut bisa diselesaikan dengan adanya teknologi.

“Ini bisa diselesaikan dengan platform, teknologi,” kata dia dalam acara Ignite The Nation di Istora Senayan, Jakarta, Ahad, 18 Agustus 2019.

Susi mencontohkan pengalamannya bersama seorang pengusaha di bidang perkapalan. Saat itu, si pengusaha mengeluhkan sulitnya perizinan kepada Susi.

Kemudian Susi bertanya berapa banyak kapal yang dimiliki pengusaha itu. Si pengusaha itu lalu menjawab, “mungkin dua.” Susi pun dongkol. “Gedek, gak. masa jawabannya gitu?” kata dia.

Padahal, Susi menginginkan adanya proses transparansi dalam bisnis perkapalan dan perikanan ini. Transparansi dan pendataan inilah yang menurut Susi bisa dilakukan dengan penggunaan teknologi. Selain masalah pendataan kapal, Susi meyakini masalah pada pemasaran ikan juga bisa diselesaikan kalau ada platform khusus mengenai ini.

Menurut Susi, masalah-masalah ini hanya soal request and offer. Artinya, ada suplai seperti produk perikanan dan ada permintaan dari konsumen.

Namun pada kenyataannya, jaring penghubungnya masih terbatas. Untuk itu, Susi menantang ribuan anak muda yang hadir dalam acara ini. “Saya undang Anda semua jadi entrepreneur fish trader,” kata dia.

Hal itu bukan tanpa sebab. Susi mengatakan saat ini ekspor produk perikanan dari Indonesia semakin bergeliat.

Di tahun 2018, Kementerian Kelautan dan Perikanan mencatat ekspor komoditas utama perikanan sudah mencapai 1.126,07 ribu ton dengan nilai US$ 4.860,9 juta. Produk tersebut di antaranya udang US$ 1.742,12 juta, cumi US$ 554,59 juta, hingga rumput laut US$ 291,84 juta.

Susi menjelaskan, negara tujuan ekspor udang, dengan rincian 66,06 persen ke Amerika Serikat, 19,23 persen ke Jepang. Lalu ekspor ikan tuna dengan 30,58 persen ke Amerika Serikat dan 16,63 persen ke Jepang. Berikutnya, ekspor rumput laut dengan 65,11 persen ke Cina dan 9,24 persen ke Uni Eropa. (***)

sumber : tempo.co

MEDIAKEPRI.CO.ID, Bogor – Sekolah Bosowa Bina Insani (SBBI) Bogor tiap tahun mengajak siswa dan orang tua siswa untuk menyalurkan kurban lewat sekolah. “Alhamdulillah, pada Idul Adha tahun ini, Sekolah Bosowa Bina Insani (SBBI) berhasil mengumpulkan hewan kurban berupa sapi empat ekor dan kambing 61 ekor,” kata Bendara Panitia Kurban SBBI 1440 H, Ustaz Marhali dalam rilis Senin 12 Agustus 2019.

Ia menambahkan, hewan kurban itu berasal dari dua sumber. Pertama, sedekah kurban, yakni iuran siswa per kelas kemudian dibelikan hewan kurban. Ini melibatkan seluruh siswa dari KB-TK, SD, SMP dan SMA.

Kedua, kurban atas nama pribadi siswa maupun orang tua siswa. Termasuk, hewan kurban sapi yang berasal dari pemilik Bosowa Group, H M Aksa Mahmud.

Marhali menyebutkan, seluruh hewan kurban itu dipotong pada hari Senin 12 Agustus 2019. di lokasi SBBI Bogor, Jawa Barat. Hewan sapi dipotong oleh tukang jagal sapi. Sedangkan hewan kambing dipotong oleh guru-guru yang ditunjuk di tiap-tiap unit (SD, SMP dan SMA).

“Para siswa SD, menyaksikan langsung pemotongan kambing kurban tersebut. Sedangkan siswa SMP dan SMA menyaksikan pemotongan, kemudian ikut terlibat dalam penanganan daging kurban itu hingga siap didistribusikan,” ujarnya.

Marhali mengungkapkan, daging hewan kurban dibagikan kepada guru dan karyawan SBBI. Jumlahnya 320 paket daging sapi dan 250 paket daging kambing.

Selain itu, SBBI juga menyalurkan hewan kurban kepada warga masyarakat di 11 RT, Kelurahan Sukadamai, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor. “Jumlah total hewan kurban yang kami salurkan kepada masyarakat Kelurahan Sukadamai berjumlah 33 ekor kambing. Kambing tersebut diberikan dalam keadaan sudah dipotong,” paparnya.

Marhali mengemukakan, program sedekah kurban maupun kurban pribadi dimaksudkan sebagai pembelajaran bagi para siswa. “Melalui program sedekah kurban maupun kurban atas nama pribadi, kami ingin memperkenalkan pembelajaran kurban kepada para siswa. Selain itu, menumbuhkan rasa empati dan kepedulian kepada sesama. Kami juga berharap, semoga ke depannya, para siswa terbiasa saling berbagi. Manakala nanti mereka sudah mampu, kelak mereka pun akan rutin berkurban tiap tahun,” tuturnya.

Pemotongan hewan kurban tersebut didahului dengan tausiyah. Siswa SD, SMP dan SMA berkumpul di lapangan upacara masing-masing. Kemudian, salah seorang guru dari masing-masing unit memberikan tausiyah kepada para siswa. “Isi tausiyah terutama seputar sejarah Idul Qurban dan hikmah berkurban,” kata Marhali.(***)

sumber: republika.co.id

MEDIAKEPRI.CO.ID, Bandung – Guna mengikuti perkembangan zaman di bidang pendidikan dan menciptakan pembelajaran yang menyenangkan di kelas, Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Prakarya Internasional Bandung menerapkan metode pembelajaran virtual reality (VR) dalam mata pelajaran produktif rekayasa perangkat lunak (PRPL) dan teknik komputer jaringan (TKJ).

Wakil Kepala SMK Prakarya Internasional Bandung Bidang Kurikulum, Irwan mengatakan, metode ini juga untuk mengenalkan kepada guru mengenai media pembelajaran berbasis teknologi dalam menyongsong revolusi industri 4.0. 

“Langkah ini dilakukan guna memanfaatkan teknologi di dunia pendidikan yang semakin canggih. Selain itu, bisa menjadi ajang bagi guru untuk merancang berbagai pembelajaran yang tidak membosankan kepada peserta didik,” ujar Irwan saat dihubungi, Kamis (8 Agustus 2019).

Irwan menjelaskan, mengingat VR merupakan teknologi powerful dan menarik yang bisa meniru dunia nyata melalui komputer dengan melibatkan semua indera maka diperlukan pemahaman yang benar. Selain itu, teknologi ini juga untuk menunjang pendidikan dan meningkatkan efektivitas belajar siswa. 

Salah satunya, lanjut Irwan, teknologi ini bisa diterapkan dalam pelajaran matematika yang berkaitan dengan geometri. Dengan bantuan alat ini, siswa juga dapat bereksperimen menirukan berbagai objek di sekitar. Terutama di sekolah kejuruan, pembelajaran mengenai PRPL dan TKJ sangat terbantu. 

“Metode ini jelas berbeda dibandingkan metode lainnya. Selain up to date, cara ini juga sangat interaktif karena bisa memvirtualisasikan objek atau benda. Dalam artian, benda yang tidak ada tetapi seolah-olah ada lewat kacamata 3D tersebut,” paparnya seperti dalam laman disdik.jabarprov.go.id.

Irwan mengungkapkan, SMK PI Bandung sangat mempersiapkan metode pembelajaran VR. Bahkan, sebelumnya sekolah telah menggelar pelatihan dengan lembaga Training Shintar Virtual Reality dan Millea Lab pada Juli 2019. Hingga memasuki Agustus, sebagian besar guru telah menerapkan metode ini di dalam kelas. Namun, sebagian masih tahap mempelajari karena sistem dari Millea Lab konten aplikasi bagi creator VR masih dalam tahap pengembangan.

“Jadi, guru-guru masih membuat konten yang sederhana untuk diaplikasikan ke handphone Android dan bisa dilihat di kacamata VR. Ini juga sekaligus menjadi harapan bagi sekolah bisa menciptakan konten sendiri berbasis virtual reality yang nantinya bisa diaplikasikan,” ujarnya.

Metode ini ternyata pernah diteliti oleh Beijing Bluefocus E-Commerce Co.Ltd. dan Beijing iBokan Wisdom Mobile Internet Technology Training Institution. Di tahun 2016 menunjukkan bahwa teknologi VR yang diaplikasikan pada proses pendidikan memberikan hasil sangat positif. Ini dikaitkan dengan tingkat pencapaian siswa dalam penggunaan VR pada proses pembelajaran. (***)

sumber : galamedianews.com

REGULASI

Minggu | 04 Agustus 2019

Studi: Stres Akademik yang Rentan Dialami Siswa

MEDIAKEPRI, Sleman – Stres di kalangan siswa semakin menggejala dalam beberapa tahun terakhir. Sebuah studi menunjukkan bidang akademik jadi sumber utama stres pada siswa.

Dosen Jurusan Psikologi Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Kartika Nur Fatahiyah mengungkapkan, dari empat siswa ada satu siswa alami stres akademik tinggi. Ada beberapa faktornya mulai besarnya beban tugas, terlalu banyak materi yang harus dipelajari, kebutuhan siswa berprestasi akademik, tuntutan akademik yang diperkuat tekanan orang tua sekolah sampai teman sebaya.

Selain itu, kondisi kelas dan tidak mendukungnya sumber-sumber yang ada untuk meraih prestasi akademik turut menjadi faktor lain. Bahkan, ia merasa, faktor budaya memiliki peran timbulnya stres.

Ia menekankan, stres akademik yang dialami siswa sebagai dampak tuntutan, tekanan, beban akademik membutuhkan optimalisasi sumber daya individu untuk menghadapi dan mengatasinya.

“Salah satunya dengan afek positif,” kata Kartika saat menjalani ujian terbuka program doktor di Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Selasa, 30 Juli 2019 lalu.

Ia menerangkan, afek positif sebagai pengalaman subjektif seseorang yang menyenangkan dan menunjukkan kondisi energi tinggi, konsentrasi penuh, dan siaga. Afek positif berperan penting.

Utamanya, dalam mendorong kesuksesan di berbagai bidang kehidupan. Serta, jadi komponen kunci penilaian dan cara menghadapi tekanan yang efektif menghadapi situasi penuh tekanan.

Sebab, mampu mengembangkan ketahanan psikologis untuk tumbuh dan keluar dari situasi merugikan. Melakukan penelitian ke 724 siswa SMP di Kabupaten Sleman, Kartika menggali lebih peran afek positif.

Khususnya, dalam memperluas dan membangun sumber-sumber pertahanan diri. Hasilnya, afek positif tidak berpengaruh terhadap stres akademik melalui koping proaktif dan orientasi tujuan penguasaan.

“Hal ini disebabkan tidak adanya pengaruh koping proaktif dan orientasi tujuan penguasaan,” ujar Kartika.

Namun, perlu diperhatikan walaupun afek positif berpengaruh kepada koping proaktif dan orientasi tujuan penguasan berpengaruh terhadap stres akademik.

“Tidak adanya pengaruh koping proaktif terhadap orientasi tujuan penguasaan menjadikan afek positif tidak berpengaruh kepada stres akademik,” kata Kartika. (***)

sumber:republika.co.id

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Untuk menyiapkan generasi alfa menjadi Anak Unggul Indonesia, DANCOW Advanced Excelnutri+ bersama Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) meluncurkan ‘Dongeng Aku Dan Kau’ sebagai bentuk kontribusi dalam melestarikan kekayaan budaya Indonesia serta mendukung tumbuh kembang Si Buah Hati dalam menyeimbangkan nutrisinya.

Brand Manager DANCOW Advanced Excelnutri+ Lydia Sahertian mengatakan sebagai mitra terpercaya orang tua Indonesia, pihaknya senantiasa mengajak para orang tua Indonesia untuk berperan aktif dalam proses tumbuh kembang optimal Si Buah Hati dengan memberikan gizi yang seimbang untuk melindungi Si Buah Hati dalam bereksplorasi dan memberikan stimulasi yang tepat sesuai usia pertumbuhan.

“Kita juga mendukung Si Buah Hati dengan berkata ‘iya boleh’ sebagai bentuk cinta orang tua. Ketiga hal ini akan membantu Si Buah Hati untuk tumbuh menjadi Anak Unggul Indonesia yang memiliki lima karakter penting, yakni berani, cerdas, kreatif, peduli dan pemimpin,” ujar Lydia.

Menurut Lydia bentuk stimulasi yang dapat dilakukan orang tua terhadap Si Buah Hati adalah dengan memperkenalkannya kepada ‘Dongeng Aku Dan Kau’, yaitu 15 dongeng asli Indonesia yang dikemas dalam bentuk menarik dan interaktif sesuai usia pertumbuhan anak.

“Tersedia dongeng untuk tiap usia pertumbuhan, seperti dongeng Burung Cendrawasih untuk usia 1 tahun keatas, dongeng Raja Parakeet untuk usia 3 tahun keatas, serta dongeng Timun Mas untuk usia 5 tahun keatas,” terangnya.

Sementara itu, Asisten Deputi Pemenuhan Hak Anak Atas Kesehatan dan Kesejahteraan KPPPA RI, Hendra Jamal menyambut baik kemitraan dengan DANCOW Advanced Excelnutri+ dalam upaya mencari solusi terkait perlindungan dan pemenuhan hak anak Indonesia.

“Setiap anak memiliki hak-hak seperti pendidikan, pemanfaatan waktu luang, dan kegiatan budaya yang harus dipenuhi oleh setiap elemen masyarakat, terutama oleh keluarga sendiri. Agar tumbuh kembang Si Buah Hati optimal dan kelak menjadi Anak Unggul Indonesia, kami percaya peran orang tua begitu penting untuk berperan aktif dan berinisiatif dalam melakukan aktivitas yang kreatif dan imajinatif bersama Si Buah Hati, agar kelak menjadi Anak Unggul Indonesia,” ujar Hendra.

Hal ini pun turut mendapat komentar positif dari Peneliti dan Pakar Dongeng Anak, Dr. Murti Bunanta SS.,MA. yang mengatakan setiap dongeng yang disampaikan oleh orang tua tidak hanya berperan dalam mendukung stimulasi anak tapi memiliki banyak manfaat, salah satunya mengembangkan daya imajinasi.

“Adanya semangat mendongeng dan memperkenalkan cerita Nusantara yang melibatkan peran orang tua adalah hal positif yang patut diapresiasi. Sepatutnya, cerita rakyat juga dapat membantu mempererat hubungan orang tua dengan anak sambil menanamkan nilai-nilai moral yang positif bagi pembentukan karakter Anak Unggul Indonesia ke depannya,” jelas Murti.

Psikologis Klinis, dra. Ratih Ibrahim, M.M., juga mengatakan mendongeng adalah sebuah proses stimulasi yang menyenangkan bagi Si Buah Hati, dan bermanfaat untuk mengembangkan daya imajinasi, kemampuan bahasa dan ekspresi emosi secara lebih baik.

“Membacakan ‘Dongeng Aku Dan Kau’ juga dapat membantu mempererat hubungan orang tua dengan anak sambil menanamkan nilai-nilai moral yang positif bagi pembentukan karakter Anak Unggul Indonesia ke depannya,” ujar Ratih

Dongeng Aku Dan Kau juga diyakini dapat melestarikan dongeng asli dan nilai-nilai warisan budaya Indonesia. Karena itu, DANCOW Advanced Excelnutri+ juga berkolaborasi dengan DAMN! I Love Indonesia, sebuah brand lokal yang berupaya menginspirasi generasi muda Indonesia agar semakin mencintai nilai dan sejarah Indonesia, dengan meluncurkan kaos bertema karakter dari dongeng Timun Mas.

“DAMN! I Love Indonesia hadir dengan semangat untuk memperkenalkan Indonesia dengan cara yang revolusioner. Saat ini DAMN berkolaborasi dengan DANCOW Advanced Excelnutri+ untuk menyampaikan kearifan lokal dalam dongeng anak dengan media baru. Nilai keberanian dan pantang menyerah dalam dongeng Timun Mas disampaikan melalui ilustrasi dan karakter dalam koleksi kolaborasi ini,” ujar Chief Executive Officer DAMN! I Love Indonesia Daniel Mananta.(***)

sumber:detiknews

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Sebanyak 540 siswa dan tenaga pengajar di SMKN 4 Jakarta, Jl Rorotan VI, No 1, Cilincing, Jakarta Utara, mengikuti sosialisasi dan pelatihan penanggulangan kebakaran menggunakan alat pemadam api ringan (APAR).

“Sosialisasi ini juga kita harap bisa membangun generasi penerus yang peduli bahaya kebakaran, “

Kepala Suku Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Sudin Gulkarmat) Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu, Satriadi Gunawan mengatakan, kegiatan ini untuk memberdayakan siswa dan guru melakukan penanganan dini bila terjadi kebakaran di sekolah.

“Sosialisasi ini juga kita harap bisa membangun generasi penerus yang peduli bahaya kebakaran dan mampu melakukan penanganan dini,” ujar Satriadi, Rabu, 17 Juli 2019.

Randi, siswa kelas X SMKN 4 Rorotan, mengaku senang bisa ikut serta dalam sosialisasi dan simulasi penangangan kebakaran yang dilaksanakan di sekolahnya. Karena dirinya mendapat pengetahuan teknis tentang menangani kebakaran dini.

“Saya jadi mengerti dan yakin bagaimana melakukan pemadaman jika terjadi kebakaran akibat kompor gas,” tandasnya. (***)

sumber: beritajakarta.id

MEDIAKEPRI.CO.ID, Palembang – Polisi secara maraton telah memeriksa sejumlah saksi terkait siswa SMA Taruna Indonesia, Delwyn Berli (14) yang meninggal dunia ketika MOS. Polisi menyebut banyak temuan dan akan ada tersangka di kasus ini.

“Banyak temuan-temuan yang janggal. Nanti kami (beri tahu) di rilis,” tegas Kapolresta Palembang, Kombes Didi Hayamasyah saat dikonfirmasi lewat telepon, Senin, 15 Juli 2019.

Hasil temuan tersebut, lanjut Didi, dilihat dari hasil pemeriksaan dokter forensik di RS Bhayangkara Polda Sumsel. Di mana ada luka serius di tubuh korban dan luka di kepala bagian belakang.

Dari temuan di lapangan, mantan Kabid Propam Polda Sumsel ini pun yakin ada tersangka di kasus tersebut. Namun dia belum mau membeberkan karena hasil forensik baru diterima sore ini.

“Kalau dilihat dari hasil autopsi pasti (ada tersangka), karena di kepala pecah juga itu belakangnya,” jawab Didi menjawab pertanyaan wartawan apakah ada tersangka dalam kasus ini.

Untuk diketahui, Delwyn Berli Juliandro (14) meninggal di RS Myria, Palembang.

Korban disebut sempat kejang-kejang dan pingsan saat mengikuti rangkaian kegiatan MOS, Jumat, 12 Juli 2019 malam.

Melihat kondisi korban kejang, panitia pun langsung membawa korban ke RS Myria. Korban dilaporkan meninggal pada Sabtu, 13 Juli 2019 sekitar pukul 04.00 WIB.

Ibu kandung korban, Berce (41), yang tak terima langsung melaporkan kejadian ini ke Polresta Palembang. Dalam laporan itu, Berce melihat banyak luka lebam di tubuh putranya.

Polisi yang mendapat laporan langsung menuju SMA Taruna Indonesia di Jalan Pendidikan, Sukarami Palembang. Dari sekolah, polisi pun membawa beberapa orang saksi untuk dimintai keterangan.

Sementara untuk hasil pemeriksaan tim secara keseluruhan bakal disampaikan ke Kapolda Sumsel Irjen Firli, malam ini di Mapolresta Palembang. Selain Kapolda, ada juga pihak dari Kementerian dan dinas terkait yang hadir.(***)

sumber: detik.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Hari ini, Senin 15 Juli 2019 merupakan hari pertama masuk sekolah.

Orangtua tentu semangat untuk mengantarkan anak ke sekolah dan menyapa guru.

Pada momen bahagia seperti ini, biasanya orangtua semangat menyebarkan foto-foto seru bersama anak ke media sosial.

Tapi ingat, ada beberapa hal perlu diingat orangtua sebelum menyebarkan foto tersebut ke media daring.

Beberapa resiko perlu diwaspadai orangtua saat mengunggah foto anak di media sosial, kejahatan pedofilia atau predator anak, perundungan (bullying), perampokan, penculikan, pencurian identitas dan bahaya lainnya.

Dilansir dari laman resmi Sahabat Keluarga Kemendikbud, berikut beberapa hal perlu diperhatikan sebelum orangtua mengunggah foto hari pertama sekolah anak di media sosial: 7 hal penting saat unggah foto hari pertama sekolah

1.Jangan memasang identitas lengkap anak, seperti nama lengkap, tanggal, lahir, nama sekolah, alamat sekolah, nomor telepon, dan lainnya.

2.Hati-hati, pastikan fitur geo-tagging atau penanda lokasi dimatikan saat memutuskan memasang foto anak.

3.Bila ingin berbagi foto anak, sebaiknya terbatas pada keluarga dan lingkungan dekat yang bisa dipercaya, tidak kepada publik luas.

Setiap media sosial bisa mengatur jenis privasi dan peredaran foto.

4.Jangan memasang foto anak yang memungkinkan ia mendapatkan pelecehan, penghinaan dan perundungan.

5.Pikirkan dari sisi anak, apakah ia akan senang dangan foto yang dipasang, atau malah akan merasa malu dan sedih.

6.Jangan memasang foto anak lain tanpa seizin orangtuanya.

7.Ajak keluarga dan teman untuk berhati-hati saat memasang foto anak.

5 pertanyaan penting untuk sekolah

Selain itu, ada beberapa hal penting perlu ditanyakan orangtua kepada pihak sekolah saat bertemu guru atau kepala sekolah di hari pertama sekolah:

1.Adakah informasi mengenai program sekolah?
2.Bagaimana sekolah dalam menangani masalah kesiswaan, baik masalah akademik maupun non akademik?
3.Apa saja kegiatan ekstrakulikuler yang bisa diikuti anak?
4.Adakah nomor telepon wali kelas atau sekolah yang bisa dihubungi?
5.Adakah jadwal rutin pertemuan antara orangtua dengan wali kelas?

Jika tidak ada, apakah orangtua bisa mengatur sendiri pertemuan dengan wali kelas? (***)

sumber: kompas.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Pendaftaran calon siswa baru di sekolah favorit membuat para orang tua harus rela datang lebih awal bahkan ada yang sampai menginap demi mendapatkan nomor antrian.

Seperti yang dialami oleh salah seorang pendaftar di SMAN 3 Bogor, dirinya sudah datang lebih awal namun nyatanya nomor antrian yang diterima sudah nomor urut ratusan, karena ternyata banyak pendaftar yang sudah stand by dari dini hari bahkan menginap.

Sayangnya, setelah perjuangan mengantri yang cukup memakan waktu itu menghasilkan kekecewaan pada sebagian pendaftar. Pasalnya, jumlah antrian yang dibatasi sehingga tidak semua pendaftar di hari itu bisa melakukan pendaftaran di hari yang sama, alhasil mereka harus kembali di keesokan harinya dan mendaftar kembali.

Belum lagi sistem zonasi yang diterapkan saat ini, bukan jaminan ketika nomor urut antrian awal belum tentu bisa diterima di sekolah favorit. Karena yang lebih diutamakan adalah mereka yang berada di zona terdekat dengan sekolah, bahkan sekalipun mereka adalah siswa berprestasi tak mudah untuk diterima, karena hanya sebesar 5 persen saja yang bisa diterima di setiap sekolah negeri.

Sungguh miris, melihat setiap tahunnya kebijakan dalam penerimaan calon siswa baru selalu berubah-ubah, membuat orangtua ketar-ketir mencari sekolah untuk sang anak. Padahal sebelumnya setiap siswa telah mengikuti ujian untuk kelulusan dengan usaha mendapatkan nilai yang tinggi agar bisa masuk sekolah yang diidamkan. Namun, semua akan menjadi sia-sia ketika kebijakan setiap tahunnya berubah membuat siswa merasa jerih payahnya tak diapresiasi oleh pemerintah.

Sistem pendidikan yang masih carut marut, tak bisa memfasilitasi kebutuhan setiap pelajar mendapatkan kemudahan. Masyarakat dibuat bingung dan kesulitan saat tahun ajaran baru dimulai. Mulai dari pendaftaran hingga biaya yang akan dikeluarkan, terlebih mereka yang bersekolah di swasta maka biaya yang dikeluarkan akan lebih banyak alias mahal.

Beginilah ketika sistem pendidikan bukan di bawah naungan sistem Islam, semua berjalan sesuai kepentingan dan perintah atasan, menjadi bahan percobaan. Alangkah baiknya kebijakan pendaftaran sekolah tak lagi membuat para orang tua resah. (***)

sumber: republika.co.id

MEDIAKEPRI.CO.ID, Lombok – Upaya keluarga dan tim pendamping Aldi Irpan, siswa kelas XII jurusan IPS, SMAN 1 Sembalun, Lombok Timur, NTB, untuk menganulir keputusan Kepsek yang tidak meluluskan Aldi kandas di tengah jalan.

Pasalnya, Kepala Dinas Pendidikan dan kebudayaan (Dikbud) NTB Rusman mengaku baru menjabat selama dua minggu dan tidak bisa membuat keputusan dengan cepat terkait kasus Aldi.

Dia juga mengaku sistem pendidikan di NTB belum sepenuhnya baik dan sebagai kepala Dikbud yang baru dirinya harus menghormati keputusan kepala sekolah SMAN 1 Sembalun Sadikin Ali yang tidak meluluskan Aldi.

Sopir Itu Tidak Tahu Kalau Truk yang Dikendarainya Menggilas Bayi 18 Bulan hingga Tewas, Ini Kronologinya

Hal itu disampaikannya saat Aldi, keluarganya serta tim pendamping mendatangi Dikbud NTB mengadukan masalah yang dihadapinya, Selasa, 21 Mei 2019.

Tim pendamping terdiri atas Pusat Kajian dan Bantuan Hukum Universitas Mataram (PKBH Unram), Aliansi Gerakan Reforma Agraria (AGRA), Serikat Perempuan Indonesia (Seruni), serta Alumni SMAN 1 Sembalun.

“Saya baru menjabat dua minggu, jadi belum bisa memberikan keputusan. Untuk sementara ini saya harus menghormati keputusan kepala sekolah yang tidak meluluskan Aldi,” kata Rusman, Selasa, 21 Mei 2019.

Malang Benar Nasip Ati, Sebelum Ditemukan Tewas, Ini yang Dialami Asisten Rumah Tangga Ini

Rusman juga menyarankan agar Aldi dan tim yang membantunya untuk melaporkan kasusnya atau menyerahkan kasusnya ke Ombudsman NTB.

“Kami hanya bisa menyarankan agar menyampaikan kasus ini ke Ombudsman, apapun rekomendasi Ombudsman akan kami ikuti dan laksanakan,” ujarnya.

Jawaban Rusman sempat memicu emosi pendamping Aldi.

Tim pendamping memintanya agar bertangungjawab sebagai pemegang kebijakan dalam menyelesaikan masalah yang terkait langsung dengan mental dan kualitas pendidik di NTB.

Sempat Berhenti, Massa Kembali Lempari Batu Stasiun Tanah Abang, Penumpang Menumpuk

Pembicaraan yang alot itu pun harus berakhir dengan kekecewaan pihak Aldi.

Dia dan keluarganya kemudian memilih meninggalkan kantor Dikbud NTB.

“Saya tetap akan berusaha dan berdoa. Saya tetap menghormati pak guru, kepala sekolah, semoga hatinya terbuka memberikan hak-hak saya sebagai siswa mendapatkan kelulusan,” kata Aldi, anak petani bawang di Desa Sembalun, Lombok Timur ini.

Tim pendamping Aldi mengaku kecewa dengan sikap Kepala Dikbud NTB Rusman.

Sebab tim sudah membeberkan sejumlah fakta lapangan yang menunjukkan adanya kekeliruan keputusan Kepsek SMAN 1 Sembalun Sadikin Ali.

Ngabuburit Bareng Paguyuban Saund System dan Banser NU, Danramil Batangan Bagikan Takjil

Berdasarkan temuan tim, Kepsek tidak meluluskan Aldi karena sentimen pribadi dan tiga guru lainnya yakni guru BP dan Kesiswaan.

Di sisi lain, belasan guru di SMA itu keberatan dengan keputusan Kepsek.

“Kami sebagai warga Sembalun dan juga alumni SMAN 1 Sembalun menilai keputusan kepala sekolah dan tiga guru lainnya hanya keputusan sepihak yang tidak berdasar.

Bagaimana mungkin anak yang selama ini menjadi ketua kelas, pengurus OSIS, pelatih Pramuka, dinilai berperilaku dan berkarakter buruk di sekolahnya. Ini sangat tidak masuk akal,” kata Royal Sembahulun, salah satu alumni SMAN 1 Sembalun yang jadi tim pendamping Aldi.

Kekecewaan yang sama dirasakan oleh Rizal Sembapala, salah satu guru Aldi.

Dia mengaku mewakili para guru yang selama ini merasa tertekan atas kebijakan kepala sekolah.

Menurut dia, banyak kejanggalan atas tidak diluluskannya Aldi.

“Kalau Dikbud mau mengetahui yang sebenarnya bisa meminta keterangan para guru satu per satu, jangan beramai-ramai

apalagi ada kepala sekolahnya. Mereka akan terbuka tanpa tekanan menjelaskan semua yang mereka tahu dan rasakan atas

keputusan itu. Kebijakan kepala sekolah yang arogan membuat para guru memilih diam,” kata Rizal.

Permintaan maaf orangtua Aldi ditolak

Nuin, ayah Aldi, menginginkan agar Aldi diluluskan lantaran syarat kelulusan terpenuhi dan nilai Aldi selalu masuk 10 besar.

Sementara nilai Ujian Nasionalnya juga peringkat kedua di jurusannya.

Menurut Nuin, pihak keluarga sudah meminta maaf ke Kepsek agar ancamannya tidak meluluskan Aldi tidak dilaksanakan.

Pihak keluarga Aldi datang pada hari Minggu, dan menurut Kepsek, hari Minggu bukanlah jam kerjanya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Aldi Irfan tidak diluluskan atas keputusan kepala sekolah karena dinilai terlalu kritis memprotes kebijakan sekolah.

Ada tiga hal yang memberatkannya yakni protes karena dilarang memakai jaket di sekolah, beberapa kali terlambat dan parkir sembarangan.

Tiga hal itu membuat Aldi dicap berperilaku buruk. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Garut – Kelulusan siswa kelas XII SMKN 1 Garut dirayakan dengan hal berbeda.

Para siswa dan guru menggelar buka puasa bersama sebagai rasa syukur.

Selain buka bersama, para siswa juga mengumpulkan seragam sekolah.

Langkah itu dilakukan pihak sekolah agar kelulusan tak dirayakan berlebihan.

Kepala Sekolah SMKN 1 Garut, Dadang Johar Aripin mengatakan, 100 persen siswa kelas XII lulus ujian nasional.

Pihaknya memundurkan pengumuman kelulusan hingga buka puasa agar tak ada konvoi perayaan.

“Agendanya itu jam 14.00 sebenarnya. Tapi kami mundurkan ke sore hari dan (sekalian) melaksanakan buka bersama. Tujuannya agar tak ada corat-coret seragam dan konvoi,” ucap Dadang di SMKN 1 Garut, Jalan Cimanuk, Senin, 13 Mei 2019.

Pihaknya tak menginginkan para siswa menggelar perayaan secara berlebihan.

Apalagi pengumuman kelulusan dilakukan pada bulan Ramadan.

“Kami tak ingin anak-anak malah bikin macet di jalan karena ugal-ugalan bawa motor. Jadi mending berdoa di sekolah dan lebih bermanfaat,” katanya.

Seragam para siswa, lanjutnya, juga telah dikumpulkan.

Nantinya akan dibagikan kepada panti asuhan, adik kelas di sekolah, dan siswa di luar sekolah yang membutuhkan.

Syilffa mutia sofian (17), siswa kelas XII mengaku jika pengumpulan seragam sekolah lebih bermanfaat. Ketimbang harus mencorat-coret seragam.

“Masih bagus juga pakaiannya. Jadi bisa dimanfaatkan. Inisiatif juga sama temen seangkatan biar lebih bermanfaat,” kata Syilffa. (***)

sumber: tribunnews.com

REGULASI

Sabtu | 16 Februari 2019

Ratusan Pelajar Ikuti Kuiz Rangking 1

MEDIAKEPRI.CO.ID, Bangka – Pelajar tingkat sekolah menengah umum sederajat akan mengikuti Kuiz Rangking 1 yang digelar Yayasan Rudi Center dan Bangka Pos.

Sekitar 200 pelajar akan berkompetisi dalam ajang Kuiz Ranking 1 yang berlangsung di Hotel Santika Bangka, Sabtu, 16 Februari 2019.

Koordinator EO Bangka Pos, Fatonah menjelaskan kuiz ini banyak diminati oleh siswa.

Dilihat dari yang mendaftar menurut Fatonah, animo siswa yang mau berkompetisi pada ajang ini banyak. Namun dalam kompetisi ini hanya dibatasi 200 peserta.

“Pesertanya memang kami targetkan untuk 200 orang siswa,” ungkap Fatonah, Jumat, 15 Februari 2019.

Peserta yang mendaftar merupakan dari 20 sekolah tingkat SMA sederajat di Kota Pangkalpinang. Namun ada dua sekolah yang tidak mengirimkan peserta dikarenakan ada agenda lain.

Ketua DPC PDI Perjuangan Pangkalpinang, Abang Hertza mengemukakan Kuiz Ranking 1 merupakan Program Yayasan Rudi Center. Dimana wujud kepedulian Rudianto Tjen sebagai Pendiri Yayasan Rudi Center.

“Pak Rudianto Tjen ini peduli pada bidang pendidikan, terutama bagi siswa-siswa yang berprestasi jenjang SMA sederajat, ” ungkap Abang Hertza.

Program ini katanya menyentuh langsung masyarakat, terutama pada anak-anak yang berprestasi.

“Ini merupakan wadah siswa untuk berkompetisi melalui kegiatan kuiz,” katanya.

Dijelaskan Abang Hertza, anak-anak yang cerdas dan potensial akan bisa dipantau.

Rudianto Tjen ini tidak hanya peduli pada bidang pendidikan namun peduli terhadap kesehatan masyarakat di Babel.

“Baru-baru ini dilaksanakan kegiatan bakti sosial (baksos) operasi mata katarak gratis serta kegiatan sosial kemasyarakatan juga merupakan komitmen PDI Perjuangan di Bangka Belitung,” jelasnya. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Pendaftaran Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) dibuka hari ini, Senin, 4 Februari-14 Februari 2019. Namun di hari pertama, siswa menemukan kesulitan mengakses laman https://web.snmptn.ac.id untuk mendaftar, karena adanya gangguan pada sistem server.

Guru SMA Negeri 1 Cikalong Wetan, Bandung Rahmat Hidayat mengungkapkan kebingungan dalam pendaftaran SNMPTN di hari pertama kali ini. Yakni tidak adanya batasan kuota bagi siswa untuk mendaftar SNMPTN.

“Harusnya untuk sekolah kami karena terakreditasi A, hanya 40 persen siswa saja yang bisa mendaftar. Tapi ternyata ini dicoba kok bisa masuk semua,” kata Rahmat.

Seperti diketahui, jumlah siswa yang berhak mendaftar SNMPTN telah ditentukan berdasarkan pemeringkatan nilai oleh sistem Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi (LTMPT). Besarnya kuota tiap sekolah ditetapkan berdasarkan status akreditasi masing-masing sekolah, yakni sekolah akreditasi A (40% nilai terbaik siswa di sekolah), akreditasi B (25% siswa), dan akreditasi C (5% siswa).

Selain itu, kata Rahmat, sistem di server SNMPTN juga tidak konsisten saat siswa melakukan log in. “Pertama buka bisa, 2-3 menit kemudian tidak bisa, buka lagi bisa, tidak konsisten, ini membingungkan para siswa,” tegas Ketua bidang kurikulum Pengurus Pusat Ikatan Guru Indonesia (IGI) ini.

Hingga saat ini, sekolah menunggu arahan resmi dari pihak LTMPT agar secepatnya penjelasan dari pihak LTMPT tersebut dapat disosialisasikan kepada siswa. “Kami masih menunggu kabar, jadi kami belum bisa beri arahan kepada siswa,” ujar Rahmat.

Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi (LTMPT) akan mengumumkan siswa yang masuk pemeringkatan dan eligible (berhak) mendaftar SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri) hari ini, Senin, 4 Februari 2019 mulai pukul 08.00-15.00 WIB. Jumlah siswa yang berhak mendaftar di SNMPTN 2019 sebanyak 613.860 siswa.

Ketua LTMPT, Ravik Karsidi mengatakan, jumlah sekolah yang siswanya memenuhi syarat bisa mendaftar di SNMPTN 2019 sebanyak 14.744 sekolah. “Bagi siswa yang eligible dapat segera mendaftar mulai 4 Februari pukul 14.00 WIB sampai tanggal 14 Februari 2019,” seru Ravik, di Jakarta, Minggu malam, 3 Februari 2019.

Proses pendaftaran SNMPTN diperuntukkan bagi siswa Pendaftar yang memenuhi kriteria pemeringkatan oleh LTMPT, menggunakan NISN (Nomor Induk Siswa Nasional) dan password log in ke laman SNMPTN 2019 https://web.snmptn.ac.id untuk melakukan pendaftaran. (***)

sumber: metrotvnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Kayong Utara – Program belajar khusus warga buta huruf di Kabupaten Kayong Utara dihentikan sampai 2018.

Kepala Seksi Kurikulum dan Penilaian Dinas Pendidikan Kayong Utara, Syarifah Masna mengatakan, program yang berlangsung setiap Juli-Desember itu terpaksa dihentikan karena tak ada anggaran.

“2019 ini ndak ada lagi dah. Bukan ndak ada, yang udah jelas itu anggarannya ndak ada. Kita pun tahu kan sekarang kan istilahnya berkurang anggaran-anggaran,” kata Masna di Kantor Dinas Pendidikan Kayong Utara, Sukadana, Jumat, 1 Februari 2019.

Singgung Kasus Hoax, Kejujuran Ratna Sarumpaet Dapat Acungan Jempol dari Jokowi

Akan tetapi, kata Masna, apabila kedepan masih banyak ditemukan warga buta huruf, kemungkinan program dilanjutkan kembali.

Menurut Masna, sebenarnya hal yang paling penting untuk menyelesaikan permasalahan tuna aksara ini, ialah dengan memperkuat sinergi antara Dinas Pendidikan, Pemerintah Desa, dan Disdukcapil.

Tak Perlu Marah-marah, Begini Cara Kontrol Emosi saat Ketahuan Dibohongi

Data warga buta huruf dari Pemerintah Desa atau Disdukcapil sangat diperlukan agar Dinas Pendidikan lebih mudah merancang program pengentasannya.

“Kita validkan data dulu. Jadi, bukan apa, kalau kami ini di Dinas pendidikan, ndak mungkinlah kami data, bukan tugas kami. Ini kan datanya desa atau Capil,” ujar Masna. (***)

sumber: tribunnews.com

Pemkot Depok sudah mengirimkan tim psikolog.

MEDIAKEPRI.CO.ID, Depok – Seorang siswi SD yang berdomisili di Kelurahan Sukamaju, Cilodong, Kota Depok mengalami trauma. Ini setelah dia mendapat hukuman 100 kali melakukan push up dari oknum kepala sekolah SDIT di Bonjonggede, Bogor.

Siswi bernama GSN (10 tahun) dihukum lantaran belum membayar Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP) bulanan. “Saya dihukum 100 kali push up oleh kepala sekolah karena belum bayar SPP. Saya ikuti, baru 10 kali, saya nggak kuat karena tangan dan perut saya mulai sakit. Saya nggak mau sekolah, takut,” ujar GSN saat ditemui sejumlah wartawan di rumahya di Kampung Sidamukti RT 05/RW 10, Kelurahan Sukamaju, Kecamatan Cilodong, Kota Depok, Selasa, 29 Januari 2019.

GSN yang duduk kelas IV ini mengutarakan, hukuman push up sudah dua kali didapatkannya karena telat membayar SPP. “Teman-teman lainnya juga disuruh push up kalau telat membayar SPP. Pak kepala sekolah juga bilang kalau nggak bayar SPP nggak boleh ikut ujian. Saya nggak mau lagi sekolah disitu, takut,” tegasnya.

Dengan kejadian yang menimpa anaknya, HD (40) tak mau berpekara dan segera memindahkan anaknya ke sekolah yang dekat rumahnya di kawasan Cilodong, Depok. “Saya bukan tidak mampu bayar, cuma karena telat, itupun soal mis informasi. Saya sudah protes ke kepala sekolah. Anak saya sudah nggak mau sekolah disitu lagi. Sudah 10 hari nggak sekolah, dia trauma. Terpaksa saya pindahkan sekolahnya. Sekarang saya sedang urus surat pindah. Rencananya pindah ke sekolah di Cilodong, Depok,” tuturnya.

HD berharap, pihak sekolah dimanapun juga jangan menghukum anak-anak dengan push up dan kekerasan. “Saya berharap tidak ada anak-anak yang dihukum push up dan kekerasan yang membuat anak-anak takut bersekolah,” harapnya.

Kepala Sekolah SDIT Bina Mujtama Bojonggede, Bogor, Budi, membenarkan adanya aturan hukuman push up bagi siswa yang telat membayar SPP. “Ya, benar, GSN kami hukum push up karena belum bayar SPP. “Ini bukan hukuman tapi aturan sekolah. Aturan itu merupakan bentuk peringatan kepada orang tua yang lalai membayar SPP. Kita dan orang tua sama-sama mempunyai tanggungjawab mendidik anak,” jelas Budi.

Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Depok, Mohammad Thamrin menegaskan, pihaknya melarang adanya hukuman displin dengan push up, di suruh pulang dan bentuk-bentuk hukuman kekerasan lainnya.

“Kami melarang adanya hukuman seperti itu. Itu kejadiannya di sekolah di Bogor. Di Depok tidak ada sanksi belum bayar SPP, siswa yang menanggung hukumannya. Kami mengimbau untuk menerapkan sanksi yang kreatif tidak membuat siswa trauma. Contohnya, siswa yang telat masuk jangan disuruh pulang tapi diberi peringatan dan sebaiknya diberikan sanksi displin dengan membersihkan taman, membersihkan kaca atau menyapu halaman,” tuturnya.

Kepala Dinas Perlindungan Anak Pemberdayaan Masyarakat dan Keluarga (DPAPMK) Kota Depok, Nessy Annisa Handari menambahkan, pihaknya sudah mendapat laporan adanya siswi SD di Depok yang trauma sekolah karena hukuman push up yang diterimanya. “Kami sudah kirimkan tim psikolog untuk menemui GSN, mendampinginya dan menghiburnya agar traumanya pelan-pelan dilupakannya,” ungkapnya.

Nessy mengutarkan akan segera berkoordinasi dengan Disdik Kota Depok untuk segera membantu mencarikan sekolah baru buat GSN.

Kami akan bantu GSN dapat bersekolah di SD negeri di Depok. Kami akan terus mendampingi GSN hingga traumanya hilang dan dapat dengan senang untuk bersekolah. Kami berharap, para guru menjadikannya sekolah itu tempat menyenangkan bagi anak bukan tempat yang menakutkan,” katanya. (***)

sumber: republika.co.id

MEDIAKEPRI.CO.ID, Mojokerto – Siswi kelas XI SMAN 1 Gondang, Mojokerto Mas Hanum Dwi Aprilia lumpuh akibat menjalani hukuman squat jump di sekolahnya.

Hukuman itu dijatuhkan ke korban sebanyak 90 kali. Begini penjelasan pihak sekolah.

Kepala SMAN 1 Gondang Nurul Wakhidah mengatakan, hukuman itu diterima Hanum saat mengikuti Unit Kegiatan Kerohanian Islam (UKKI) di sekolahnya, Jumat, 13 Juli 2018 pagi.

Gara-garanya, siswi kelas XI IPS 2 ini terlambat datang di ekstra kurikuler (ekskul) tersebut. Saat itu UKKI mengadakan pelatihan untuk promosi ekskul ke siswa baru.

“Informasi dari anak-anak, waktu itu ada kesepakatan di antara teman-temannya, kalau terlambat datang ada hukuman. Seniornya anak-anak kelas XII menyampaikan hukumannya hafalan surat pendek (Alquran), tapi anggotanya tak mau, minta squat jump. Sudah diingatkan seniornya jangan hukuman itu karena keras. Kesepakatan kelompok tersebut hukumannya tetap squat jump,” kata Nurul kepada wartawan di kantornya, Kamis, 19 Juli 2018.

Saat itu, lanjut Nurul, ada siswa lainnya yang juga terlambat datang. Hanum dan temannya itu masing-masing harus menjalani 60 kali squat jump.

Sayangnya, teman Hanum hanya mampu melakukan squat jump sebanyak 30 kali. Sisa hukuman ini justru dibebankan ke Hanum. Selesai melakukan 60 kali squat jump, pelajar asal Krian, Sidoarjo ini harus melakukan lagi sebanyak 30 kali.

“Sehingga 90 kali squat jump dijalani Hanum sampai selesai. Saat itu dia masih sempat melanjutkan kegiatan, tak langsung jatuh sakit (lumpuh), hanya kakinya katanya sakit semua,” ujarnya.

Nurul menjelaskan, saat kegiatan UKKI berlangsung, tak ada satu pun guru yang mendampingi. Menurut dia, para siswa anggota UKKI menggelar kegiatan tanpa izin pembina ekskul, Pembina OSIS maupun Wakasek Kesiswaan.

“Saat kegiatan itu, sekolah masih libur. Sehingga kami semua tak tahu kalau anak-anak membuat kegiatan itu,” terangnya.

Hanum mulai mengeluh sakit di kaki dan punggung usai dihukum squat jump sebanyak 90 kali pada Jumat (13/7) pagi. Saat itu korban terlambat datang di kegiatan ekskul Unit Kegiatan Kerohanian Islam (UKKI) di SMAN 1 Gondang, Mojokerto.

Pelajar yang juga nyantri di PP Al Ghoits, Desa/Kecamatan Gondang ini benar-benar lumpuh pada Rabu, 18 Juli 2018 pagi.

Pengasuh pondok pun membawanya ke pengobatan saraf alternatif di Desa Pandanarum, Pacet. Karena Hanum diperkirakan mengalami saraf tulang belakang terjepit. (***)

sumber: detik.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Ribuan pendaftar sekolah negeri tiba-tiba mengaku miskin. Mereka menyodorkan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) sebagai buktinya. Setelah dicek ke rumahnya, ternyata sebaliknya.

Hal ini terjadi di berbagai tempat, salah satunya di Banyumas, Jawa Tengah. Terdapat siswa yang orang tuanya mempunyai mobil bagus dan bekerja dengan penghasilan yang cukup besar. Selain itu, rumah yang ditempati juga tidak menunjukkan jika siswa tersebut berasal dari keluarga yang tidak mampu.

“Ada yang orang tuanya pegawai swasta dengan penghasilan yang tinggi. Bahkan ada pula yang orang tuanya memiliki rumah yang bagus dan tidak terlihat sebagai keluarga miskin,” ujar Kasi SMK, Balai Pengembangan Pendidikan Menengah dan Khusus (BP2MK) Wilayah V Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Provinsi Jateng, Kustrisaptono.

Panitia PPDB SMK Negeri 1 Purwokerto hingga saat ini masih terus melakukan proses rekap terhadap jumlah pendaftar yang menggunakan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM). Dari 1.314 pendaftar, 948 merupakan pendaftar yang menggunakan SKTM.

“54 pendaftar sudah mencabut berkas kemarin, yang lain masih dalam proses,” kata Kepala Sekolah SMK Negeri 1 Purwokerto, Asep Saeful Anwar.

Di Magelang, Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) Kota Magelang melakukan verifikasi terbaru terkait pengguna Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) dalam Pendaftaran Peserta Didik Baru (PPDB) SMA.

Hasilnya, sebanyak 305 calon siswa dari 1.443 kuota siswa yang terpenuhi di lima SMAN di Kota Magelang, diketahui menggunakan SKTM. Hasilnya, ada delapan calon siswa pengguna SKTM yang didiskualifikasi karena tidak sesuai penggunaan SKTM-nya.

Sementara itu, di Yogyakarta, Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) DIY akan menelusuri dugaan orang mampu yang mendaftarkan anaknya ke salah satu SMA N memakai Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM). Sebab, praktik tersebut melanggar aturan.

“Kita memang perlu telusuri (dugaan tersebut). Ketika kita tahu namanya persis, kita bisa segera (bertindak),” kata Kabid Perencanaan dan Standarisasi Disdikpora DIY, Didik Wardaya.

Dengan banyaknya orang-orang yang mendadak miskin, Gubernur Jateng menginstruksikan kepala SMA/SMK negeri melakukan survei lapangan terkait penyalahgunaan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM). Salah satu yang ditegur langsung adalah SMAN Mojogedang, Karanganyar. Hasilnya, ada 32 pendaftar yang diragukan kebenarannya.

Kepala SMAN Mojogedang langsung menindaklanjuti instruksi gubernur untuk melakukan survei mulai kemarin sore. Ada 138 pendaftar Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) yang dinilai harus disurvei.

“Sejak kemarin jam lima kami survei. Dari 138 orang, ada 32 yang menurut kami tidak masuk kategori miskin,” kata Purwadi.

Mengantisipasi hal itu, SMA di Brebes yang diburu banyak peminat membuat strategis khusus. Yaitu mewajibkan orang tua calon siswa yang menggunakan surat keterangan tidak mampu (SKTM) untuk menandatangani pakta integritas. Kebijakan ini ternyata cukup membuat orang tua calon murid yang ber-SKTM ciut nyalinya.

Mereka pun akhirnya menarik surat tersebut dalam syarat pendaftaran sekolah.

“SKTM memang sedang booming. Di SMAN 2 saja ada banyak yang melampirkan surat miskin ini. Warga yang mengaku ngaku miskin padahal kaya jika terbukti memalsukan bisa dipidana,” ujar Kepala SMA N 2 Brebes, Sadimin kepada wartawan, Selasa, 10 Juli 2018.

Menyikapi hal ini, Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X meminta Dinas Pendidikan di kabupaten/kota untuk melakukan pengawasan ketat.

“Saya minta dinas ketat untuk mengawasi baik di tingkat satu maupun kabupaten/kota. Izin yang diberikan harus tepat jangan menbohongi, itu pendidikan yang tidak baik,” kata Sri Sultan HB X di kantor Gubernur DIY di Kepatihan. (***)

sumber: detik.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Blora – Salah satu orang tua calon siswa yang gagal lolos dalam Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) di SMK Negeri 1 Blora, memilih melapor ke polisi. Dia menengarai dugaan penerbitan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) yang tidak sesuai fakta.

Priyanto Muda Prasetya, menyayangkan penggunaan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) yang menurutnya banyak tak sesuai. Dia kemudian memutuskan membuat laporan kepada pihak kepolisian, dengan dugaan pembuatan SKTM yang tidak sesuai fakta.

“Indikasinya itu jelas SKTM-nya abal-abal, alias aspal. Angka kemiskinan di Blora kan cuma 13 persen, mosok dari sekian banyak murid hampir 100 persen pakai SKTM semua. Dalam hal ini bisa dikatakan orang miskin semua ini,” terangnya kepada detikcom, Sabtu 7 Juli 2018.

“Ada 14 poin yang menjadi indikator miskin, dan itu tidak masuk kategori itu semua. 100 persen pendaftar yang diterima itu karena SKTM, padahal danemnya rendah,” lanjutnya.

Priyanto mengatakan, anaknya semula mendaftar di SMK Negeri 1 Blora. Namun kemudian dicabut karena berada di urutan bawah, kalah dengan para siswa yang mendaftar menggunakan SKTM meskipun nilai akhir mereka lebih rendah dari anaknya.

“Anak mendaftar di SMK 1, nilai akhirnya 20 lebih. Terakhir posisinya ada di bawah karena tidak ada SKTM. Dikalahkan sama yang bawa SKTM meskipun nilainya di bawah anak saya. Malah ada yang cuma nilai 18 tapi masuk peringkat dua,” katanya.

Karena tak lolos dalam PPDB SMK N 1 Blora, rencananya Priyanto akan mengalihkan anaknya untuk masuk di pondok pesantren.

Kasatreskrim Polres Blora, AKP Heri Dwi Utomo, saat dikonfirmasi mengaku akan langsung melakukan tindak lanjut atas pelaporan tersebut hari ini juga. Diawali dengan penyelidikan, para orang tua murid pemilik SKTM akan diperiksa satu persatu di rumah masing-masing.

“Ini kami langsung lidik, mengumpulkan data-data siswa yang lulus menggunakan SKTM dan akan kami cek satu per satu ke rumah siswa tersebut,” jelasnya. (***)

sumber: detik.com

MEDIAKEPRI.CO.ID – Ujian Nasional merupakan awal dari langkah yang besar, yaitu persaingan untuk mendapatkan bangku di perguruan tinggi idaman.

Berbagai persiapan tentu dilakukan oleh calon mahasiswa untuk masuk ke kampus yang diinginkan demi mencapai cita-cita dan pekerjaan yang telah didamba sejak lama.

Ada yang mengikuti bimbingan belajar sampai keluar kota, ada juga yang belajar sendiri di rumah dengan bermodalkan modul-modul yang mendukung.

Menentukan kampus dan jurusan menjadi salah satu keputusan terpenting, apalagi melihat jumlah kampus di Indonesia yang mencapai lebih dari 4.300 institusi pendidikan tinggi.

Banyak hal yang menjadi pertimbangan dalam memilihnya, karena keputusan ini akan berpengaruh pada masa depanmu kelak.

Seringkali, minimnya informasi dan ketidaktahuan akan minat atau bakat bisa menyebabkan masalah dan penyesalan di kemudian hari.

Contohnya seperti perguruan tinggi yang tidak sesuai harapan, tidak tertarik dengan bidang kuliah, hingga akhirnya tidak bisa menyelesaikan kuliah tepat waktu.

Oleh karena itu, pemilihan kampus dan jurusan yang tepat harus dipertimbangkan sejak dini dan dipersiapkan secara matang.

Berikut ini ada beberapa cara untuk menentukan kampus dan jurusan yang tepat agar sukses di kemudian hari:

1. Potensi diri

Buat kamu yang masih bingung untuk menentukan jurusan yang sesuai dengan minat dan bakat, segeralah konsultasi kepada pihak konseling di sekolahmu juga orangtua agar kamu semakin terarah. Perlu diingat, jurusan yang temanmu pilih belum tentu sesuai dengan diri kita. Jadi, tentukanlah minat dan bakatmu sesuai kata hati.

2. Lokasi kampus dan biaya

Lokasi perguruan tinggi yang diinginkan dapat memengaruhi banyak sedikitnya biaya yang dikeluarkan, untuk itu kamu harus benar-benar mempersiapkannya dengan matang, juga dengan dukungan orangtua agar kuliahmu lancar.

3. Profil kampus dan jurusan impian

Riset kecil-kecilan mengenai kampus tujuan itu penting. Kunjungi situs web kampus tujuan dan pahami jurusan yang diinginkan. Jika kamu memiliki relasi kakak tingkat di kampus impianmu, kamu juga dapat menanyakan informasi mengenai kampus tersebut sebagai bekal dalam menentukan kampus impian.

4. Akreditasi Internasional

Kualitas perguruan tinggi perlu kamu lihat dari akreditasi yang dimiliki. Akreditasi ini mencakup di tingkat program studi maupun institusi dari BAN-PT. Tentunya, lebih bagus jika kampus impianmu juga telah memiliki Akreditasi Internasional, sehingga kamu dapat semakin unggul bersaing di masa depan.

5. Prospek karier

Hal berikutnya harus dipertimbangkan adalah apakah setelah lulus nanti ada kepastian karier dan pekerjaan yang didapatkan. Pilih perguruan tinggi yang memang sudah terbukti menghasilkan lulusan siap pakai dan memiliki jaringan kerjasama dengan industri sehingga memudahkan lulusan mencari pekerjaan.

Lebih baik lagi, bila perguruan tinggi tersebut memiliki wadah pengembangan karier untuk membantu menyalurkan lulusannya bekerja di industri yang sesuai, sehingga tidak mempersulit kita ketika nanti sudah tiba saatnya untuk lulus, karena pemilihan tempat kuliah dan jurusan yang tepat sangat mempengaruhi kesuksesanmu di masa depan.

Kesimpulannya, selain dari diri sendiri, peran kampus tujuan menjadi hal yang ikut menentukan pilihanmu ke depannya.

Nah, kalau kamu ingin tahu rekomendasi jurusan terbaik di kampus idaman, Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta selalu memberikan informasi tentang fakultas dan jurusan yang tersedia di kampus tersebut.

Kamu juga bisa melihat banyak lulusan yang sukses di dunia kerja setelah lulus dari kampus yang termasuk dalam jajaran perguruan tinggi terbaik di Indonesia ini.

Selain ter-Akreditasi Institusi A, UII Yogyakarta juga telah ter-Akreditasi Internasional pada program studi Arsitektur, Akuntansi, Teknik Lingkungan, dan Teknik Sipil. (***)

sumber: tribunnews.com

Tunjangan segera diberikan kepada semua guru yang memang tercatat sebagai penerima.

MEDIAKEPRI.CO.ID, Malang – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Prof Muhadjir Effendi meminta para guru untuk bersabar dalam menunggu pencairan tunjangan profesi guru (TPG).

“Meskipun sempat tertunda, dalam waktu dekat tunjangan tersebut akan diberikan kepada semua guru yang memang berhak dan tercatat sebagai penerima,” kata Mendikbud di sela penyerahan Kartu Indonesia Pintar (KIP), bantuan pendidikan, dan bantuan pangan nontunai di Kota Malang, Jawa Timur, Sabtu, 12 Mei 2018.

Muhadjir menjelaskan tunjangan profesi tersebut diberikan melalui dana alokasi khusus (DAK). DAK disalurkan melalui pemerintah kota dan kabupaten untuk SD dan SMP. Sedangkan SMA melalui pemerintah provinsi.

“Jika dana yang disalurkan belum sampai, saya harap para guru bersabar dan bersyukur karena belum semua guru dapat memperoleh kesempatan ini,” ujarnya.

TPG merupakan tunjangan khusus yang diberikan kepada para guru yang telah lulus sertifikasi profesi, baik PNS maupun non-PNS. Termasuk guru atau pengajar di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).

Dana TPG bagi guru PNS daerah dialokasikan melalui kas daerah sesuai dengan yang diajukan sejak awal tahun anggaran. Pemerintah pusat melalui Kementerian Keuangan mentransfer dana tersebut ke masing-masing pemerintah daerah.

Sedangkan untuk TPG bukan PNS masuk ke dalam anggaran Kemendikbud. Sehingga dana tunjangan profesi akan langsung dikirim Kemendikbud ke rekening masing-masing guru.

Dasar pembayaran tunjangan profesi tersebut sudah diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan nomor 50/PMK.07/2017. Aturan tersebut terkait pengelolaan transfer ke daerah dan dana desa.

Besaran (nominal) TPG yang diterima guru sebesar satu kali gaji bruto per bulan. Hanya saja, TPG tersebut tidak diberikan rutin setiap bulan, melainkan per triwulan, bahkan lebih.

Untuk mendapatkan TPG tersebut, setiap guru harus menempuh berbagai persyaratan yang ditetapkan. Jika lolos akan mendapatkan TPG dan jika gagal bisa mengulang pada kesempatan berikutnya.

Di Kota Malang, jumlah guru, baik yang telah lolos sertifikasi (TPG) dan berstatus ASN maupun bukan ASN mencapai belasan ribu. Bahkan, jumlahnya lebih besar daripada jumlah ASN di lingkungan Pemkot Malang. (***)

Sumber : republika.co.id

MEDIAKEPRI.CO.ID – Pengumuman hasil nilai Ujian Nasional (UN) tingkat SMA, MA, SMK dan SMALB diumumkan, Selasa, 2 Mei 2018, Sedangkan, hasil kelulusan oleh satuan pendidikan dilaksanakan pada Kamis ini 3 Mei 2018.

Menurut Kepala Dinas Pendidikan Jabar, Ahmad Hadadi, pihaknya telah mengirimkan surat edaran ke semua sekolah di Jabar agar melarang siswanya berkonvoi merayakan kelulusan sambil melakukan aksi corat-coret seragam.

“Kami sudah mengirimkan surat edaran terkait larangan corat-coret seragam itu sejak 31 April lalu ke semua sekolah,” ujar Ahmad Hadadi kepada wartawan, Kamis, 3 Mei 2018.

Menurut Hadadi, dalam surat edaran tersebut, ia pun meminta semua sekolah agar melakukan pengawasan kepada siswa baik di dalam sekolah maupun di luar lingkungan sekolah. “Kami berharap semua sekolah mengarahkan siswa pada kegiatan positif dalam mengekpresikan rasa syukur mereka,” katanya.

Hadadi berharap, dengan adanya surat edaran tersebut semua kepala sekolah bisa sigap. Jangan sampai, ada kebiaasaan tak baik seperti tahun lalu. Yakni, siswa melakukan euforia berlebihan, konvoi, corat-coret sampai vandalisme.

“Harus syukuran, bukan berati sudah selesai tapi harus dilanjutkan. Siswa harus terus diberikan nasihat supaya gak kebablasan,” katanya.

Saat ditanya terkait hasil UN, menurut Hadadi, nilai UNBK SMA di Jabar mendekati rata-rata nasional. Karena, hasilnya sama dengan tahun sebelumnya.

“Yang naik tuh Bahasa Indonesia, kurang lebih mirip tahun-tahun sebelumnya. Jabar sama secara umum dengan Provinsi maju di bidang pendidikan lainnya, seperti Yogyakarta, DKI, Jatim, Jateng, lebih kurang di sana,” katanya.

Sementara menurut Ketua Ujian Nasional (UN) Tingkat Jawa Barat, Firman Adam, ia telah melaksanakan serah terima hasil UN tingkat SMA, MA, SMK, dan SMALB Tahun Pelajaran 2017-2018.

Serah terima dilaksanakan di Aula Balai Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan (Tikomdik), Kantor Dinas Pendidikan Jawa Barat, Jalan Dr Radjiman No. 6, Kota Bandung, Jawa Barat pada Selasa, 1 Mei 2018.

Firman mengatakan, pelaksanaan UN jenjang SMA, MA, SMK, dan SMALB tahun ini berjalan lancar, aman, dan terkendali. Apalagi mengingat pelasanakan UN tingkat SMA, MA dan SMK di Jawa Barat 100 persen berbasis komputer.

Penyelenggaraan UN dengan moda Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) tersebut dirasa lebih efisien, serta memudahkan siswa untuk mengerjakan soal-soal Ujian Nasional. Selain itu, peran Tim Helpdesk Provinsi dan kabupaten/kota sangat terasa dalam membantu penyelenggaraan UNBK.

“Keberhasilan penyelenggaraan UN patut disyukuri oleh kita semua karena merupakan jerih payah dari semua pihak, kata Firman.

Menurut Firman, terkait hasil yang diraih oleh siswa pada pelaksanaan UN tahun ini, hendaknya dianalisis secara komprehensif oleh seluruh kepala sekolah dan guru sebagai gambaran perbaikan atas proses pembelajaran yang telah berlangsung selama ini. Ke depannya, diharapkan antarsekolah dapat saling berkonsolidasi dan membantu, melihat kelemahan dan kelebihan satu sama lain.

“Sehingga antarsekolah bisa saling bantu meningkatkan mutu lulusan,” katanya.

Selain itu, kata dia, setelah pelaksanaan UN berakhir, aset yang dimiliki sekolah berupa komputer, dapat dimanfaatkan dengan baik. Firman berharap, aset tersebut selanjutnya dapat dimanfaatkan pada proses pembelajaran, tidak hanya berhenti pada UNBK saja.

Sebanyak 638.255 siswa melaksanakan ujian nasional di Jawa Barat.

Jumlah siswa SMA yang melaksanakan UNBK tercatat berjumlah 213.078 siswa, SMK sebanyak 314.547 siswa, MA sebanyak 67.339 siswa, dan paket C sebanyak 43.081. Sedangkan untuk SMALB yang melaksanakan UNKP sebanyak 210 siswa. (***)

sumber: galamedianews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Kayong Utara – Wakil Bupati Kayong Utara, Idrus menyebut minat baca anak-anak di Kayong Utara masih rendah meski pemerintah daerah sudah banyak membangun perpustakaan.

“Perpustakaan di Kayong Utara ini sudah banyak, persediaan bukunya juga lumayan,” katanya saat membuka acara lomba bercerita SD/MI tingkat kabupaten di Balai Nirmala, Sukadana, Rabu, 25 April 2018,

Oleh sebab itu, dia meminta para pendidik bekerja semaksimal mungkin, agar anak-anak yang mengikuti lomba bercerita ini kelak dapat unjuk gigi mewakili Kayong Utara di tingkat provinsi.

Dia menegaskan, lomba bercerita ini juga harus berkesinambungan, mengingat fungsinya yang dapat memancing minat baca anak-anak sejak dini.

“Intinya anak-anak jangan takut berkreativitas selama mengikuti lomba ini,” ujarnya.

Dia menjelaskan, para peserta yang nantinya berhasil meraih juara akan dikirimkan untuk mengikuti lomba di tingkat provinsi, yang mana akan dipusatkan di Kota Pontianak.

“Kalau menang lagi nanti akan diberangkatkan ke Jakarta untuk lomba tingkat nasional,” tutupnya. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID – Dunia pendidikan kembali menjadi sorotan publik.

Setelah heboh profil artis tampan Daniel Mananta dalam soal ujian bahasa Inggris, kini beredar soal ujian yang benar-benar buat kaget.

Dalam soal ujian yang tertulis tanggal 19 April 2018 tersebut, publik dibuat terkejut dengan salah satu soal.

Dimana pertanyaan dalam soal tersebut amat disayangkan muncul dalam sebuah ujian, terlebih ujian SMP.

Dimana para pelajar tingkat SMP masihlah anak-anak yang baru beranjak remaja.

Yang mana masih membutuhkan banyak pembelajaran dan juga bimbingan, terlebih dalam mengenal seks.

Begitu disayangkan, pertanyaan yang muncul disoal tersebut membahas tentang seks.

Terlihat soal nomer 25 ini menanyakan tentang tempat untuk seks bebas.

“Berdasarkan hasil penelitian, tempat yang paling banyak digunakan untuk melakukan seks bebas adalah di . . .

A. Rumah
B Taman
C. Mobil
D. Hotel”

Pelajar SMP yang usianya masih sekitaran 12 hingga 15 tahun ini dihadapkan dengan soal yang tak semestinya.

Tak hanya untuk pelajar tingkat SMP saja, pertanyaan seperti ini pun tidak sepantasnya muncul dalam soal ujian.

“Yang lagi viral di group WhatsApp nih lamisers

Soal ujian lagi

Kali ini soal Ujian Sekolah tingkat SMP

Yang bikin soal uda kehabisan bahan apa gimana

Susah banget jawabannya

Mintje nggak sanggup mikirnyaaa

Kira kira apa jawabannya nih lamisers” tulis akun Lambe Lamis. Berikut tanggapan netizen, terkait munculnya soal tersebut di ujian tingkat SMP.

@novakayla.nk, “Ini koo soal ujiam kaya gini.. apa gak di saring2 dulu ya kalo buat pertanyaan..”

@nanda_sav, “Itu yang buat soal gila atau gimana?? Anak SMP ditanyain kaya begituan”

@vty89, “pendidikan seks memang penting.. tapi kalo soalnya kayak gitu, kan ngga relevan.. kenapa ngga bagaimana cara menjaga kebersihan reproduksi, misalnya.. kan tiap anak pasti tahu.. kalo soal ini ??? tiap anak jadi pengen tahu, naudzubillah amot²..”

@fitriumanah28, “Udah rusak moral anak bangsa sekarang yang bikin soal kok ngga berbobot sekali”. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Pasuruan – Wali Kota Pasuruan Setiyono melakukan sidak ke beberapa SMA di Kota Pasuruan dalam rangka mengecek pelaksanaan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK), Senin, 9 April 2018.

Dalam sidak kali ini, Setiyono didampingi Sekda Kota Pasuruan Bahrul Ulum dan Indah Yudiani selaku Kepala Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur untuk Kota Pasuruan.

Sidaknya dilakukan di tiga titik 3 yakni SMK Bayt Al Hikmah, SMAN I dan MAN Kota Pasuruan.

Dalam proses sidak ini, Setiyono tidak menemukan kendala sedikit pun.

Pelaksanaan UNBK hari pertama, mata pelajaran Bahasa Indonesia berjalan lancar.

Tidak ada siswa yang absen ujian, baik itu disebabkan sakit, izin atau tanpa keterangan.

Tidak ada laporan tentang listrik padam atau kendala jaringan internet.

Setiyono mengimbau kepada orang tua untuk ikut menjaga putra-putrinya yang mau ujian.

Ia meminta orang tua untuk ikut mengawasi kegiatan atau aktivitas anak-anaknya.

“Yang perlu diawasi, khususnya anak laki-laki, biasanya begadang sampai larut malam, saya minta untuk dilarang. Ini demi kebaikan mereka juga. Orang tua harus berperan juga. Kalau mereka tidak mengikuti ujian karena sakit, mereka juga yang akan rugi,” kata dia.

Kepada para pelajar kelas XII, Setiyono juga mengimbau kepada mereka untuk dapat menjaga kesehatan selama pelaksanaan ujian.

Tingkatkan intensitas belajar. Rileks dan jangan tegang.

Terpenting, kata dia, jangan lupa berdoa ke Tuhan Yang Maha Esa.

Untuk soal teknis, Setiyono menegaskan, pihaknya sudah mengintruksikan kepada semua sekolah untuk siap dalam menghadapi kendala-kendala yang kemungkinan akan ditemui dalam UNBK.

“Kalau ada jaringan yang rusak atau bermasalah, sekolah harus siap. Jangan sampai siswa fokus pikirannya terganggu akibat internet yang trouble atau tiba-tiba listrik padam. Semua sekolah harus stand by dan memastikan semuanya berjalan aman dan lancar,” tambah dia.

Ia juga mendoakan, semua siswa-siswi yang mengikuti ujian diberikan kemudahan dalam proses pengerjaannya dan akan mendapatkan hasil maksimal.

“Saya berharap semua siswa dan siswi lulus 100 persen,” ungkap dia.

Sekadar diketahui, jumlah siswa SMA/MA Negeri/Swasta se-Kota dan Kabupaten Pasuruan yang menghadapi UNBK mencapai 10.568 anak.

Rinciannya, 1649 siswa-siswi SMA/MA Negeri se-Kota Pasuruan dan 8919 pelajar SMA/MA Negeri swasta se-Kabupaten Pasuruan. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Banjarmasin – Sekretaris Dinas Pendidikan Kota Banjarmasin, Sarwani, saat dikonfirmasi menyatakan pihaknya dalam waktu dekat akan segera mendrop sebanyak 550 komputer ke 25 SMPN untuk keperluan UNBK.

“Pembagian komputer ke 25 buah SMPNN ini berdasarkan skala prioritas. Lelang komputer sudah selesai dilaksanakan , tinggal serah terima barang saja. Minggu ini komputer, kita bagikan ke sekolah-sekolah,” katanya.

Sarwani menyatakan pihaknya akan mendrop komputer ke SMPN yang nebeng UNBK, SMPN yang menggelar UNBK mandiri dan tiga SMPN yang masih UNKP tahun ini, yakni SMPN 12, SMPN 11 dan SMPN 32.

Selain, tiga SMPN, juga ada SMP swasta yang belum bisa UNBK, yakni SMP PGRI 4.

Pihakya masih mencoba mendaftarkan lagi ke pusat kurikulum (Puskor) Kemendikbud) agar tiga SMPN, yakni SMPN 12, SMPN 11 dan SMPN 32 untuk bisa UNBK.

Pada 27 Maret ini, dirinya akan berangkat ke Kemendikbud lagi.

“Untuk dana BOS bisa saja digunakan untuk memperlancar keperluan UNBK, tapi ada batas prosentasenya,” katanya. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Sleman – Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Mulyono meresmikan Universitas Achmad Yani (Unjani) Yogyakarta di Jalan Siliwangi Rongroad Barat Banyuraden Gamping , Sleman, Senin 26 Maret 2018

Peresmian ditandai dengan penandatanganan salinan Surat Keputusan (SK) Pembentukan Unjani Yogyakarta, pembukaan selubung tulisan Universitas Achmad Yani di Depan Gedung Unjani, serta penyerahan bendera lambang Unjani Yogyakarta oleh Mulyono kepada Rektor Unjani, Djoko Mulyono.

Menurut Mulyono, pendirikan Unjani Yogyakarta merupakan buah dari berbagai pertimbangan dan penilaian efisien, yakni hasil penggabungan STMIK Jenderal Achmad Yani dan STIKES Jenderal Achmad Yani menjadi Universitas Jenderal Achmad Yani.

“Di samping itu, hal ini juga merupakan tuntutan pendidikan ke depan dan komitmen bagaimana meningkatkan sumber daya manusia, khususnya anak-anak dari purnawirawan TNI AD dan TNI AD,” katanya kepada wartawan usai acara peresmian Unjani, Senin.

Sebelumnya, dalam sambutannya Mulyono mengatakan pendidikan masih menjadi permasalahan tersendiri di Indonesia. Meskipun sudah meningkatkan anggaran pendidikan, namun pemerintah baru memberikan sedikit perubahan pada aspek kualitatif, yakni semakin meratanya layanan pendidikan bagi masyarakat. Sedangkan pada aspek kualitas pendidikan belum mengalami perbaikan signifikan.

“Melalui peresmian Unjani Yogyakarta ini TNI Angkatan Darat (AD) melalui Yayasan Kartika Eka Paksi ingin memberikan kontribusi yang konkrit dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia agar generasi penerus bangsa Indonesia memiliki sumber daya yang terus meningkat, mampu bersaing, bahkan lebih unggul dibandingkan bangsa lain,” katanya.

Mulyono juga berharap agar Unjani Yogyakarta menjadi pilot project klinik imunitas bangsa yang memberikan vaksin kekebalan berupa nilai-nilai luhur budaya bangsa untuk menjaga kelangsungan hidup bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Hal ini sangat penting. Selain mahasiswa memiliki pengetahuan dan keterampilan, mereka juga harus menjadi generasi muda yang tangguh, dan menjadi bangsa yang memiliki sikap menghormati perbedaan, semangat untuk bersatu, rela berkrorban, pantang menyerah, memiliki jiwa kebersamaan, gotong royong, dan prefesionalisme,” ujarnya.

Ketua Yayasan Kartika Eka Paksi Mayjend TNI (Pur) Adi Mulyono memaparkan Unjani Yogyakarta berdiri atas izin Kementerian Riset dan Teknologi Pendidikan Tinggi Nomor 166/KPP/I/2018 tanggal 2 Februari 2018 tentang izin penggabungan STMIK Jenderal Achmad Yani dan STIKES Jenderal Achmad Yani.

Saat ini, Unjani Yogyakarta memiliki tiga fakultas. Pertama, Fakultas Kesehatan yang memiliki enam prodi. Kedua, Fakultas Teknik dan Teknologi Informasi yang memiliki lima Prodi jenjang S1 dan satu prodi jenjang ahli madya. Ketiga, Fakultas Ekonomi dan Sosial yang memiliki empat prodi.

Menurut Adi , semua prodi tersebut dibuka dengan maksud mempermudah calon mahasiswa untuk mendapatkan kesempatan meningkatkan derajat pendidikan ke lebih tinggi lagi khususnya bagi mahasiswa yang berasal dari keluarga TNI AD. Hal ini ditunjang dengan pemberian beasiswa prestasi Rp 5 juta per mahasiswa dan juga potongan biaya kuliah 25 persen untuk para mahasiswa dari keluarga besar angkat darat.

Sementara itu, Ketua Kopertis V DIY Bambang Supriyadi berharap agar Unjani pada tahun ajaran baru meningkatkan jumlah mahasiswa sekitar 2.000-3.000 mahasiswa. Ia mengusulkan agar Yayasan Kartika Eka Paksi menyiapkan promosi untuk meningkatkan jumlah mahasiswa Unjani Yogyakarta.

Lebih lanjut, Bambang dalam sambutannya mengatakan setelah Unjani harus segera menyiapkan data-data akreditasi untuk membantu meningkatkan daya tarik para calon mahasiswa baik dari Yogyakarta maupun dari seluruh Indonesia. (***)

sumber: republika.co.id

Lulusan harus juga bisa memanfaatkan ilmu pengetahuan yang untuk kepentingan daerah.

MEDIAKEPRI.CO.ID, Padang – Bupati Sijunjung Yuswir Arifin mengingatkan lulusan Universitas Negeri Padang (UNP) Sumatera Barat jangan hanya terobsesi menjadi pegawai negeri sipil (PNS). Lulusan perguruan tinggi harus juga bisa memanfaatkan ilmu pengetahuan yang didapatkan untuk kepentingan daerah.

“Wisudawan yang memiliki beragam ilmu pengetahuan saat ini hendaknya mengaplikasikan ilmu mereka untuk daerah atau minimal lingkungan masing-masing,” kata dia saat memberikan orasi ilmiah di Auditorium UNP, Ahad 18 Maret 2018.

Menurut dia, zaman telah berubah seiring perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Karena itu, seharusnya menjadi PNS bukan menjadi obsesi para lulusan mahasiswa dari universitas ternama termasuk UNP.

“Lulusan perlu mencari langkah-langkah agar ilmu yang dimiliki dapat bermanfaat bagi diri dan lingkungan sekitar. Konsep itu harus ditanamkan kepada generasi muda,” kata dia.

Ia mengatakan pendidikan usia dini sangat berperan dalam pembentukan karakter anak sehingga mereka tumbuh menjadi generasi bangsa yang cerdas memiliki daya saing tinggi.

“Pemerintah berencana pada 100 tahun kemerdekaan Indonesia tahun 2045 negara ini akan maju, namun hal itu harus disertai dengan karakter yang kuat sehingga dapat bersaing dalam era global,” ujar dia.

Ia mencontohkan di Kabupaten Sijunjung sendiri telah ada 566 lembaga pendidikan anak usia dini, di setiap jorong ada satu hingga tiga lembaga pendidikan anak usia dini. “Ada 3.200 tenaga pengajar yang kita miliki namun masih ada kekurangan sehingga kami perlu bekerja sama dengan UNP untuk meningkatkan kapasitas guru yang kami miliki,” kata dia.

Ia mengatakan saat ini karakter generasi muda banyak yang rusak sehingga terjadi pembunuhan terhadap guru, melawan dan memperkarakan guru ke ranah hukum. Hal ini yang coba diantisipasi dengan pembangunan karakter mulai dari bawah.

“Kunci pembagunan karakter adalah dengan mempersiapkan lembaga dan tenaga pendidik profesional sehingga menghasilkan karakter anak yang baik,” kata dia

Rektor UNP Prof Ganefri mengatakan pihaknya terus melakukan pembenahan terhadap kurikulum pendidikan. UNP terus beradaptasi dengan zaman dengan memanfaatkan teknologi dalam ilmu pengetahuan. “Kami melegalkan pembelajaran daring, mata kuliah yang diberikan mahasiswa dapat dilakukan secara online sebesar 50 persen, sisanya dilakukan dengan tatap muka. Selain itu kami berusaha agar para dosen membuat riset untuk memperbarui bahan ajar dan ilmu pengetahuan mereka,” kata dia.

UNP menyambut baik adanya kerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Sijunjung dalam meningkatkan kualitas tenaga pendidik di daerah itu.

“Kami terus berupaya meningkatkan kualitas tenaga pengajar baik dari tingkat PAUD, SD, SMP agar generasi kita dapat memiliki ilmu pengetahuan yang lebih baik dan mampu bersaing dengan negara lain,” ujarnya. (***)

Sumber : republika.co.id

MEDIAKEPRI.CO.ID – Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir mengakui jumlah perguruan tinggi di beberapa wilayah di Indonesia seperti Papua dan Papua Barat masih terbatas.

Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) diyakini merupakan salah satu solusi tepat untuk meningkatkan akses pendidikan tinggi di daerah. Hanya persoalan infrastruktur teknologi informasi dan SDM, baik kampus maupun mahasiswa, bakal menjadi kendala.

Saat ini Angka Partisipasi Kasar Pendidikan Tinggi Indonesia baru pada angka 31,5 persen, dengan skema peningkatan akses secara konvensional, rata-rata peningkatan APK hanya 0,5 persen per tahun. Diharapkan dengan Pendidikan Jarak Jauh (PJJ), APK akan meningkat lebih signifikan. Kemenristekdikti menargetkan pada tahun 2022-2023 APK pendidikan tinggi bisa di angka 40 persen.

Hanya saja proses pembelajaran dengan sistem PJJ tidak boleh melupakan kualitas. Baik perguruan tinggi negeri maupun swasta mesti menjalankan program PJJ sesuai dengan peraturan yang ditetapkan oleh Kemenristekdikti. Kopertis ditugaskan melakukan pembinaan terhadap perguruan tinggi swasta yang ingin mengembangkan PJJ di kampus mereka.

Pembelajaran Jarak Jauh dengan cara daring sangat membutuhkan dukungan infrastruktur jaringan internet yang baik. Menristekdikti telah meminta dukungan dari Telkom untuk meningkatkan jaringan internet di daerah. Ke depan diharapkan program pembelajaran daring tersebut dapat berguna untuk meningkatkan kualitas pendidikan suatu PT dalam menghadapi persaingan secara global.

PJJ menjadi keniscayaan sebab pengguna Internet di Indonesia terus mengalami peningkatan. Hal itu seiring dengan kemajuan teknologi dan tren generasi milenial yang tak bisa lepas dari internet. Apalagi menurut survei yang dilakukan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), ada 143,26 juta orang Indonesia yang telah menggunakan internet, dari total populasi sebanyak 262 juta orang.

Artinya ada 54,86 persen orang Indonesia yang telah terhubung ke internet. Dari data tersebut, diketahui orang Indonesia yang paling banyak menggunakan internet didominasi generasi millenial, yang rentang usianya mulai 19 tahun sampai 34 tahun. Ada 49,52 persen pengguna internet Indonesia yang berasal dari generasi millenial.

Setelahnya, ada kelompok usia 35-54 persen dengan 29,55 persen, kelompok 13-18 tahun dengan 16,68 persen dan lebih dari 54 tahun dengan 4,24 persen.

APJII memrediksi di tahun 2018 bakal ada peningkatan yang sangat besar 65-70 persen. Ini menunggu Palapa Ring 2020 menjangkau daerah terpencil.

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) memang sedang melakukan pembangunan infrastruktur telekomunikasi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat hingga ke pelosok. Saat pembangunan infrastrukturnya selesai, maka masyarakat di seluruh Indonesia akan terhubung secara internet hanya melalui telepon pintar (smartphone).

Diperkirakan akhir 2018 pembangunan infrastruktur selesai dan bakal menjadi tahun melek internet untuk Indonesia.

Berarti PJJ bisa segera diwujudkan untuk menjangkau daerah terpencil. Perlu persiapan yang matang, baik dari sisi regulasi dan infrastruktur. Tugas besar adalah melatih calon mahasiswa di daerah terpencil agar mahir menggunakan internet. Kita berharap semakin banyak orang menikmati pendidikan tinggi tanpa harus meninggalkan daerahnya. (***)

sumber: hariansib.co

MEDIAKEPRI.CO.ID, Tarakan – Siswa SD Negeri 030, Sebengkok, Kota Tarakan, Kalimantan Utara masih melantai karena tidak memiliki kursi. Meja yang digunakan juga dari orang tua murid yang dibawa dari rumah.

Pihak sekolah sudah mengajukan anggaran untuk membeli mebeler ke Dinas Pendidikan setempat, tetapi hingga saat ini belum ada respon.

Empat kelas yang berada di SDN 030 Tarakan ini terpaksa melantai karena tidak ada kursi untuk duduk, sedangkan meja yang digunakan untuk belajar merupakan meja lipat yang dibawa dari rumah masing-masing. Untuk kelas 1 A dan 1 B, serta kelas 2 A dan 2 B, terpaksa melantai.

Meskipun demikian, para siswa tidak merasa risih maupun tidak nyaman karena belajar sama-sama dengan siswa lainya sehingga satu kelas merasakan hal yang sama. Seperti yang diungkapkan, Sherli siswa kelas 2 yang mengaku senang saja.

“Nggak papa belajar di lantai, banyak temannya. Udah terbiasa, jadi tidak apa-apa,” ucapnya kepada detikcom, Senin 5 Maret 2018.

Hal senada juga diungkapkan, Khairunisa yang merasa tetap nyaman meskipun belajar melantai tanpa alas. Menurutnya bisa sekolah dan belajar dengan teman-temanya menjadi kebahagiaan tersendiri baginya.

“Yang penting sekolah, bisa sama-sama teman belajar di sekolah nggak papa biar di lantai. Satu kelas, juga sepeti itu, udah biasa,” ucapnya.

Dikatakan Kepala Sekolah SDN 030 Jhoni Fransiskus bahwa ada 4 kelas yang tidak ada kursinya, meja yang ada merupakan milik dari siswa masing-masing yang dibawa dari rumah. Kondisi ini sudah berjalan selama 1 tahun terakhir.

“Pernah ada yang janjikan akan bantu 200 kursi tetapi hanya 28 saja, itupun kursi plastik dan ukuran meja dengan kursinya tidak sesuai. Makanya kita alihkan untuk kelas yang ada diatasnya. Yang melantai hanya kelas 1 dan 2 sedangkan untuk kelas 3,4,5, dan 6 sudah ada,” terangnya.

Pihak sekolah bukanya tidak berusaha untuk memenuhi kebutuhan, dalam pembahasan selalu mengajukan ke Dinas Pendidikan, Cuma selalu terkena penolakan dengan alasan masih ada prioritas lain yang harus diselesaikan oleh pemerintah kota Tarakan.

“Kita tidak tahu harga kursi, yang plastik, besi, atau yang kayu, tahun ini kita juga sudah minta ke Dinas Pendidikan, semoga saja dapat terealisasi sehingga anak-anak bisa belajar dengan nyaman dan aman. Meskipun terlihat biasa, tetapi kita merasa tidak enak hati untuk membiarkan hal ini terus terjadi,” ungkapnya.

Sementara itu, Plt Wali Kota Tarakan, Khaeruddin Arief Hidayat mengatakan anggaran untuk membeli mebeler SDN 030 tercoret karena berkaitan dengan pengadaan, sedangkan untuk gedung baru selesai dibangun.

“Kita melihat prioritas, anak-anak di sini membawa meja dari rumah tetapi melantai dan mejanya warna-warni. Ini menjadi kebutuhan dasar dan itu kewajiban kita supaya tidak memberatkan orang tua murid lagi. Ini menjadi catatan kita, bagaimana segera mungkin mengadakannya,” urainya.

Meskipun demikian, diharapkan sekolah lain yang memiliki kursi lebih, bisa dialihkan ke SDN 030, supaya siswa kelas 1 dan 2 bisa melakukan kegiatan belajar mengajar dengan layak. Sekolah ini menjadi prioritas serius.

“Saya pikir devisit anggaran tidak harus menyisihkan dunia Pendidikan, secara bertahap berapa dulu yang belum terselesaikan. Manasih prioritas dan mana yang emergensi harus kita pikirkan bersama-sama. Mudah-mudahan bisa tercaver di APBD murni, kalau tidak setidaknya di APBD Perubahan 2018 ini,” pungkasnya. (***)

sumber: detik.com

Budaya membaca di kalangan siswa Indonesia secara umum masih rendah.

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Komisi X ingin gerakan literasi sekolah dikuatkan. Budaya membaca diyakini akan mempengaruhi kualitas generasi muda. Anggota Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI, Ledia Hanifa Amaliah menyampaikan, meski gerakan literasi sekolah sudah dicanangkan sejak 2015 lalu, budaya membaca di kalangan siswa Indonesia secara umum masih rendah. Setidaknya itu yang didapat dari berbagai studi soal minat baca di berbagai negara termasuk Indonesia.

“Kalau programnya sudah ada tetapi budaya membacanya masih dilaporkan rendah berarti perlu ada evaluasi program secara menyeluruh. Bagaimana sarana prasarana pendukung programnya. Bagaimana koordinasi lintas kementriannya dan terutama bagaimana implementasi di lapangan,” kata Politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS), dalam siaran pers yang diterima Republika.co.id, Selasa27 Februari 2018.

Ledia mengingatkan bahwa mengasah budaya membaca pada siswa akan sangat mempengaruhi kualitas generasi muda masa depan. Membaca akan membantu siswa memperluas wawasan, menambah ilmu, mengolah pikiran dan menjadi batu pijakan sebelum menghasilkan karya tulis.

“Tetapi budaya ini harus disiapkan, ditumbuhkan, diasah, dibimbing dan diberi sarana prasarana yang memadai. Tidak bisa hanya diberi tugas, himbauan lalu diharapkan tumbuh menguat dengan sendirinya.”

Selain itu, urai Ledia, selama ini budaya baca seringkali hanya disederhanakan pada ukuran “minat baca”. Padahal budaya baca memiliki aspek lebih luas dan mendalam termasuk pada kemudahan akses, pembiasaan diri, contoh dari lingkungan, dan tentu saja kebijakan yang mendukung. Peraturan Menteri Pendidikan No 23 tahun 2015 memberikan terobosan penting.

“Yaitu dengan mewajibkan setiap hari ada 15 menit waktu membaca sebelum kegiatan belajar berlangsung, tapi belum terealisasi dengan baik,” kata dia.

Mungkin, menurut Ledia, karena belum tersedia perpustakaan atau ada perpustakaan tetapi buku-bukunya kurang. Bisa juga karena kegiatan ini tidak rutin dilakukan, tidak ada evaluasi atau bisa jadi karena tenaga pendidik dan orangtua sendiri tidak memberikan contoh gemar membaca.

Karena itu, Ledia meminta pemerintah untuk membuat evaluasi program secara menyeluruh dan melakukan penguatan program. Buku-buku bagi sekolah perlu diperbanyak, begitu juga perpustakaan keliling untuk menjangkau masyarakat pedalaman. Para guru perlu diberi pelatihan dan penguatan program literasi.

“Bahkan orangtua pun perlu digandeng untuk sama-sama membangun budaya baca ini menjadi kebiasaan siswa,” kata Ledia.

Tak cukup itu, untuk melengkapi semua desain gerakan literasi sekolah ini Ledia mengingatkan pentingnya membiasakan evaluasi program secara rutin dan berkala. Baik evaluasi dari guru kepada siswa maupun dari dinas pendidikan kepada sekolah.

Bagi siswa bisa saja diminta menceritakan kembali bacaannya di depan kelas atau dituliskan. Libur sekolah bisa diberi tugas membaca buku, bedah buku atau resensi buku,” ucap Ledia.

Lanjut Ledia, kunjungan pendidikan bisa dilakukan ke perpustakaan daerah. Kemudian sekolah pun bisa memiliki laporan tahunan berapa dan apa saja buku-buku yang dibaca. Maka dengan demikian, Ledia berharap ke depannya akan terjadi peningkatan budaya membaca yang lebih luas dan terukur. (***)

sumber: republika.co.id